Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers, Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Hadiah Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975 bagi novelnya "Harimau! Harimau!", dan Hadiah sastra dari Yayasan Jaya Raya untuk buku terbaik tahun 1977-1978, tanggal 15 Desember 1979, untuk romannya "Maut dan Cinta".
Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: "Senja di Jakarta", "Jalan Tak Ada Ujung" (terbit dalam berbagai bahasa), dan "Etika Pegawai Negeri" (ed.bersama James Scott). Selain itu ada juga buku-buku tentang liputan dan pers, bacaan anak-anak, dan dua ceramah yang diterbitkan sebagai buku, yaitu "Manusia Indonesia" dan "Bangsa Indonesia". Semasa hidupnya beliau menjadi Anggota banyak lembaga penting, seperti Pimpinan Umum majalah Horison, Editor majalah Media (yang diterbitkan di Hongkong oleh Press Foundation of Asia); anggota Board of the International Association for Cultural Freedom, dan anggota Board of the International Press Institute (Zurich).
Beliau juga banyak mencurahkan perhatiannya pada masalah lingkungan hidup dan masalah-masalah ekologi. Mengalami tahanan penjara selama 9 tahun (1956-1965) dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno; dan pada tahun 1974 mengalami dua bulan tahanan setelah terjadinya peristiwa "Malari" bersamaan waktunya dengan pembreidelan Indonesia Raya. Beliau juga pernah menjadi Direktur Yayasaan Obor Indonesia.
Bibliography: * Tidak Ada Esok (novel, 1951) * Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (1950) * Teknik Mengarang (1951) * Teknik Menulis Skenario Film (1952) * Harta Karun (cerita anak, 1964) * Tanah Gersang (novel, 1966) * Senja di Jakarta (novel, 1970) * Judar Bersaudara (children story, 1971) * Penyamun dalam Rimba (children story, 1972) * Manusia Indonesia (1977) * Berkelana dalam Rimba (children story, 1980) * Kuli Kontrak (1982) * Bromocorah (1983)
Sebuah buku yang kontroversial di zamannya. Di akhir tahun 1970-an, Mochtar Lubis menulis buku yang membongkar potret-potret kebobrokan manusia Indonesia. Saya lupa apa saja, tetapi di antaranya adalah: munafik, pemalas, berjiwa feodal, korupsi, dan gemar mencari kambing hitam. Lubis cuma menyanjung sisi positif orang Indonesia dari segi kemampuan artistik (seni) saja.
Di halaman belakang, Lubis menyisipkan berbagai tanggapan pembaca mengenai buku ini. Lebih banyak yang kontra daripada yang pro, seakan mereka semua kompak menutup-nutupi sikap-sikap negatif di atas yang memang faktanya banyak menghinggapi masyarakat Indonesia. Dari dulu kita memang selalu dibuai dengan teori-teori semu bahwa manusia Indonesia selalu ramah, rajin bekerja, mengutamakan musyawarah mufakat, gotong royong, beriman, bertakwa, dan hal-hal sempurna lainnya. Lubis dengan berani menanggapi setiap sanggahan pembaca itu satu persatu.
Sekilas seperti:menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
"Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas." Itulah kutipan kalimat yang cukup menohok untuk mengawali sebuah buku yang cukup kontroversial di jamannya. Tepatnya sebuah buku yang disarikan dari naskah pidato kebudayaan Mochtar Lubis pada 6 April 1977, di TMII Jakarta.
Pertanyaannya, apa yang membuat buku ini kontoversial? Jawabannya adalah keseluruhan isi pidato Mochtar Lubis yang sangat tajam mengkritik keadaan sosial masyarakat Indonesia pada waktu itu. Bayangkan, saat kehidupan masyarakat Indonesia berada pada zona nyaman (tahun 1977 relatif tidak ada konflik berarti) sekonyong-konyong Bung Mochtar dengan pedas menguak keburukan-keburukan manusia Indonesia melalui pandangan kritisnya.
Sifat-sifat tentang (kita) manusia Indonesia yang beliau kemukakan pada kesempatan pidato itu antara lain, manusia Indonesia itu hiprokit dan munafik, tidak bertanggungjawab, feodal, percaya takhayul, dan artistik, namun lemah dalam segi karakter.
Terdengar familiar? Ya, saya rasa disitulah letak kekuatan--naskah pidato yang kemudian menjadi isi--buku ini, relevan dan aktual. Entah mengapa, sifat-sifat yang tertera pada naskah yang ditulis tahun '77 ini rasa-rasanya tetap layak disematkan pada kebanyakan manusia Indonesia kini. Sikap-sikap elite di kursi dewan, pemuka-pemuka di televisi, hingga rakyat desa seolah terus menerus membenarkan apa yang dikatakan Mochtar 34 tahun silam.
Pandangan Mochtar yang menyentil banyak pihak itu, walau terkesan subjektif, namun tetap dikemas bersama data-data faktual di jamannya, argumen yang kokoh, serta narasi yang lugas. Walau terkesan menghakimi, kapasitas Mochtar sebagai budayawan dan jurnalis, seolah mentasbihkan naskah pidatonya menjadi objektif dan akurat. Kecuali berisi naskah polemik Mochtar, buku ini juga memuat tanggapan-tanggapan tokoh di masa itu yang mencoba beradu argumen dengan si empunya lewat media massa, lengkap dalam bentuk kliping.
Oh ya, tentang alasan-alasan mengapa Mochtar secara 'tega' menyebutkan manusia Indonesia seperti tersebut di atas, tentu saja Anda harus membaca buku yang sampai 2001 masih terus naik cetak ini.
Satu nilai tambah dari buku yang sebenarnya sudah sangat berbobot ini adalah karikatur halaman sampul buatan G. M. Sidharta. Ya, siapa yang tidak tahu Om Pasikom? Karakter rakyat sahaja yang menjadi ikon sebuah media besar di Indonesia ini digambarkan sedang memandangi wajahnya di kaca yang buram. Disitu dia terlihat memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana tampak wajah sesungguhnya. Karikatur ini seolah mempertegas kalimat pertama di buku Mochtar, "Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas."(rfun)
Saya percaya sedikit sebanyak yang dibincangkan oleh Mochtar Lubis ada benarnya dengan rakyat Malaysia sendiri. Di zaman moden ini lebih banyak kakarutan moden pula yang timbul. manusia sentiasa memilih seuatu untuk dipercayai itu adalah hakikat.
menariknya manusia Indonesia itu memang ada uniknya.
p/s: Saya memang peminat tulisan Mochtar Lubis. Bahasa Indonesia memang best.. haha
Buku yang sangat lugas, dan gamblang menggambarkan ciri manusia Indonesia. Meskipun ditulis pada tahun 1977, buku ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian Indonesia, Sebuah buku yang sangat baik untuk merefleksikan kembali konsep masyarakat Indonesia yang kita kenal saat ini.
Enam karakter manusia Indonesia yang sering dikutip-kutip orang itu sebetulnya cuma menempati porsi yang tak terlalu signifikan dalam pidato Mochtar Lubis (total 78 halaman, belum termasuk tanggapan pembaca yang dimuat ulang).
Gagasan inti buku ini justru terletak pada pengantar (17 halaman) dan pada bab "Ciri Lainnya" (17 halaman), ketika Mochtar Lubis secara berserakan bicara tentang feudalisme, takhayul, subversi pemerintah Indonesia, ungkapan-ungkapan, dan perbandingan dengan negara-negara lain.
Lubis menyediakan enam bab untuk mengurai satu per satu karakter manusia Indonesia yang disebutnya (18 halaman), tapi uraiannya hanyalah pengulangan dari poin-poin awal. Malah di bagian tertentu (seperti "Ciri Kelima: Artistik") hanya berisi penilaian selayang pandang (1 halaman!). 35 halaman sisa dalam pidatonya ("Dunia kini") Lubis habiskan untuk mengangkat isu "kebudayaan" ini ke dalam isu ekonomi politik.
Membaca gagasan yang ditawarkan Lubis sendiri sebetulnya dilematis. 40 tahun berselang sejak pidatonya, kita masih bisa mendengar komentar senada. Beberapa memang valid: seperti masalah pendidikan, juga masalah ekonomi politik pusat-periferi yang dilanggenggkan tatanan ekonomi internasional. Banyak juga di antaranya yang kurang-dari-valid.
Satu kata yang absen dari sehimpun kritik Lubis adalah: kolonialisme. Lubis mempersoalkan masalah "budaya" orang Indonesia, tapi Lubis seperti mengesensialiskannya dengan menyebut akar sejarah Indonesia sejak "zaman kerajaan" sebagai biang keladinya. Lubis memang bicara soal imperialisme Jepang dan kolonialisme Belanda, tapi tidak lebih dari sekadar bensin bagi api "feudalisme", "takhyul", dan problem-problem orang Indonesia yang disebutnya.
Posisi ini agak ironis, mengingat dalam dekade yang sama dengan Lubis, sosiolog Malaysia Syeid Hussein Alatas mendedah cara kolonialisme membuat konstruk inlander sebagai pemalas, penuh takhyul, feodal--banyak hal yang dikeluhkan Lubis--sebagai pihak eksotis yang asing. Logika ini adalah logika modernitas--bukan dalam artian positif--yang dikontraskan dengan logika pribumi, vis-a-vis ide tentang kemajuan peradaban "Barat".
Sepanjang ceramah Lubis bisa kita temui asumsi tentang setapak tangga yang harus dinaiki bangsa "non-Barat" untuk mencapai kemajuan. Ini bukan berarti saya bilang bahwa Lubis adalah pemikir modernis Eurosentris seperti banyak pemikir di masa Orde Baru lainnya. Justru, Lubis mengkritik keras cara pikir yang--sayangnya masih langgeng sampai sekarang--menempatkan angka GNP dan GDP sebagai indikator kemajuan peradaban. Namun dalam kritik itu Lubis tetap mengesensialiskan negara pascakolonial Indonesia sebagai perlu melampaui tangga menuju kemodernan.
Sebab itu, tak terlalu mengherankan juga bila dalam ceramahnya Lubis hampir tak menyinggung sama sekali tentang subversi Orde Baru dan kekerasan politik tahun 1965 yang disebut sosiolog Ariel Heryanto sebagai momentum terbesar sejarah Indonesia. Kecelakaan sejarah ini bisa jadi yang menjadi titik temu dari tumpukan persoalan yang dikritik Lubis, yang kiranya baiknya kita telusuri dari riwayat kolonialisme di Indonesia.
Tentu saja, tidak adil kalau membingkai Lubis sebagai pemikir modernis sederhana. Lubis bukan Sarlito Wirawan, yang dalam esai tanggapannya--dimuat juga dalam buku ini--mennyampaikan keberatannya bahwa "manusia Indonesia tidak sejelek itu" dengan anekdot-anekdot serampangan, sesat pikir "no true Scotsman", dan romantisasi kaum marjinal seperti petani (dikritik kembali oleh Lubis dengan baik) diiringi dengan celetukan khas modernis Orde Baru, "ya kita memang masih berkembang."
Pada kenyataannya, di dua bab penting yang saya sebutkan di atas, Lubis dengan penting menyampaikan kritik penting yang kadang hilang dalam narasi tentang ke-Indonesia-an: argumentasi tentang struktur. Dalam konteks ini, tanggapan-tanggapan Lubis terhadap para penanggapnya menjadi penting dibaca. Lubis menolak sanggahan anekdot seperti paparan Sarlito yang mereduksi persoalan ekonomi politik menjadi sekadar masalah individu--"kemauan diri", "mental yang lemah", dst. Lubis berulang kali menyebutkan pentingnya melihat ini dalam konteks ekonomi politik makro.
Namun penting mendudukkan Lubis kembali pada tradisi kulturalis yang berkembang di masa Orde Baru. Bahwa persoalan bangsa ini bisa dititikberatkan pada masalah "budaya" dan "kepribadian suatu masyarakat".
Lubis memang menyentuh masalah tatanan ekonomi politik internasional yang membuat negara penghasil alam bergantung pada negara industri eksploitatif, juga tentang takhyul modernitas yang "dengan segala jimat atau manteranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP." (hlm. 29) Sebagai jurnalis dengan karir panjang di aktivisme politik, posisi ini tak mengherankan.
Sayangnya, Lubis tidak mencoba beranjak dari penjelasan esensialis-kulturalis ketika mengelaborasi problem ini. Ini misalnya terlihat ketika Lubis menyempatkan waktu bicara soal "seni", yang ditempatkan dalam paradigma pembangunan dan harus disandingkan dengan Picasso. Ironis bila melihat yang terjadi hari ini adalah komersialisasi dan esensialisasi "seni budaya", sebagai sekadar komoditas untuk dikonsumsi.
Lubis juga menarik jauh sejarah hingga mengkarakterisasi problem yang dia sampaikan sebagai sesuatu yang berkembang dari sejarah Indonesia prakolonial. Lubis beranggapan ada suatu karakter bangsa Indonesia yang bisa diambil secara umum, dan dari karakter ini pula dia bertautan dengan problem besar--seperti korupsi, demokrasi elektoral, dan sebagainya. Bila Geertz bicara tentang mencari satu konsep mendasar yang bisa mendasari tindakan manusia agar kita dapat mencari inti budayanya, Lubis gagal melakukan ini.
Hal ini bisa dimaklumi mengingat konteks Orde Baru. Yang menarik justru argumentasi dari penanggap, Wildan Yatim dan Abu Hanifah, yang diakui Lubis selangkah lebih maju dari argumentasi awalnya--dan tentunya jauh dari sanggahan kelakar seperti Sarlito. Sayangnya, barangkali poin-poin ini kurang menarik bagi kebanyakan orang. Orang lebih banyak fokus pada enam karakter anekdot yang diajukan Lubis--malah mungkin hanya pada intisarinya--yang sebetulnya membuat kita masih jalan di tempat di bawah payung visi modernis Eurosentris Orde Baru.
Akhir kata, sebelum ulasan ini menjadi tulisan tanpa ujung, saya cuma ingin bilang bahwa karya ini ada perlunya dibaca sebagai salah satu naskah yang penting dalam lintasan sejarah pemikiran di Indonesia. Tapi argumennya harus ditempatkan sebagaimana mestinya.
I have wanted to read this text for a long time now. Mochtar Lubis gave this speech in April 1977 in Jakarta. He presents several typical Indonesian characteristics, most of which he is very critical of and believes that they are the cause of why Indonesia is unable to progress. First of all, the six traits are hypocritical, unwillingness to take responsibility for one's action, feudalistic, superstitious, artistic and weak. Most of his theories are linked back to feudalism followed by colonialism and that due to the oppression, people kowtow to their superiors and are dishonest about their intentions because they want to save themselves from being killed. It's really messed up and toxic. The second half of the book contains four pieces by different people and how they reacted to Lubis' text as well as Lubis' response to these four pieces. Some were very offended by Lubis and called it a generalization while others saw the link between corruption, political difficulties and these traits. I was surprised at how offended the first two university-educated people were. I thought they would be able to put aside their feelings and tribal pride, but in the end, they actually just proved how unwilling they and many others are to look honestly at themselves and these traits. That's also why I thought that the chapter on the superstitious trait was very well written. Instead of facing and accepting reality, many Indonesians think that just by thinking a certain thought or following a certain belief, that the thoughts will develop into reality. It's actually a form of denial and self-deception. Most likely a defense mechanism and response to trauma. Why didn't the psychologist talk about this? Lubis also thinks that assessing a nation's progress solely in economic terms is insufficient. It doesn't take into account environmental degradation, global competition and loss of culture. He also mentioned that people in the West despite their elevated standards of living are still disillusioned and live with a feeling of emptiness that money can't fill. That's why he believes that it's important to look for a different path for Indonesia. Here, he emphasises the importance of developing the people's creativity and keeping the traditional arts (weaving, dancing, painting, sculpting etc.) alive because it contributes to a people's confidence level. Unfortunately, the leaders in Indonesia have not come up with a new idea and have simply imitated the West (especially America). It has become even worse these days. What depresses me the most is that everything Lubis warned us about is still a big problem in Indonesia. It is also depressing to read that he referred to Sukarno as a dictator and that times have gotten better when in reality, he was living in the Suharto dictatorship, which lasted longer and was even more corrupt and damaging. Things have not gotten better in Indonesia. In fact, in 2024 I have become very pessimistic following this year's election. Lubis was ahead of his times when he composed this speech but unfortunately it didn't have any impact.
Buku ini merupakan naskah dari hasil pidato penulis di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1977.
Buku ini berisi kritik terhadap manusia indonesia pada saat itu. Mochtar Lubis dengan berani menggambarkan ciri-ciri manusia di Indonesia mulai dari perilaku Asal Bapak Senang (ABS), perilaku “bukan saya”, dan jiwa feodal.
Selain itu beliau juga menambahkan ciri-ciri lain yang cukup paradoks seperti sikap malas-malasan namun ingin cepat kaya.
Di akhir naskah pidato ini juga terdapat tanggapan sarjana-sarjana di surat kabar yang juga ditanggapi oleh Mochtar Lubis dengan sangat menarik. Jika di era sekarang kita bisa melihat hal ini di platform Twitter.
Saya pribadi menganggap buku ini sebagai renungan, sama seperti dua sarjana di akhir buku ini. Dan juga, ciri-ciri yang disebutkan oleh penulis, sesungguhnya lebih relevan jika kita melihat contohnya langsung kepada politikus kita.
Sebagai penutup, saya merasa ciri-ciri manusia Indonesia tersebut masih sangat relevan hingga saat ini, hampir 50 tahun sejak pidato tersebut dibacakan.
-Buku ini masuk dalam daftar: 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri oleh Majalah Tempo-
"Dengan pendidikan yang baik kita takkan bisa diperbodoh orang, dan dengan pendidikan yang baik pulalah kita akan dapat membasmi tabiat yang bersarang dalam tubuh aparat pemerintahan."
Aku pernah membuat anotasi di dalam buku Metode Jakarta, pertanyaanku tentang mengapa masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan -kalau tidak bisa aku katakan budaya- KKN yang amat susah untuk dihilangkan. Pertanyaan itu sedikit banyak terjawab di buku ini. Jawabanku yang masih meraba-raba, ternyata sama dengan pemikiran Pak Mochtar di buku ini.
Pak Mochtar Lubis merupakan seorang wartawan senior yang ikut mendirikan kantor berita Antara dan majalah sastra Horizon serta mendirikan pula Yayasan Obor Indonesia. Selain itu beliau juga menulis beberapa fiksi seperti Harimau! Harimau! dan Senja di Jakarta.
Buku ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berisi ceramah yang disampaikan Pak Mochtar Lubis pada tahun 1977. Beliau menyampaikan pemikirannya tentang apa saja karakter manusia Indonesia. Beliau banyak memberikan kritik terhadap isu sosial yang ia lihat saat itu.
Bagian kedua, berisi tanggapan terhadap ceramah yang beliau sampaikan serta tanggapan beliau terhadap tanggapan itu sendiri. Beberapa tokoh memberikan tanggapan kontra terhadap isi ceramah Pak Mochtar tapi menurutku bisa beliau counter dengan elegan.
Pak Mochtar memang hanya menyampaikan pendapatnya berdasarkan apa yang ia cermati tanpa adanya data ilmiah. Tapi apa yang beliau sampaikan rasa-rasanya sulit disangkal. Bisa aku katakan bahwa, sebuah ironi apa yang beliau kritik hampir 50 tahun lalu itu masih relate dengan apa yang terjadi di masa sekarang.
Namun di buku tersebut pun Pak Mochtar tidak hanya memberi kritik, tetapi juga memberikan solusi dan cara bagaimana kita bisa memperbaikinya. Menurutku buku ini harus dibaca sebagai bahan perenungan dan pembelajaran agar bangsa Indonesia bisa maju. Terutama buat "bapak-bapak dan ibu-ibu" yang sekarang sedang memimpin dan mewakili rakyat. Bacalah.
Buku pidato pertanggungjawaban yang ditulis oleh budayawan, pengarang, sekaligus jurnalis, Mochtar Lubis, ini agaknya memang sangat menggambarkan bagaimana karakteristik manusia Indonesia itu (karena masih relevan sampai sekarang). Meskipun masyarakat kita teramat majemuk dan nggak bisa seenaknya dicap begini dan begitu.
Totalnya ada enam sifat yang dipaparkan: (1) Munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan sikap ABS, asal bapak senang. (2) Enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya. (3) Bersikap dan berperilaku feodal. (4) Percaya takhayul. (5) Artistik, berbakat seni. (6) Lemah watak atau karakternya.
Ini relate sekali dengan kehidupan masyarakat kita dari dulu hingga sekarang. Apalagi poin percaya takhayul atau klenik. Bagian ini adalah favorit saya setelah poin artistik dan berbakat seni. Pada dasarnya, manusia Indonesia memang berasal dari latar belakang adat dan budaya yang berbeda, dan karena keragaman itulah jiwa artistik dan berbakat seni diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis adalah sebuah karya esai yang sangat berani dan tajam, serta membuat pro kan kontra. Awal Manusia Indonesia merupakan pidato kebudayaan yang disampaikan oleh Mochtar Lubis pada tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, buku ini kemudian diterbitkan sebagai naskah penuh karena dianggap terlalu penting untuk sekadar menjadi bagian dari sejarah lisan. Dan memang benar—apa yang disampaikan dalam buku ini tetap relevan, bahkan hingga saat ini sejak pertama kali diterbitkan.
Mochtar Lubis, seorang jurnalis kawakan yang juga dikenal karena keberaniannya melawan kekuasaan yang korup, menggambarkan enam sifat utama yang menurutnya melekat dalam diri "manusia Indonesia": hipokrit (munafik), enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, lemah watak atau mudah menyerah, dan kurang percaya diri. Keenam ciri ini dijabarkan dengan contoh nyata, refleksi historis, serta pengamatan tajam terhadap perilaku masyarakat dan pemimpin bangsa pada masa itu.
Yang membuat buku ini begitu kuat adalah keberanian dan ketegasan nada penulisnya. Tidak ada kalimat yang setengah-setengah. Penulis tidak mencoba menyenangkan siapa pun, dan justru karena itulah Manusia Indonesia menjadi karya yang menggugah. Beliau bukan hanya mengkritik pemerintah, tetapi juga mengajak pembacanya untuk introspeksi secara personal dan kolektif—apakah kita pun ikut melanggengkan budaya hipokrisi, sikap pasrah, atau feodalisme yang sudah membudaya?
Dari sisi isi, buku ini sangat bernas. Gaya penulisannya lugas dan berani. Struktur argumennya rapi, dan mudah dipahami bahkan oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang akademis. Ia mampu menjelaskan isu kompleks dengan bahasa yang membumi, namun tetap mengandung muatan intelektual yang tinggi.
Namun, dari segi teknis, buku ini memiliki kekurangan yang cukup mengganggu, terutama dalam hal banyaknya kesalahan ketik (typo). Beberapa halaman memuat kata yang tidak sempurna, huruf yang hilang, atau spasi yang tidak pada tempatnya. Meskipun tidak sampai mengaburkan makna, kesalahan-kesalahan ini cukup mengganggu alur baca dan mengurangi kesan profesional dari sisi penerbitan. Padahal, dari segi bahasa dan gaya, buku ini sudah cukup baik—formalnya pas, dan tidak terasa kaku.
Hal lain yang juga patut disoroti adalah bagaimana buku ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang konsep "nasionalisme" dan "jati diri bangsa". Mochtar Lubis tidak menawarkan solusi gamblang, tapi justru memaksa pembacanya untuk merenung dan berdiskusi. Buku ini seperti cermin—tidak memihak, tidak memoles kenyataan, hanya menunjukkan apa adanya. Dan sering kali, yang ditunjukkan adalah hal yang tidak nyaman untuk kita lihat.
Namun, bagi saya seorang pembaca awam, buku ini mampu menampar kita untuk lebih berintropeksi dan peka dengan keadaan Indonesia saat ini. Buku ini seolah membangkitkan kita untuk lebih mengkritisi bagaimana elit politik bertindak dan bagaimana serta dampak apa yang diberikan dan dirasakan ke masyarakat. Seolah memberikan sebuah hipotesis dan alasan mengapa sejak 80 tahun negara ini merdeka rasanya berjalan di tempat dan mengalami kemunduruan.
Jangan-jangan karena kita sendiri juga apatis dan mulai tidak peduli dengan tindak-tanduk yang dilakukan penguasa ...?
bacaan bagus sebagai bahan reflektif jelang peringatan 80 tahun kemerdekaan.
miris juga, bagaimana Mochtar Lubis berkoar-koar membahas manusia Indonesia dan dengan semangat mengajak orang-orang berubah sebelum tahun 2000 demi Indonesia lebih baik; tapi kenyataannya 2025 bisa dibilang tidak ada perubahan malah semakin mundur.
dibanding menuding sana sini (re: pemerintah), aku memilih untuk kembali ke diriku sendiri, bagian mana dari ciri-ciri manusia Indonesia yang ada di diriku, dan mana yang tidak.
tapi menurutku generasi milenial ke bawah sudah banyak yang meninggalkan ciri-ciri yang disebutkan Mochtar Lubis. namun karena para boomers masih jadi penguasa, terjadi bentrokan hingga belum bisa sepenuhnya berubah.
semoga (ya semoga) masih ada harapan akan perubahan di masa depan jika jajaran pemerintah dan pemegang kuasa dipegang oleh generasi muda sekarang.
"Manusia Indonesia" merupakan buku yang didasarkan atas pidato Mochtar Lubis pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki. Pidatonya tersebut merupakan sebuah pengungkapan pemikirannya (atau menurut istilahnya sebuah "pertanggungan-jawab") terhadap jati diri dan karakter Manusia Indonesia sesungguhnya.
Mochtar memulai pemaparannya dengan menelusuri sejarah dan latar belakang umum terbentuknya karakter bangsa Indonesia, baik secara sosial, budaya, kemasyarakatan, dan agama hingga terjadinya penyesuaian dalam menghadapi era globalisasi dan modernisasi.
"Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas," begitulah Mochtar mengistilahkan fenomena "penyesuaian karakter" pada Manusia Indonesia di era itu. Begitu jelas, begitu 'saklek' tanpa tedeng aling-aling, dan jelas berpotensi menuai kontroversi. Namun tentu membuat kita berkaca pada diri sendiri, berintrospeksi dan menarik pelajaran dari kata-kata tersebut. Jangan sampai kita menjadi seseorang yang sebagaimana diumpamakan dalam pepatah Melayu: "buruk muka, cermin dibelah."
Lebih lanjut Mochtar menyampaikan pendapatnya mengenai ciri-ciri utama Manusia Indonesia lengkap disertai latar belakang dan bukti pendukungnya, yang sayangnya namun kenyataannya memang demikian, hampir seluruhnya bernada negatif. Ciri-ciri tersebut adalah: munafik, enggan bertanggung-jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, dan berwatak serta berpendirian lemah. Hanya satu ciri yang sedikit bernada positif disinggungnya: artistik. Menohok memang, namun sifat-sifat itu nyata ada di dalam setiap diri kita, dalam setiap diri Manusia Indonesia secara umum.
Di akhir pidatonya, ia mengimbau dan mengusulkan agar Manusia Indonesia yang lebih berfokus pada pengembangan watak baiknya, dapat meninggalkan kepercayaan semantik dan simbolik serta lebih berusaha dan berkontribusi pada ranah yang nyata, dan bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia.
Buku naskah pidato ini pada akhirnya menjadi semacam esai yang memotret keadaan Manusia Indonesia pada zamannya, yang bahkan masih relevan hingga saat ini, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sebuah bacaan ringkas namun begitu bernas.
Mochtar Lubis yang dijuluki si pembangkang, dikenal pula sebagai pujangga dan wartawan legendaris “berkepala granit”, serta pendiri surat kabar Indonesia Raya. Dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 1977, ia menyebut Manusia Indonesia dapat distereotipekan melalui enam sifat: 1. munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan sikap asal bapak senang (ABS); 2. enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya; 3. bersikap dan berperilaku feodal; 4. percaya kepada takhayul; 5. artistik (berbakat seni); dan 6. lemah watak atau karakternya.
Lalu muncul pertanyaan, apakah karena sifat-sifat di atas (kecuali nomor 5), Indonesia “mustahil” menjadi bangsa yang maju?
Tentu saja yang namanya stereotipe tidak selalu benar, tidak pula selamanya salah. Sebagaimana didefinisikan, stereotipe adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif, maka konsep itu dapat lahir dan tumbuh dalam benak seseorang karena pengalaman observasi, yang lantas menciptakan generalisasi.
Lewat narasi pidatonya yang tertuang dalam buku ini, Mochtar cenderung berpendapat bahwa keenam stereotipe sifat Manusia Indonesia tersebut dapat dijadikan pangkal tolak serta bahan pemikiran dan penilaian secara kritis.
Dengan menjunjung kebebasan berpendapat, setidaknya gagasan tersebut dapat dijadikan pisau analisis untuk mengupas seberapa jauh sosok Manusia Indonesia—seperti yang digambarkan—masih berlaku hingga kini. Dan paling penting, bagaimana upaya kita untuk memperbaikinya.
“Kita harus punya integritas, mengatakan kebenaran, dan jangan mengulangi hal-hal yang tidak benar. Hidup jangan selalu melihat ke atas, tetapi melihat ke bawah, dan harus selalu bersyukur. Kita harus jujur.”
Saya baca buku dengan edisi cetakan kelima oleh Yayasan Obor Indonesia. Sangat menarik karena apa yang telah dikemukanan penulis tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, dimana rezim Orde Baru sedang berkuasa selain ternyata masih memiliki relevansi dengan kondisi Indonesia sekarang ini. Pandangan Mochtar Lubis ttng Manusia Indonesia saat itu memang diakuinya bukanlah hasil penelitian yang menggunakan penelitian ilmiah, malainkan hanya pandangan yang dilakukannya secara mendalam.
Selain itu, di buku tersebut juga termuat tanggapan-tanggapan orang lain seperti Sarlito Wirawan Sarwono, Margono Djojohadikusumo, Wildan Yatim, dan Dr. Abu Hanifah yang termuat di berbagai media massa. Dua penanggap pertama terasa kontra dan dua selanjutnya seolah-olah pro. Keempat penanggap tersebut kembali deiberi tanggapan balik oleh penulis. Bukan sebagai pembelaan diri, melainkan semangat untuk berdiskusi saja untuk nanti diharapkan ditemukan sintetis baru yang dekat dengan solusi permasalahan yang dikedepankan.
Saya rasa kita sebagai generasi muda perlu untuk membaca buku ini, pertama untuk meraba kondisi masyarakat sekitar kita (juga diri sendiri sebagai orang Indonesia) pada waktu lalu dan sekarang (karena ternyata memang masih sama) untuk mencari solusi dan membentuk karakter bangsa kearah yang baik.
Memang susah menggeneralisasi manusia indonesia dalam satu karakteristik. Namun buku ini saya rasa cukup kompeten untuk dijadikan acuan referensi walaupun masih terasa subyektif. Yang cukup menarik untuk disimak adalah perdebatan antar tanggapan oleh orang yang ahli di bidangnya dari pembaca pidato.
satu kata yang sangat saya ingat : De fiere sumantraan, de beschaafde javaan, de dappere menadonees, de trouwe ambonees
HIDUP INDONESIA!!
saya paling suka sifat yang dijelaskan oleh mochtar lubis ..orang indonesia memiliki sifat artistik yang tinggi. sepakat,saya rasa sifat tersebut yang akan menjadi kekuatan kita di masa mendatang. tentu saj dengan sokongan dari pendidikan yang bermutu.
Mochtar Lubis' speech 40 years ago isn't for the faint-hearted. He'd go as blunt as, Indonesian people are hypocrite and superstitious. He'd trace back to previous generation's quotes, wisdom we've heard for ages, sayings from the government, and of course, his own reflection. It even gets more interesting that in the last section, he answered people's responses towards this, (which most of all doesn't quite agree with him -- which is not entirely surprising). Personally, I'm giving this 5 stars because of his bluntness and bravery of saying things like this at such odd times (and even responded back!). Secondly, because even after almost half a century after his speech, this is still relevant, to Indonesian people.
Ditulis dan dibacakan di TIM 31 tahun yang lalu, apa yang diungkapkan Mochtar Lubis masih relevan untuk direnungkan saat ini. Membaca buku ini, tampak banyak hal-hal buruk pada bangsa kita yang belum berubah, bahkan sebagian perkiraan Mochtar telah benar-benar terjadi saat ini, misalnya mengenai modal/bakat yang dapat dikembangkan orang Indonesia, pentingnya ketahanan pangan, kerusakan lingkungan, dll. Ternyata kondisi kita memang belum beranjak jauh dari 31 tahun yang lalu, sebaliknya Mochtar telah memperkirakan keadaan tahun 2000an dengan cukup baik. Buku ini diterbitkan kembali oleh YOI pada tahun 2008.
Ada enam sifat manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis: hipokrit alias munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, memiliki bakat seni, dan memiliki watak yang lemah. Dengan keras ia melalui pidato kebudayaannya mengkritik tatanan masyarakat di akhir tahun 70-an. Di situ juga banyak wanti-wanti bahwa jika tahun 2000 situasi itu tidak berubah, maka masyarakat kita bakal makin terpuruk. Sayangnya, tahun 2015 ini pidato itu tetap menyengat dan masih mencerminkan mentalitas kita.
Manusia Indonesia, seperti judulnya, menuturkan mengenai karakteristik manusia Indonesia dari sudut pandang seorang budayawan kondang: Mochtar Lubis. Saya sering mengangguk-angguk ketika membaca buku ini, pertanda setuju dengan beliau perihal tabiat-tabiat kita sendiri.
Menurut Anda manusia Indonesia pemalas? Penjilat? Artistik? Ya. Tapi kenapa? Buku ini menjadi menyenangkan karena menyajikan sebuah common sense mengenai masyarakat Indonesia yang dirasionalisasi oleh pengalaman-pengalaman hebat Mochtar Lubis.
Membaca buku ini seolah sedang berkaca pada sebuah cermin, melihat refleksi manusia-manusia Indonesia dari sebuah cermin yang bersih.. begitu polos dan jujur.
Walaupun memang bangsa Indonesia begitu beraneka ragam dan tidak bisa disamaratakan, namun buku ini cukup mewakili sifat-sifat yang sering kita dapatkan pada manusia-manusia Indonesia.
baca buku ini antara sedih dan geli sendiri...kadang angguk-angguk...kadang geleng-geleng...loh..kok kaya lagunya project pop yah... Mudah-mudahan sih jadi malu sendiri dan berubah jadi manusia Indonesia yang lebih baik yah..
Penulis mengenal nama Mochtar Lubis ketika membaca salah satu karyanya yang berjudul Harimau-Harimau, yang menceritakan tentang seekor harimau yang memangsa sekelompok orang para pencari nira di hutan. Melalui pembacaan novel tersebut penulis penasaraan dan ingin lebih tahu sosok Mochtar Lubis melalui karyanya. Setelah pencarian di jagad maya, penulis menemukan sejumlah review tentang salah satu karya kontroversial beliau yang berjudul “Manusia Indonesia”. Beberapa bulan kemudian penulis berangkat ke perpustakaan daerah Surabaya, untuk mencari karya beliau tersebut dan Alhamdulillah ada di rak bagian filsafat (penulis masih bingung kenapa buku ini tidak masuk dalam rak bagian sastra?). Dari hasil pembacaan penulis, isi dari buku ini membahas tentang “wajah retak” manusia Indonesia. Buku ini diangkat dari ceramah Beliau di taman ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal, 6 april 1977. Secara gamblang tanpa bahasa yang njlimet, Beliau mengkritik manusia Indonesia yang memiliki berbagai sikap buruk. Sikap- sikap buruk manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis dijabarkan dalam beberapa poin sebagai berikut:
• Hipokrit atau Munafik Menurut Mochtar Lubis, manusia Indonesia lekat dengan sikap kemunafikan yang ditunjukan dengan kebiasaan berkata tidak sesuai dengan hati nurani. Budaya hipokrit ini berakar dari rasa takut manusia Indonesia akan keselamatan diri, jika mengatakan yang sebenarnya. Misal ketika pada era feodalisme, yang masyaraktnya di pimpin oleh raja. Sebejat ataupun se-korup apapun raja tersebut, rakyat jarang dan bahkan tidak ada yang berani melontarkan kritik terhadap raja tersebut. Rakyat menganggap bahwa raja merupakan keturunan langsung dari dewa, maka jika rakyat berani menentang raja berarti tindakan tersebut sama dengan menentang dewa. Mochtar Lubis menyebut relasi semacam ini dengan ABS (Asal Bapak Senang). Pola relasi feodal semacam ini tidak luntur di era pemerintahan baru pada masa itu, hanya menurut Mochtar Lubis hanya penggantian istilah dari “Raja” menjadi “Bapak” (hal. 23). Penyebutan Bapak terhadap orang-orang yang dianggap terpandang di masyarakat, menurut Mochtar Lubis merupakan wajah baru dari feodalisme. Hubungan antara “anak” dan “bapak” (bukan dalam lingkup keluarga), sarat dengan praktek-praktek koruptif. Contonhya ketika ada atasan yang dengan sengaja melakukan tindakan korupsi dan hal tersebut diketahui oleh para bawahanya. Karena Bawahanya merasa bahwa ABS, maka bawahan tersebut tidak berani menegur apalagi melaporkan tindakan tersebut kepada yang pihak yang berwenang. “yang penting komisinya lah”
• Sikap buruk manusia indonesia lainya adalah tidak mau memikul tanggung jawab (hal. 21). Sikap tidak memikul tanggung jawab yang dijabarkan oleh Mochtar Lubis dalam buku ini terkait dengan etos kerja manusia Indonesia, tapi sikap tidak mau memikul tanggung jawab ini juga bisa kita perluas di ranah lain. Contoh mudah bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari yang terwujud dari sikap saling lempar tanggung jawab. Retorika para pejabat yang ditanya suatu permasalahan tertentu dan dengan entengnya menjawab “itu bukan tanggung jawab kami” itu bisa menjadi contoh yang paling pas dan sering kita temui.
• Percaya Takhayul Bagsa kita merupakan penganut aliran animism dan dinamisme, sebelum kedatangan agama hindu-budha dan agama abrahamistik. Hal ini dikuatkan dengan berbagai macam penlitian para ahli yang sudah menemukan banyak gua dengan berbagai lukisan gambar hewan dan sosok seperti manusia (yang bukan manusia) yang menurut para ahli disimpulkan sebagai dewa yang disembah pada masa sebelum kedatangan agama-agama besar tersebut. Dalam buku ini Mochtar Lubis bukan bermaksud tidak mengakui keberadaan ajaran animisme dan dinamisme, tapi kritik Takhayul yang dimaksud beliau adalah perilaku manusia Indonesia yang mendua dalam menjalankan praktik keagamaan (hal. 27). Beliau melihat bahwa para penganut agama-agama besar seperti Islam dan Kristen terkadang masih terjebak dalam kepercayaan terhadap bangsa lelembut, yang sebenarnya dilarang dalam agama itu sendiri. Misal ada oknum yang mengaku sebagai penganut islam tapi masih melakukan ritual menyembah pada pohon yang dianggap keramat untuk mendapat berkah dari pohon tersebut. Dalam Islam tindakan tersebut sudah masuk dalam kategori dosa yang tidak diampuni karena sudah berani menyekutukan Tuhan. Kritik lain Mochtar Lubis tentang Takhayul ini juga meliputi perilaku manusia Indonesia yang yang kerap mengaitkan suatu kejadian dengan pertanda kejadian yang akan datang. Contohnya jika ada burung gagak yang terbang diatas rumah sesorang, maka bagi orang yang percaya takhayul, itu suatu pertanda kematian sudah mendekati si empunya rumah. Sikap takhayul ini menurut Mochtar Lubis menjadi penghambat rasionalitas dan pengetahuan manusia Indonesia. Ketika segala sesuatu dikaitkan dengan yang mistik-mistik, kemungkinan besar tidak tempat bagi pengetahuan untuk berkembang.
• Ciri lain dari “wajah retak” manusia Indonesia adalah boros dan pragmatis (menuntut serba instant) (hal. 36-38). Mengenai kebiasaan boros manusia Indonesia, saya tidak bisa memberikan contoh, karena cukup pembaca luangkan waktu sejenak untuk menyalakan televisi dan lihatlah gaya hidup artis-artis pujaan njenengan. Jika ingin lebih serius lagi mengamati perlaku boros ini, saya sarankan kepada pembaca, sempatkan diri untuk ngopi cantik di mall, amati sekitar anda maka contoh perilaku boros manusia Indonesia, jika anda mau menulisnya maka saya jamin hasilnya lebih banyak dari tulisan saya ini.
Perilaku pragmatis atau kalau boleh penulis sederhanakan gemar dengan yang serba “cepat saji” menjadi salah satu penutup dari beberapa ciri manusia Indonesia yang dijabarkan buku ini. perilaku yang ingin serba cepat tanpa mempedulikan proses ini begitu banyak kita lihat di sekitar kita. Skala kecil yang bisa kita jadikan contoh bagi para pelajar khususnya, di ruang kelas. Jujur penulis tidak mau munafik, ketika penulis duduk di bangku kuliah perilaku pragmatis ini sering penulis lakukan. Misal ketika mendapat tugas dari dosen untuk menulis artikel atau esai, pada saat mengerjakan, penulis terkadang mengambil jalan pintas tanpa berfikir keras untuk menulis artikel. Cukup ketik di google dengan kata kunci yang sesuai dengan artikel yang dimaksud, comot artikel dan bim-salabim tugas artikel sudah selesai . Tugas cepat selesai dan nilai-pun aduhai. (tulisan ini saya jamin sebagai buah pikiran saya sendiri dan saya sudah insyaf dari perilaku laknat tersebut).
Buku ini menjadi menarik karena juga disertakan berbagai tanggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis. Hampir semua tanggapan itu semuanya sebelumnya sudah dimuat di koran-koran besar, salah satunya kompas. Hampir semua isi tanggapan itu berisi kritik terhadap pandangan Mochtar Lubis yang terlalu subyekftif dalam memandang sisi buruk manusia Indonesia dan para penulis tersebut juga mengatakan bahwa Mochtar Lubis terlalu menyudutkan masyarakat Jawa. Tidak ketinggalan buku ini juga menyertakan tanggapan balik oleh Mochtar Lubis. Tanggapan atas tanggapan.
Dari segi sampul buku yang diterbitkan YOI (Yayasan Obor Indonesia) ini cukup mencuri perhatian dengan menggunakan warna dominan merah. Gambar yang digunakan untuk sampul menampilkan sosok-sosok ningrat Jawa, hal ini menurut penulis sangat disayangkan. Karena seolah sampul ini menegaskan bahwa Mochtar Lubis memang kurang simpati terhadap suku Jawa, seperti yang disampaikan para pengkritiknya. Selain itu gambar sosok ningrat Jawa yang disandingkan dengan judul bukunya “Manusia Indonesia” terlalu jawa-sentris. Seolah Manusia Indonesia yang dimaksud hanya masyarakat Jawa saja.
Sebagai pembaca awam yang cetek pemahamanya, ijinkan saya untuk memberi pendapat tentang buku ini.
Pertama penulis tidak akan mmengkritik tentang subyektifitas Mochtar Lubis dalam menilai manusia Indonesia, karena hal tersebut sudah banyak dilakukan penulis lainya sebelumnya. Penulis ingin menyorot soal paradigma yang digunakan beliau. Dalam kajian sosiologi ada beberapa paradigma yang digunakan. Diantaranya paradigma fakta sosial yang mengkaji masalah sistem dan mengandaikan masyarakat sebagai satu kesatuan organisme yang saling terkait. Paradigma yang kedua adalah definisi sosial, menurut paradigma ini manusia bukan merupakan satu bagian sistem yang menyebabkan reduksi atas eksistensi manusia. Kedua paradigma ini menurut penulis ibarat air dan api yang tidak bisa disatukan (mohon dikoreksi jika penulis salah). Gampangnya fakta sosial memandang tidak ada yang namanya individu yang ada hanya masyarakat, sedangkan paradigma definisi sosial sebaliknya menganggap individu itu unik. Menurut Penulis, Mochtar Lubis telah menggunakan paradigma fakta sosial dalam menilai manusia Indonesia dengan cara generalisasi tanpa melihat secara unik manusia Indonesia. Kritik ini sebenarnya sudah disanggah oleh beliau, di bagian tanggapan beliau di dalam buku ini. Tapi menurut penulis kelemahan dari paradigma fakta sosial yang digunakan Mochtar Lubis, bisa ditutupi dengan serangkaian data, seperti yang dilakukan oleh “Bapak” paradigma fakta sosial, Emile Durkheim, ketika melakukan penelitian tentang praktik bunuh diri di berbagai Negara.
Kedua terlepas dari kelemahan yang sudah penulis jabarkan diatas, buku sangat layak untuk dibaca. Khususnya bagi kita manusia Indonesia (bukan hanya orang Jawa). Sebagai peringatan dan teguran di tengah gempuran budaya konsumtif yang ditandai dengan kesengan yang hampa-hampa seperti saat ini.
Berasal dari pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada April 1977 buku ini diterbitkan. Meskipun sangat kontroversial (sebagaimana ditulis di buku), dan pasti sebagian pembaca akan pro dan kontra. Namun buku ini patut dan layak untuk dibaca terutama oleh mereka (cendekiawan, pendidik, akademisi kampus, pemangku kebijakan, dan politisi). Buku ini (walaupun saya tidak setuju 100%) merupakan kritik kepada mereka yang menyatakan diri sebagai manusia-manusia Indonesia. Apakah manusia Indonesia bisa disifatkan dengan 6 sifat utama (daripada pernyataan Mochtar Lubis) tidak mau bertanggungjawab, munafik, feodal, lemah karakter, suka takhayul, dan cinta seni? Sebenarnya 6 sifat tadi dapat digolongkan dengan sifat sifat yang lebih dipengaruhi akan posisi terhadap atau hubungan dengan kekuasaan, kecuali sifat positif yang beliau gambarkan sebagai cinta seni atau artistik. Mochtar Lubis menggambarkan gambaran manusia Indonesia sebagaimana tersebut juga memberikan contoh kasus-kasus yang relevan saat itu menurut dia. Yang menarik bahwa beberapa bacaan saya terhadap situasi di masa itu, terutama sekali masa revolusi nasional sudah mulai terlihat adalah kritik yang pernah juga disampaikan Pak Natsir di sekitar tahun 1950-an yaitu yang menggambarkan situasi manusia pasca revolusi nasional telah berubah, mereka yang dulu rela berkorban untuk kemerdekaan bangsa mulai menghitung-hitung timbal balik, keikhlasan mulai hilang, semangat revolusi mulai hilang, manusia-manusia mulai hilang arah, kurang lebih gambaran beliau seperti ini, dan beliau mengingatkan juga, jangan lelah tangan mendayung nanti terbawa arus jua. Selain daripada itu, Bung Karno sendiri juga mengatakan bahwa revolusi belum selesai di masa-masa itu, artinya perjuangan menuju Indonesia merdeka 100% belum lah sampai di garis finishnya, merupakan mantra yang juga diamini Pram di sekitaran 1960-an. Dan masih banyak lagi sebenarnya kritik-kritik terhadap manusia Indonesia, yaitu kritik-kritik identitas siapakah itu yang disebut manusia Indonesia, bahkan sampai abad 21 ini. Oleh karena itu buku-buku atau tulisa-tulisan serupa patut dan seyogyanya harus selalu menjadi renungan bagi kita (terutama saya pribadi) untuk memaknai keberadaan kita di bumi nusantara. Di akhir daripada pidatonya, beliau memberikan kesimpulan (sekaligus menurut saya jalan keluar terhadap apa yang dihadapi oleh manusia Indonesia) yaitu menghilangkan sifat-sifat buruk dan memperkuat sifat-sifat yang baik, melepaskan sifat-sifat warisan feodalistik, perlunya memakai semantik bahasa Indonesia yang baik dan benar artinya selarasnya kata dengan laku manusia, perlunya pelestarian seni, perlunya penghilangan sekat antara penguasa dengan rakyat, dan yang terpenting (menurut saya) perlunya menyelenggarakan pendidikan mampu menjawab itu semua. Akan lebih menarik kalau buku ini dapat menjadi bahan diskusi di lingkungan pendidikan mulai dari SMA (saya kira).
Buku ini berisi pidato / ceramah Mochtar Lubis pada April 1977 yang berisi kritik terhadap bangsa Indonesia. Menurut beliau, terdapat 6 ciri orang Indonesia yaitu munafik (hipokrit), tidak mau bertanggungjawab, berperilaku feodal, percaya pada takhayul, berbakat seni, dan lemah karakternya.
Dalam ceramah sepanjang 78 halaman, beliau coba menjelaskan sebab dan akibat dari ciri-ciri ini, misalnya perilaku feodal dan munafik kita berakar pada sistem kasta / kerajaan yang begitu menekan rakyat dan segala inisiatifnya. Tak pelak, hingga hari ini, sistem pemerintahan di Indonesia pun masih kental dengan prinsip "Asal Bapak Senang". Selain itu, tekanan ini menciptakan kecenderungan cari selamat sendiri dan melempar tanggung jawab. Belum lagi sikap 'tepo seliro' yang menjaga harmoni bangsa sebenarnya menunjukkan kelemahan karakter dan sikap ambigu serta paradoks yang kerap terjadi di Indonesia.
Selain ceramah sepanjang 78 halaman, buku ini dilengkapi dengan tanggapan tertulis beberapa tokoh seperti Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (psikolog), Margono Djojohadikoesoemo (direktur utama pertama dari Bank Negara Indonesia), Wildan Yatim (sastrawan), Prof Abu Hanifah (mantan menteri pendidikan), yang kemudian ditanggapi kembali oleh Mochtar Lubis. Hal ini yang menarik sekali untuk saya, membaca bagaimana pada masa itu tokoh intelektual berdiskusi secara produktif. (Sedikit tertawa saat Mochtar Lubis menanggapi sanggahan Pak Margono dengan menulis, "Pak margono termasuk apa yang dinamakan orang dalam bahasa Inggris "the vanishing breed" atau "teh rare execption", yakni jenis-jenis manusia Indonesia yang sedang dalam proses "kepunahan".")
Ada berbagai kritik pedas yang dilontarkan Mochtar Lubis dan menurut saya masih sangat relevan hari ini. Membaca buku ini di tahun 2024, nyaris 50 tahun setelah pertama kali ditulis, buku ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat Indonesia hari ini, bahwasannya banyak hal yang belum berubah atau bahkan makin buruk, terlebih dengan kemajuan teknologi hari ini.
Buku ini merupakan naskah tertulis dari pidato Mochtar Lubis pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Di dalam buku ini, Mochtar Lubis memaparkan 6 ciri manusia Indonesia menurut pandangannya. Berikut ciri-cirinya:
1. Munafik atau hipokrit, yang diantaranya menampilkan dan menyuburkan sikap ABS (Asal Bapak Senang). Penindasan sejak lama membuat manusia Indonesia tidak mampu mengungkapkan apa sebenarnya yang dikehendaki hati nuraninya.
2. Enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya. Kesalahan dilemparkan pada orang lain. Akan tetapi, bila suatu keberhasilan, maka paling depan mengatakan, itu karena saya.
3. Bersikap dan berperilaku feodal. Yang kecil mengabdi kepada yang besar.
4. Percaya takhayul.
5. Artistik, berbakat seni. Ini ciri yang paling baik yang diungkapkan Mochtar Lubis.
6. Lemah watak atau karakternya. Prinsipnya cepat berubah, seiring dengan tekanan yang ia dapatkan dari luar dirinya.
Selain 6 ciri di atas, masih banyak ciri-ciri lain yang dikemukakan Mochtar Lubis. Sayangnya, semuanya berkonotasi negatif. Menurutku, pendapat Beliau tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Meskipun membacanya seperti menelan pil pahit, nyatanya, hal-hal yang Beliau ungkapkan memang benar adanya. Bahkan, masih relevan hingga saat ini.
Cukup dipahami apa yang coba diutarakan oleh Beliau. Pidatonya adalah suatu kritik keras pada "oknum-oknum" manusia Indonesia yang memiliki ciri-ciri tersebut. Rasanya, "oknum" merupakan kata yang tepat ku gunakan karena tidak semua manusia Indonesia mencirikan hal yang tersebut di atas. Cukup menarik melihat bagian-bagian akhir buku ini. Terdapat balas-membalas tanggapan antara pakar/tokoh dengan Mochtar Lubis mengenai pidatonya.
Terlepas dari kontroversinya, buku ini menyajikan bahan dan permulaan kerangka yang berguna untuk membangun kembali "Manusia Indonesia".
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kok bisa ya buku bertahun-tahun lalu relevan sampe hari ini, bahkan ada juga selisih berabad. Jawabannya sedikit banyanya ada disini, bahwa kita bahwa manusia tidak banyak berubah. Entah di eropa, di dataran tiongkok, di Indonesia... sifat-sifat manusia sama. Yang menarik juga adalah, kita sudah (otw) 80 tahun merdeka tapi permasalahan di sekitar tahun 70's masih ajaa sama sampai sekarang. Toh ternyata tuntutan rakyat sekarang mash sama sama 50 tahun lalu, neopolitik yang mash sama, pak mucthar menamainya fenomena ini 'historical irrelevant' setelah 45, tragedi 65, reformasi 98 kita tidak berani melihat kenyataan pahit menerima sebenar-benarnya untuk kearah perkembangan baru.
Manusia Indonesia dalam buku ini digambarkan munafik, tidak berpendirian, berkarakter lemah, percaya takhayul, bermalasan, mau instan saja. Juga disebutkan karakteristik dekat dengan alam, punya jiwa artistik dan memiliki paras cantik/ tampan
Yang unik menurutku dalam buku ini… Bagaimana takhayul tidak hanya tentang makhluk tak kasat mana namun juga slogan, simbol-simbol yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Dukun yang disebut dalam buku ini Soekarno dengan jargon-jargonnyaa berdikari, jarek, usdek dsb. Bagaimana juga pendidikan merupakan jalur penting yang harus ditempuh selain berani untuk melihat kekurangan pada manusia Indonesia, membaiki sistem pemerintahan dan orang-orang yang menduduki bangku tsb
Sekaligus, jadi makin paham pentingnya suatu bangsa mengetahui sejarah bangsanya sendiri, bukan dari pov kolonialism atau segelinter orang berkepentingan trus saat baca ini keinget pentingnya sejarah yang kini tercermin di belahan dunia lain, bagaimana zionism di tanah Palestina juga merongrong dokumen sejarah bahkan membajak budaya sampai pada makanan. Habisi sejarah hingga lupa dia siapa