"Tubuh ini akan musnah pada waktunya. Apa pun yang terlihat oleh mata, akan tiada. Tapi, tidak untuk cinta. Cinta tidak bisa dilihat, cukup dirasakan. Jadi, kalau sekarang menangis, berarti kamu mencintai fisikku. Kalau kamu mencintai hatiku, aku akan kekal bersamamu."
Ya, aku tahu kalau mencintai hati akan kekal di hati pula. Dan itu tidak terjadi kalau aku mencintai fisik.
Lalu, bagaimana aku bisa bahagia?
Apa yang harus kulakukan untuk menghibur hati ini?
Awalnya saya pikir kejam amat saya kasih 1 bintang di sini, tapi ternyata banyak juga yang ngasih segitu ya. Baguslah, rasa bersalah saya jadi rada luntur. (Yeah, right.)
Ini review pertama dari 5 buku yang saya baca selama mudik Lebaran (sumpah, di kampung sono gak ada wi-fi, gw ampe stress gak bisa buka Goodreads sama sekali, hiks) karena kebetulan emang saya udah tulis review-nya di notes dan kebetulan juga ini buku punya sepupu, jadi kan gak bisa nunggu bawa pulang dulu baru tulis review. [Sedangkan review buku lainnya harus nunggu lagi karena sama sekali belom ditulis, dan sedang menunggu mood untuk menulisnya.]
So, jadi ini review yang saya tulis 2 hari lalu:
Cuma kuat baca prolog. Terlalu banyak kalimat ajaib, dialog aneh, dan kata yang tidak pada tempatnya. Let me list those. (ini baru yang di prolog ya)
Overused phrases:
1. "drama hujan" --> pertama kali dipake masih oke, gw pikir, bagus juga. Kedua kali dipake, I was like, RLY? Ketiga kali dipake: ...
2. "pori-pori kulit" --> kedua kali dipake gw malah merasa jijik
[dan gw yakin masih banyak yang beginian di bab-bab selanjutnya]
Kalimat-kalimat ajaib:
1. "Kenyamanan tidur Nabila dibangunkan oleh kegaduhan tetes demi tetes bising air hujan yang meronta ganas di atap kamar."
Ini kalimat pertama. Dan, bisa dibayangkan, ekspektasi gw langsung ancur begitu 'meronta ganas' muncul. What a lame phrase, dude. What a really really lame phrase.
2. "Ayahnya, Zainal, sudah tiada. Ia mengalami kecelakaan ketika pulang dari kantor. Usia Nabila kurang lebih satu tahun ketika itu. Ironis."
Ironis. Ironis. Ironis..? Saya langsung tersentak membaca kalimat yang terdiri dari satu kata itu. Ironis? Bagian mananya yang ironis???
What is irony? (wiktionary) A statement that, when taken in context, may actually mean something different from, or the opposite of, what is written literally; the use of words expressing something other than their literal intention, often in a humorous context.
Mungkin si penulis lupa ada kata yang lebih cocok untuk itu: tragis (wiktionary) tragic = Causing great sadness or suffering.
Weird dialogues:
1. "Pagi, Ma! Buat nasi goreng sosis mentega kesukaanku ya?" "Pagi putri kecil. Kalo malam hari menjelma menjadi seorang putri. Tapi, pagi harinya berubah menjadi seekor singa."
God, what an inappropriate answer.
2. "Bil, kalau memang Mama masih diberikan kekuatan untuk menggerakkan kedua tangan ini, setiap hari Mama akan selalu buatin nasi goreng kesukaanmu."
Oh Mom, you're so dramatic. And, umm... we're in the kitchen, not hospital room.
Indescribable descriptions:
1. "Ia adalah anak satu-satunya. Mungkin itulah yang membentuk karakternya menjadi anak manja. Namun, kemanjaannya itu tidak pernah ia perlihatkan di depan ibunya yang bekerja keras sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Alasannya, karena ia tidak ingin merepotkan ibunya. Sifat asli manjanya sendiri bisa terlihat dari bagaimana caranya berbicara. Suaranya terdengar lembut manja. Raut wajahnya seperti memelas saat berbicara. Ditambah gerakan lemah lembut tubuhnya. Menggemaskan."
Whoa, dude. Jadi kata 'manja' bisa didefinisikan melalui intonasi suara dan mimik wajah ya?
(KBBI) man·ja a 1 kurang baik adat kelakuannya krn selalu diberi hati, tidak pernah ditegur (dimarahi), dituruti semua kehendaknya, dsb: krn anak bungsu, ia sangat --; 2 sangat kasih, jinak, mesra (kpd): anak itu sangat -- kpd kakeknya; kucing itu -- sekali kpd tuannya.
2. "Nabila tak perlu menjadi gadis cantik yang sudah mainstream. Ia sudah sangat percaya diri dengan rambut panjang terurai, kulit berwarna kuning langsat, bibir tipis, mata yang sayu, dan tinggi badan yang tidak lebih dari 165 sentimeter."
Menurut saya, itu yang di-bold ya udah definisi sejati dari 'cantik mainstream.' *sigh*
Ini baru prolog (dan gw males bahas prolog itu apaan, karena penulisnya jelas-jelas salah menerjemahkan apa yang dimaksud dengan "prolog"), gw gak tau kayak apa sisanya. I bet no better than this, sih.
Harusnya gw gak usah baca buku ini ya, tapi penasaran banget gegara sinopsisnya yang galau-lebay-gimana-gitu. =))
“Tubuh ini enggak akan ada selamanya. Kenapa? Karena apapun yang terlihat oleh mata akan tiada Bil, tapi tidak pada cinta.Karena cinta tidak bisa dilihat tapi dirasakan”
Kesan pertama membaca novel Hurt ini biasa saja, karena bab pertama membahas kehidupan seorang siswi SMA dengan rutinitas kesehariannya, dan ketika membacanya saya berpikir paling isinya tentang seputar konflik antar teman satu sekolah, perebutan cinta dan lain-lain dan pasti endingnya seperti yang saya pikirkan. Dan ternyata saya salah :D
masuk ke bab berikutnya mata saya langsung tertuju pada setiap detail kalimat dan peristiwa, dengan serius bab demi bab habis saya baca, perasaan saya mulai campur aduk, dan sampailah di Bab yang menceritakan Malik, alhasil tak terasa air mata tiba-tiba keluar, enggak tega ceritanya :(
Di buku ini menceritakan persahabatan Nico, Nabila dan Laura yang telah terjalani cukup lama. Kisah cinta ke tiga sahabat ini, dikemas dengan apik oleh pengarangnya, dan membuat saya bertanya-tanya. Apa Nico menyukai sahabatnya? Dan inilah bagian yang membuat saya penasaran untuk segera mengetahui endingnya. Belum lagi kemunculan Malik yang membuat perasaan saya sedih, sebel, curiga dan oooh tidak :D .
Pesan yang terselubung dalam novel ini yakni tentang go green, dimana pesan ini sudah ditampilkan dari awal novel sampai akhir novel.
To be honest, saya cuma baca sampai halaman 47, and it's enough. I felt like I've been scammed. Covernya dan sebuah penjelasan di sampul belakang membuat saya membelinya. Yang bikin saya tidak sekecewa itu, pembatas bukunya, That's it. But it's a good book for some people though.
Ide ceritanya sudah umum, cinta segitiga anak SMA. Walaupun begitu, saya sangat mengharapkan lebih dari sekedar cinta-cinta biasa. Tapi, saya tidak menemukan konflik atau klimaks dari ceritanya. Ceritanya kurang greget, padahal saya menantikan greget-nya itu.
Dilihat sekilas saja, desain sampul bagian depannya lumayan bagus dan cukup menggambarkan petunjuk isi novel. Saya kepincut buat beli novel ini karena cover depannya dan juga Book Blurd-nya yang cukup membuat saya penasaran. Deskripsi untuk karakter Nabila, Malik, Nico dan Laura juga lumayan ditonjolkan, tapi ceritanya biasa-biasa saja.
Banyak sekali adegan-adegan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipublis. Bagian Prolog sampai empat bab selanjutnya, menceritakan keseluruhan kegiatan hari itu yang menurut saya tidak penting, padahal mungkin jika cerita itu dipangkas dan diganti, mungkin akan lebih baik lagi.
Untuk setting tempatnya, saya rasa belum cukup dieksplor. Kurang ada keterangan yang benar-benar membuat novel ini menjadi terasa benar-benar nyata bagi saya. Dan saya kurang bisa masuk alur ceritanya.
Untuk kekurangannya masih masalah typo. Masalah yang umum di dalam dunia penerbitan. Dan dalam novel ini saya menemukan banyak typo dan ini membuat saya benar-benar kecewa. Typo menurutku hal yang wajar lah, penulis/penerjemah/editor juga manusia. Tapi lebih baik lagi kalo typo itu gak ada, dieliminiasi seminimal mungkin!
Bagaimana pun, typo itu turut andil dalam penilaian pembaca terhadap kualitas penerbit, penulis, penerjemah, dan editor loh. Jika typo hanya ada di 10 halaman pertama atau halaman-halaman tertentu tapi nggak banyak, saya bisa memaklumi. Tapi yang ini, hampir di setiap halaman selalu ada, dan mengganggu atmosfer yang dibangun oleh saya ketika membaca. Yang tadinya konsentrasi tiba-tiba buyar gara-gara menebak kata apa yang dimaksud sebenarnya.
Just my two cents ya. Sekalian curhat mengenai typo yang akhir-akhir ini sering banget aku temuin di buku-buku yang aku baca saat ini. Semoga dengan pertanyaan seperti ini, para penerbit bisa lebih memperhatikan. seperti contoh :
“Gimana nasi gorengnya? Enak? Sama seperti biasanya, kan? Mama baru ingat kalau tadi, mama lupa kasih garam,” kata ibunya sambil menyuap nasi goring ke mulutnya. (hlm. 05) Menyuap? Rasanya nggak pas. Bukankah seharusnya menyuapkan?
Itulah yang membuat Nabila mundur. Nabila tidak ingin teperangkap cinta yang rumit dan tidak jelas. (hlm. 20) Nah, ada yang salah kan di kalimat diatas ? Adakah yang tahu? Kata ‘teperangkap’ seharusnya kan ‘terperangkap’? walaupun sepele, tapi bikin kesel juga.
Tanpa terasa, sudah lima belas menit Nabila dan nico berjalan Percakapan berhasil meneduhkan mereka dari sengatan lidah sang mentari. (hlm. 40) Seharusnya setelah kalimat berjalan, ada tanda penghubung yaitu titik (.)
Tak jauh terdengar, suara mesin mobil mendekat. (hlm. 58) Lagi-lagi kesalahan tanda penghubung. Seharusnya koma (,) diletakkan setelah kata jauh. Karena akan beda arti jika diletakkan dibagian setelah kata ‘terdengar’
Beberapa waktu kemudian, Nabila dan Malik sudah di balkon rumah. Kami tersenyum dan berpegangan tangan menatap hujan. (hlm. 125) Bukankah kalimat yang saya garis bawahi lebih mengacu pada kata ganti orang pertama, aku dan kamu, bukan kata ganti orang ketiga.
Laura terlebih dulu duduk di kurisnya terlebih dahulu sebelum Nabila dan Nico datang. (hlm. 135) Mugkin ada baiknya kata yang saya garis bawahi dihapus saja, jadi nggak double sama yang pertama.
“Sebenarnya Malik pernah menceritakan rahasianya sama gue. Rahasia yang bahkan Nabila tidak ketahui. (hlm. 138) Hayo ada yang tahu kesalahannya dimana? Tanda petik (“) dibagian belakangnya nggak ada.
Itu sebagian kecil dari typo yang ada, sebenarnya masih ada banyak, tapi saya hanya mengambil contohnya saja.
Beberapa kalimat ‘ajaib’ yang saya temukan dalam buku ini :
1. Kenyamanan tidur Nabila dibangunkan oleh kegaduhan tetes demi tetes bising air hujan yang meronta ganas di atap kamar. (hlm. 01) Meronta ganas? What? Sebaiknya sih meronta ganasnya diganti dengan kalimat yang lebih pas kali ya! Kesannya agak nggak enak dibaca, apalagi itu masih halaman pertama. Tetes demi tetes air hujan kan nggak ganas-ganas amat ya! Kalau badai hujan sih, mungkin kalimat yang saya garis bawahi ada benarnya.
2. Matanya mulai terfokus pada sebuah pohon tinggi dan rindang. Ya, menikmati drama hujan pagi ini. (hlm. 02) Drama hujan, satu kali mungkin masih enak dibaca, tapi kalau udah dua kali sampai tiga kali, hmm.. kayaknya nggak pas deh! Terlalu gimana gitu.
3. “Pagi, Ma! Buat nasi goreng sosis mentega kesukaanku, ya?” sapa Nabila sambil menggandeng tangan kiri ibunya. “Pagi putri kecil. Kalo malam hari menjelma menjadi seorang putri. Tapi, pagi harinya berubah menjadi seekor singa,” sambut ibunya dengan candaan. (hlm. 04) Bukahkah ada yang aneh pada dialog diatas ? Kenapa mama Nabila menjawab dengan kalimat seperti itu. Kalau kita logika, itu nggak masuk akal akan? Nabila tanya apa, ibunya jawab gimana.
4. Nabila hidup berdua dengan ibunya, tanpa ada sosok pria kuat yang yang jadi pelindung keluaraga. Ayahnya, Zainal, sudah tiada. Ia mengalami kecelakaan ketika pulang dari kantor. Usia Nabila kurang lebih satu tahun ketika itu. Ironis (hlm. 04) Kesalahan pertama yaitu terdapat double ‘yang’ dan yang kedua adalah kata ironis. Menurut saya kurang tepat, mungkin kata ‘ironis’ lebih tepat jika diganti kata ‘tragis’
5. Apakah Nabila tergelincir ke dalam teori cinta pada pandangan pertama? Entahlah. Pemilihan katanya nggak enak dibaca. Kurang pas dan terkesan gimana gitu.
6. Teet-teet-teet, tiga kali bel sekolah berbunyi. Terdengar di setiap sudut-sudut sekolah. Pak Warsito pun bergegas membereskan buku-buku yang berada di meja dan meninggalkan kelas tanpa tugas yang diwariskan. (hlm. 18) Mungkin diwariskan bisa diganti dengan kata yang lebih pantas. Kata diwariskan menurut saya lebih pada warisan harta, bukan warisan ‘tugas’ ya!
7. Beberapa kali Nabila membasuh keringat yang ada di wajahnya. (hlm. 40) Hah? Membasuh? Maksudnya apa nih? Masak Nabila membasuh sih, keringat lagi. Nggak nyambung banget. Kalau menyeka keringat yang ada di wajahnya, lebih wajar. Dan kata ‘membasuh’ lebih dari tiga kali saya menemukannya, dan membuat saya merasa ngregetan sendiri.
8. Tak lupa topi berwarna merah sudah menggelayut di kepalanya. (hlm. 44) Menggelayut, kayak monyet aja *hehe. Hmm, mending diganti bertengger, lebih bangus kalau menurut saya.
9. Usai melahap habis jalan setapak. Ada pemandangan yang mengenyangkan mata. (hlm. 116) Melahap habis jalan dan mengenyangkan, kalimat-nya kurang pas. Kenapa saya merasa dalam novel ini setiap katanya dibuat agak berlebihan ya! Yang membuat saya agak nggak nyaman juga.
Overall, saya menikmati perjalanan cinta segi empat Nabila, Malik dan Nico serta Laura.
Satu dari lima bintang untuk buku ini. Mungkin keliatan pelit ya! Tapi mau gimana lagi. Cuma cover sama Book Blurd-nya aja yang bagus *hehe.
Kesalahan ketik terlalu banyak dan penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten. Kelebihan lain terletak pada pesan yang disampaikan novel ini bahwa persahabatan itu melebihi segalanya.
Baca ini taun berapa ya? 2015? Masih SMP, jadi ngerasa buku ini bagus banget. Makin kesini udah banyak baca yang lain, dan ngerasa ini buku biasa banget, klise... Tapi aku kasi bintang 3 karena gimanapun ini novel romantis pertama yang aku baca sampe selesai.
Hurt (by Heri Putra) ini adalah buku yang pertama saya review. Mohon bantuannya.
Saya beli buku ini di Indomaret (keren euy, Indomaret bisa jual novel yang "lumayan" --dalam tanda kutip-- di luar novel "best seller" --tanda kutip lagi--) dan terjebak oleh cover plus sinopsisnya yang menyentuh :D
Kesimpulan setelah membaca novel galau ini:
SANGAT MENGECEWAKAN.
Typo bertebaran dimana-mana. Jujur, itu sangat mengganggu, merusak isi buku. Saya tidak usah menjelaskan lagi karena sudah dibahas pada review sebelumnya.
Kedua, POV yang inkonsisten. Kadang menggunakan sudut pandang orang ketiga, kadang menggunakan "aku" atau "gue" yang merupakan sudut pandang orang kesatu.
Ketiga, cerita dengan penjelasan bertele-tele.
Bahkan saking bertele-telenya bagian cerita yang harusnya selesai dalam satu-dua paragraf menjadi lebih dari dua bab.
Keempat, "bahasa gombalnya" nggak enak banget. Contoh (aku lupa halaman mana), pokoknya pas adegan Nabila sama Al ada kata 'aura cinta' yang diletakkan di tempat kurang pas jadinya eneg gitu. Terus ada bahasa-bahasa gombal lainnya membuat buku ini kurang enak dibaca.
Kelima, cerita ini kurang smooth karena alurnya seperti dipercepat secara paksa.
Sepertinya karena terlalu banyak kalimat yang bertele-tele, terus lupa dengan alur cerita yang dipaksakan?
Seharusnya alur lebih dikembangkan lagi dan mengurangi penjelasan-penjelasan yang "mubazir".
Keenam, inkonsisten tokoh. Seperti :
- Ketua kelas, kenapa awalnya bernama Joko menjadi Rio?
- Sebenarnya guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas itu cewek atau cowok? Kenapa harus diubah?
Terakhir, kayaknya karakter cowok disini kok lemah banget, ya (menurut saya). Contoh :
Nico yang entah kenapa terlihat lebay pada saat dia tahu Nabila mencintai Malik, bukan dirinya. Pas dia curhat pada Laura, Nico terlihat berlebihan.
Memang cowok bisa "sangat galau" jika cewek yang dia cintai memilih orang lain. Tapi menurutku Nico terlalu cengeng, tidak terlihat sisi gentlemannya sama sekali. Apalagi ketika dia tahu Malik punya HIV, dia sempat bersikap "tidak fair" dengan mengejek-ejek Malik dan menghajarnya di depan Nabila.
Kedua, ketika Malik "diserang" oleh Nico di depan kelas. Malik bukannya membela diri saat dihajar Nico malah bersikap pasrah. Membela diri saat diserang sah-sah juga, kan?
Malik juga terlihat terlalu pasrah saat bersama Nabila.
Seandainya saya bisa memberi rate 1/2 untuk buku ini, akan saya lakukan. Tapi...
Saya suka dengan kedewasaan Laura kepada Nico dan Nabila. Terutama pada saat dia merelakan Nico untuk mencintai Nabila meskipun dia mencintai cowok itu dan tetap bersahabat dengan keduanya. Jadi, 1/2 rate saya untuk itu.
1/2 rate lagi buat cover dan sinopsis.
Jadi satu bintang dari saya.
Maaf kalau review saya terlalu bertele-tele dan terlalu "kejam". Semoga membantu penulis dan reviewer ^_^
2 bintang dari saya. Pertama kali lihat sinopsisnya banar-banar bikin penasaran, sampai-sampai mikir "Bakalan nyaman banget bacanya" "Pasti keren ceritanya, bikin kita sebagai pembaca ikut masuk kedalam cerita". Tapi ternyata? Nihil-_- yah bisa dibilang kecewa sama isinya. Beberapa halaman depan udah buat saya 'lelah' bacanya. Karena apa? Kurang suka sama karakter Nabila yang terkesan centil banget. Bukan manja sama teman laki-lakinya. Terus sama sudut pandang yang nggak konsisten entah pertama atau orang ketiga. Juga bahasa yang digunakan nggak teratur, aku jadi gue, kami(orang pertama) jadi mereka(orang ketiga). Dan ada lagi kesalahannya, enatah dari cetakan atau penulisnya dari ketua kelas yang namanya Joko kok di halaman berikutnya jadi Rio ya?-_- guru B.Indonesianya juga halaman awal dijelaskan seorang guru perempuan yang juga merangkap sebagai wali kelasnya tapi sama, di halaman berikutnya dituliskan guru B.Indonesia adalah seorang laki-laki. Jadi yang benar yang mana?--" Saya benar-benar kecewa sama isinya. Maaf kalau review pertama saya ini nggak bagus, mungkin karena benar-benar 'terbohongi' maaf sekali lagi. Tapi saya beri 2 bintang pasti karena ada yang saya suka, yaitu cover plus pembatas bukunya yang bikin senang lihatnya :3 juga sinopsisnya yang buat saya terhipnotis. :D Untuk selanjutnya semoga tulisannya bisa lebih baik. XD Ganbatte! Terima kasih untuk yang mau membaca riview saya (kalau ada--")
Tubuh ini akan musnah pada waktunya. Apapun yang terlihat oleh mata, akan tiada. Tapi, tidak untuk cinta. Cinta tidak bisa dilihat, cukup dirasakan. Jadi, kalau sekarang menangis, berarti kamu mencintai fisikku. Kalau kamu mencintai hatiku, aku akan kekal bersamamu. Ya, aku tahu kalau mencintai hati akan kekal dihati pula. Dan itu tidak terjadi kalau aku mencintai fisik. Lalu, bagaimana aku bisa bahagia? Apa yang harus kulakukan untuk menghibur hati ini? Adakah cara lain untuk aku bisa mencicipi cinta? Mungkin, dia bisa mengobati hati ini
Hurt. cinta itu datang untuk pergi. Awal beli buku ini suka banget sama kata-kata itu, pas dibaca, entah saya yang kurang mendramatisir atau gimana. saya gak dapet feel-nya ._.v latar sekolah, dan kejadian seperti itu (malik terkena HIV) oh... I don't like that one. udah bisa nebak duluan akhir ceritanya kayak gimana, ditinggal sama dua cowok itu pasti. but, keep writing Heri Putra ^^
Sinopsisnya sih keren, tapi entah kenapa pas baca bukunya, awal"nya bosenin trus konfliknya juga kurang menantang, banyak dialog yang ga penting dan endingnya terlalu gampang buat ditebak. Jadi, saya ga rekomendasikan buku ini buat dibaca #sorrynotsorry apalagi buat anda yang udah sering baca buku" best seller, kayak buku agnes davonar, dee, john green dll. Pasti ga bakal cocok sm buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.