Di usia gue yang ke-27 tahun ini, jam kehidupan gue menunjukkan pukul 08.06 pagi.
Pukul delapan di pagi hari.
Matahari sedikit lagi meninggi. Tapi belum terlalu terik.
Masih pagi. Pekerjaan rumah pun masih banyak yang belum terselesaikan. Mengajar pun, ah, belum tuntas satu periode jam ajar.
Tapi embun sisa semalam sudah sepenuhnya menguap. Ada langit biru, awan putih berarak, sesekali masih ada kicau burung. Semangat pagi.
Dan itu lah waktu gue, di jam kehidupan gue saat ini berdasarkan penghitungan dari Rando Kim, penulis buku ini.
Bagaimana cara menghitung jam kehidupan kita berdasarkan usia yang saat ini kita punya?
Ah, justru disitu daya tarik buku ini yang jelas tidak akan gue buka spoilernya. muahahahahahaha *ketawa durjana*
I wished i found this book two years earlier..
Itu yang gue pikirkan saat gue mulai terhanyut dalam petuah-petuah yang disampaikan satu persatu.
Tapi tentu, semakin lama membaca, semakin jauh mengingat dan semakin banyak memahami, gue menyadari bahwa semua indah pada waktunya.
Sama seperti semua bunga yang akan mekar pada musimnya, sekalipun bunga-bunga itu tidak menyadari bahwa mereka akan mekar dengan indah.
Dan itu lah kita. Yang terkadang terpaku untuk menunggu. Dan membiarkan waktu berlalu.
Buku ini dengan lembut menampilkan lagi seluruh kekuatan dari pelajaran dan pengalaman hidup yang pernah gue jalani.
Di setiap lembarnya adalah nostalgia. Kebijaksanaan, kearifan, dan pemahaman. Dan pada akhirnya, semuanya dengan indah menjalin menjadi satu, kesadaran akan kehidupan. Dan Ketuhanan.
Kalau di awal gue berpikir seandainya saja gue menemukan buku ini dua tahun lebih awal, misalnya, pada akhir proses membaca, gue kembali menyadari bahwa mungkin dampak yang diberikan apabila gue membaca buku ini dua tahun lalu dengan dampak yang gue rasakan saat gue membaca buku ini sekarang tentunya akan berbeda.
Biar bagaimanapun, gue bertumbuh selama dua tahun belakangan ini.
Gue menguat, gue menyembuhkan dan mengutuhkan diri, dan seluruh proses panjang tersebut telah gue lalui. Dan gue yakin, gue yang sekarang memiliki sudut pandang yang berbeda dari gue yang dulu.
Bacalah buku ini saat kita butuh diingatkan mengapa kita ada.
Bacalah buku ini saat kita merasa lelah, tapi kita tak bisa dengan mudah melepaskan kehidupan yang kita punya.
Dan semoga, seperti gue yang menemukan arti "pulang", kalian yang membacanya juga akan menemukan harta jiwa yang sama berharganya.