Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ayah...: Kisah Buya Hamka

Rate this book
BUYA HAMKA. Nama besar ini bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, dan pemimpin masyarakat. Ketokohan serta keagungan karyanya membuat banyak orang tertarik untuk mengabadikannya.

Melalui penuturan anak kelimanya, Irfan Hamka, Republika Penerbit ingin mengenal sosok besar Hamka, namun dari sisi yang lebih dekat; Buya Hamka sebagai seorang ayah, suami, dan kepala keluarga.

Buku Ayah… menyuguhkan banyak kenangan, pengalaman, dan kisah luar biasa yang mungkin tak akan kita peroleh selain dari orang-orang terdekatnya. Dan, Republika Penerbit merasa beruntung bisa “mendengarnya” langsung dari Penulis, lantas menyampaikannya kepada pembaca. Semoga pembaca pun dapat memperoleh manfaat dengan membacanya.

Berikut sebagian kecil nasihat dan pengalaman yang dikenang oleh Irfan Hamka selama 33 tahun kebersamaannya dengan Buya Hamka, sang ayah. Kisah-kisah dalam buku Ayah… akan membawa pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka dari sisi yang berbeda.

“Ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong. Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk berbohong. Jangan seperti kamu tadi. Kedua, tidak pelupa akan kebohongan yang diucapkannya. Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran bohongnya yang pertama. Contoh, ada seorang teman bertanya kepada temannya, ‘Tadi hari Jum’at shalat di mana?’ Si teman yang ditanya sebenarnya tidak ikut shalat berjamaah Jum’at, namun karena malu, dia berbohong, lalu menjawab, ‘Di Masjid Agung’. Si teman yang bertanya kembali bertanya, ‘Di lantai mana kau shalat?’ Yang ditanya kembali menjawab, ‘Di lantai bawah’. Bertambah lagi bohongnya. ‘Saya juga di lantai bawah, kok. Tidak,bertemu?’ Dengan mantap yang ditanya menjawab, ’Saya di saf paling belakang’. Coba kau hitung, Irfan! Untuk melindungi bohongnya, berapa kali dia menambah bohong agar temannya percaya bahwa dia memang shalat di Masjid Agung? Mengerti kau, Irfan, akan cerita Ayah ini?” –Halaman 10.


***

Atau kisah tentang perjalanan maut di Padang Pasir.

Mulanya, gulungan angin bercampur pasir itu masih berjarak sekitar dua kilometer di belakang kami. Umar, sopir kami, menambah kecepatan mobil dari 100, 110, lalu 120 mill per jam. Mobil terasa melayang di atas jalan raya.

Namun, angin pasir itu lebih cepat menyusul. Badan mobil terdengar seperti disiram oleh pasir. Suara gemuruh angin terdengar di dalam mobil kami. Seperti ada ribuan suara siulan yang mengepung mobil kami. Ayah terus menyebut nama Tuhan, “Allah, Allah”.

Aku pun mengikuti ucapan Ayah, “Allah, Allah, Allah”. –Halaman 137-138.

321 pages, Paperback

First published May 1, 2013

160 people are currently reading
1893 people want to read

About the author

Irfan Hamka

4 books16 followers
Anak ke-lima dari pasangan Buya Hamka dan Hj. Sitti Raham binti Rasul St. Rajo Endah.

Pendidikan yang pernah ditempuh sarjana muda Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, pada tahun 1968.

Selama kurang lebih 14 tahun (1967-1981) bekerja sebagai redaktur majalah Islam Panji Masyarakat. Karya-karyanya berupa Cerpen dan Laporan perjalanan Haji banyak dimuat di Panji Masyarakat.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
408 (45%)
4 stars
327 (36%)
3 stars
110 (12%)
2 stars
37 (4%)
1 star
22 (2%)
Displaying 1 - 30 of 123 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
January 2, 2016
ISTRI

Pada Ramadan ini saya ingat cinta seorang lelaki berkopiah kepada seorang perempuan muslimah—mungkin perempuan terbaik dalam hidupnya.

Di masa sulit pemerintahan Soekarno, di suatu sore di bulan Ramadan, muslimah yang dicintai seorang lelaki berpeci itu menunggu kedatangan tukang susu murni. Tukang susu langganannya biasa mengantar susu tiap sore pukul empat. Sementara anaknya, yang rutin minum susu murni itu, biasa minum pukul lima sore.

Tapi pukul empat, setengah empat, pukul lima berlalu—tukang susu tak kunjung datang.

Perempuan itu mulai panik.

Waktu maghrib datang tukang susu baru tiba. Perempuan muslimah yang khawatir itu melangkah tergesa-gesa ke luar rumah. Mungkin akan marah-marah. Cepat-cepat tukang susu mengeluarkan termos kecil dari tasnya, menyerahkan susu pesanan perempuan itu, dan meminta maaf. “Ada halangan di jalan,” katanya. Tukang susu kemudian buru-buru mohon ijin membatalkan puasa.

Tapi perempuan muslimah itu tidak marah-marah—kita sudah salah sangka. Malah ditawarinya tukang susu untuk berbuka puasa bersama suami dan anak-anaknya. Tukang susu menolak, mungkin segan. Apalagi ia baru saja bikin salah. Tapi barangkali kebaikan memang harus diperjuangkan: kalau menolak ke dalam, makan di teras saja. Terjadilah kompromi. Atas buka gratis yang tak bisa ditolak hari itu, tukang susu berkata: “Terima kasih. Saya belum pernah menemui ibu yang sebaik Ibu.”

Setelah peristiwa itu tukang susu selalu datang lebih awal, sekitar pukul tiga sore, dengan susu perahan yang masih hangat—tapi, tentu saja, bukan ini yang penting.

Di sore Ramadan yang lain, bertahun-tahun setelah peristiwa tukang susu, sehabis perempuan itu menyiram bunga-bunga di halaman, seorang pedagang pisang berhenti.

“Permisi, Nyonya Besar,” katanya, “tolong dibeli supaya saya bisa buka puasa dan buat ongkos saya pulang ke kampung.”

Perempuan itu mengamati tandan-tandan. Hanya dilihatnya pisang yang layu dengan kulit yang bocel-bocel.

Mengerti kekurangan-kekurangan pisangnya, tukang pisang itu sekali lagi memohon dengan risau. “Saya jual dua sisir sepuluh ribu, Nyonya.”

Tapi transaksi belum terjadi ketika terdengar adzan maghrib. Tampak tukang pisang kebingungan. Mungkin karena ia tak ada rupiah atau sekedar air putih buat membatalkan puasa. Nyonya baik hati itu mengerti: ia menawarkan tukang pisang untuk membatalkan puasa sekalian makan bersama suami dan anak-anaknya di dalam rumah.

Tapi, sama seperti cerita tukang susu, tukang pisang merasa sungkan, “Saya minta air teh saja, jangan diajak masuk.”

Perempuan itu tidak memaksa. Ia hanya meminta pembantu membawakan minum dan kolak pisang, beserta nasi dan lauk pauk sebagai makan malam tukang pisang.

Selesai berbuka dan makan malam sang nyonya membeli pisang dua sisir. Ia tak memborongnya. “Kalau saya semua nanti malah saya yang jadi tukang pisang,” perempuan itu bergurau. Ia memberi tukang pisang sepuluh ribu, ditambah lima belas ribu—tambahan buat ongkos pulang naik angkot, bis, dan ojek.

Tentu saja kebaikan perempuan itu tidak hanya di rumah, dan tidak hanya kepada kaum yang sering membungkuk dalam-dalam tiap ketemu tuan dan nyonya besar seperti tukang pisang dan tukang susu dalam cerita di atas.

Tiap Ramadan, perempuan itu membuat daftar siapa-siapa kerabat yang akan dikunjungi. Ia tak pilih-pilih, entah itu kaya atau miskin. Selama masih di Jakarta, bahkan kerabat yang rumahnya di tengah wilayah pelacuran pun didatangi. Ia tak peduli kata orang karena tak ada yang salah dengan silaturahim (saudaranya sampai menangis karena haru). Dan ia tidak mengharuskan yang lebih muda mendatangi yang tua—semua sama, tak ada yang harus merasa paling layak untuk memulai.

Mungkin karena akhlak semacam itu, lelaki berkopiah yang mencintai perempuan muslimah baik hati itu menaruh hormat. Lelaki itu, misalnya, menuruti saran sang perempuan agar dirinya tidak menerima pangkat mayor jenderal tituler dari pemerintah (wakil pemerintah dalam hal ini, waktu itu, Jenderal Nasution). Begitu pula saat lelaki itu ditawari menjabat Duta Besar RI di Arab Saudi. Kekuasaan dan kelimpahan harta di depan mata, tapi perempuan yang selalu di sisinya bertanya: kalau sibuk, kapan waktu untuk mengaji Al-Quran yang tidak pernah ditinggalkan sejak kecil, kapan waktu untuk membaca dan menambah ilmu—pertanyaan yang bertaut pada akhirat.

Perempuan itu ingin lelaki yang mencintainya, yang dicintainya, memilih peran di sebuah masjid yang baru berdiri di dekat komplek rumahnya: Masjid Agung Al-Azhar. “Lebih terhormat di hadapan Allah,” katanya—kita bisa membayangkan tatapannya yang lembut tapi yakin.

Dan lelaki itu menurut. Perempuan itu telah memberinya keteguhan hati: jangan-jangan ia memang tak butuh pangkat dan jabatan, jangan-jangan ada yang jauh lebih berharga ketimbang sejumlah rupiah dan sebuah posisi.

Maka saya ingat, setelah perempuan itu wafat, lelaki berkopiah itu selalu salat taubat jika ingat padanya—perempuan terbaik dalam hidupnya—dan kuat sekali lanjut membaca kitab suci sampai 5-6 jam—sampai mengantuk, sampai 6-7 kali khatam per bulan. Ketika anaknya bertanya kenapa ia begitu rajin, sampai salat taubat segala, lelaki itu berkata sesuatu yang memang tak mudah: “Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah.”

Saya ingat siapa lelaki yang mengajari kita tentang cinta dan akidah itu: namanya Hamka. Dan perempuan itu: istrinya.

Akhlak istri adalah cerminan akhlak suami, kalau kata orang.
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews11 followers
September 1, 2013
Full. Lucu. Bermakna. Romantis.

Lebih romantis dari habibie ainun.

Sampe banjir air mata, mungkin karena bacanya tengah malem.

Nanti diceritain.
---
Buku ini menceritakan sosok Buya Hamka dari sudut pandang seorang anak. Kesannya, sosok beliau jadi terasa dekat dan jadi rindu sosok seperti beliau. Bahkan kata pengantarnya aja seru untuk dibaca.

Tolong izinkan saya untuk menceritakan bagian paling romantis, lebih romantis dari pada Habibie-Ainun-stetoskop-direbus-saya-makan.

Bagiannya, tentang “Ayah Sepeninggalan Ummi”. Ya, seperti Pak Habibie, istri Buya Hamka juga mendahului beliau. Irfan Hamka merasa khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya sepeninggalan Ummi. Apakah akan memburuk?

Ternyata setelah beberapa bulan, saat tidak terlalu banyak tamu yang berkunjung pasca wafat istrinya, Buya kembali beraktivitas seperti biasa. Kuliah subuh, rekaman mimbar jum’at, menulis buku seperti biasa.
Kelamaan, Irfan memperhatikan, jika ayahnya sedang sendiri, beliau menyenandungkan “Kaba” dengan suara pelan. Setelah itu, beliau mengambil wudhu, lalu shalat. Setelah itu beliau membaca Al Quran dan tidak akan berhenti sebelum ia mengantuk. Biasanya beliau akan terus membaca hingga 2-3 jam. Dalam satu hari, beliau bisa menghabiskan 5-6 jam untuk membaca Al-Quran.

Irfan yang penasaran, kemudian bertanya pada ayahnya, “Ayah, kuat sekali ayah membaca Al-Qur’an?”

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat taubat 2 rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanya Irfan.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab ayah lagi.

…….

Saya baca ini di tengah malem. Entah lagi melankolis atau ini emang sangat menyentuh, pokonya pas baca ini langsung cirambay dan ga bisa move on ke halaman lain. Too sweet :’’’’’ MasyaAllah… Sangat hati-hati. Tapi somehow, ini adalah ungkapan cinta yang paling romantis *teary eyes. Again.*

Terus juga yang berkesan, karena saya pernah nonton Hachiko, si anjing yang setia kepada pemiliknya meski pemiliknya sudah meninggal, adalah kepada si Kuning. Kucing liar yang dipungut oleh Buya ini setia banget. Ke masjid ngikut. Pas pindah rumah. Bahkan sampai ketika Buya sudah meninggal, ada salah seorang yang berziarah ke kuburan Buya melihat si Kuning yang tertidur di kuburannya. :’’’’

Sangat banyak fragmen kehidupan Buya Hamka yang patut kita contoh. Sangat berhati-hati dalam akidah, jiwa pemaafnya, dll..

Buku ini diawali oleh 3 nasihat Buya yang penulis anggap masih sangat relevan dengan keadaan sekarang. Nasihat tentang rumah tangga, tetangga, dan untuk pembohong. Mantap.

Lalu tentang peristiwa beliau dipenjara karena fitnah. Yah sebagai orang yang selama ini lebih banyak terpapar karya-karya Pramoedya Ananta Toer (pas SMA, jadi inget anita), saya ga nyangka. Tapi setelah membaca buku ini sampai akhir, saya jadi malu sendiri, bahkan Buya memaafkan semuanya. Pada akhirnya mereka berbaikan, dengan cara yang unik. Pram tidak setuju jika anaknya yang muslim harus menikah dengan orang yang berbeda keyakinan. Maka ia meminta calon menantunya untuk belajar islam ke Buya.

Terus jadi kagum sama Ummi. Aaaa keren. Bagaimana beliau menjaga izzah keluarganya selama suaminya dipenjara. Dan selama di penjara, Buya Hamka menghasilkan karya. Bukan main, Tafsir Al Azhar. Jadi inget Sayyid Qutbh kan… MasyaAllah…

Terus, yang lucu juga ada. Waktu Irfan dan adiknya yang masih balita kebawa kereta samapi ke Padang (kalau ga salah). Terus pas ditanya orang-orang siapa nama orang tuanya, mereka ga bisa jawab. Cuma tau namanya, Ayah dan Ummi. Paling banter, dia cuma inget ayahnya sering dipanggil Buya. Ini lucu hehehe.

Bisa-bisa saya ketik ulang buku ini kalau misalnya saya ceritakan satu-satu. Highly recommended buat semua orang. MasyaAllah, bagus banget pokonya. Saya aja semalem langsung beres.

Kalau kurang jelas, maafkan. Saya menulis dengan pikiran meloncat-loncat. :D

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dyah Ambarwati.
7 reviews
May 4, 2014
Berawal dari buku 'Ayah' yang di tulis Irfan Hamka ini, saya tertarik ingin mengetahui pemikiran-pemikiran Hamka.
Beliau ini seorang yang multi peran di dalam masyarakat (bahasanya apa ya?) :D beliau seorang ayah, sekaligus ulama, politisi, negarawan, sekaligus sastrawan.
Dari semua bab yang disajikan, saya tertarik pada Bab yang menceritakan cerita tentang 'Innyiak Batungkek' dan cerita tentang kucing kuning yang suatu hari muncul di pelataran rumah hamka, hingga kucing itu diasuh dan dirawat. Sampai pada akhirnya, kucing itu menghilang ketika Hamka Wafat.

Selalu ada kisah keteladanan yang bisa di petik dari beliau.
Saya suka pribadi beliau yang tidak sembarangan dengan akidah, dan bagaimana beliau menempatkan setiap peran sekaligus dalam tatanan bermasyarakat. Seperti bagaimana sikap beliau sebagai ulama ketika menjadi ketua MUI di pemerntahan.

:)
Profile Image for Argo Prasetyo.
37 reviews1 follower
April 30, 2015
Kisah biografi ulama besar Indonesia Buya HAMKA.... Pribadi yang lurus berpegang teguh pada agama. Ulama yang sebenar benarnya ulama ( mungkin saat ini belum nampak lagi ulama yang seperti beliau ).
Beruntung membaca buku ini, banyak inspirasi dan teladan yang baik dalam buku ini.
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
March 27, 2023
Dirilisnya trailer film biografi Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang biasa dikenal dengan nama Buya Hamka, yang akan tayang di bioskop dalam beberapa minggu ke depan membuat saya teringat kalau pernah punya beberapa buku tentang Buya Hamka yang belum sempat saya baca. Saya terbius oleh pesona yang ditampilkan dalam trailer singkat tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini, yang ditulis oleh salah satu anak dari pasangan Buya Hamka dan Siti Raham, Irfan Hamka.

Cerita-cerita di dalam buku ini otentik, hanya dapat dimiliki oleh penulis, yang sangat dekat dengan sosok ayahnya itu. Berbentuk kumpulan ingatan-ingatan yang berserakan di kepala yang diperkuat oleh catatan-catatan harian yang rutin penulis buat sejak remaja, cerita di dalam buku ini, yang mengagumkan, dimulai sejak masa-masa Agresi Militer Belanda tahun 1948, yaitu ketika penulis berusia 5 tahun. Saat itu, Buya Hamka sekeluarga mengungsi dari kota Padang Panjang menuju kampung kelahiran Buya Hamka di Maninjau akibat kejaran pihak Belanda. Pada masa-masa itu pula, Buya Hamka telah menjadi ulama terpandang, yang pendapatnya selalu didengarkan oleh banyak orang, baik ketika berada di tanah air maupun ketika berada jauh dari tanah air yaitu ketika melaksanakan ibadah haji.

"Buya Hamka merupakan sosok yang sangat bersih jiwanya", begitu kesan saya seselesainya membaca buku non-fiksi ini. Diceritakan tentang kemampuan beliau berdialog dengan jin yang mendiami kediaman keluarga Buya di daerah Kebayoran Baru, Jakarta, untuk tidak mengganggu Buya dan keluarga. Diceritakan juga tentang seekor kucing bernama 'Si Kuning', yang kesetiaan pada Buya mengingatkan pada kesetiaan seekor anjing bernama Hachiko dengan tuannya bernama Hidesaburō Ueno. Bersihnya jiwa Buya Hamka ini pula yang membuat para tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Mohammad Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer, untuk akhirnya berdamai setelah sempat berselisih hebat dengan Buya.

Selain cerita tentang Buya, disertakan juga cerita tentang sosok perempuan-perempuan mulia pendamping hidup Buya. Siti Raham, sosok perempuan yang begitu dermawan, cinta silaturahmi, tetap tegar kala suaminya ditahan akibat tuduhan fitnah, sosok yang tidak lelah dalam mengingatkan tentang keutamaan berkah dibandingkan dunia seisinya, dan sosok yang begitu melekat dalam benak suaminya sampai-sampai sepeninggalannya Buya merutinkan shalat taubat khawatir cintanya kepadanya melebihi cinta Buya kepada Allah SWT. Diceritakan juga tentang sosok Siti Chadijah, perempuan mulia asal Cirebon yang menikah dengan Buya 6 tahun setelah Siti Raham berpulang ke rahmatullah, sosok yang begitu menggebu-gebu semangatnya dalam memajukan pendidikan di tanah kelahirannya, dengan meminta kepada Buya untuk didirikan cabang dari sekolah Al-Azhar yang berpusat di Kebayoran Baru saat itu di tanah kelahirannya di Cirebon.
Profile Image for Laksmi Purwandita.
1 review
Read
March 3, 2022
Membaca biografi selalu melenakan. Ada peristiwa- peristiwa ajaib yang kadang mencengangkan ada pula yang menyentuh hati hingga mata ini tak bisa menahan derai.

Hal itulah yang saya rasakan ketika membaca biografi Buya Hamka tulisan Irfan Hamka terbitan @bukurepublika.

Di awal buku, saya dibuat mangu menikmati kisah bagaimana Buya Hamka, Ummi dan Irfan Hamka melaksanakan ibadah haji. Kisah perjalanan di kapal laut mengingatkan saya pada novel Rindu tereliye.

Moment perjalanan perjalanan darat dari Irak menuju Mekah adalah kisah favorit saya. Sebuah pengetahuan baru bagaimana hampar padang pasir begitu syahdu di satu sisi namun begitu menyeramkan di sisi yang lain.

Kisah Umar (sang sopir), Buya Hamka, Ummi dan Irfan yang melintasi jalan lurus dengan tepian gurun dan tiga keadaan mencekam yang terjadi menyadarkan saya betapa benar kita perlu berserah pada Allah.

Kisah lain yang sangat membekas di hati dan ingatan saya adalah kisah Ummi (istri Buya Hamka). Kisah tegarnya Ummi kala Buya Hamka di penjara, bagaimana Ummi menjamu pedagang yang datang ke rumahnya dan pendapat Ummi kala Buya Hamka ditawari menjadi kedubes Arab Saudi. Benar kiranya dibalik kesuksesan lelaki ada perempuan yang hebat di belakangnya.

Terakhir kisah yang paling berkesan adalah tulus dan bersihnya hati Buya Hamka. Di dalamnya sama sekali tak ada bersit dendam pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya.

Buku Ayah karya Irfan Hamka ini tak akan lekang oleh waktu. Isinya kisah sejati yang terhubung langsung ke hati. Kesan anak atas ayahnya yang begitu lengkap dan menyentuh. Memberikan sudut yang personal atas sosok Buya Hamka sebagai seorang ayah.
Profile Image for Sakinah Mariz.
115 reviews1 follower
March 31, 2017
RESENSI BUKU
Judul : Ayah, Kisah Buya Hamka
Penulis : Irfan Hamka
Tebal : xxviii + 324 hal
Ukuran : 13,5 mm × 20,5 cm
Jenis : Biografi
Penerbit : Republika Penerbit
ISBN : 978-602-8997-71-3

Memorabilia Ayah, Biografi Buya Hamka
Oleh
Sakinah Annisa Mariz

Siapa tak kenal Buya Hamka? Sosok ulama cemerlang dengan pemikiran, dakwah, dan buku-bukunya yang monumental. Buya Hamka adalah penyair, novelis, budayawan yang menjadi rekam jejak kebangkitan kesusasteraaan Indonesia. Putra Minangkabau bernama lengkap H Abdul Malik Karim Amrullah telah aktif di dunia politik nusantara dan turut berpartisipasi dalam kemerdekaan, sehingga layak disebut pahlawan nasional. Namun, di balik semua gelar dan kehormatan yang diberikan orang kepadanya, di mata anak-anaknya Buya Hamka jugalah seorang ayah.

Ayah, sebuah panggilan penuh isyarat yang melambangkan keterikatan fisik dan batin seseorang. Irfan Hamka, anak ke-5 Buya Hamka tentunya telah berhasil menerjemahkan keterikatan kehidupan itu menjadi sebuah memorabilia anak dan ayah yang indah. Dengan menuliskannya melalui buku ‘Ayah:Kisah Buya Hamka’ yang diterbikan Republika Penerbit ini hendaknya menjadi jariyah cinta bagi semua pembaca dan pengagum Buya Hamka.

Di tengah degradasi moral yang semakin menjadi-jadi di masyarakat saat ini, buku Ayah yang disusun Irfan Hamka seolah menjadi ruang untuk bercermin bagi anak dan orang tuanya. Bab per bab buku ini, memaktubkan kisah-kisah abadi Irfan dan Ayahnya. Seluruhnya, mulai masa kecil Irfan dalam sepengasuhan sang Ayah, remaja, dewasanya sebagai seorang aktivis Islam yang berpandangan luas, hingga potongan kisah berhajinya sekeluarga dimuat buku ini. Yang menakjubkan, ketika menelusuri bab per babnya, kita bisa menikmati sensasi getir manis memorabilia Irfan terhadap Ayah sembari berguru dan membaca diri. “Sudah sejauh apa balas budimu pada orangtua? Sudah sampai di mana kamu mendidik anak-anak dan keluargamu?” Pertanyaan ini terus membatin dalam diri saya saat membacai biografi Buya Hamka.

Kedudukan yang diemban Irfan dan semua orang di dunia ini pada dasarnya sama. Pernah menjadi seorang anak dan kini berputar pula menjadi orangtua yang telah beranak. Akan tetapi nilai dan proses yang ditangkapnya semasa hidup sudah pastilah berbeda dengan yang dilakukan anak-anak lain di luar sana yang telah menjadi ayah. Menuliskan kehidupan pribadinya dalam didikan sang Ayah yang keras dan lurus berislam, tentunya bukan cara mudah. Dibutuhkan ketulusan, tekad, dan cinta yang besar, mengingat usia Irfan saat menulis buku ini sudah berusia senja.

Sosok Buya Hamka yang digambarkan Irfan melalui plot cerita maju-mundur, menunjukkan kepada pembaca bahwa keterikatan perasaan adalah sesuatu yang tumbuh dan bergerak. Seorang anak bisa mengingat masa lalunya dengan jernih, tentulah karena didikan orangtua yang sukar dilupakan.

Dengan buku ini, tokoh Irfan kecil, remaja, dan dewasa secara tak langsung merangkul pembaca untuk lebih mengenal Buya Hamka tanpa segala embe-embel yang dikalungkan orang kepadanya. Irfan berusaha menerangkan tokoh Buya dengan sederhana melalui cerminan dirinya. Bahwa Buya yang tenar dan banyak berjasa pada nusa, bangsa, negara dan agama inilah, pernah menjadi laki-laki yang dicaci orang di kampungnya karena tak tamat Diploma. Ayahnya yang sudah berjalan kaki dari pulau ke pulau ini pernah berkali-kali ditunggu maut. Irfan Hamka menuliskan, Buya Hamka bukanlah manusia sempurna, tapi mendapati yang begini amatlah langka.

Akhir kalam, buku ini bukan sekedar memorabilia. Irfan telah menuliskan segenap perasaan dan kenangannya menjadi guru yang bijak. Yang berhasil menyeret pembacanya ke dalam keinsyafan yang nyata, bahwa sejauh apapun waktu melaju, hal yang tak pernah menua adalah kenangan.

Medan, Maret 2017
Profile Image for Rakyan Iman.
6 reviews
March 5, 2022
Baca buku ini saat diterbitkan Republika.
Buku otobiografi yg membuat kita mengenal hamka dari sisi lain. Tidak hanya sekedar ulama, penulis, budayawan, politisi, tapi juga sebagai ayah yg dicintai putra putrinya, istri, murid dan sahabatnya. Buku yg membuatmu makin penasaran mencari biografi hamka yg lain.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
May 25, 2014
Siapa yang meragukan HAMKA? Sastrawan besar, ulama, politikus, yang kondang seantero negeri. Buku ini adalah repetoar atas kenangan anak almarhum, Irfan Hamka. Anaknya menceritakan semua kenangan yang disimpan sebagai pelajaran baginya. Dari segi penulisan memang berbeda dengan biografi-biografi kondang lainnya. Tetapi menarik dengan bahasa yang biasa saja dan mengalir.

Pembaca akan langsung ditampar dengan nasihat Hamka. Misalnya ketika ada suami istri hendak bercerai lantaran suami mau menikah lagi karena istri sudah tidak mau melayani suami. Hamka menasihati dengan bijak: Jenis suami. Pertama yang beriman dan takut kepada Allah. Maka ketika nafsu laki2 masih membara dia tidak berani mendekati zina. Tetapi dia juga takut rumah tangganya retak, maka ia memilih nikah siri atau dibawah tangan. Kedua adalah suami tidak beriman, ya ketika nafsu sudah menggelegak apapun bisa dilakukan. Sedang jenis istri, pertamaberiman dan mengizinkan suaminya masuk surga. Kedua membiarkan suaminya masuk neraka.

Hamka juga diceritakan tidak hanya pandai dalam spiritual islam, tetapi juga mampu berkomuniaski dengan makhluk kasat mata.

Yang menarik adalah ketika istri Hamka wafat dahulu, Irfan mendapati ayahnya selalu bersenandung kecil2 kamudian menghabiskan waktu dengan membaca alqura. Saat ditanya Irfan, maka beginilah jawaban HAMKA: Ketika aku rindu ibumu, maka aku bersenandung kecil2. Tetapi ketika rindu itu datang sedemikian kuat dan hebat, maka aku mengambil wudlu dan salat taubat. lalu mengusir rindu itu dengan terus membaca alquran. Aku takut Allah marah karena aku tidak bisa mencintai-Nya secara total.

Di buku ini Irfan juga menyinggung bagaimana bijaknya Hamka saat berhadapan dengan penahan karena tuduhan pembunuhan Bung kArno, lalu konflinya dengan Pramoedya Ananta Toer.

Buku biografi ringan yan menarik untuk dibaca.
Profile Image for Asri.
37 reviews1 follower
September 14, 2013
Alhamdulillah akhirnya khatam juga kisah buya hamka ku baca
walaupun harus diselingi dg bacaan lain..
aku cukup memberi 3 bintang tuk kisah ini...
tdnya aku cukup menaruh hrpan kalau kisah ini akan luar biasa..tp setelah baca agak kcewa..coz gaya bercerita sang penulis irfan hamka (anak buya) terlalu seperti nulis diary..jrg ditemukan quote2 indah..
secara umum penulis bercerita ttg kisah ayahnya semasa hidup berdakwah sampai ajal menjemput..
aku suka pas bagian buya naik haji dan melewati cobaan di irak dg selamat..
pelajaran yg bsa diambil yaitu aku hrs bersifat pemaaf sprti buya dan teguh pendirian membela akidah..

Sekian...
Syukron..
Profile Image for N,sy..
51 reviews4 followers
February 7, 2017
peneman di pekan2 terakhir kehamilan pertamaku.

membaca buku ini mencerahkanku bahwa menulis biografi atau menulis untuk mengabadikan kenangan kita bersama seseorang yang berarti dalam hidup kita, tidaklah sulit. menginspirasi untuk membuat karya serupa.

sebuah kumpulan kenangan, persembahan berharga bagi yang tercinta...

sesosok insan idealis yang tak hanya mewarnai negerinya tetapi juga lekat di hati keluarga.
semoga mereka dipertemukan lagi kelak dalam kebaikan yang abadi :)
Profile Image for M Setiyawan.
6 reviews14 followers
November 2, 2016
setelah membaca buku ini , mau tidak mau saya jadi membandingkan kualitas ulama jaman dahulu dengan ulama jaman sekarang(atau orang yang mengklaim dirinya sebagai ulama). Buya begitu teduh,ceramahnya tak ada kemarahan yang diumbar. dia penuntun bukan pendakwa. mendakwa tebal tipisnya iman orang lain.
Profile Image for Risyca Pujiastuti.
45 reviews
March 25, 2017
Mini review juga dapat dilihat di sini --> http://antararisycadantweety.blogspot...

Buya Hamka adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini, beliau adalah seorang ulama, sastrawan, aktivis kemerdekaan, dan juga seorang Ayah. Buya Hamka memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, beliau lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908 dan meninggal dunia pada tanggal 24 Juli 1981. Beliau secara formal hanya mengeyam pendidikan Sekolah Desa, itupun tidak tamat, meskipun begitu, beliau banyak menghabiskan waktunya dengan belajar sendiri dan banyak membaca buku, serta belajar langsung kepada para tokoh dan ulama, baik yang berada di Sumatera Barat, Jawa, bahkan sampai ke Mekkah, Arab Saudi.

Ayah…Kisah Buya Hamka merupakan buku yang ditulis oleh Irfan Hamka, anak dari Buya Hamka. Buku ini menyajikan kisah Buya Hamka sebagai seorang ayah, menurut saya bukan hanya ayah untuk keluarganya, tetapi juga sebagai ayah bagi bangsa Indonesia. Buku ini menceritakan banyak hal, selain menceritakan sosok Buya Hamka yang memiliki kekuatan fisik dan pendirian yang teguh, ada banyak kisah lainnya, seperti kisah Buya yang berdamai dengan Jin, kucing kesayangannya, dan kisah perjalanan Buya menjelajah beberapa negara di Timur Tengah. Buku ini juga menyajikan kisah beberapa tokoh Indonesia seperti Ir.Soekarno, Moh.Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer yang pernah memusuhi Buya, namun diakhir hayatnya justru sangat menginginkan kebaikan dari Buya. Buya memang memiliki sikap pemaaf yang sungguh luar biasa, beliau tidak memiliki dendam terhadap teman-teman seperjuangannya itu, dan mengabulkan semua keinginan mereka.

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku. Demikian kurang lebih pesan Soekarno kepada keluarganya.” (Hal. 256)

Buya juga memiliki pendirian yang kuat, tegas dan tidak mudah goyah. Suatu ketika, beliau lebih memilih mundur dari Ketua Umum MUI Pusat daripada harus bernegoisasi mengenai aqidah.
“Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah semata. Ulama yang telah menjual diri kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak mana pun.” (hal. 255)

“Ulama ibarat kue Bika. Dari bawah dipanggang api, dari atas pun dibakar api. Begitu juga ulama, dari bawah oleh umat islam dan dari atas oleh Pemerintah.” (Hal. 255)

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya dalam membersamai kehidupan sang Ayah, membaca buku ini seolah seperti membaca lembaran demi lembaran surat kerinduan sang anak kepada sang Ayah, Irfan Hamka berhasil mengajak pembaca untuk lebih mengenal sosok Buya Hamka dari sisi kehidupannya yang lebih humanis yaitu sebagai seorang Ayah. Gaya penulisannya memang seperti menulis buku harian, bebas tanpa tekanan alur cerita, sehingga terkadang membuat saya bosan, ada baiknya jumlah percakapan di dalam buku ini ditambah sehingga pembaca tidak mudah jenuh, meskipun demikian, buku ini tetap layak untuk dibaca, karena di sinilah kamu akan menemukan transformasi perjalanan hidup seorang Buya Hamka bersama keluarganya hingga beliau meninggal dunia.
“... Pegangan hidup Ayah yang lain dalam menghadapi perjuangan hidup ini adalah niat karena Allah, nasi sabungkuih, dan tinju gadang ciek . Artinya, niat karena Allah harus diyakini, tidak terombang-ambing dengan niat yang lain. Kegiatan apapun yang kita lakukan, jangan lupa kesiapan logistik. Sekecil apapun, walau hanya sebungkus nasi. Dan yang terakhir, jangan pernah merasa takut, gentar, mudah menyerah. Itu diibaratkan dengan sebuah tinju yang besar”. (Hal. 242)

Selamat Membaca!
Sesungguhnya nasihat-nasihat Buya Hamka tetap hidup dan tetap relevan terhadap perkembangan bangsa ini, serta layak untuk selalu dijadikan pelajaran dalam hidup kita!
Profile Image for ' Syamil.
236 reviews6 followers
November 13, 2023
Hamka duduk di sumatera barat. Pernah menampar kuat anak tok guru silat akibat suka mengacau orang. Pandai bersilat dan pernah menumpaskan perompak yang mengacu pisau di leher dengan tenang.

Irfan ketika kecil seorang anak yang kelakar. Pernah bergaduh ketika kecil dan memenangi pergaduhan dengan menggigit puting lawan sampai menangis kawan tu.

Irfan dapat pengajaran dari ayah saudaranya.
"jangan sekali-kali panik hadapi situasi yang bahaya" "orang yang panik akan hilang akal" "rasa panik dan takut mesti dihilangkan baru berani" "jangan sekali hilang pandangan terhadap musuh" "lawab harus ada depan mata kita" "jika mengundur jangan membelakangi musuh"

Parti komunis indonesia menfitnah hamka menciplak novel tenggelamnya kapal van de wick daripada penulis perancis kerana tidak suka kepada hamka. Mengenai hal ini Pramodya Ananda Toer juga mengkritik Hamka tetapi Hamka tetap tidak membalas sehinggalah Ananda menghantar anak dan bakal menantunya yang belum Islam supaya belajar tentang Islam dengan Hamka. Kerana kata Ananda aku lebih rela menantuku belajar Islam dengan Hamka dari orang lain.

Hamka menjadi imam kepada solat jenazah sukarno walaupun sukarno memenjara hamka hampir 2 tahun. Bagi hamka masa dalam penjara merupakan nikmat buatnya kerana dapat menyempurnakan tafsir azhar 30 juz.

Hamka dikebumikan dan tidak ditalkinkan kerana daripada aliran muhammadiyyah. Hamka 2 kali dilantik mengetuai majlis ulama indonesia (mui) setelah disepakati oleh semua golongan nahdatul ulama,muhammadiyyah dan lain-lain.

Kerana ketegasan fatwa mengharamkan umat Islam menyambut hari natal dan diminta oleh kerajaan supaya mengubah fatwa lalu Hamka rela melepaskan jawatan.

Kerana kerencaman agama di kalangan rakyat Indonesia Hamka membawa dakwah bilhal. Serta menghidupkan masjid dengan aktiviti dan kuliah. Tidak lupa juga melalui penulisan yang dikarang oleh beliau banyak menjadi rebutan masyarakat sehinggakan keluarganya mampu hidup hasil royalti bukunya ketika mana Hamka dipenjara selama 2 tahun.

Hamka belajar bahasa arab dengan menekuni kitab kitab peninggalan ayahnya dan menadah dengan tok guru. Ilmu banyak dia dapat daripada pemmbacaan bermacam buku. Kehebatannya tentulah beliau mampu mengkhatamkan bacaan Al-Quran sebanyak 5 kali sebulan. Kerana kerajinan serta sudah menjadi tabiat beliau akan membaca Al-Quran diwaktu lapang dan sebelum tidur.

Hal ini bermula dari gaung Hamka digedung konstituante Bandung, yang menyerukan agar Indonesia berdasarkan dengan Islam.
Masyumi sebagai pimpinannya, mengajukan dasar negara berdasarkan Islam. “..Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka … “ lantang Hamka dengan tegas

Walau akhirnya, Hamka menerima Pancasila dengan tafsiran bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah Allah, dan karena-Nya, berkat rahmat-Nya, Indonesia dapat merdeka hingga saat ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Umara' Nur Rahmi.
62 reviews5 followers
February 29, 2020
"Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah semata. Ulama yang telah menjual diri kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak mana pun." —Buya Hamka
➖➖➖➖➖

Sebelumnya, saya pernah membaca karya Buya Hamka berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" dan "Di Bawah Lindungan Ka'bah." Dua kisah roman yang sangat legendaris. Dibandingkan filmnya, tentu versi novelnya lebih baik. Karena itu, saya menyukai karya Buya Hamka dan ingin lebih mengenal beliau dengan membaca buku ini.

Irfan Hamka, selaku penulis buku juga anak kelima dari Buya Hamka, menjabarkan kisah beliau sebagai seorang Ayah, Ulama, Pejabat Pemerintah, Sastrawan dan berbagai peran lainnya dengan sangat baik.

Di awal, sebenarnya saya cukup kewalahan dengan nama-nama saudara dan tokoh-tokoh yang juga berperan dalam perjalanan kisah Buya Hamka, karena jumlahnya yang cukup banyak. Namun, setelah terus mengikuti alur cerita, saya mulai terbiasa.

Ada banyak kisah yang menarik perhatian saya. Diantaranya, kisah Buya Hamka saat berdamai dengan jin, perjalanan saat haji yang juga termasuk didalamnya kisah perjalanan "maut", berhasil membuat saya ikut tegang saat membacanya. Kisah bagaimana ujian demi ujian dihadapi Buya Hamka dengan sabar, tenang, juga bijak. Terutama saat bersitegang dengan Soekarno, Moh. Yamin dan Pramoedya Ananta Toer.

Keteguhan Buya Hamka dalam memegang prinsip Islam sebagai acuan hidupnya, benar-benar terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diperkuat lagi saat beliau dengan tegas mengundurkan diri sebagai Ketua Umum MUI Pusat, dikarenakan Pemerintah bertentangan dengan sebuah fatwa yang dikeluarkan MUI yang menyatakan "haram hukumnya bagi umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama." Bagi beliau, dalam hal akidah, tidak dapat diganggu gugat dengan apapun.

Ada banyak hal yang akhirnya saya baru tahu tentang Buya Hamka dari membaca buku ini. Karenanya, bertambah kagumlah saya dengan beliau.

Buya Hamka, tidak saja sebagai Ayah bagi keluarganya, namun juga Ayah bagi negeri ini. Terima kasih Buya
32 reviews2 followers
April 8, 2020
💐 Pernahkah kamu merasa mengenal seseorang setelah membaca tulisan tentangnya? Aku baru merasakannya hari ini, Karena buku ini.

💐 buku ini menceritakan tentang kisah hidup seorang ulama Nusantara bernama Buya Hamka melalui sudut pandang putranya. Penulis berharap tulisan ini bisa melengkapi gambaran tentang sosok teladan tersebut dari sisi yang berbeda.

💐 Membaca kisah hidup seseorang secara lengkap seringkali mengundang bosan, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi buku ini. Kisah hidup tokoh utama buku ini sama sekali "tidak biasa". Ada banyak pergolakan yang membuatku seakan melupakan sejenak hidupku dan hanyut menyaksikan kehidupannya. Diksi yang dipilih penulis juga membuatku serasa membaca novel biasa, tanpa beban.

💐 Secara konten, buku ini bisa disebut komprehensif. Hampir semua perjuangan Buya sebagai seorang ulama besar, muballigh, guru, politisi, penulis, bahkan seniman disebutkan disana. Tercatat ada sekitar 118 karya beliau dalam bentuk artikel dan buku dengan berbagai genre.

💐 Salah satu sebab kekagumanku atas sosok dalam buku ini adalah pribadinya yang berjiwa besar dan pemaaf. Hal ini bisa dilihat dari cara beliau menyikapi 3 tokoh besar yang dikabarkan berselisih dengannya. Menjelang wafat, Dua di antara tokoh tersebut meminta dishalatkan oleh beliau, yang lainnya malah mempercayakan menantunya untuk diajari ilmu agama. Kalian akan kaget mengetahui 3 nama tokoh tersebut.

💐buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian yang ingin hidup produktif. Kehidupan Buya banyak menyajikan tentang alasan dan perwujudan menjadi anfa'uhum linnas yang digelari sebagai sebaik-baiknya manusia tersebut.

💐 Qotd : "kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah semata. Ulama yang telah menjual diri kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun." (Hal. 255)

Judul : Ayah
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit : Republika, 2013
Tebal : 323
Profile Image for Putri Sayuti.
13 reviews5 followers
September 22, 2022
Dari pembacaan delapan judul buku (baik fiksi maupun nonfiksi) bertema Hamka, saya menempatkan buku ini sebagai yang mencerminkan keinginan pembaca (seperti saya minimal). Latar itu saya jadikan pondasi penilaian, tema Hamka boleh dibilang amat subur sebagai buku yang diterbitan penerbit, seperti tak ada jerinya pada daya beli masyarakat (sebelum dan sesudah pandemi) yang belum terlalu siknifikan pada buku, dan derasnya kemauan (juga kemampuan) dari menulis. Ini pertanda besarnya nama Hamka. Hamka adalah tokoh besar.

Meski sumir pandangan saya, tak apa. Buku ini terasa otentik, bukan hanya karena embel-embel nama besar Hamka di belakang nama penulisnya. Simak saja bagaimana si penulis dengan terang menceritakan bagaimana perasaannya pada sang tokoh (yang kebetulan adalah ayahnya). Ada kedekatan-kedekatan yang tidak terasa roaming. Begitu intim. Bahkan saya bisa merasakan ada sisa air matanya yang sempat dihapus.

Berbeda dengan yang terbaru, Buya Hamka, karya Fuadi, yang begitu dibuat sedemikian filmis, dengan deskripsi yang melambai-lambai tak kunjung arah, dibuat sedemikian Minang sehingga saya sebagai pembaca merasa tidak keletihan dengan segala petatah-petitih. Seakan-akan buku ini dijadikan elemen yang belum tertulis dalam logline dan storyline oeh Fuadi. Mestinya sastra bukan lagi terpaku dalam konteks diksi, dan metafor tak karuan arah.

Tapi, buku karya Irfan ini cukup elegan. Meski kadang patahan-patahan paragrafnya masih bisa dikembangkan kelak dalam edisi revisi. Selain Kuantar Ke Gerbang, Ramadhan KH, biografi ini terbilang sastrawi, khusus dalam roso-nya. Nilainya ada di rasa. Ya, roso.
1 review
Read
September 20, 2019
setiap laki2 di miangkabau kalau sudah berumur 15 tahun wajib merantau.begitu juga dengan hamka.tatkalah itu hamka pergi merantau ke bangkulu dari padang panjang,tiba di bengklu hamka di serang penyakit cacar,dan para rombongan menyuruh hamka pulang ke padang panjang,dan di padang panjang di rawat oleh ayanya abdul karim.sakit ku sudah sehat, namun perasaan hamka gak enak di lema ,kerena ayah hamka bercerai dengan ibunya.ayahnya hamka menikah lagi dan ibunya hamka juga begitu,sehingga hamka berkata."pergi kerumah ibu ada ayah tiri,pergi kerumah ayah ada ibu tiri.itu membuat hamka gak beta berlama- di padang panjang,akhirnya mintak izin lagi pada ayah nyu merantau,kali ini mekka tujuannya.ayah hamka berkata makka itu bukan dekat nak,,bahasa di sana pun udah beda dengan kita.tapi hamka nekat dan belajar di mekka dengan syeh khatib al miangkabawi,,imam masjid haram peratama dari indonesia,keturunan minngkabau.sempat waktu di mekka hamka di cagah pulang ke indonesia kerena kipintaran.namu hamka tetapalah orang minang,sebagaimana pantun mianag mangtakan"setinggi2 terbangnya bagau pulangnya kekubangan jua,,sejauh jauh merantau pulang ke kampung jua.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Anisa Nurliani.
22 reviews
May 23, 2024
Mengenal Buya Hamka lebih dekat.-

Secara formal Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Buya Hamka pernah mengenyam pendidikan sekolah desa namun tidak tamat, pernah belajar Islam di Padang panjang dan Bukittinggi namun tidak selesai akhirnya beliau banyak menghabiskan waktunya dengan belajar mandiri, otodidak membaca buku. Kemudian belajar langsung kepada para tokoh dan ulama baik yang berada di Sumatera Barat , Jawa bahkan sampai ke Mekah Arab Saudi. Keilmuan beliau diakui hingga mendapatkan berbagai gelar kehormatan seperti Doctor honoris causa dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Universitas Prof. Moestopo serta Universitas kebangsaan Malaysia bahkan setelah meninggal beliau mendapat bintang Mahaputra madya dari pemerintah RI tahun 1986 dan sebagai pahlawan nasional tahun 2011.

Sebagai ulama dan sastrawan ,ada banyak karya tulisan yang sudah dipublikasikan dalam berbagai bidang seperti agama Islam, filsafat sosial, tasawuf, roman, sejarah, autobiografi dan yang terkenal tafsir Alquran Al Azhar.

Buku ini mengisahkan tentang Buya Hamka di mata anak kandungnya Irfan Hamka dimulai dari Agresi ke 2 Belanda tahun 1948 meliputi kehidupan masa kecil, dewasa hingga Buya Hamka memiliki 12 orang anak. Bagaimana Buya memulai jalan dakwah sebagai politisi sastrawan dan ulama hingga meninggal dunia.
Kisahnya diceritakan dan dikemas dalam tulisan yg ringan namun sarat akan pesan moral dan keteladanan.

Suatu kisah yang begitu takjub yaitu ketika beliau, istrinya dan Irfan Hamka melakukan perjalanan dari Baghdad ke Mekah, sebuah perjalanan maut yang sangat mengerikan, bagaimana dikejar-kejar topan pasir, supir tidur saat kecepatan mobil 120 mil per jam hingga menghadapi air bah di Gunung granit. Semua itu dihadapi beliau dengan penuh ketenangan.

Judul : Ayah
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit: Republika, 2013
Tebal : 324 halaman
Peresensi: Anisa nurliani
#resensimei2024
#judulbukusatukata
Profile Image for Rizky Ayu Nabila.
242 reviews30 followers
May 17, 2019
Buya Hamka. Sosok ulama, pemimpin, suami juga ayah bagi anak anaknya.

Bagian yang paling aku suka;
1. Ketika Buya merindukan sang istri yang telah mendahuluinya menemui Allah. Disini terlihat tauhid dari sang Buya benar benar kuat:')
2. Pengalaman Irfan, Buya, dan Ummi ketika dari Baghdad ke Mekah menggunakan mobil dan harus melewati padang pasir. SUNGGUH INI PENGALAMAN yang sangat mendebarkan!
3. Momen ketika Buya berdamai dengan Soekarno yang telah memenjarakannya, Moh. Yamin yang telah membencinya juga Pramoedya Ananta Toer yang telah memfitnahnya. Betapa Buya tidak memiliki dendam meski ia telah disakiti:')
4. Kisah kucing kuning yang diselamatkan oleh Buya. Sejak itu, sang kucing selalu mengikuti Buya kemanapun Buya pergi. Mirip mirip kisah Hachiko.
Profile Image for Ari Abdurakhman.
7 reviews
January 13, 2020
Alasan Bapak Irfan Hamka menulis buku biografi ini adalah kesedihan beliau bahwa banyak masyarakat zaman sekarang yang tidak mengetahui siapa Buya Hamka. Menulis biografi seseorang yang sudah lama meninggal itu cukup sulit, saya rasa Bapak Irfan berhasil menulis buku biografi ini. Buku ini membahas sosok Buya Hamka dari berbagai sudut pandang, Buya Hamka sebagai ayah, ulama, sastrawan, dan politikus. Buku ini menceritakan pengalaman bersama yang tak terlupakan saat Bapak Irfan Hamka masih bersama Buya Hamka. Buku ini juga menceritakan bagaimana perjalanan hidup Buya Hamka sampai akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sangat disayangkan Bapak Irfan Hamka sudah berpulang sebelum menyelesaikan buku Ayah yang bagian kedua. Doa terbaik untuk Bapak Irfan Hamka dan Buya Hamka.
Profile Image for dunish razita.
2 reviews
May 21, 2024
Aku tertarik beli buku ini karena menonton film Buya hamka. Aku ingin melihat sudut pandang dari anaknya sendiri mengenai ayahnya, dan menurutku buku ini sangat bagus karena menjelaskan perjalanan hidup buya hamka yang berjuang untuk Indonesia dan ulama muslim saat itu, juga mendengar cerita cerita menarik langsung dari sudut pandang anaknya sendiri, yang begitu dekat dengan ayah nya Buya Hamka. Buku ini juga membuat ku terharu karena mendengar perjuangan beliau dan kesusahan di hidupnya. Tapi kata - kata nya sedikit sulit untuk di mengerti bagi ku, jadi hanya aku kasih bintang 4, selain itu ini adalah buku yang bagus yang menceritakan tentang buya hamka.
Profile Image for Ayu Novita.
79 reviews1 follower
March 20, 2019
Ingin mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka secara mendalam? Buku ini bisa menjadi referensi yang tepat. Ditulis layaknya cerita fiksi yang cukup detail namun sebenarnya memuat kisah nyata dari sudut pandang putra beliau, Irfan Hamka.

Bagian yang paling berkesan adalah bagaimana Irfan Hamka menceritakan hubungan Buya Hamka dengan orang-orang besar yang tidak menyukai, yaitu Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, dan Moh. Yamin. Buya tidak pernah mau membenci, malah justru memaafkan dan membalas keburukan mereka dengan kebaikan.
Profile Image for Agra M Khaliwa.
9 reviews1 follower
October 20, 2018
Sebuah kisah pendek sang ulama besar Indonesia, Buya Hamka. Saya pribadi adalah pengagum Beliau sedari muda. Buku ini menceritakan sudut pandang Buya sebagai seorang ayah. Kita mengetahui Buya adalah orang yang konsisten dan idealis dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam pada masanya. Disini kita diperlihatkan bahwa nilai tersebut tumbuh di lingkaran terkecil.
Keluarga.
Sebuah penyegar bagi penggemar lampau Buya Hamka, baik dibaca disaat senggang bersama teh dan cemilan ringan.
Profile Image for Nurudinhanif.
4 reviews
July 21, 2025
Berkisah tentang sosok Haji Abdul Malik Karim Abdullah (HAMKA) yang lebih dikenal dengan Buya Hamka karena berasal dari Maninjau, Sumatra Barat. Ditulis oleh putra kelimanya, Irfan Hamka, buku ini berkisah tentang kenangan Irfan Hamka akan kejadian yang dialami bersama sang ayah, kejadian di keluarga, hubungan ayahnya dengan Soekarno, Moh Yamin dan Pramoedya Anantya Toer sampai Buya menikah lagi dan akhirnya wafat di usia 73 tahun.
Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
May 27, 2017
Buya Hamka...

Membaca buku ini, makin mengenal sosok beliau. Kisah yang dibawakan oleh anaknya menambah sisi lain seorang ulama,pemimpin, pahlawan, sastrawan, Dari kisah ini pembaca akan mengenalnya sebagai seorang Ayah, sebagai seorang suami. Dan banyak kisahnya yang dapat dijadikan teladan bagi kita semua.



Profile Image for Nesa Zafira.
13 reviews1 follower
January 3, 2018
For anyone out there that needs motivations, you must read this book. I tell you because Hamka's life was harder than yours, perhaps. You better read his life story through this book, written by his son.
Profile Image for Laeli Choerun Nikmah.
25 reviews2 followers
October 28, 2020
Cerita yang sangat membuat terenyuh. Bagaimana seorang ayah digambarkan, diceritakan, dan dibanggakan oleh anaknya dalam bentuk buku yang menyuguhkan alur sangat pas. Sosok ayah yang berjiwa besar dan bijaksana. Bagaimana sosok ayah yang mampu menjadi tauladan oleh anak-anaknya.
Displaying 1 - 30 of 123 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.