Dari sejak SD, saya merasa tergelitik dengan pertanyaan, "Mana yang lebih hebat, Sherlock Holmes atau Hercule Poirot? Doyle atau Christie?".
Ok, kalo yang dibandingkan adalah segi kepopuleran dan pengaruh, maka Holmes sama sekali tak tertandingi. Menurut Guinness Book of Record, karakter Holmes adalah karakter yang paling banyak dimainkan dalam film dibandingkan tokoh apapun. Tercatat lebih dari 70 aktor berperan sebagai dia di lebih dari 200 film. Siapa pula yang tak mengenal cara mengambil kesimpulan deduksi ala Holmes yang telah menjadi standar penulisan cerita detektif hingga saat ini? Bahkan metode terkenal ini sampai memunculkan terminologi baru, Holmesian Deduction .
Tapi bukan berarti Poirot kalah. Buku Poirot toh lebih banyak (33 novel dan 51 cerpen). Bandingkan dengan Holmes yang 'hanya' ditampilkan dalam 4 novel dan 56 cerpen. Terus kalo dari segi kesuksesan pengarang, Agatha memang tidak ada duanya. Dia merupakan tokoh pengarang yang karyanya paling banyak diterjemahkan di dunia, bahkan jumlah bukunya diklaim lebih dari 2milyar! Novelnya yang berjudul And Then Were None termasuk 10 novel terlaris sepanjang masa dan terjual lebih dari 100 juta eksempelar! Bandingkan dengan serial Harry Potter yang melegenda itu. Setidaknya, 'hanya' baru ada satu serial HP yang terjual lebih dari 100 juta kopi, yaitu HP & The Sorcerer's Stone.
Tapi, lagipula tidak adil kalo yang dibandingkan hanyalah kepopuleran atau banyaknya kasus yang diselesaikan. Yang namanya detektif, kehebatan diukur dengan seberapa hebat, cepat, tepat, dan akurat (seperti tagline program berita :)). Ajaibnya, kedua detektif ini sama melegendanya dalam urusan 4T tadi tapi penggunaan metodenya sangatlah berbeda.
Secara garis besar, Holmes dalam menyelesaikan kasusnya dia berpegang pada bukti yang ditinggalkan. Dengan asumsi bahwa penjahat paling hebat pun pasti melakukan kelalaian dengan meninggalkan bukti yang tanpa sadar dia tinggalkan (misal jejak kaki, puntung rokok yg dibuang, dll) sampai Holmes, istilahnya apa ya, mati-matian berburu jejak. Bahkan jejak paling sepele sekali pun. Diceritakan dia sampai menyelam, masuk rawa, menyamar sebagai gembel, dll demi mendapat barang bukti.
Poirot sebaliknya, adalah sosok yang necis, bisa dikatakan dia adalah antitesis dari Holmes, tak sudi melakukan penyelidikan yang merepotkan. Bahkan mencela habis-habisan orang (polisi) yang susah payah mencari barang bukti. Lebih senang mengamati daripada mengotori tangan memegang barang bukti, bahkan tak mau berkeringat karena keringat akan merusak keindahan simetris kumisnya (Dan dalam novel Curtain dia sampai mengorbankan... demi kumisnya!). Bahkan metoda penyelidikannya kadang membuat saya ngeri. Dia menyelami jalan pikiran penjahat hingga relung terdalam dimana ketamakan, keserakahan, dan kekejaman dari manusia bisa muncul dalam bentuk murni.
Dengan 'memahami' jalan pikiran si penjahat, maka tingkah laku si penjahat pun bisa tergambar sejelas seolah-olah dia melihat langsung kejadiannya.
Tadinya pas saya mau membaca buku ini, ekspektasi Poirot itulah yang ingin saya lihat. Tapi... well, ada beberapa kekecewaan yang lumayan bikin gondok (menurut saya) yang ditemukan di buku ini. Beberapa diantaranya,
1. Saya tidak tau jelas dan rinci bagaimana urutan jelas pembuatan novel ini dibandingkan dengan novel Agatha yang lain. Yang jelas karena saya membaca novel ini dalam urutan terbalik (judul novel ini adalah Poirot's EARLY Cases) dimana buku ini saya baca belakangan, saya melihat bahwa cerita-cerita dalam novel ini mirip dengan cerita Poirot dalam novel2 yang lain. Bahkan bisa dikatakan versi ringkas dari novel Poirot yang lain. Ini bikin gondok. karena dengan sendirinya teka-teki sudah ketebak sejak awal cerita.
Sebagai contoh, salah satu cerita di novel ini adalah The Plymouth Express. Secara mencolok cerita ini mirip dengan cerita Poirot yang lain yaitu novel The Mystery of The Blue Train. Tadinya saya mengira itu cuma kebetulan. Tapi... terlalu kentara! Mirip banget ceritanya. Ceritanya tentang pembunuhan seorang wanita kaya anak pengusaha sukses dari Amerika. Mayat wanita tersebut ditemukan di kereta oleh penumpang asing. Kematian korban disertai juga dengan hilangnya permata langka dan mahal. Tokoh yang dicurigai adalah suami korban yang diduga menyeleweng; 'pria idaman lain' yang lagi 'pedekate' dengan korban tapi tokoh ini terkenal sebagai buaya darat tapi bangsawan 'miskin' yang mengincar uangnya saja; pelayan wanita korban yang ikut mengiringi korban hingga korban mengatakan dia ingin menyendiri, dll. Plot cerita ini dapat ditemui pada kedua cerita yang disebutkan di atas! Bahkan yang bikin tambah keki adalah pelaku pembunuhan dan motifnya sama percis!
Cerita lainnya di novel ini yang berjudul Double Sin dengan jelas terlihat bahwa setting ceritanya mengingatkan kita pada novel Agatha yang lain yang berjudul Nemesis (meski pada 'Nemesis' tokoh utamanya adalah Miss Marple). Terus ada cerita yang berjudul Market Basing Mystery yang dengan jelas terlihat sebagai rangkuman petualangan Poirot yang lain, Murder in the Mews. Dan cerita lain-lainnya yang jelas mirip dengan novel2 Agatha lainnya. Pembaca setia Poirot dengan mudah dapat mencocokan cerita2 di buku ini dengan cerita Agatha lainnya. Alhasil pas baca novel ini hilang gregetnya. T,T
2. Seperti ditulis di awal, pengaruh Holmes pada cerita2 detektif sesudahnya sangat kentara bahkan terlihat jelas dalam cerita ini. Ok, saya tidak menuduh Agatha meniru, cuma beberapa cerita dalam buku ini, bisa dikatakan Holmes banget!. Plot cerita novel ini mirip banget dengan cerita Sherlock Holmes (Holmes kan muncul lebih dulu daripada Poirot). Misalnya,
- kebanyakan plot cerita ini dimulai dengan Poirot yang lagi bete (kerjanya cuma nyisir kumis) duduk di flatnya ditemani sahabatnya Arthur Hastings, menunggu kedatangan klien yang minta bantuan penyelidikan. Jelas plot ini mirip dengan adegan pembukaan kasus Holmes dimana Holmes (yang sedang ongkang2an kaki atau melakukan percobaan kimia) menunggu kedatangan klien ditemani sahabatnya, Dr. Watson di 221B Baker Street yang legendaris itu.
- Tokoh2 dalam novel ini mirip banget dengan tokoh-tokoh Sherlock Holmes. Sang Detektif (Holmes-Poirot [yang disebut di awal merupakan karakter dalam novel serial Holmes:]) ditemani oleh 'pengiringnya' yang setia tapi lugu/tidak dapat menarik kesimpulan akurat (Dr Watson-Kapten Hastings), ada polisi dari Scotland Yard yang sinis dan menganggap kedua detektif gila tapi tetap senantiasa meminta bantuan (Lastrade-Insp. Japp). Dibantu oleh induk semang/sekretaris yang membantu penerimaan tamu (Mrs Hudson-Ms. Lemon)
Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh, kesamaan kedua detektif nyaris sama percis. Ingat novel The Big Four-nya Poirot kan? diceritakan Poirot mengahadapi musuh terbesar, terjenius dan berskala internasional. untuk mengahadapinya, ia minta bantuan kakaknya, Achile Poirot. Bandingkan dengan cerita The Empty House dan The Final Problem-nya Holmes yang harus berhadapan dengan komplotan Moriarty, dan Holmes minta bantuan kakaknya, Mycroft Holmes. Cara kedua datektif tsb dalam menyelesaikan kasus ini sama percis!
Kan lebih seru kalo Christie menampilkan sosok Poirot dalam cerita yang gak mirip Holmes :)
- Nah, ini yang menganggu saya. Di novel ini (Poirot's Early Cases) ada cerita yang judulnya The Submarine Plans yang berkisah seorang pejabat penting kehilangan desain kapal selam yang sangat berharga, mengancam keamanan nasional dan cerita The Veiled Lady yang berkisah tentang seorang wanita bangsawan miskin dan akan menikah dengan bangsawan kaya. tapi si wanita diancam akan dibeberkan skandal masa lalunya oleh si penjahat melalui bukti surat. Si Wanita karena tidak ingin kehilangan tunangan tp gak punya duit untuk menutup mulut si penjahat, minta bantuan detektif. Bagi para penggemar Holmes, dengan jelas terlihat bahwa cerita ini mirip dengan cerita Holmes (plot dan penyelesaian hampir sama) yang berjudul... hehe... bisakah Anda menyebutkannya? ;-)
Well, dengan alasan2 itulah mengapa saya tidak terlalu bisa menikmati membaca novel ini. Selain misterinya mudah ketebak, yah itu tadi, terlalu banyak kemiripan. Sebenarnya sih jumlah bintang yang dikasih adalah 2.47. Tapi menurut aturan angka penting nilainya jadi dibulatkan menjadi 2 bintang :)
Dan, saya masih bingung dengan jawaban pertanyaan "Mana yang lebih hebat, Holmes atau Poirot?"
cmiiw
PS : Membandingkan Holmes dan Poirot mungkin sama sukarnya dengan memilih mana yang lebih hebat antara Pokemon atau Digimon? Permen Lolipop atau permen biasa? sate padang atau soto madura? ultraman atau power ranger? buku pintar atau RPUL? sinetron 'tersanjung' atau 'cinta fitri'? yahoo atau google? kerupuk atau keripik? Yoko si Pendekar Rajawali atau Go Kong si Kera Sakti? Twitter atau Facebook?
Namun, bagi penggemar cerita detektif, terutama yang sudah khatam membaca semua serial kedua tokoh di atas, pertanyaan di atas tetaplah menarik mengingat pilihan mana yang dipilih tergantung keobjektifitasan kita dalam meningkahi intuisi :)