Semakin hari, semakin banyak bentuk kejahatan yang kita dengar. Ada saja modus baru yang diciptakan oleh pelaku kejahatan, yang sebelumnya tidak pernah terlintas di pikiran kita. Pelaku kejahatan tambah "kreatif" dan berani. Tentu, tidak ada orang yang ingin menjadi korban kejahatan, termasuk ketika sedang berada di jalan. Terlebih, karena jalan memiliki fungsi penting. Sebagian besar penduduk ibu kota banyak menghabiskan waktu mereka di jalan. Buku ini memuat lima belas kisah tentang aksi kejahatan di jalan. Jangan salah, kisahnya bukan berupa kisah "kaku" seperti pemberitaan yang sering Anda baca di surat kabar atau yang Anda tonton di televisi. Kisah-kisahnya seru, lucu, haru, dan pastinya membuat Anda menjadi lebih waspada serta hati-hati akan aksi kejahatan di jalan. Di dalam buku ini penulis juga berbagi tip agar terhindar dari kejahatan di jalan.
Buku ini sangat menarik karena membahas kejahatan di dalam transportasi umum yang dialami para wanita-wanita tangguh ini. Ada yang mulai mobil pribadi kacanya dipecahkan, ada yang dibuntuti motornya, ada yang kena joki aspal, ada yang kena gendam banyak sekali kejahatan didalam buku ini yang rata-rata kejadiannya di Ibukota Jakarta yang membuat saya bergidik ngeri.
Saya termasuk yang setiap harinya merasakan betapa kerasnya transportasi umum di Jakarta. Pada akhirnya saya memilih naik bus shuttle kompleks dan omprengan yang lebih manusiawi ketimbang transportasi lainnya. Naik kereta membuat energi saya terkuras (Gak lagi-lagi saya naik dari stasiun Sudirman dan Manggarai). Naik bus umum saya suka paranoid dengan pedagang asongan dan Pengamen yang lalu lalang. Kalau malam hari saya tidak mau naik taksi sendirian. Intinya hidup di Jakarta membuat saya lebih waspada.
Katakan saya paranoid tapi untuk mengurangi kesempatan kejahatan saya mengurangi dari diri saya sendiri dahulu. Mudah saja seperti saya tidak memakai perhiasan berharga yang memancing perhatian (Kalau naik transportasi umum ketempat yang saya jarang datangi sebisa mungkin saya memakai jam tangan plastik ketimbang jam tangan branded), Saya bersyukur juga termasuk tipikal perempuan yang tomboy jadi gak pernah memakai aksesoris cewek seperti kalung dan giwang =__=a. Selain itu saya membiasakan diri tidak pernah membawa kartu kredit, kartu debet tabungan dan kartu-kartu identitas berharga lainnya jika bepergian. Ekstrim sih sebenarnya tapi ya setidaknya ketika saya sedang tidak beruntung uang yang akan hilang tidak akan seberapa
Oh iya satu lagi sih sebenarnya pesan dari Alm Ayah saya bahwa senantiasa berdoa dimana saja agar diberi keselamatan dalam perjalanan dan juga rajinlah bersedekah kepada orang yang membutuhkan karena terkadang kita lupa untuk menyisihkan 2,5% harta yang bukan milik kita jadi Tuhan mengingatkan kita dengan cara lain. Ada juga yang berkeyakinan bahwa sedekah itu menolak bala/musibah *Ini pernah saya alami ketika jaman kuliah ketika ujian langsung 3 handphone saya raib setelah selesai ujian dan langsung ditegur sama ayah saya soal sedekah tadi*
Haha saya jadi kebanyakan curcol ketimbang ngereviewnya hahaa.. yang penting harus selalu waspada dimanapun kita berada karena kejahatan terjadi karena ada kesempatan! Hati-Hati, yaaa! :)
Waktu buku ini baru terbit dan dipajang di display New Arrival Gramedia Plangi, sempat kupegang-pegang, kumasukin tas belanja, sebelum akhirnya kubalikin lagi ke display, karena belanjaan sudah banyak dan harus ada buku yang disisihkan demi keselamatan dompet.
Waktu IRF 2013 kemarin, aku menemukan buku ini di "display" bookswap, dan tanpa pikir panjang kutukar dengan buku yang ingin kusisihkan dari koleksi. Siapapun yang sudah menaruhnya di display waktu itu, makasih ya...
Mengapa aku tertarik untuk membaca buku ini? Selain covernya yang lucu dan unik, jelas karena aku sekarang hidup dan mencari nafkah di Jakarta, yang katanya lebih kejam dari ibu tiri (tidak semua ibu tiri kejam, tapi pasti maksud analogi di sini ibu tiri ala Cinderella atau Arie Hanggara #perludibahas).
Buku ini sebenarnya kumpulan kisah pengalaman para korban atau calon korban kejahatan (yang semuanya wanita). Para pelaku atau tersangka penjahatnya menggunakan berbagai modus, baik pakai taktik lama maupun taktik baru dan kreatif. Memang iya, sih, di jaman sulit ini untuk mencari duit harus kreatif dan inovatif, tapi kalau untuk mengambil rezeki yang bukan haknya sih namanya menyalahgunakan akal yang seyogyanya digunakan untuk kemaslahatan umat (ceramah pagi-pagi).
Kisah-kisah yang diceritakan beraneka ragam, dari ibu hamil bersepeda motor yang dipepet motor lain pada malam hari di jalan sepi, copet ganteng ala Nicholas Saputra yang menggoda iman, joki 3-in-1 gadungan yang memeras sekaligus merampok, gendam di supermarket, angkot kosong yang bikin parno, dll. Tak lupa diberikan tips dan tricks untuk waspada terhadap kejahatan serupa.
Sebagai warga pendatang ber-KTP daerah yang selama hidup di Jakarta 6 1/2 tahun, apakah aku imun dari sisi gelap Jakarta ini? Tentu saja tidak.
Begitu aku pindah ke Jakarta dan baru tiga hari ngekos di Bendungan Hilir, kosanku sudah dibobol maling, dan aku kehilangan sebuah kamera digital. Itu pun sepertinya perbuatan orang dalam, karena kamar-kamar kos yang jadi TKP tetap terkunci sempurna. Bulan depannya aku langsung cabut ke kosan lain, yang meskipun level kenyamanannya lebih rendah tapi keamanannya lebih terjaga (bergabung dengan pemilik kos, dan ada taman bacaannya, lagi! :P).
Naik bus kota dan ketemu preman yang mengaku baru keluar penjara dan meminta penumpang menyisihkan rezeki supaya mereka tidak kembali ke jalan yang salah? Aku jarang naik bus kecuali kepepet, tapi yang seperti ini kerap terjadi. Tapi biasanya aku tipe penumpang pelit yang ogah menyisihkan rezeki kepada mereka yang cuma ngomong doang. Beda cerita kalau mereka ngamen, minimal ada usaha sedikit lah, apalagi kalau tidak sampai merusak telinga.
Dibuntuti orang mencurigakan saat di jembatan penyeberangan? Yang kurasakan sih dua kali di jembatan penyeberangan Benhil. Aku bisa ngeh karena ristleting ranselku cukup susah dibuka, sehingga si pelaku harus berusaha sedikit-sedikit membukanya. Pas aku berhenti berjalan dan memperbaiki ristleting yang sudah setengah terbuka, si pelaku paling tetap berlalu sambil pasang muka polos, atau malah cengegesan bikin sebel. Untung saja tidak ada barang berharga yang hilang.
Tapi secara umum, karena aku memilih ngekos di belakang kantor, aku belum merasakan susah dan bahayanya jalanan/transportasi ibukota. Jalan kaki dari kosan ke kantor cuma lima menit, pulang kantor jam 10 atau 11 malam pun masih merasa pede dan aman-aman saja. Memang sih ada saja cerita dari teman yang dijambret ketika sedang jalan kaki atau malah ketika sedang sibuk membuka kunci gembok kosan (itu pun kejadian pagi atau sore hari!), tapi alhamdulilah sampai saat ini belum pernah kualami.
Transportasi umum juga cuma kugunakan di akhir pekan. Bus, angkot dan ojek baru kunaiki kalau kepepet alias tidak ada pilihan lain. Aku lebih sering naik transjakarta, karena dijamin tidak bakal tersesat, apalagi sekarang cukup nyaman karena untuk wanita disediakan wilayah khusus. Tapi aku lebih sering lagi naik taksi saja, terutama kalau barang bawaan banyak (biasanya sih gara-gara obralan atau pameran buku). Kalau tidak terpaksa-terpaksa banget, pastinya armada yang kupilih hanya beberapa yang dapat kuyakini keamanannya.
Mudah-mudahan, dengan selalu berhati-hati dan berdoa memohon perlindungan-Nya, kita dapat terhindar dari berbagai aksi kejahatan di jalan.
Gue rasa setiap perempuan di kota-kota besar dengan tingkat kejahatan tinggi macam Jakarta PADA HARUS BACA buku ini plus nyimpen stun gun atau pepper spray di tas masing-masing.
Sepanjang karir gue sebagai penduduk Bekasi yang suka main-main ke Jakarta, gue telah tercatat satu kali kecopetan hape dan dompet, dua kali menyaksikan orang lain dicopet dan ditodong di dalam angkot, kapok naik taksi merek tertentu, dan tak terhitung sudah berapa kali molested di dalem kendaraan umum. Emang paling bener bawa cutter kemana-mana. Biar kalo ada yang rese bisa langsung tujes aja sekalian.
Pengalaman-pengalaman ngga enak yang gue alami aja sudah membuat gue lumayan males ngangkot di Jakarta. Itu lah kenapa gue memilih untuk menggunakan transportasi pribadi kemana-mana. Walaupun, lagi-lagi, setelah membaca buku ini gue jadi tahu bahwa pengendara kendaraan pribadi pun tidak luput dari incaran pelaku kejahatan BAHKAN mereka sebenarnya adalah sasaran empuk para pelaku. =,=" Bikin trauma banget ngga sih..
Membaca buku ini, gue suka banget dengan cara penuturannya yang smooth dan lugas. Sehingga rasa-rasanya (terlepas dari isi buku yang sebenarnya udah bikin gue takut-banget-deg-degan-parno-sendiri-tengah-malam-karena-ngebayangin-bakal-ada-korban-jiwa-dilelepin-di-danau-entah-mana) gue sedang duduk bersama seorang teman yang sedang menceritakan mengenai pengalaman horornya tapi dengan gaya yang ngga nakutin. Kontributor dan Editornya jagoan banget deh nih!!
Dan lihat covernya yang ceria dan lucu. Mengingatkan gue pada permainan ular tangga atau mainan boneka kecil dengan rumah bertingkat polly-polly-apa-deh-itu-namanya-gue-lupa, yes? Bisa aja ya kepikiran cerita-cerita kriminal gini dikasih cover unyu yang bikin gue tertarik buat baca? Hahahaha *pukpukpuk Ilustratornya* *kemudian kasih jempol*
Ah. Menyenangkan sekali membaca buku hanya dalam sekali baca, ditambah lagi ada tips-tips untuk menghindari kejahatan agar selalu waspada. *dadah-dadah dengan anggun ke Bang Napi*
Buku yang cukup menarik, menceritakan tentang pengalaman dna kisah beberapa orang seputar kejahatan(?) yang pernah mereka alami di ibukota. Seperti terlibat dalam kasus pencopetan, terjebak dalam bus sementara diluar ada anak sekolah yang sedang tawuran,dll.
Selama ini alhamdulillah saya belum pernah mengalami hal-hal yang seperti itu. Sering pulang malam tiap habis teateran menonton dikadiq member jkt48 juga malah tidak membuat saya awas. Entahlah, tapi saya dari dulu berpikir bahwa kalau sudah berdoa sebelum keluar rumah, pasti akan dilindungi tuhan. Jadi ya, selama ini saya ya lanjut saja kemana-mana tanpa memandang waktu pukul berapa. Kadang takut sih kalau melewati tempat gelap dan sepi. Tapi saya selalu merasa tampang saya ini jelek jadi ya ketakutan saya diapa2in itu berkurang. Pikir saya, siapa yang mau gituin cewek jelek.
Setelah baca ini saya jadi agak parno tapi juga membuat saya waspada. Kejahatan bisa terjadi kepada siapa saja. Selain berdoa, kita juga harus berusaha mencegahnya dengan berpakaian dan bertindak sesuai tempatnya. Dan jangan lupa, Hati-hati yaaa!
Himpitan ekonomi yang makin menekan, tak ayal membuat kejahatan semakin marak. Kejadian kecopetan pernah kualami, alhamdulillah, baru sekali saat di Bandung, sedangkan kejadian di angkot, meski bukan saya korbannya, sudah 2 kali. Bahkan, salah satu kejadiannya angkot dikepung dan dipenuhi anak 'punk'.
Kegilaan dunia sosmed di telepon genggam banyak melanda remaja, bahkan orang dewasa, sehingga tak jarang membuat pengguna skeptis dan lengah dengan sekitar. Dampaknya, mereka tidak jeli melihat 'gelagat' aneh yang ada di sekelilingnya, padahal kejahatan sudah mengintai. Selain itu, hal yang harus dihindari saat berjalan-jalan adalah membuat diri menonjol dengan berbagai aksesoris dan pakaian yang mengundang mata untuk mengintai.
Kumpulan kisah inspiratif dalam buku Hati-Hati, Yaa! sangat rekomendasi untuk baca. Meski 'hanya' kumpulan cerita, tapi dapat membantu kita, terutama perempuan, mencegah atau mengantisipasi terjadinya kejahatan yang bisa jadi menimpa kita.
Baca buku ini jadi makin waspada sama modus-modus kejahatan di jalan raya. Di sisi lain, saya juga agak parno. Salah satu kejadian di buku ini tentang sopir taksi yang suka ngakalin juga pernah dua kali terjadi sama saya. Pertama kali kena pas di Jogja, yang kedua pas magang di Jakarta. Gile bener, kok saya bego bener sampai dua kali. Haha.
Memang, hidup di kota besar itu harus selalu waspada. Kota besar, banyak orang cari makan, sayangnya lebih banyak yg ga kebagian jatah. Jadilah, menghalalkan segala cara buat menyambung hidup, ngisi perut. Tapi ya sayangnya, tindakannya itu merugikan orang lain. Merugikan orang lain yang sama2 juga cari makan. Harusnya, sesama pencari makan harus saling menolong, kan? Ya, sebagai pencari makan yang lebih beruntung, mungkin bisa bantu pencari makan lainnya yang kurang beruntung. (Halah, apa ini malah ngelantur) :D
Hati-hati di jalan, yaa... Selalu waspada di manapun berada :)
Kalo gw uda kenyang ngalamin pelecehan di deborah, bikin kesel aja, pas awal2 gw diem aja, paling gw brusaha ngejauh, pas keseringan ahirnya gw sikut atau pukul pake tas gw, gak taunya kebanyakan bapak2 pake baju rapi gitu kyk orang kantoran HIHH!!! Eh kirain di bis doang, pas naik KRL, kena lg gw, menyebalkan sekali... Belum lagi tas gw dibuka2 sampe berapa kali, tapi selalu ketauan duluan sama gw, trus orangnya pura2 cuek, blm lg sama pengemis yg kurang ajar, kaki gw dilukain... menyebalkan sekali orang2 ini cari duit segitunya, gak tau apa klo gak halal ya gak tahan lama... Kalo di angkot gw uda ati2, gak ngeluarin hp, paling buku :-P
Kumpulan kasus tentang bahaya di jalan, ada yang diceritakan oleh "korban"-nya sendiri, ada juga yang diceritakan kembali~
Mulai dari menghadapi begal, rampok, copet, tukang gendam, remaja tawuran, sopir "taxi-abal-abal", sopir bus yang berambisi ikut F-1, dan masih banyak lagi.
Ditambah juga dengan tips bagaimana seharusnya bersikap di jalan, seperti misalnya jangan joget-joget sambil nyetir mobil (^-^)//bukanding
*guguk = pejalan kaki yang dendam sama pengendara mobil yang sibuk megangin smartphone*//beberapakalinyariskeserempet (`皿´#)