File 2 : Kasus lenyapnya sejumlah orang secara misterius di SMA Harapan Nusantara.
Tertuduh : Algojo bertampang monster dan bersenjata parang yang mengerikan, yang konon keluar dari Tujuh Lukisan Horor karya Rima Hujan. Gosipnya, dia berniat menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang terlibat dalam tragedi tahun lalu. Tidak diketahui apakah tokoh ini nyata atau hasil imajinasi.
Fakta-fakta : Sebuah surat ancaman dilayangkan ke Kepala Sekolah SMA Harapan Nusantara, menyebabkan kami dilibatkan dalam peristiwa ini. Dengan bantuan mantan tukang ojek bermuka masam dan montir baik hati garis miring bos geng motor, kami pun mengadakan berbagai penyelidikan mengenai tragedi tahun lalu. Namun, satu demi satu orang yang terlibat dalam kejadian ini mulai lenyap. Yang tertinggal hanyalah ruangan berantakan akibat pergulatan dan lukisan yang menggambarkan hukuman mengerikan yang diterima oleh orang-orang tersebut. Tidak diketahui orang-orang ini masih hidup atau tidak.
Misi kami : Menemukan orang-orang yang lenyap dan menyelamatkan mereka sekaligus membekuk pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Lexie Xu adalah penulis kisah-kisah bergenre misteri dan thriller. Seorang Sherlockian, penggemar sutradara J.J Abrams, dan fanatik sama angka 47. Saat ini Lexie tinggal di Bandung bersama anak laki-lakinya, Alexis Maxwell.
Tebakan salah lagi deh... Lumayan bikin page turner, walaupun awalnya kurang enjoy bacanya. Tp karena penasaran, lanjut terus deh. Buat Rima, welcome to the gang. Makasih buat Mbak Lexie yang udah meracik misteri sedemikian kerennya 😊
Beda novel ini dengan novel ka Lexie yang sbelumnya adalah : Disini, penyelidikannya dibuka duluan. Saat penyelidikan udah setengah jalan ,baru kasusnya mulai terjadi.
Personally, aku lebih suka kasus duluan. Aku lebih suka berdebar debar dulu, baru mikir. Disini, aku mikir dulu baru berdebar debar. Tapi tetap suka, selalu suka sama sensasi mencekam yang diciptakan setiap cerita Ka Lexie.
Dan ending sudah jelas tidak bisa ditebak. Terlalu banyak yang mencurigakan sampai aku bingung dan mulai menuduh semua tokoh. Menyenangkan.
Ahya, 1 kekurangan kecil mungkin. Untuk beberapa adegan, seperti ada detail detail ekspresi yang 'miss'. Aku lupa yang mana mana aja. Tapi salah satunya adalah saat Val melihat Gordon dalam keadaan kaki nyaris putus. Bahkan Erika menggeser Gordon katanya. Respon mereka terlalu standar untuk seseorang yang baru melihat teman sekolah mereka dengan kaki nyaris putus menurutku :)
Overall, i love ur book ka. Selalu. Cant wait for ur next book Ka Lexie :*
Hahahaha puas banget bisa namatin ini dalam waktu kurang dari 2 hari! Yah, memang seru, sih, jadi wahar kalau kepengin cepat-cepat namatin dan baca seri selanjutnya XD
Oke, buku kedua ini lebih banyak actionnya ketimbang yang pertama. Amazed dengan cara menggambarkan adegan karakter-karakternya berantem, detail tapi nggak bikin bosan. Lalu, meski kupikir wajar kenapa polisi nggak terlalu terlibat banyak di sini, tapi tetap nggak mengurangi adrenalin serta rasa kagumku dengan kinerja Duo G. Gilaaa, kalian cewek-cewek panutanku!
Oh iya, buku ini lebih banyak pakai pov Valeria. Yah, kurasa memang waktunya mengenalkan sohib yang bakal menemani petualangan Erika ke depannya. Hanya satu bab pov Erika, itu pun hanya untuk menjelaskan bagaimana mereka (silakan cari tahu sendiri komplotannya) bisa sampai menemukan TKP. Selebihnya membahas latar belakang Valeria Guntur.
Dan sosok Les di sini bikin aku kagum sekaligus jatuh hati (haha, sori Val, cuma sebatas kagum as fans kok) daripada sosok Vik. Hmm, bisa jadi penilaianku berubah tapi sejauh ini aku masih bertahan pada pilihan superhero baru, Leslie Gunawan.
Uh, sepertinya Kak Lex selalu bisa bikin plot twist ya untuk setiap ending, terbukti masih tetap belum percaya jika pelakunya adalah orang tak terduga. Sebenarnya jika dilihat dari seri Johan dan Omen, pelakunya adalah orang yang kita pikir tidak mungkin atau tidak punya motif apa pun untuk itu. Oh ya, satu lagi, kehadiran Pak Rufus menghibur sekali😭😭😭 love him. Meski aku agak curiga juga dia bakal kasih surprise di buku selanjutnya. Who knows? 👀
Subjektif. Sebenarnya 3,7 ⭐. Aku kira kali ini sudut pandang bakal tetap pada Erika. Dan cerita masih tentang Erika-Eliza. Big No. Cerita masih ada sosok Erika. Ya iya lah Erika emang tokoh utama. Tapi, POV di sini adalah "aku" Valeria. Tapi gaya bahasa hampir sama dengan POV Erika. Sama-sama kocak dan nggak ada bedanya. Tapi oke-oke aja sih karena Valeria memang punya dua kepribadian. Maksudku samaran. Yeah, kalian pasti tahu kalau kalian baca novel Omen yang pertama. Bedanya, kali ini Erika berjuang bareng 3 orang. Baca novel ini nggak perlu baca Omen yang pertama bisa kok. Tapi kalian nggak akan bisa tahu siapa Vik, ada hubungan apa Erika dengan Trio wek wek, terus ya kalian nggak bakal tahu kisah hidup Erika karena di sini full dibahas hidup Valeria meski nggak terlalu ditonjolkan. Dan, entah kenapa selera Romanceku dimanjakan. Sampai-sampai aku terlena sama kisah romance Valeria dan si Obeng. Entah kenapa aku agak bingung sama kasus ini. But overall, aku tetap suka dan endingnya bikin penasaran. Buat kalian yang suka romance tapi takut keluar dari zona nyaman, ini boleh dicoba. Buat kalian juga yang suka misteri atau thriller, boleh baca asalkan jangan muntah sama kisah romancenya. Kalau dibandingkan dengan kisah pertama, aku lebih suka kisah yang pertama. Tapi kalau tentang berdarah-darah, kayaknya yang ini deh yang lebih jijik.
Jadi ku memutuskan ku lebih suka penulisan dari sudut Val daripada Erika. Val itu serius tapi banyak part bikin ketawa kalau Erika tuh penulisan kocak tapi garing. Wkwkwk. Hebatnya Mbak Lexie, kedua tokoh ini memang beda banget dan ketika ditulis dari 2 pov beda, aku bisa bedain tone dua tokohnya. Kerasa aja mood nya beda. Heuheu. Itu dari segi narasi.
Dari segi karakterisasi, menurutku masih banyak yang telling dan gak showing. Tapi walopun begitu enggak semua kok. Walopun kadang rada bosen pas baca bagian Val jelasin karakter Erika yang sebenernya pembaca bakalan udah bisa nebak dari sikap-sikap dia. Nah ada tokoh Rima nih. Cewek ini ngerebut perhatian banget, entah kenapa aku juga jadi penasaran ama dia. Dan ternyata buku ketiga dibikin dari 3 sudut pov beda. Ku gak sabar baca. Karakter baru yang nyuri perhatian lagi ya jelas Les. Gilaaaa, lebih suka dia daripada Vik. Les itu kalem-kalem garang gitu, loh. Kan kalo Vik emang udah garang, dan cara Les nunjukin sayangnya ke Val tuh sweet menurutku. Vik juga di buku Omen sweet parah, sih. Wkwk
Nah elemen terpenting itu isi cerita dan plotnya. Jujur aku itu bingung aku suka gak sih ama cerita insta love? Karena Val ama Les ini nelas bnget insta love dan aku jelas enjoy bacanya. Haha.
Nah soal isi cerita, jelas ku lebih suka buku kedua ini karena penyelidikan jelas dan pembaca juga di kasih petunjuk-petunjuk yang mengarah ke pelaku (dan tebakanku benar, yay. Dua doang sih heuheu) di buku ini lebih jelas pemecahan masalahnya, dan dari awal pembaca udah dikasih cerita ini mau dibawa kemana. Beda dengan buku pertama yang menurutku terlalu banyak intro d awal yang walopun ngarah ke inti cerita tapi serasa rada bosen. Belum lagi misterinya tuh lumayan kentel dan menarik. Actionnya juga banyak, walopun kadang rada gak jelas. Maksudnya ku susah kadang bayangin itu gimana berantemnya, hahaha.
Dan ku kasih 4 bintang cerita ini. Ngakak parah di awal dan keteganganya terus naik sampe akhir buku. Yaaaay. The best beginning series in this year sih ini. Wkwk
Ps: ada yang bisa kasih tahu warna mata Val ama rambutnya itu warna apa? Karena ku gak ngeh di novel ini di sebutin atau enggak. Please please anyone?? 😀😀😀😀
2,7/5⭐ Buku kedua Omen Series ini menghadirkan karakter baru dan dari sudut pandang Valeria Guntur. Kisah romance di buku kedua ini jauh lebih banyak dan jauh lebih kental dibandingkan buku pertamanya. Nyaris 70% bagian cerita adalah kisah romansa. Alur cerita terasa begitu lambat. Hampir menyerah untuk membaca buku ini karena sama sekali tidak mendapatkan unsur ketegangan dari thriller dalam buku ini, tapi aku mencoba bertahan sampai akhir. And, I finished it! Unsur ketegangan baru terasa sekitar 1/4 akhir buku. Sepanjang cerita, penulis sama sekali tidak memberi clue mengenai kasus dan pelaku, sehingga pembaca merasa hanya 'menonton' kejadian saja dan tidak diajak untuk berpikir. Lalu tiba-tiba saja, terungkap siapa pelakunya. Masih sama dengan buku pertamanya, banyak narasi dan dialog yang terlalu melebar dari inti cerita yang sebenarnya bisa dipadatkan dan difokuskan pada penyelidikan. Sejujurnya aku menikmati kisah romantis yang diselipkan dalam buku ini, namun mungkin porsinya bisa diseimbangkan dengan unsur misterinya mengingat buku ini bergenre thriller.
This is the second book I read from the Omen series. This book still tells the story of Erika and Valeria, who are again asked to investigate a potential case arising from their suspicions of changes in the paintings painted by Rima Rain; even more creepy, Rima can predict the future. This is where the investigation begins, searching one by one for evidence and personalities that lead them to three cases that occurred last year regarding break-ins, murders, and suicides.
This book focuses on Valeria's point of view. Many personal stories and romances between Les and Val are revealed here. Of course, everyone will fall in love with Les' character, who is gentleman, mature, and always shows his sincerity to Val.
My first impression of reading this book is reluctance because I haven't felt any emotional engagement here. But after some time, in the middle of the book, I started to enjoy it; romance scenes, fisticuffs, comedy, fear, and horror are also involved.
Although some things make me a little uncomfortable in reading this book, such as the beginning of the story with their role directly as investigators, not because they accidentally intersect in the existing problems. It's like everyone already knows what they're capable of. In fact, this only started from Val's prank of writing their number in the school wall magazine, introducing themselves as a detective. Secondly, the narrative form up to 3/4 of the book also tends to be like a radio program rather than one that makes us nod in agreement rather than thinking and wondering what strategies they will use, which, in my opinion, becomes a bit boring, (again,, I'm talking about engagement with, well, this is very personal). Secondly, some situations feel real but also surreal, for example, when Gold's leg is described as almost broken, but Erika moves her body aside without any fear or surprise. Or when the police always come at the end, why didn't they work together after learning about the irregularities they experienced? Or why the criminal painters chose the painting and changed it to suit the crime they were about to commit (we know that not everyone is good at painting). It's a shame that the mystery of the seven horror paintings doesn't focus on the creepy secret of the paintings, as if the paintings here are bridging to the main problem, even though the beginning of this story is, of course, because of the paintings.
Lexie makes me think about who is the mastermind behind the story this time. At first, I wouldn't say I liked the character of Rima Rain, thinking she was the culprit, but in fact, she is a character who is very reliable in her initiative. The plot twists and violent action scenes in this teen-lit book genre are noteworthy; as always, this book is complete in concocting every part of the reader's emotions.
Ini review yang agak serius. This book is fun, it is! Ngl that this book is very much alive. But well.. nothing’s perfect, saking seru nya bahkan jauh banget di bawah cerita fantasi dan mendekati “sangat unrealistic” dan hal tersebut jadi turn-offs di buku ini. Aku gak akan membahas character development dan lain-lain karena di dua buku pertama ini semakin dibaca karakternya semakin berkembang ke arah yang brutal.
Pertama kali baca buku ini pas masih SMA, untuk aku yang dulu buku ini seru bangeeettt sampe re-read berulang kali. Namun sekarang, setelah 7 tahun lamanya, pandanganku berubah. This book shouldn’t be a teenlit and here is what I don’t like about this book, why this book (this series) is more suitable for adult readers.
1. Karakter perempuan utama terlalu diagung-agungkan. Sehebat dan sekuat apa sih murid SMA, perempuan dan masih berumur 15/16 tahun? Sampai-sampai didewakan yang lain, padahal kalau di-highlight kemampuannya bisa cukup sebagai yang disegani karena pemberani dan badung. Penggambarannya di sini udah kaya super hero Marvel aja. 2. Karakter perempuan utama dan pendukung laki-laki punya gaya berbicara yang mirip, sampai di beberapa scenes ini agak mengganggu dan langsung kaya “kok E sama L mirip, sih?” saking jelasnya kemiripan gaya mereka. 3. Ceritanya dipenuhi trauma yang menurutku agak bahaya untuk dibaca anak remaja sendirian. Bahaya jika tidak dengan pengawasan karena “menyaksikan kejadian yang membuat trauma meski tidak langsung mengalami tetap akan terpengaruhi oleh kejadian tersebut (psikologi perkembangan bab ACEs). Tentu pengaruhnya akan berbeda untuk setiap orang, tapi sayang gak ada content warning atau panduan yang bisa bikin pembaca hati-hati padahal lumayan banyak yang triggering dan bahaya. 4. Semi-grooming/Pedophile Karakter perempuan itu masih remaja, jauh di bawah umur dan dengan berbagai kehebatan yang digambarkan, tentu mentalitasnya gak akan seteguh itu.. tapii.. gak apa-apa, kan ada laki-laki dewasa yang selalu siap membantu dan yang berakhir jadi pacar si anak remaja ini! That sounds scary, really.. anak remaja yang seharusnya terjauh dari peristiwa seperti ini justru malah tumbuh ke arah sana. Melakukan kenakalan, berpacaran dengan laki-laki yang jauh di atas dia. Memang laki-laki nya yang mengejar, tapi apalah daya.. anak serapuh itu dan gak pernah merasakan kasih sayang tulus pasti jatuh hati juga. Cuman bikin bergidik ngeri aja, karakter utama laki-laki yang sudah dewasa, tertarik dengan anak remaja, masih sekolah sampai dipacarin :/
This entire review has been hidden because of spoilers.
Masih dengan Erika Guruh dan juga Valeria Guntur. Kali ini, mereka dimintai tolong oleh Kepala Sekolah mereka, Bu Rita, untuk menyelidiki kasus yang terjadi pada klub kesenian. Tapi, Bu Rita juga memberikan beberapa kasus yang sempat terjadi dalam kurun 1 tahun yang lalu. Mulai dari kematian salah satu murid di kolam renang, pencurian uang di ruangan kepala sekolah, sampai bunuh dirinya salah satu murid yang katanya pintar.
Kayak biasanya, cerita ini bikin tegang banget. Tapi tetep dong ada lucu-lucunya. Masih diisi dengan Erika yang slengean dan ingatan fotografisnya yang ngebantu buat cari-cari fakta baru buat pemecahan kasusnya. Valeria yang pendiam tapi juga bisa mendapatkan banyak informasi. Di sini juga, ada tokoh baru loh. Namanya Rima Hujan. Dia ini ketua klub kesenian. Dia pelukis yang rumornya bisa ngramal lewat lukisannya. Selain itu, lukisan dialah, yang menjadi petunjuk buat GnG cari tau korban berikutnya.
Adegannya seru abis deh di sini. Apalagi waktu mereka di sarang penculiknya. Pokoknya kalian harus baca deh. Nggak bakalan rugi kok!
Awalnya kupikir Valeria dan Erika tuh sodaraan (atau paling nggak sepupuan lah) karena singkatan nama belakangnya sama 🤣🤣
Ternyata aku yang nggak teliti dengerin kalau salah satunya Guntur dan lainnya Guruh 🤣🤣
Erika ternyata lebih seru kalau bukan dia yang jadi sudut pandang utamanya. Yang pertama rasanya aneh banget karena Erika sering mengumpat dan aku nggak nyaman dengerinnya. Di sini pencerita utamanya adalah Valeria, walaupun di bagian akhir Erika muncul sebentar sebagai pencerita utama. Leslie (?) juga. (Aku nggak tahu tulisan yang bener gimana, karena aku dengerin audiobook. Dan btw, Leslie (?) ini cowok)
Akhirnya cukup dramatis tapi lumayan keren lah. Cukup "berdarah" juga. Misterinya agak sepele jadi sempat bosen di tengah-tengah.
Secara keseluruhan, plotnya mirip buku pertamanya, tapi baguslah karena jadinya aku sudah familiar dengan ceritanya. Mungkin seri ini bisa jadi comfort zone aku di audiobook 😄
Novel ini seru, apalagi pov dari Valeria, yang kalau ngomong kalem feminim tapi di dalam pikirannya nggak beda jauh sama erika lol. Tapi ada beberapa bagian yang masih mengganjal, seperti 'bagaimana pelakunya mengubah lukisan?', 'kenapa 7 lukisan itu yang dipilih?', 'kemana vik ditengah-tengah pertempuran di pabrik? plus waktu di rumah sakit?' dia seperti menghilang gitu aja, padahal kan kemana-mana selalu ada dia. Dan satu lagi, 'kenapa pelakunya mengirimkan surat?', kalau saya jadi pelakunya, saya nggak bakal sebodoh itu sih, memancing orang lain buat perhatian ke apa yang saya lakuin.
Harusnya sih, menurutku, tentang 7 lukisan horornya diceritakan lebih horor dan detail. Tapi ya, well done enough sih, saya suka ceritanya.
I expected more, hahay... Gini ya kalo udah sering baca buku penulis dalam berbagai seri.. Hmm, pengennya sih ada perbedaan karakter yang kuat antar tokoh utamanya. Di buku sebelumnya, keliatan tuh beda karakternya erika dan eliza, dan bikin pembaca (saya) ngeh siapa yang lagi bernarasi. Tapi di buku kedua ini, Valleria "dibuat" sangat mirip dengan Erika. Cara berpikirnya, narasi-narasinya, mirriiip dengan Erika. Jadi, duet maut antara Erika & Valleria bukan duet maut antara orang yang kepribadiannya bertolak belakang, yang mana hal ini bakalan jadi unik, tapi cuma duet maut orang-orang yang secara tampilan saja, terlihat bertolak belakang.
Yah, segini dulu deh reviewnya. Semoga di buku ketiga serial omen ini lebih heboh lagi. wkwk
Buku series Omen yang kedua ini nagih banget. Aku lebih enjoy bacanya karena mostly POV Valeria (proud kepada Kak Lexie yang bisa beda vibes antara satu karakter dengan yang lain), ditambah dengan kebukanya latar belakang Valeria dan Les yang pada buku sebelumnya cenderung samar-samar.
Misteri dan aksinya jauuhhh lebih rumit, cukup tragis dan sedih juga. Tapi rasanya ada sedikit hal yang mengganjal entah-apa-itu. Hm, ada beberapa adegan yang maksa atau mungkin ini hanya perasaanku saja (Catatan: aku jarang baca/nonton thriller).
Oh, aku juga suka karakter yang baru muncul, Rima Hujan. Terasa klik banget dengan Rima, jadi gak sabar mengulik tentang dia pada buku seri selanjutnya.
Kalau bukan karena baca the judge kayanya aku gak bakal ketemu Omen Series deh. Inget banget dulu pas SD antara kelas 5 atau 6 temenku pernah pinjemin buku the judge. Awalnya tuh suka karena covernya keren dan pas baca blurbnya seru. Taunya pas baca sampai habis beneran seseru itu, terus iseng-iseng deh cek google dan kaget karena ternyata buku ini tuh series. Akhirnya dari situ baca dari buku pertama, sampai di buku ke-2 (7 lukisan horor) bener-bener dibuat takjub. Buku ini gak cuma menghibur tapi juga bikin penasaran. Setiap chapter kita dibuat menebak-nebak kira-kira setelah ini bagaimana. Tokoh-tokoh yang ada di omen series saling melengkapi satu sama lain dan masing-masing jenius dibidangnya.
Sebenarnya 5 bintang sih, tapi ada beberapa hal yang saya kurang suka di buku ini.
Pertama, alur cerita dibuku ini seperti dilambat-lambatin, seperti kisah percintaan Val yang terlalu dipanjang-panjangin dipertengahan kisah.
Kedua, saya agak sedikit kesusahan membedakan Viktor dengan Valeria dengan panggilan Val dan Vik😣😣😣 walaupun menurut orang lain itu hal biasa aja, tapi menurut saya itu agak mengganggu ketegangan saya membaca karena bisa bisa ketuker disebuah dialog antar tokoh😔😔😔
TAPIIIII.... Selain dua kekurangan ituuuu, SEPERTI BIASANYA BUKU DARI LEXIE XU BAGUS BANGET DAN WAJIB DIBACA BAGI PECINTA THRILLER👍👍👍👍
Lexie Xu memang pendongeng yang cukup andal. Ia mampu membuat jalinan cerita yang bikin pembacanya penasaran, mengira-ngira siapa sebenarnya sang pelaku. Selipan dialog yang kadang kocak juga bikin cerita jadi segar. Tapi menurut saya bertele-tele sih, nggak perlu sampai 420an halaman kayaknya, capek juga bacanya. Untung ada Les, si cowok kalem dan cool :D.
Oh ya, saya juga agak terganggu dengan kalimat "Oh, God" yang sering diucapkan Val. Dialog-dialog Erika juga kasar ya. Percakapan "anak muda" yang sering juga saya temui di media-media sosial. Apa memang sudah sepermisif itu ya, mudah sekali mengumpat dan berkata kasar. Hmm.
Melanjutkan Omen #1, Omen #2 Tujuh Lukisan Horor bercerita tentang Erika Guruh dan Valeria Guntur yang bergabung menjadi detektif. Kedua siswa berpenampilan kontras itu diceritakan menyelidiki kasus lenyapnya sejumlah orang secara misterius di SMA Harapan Nusantara yang dikaitkan dengan lukisan Rima Hujan.
Seinget saya, di Omen #2 ini Lexie Xu memperkenalkan karakter Rima Hujan, Daniel Yusman, dan Leslie Gunawan, yang tentu saja ketiganya akan terus ada di series selanjutnya.
5/5 untuk Omen #2. Lexie Xu membuat saya seolah ikut Erika dan Val menjadi detektif, memperhatikan detail-detail penyelidikan untuk mengungkap peristiwa berdarah di SMA Harapan Nusantara.
Hahaha gila, emang bukunya Kak Lexie sebikin nagih itu ya? Abisan dari kemaren aku nggak mau berenti baca sih :')
Hmmm yeah, ceritanya seru. Misterinya dapet banget, thrillernya juga boleh hahaha... Eneg bgt kalo bayangin darah-darah itu.
Dan sumpah, aku kayaknya jadi bucinnya Ojek sama Obeng deh :') Gila mereka manis bgt ya Tuhan 😭
Well, meski pun ini ceritanya tetep seru, tapi aku kayaknya lebih suka sama yang pertama deh. Hmmm di buku kedua ini kasusnya kayak gimana gitu. Kadang juga ada yang terlalu bertele-tele menurutku.
Dari series 1 sampai 7 OMEN ga pernah mengecewakan.
Alur, cerita + karakter nya sangat bagus dan menarik.
Pasti membuat kepo + baper + dag dig dug banget — dan pasti ketika sudah baca gaakan bisa berhenti.
Setiap series punya cerita dan rahasia tersendiri tapi berhubungan satu sama lain nantinya. Di setiap series juga tokoh2 lain diperkuat dan dimunculkan satu per satu. pokoknya recommended parah! ❤✌
Novel ini adalah novel karya lexie xu pertama yang aku baca. Iya aku langsung baca yg kedua tanpa yang pertama, dan aku rasa masih bisa mengikuti jalan ceritanya. Cuma memang mungkin kehidupan pribadi Erika tidak akan banyak didapat di novel ini, dan juga asal mula Vik-Erika. But, it's fine.
Ah dan ini novel misteri pertama yg aku baca karena sebelum novel ini, aku selalu baca romance. Dan karena novel ini juga, sampe sekarang aku lebih juga genre novel yang seperti ini.
Untuk orang yang terbiasa membaca novel romance tentu sangat dimanjakan ya dengan adanya Val-Les di novel ini. Bisa dibilang di novel kedua ini lebih bercerita banyak mengenai kehidupan pribadi Valeria.
Misteri yang ada di dalam novelnya juga menurutku tidak mudah ditebak karena selama penyelidikan banyak hal-hal baru yang ditemukan dan membuat kasusnya makin sulit dipecahkan *menurutku*. Makin ke belakang makin seru, dan ngebuat gabisa berhenti baca
Dan untuk novel pertama dari lexie xu yg aku baca, this is so amazing. Dan tentu saja aku langsung cari novel omen series yang lainnya untuk dibaca
Welcome to my most favorite character, Rima Hujan!
Ketika saya membaca novel ini, saya menemukan diri saya langsung jatuh hati pada seorang Rima Hujan. Unnoticeable but kind. Kemudian, seperti biasa, novel Lexie Xu selalu unpredictable dan keji. Tujuh lukisan horor yang disinggung di judul betul-betul merupakan mimpi buruk apabila terjadi di dunia nyata. Untunglah Erika and the Gang siap untuk membela kebenaran. :D
Di buku ini lebih banyak kisah romance remaja yang manis-manis gitu. Jadi inget jaman-jaman pedekatean dulu hahaha.
Plot twist nya juga ga nyangka banget aku, tapi aku enggak nebak-nebak sih. Aku lebih memilih menikmati ceritanya sampai akhir.
400an halaman enggak kerasa! Saking enaknya gaya berceritanya. Paling suka sama Erika yang ceplas ceplos, jokesnya kadang renyah kadang garing tapi aku ketawa terus wkwk.
novel ini sangat bagus karena memberikan pengalaman baru kepada pembaca. hal ini bisa terjadi karena siapa yang akan menyangka akan melalui berbagai kejadia-kejadian yang menegangkan seperti yang diceritakan dalam novel ini. Selain itu emosi pembaca juga dipermainkan dalam novel ini karena pembaca pasti akan menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
dibanding buku sebelumnya, ini lebih kerasa menegangkan sih, karena emg serem banget dari lukisannya juga. karena lebih banyak pake pov-nya val, dan pov-nya erika dikit, jadi momen erika-ojek juga dikit, tapi karena itu dikit jadi kayak gemes banget sksks. cuma misteri penambah lukisan rima itu udah ketahuan belum sih, aku sepertinya tidak membaca bagian itu
Hmm sering ketuker-tuker saat pindah POV. Seri kedua ini lebih banyak nyeritain soal si Val, "konco" baru Erika. Lebih banyak romance yang disajiin dibanding sekuel sebelumnya, tapi gak mengurangi keasyikan cerita seremnya sih.
Seru sih, tapi melelahkan buat saya.Dan ternyata ini buku ke 2 yak? Banyak adegan terasa bertele tele, atau mungkin saya yang nggak terkoneksi dengan cerita secara keseluruhan?
Pertanyaan saya, siapakah yang menambah/ mengubah lukisan.Si pelukis sendiri atau siapa?
Buku ini adalah buku kedua dari Omenseries, tapi aku baca dulu tanpa baca buku pertamanya.. Bagusnya adalah tetap paham & ceritanya utuh meski ga baca buku pertamanya. Seru dan sangat bagus sih. Cocok banget buat kamu yang suka thriller
Seru banget hahaha alurnya bikin pembaca penasaran. Cuplikan masalah ditampilin di prolog tapi terus di awal baru membangun cerita. Sampai pertengahan baru membahas yang bagian prolog. Asli seruuu cuma dua hari bacanya, bikin penasaran banget! Hai Rima, welcome to the gang! 🤪
menurut ku ini lebih seru dari yang pertama karena adegan berantemnya lebih banyak, terus karakternya juga lebih dikenalkan secara mendalam. Ada romance tipis tipis nya yang ga bikin geli, sejauh ini masih ada 2 couple sih. Walaupun lebih plot twist yang pertama sih tapi tetap keren dan seru.