What do you think?
Rate this book


246 pages, Paperback
First published May 31, 2013
Buku kedua dari PlotPoint yang saya baca setelah Cosplay—sa ya sendiri membeli buku ini karena tertarik dengan blurb-nya. Waktu itu, saya memberikan pujian kepada buku itu.. Kini, sepertinya, saya juga harus memberikan pujian kepada buku ini.. Namun, sebelumnya, kita masuk ke sinopsis dulu.
U- Turn bercerita tentang Karindra, seorang perempuan yang (kalau tidak salah) berusia di awal 30-an. DI usia segitu, ia sudah beberapa kali mencoba peruntungan cintanya dengan sejumlah laki-laki. Namun, hanya satu yang sampai kini melekat di hatinya, yakni seorang cowok bernama Bre. Akan tetapi, nahas, atas alasan yang tidak ia ketahui Bre memutuskan hubungan mereka. Terluka, Karin memutuskan untuk menerima ajakan David—kepala bagian kreatif kantor Karin bekerja—untuk pergi ke Kuala Lumpur demi alasan pekerjaan. Di sana, ia bertemu Chuan, seorang produser PH berparas Cina-Melayu yang ; sedikit demi sedikit membuat ia merasa nyaman.
Terdengar seperti percintaan klise ala chick lit?
Pada awalnya, saya juga berpikir seperti itu. Pada awalnya, saya menduga kalau Karin ini cuma seorang wanita dewasa yang agak suka melampiaskan masalahnya dengan minum alkohol, obat penenang, dan juga cara-cara eskapisme sementara lainnya. Pada awalnya, saya tidak begitu menyukai perilaku Karin yang—menurut standar moral saya—kurang dapat diterima.
But, wait until you read the whole book. Just wait. For the time being, seperti biasa, saya akan menulis reviu berdasarkan aspek-aspek karya fiksi.
Pertama, setting. Setting tempat ini adalah di sekitar Jakarta-Kuala Lumpur, dan dijabarkan dengan jelas (dan itu termasuk beberapa nama jalan di negeri jiran itu). Saya sendiri kurang begitu ahli dengan dua jenis setting ini, jadi saya hanya dapat memuji komposisinya yang berimbang. Setting di U-Turn tidak terlalu berlebihan sehingga terasa seperti buku travelling, tapi juga cukup detail sehingga tidak terasa “mengawang-awang”. Sejauh ini, saya bisa bilang setting-nya oke dan menarik—bahkan untuk saya yang, sebenarnya, lebih suka setting tempat fiksional atau justru tidak disebutkan sama sekali.
Poin kedua, karakter. Sebelum saya membahas mengenai karakter-karakternya, saya mau cerita dulu. Ketika membaca buku ini, saya akhirnya dapat insight mengenai perbedaan karakter dan karakterisasi. Karakter biasanya berkaitan dengan person secara keseluruhan, dan, pada umumnya, lebih mengarah kepada apakah kita selaras dengan karakter itu atau tidak. Jika kita, sebagai pembaca, selaras dengan karakter itu, maka kita akan menyukai karakter itu dan akan dapat dengan mudah berempati kepadanya. Sebaliknya, karakterisasi biasanya berkaitan dengan person orang itu secara sebagian yang disebar ke seluruh cerita. Kalau menurut Orson Scott Card sih ada beberapa hal yang menyumbang pada karakterisasi, seperti motif, masa lalu, reputasi, stereotip, jaringan pertemanan, kebiasaan, bakat dan kemampuan, dan preferensi (hal yang ia sukai).
Oke, lupakan racauan saya. Sekarang, kita akan bahas para karakter.
Saya pernah bilang saya kurang suka karakternya, tapi saya suka karakterisasinya. Wajar saja karena sifat saya tidak selaras dengan karakter Karin. Karin, seperti yang saya bilang, menyukai eskapisme sementara, sementara saya tidak. Namun, saya suka karakterisasinya. Kebiasaan dan sifat karakter utama terlihat firm di sini, dan begitu pula caranya menghadapi konflik. Namun, satu hal yang pasti, tidak ada yang lebih firm dibandingkan masa lalunya —yang, menurut saya, ditata dengan apik dalam plot. Selain itu, karakter-karakter lain (dan juga karakterisasi mereka) juga oke. Sepertinya, nyaris tidak ada karakter yang wasted; para karakter tampaknya menjalani peran mereka dengan baik
Berikutnya, saya akan beranjak kepada plot dan konflik.
Saya suka plotnya. Serius. Garis plotnya terasa enak diikuti, dan ada beberapa adegan yang sepertinya berlangsung natural, tapi ketika kita sudah mencapai suatu titik, adegan-adegan itu terasa begitu...menjelaskan. Meski begitu, memang, kelemahan dari cerita ini adalah plotnya yang campur-baur. Saya sedikit mengalami kesulitan menentukan mana yang masa kini dan masa lampau. Betewe, jangan harap menemukan adegan yang lovey dovey romantically. Ada sih, beberapa bagian yang cukup menyiratkan romens, tapi percayalah, novel ini tidak ditujukan untuk itu.
Oh, ya, dan satu lagi, buku ini juga memiliki plot twist yang...well, silakan baca sendiri.
Terus, berikutnya masuk ke konflik. Konflik cerita ini terbagi dua, konflik masa lampau dan konflik masa kini. Keduanya, direpresentasikan dengan cukup baik, meski—sebagaimana alur—kadang saya agak bingung membedakan keduanya. Meski demikian, menurut saya, konfliknya oke. Beberapa cukup dekat dengan kehidupan (percintaan), sedangkan beberapa cukup distant.
Terakhir, gaya bahasa. Gaya bahasa campuran, sebagian cukup berat, tapi sebagianlain lebih ringan. Meski demikian, novel ini bukanlah novel dengan gaya bahasa yang akan membuat kita haha-hihi. This is one serious deal. Pretty serious in fact, karena ada beberapa serapah. Meski demikian, tidak ada bahasa yang berlebihan—sebagian besar ditempatkan dengan cukup baik. Sayang sekali ada beberapa salah ketik minor.
Kesimpulan? Seperti yang saya bilang, saya suka. Empat setengah seharusnya, karena setengahnya terpakai untuk beberapa hal seperti karakter yang kurang selaras dengan saya, kata-kata yang tidak appropriate, dan juga salah ketik. Namun, di luar itu, oke. Kalau kalian suka kesuraman dan juga plot yang “tidak mudah tertebak”, mungkin kalian bisa mengecek buku ini.