Jump to ratings and reviews
Rate this book

U-Turn

Rate this book
Karin selalu takut mencintai dirinya. Hampir separuh hidupnya ia mencari cinta dari orang lain. Baginya, itu jauh lebih mudah. Namun, kini orang yang dia pikir akan jadi cinta terakhirnya memutuskan untuk pergi.

Kehilangan Bre memaksa Karin kembali beradu dengan luka-luka hidupnya yang masih menganga. Dunianya kini jadi jungkir balik. Kini Karin terpaksa melihat kembali ke titik-titik penting perjalanan hidupnya. Mulai dari saat Bre menatapnya dalam mobil waktu itu. Mulai dengan mencari penebusan pertanyaan Bre: “Karin, apa benar—lo dulu pernah membunuh orang?”

Kini hidupnya terhenti. Karin tahu dia tidak lagi bisa terus berjalan. Dia harus berbalik.


Nadya Prayudhi adalah seorang penulis buku harian sejak SMP, penulis puisi, cerpen dan novel entah sejak kapan, dan penulis naskah iklan sejak lulus kuliah D3 Komunikasi Periklanan FISIP UI. U-Turn adalah novel pertamanya dan membutuhkan sembilan tahun untuk menyelesaikannya.

246 pages, Paperback

First published May 31, 2013

3 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Nadya Prayudhi

2 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (17%)
4 stars
44 (38%)
3 stars
31 (27%)
2 stars
14 (12%)
1 star
4 (3%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
January 6, 2016
Duluuuu sekali, sempat lihat buku ini di obralan, dan nggak aku toleh. Di tempat yang sama, temanku malah rebutan. Dan, benar aja, setelah mereka baca, katanya novel ini bagus. Terus, aku pinjam...

Satu tahun kemudian.

Ternyata memang bagus! Salah satu novel phsyco-thriller favorit setelah Katarsis yang fenomenal itu.

Walaupun bacanya agak diseret-seret karena 'panasnya' lama. Sempat bingung ceritanya mau dibawa ke mana, ditambah lagi penggunaan PoV yang tumpang-tindih dari satu jadi tiga balik ke satu lagi. Apaan! Sampai di halaman 170, lalu bengong... Syiiit, twist-nya sukses nggak tertebak. Klimaks ceritanya berhasil. Ternyata deretan narasi bertele-tele di belakang berguna untuk menutup ending yang bagus. Nggak salah kalau penulis butuh waktu 9 tahun untuk menulis U-Turn.

Akan membaca karya Mbak Nadya yang lain!
Profile Image for Juno Tisno.
Author 1 book20 followers
June 24, 2013

Buku kedua dari PlotPoint yang saya baca setelah Cosplay—sa ya sendiri membeli buku ini karena tertarik dengan blurb-nya. Waktu itu, saya memberikan pujian kepada buku itu..  Kini, sepertinya, saya juga harus memberikan pujian kepada buku ini.. Namun, sebelumnya, kita masuk ke sinopsis dulu.

U- Turn bercerita tentang Karindra, seorang perempuan  yang (kalau tidak salah) berusia di awal 30-an. DI usia segitu, ia sudah beberapa kali mencoba peruntungan cintanya dengan sejumlah laki-laki. Namun, hanya satu yang sampai kini melekat di hatinya, yakni seorang cowok bernama Bre. Akan tetapi, nahas, atas alasan yang tidak ia ketahui Bre memutuskan hubungan mereka. Terluka, Karin memutuskan untuk menerima ajakan David—kepala bagian kreatif kantor Karin bekerja—untuk pergi ke Kuala Lumpur demi alasan pekerjaan. Di sana, ia bertemu Chuan, seorang produser PH berparas Cina-Melayu yang ; sedikit demi sedikit membuat ia merasa nyaman.

Terdengar seperti percintaan klise ala chick lit?

Pada awalnya, saya juga berpikir seperti itu. Pada awalnya,  saya menduga kalau Karin ini cuma seorang wanita dewasa yang agak suka melampiaskan masalahnya dengan minum alkohol, obat penenang, dan juga cara-cara eskapisme sementara lainnya. Pada awalnya, saya tidak begitu menyukai perilaku Karin yang—menurut standar moral saya—kurang dapat diterima.

 But, wait until you read the whole book. Just wait. For the time being, seperti biasa, saya akan menulis reviu berdasarkan aspek-aspek karya fiksi.

Pertama, setting. Setting tempat ini adalah di sekitar Jakarta-Kuala Lumpur, dan dijabarkan dengan jelas (dan itu termasuk beberapa nama jalan di negeri jiran itu). Saya sendiri kurang begitu ahli dengan dua jenis setting ini, jadi saya hanya dapat memuji komposisinya yang berimbang. Setting di U-Turn tidak terlalu berlebihan sehingga terasa seperti buku travelling, tapi juga cukup detail sehingga tidak terasa “mengawang-awang”.  Sejauh ini, saya bisa bilang setting-nya oke dan menarik—bahkan untuk saya yang, sebenarnya, lebih suka setting tempat fiksional atau justru tidak disebutkan sama sekali.

Poin kedua, karakter. Sebelum saya membahas mengenai karakter-karakternya, saya mau cerita dulu. Ketika membaca buku ini, saya akhirnya dapat insight mengenai perbedaan karakter dan karakterisasi. Karakter biasanya berkaitan dengan person secara keseluruhan, dan, pada umumnya, lebih mengarah kepada apakah kita selaras dengan karakter itu atau tidak.  Jika kita, sebagai pembaca, selaras dengan karakter itu, maka kita akan menyukai karakter itu dan akan dapat dengan mudah berempati kepadanya. Sebaliknya, karakterisasi biasanya berkaitan dengan person orang itu secara sebagian yang disebar ke seluruh cerita. Kalau menurut Orson Scott Card sih ada beberapa hal yang menyumbang pada karakterisasi, seperti motif, masa lalu, reputasi, stereotip, jaringan pertemanan, kebiasaan, bakat dan kemampuan, dan preferensi (hal yang ia sukai).

Oke, lupakan racauan saya. Sekarang, kita akan bahas para karakter.

Saya pernah bilang saya kurang suka karakternya, tapi saya suka karakterisasinya. Wajar saja karena sifat saya tidak selaras dengan karakter Karin. Karin, seperti yang saya bilang, menyukai eskapisme sementara, sementara saya tidak. Namun, saya suka karakterisasinya. Kebiasaan dan sifat karakter utama terlihat firm di sini, dan begitu pula caranya menghadapi konflik. Namun, satu hal yang pasti, tidak ada yang lebih firm dibandingkan masa lalunya —yang, menurut saya, ditata dengan apik dalam plot. Selain itu, karakter-karakter lain (dan juga karakterisasi mereka) juga oke. Sepertinya, nyaris tidak ada karakter yang wasted; para karakter tampaknya menjalani peran mereka dengan baik

Berikutnya, saya akan beranjak kepada plot dan konflik.

Saya suka plotnya. Serius. Garis plotnya terasa enak diikuti, dan ada beberapa adegan yang sepertinya berlangsung natural, tapi ketika kita sudah mencapai suatu titik, adegan-adegan itu terasa begitu...menjelaskan. Meski begitu, memang, kelemahan dari cerita ini adalah plotnya yang campur-baur. Saya sedikit mengalami kesulitan menentukan mana yang masa kini dan masa lampau. Betewe, jangan harap menemukan adegan yang lovey dovey romantically. Ada sih, beberapa bagian yang cukup menyiratkan romens, tapi percayalah, novel ini tidak ditujukan untuk itu.

Oh, ya, dan satu lagi, buku ini juga memiliki plot twist yang...well, silakan baca sendiri.

Terus, berikutnya masuk ke konflik. Konflik cerita ini terbagi dua, konflik masa lampau dan konflik masa kini. Keduanya, direpresentasikan dengan cukup baik, meski—sebagaimana alur—kadang saya agak bingung membedakan keduanya. Meski demikian, menurut saya, konfliknya oke. Beberapa cukup dekat dengan kehidupan (percintaan), sedangkan beberapa cukup distant.

Terakhir, gaya bahasa. Gaya bahasa campuran, sebagian cukup berat, tapi sebagianlain lebih ringan. Meski demikian, novel ini bukanlah novel dengan gaya bahasa yang akan membuat kita haha-hihi. This is one serious deal. Pretty serious in fact, karena ada beberapa serapah. Meski demikian, tidak ada bahasa yang berlebihan—sebagian besar ditempatkan dengan cukup baik. Sayang sekali ada beberapa salah ketik minor.

Kesimpulan? Seperti yang saya bilang, saya suka. Empat setengah seharusnya, karena setengahnya terpakai untuk beberapa hal seperti karakter yang kurang selaras dengan saya, kata-kata yang tidak appropriate,  dan juga salah ketik. Namun, di luar itu, oke. Kalau kalian suka kesuraman dan juga plot yang “tidak mudah tertebak”, mungkin kalian bisa mengecek buku ini.

Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
August 26, 2013
Saya suka bagaimana Mbak Nadya, yang kebetulan sepupu saya ini, menyerahkan sebuah draft kepada saya untuk dibaca sebelum akhirnya beliau menyerahkan kepada sebuah penerbit untuk diterbitkan. Saya selalu terpesona dengan sebuah cerita psycho, thriller, dan sebagainya yang terkadang memakai teori psikologi terbalik. Atau terkadang seperti halnya yang diciptakan oleh Sigmund Freud, kita kadang bisa memilih salah satu dari Id, Ego, atau SuperEgo untuk dimunculkan dan terbentuklah sebuah cerita dengan muatan psikologi.

U-Turn memakai pola flashback. Kita akan dihadapkan dengan campuran cerita dan latar belakang Karin yang memutuskan untuk melakukan sesuatu karena terbentur dengan masa lalunya yang membuatnya trauma. Rasa trauma ini yang kemudian menimbulkan ketakutannya dan menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya terhadap hubungan percintaannya. Meski pada akhirnya kita semua tahu bahwa hal semacam cinta tidak perlu untuk dipertanyakan tanpa memandang masa lalu.

Sebagai novel debut, bagi saya secara objektif, U-Turn adalah novel cerdas dan luar biasa. Pun ditambah dengan kenyataan bahwa U-Turn ditulis selama sembilan tahun. Mbak Nadya, I'm so proud to have a cousin like you. Well said!
Profile Image for Ajen Angelina.
21 reviews6 followers
June 25, 2013
Menurut gue Novel ini keren..Gue suka sama konfliknya dan cara para tokoh mengatasi konflik tersebut...
Kayanya worth it lah si penulis nulis buku ini sampai 9 tahun :D
Gue suka adegan Karin dan Papanya yang setengah bule, setengah jawa itu :D
Profile Image for Happy Alfi Azizah.
47 reviews3 followers
August 16, 2013
bisa nangkep sih ide plotnya lumayan.. tp cara ngeraciknya yg gak suka.. terlalu ngebingungin, terlalu banyak deskripsi n narasi gk diimbangi dgn dialog..endingnya jg kurang sreg.. ceritanya nggak membekas di hati.. bukan tipe novel yg mmbuatku pengin membacanya ulang..
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 14, 2017
“Tuntaskan segala permasalahan yang kamu punya. Ayo, Karin, make a u-turn and you’ll be happy. Like me.” (halaman 192)
Mungkin kita semua pernah membuat masalah besar, lalu lari dari tanggung jawab karena takut akan konsekuensi yang harus kita hadapi. Mungkin kita pernah jadi seorang pengecut pada suatu fase dalam hidup kita. Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Terus jadi pengecut, atau berubah dan menyelesaikan semuanya?
Pilihan pertamalah, yang awalnya dipilih oleh Karin, tokoh sentral dalam novel ini. Perempuan berusia 32 tahun itu belum memikirkan akan melangsungkan pernikahan dengan pacarnya yang ia pikir adalah cinta terakhirnya, Bre. Tapi itu bukan berarti ia tak hancur ketika tiba-tiba Bre memutuskannya. Karin, yang penasaran apa alasan Bre sebenarnya hingga memutuskan hubungan mereka, merenung, memikirkan kembali masa lalunya yang tak indah, akibat sebuah masalah besar yang pernah ia buat sewaktu SMA. Perenungan itu membawanya kembali ke kenangan akan pelariannya yang bertubi-tubi. Ke Pasadena dan menjalani kehidupan pergaulan bebas gaya barat di sana. Lalu pulang ke Indonesia, bertemu lelaki pertamanya, Vicky, di Bali, yang suka menyakitinya secara fisik. Kemudian, di Malaysia, ia bertemu dengan lelaki keduanya, Chuan, yang adalah gay. Tetapi kehadiran pria itu yang hanya sekejap ternyata berdampak masif baginya.
Kemudian ia bertemu Bre pertama kali. Sebuah pertanyaan darinya membuat Karin kelimpungan, “Karin. Apa benar—lo dulu pernah membunuh orang?” (halaman 39). Pertanyaan ini menguak luka dalam yang tengah berusaha ia jauhi, dengan pelarian-pelarian itu, termasuk berkonsultasi dengan seorang psikiater yang menjelma jadi sahabat baiknya, Marissa. Karin terus lari, hingga ia sampai di sebuah titik yang mempertemukannya dengan Bre, Marissa, dan menariknya ke sebuah kenyataan yang tak diduganya akan berkaitan dengan kematian sepupu dekatnya, Abi, di masa lampau. Titik inilah yang pada akhirnya menyadarkannya untuk berhenti menjadi seorang pengecut, dan berbalik; menyelesaikan masalah-masalahnya.
Tanpa typo sedikitpun, sang penulis, Nadya Prayudhi, mengajak kita bertualang bersama kenangan-kenangan Karin, dari Jakarta, Pasadena, Malaysia, hingga Bali. Meski setting tempat berpindah-pindah secara lumayan cepat, deskripsi latar yang sederhana namun cukup detil, tetap mampu menghanyutkan saya. Begitu juga dengan setting waktu yang meskipun melompat-lompat—present to past and conversely—sama sekali tak membingungkan saya. Novel ini terbagi menjadi 31 bab dan satu epilog yang pendek-pendek, sukses menyuntikkan aroma misterius dan dark dalam novel ini, sekaligus sama sekali tak membikin saya bosan. Ukuran font, spasi, dan margin halaman yang pas juga mendorong saya untuk terus menikmati halaman demi halaman. Tangan piawai Nadya Prayudhi berhasil menciptakan rasa penasaran secara terus menerus dari setiap bab, hingga berujung pada ending yang tak terduga, dan membuat saya puas ketika segala misteri itu terungkap kebenarannya. Selain itu, saya suka tokoh Chuan dalam novel ini. Ia adalah seorang gay yang tetap punya pilihan untuk berubah, dan dia melakukan itu.
Dengan harga yang terjangkau, 39.000 rupiah, pembaca dapat menikmati sebuah karya metropop bernuansa dark dan misteri yang tak akan mengecewakan jalan cerita dan ujungnya. A very recommended book!
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
November 19, 2015
U-Turn adalah buku terbitan Plotpoint ketiga yang aku baca setelah My Life as Writer dan Stasiun. Entah kenapa buku-buku fiksi terbitan Plotpoint selalu menarik, apakah karena design covernya atau sinopsis dibagian belakang yang bikin penasaran dan sama sekali tidak menjebak seperti sinopsis buku fiksi terbitan *ehem* penerbit yang lain :p

Dari cover depan dan juga sinopsisnya, aku memperkirakan garis besar isi novel U-Turn ini. Design cover U-Turn memiliki warna yang cerah dan menarik namun memiliki tema sedikit dark. Di sana digambarkan ada seorang gadis berdiri memandangi gadis lain yang ‘tenggelam’. Kedua gadis itu memiliki model rambut yang sama, saudara kembar, kah? Kenapa sesama saudara tidak saling menolong? Apakah ada persaingan diantara mereka? Sinopsis di bagian belakang menjelaskan bahwa salah satu gadis itu bernama Karin. Lalu ada teka-teki tentang pembunuhan yang sepertinya memang dilakukan oleh Karin. Jadi, apakah Karin benar-benar membunuh seseorang? Saudara kembarnya? Tema cerita yang melibatkan sebuah pembunuhan tentunya menarik untuk diikuti ;)

Setelah membaca U-Turn secara keseluruhan, yaaa, ada beberapa perkiraan awalku yang meleset. U-Turn ternyata menceritakan tentang Karin yang baru diputuskan oleh Bre, pacarnya yang sudah bersama selama dua tahun kebelakang. Karin sama sekali tidak tahu alasannya. Sambil terus mencoba menghubungi Bre untuk meminta penjelasan, Karin mengingat-ngingat kehidupannya sebelum bertemu dan berpacaran dengan Bre. Mulai dari mantan pacarnya yang ringan tangan sampai gay, kehidupannya saat kuliah dan bekerja di luar negeri dan Bali, kehidupan sekolahnya di Jakarta bersama teman baiknya, Abi dan juga seorang gadis yang membuatnya ketakutan dan depresi sampai harus konsultasi ke psikolog. Tidak ada saudara kembar tapi jelas ada seseorang yang ‘tenggelam’ :O

Baca review lengkapnya disini --> http://dhynhanarun.blogspot.com/2013/...
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 18 books463 followers
January 7, 2014
3,5 bintang!

Karin hidup dalam bayang-bayang masa lalu tentang masalah yang tak/belum terselesaikan.
Btw, gue jadi kepikiran tentang sejarah kelam bangsa Indonesia tercinta yang juga tidak/belum terselesaikan dengan baik. Oke, abaikan.

Asik. Gue baca buku ini sekali duduk. Dari jam 11 siang sampai 13.30. Alurnya rumit. Maju mundur, tapi gue nggak menemukan kesulitan untuk memahaminya. Karakter Karin kuat. Gue kagum Karin nggak sampai gila beneran. Plotnya rumit, dipenuhi teka-teki yang membuat gue bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan kehidupan Karin. And I Love Bre, anyway ;)

Tapi ada satu kebocoran ketika mengulas soal kematian Zara. Di depan, dikatakan Zara meninggal tiga hari setelah penyerangan. Tapi di belakang disebut kalau Zara sudah dirawat selama seminggu akibat Epidural Hematoma. Tapi itu bukan masalah sih. Hanya saja sepanjang cerita ini, gue sibuk bertanya-tanya, betapa alam semesta itu penuh misteri. Bagaimana bisa, Karin yang udah melalang buana sampai ke Pasadena, Bali, Kuala Lumpur, dipertemukan dan dihubungkan dengan orang-orang dari masa lalunya? Ah semesta. Benar kata Icha, Tuhan punya selera humor yang tinggi.

Good Job, Mbak Nadya!
Profile Image for Ghyna Amanda Putri.
Author 24 books62 followers
October 2, 2013
Langsung aja lah ya, nggak usah pake behind the scene dulu... #yalangsungsana

Ceritanya... sebenernya saya lumayan banyak juga baca yang model gini, jadi nggak begitu aneh. Cuma yang saya tau emang susah banget buat bikin cerita yang konfliknya muter-muter dengan banyak sub-konflik lainnya, dan pada akhirnya semua jadi satu. Di U-turn ini yang bikin saya wah mungkin soal hubungan karakternya, yang ternyata saling kenal. Mereka dihubungkan oleh satu kasus yang berputar-putar. Agak kurangnya pas bagian akhir, soal tokoh Icha yang dibuat jadi antagonis padahal menurut saya kayaknya lebih bagus dia stay dengan citra baiknya karena pas adegan marah-marah, kayaknya nggak dapet aja gitu. Mana akhirnya ditutup dengan anti-klimaks kemarahan yang justru timpang dengan emosi meluap-luap sebelumnya.

Ah, dan yang sangat disayangkan... ini kenapa ada beberapa bagian buku yang kepotong ya? Saya dua kali baca buku terbitan Plot Point dan dapet cetakan yang kurang sempurna. Rasanya sedih aja karena jadi nggak bisa baca halaman yang kepotong setengahnya itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tiara Orlanda.
201 reviews18 followers
September 16, 2015
Well, pertama beli buku ini karena tertarik sama cover bukunya yang simpel. Terus baca sinopsisnya dan punya ekspektasi lumayan tinggi sama buku ini.

Awalnya, nemu beberapa bagian "miss" seperti pembunuhan yang dilakukan Karin yang sepertinya kurang sadis (maafkan jiwa brutal ini), tingkah laku Marissa sebagai psikiater yang aneh, dsb.

Tapi perlahan dari tengah ke belakang, semuanya kebuka dan terasa pas aja gitu.

Gak suka part Chuan. i dont know, tapi ya secara personal menurutku agak dipaksakan dengan Kalista. Apalagi di awal tidak ditunjukkan soal hub Kalista dan Chuan untuk mengarah ke sana, bahkan nyatanya sampai menikah.

Awalnya gak ngerti maksud dari U-Turn di judul, sekarang udah ngerti :)

"Sometimes, you dont need to run and run ,sometimes what you need to do is just stop running and make your u-turn"
Profile Image for Imeh.
9 reviews
August 20, 2013
every detail is very clearly awesome!

i am clearly change to be good because of this book.
my brain, my mind, is change because read this book.

meskipun sering dunia itu begitu dekat dunia begitu pendek, untuk suatu hal kadang dunia tidak sedekat yang kita pikirkan tidak seperti di buku ini, tapi benar, saat kamu benar-benar jatuh di bawah, kapan titik balik kamu mau berdiri ke atas, berdiri, bangkit, dan tidak terus melarikan diri.

this book, opening my mind. i like it.
not cheesy, berbobot.

yeah, how's life?
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
July 1, 2013
I like it when U-turn breaks my initial expectation. I like more when it fulfills its promise, or to be exact Nadya Prayudhi does it :), but...somehow the last blow isn't blowing enough like the previous ones. But as I expected, Plot Point has a different taste for their books, which so far I enjoy.

Dear Nadya Prayudhi,
I'm waiting for your next book.

Sincerely,
Your Reader :)


A complete review is on http://niratisaya.wordpress.com/2013/...
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
July 14, 2016
Saya nggak menaruh harapan apa-apa saat membaca buku ini. Saya juga belum membaca review teman-teman sehingga saya tidak tahu buku ini bercerita tentang apa.

Di awal-awal, saya bingung. Sebenarnya mau nyeritain apa, sih? Alurnya yang maju-mundur, sudut pandang yang tumpang-tindih, dan tokoh yang dibuat masih misterius membuat cukup malas. Namun, semakin ke belakang, ceritanya semakin menarik. Twist-nya juga oke, meski ada kebetulan di sana-sini, tapi itu termaafkan. :)
Profile Image for Salsabila Ghina.
19 reviews14 followers
July 10, 2013
Sederhana,tapi pas banget! Konfliknya yang rumit inilah yang bikin menarik. Kaya main tebak-tebakan
8 reviews
August 11, 2021
Seperti biasa, membaca novel memiliki kesenangan tersendiri untuk para pembacanya-termasuk aku. Beberapa novel yang pernah kubaca tetap menyenangkan untuk dibaca kembali, salah satunya novel karya Nadya Prayudhi berjudul U-Turn. Cover novel ini didominasi warna cokelat muda dengan desain sederhana, namun menarik. Terdapat seorang perempuan yang menghadap ke samping-melihat dirinya sendiri yang tenggelam sendirian. Perempuan dalam gambar ini seakan menggambarkan sosok Karin yang masih dihantui masa lalu dan memilih untuk melarikan diri menghindarinya.

Aku pikir, cerita ini sebanding dengan lamanya waktu yang dibutuhkan penulis untuk menciptakannya-yang kabarnya selama 9 tahun itu. Setiap karakter dalam cerita memiliki porsi yang pas sehingga penulis tidak hanya menonjolkan kedua pemeran utama. Selain itu, banyak misteri yang mengejutkan-tidak terbayang sebelumnya sebelum bagian itu terlihat, membuat readers penasaran dan merasa harus menuntaskan isi hingga selesai sebelum menutupnya. Penulis berhasil menguras emosi readers melalui tokoh-tokohnya dan itu menjadi nilai plus tersendiri dalam cerita ini.

Untuk review lebih lanjut, kunjungi blog berikut ya! (https://senandung-sastra.blogspot.com...)
76 reviews
January 10, 2015
Whoa. Susah juga ya menjelaskan novel ini. Saya sampai bingung mau nulis kayak apa.

Pertama-tama, saya beli ini karna kebetulan lagi ada discount di sebuah toko buku online, dan setelah saya nyari di goodreads dan ngeliat banyak reviews yang positif, akhirnya saya pun membelinya. (Oke ini nggak penting)


Hmm, jadi begini...


Kalo dilihat dari alur, novel ini beralur campuran. Kebanyakan sih alur mundur. Cuman agak bingung juga di awal-awal karna nggak dijelasin kalo itu flashback. Lalu, saya nggak habis pikir sih sama semua tokohnya. Kayaknya adaaa aja masalahnya. Dan ngomong-ngomong, saya prihatin banget sama Karin. Nggak kebayang kalo saya jadi dia, mungkin saya bakalan lebih stress lagi daripada dia. Dan, oya, mengingat ending-nya seperti apa, kayaknya dunia ini emang cuman selebar daun kelor, ya. Hihihi.

Jadi, ya, untuk ide cerita, oke banget. Benar-benar unpredictable. Apalagi waktu saya sampai di halaman 170 dan menemukan pikiran Marisa mengenai Karin yang tertulis begini:



Saya bingung setengah mati. Karna setau saya Marisa justru baik. Saya bahkan sempat mikir, apa ini penulisnya salah atau gimana? Setelah sampai di ending, barulah saya mengerti kalau , makanya dia punya pikiran seperti tadi. See? Emang nggak ketebak banget.

Nah, untuk gaya bahasa, lumayan sih. Nggak dibuat pusing kecuali yang bagian flashback seperti yang saya bilang tadi. Untuk karakter, oke. Semuanya punya porsi masing-masing, yang kurang hanya chemistry. Saya nggak bisa ngerasain chemistry Karin dengan Bre, Chuan, bahkan Vicky. Entah ya, saya nggak dapet aja gitu feel-nya. Dan ini agak disayangkan sebenarnya, mengingat saya ini into romance banget. Tapi ya sudahlah, toh tema ini memang sepertinya bukan tema utama yang diangkat.

Selain itu apalagi, ya? Hmm, saya rasa pesannya juga cukup tersampaikan dengan baik. Dan, ya, saya cukup suka cover-nya walaupun agak kurang relevan. Begitu juga dengan bookmark-nya. Hehe.

So, secara keseluruhan, saya cukup menyukai novel ini. Dan saya beri bintang 3 untuk U-Turn.

P.S. Oya,kenapa banyak banget kata-kata yang dicetak miring padahal bukan bahasa asing, ya? Agak mengganggu buat saya.
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews10 followers
April 8, 2014
Mengisahkan tentang seorang cewe bernama Karin yang mempunyai sepupu bernama Abi.. Oke jadi si Abi ini dia kya gay gitu, suka sama temen sekolahnya yang bernama Bram. Zara, cewe yang suka sama Bram ini tentu aja gk terima. Dia mengolok-olok Abi sampe akhirnya banyak temen2 sekolahnya yang benci sama Abi. Hingga suatu hari si Abi ini meninggal karena ketabrak mobil akibat ulah teman2 sekolahnya.. Karin yang memang dari kecil sangat dekat dengan Abi ini tentu aja gk terima. Dia berniat balas dendam sama Zara..

Hingga suatu saat Karin nyamperin Zara, dan sengan sengaja dorong Zara ke selokan.. Tak disangka Zara meninggal dunia karena pas dia nyungsep di selokan gitu, kepalanya ketimpah batu..

Nah nahh ini nihhh disini nih yee mulai belibet deh urusannya.. Bingung ini gue mau lanjutin review nya lagi, ditambah baca ini udah dari 3 hari yang lalu, dan gue agak2 lupa sama jalan ceritanya *bengong sampe kurus*

Jadi begini nih bro, si Karin ini agak depresi juga sih pas tau Zara meninggal, karena tanpa sengaja kan emang bisa dibilang Zara meninggal karena dia. Jadi si Karin ini datenglah ke psikiater gitu, Marissa namanya. Dia nyeritain apa yang jadi masalah dia selama ini dan blab la blaa gitulah cin kya emak2 arisan gitu.

Sampe akhirnya Karin ketemu sama Bree, dan yap mereka pacaran. Dan dan dannn ternyata si Bree ini adalah Bram, cowok yang dulu disukai si Abi itu. Dan lo tau Marissa si psikiater Karin itu, nah dia adalah temen deketnya Zara. Dan dia gk terima Zara meninggal karena Karin, jadilah selama ini obat2an yang dikasih dia ke Karin itu bukan bikin Karin sembuh tapi malah bikin dia ngalamin halusinasi2 gk jelas yang bikin dia tertekan terus karena kesalahannya udah bunuh si Zara ini..

Ya intinya mah begitu dah ya.

Agak belibet emang, tapi jujur gue suka sama alur ceritanya. Gk gampang ketebak banget dan bikin emosi gue naik turun kya lagi main masak-masakan (oke, sejak kapan main masak2an naik turun) *mikir keras*

Gk butuh waktu lama buat baca nih novel, karena emang gue selalu dibikin penasaran sama kelanjutan ceritanya. Dan untuk ukuran penulis yang baru pertama kali gue baca karya nya, gue salut banget. Salut sama ide ceritanya yang bisa dibilang agak istimewa dan gk gue temuin di cerita lainnya. Walau memang ada beberapa yang seperti “sinetron” tapi it’s okey karena memang gue menikmati cerita ini ^^

Profile Image for Indah Dewi.
21 reviews
September 7, 2014
Buku terbitan Plotpoint pertama yang saya baca, ngandelin review dari goodreads dan covernya yang menurut saya bikin saya tertarik. Cover buku ini kayak ikut bercerita dan bikin saya penasaran. Belinya kolpri karna susah nyarinya di kota saya.
Saya suka banget sama cerita yang nyuruh saya buat menggabungkan dan memasangkan puzzle teka-teki seperti ini. Isu psikis juga diangkat. Idenya saya suka juga, tentang kejadian masalalu dan rantai-rantai yang terhubung dari kehidupan-kehidupan Karin.
Tapi saya menemukan banyak hal yg membuat nggak nyaman. Walaupn saya mengerti maksudnya apa, tp saya rasa lebih baik di buat lebih rapi dalam pemisahan antara flashback dan masa kini-nya. awalnya bingung gitu sih bacanya. trus ada beberapa sapaan yg ga konsisten, misal si Marisa nih, ngomongnya pertama pake "elo" trus tiba2 kok jadi "kamu" dalam satu kalimat. ada beberapa dialog yg kayak gitu jg, ga cuma di Marisa.
Untuk main character, saya gak terlalu suka sih sama Karin, lemah sekali, tp tetap saya maklumi mungkin krn psikisnya begitu (*sotoy :p CMIIW) sekalipun begitu hal tsb ttap saya maklumi, dgn alasan, karakter karin yang begitu itu membuat novel ini tampak hidup.
saya salut sama mbak nadya yg menyelesaikan U-TURN ini dalam waktu 9 tahun.
Tp selain poin di atas, saya cukup puas dengan novel bergenre semacam ini. saking excitednya saya bisa habisin dalam sehari hehe, biasanya saya baca novel sama bbrp hari sih *lol*
Profile Image for Acipa.
141 reviews12 followers
September 16, 2015
Selengkapnya: http://asysyifaahsbook.blogspot.co.id...

Tahu rasanya meresensi buku yang sudah lama—sudah lama dibeli, sudah lama dibaca, sudah lama membuat draf resensi—lalu baru ingat lagi sekarang? Iya, padahal aku tahu belakangan ini sedang dikejar dengan kesibukan sekolah, tapi masih tetap nekat menambah-nambah kegiatan. Hehe xD

Meski begitu, paling tidak aku masih ingat alur yang lebih banyak turn back-nya ini. Masalah waktu, nggak begitu aku perhatikan karena jujur aku menikmati saat-saat dimana Karin memutar balik keadaan di waktu yang sudah pernah dilaluinya itu.

Di awal cerita kita akan disuguhkan dahulu soal perpisahan antara Karin dengan Bre, baru kemudian soal konflik cinta yang dialami Karin sebelum akhirnya ia mengenal Bre dari kejadian yang tidak terduga. Menurutku ini satu hal yang menarik karena penulis cukup mampu membawa pembacanya kembali mundur ke belakang.

Read more: http://asysyifaahsbook.blogspot.com/2...
Profile Image for Putri Kurnia Nurmala.
71 reviews3 followers
February 22, 2014
Sempet tertarik dengan blurp-nya dan gotcha! Akhirnya masuk juga ke dalam lemari bukuku.

Sempet (lagi) dihantui sama temen-temen komunitas nulis kalo buku ini horor. Berhubung aku pembenci horor, sempet ragu mau ngelanjutin dari bab 1-nya, tapi setelah dianulir kalau genre-nya horor psikologis, lanjut lagi, deh.

Dan ternyata nggak horor-horor amat.

Konflik ceritanya lain dari novel kebanyakan. Kehidupan metropop-nya digambarkan secara gamblang. Pinter-pinter pembacanya, deh, untuk mencerna baik buruknya. Sedikit kesal sama point of view yang terkadang nggak jelas, entah itu PoV-nya Karin atau PoV ketiga serba tahu yang ditulis datar sedatarnya tanpa ada perbedaan, entah itu bentuk font atau sekadar italic. Cukup membingungkan di situ.

Tapi di luar semua itu, semua kejadiannya dalam novel ini menjadikan pembaca akan terus penasaran dengan 'kebetulan-kebetulan' yang disuguhkan. Ending-nya pun dikemas dengan sangat baik. Nice novel!
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
April 16, 2014
Begitu sampai halaman 162, saya tanpa sengaja langsung bilang, 'ih geuleuuuuh' dengan makna positif.

Kok bisa?

Karena akhirnya semua terkuak di situ!

Novel ini juga bikin saya berpikir ulang tentang preferensi--selama ini saya menganggap gaya bahasa memengaruhi mood baca saya dalam porsi besar, nyaris seimbang dengan tema. Bagi saya, kalau tema cerita itu tidak sejalan dengan apa yang saya yakini, berarti buku itu bukan untuk saya (seperti di novel Winna Efendi yang pernah saya baca, padahal saya suka banget sama caranya bertutur). Gaya bahasa penulis ini awalnya bikin saya tersendat, tapi setelah mengganti 'nggak' menjadi 'tidak' di tiap narasi yang ada (minus dialog), saya nggak begitu dapat masalah.

Dan Karin. Oh, dear Karin. Saya nggak begitu suka dia kecuali satu--cepat sekali move on. Saya ingin bisa cepat move on.

Baik, riviu berikutnya nggak akan terlalu personal deh, janji.
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
December 8, 2014
4 bintang dari aku.
Ya ampun, aku suka banget kisah Karin ini :D

Pertama baca, aku udah suka banget dan cocok sama gaya penulisan mbak Nadya.
Meskipun awalnya sempet bingung ngikutin alur maju-mundur yang dipake mbak Nadya, lama-lama aku ngerti dan bisa menyesuaikan juga.
Malah kalo udah masuk ke ceritanya dan meresap bareng karakter-karakternya, bisa seru banget!
Gilak, rasanya hidup Karin ini beneran gilak abis :p

Cuma ada beberapa typo yang nggak ganggu sama sekali.
Selebihnya aku suka banget!
Apalagi twist soal Bre itu.
Gila ya, mbak Nad, aku sampe jerit-jerit "ya ampun" berulang kali di bab 22!
:))

http://thecloudsinautumn.tumblr.com/p...
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews69 followers
August 28, 2014
Pasca baca "Relung Rasa Raisa", dilanjut buku ini, jadi bertanya-tanya kalau Plotpoint jadi "jagonya" buku-buku dengan cerita kayak gini.

Banyak cerita dari masing-masing tokoh yang ternyata nyambung satu sama lain, tapi di bagian awal cerita dibuat seakan-akan bikin tanda tanya. Dikemas apik banget. Alur maju mundurnya nggak bikin bingung. Menjelang di akhir, dibuat cukup kaget, nggak nyangka, bahkan sempat bilang "astaga!" tanpa sengaja. Agak nggak suka sama sikapnya Marisa aja, sih. Hihh! banget.

Well, cukup beruntung punya buku ini gratisan dari keponakan. Suka!
122 reviews2 followers
June 2, 2015
Bener-bener nggak menduga kalau buku ini bakal masuk kategori 'bagus banget'. Alur maju-mundurnya nggak bikin bingung. Cerita yang ditawarkan juga menjanjikan. Gaya menulis mbak Nadya juga enak. sayang banget mas ngecek GR, U-Turn satu-satunya karyanya yang nongol. Lingkaran setan yang berkisar antara Karin, Bre dan Marissa ternyata tejadi karena peristiwa masa lalu mereka. saya berpikir kalau U-Turn salah satu novel chick-lit dengan konflik mainstream. tapi TERNYATAA, drama psikologi. So it's 4 stars! Hehehe.



- Make U-turn and you'll be happy. Like me.
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
March 29, 2014
Keren ih!

Yang gue suka dari buku ini: covernya. Covernya lucu abis. Suka gue. Penokohannya juga bagus. Karin, Bre, Chuan, Abi, Marisa, semuanya manusiawi. Ga terlalu dewa-dewa banget.

Gue suka nama-nama karakternya. Apalagi Bre dan Chuan. Sounds unique.

Ending twist, jalan cerita yang enggak pasaran, tema yang diangkat jarang.

Kelemahannya mungkin di cara dia menuliskan kata-kata aja kali, ya. Kok gue ngerasa kadang-kadang kaku, ya?

Overall: 3,5 of 5. Kereeen!
Profile Image for Asya Azalea.
Author 7 books14 followers
July 28, 2014
Awalnya, mungkin kamu akan berpikir untuk menjuluki novel ini sebagai "novel yang tidak ingin dibaca sampai selesai". Tapi, bertahanlah sampai halaman 160-an. Kamu memang sengaja dibikin fokus sama kehidupan percintaan si Karin, tokoh utamanya, yang bisa dibilang, ehm, ngenes. Setelahnya, kamu bakal dapet surprise! :)

Nb: Begitu luang, kepengen nulis review-nya di blog-ku. Stay tune! *apa deh*
Profile Image for Shella.
14 reviews54 followers
June 15, 2015
Awalnya aku sempet stuck di halaman 71 ,karna gak dapet jalan ceritanya dan cenderung muter2, tapi gatau dapet ilham dari mana aku lanjut baca lagi. daaaannnn langsung dapet jalan cerita akhirnya ketagihan.
Ini novel kedua plot pilot yang aku baca, keren banget, ceritanya beda dari novel2 yang pernah aku baca, 2 thumbs up buat mbak nadya
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
August 26, 2013
Ide ceritanya oke, cuma aku kurang bisa masuk dan memahami tokohnya
Profile Image for Aesna.
Author 3 books13 followers
March 6, 2014
Setelah baca cerita di novel ini.
Kebanyakan yang saya dapet cuma bingungnya aja.

+1 bintang karena ada pembunuhan di dalemnya.
Apapun yang berhubungan dengan thriller saya suka.
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.