Jump to ratings and reviews

Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu

"Murjangkung kembali memeragakan kepiawaian Laksana sebagai pendongeng yang mahir meramu humor dan tragedi."—Majalah Tempo

"Jawaban untuk setiap pertanyaannya berloncatan
seperti katak-katak dalam film Magnolia."—Majalah Dewi

"Murjangkung ingin mengatakan bahwa: teks fiksi sebaiknya membuka keran imajinasi para pembaca untuk memiliki dunia
dan atmosfer cerita yang khas...."—Harian Jawa Pos

∞

Mereka datang 243 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus. Mula-mula mereka singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak dari kampung Pecinan di tepi barat sungai; lima tahun kemudian mereka kembali merapatkan kapal mereka ke pantai dan menetap di sana seterusnya. Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari Sang Pangeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai. Di sana ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal dan menghiasi dinding pagarnya dengan pucuk-pucuk meriam.—“Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut”.

Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu adalah kumpulan cerpen kedua A.S. Laksana setelah Bidadari yang Mengembara (buku sastra terbaik tahun 2004 versi Majalah Tempo).

214 pages, Paperback

First published January 1, 2013

Loading...
Loading...

About the author

A.S. Laksana

25 books61 followers
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.

Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.

Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.

(wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
134 (23%)
4 stars
232 (41%)
3 stars
163 (28%)
2 stars
25 (4%)
1 star
10 (1%)
Displaying 1 - 30 of 103 reviews
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
July 24, 2013
3,5 bintang

Tadinya ingin memberi 5 bintang, tapi akhirnya dikorting 1,5 bintang karena makin lama penggambaran tokoh perempuan dalam cerpen-cerpennya nyaris selalu sama dan.... saya nggak suka. Kalau bukan ibu rumah tangga yang baik, ya, dalam cerpennya rata-rata tokoh perempuan digambarkan sebagai makhluk yang cerewet dan sepertinya tidak bisa berlogika sebaik tokoh laki-lakinya, percaya takhyul, dll. Mungkin ini memang penggambaran masyarakat kita yang sebenarnya. Memang dalam cerpen-cerpen A.S. Laksana saya merasakan familiaritas kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya, seperti memakan soto dan rempah-rempahnya yang pas, dengan pemikiran yang lugu namun cerdas. Tapi pada akhirnya, ketidaksetujuan saya terhadap penggambaran secara umum tokoh perempuan dalam kumcer ini cukup mampu membuat kadar kekaguman saya menurun 1,5 bintang.
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
January 8, 2014
saya jarang baca fiksi.
dan saya ambil buku ini karena covernya bagus. demikian juga cara disainer menandai tiap bab juga bagus: dengan ornamen vignet, sehingga memudahkan kita mengira-kita sudah selesai atau belumnya tiap cerpen.
ini memang buku kumpulan cerpen, dan saya adalah pemalas dalam membaca cerpen yang panjang-panjang.

cerpen adalah cerita pendek, dan cerpen pertama yang judulnya juga dipakai untuk judul buku ini pun pendek. didominasi oleh si "aku" pencerita, kita diberi sajian bagaimana jan pieterzoon coen [murjangkung, dalam historiografi jawa] dan penguasa lokal sunda kelapa berkonflik ketika murjangkung hendak mendirikan pangkalan perdagangan rempahnya di dekat muara ciliwung.
si "aku" melakukan perbandingan antara kisah tutur dengan arsip-arsip yang ia ketahui. tapi itu tidak banyak, sehingga susah juga mengembangkan imajinasi atau kisah fiktif di antara data yang tidak semua berkenaan dengan karakter-karakter yang terlibat dalam cerita.
murjangkung disebutkan rajin mencatat data, sehingga melaluinya ia bisa menghukum anak bua, menghitung keuntungan dsb.
meskipun catatan-catatan itu umumnya berupa catatan dagang, tapi si penulis sudah berusaha untuk mengidentifikasi karakter murjangkung: teliti, perfek, dingin.
saya maklum bila cerpen ini lalu tidak bisa tebal, tidak bisa panjang, karena memang data yang dipakai untuk merekonstruksinya juga tidak banyak.

tapi ini memang bukan usaha rekonstruksi catatan sejarah.
cerpen ini ingin meniupkan nyawa pada data, pada folklore, pada dongeng yang dengan melakukan demikian maka kisah murjangkung jadi hidup lagi untuk pembaca masa kini.

bagaimana ia membuat "jagang" atau saluran air yang mengitari benteng. membuat kanal-kanal di tengah kota, menetapkan zona untuk ras-ras yang berbeda... adalah beberapa usaha argumentatif yang dikatakan diinisiasi oleh murjangkung sebagai pendiri kota batavia.

belum tentu semuanya benar secara historis, tapi kisah ini memang perlu ditulis, ketika yang fiksi dan fakta mulai membaur, maka argumen yang masuk akal akan dikenang pembaca.

ya, ini fiksi. tapi kemampuan bercerita penulis memang pantas dipuji!
---
cerpen-cerpen lainnya agak malas saya membacanya.
baca tentang perginya kompeni dan datangnya orang kate... lagi-lagi ini ternyata bukan historiografi, tapi fiksi... hehe.. memang lagi gak niat baca fiksi deh!
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
December 24, 2013
Selalu ingin membaca buku-buku yang berhasil masuk sebagai nominee KLA atau shortlist setelah pengumuman. Khusus buku ini baru punya setelah pengumuman, namun untuk pemenangnya kebetulan sudah dibaca sebelum list calon pemenangnya diumumkan. Bukan karena ribut-ribut setelah pengumuman pemenangnya tapi memang di kota ku belum tersedia. Nah karena ribut-ribut itu jadi tambah penasaran ingin membaca.

Tapi ternyata teteup jadwal membacanya tertunda-tunda..hmm.

AS Laksana bercerita dengan guyon bahkan dengan kisah tragedi alias kemalangan manusia. Seperti kumpulan cerita pendek yang beberapa diantaranya saling berhubungan (apa semuanya?).

Cuma kok sebagian besar perempuan dengan tokoh istri berbicara dengan nada melengking, cerewet dan tukang ngomelin suami.Istri yang tidak bicara dengan melengking adalah istri yang dinikahi berkat guna-guna dan selalu terlihat melamun, saat guna-guna hilang si isteri menjelma menjadi isteri dengan suara melengking.

Satu-satunya isteri yang tidak demikian mungkin hanya istri yang meninggal saat melahirkan dengan bayi yang juga meninggal,dan suami yang merana dan akhirnya meninggal diatas kuburan keduanya.

Jika bukan isteri maka menjadi pekerja seks, teman selingkuh dan ART yang dianiaya majikan..duh
Profile Image for Rachel Yuska.
Author 9 books246 followers
June 3, 2013
Saya dapat buku ini dari Gagasmedia dalam rangka event #unforgotTEN #kadountukblogger
Dari 9 buku yang dikirim, saya mencomot kumpulan cerpen ini karena direkomendasikan oleh proofreader-nya ^^
Saya biasanya menghindari genre sastra karena langsung kebayang njelimetnya bahasa yang digunakan. Tapi, ternyata membaca buku sastra itu mengasyikkan.

Ada cerpen yang bikin saya terbahak, ada yang bikin saya bergidik, ada juga yang bikin saya berkerut dan hampir meneteskan airmata.

Kumpulan cerpen ini adalah salah satu yang terbaik yang terbit di tahun 2013. Dan saya sangat suka dengan tagline-nya yang diambil dari judul cerpen di buku ini. Brilliant!

Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book146 followers
July 3, 2013
hal yang ga terlalu aku suka adalah judul setiap babnya yang terlalu rumit. bikin aku susah mengingat cerita apa, judul yang mana...

tapi, above all, semuanya oke. BANGET! buat kalian pencinta sastra dan dongeng, wajib baca ini!
Profile Image for Launa.
253 reviews50 followers
December 15, 2018
"Kau tahu, hanya para pendengki yang suka bergunjing dan aku tidak akan mengalami cedera parah karena digunjingkan oleh para pendengki." (Hlm. 180)

Ada sebelas cerita yang saya suka dari dua puluh cerpen, yaitu Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut; Otobiografi Gloria; Dongeng Cinta yang Dungu; Teknik Mendapatkan Cinta Sejati; Dua Perempuan di Satu Rumah; Kisah Batu Menangis; Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa; Ibu Tiri Bergigi Emas; Malam Saweran; Cerita untuk Anak-Anakmu; dan Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar. Keseluruhan cerpen dalam buku ini amat menarik dan sebagian besar tidak tertebak. Saya suka dengan gaya penulisan A.S. Laksana yang luwes dan menyihir. Setiap cerita dituturkan secara memikat. Adakalanya terasa absurd. A.S. Laksana amat lihai dalam mengaduk-aduk perasaan dan pikiran pembaca ❤️
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews2 followers
August 30, 2019
Dituturkan dengan narasi yang padat, liar, dan segar. Tapi, kalau soal cerita, Bidadari yang Mengembara memang juara. Hal itu yang membedakan.
Profile Image for Nufira S..
56 reviews21 followers
June 14, 2016
Ini perkenalan kedua saya dengan buku A.S. Laksana, tetapi ini kumcer pertama yang saya baca, sebab sebelumnya saya membaca buku nonfiksi beliau yang mengupas tentang menulis. Saya juga membaca beberapa cerpen A.S. Laksana yang bertebaran di media. Setelah membaca cerpen-cerpennya, saya mafhum kenapa banyak cerpenis muda yang menjadikan beliau kiblat dalam menulis.

Saat membaca "Murjangkung", saya banyak berpikir tentang apa faedah sebuah cerita, baik itu cerita yang panjang ataupun yang pendek. Satu-satunya jawaban yang muncul dari pikiran dangkal saya sebagai pembaca awam adalah bahwa cerita dibuat untuk menghibur. Saya tidak ingin jauh-jauh berharap apakah sebuah cerita harus filosofis atau penuh dengan nilai moral yang akan mendongkrak kesadaran saya lalu mengubah hidup saya. Menghibur pun sudah cukup. Sekalipun konon, semakin banyak buku yang kita baca, maka akan semakin kesulitan menikmati cerita. Jadi, menghibur saja sudah lebih dari cukup bagi saya. Dan saya bersyukur masih bisa terhibur dengan cerpen-cerpen dalam buku ini.

Jika ditanya apa cerpen kesukaan saya dalam kumcer ini, saya menobatkan cerpen "Teknik Mendapatkan Cinta Sejati" sebagai yang terbaik. Kamu boleh saja menyangkal, toh cerpen-cerpen dalam buku ini bagus semua dan lagi selera saya kerap berbeda dengan orang kebanyakan. Misalnya ketika membaca kumcer Eka Kurniawan yang berjudul "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" saya suka dengan cerita "Membuat Senang Seekor Gajah". Saya menyodorkan cerpen itu kepada beberapa orang teman, mereka mengerenyitkan kening dan tidak sepakat dengan pendapat saya.

Jujur saja, cerpen "Teknik Mendapatkan Cinta Sejati" sangat menghibur. Setelah menamatkan buku ini saya membaca ulang cerpen itu dan saya tetap suka, tetap terbahak-bahak dengan kedunguan si tokoh dan menghela napas panjang di bagian akhir.

A.S. Laksana ini bukanlah pencerita yang membosankan, menurut saya. Beliau bisa bercerita menclok dari sini ke sana atau bercerita dengan gaya "hanya ingin bercerita". Akhirnya yang saya lakukan adalah menikmati ceritanya dengan pasrah dan tidak mereka-reka seperti apa ending ceritanya. Sebab kadang cerita berakhir begitu saja, kadang penuh kejutan.

Sekali lagi, ternyata sebuah cerita yang menghibur sudah cukup bagi saya. Dan tentu saja untuk membuat cerita menghibur saja butuh kemampuan menulis yang tidak main-main. A.S. Laksana telah berhasil dalam hal ini.
Profile Image for Abdul Hair.
19 reviews2 followers
July 20, 2013
4,5. Sempat bingung mau kasih nilai berapa, karena ada beberapa cerpen di buku ini yang menurut saya biasa saja. "Cerita Untuk Anak-anakmu" misalnya, ceritanya klise. A.S. Laksana selaku penulis pun bilang kalau cerita di cerpen itu klise. Yang menarik, dia mengatakan cerpen itu klise justru di dalam cerpen itu sendiri. A.S. Laksana memang ingin bermain-main dalam bentuk. Seolah dia ingin bilang, cerita klise sekalipun jika digarap dengan teknik, gaya, dan bentuk yang baik, maka cerita itu akan menjadi cerita yang baik. Celakanya, dia kembali mengatakan itu di dalam cerpennya secara gamblang. Ya secara gamblang, karena narator di cerpen itu mengatakan ini, "... tetapi sebuah gagasan klise pun, konon, akan menjadi cerita yang menarik jika diolah secara baik."

Yang paling khas dari cerpen-cerpen A.S. Laksana adalah kerap menggunakan sudut pandang orang kedua. Gaya seperti ini sangat jarang digunakan di sastra Indonesia yang kebanyakan menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Menggunakan sudut pandang orang kedua memberi kesan kalau A.S. Laksana sedang mengajak pembacanya berinteraksi. Tapi sebenarnya dia tidak benar-benar mengajaknya berinteraksi, lebih tepat kalau dianalogikan seperti seorang anak yang sedang bermain mobil-mobilan. Anak itu bermain sendirian saja, sambil mengocehkan imajinasinya yang liar. Anak itu tidak peduli dengan orang-orang dewasa yang memerhatikannya asyik bermain. Saya menangkap kesan seperti itu dalam cerpen-cerpen A.S. Laksana. Dan menurut saya, sejauh saya membaca teks-teks sastra Indonesia, gaya seperti ini hanya dimiliki seorang A.S. Laksana. Dan itu keren!

Kalau ditanya cerita mana yang paling saya suka, dengan mantap saya akan menjawab "Teknik Mendapatkan Cinta Sejati." Ini cerpen yang menurut saya brilian!. Di antara semua cerita-cerita tentang Seto, saya paling suka Seto di cerpen ini. Apalagi kalau bukan karena alasannya untuk berpindah-pindah agama sangat orisinal, tragis, lucu, tapi juga cerdas. Selain Teknik Mendapatkan Cinta Sejati, saya juga suka dengan Otobiografi Gloria; Dongeng Cinta yang Dungu; Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis; dan Seorang Lelaki Telungkup di Kuburan. Tapi memang Teknik Mendapatkan Cinta Sejati yang paling bergaung lama di kepala saya (itu ciri cerpen yang bagus).

Kumpulan cerpen ini, sangat saya rekomendasikan untuk dibaca siapa saja
Profile Image for Ririn.
743 reviews4 followers
May 11, 2014
Buku ini berisi kumpulan cerita pendek karya AS Laksana yang pernah ditampilkan di beberapa surat kabar. Di antaranya ada cerita pendek "Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis" yang sumpah kayanya pernah saya baca sebelumnya; mungkin pada masa kantor saya masih berlangganan Koran Tempo.

Cerita pendek karya AS Laksana bernapaskan surealis dengan ciri kisah sehari-hari yang agak aneh dan nyeleneh. Saya kurang suka cerita pertama tentang Murjangkung, yang justru diangkat sebagai judul kumpulan cerpen ini (...ups): mengisahkan tentang Murjangkung yang membangun sebuah kota yang kayanya sih sejarah kota Batavia (?) yang berarti Murjangkung ini mungkin aja JP Coen (ga yakin juga, jadi jangan dijadikan acuan).

Di cerita kedua, Otobiografi Gloria, buku ini masih meh bagi saya, alias ga menarik banget. Barulah di cerpen ketiga "Dongeng Cinta yang Dungu" saya langsung terlonjak dan seolah disadarkan betapa bagus dan anehnya buku ini *lebay mode on*: Sesuai judulnya, cerita ini memang benar-benar dungu, tapi penulisnya genius sangat XD

Ada yang menarik dengan beberapa cerita yang lain. Tokoh dalam beberapa cerita bernama Alit & Seto. Kedua nama ini sering sekali muncul, memainkan tokoh yang berbeda-beda. Kalau asal tebak, jangan-jangan inisial AS dalam nama penulisnya kependekan dari Alit Seto XD (kalau salah janganlah tertawa, namanya juga nebak)

Cerpen favorit saya: Dongeng Cinta yang Dungu; Teknik Mendapatkan Cinta Sejati; Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis; dan Seorang Lelaki Telungkup di Kuburan.

Selamat membaca!
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews182 followers
July 17, 2013
Murjangkung adalah kumpulan cerita yang berisi 20 kisah pendek yang ditulis oleh A.S. Laksana. Kumpulan cerita sastra yang ada di dalam buku ini tidak mengusung tema tertentu, bahkan mungkin beberapa kisah mampu membuat pembaca berpikir keras saat membacanya. Seperti yang tertulis pada bagian sampul depan, buku ini berisi cerita-cerita tentang cinta - bahkan juga hal-hal yang berbau supernatural seperti hantu. Untuk mempermudahku menulis ringkasan untuk buku ini, aku akan menceritakan beberapa cerita pendek yang cukup berkesan untukku :)
"Kusampaikan cerita ini karena beberapa tahun belakangan orang-orang mulai menganggap nenekku gila. Kau tahu, ia sangat waras; ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan demi sesuatu sangat berharga yang didambakannya. Kupikir mereka bahkan harus mencontoh kegigihannya."

Kisah pertama yang berkesan untukku berjudul Otobiografi Gloria, yang diawali dengan kisah tentang sepasang suami istri yang terus menanti kehadiran seorang cucu di keluarga mereka. Akan tetapi cucu yang mereka harapkan tidak kunjung datang dari anak mereka yang telah menikah. Dan mereka dikejutkan dengan kehamilan anak mereka yang bahkan belum menikah. Di satu sisi, mereka malu dengan adanya cucu yang tidak diketahui siapa Ayahnya itu, akan tetapi anak itu adalah cucu pertama yang telah mereka impikan....

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2013/0...
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 29, 2019
Tak diragukan lagi, A.S. Laksana adalah salah satu maestro cerpen Indonesia saat ini, setidaknya bagi saya. Di tangannya, cerita dengan premis paling sederhana pun, mampu disajikan dengan narasi yang berlapis, indah dengan beberapa kejutan di tengah atau akhir kisah. Beberapa cerpen yang paling saya suka adalah Otobiografi Gloria dan Dua Perempuan di Satu Rumah.
Profile Image for Syahroni Prabowo.
4 reviews5 followers
September 5, 2013
Murjangkung, pembuka yang kurang meyakinkan dan terasa lambat. Tak ada yang spesial di bagian awal. Itu berubah drastis ketika harus menyelesaikan cerita kedua, ketiga, dst.

Membaca kata perkata hingga halaman perhalaman sampai usai memang seperti kita sedang mendengarkan dongeng. Tapi ini dongeng yang harus disimak ketika sore hari dengan secangkir teh hangat dan udara cerah.

Tak usah berpanjang lebar. Mas Sulak sukses membuatku harus ternganga dengan twist di akhir cerita. Bule mengatakannya dengan, "unpredictable!"

Menikmati blog miliknya pun tak kalah seru.
Profile Image for Adien Gunarta.
Author 4 books15 followers
January 29, 2014
Ketika membaca buku ini saya sedang sakit. Semacam demam dan meriang. Tidak enak badan dan jiwa. Dan kamu harus hati-hati! Membaca buku ini dapat menggandakan apa pun yang kita rasakan, kurasa. Karena saya dalam keadaan sakit, maka saya merasa bertambah sakit membaca buku ini. Haha.

Tetapi dari sekian buku cerita yang kubaca selama ini, buku ini yang paling lekat di pikiran. Pikiran saya sering lancar mengaitkan hal-hal sehari-hari dengan kata-kata yang kubaca di buku ini. Ini buku yang entah bagaimana. Ini buku cerita yang berbeda.
Profile Image for Mandewi.
583 reviews10 followers
January 2, 2015
Salah satu indikator yang bikin saya kesengsem sama sebuah novel/kumcer adalah ketika saya sangat kepingin bisa menulis sebaik penulis novel/kumcer tersebut. Dan Murjangkung adalah salah satunya! Aakkk! <3

Baca Murjangkung, benar-benar seperti sedang mendengar A.S. Laksana mendongeng langsung kepada saya. Tapi, sebaiknya jangan dongengkan cerita-cerita dalam kumcer ini kepada anak-anak, atau mereka akan mimpi buruk. x))))

Keren!

Beberapa cerpen favorit saya: Dongeng Cinta yang Dungu, Kisah Batu Menangis, dan Malam Saweran.
Profile Image for Arman Dhani.
49 reviews18 followers
October 12, 2020
Murjangkung melampaui apa yang telah ada dalam kebanyakan koran kita hari ini. Cerpen-cerpen yang berusaha menyesuaikan selera dari masing-masing redaktur koran minggu alih alih mencari gaya bertutur dan berkaya sebagusnya, sebaiknya, dan sebebas bebasnya. Menyadari bahwa sastra seharusnya mencari bentuk baru dan hanya menghamba pada kreatifitas bukan kepada pasar.

Saya jarang membaca pengantar buku, selain itu tindakan sia-sia, seringkali isinya hanya “glorifikasi diri lewat ucapan terima kasih pada kolega yang punya nama,” tapi tentu saja bukan Sulak namanya kalau tak bisa bikin pembaca menjadi terkecoh. Saya mau tak mau harus ditampar dengan kalimat “Urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya, urusan penulis adalah menghapus apa-apa yang sudah pernah ia bikin”. Ini adalah upaya menyindir, atau mengejek, dalam artian seorang penulis bisa diukur dari bagaimana karyanya diingat, juga bagaimana ia tak ambil pusing dengan nasib karangannya sendiri.

Tapi apa itu sebenarnya karya sastra yang berkualitas? Dalam buku ini anda akan menemukan sebuah ramalan dari Franz Kafka, bahwa karya yang baik adalah sebuah kapak yang akan memecahkan es dalam kepalamu. Sejak cerpen pertama Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut sampai dengan Peristiwa Kedua, Seperti Komedi Putar kita diajak kembali menemukan karya sastra sesungguhnya. Karya yang tidak lagi puitis hanya karena metafora picisan dari senja atau hujan. Tapi kisah sehari-hari yang dituturkan ulang dengan kesederhanaan yang subtil.
Profile Image for Yuniar Ardhist.
168 reviews18 followers
April 24, 2019


Kumcer kedua setelah "Bidadari yang Mengembara" (2004). Berisi 20 cerita pendek yang telah terbit di media koran Tempo, Jawa Pos, Kompas, Suara Merdeka, Horison, dan Metro Bandung.

AS Laksana ini semacam bapak yang suka mendongengi anak-anaknya menjelang tidur. Judul-judulnya memantik penasaran. "Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut", "Dongeng Cinta yang Dungu", "Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri", "Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa", "Lelaki Beristri Batu", "Ibu Tiri Bergigi Emas", dll.

Yang paling menarik dari tipikal tulisan AS Laksana di buku ini, alur. Ekspektasi dari judul, pembuka, hingga ending, tak bisa ditebak. Memang bukan terasa seperti cerpen2 berat dan kompleks dengan balutan sastra dalam diksinya. Namun ini jelas dibuat oleh penulis yang kreatif dan imajinatif. Untuk cerita yg relatif sederhana, di tengah-tengah, saya kadang bahkan berusaha mencari logikanya. AS Laksana seolah sesuka-suka hati saja menulisnya, dan sedang tertawa kegirangan ketika dalam pikiran pembaca tercetus, "Loh? Kenapa jadi ke sini?", "Loh? Kok bisa?" 🤣

Salah satu buku yang perlu dibaca untuk referensi melihat tipikal tulisan AS Laksana, selain "Bidadari yang Mengembara" sebagai buku sastra terbaik 2004 oleh Tempo.
Profile Image for Michelangelodie.
2 reviews
June 22, 2026
bisa dibilang, murjangkung termasuk kumcer yang genius, menggambarkan kedunguan dan berbagai bentuk kebodohan secara sporadis. Namun, penggambaran terhadap tokoh perempuan, kenapa karakeristiknya begini semua ya?

Membacanya selama 5 hari, menyajikan pengalaman yang cukup absurd, emosional, dan kadang melembutkan hati.

beberapa catatan yang kuhighlight:

"Dari sini kau bisa tahu, kenapa pemburu gosip mudah sekali mendapatkan mangsa. Sebab cinta memang cenderung memamerkan dirinya sendiri, kadang di depan orang yang tidak tepat" hal. 43, dalam cerpen "Seto menulis peri, pelangi, dan para putri".

" Pada saat itu ia merasa bahwa doanya dikabulkan dan keluhannya dijawab, dan ia gagal memahami bahwa khianat adalah penyakit kambuhan. Dan ia menelan bulat bulat sanjungan itu. Tetapi berapa kalikah orang akan terperdaya oleh permintaan maaf jika diulangi oleh orang yang sama?" hal. 131 , dalam cerpen "Lelaki beristri batu"
Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews10 followers
March 20, 2022
"Seperti Komidi Putar", cerpen yang paling saya ingat mengusung absurdisme—khas cerpen-cerpen A.S. Laksana. Narasinya selalu menarik. Beberapa cerita menggunakan unsur kisah nabi yang luwes meski dipadukan dengan mitos lokal yang tak kalah unik. Kumcer ini mampu membangkitkan imajinasi pembaca, seolah sah sah saja apabila pembaca menulis otobiografinya masing-masing tanpa terikat hal lain yang mengganggu. Saya meyakini "Otobiografi Gloria" sebagai salah satu cerpen juaranya, sedangkan "Dua Perempuan di Satu Rumah", "Dongeng Cinta yang Dungu", "Bukan Ciuman Pertama" adalah 3 cerita favorit saya.
Profile Image for Dina Layinah Putri.
108 reviews5 followers
July 2, 2018
Ini buku kedua A.S Laksana yang saya baca. Dan saya pikir buku ini lebih baik dibandingkan dengan buku terdahulunya "Bidadari Yang Mengembara."

Beberapa cerpennya secara repetitif menyajikan tokoh bernama Seto yang meskipun berbeda cerita namun masih terdapat benang merahnya. A.S Laksana juga masih menggunakan tokoh bernama Alit yang bisa kalian temui di buku sebelumnya "Bidadari Yang Mengembara."

Buku kumpulan cerpen yang mesti kamu baca.
Profile Image for fauziahilda.
55 reviews
October 20, 2020
Kumcer ini sedikit lebih menyenangkan dibanding kumcer A. S. Laksana sebelumnya (Bidadari yang Mengembara). Beberapa cerpen memang memiliki gaya penceritaan serupa meski (tentu saja) isinya berbeda. Isi cerita mereka melampaui dan mengecoh perkiraan yang saya buat selama membacanya. Hanya saja, beberapa gagasan cerpen lainnya serasa tidak bulat. Setelah melanjutkan ke cerpen berikutnya, misalnya, saya masih menanyakan “apa yang saya lewatkan dari cerpen sebelumnya?”.
45 reviews5 followers
June 10, 2017
Buku yang mengenalkanku pada AS Laksana. Hampir tidak ada kejutan yang begitu menggebu-gebu di setiap judulnya, seingatku. Tapi entah mengapa, lembar demi lembar mengalir habis begitu saja. Mungkin gaya bertuturnya, atau entah lain. Menarik!
Profile Image for Rian Widagdo.
Author 1 book20 followers
January 24, 2019
Judul : 5/5
Sampul : 4/5
Pembuka : 5/5
Cerita (-cerita) : 5/5
Penceritaan : 5/5
Bahasa : 5/5
Penutup : 4/5
Layout : 3/5
Blurb : 4/5

TOTAL : 4.4/5

*Rekomendasi : 5/5
Displaying 1 - 30 of 103 reviews