Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Way We Were

Rate this book
Aku tahu kamu ragu.
Namun, pertemuan pertama kita... selalu berkesan buatku.
Kamu yang lugu, selalu sibuk dengan pikiranmu.
Laut, ada aku di sini.
Laki-laki yang selalu suka dengan tawa dan ceritamu.
Juga galaknya kamu, waktu awal ketemu.
Bebaskan hatimu.
Karena air mata, tak pernah membuatmu lucu.
Kemarilah dan genggam tanganku.
Untuk segala rasa dan cinta yang ingin berlabuh.

258 pages, Paperback

Published January 1, 2013

3 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Sky Nakayama

3 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (6%)
4 stars
8 (12%)
3 stars
26 (40%)
2 stars
13 (20%)
1 star
13 (20%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Anggita Sekar Laranti.
104 reviews33 followers
February 12, 2014
AqWh gHaLawH.

(Iya, harus alay begitu)

Kasih bintang satu atau dua, ya? Mau kasih bintang satu, kok nggak tega. Mau kasih bintang dua, tapi di novel ini nggak ada sesuatu yang menarik buat dikasih tambahan bintang.

Covernya lucu. Dan ilustrasinya juga gemesin. Jadi bikin aku flashback ke masa lampau. Jaman ketika Stegosaurus masih merajalela dan aku masih suka baca cerpen di majalah Bobo. Ah, masa-masa yang indah...

Jadi kuputuskan memberi bintang dua.

Sekali lagi aku ingatkan. Aku nggak menemukan sesuatu yang bagus di novel ini. Jadi review ini bisa dipastikan mengandung komentar-komentar pedas pembaca yang mungkin saja kurang membangun. Maaf ya, Kak Penulis.

Novel ini... lebay banget. Iya sih, Laut punya masalah sama keluarganya. Tapi dia hiperbolis sekali dan membuat seakan dia tidak bisa menyelesaikan konflik perdamaian di Timur Tengah (???). Sampai bertapa di Lombok segalaaa, taelah, biasa aja kali.

Sensi amat ya, komentarnya? Abisnyaaaa...

Dan si Laut ini ya, ngakunya aja anak kos. Tapi tongkrongannya di kafe, Sushi Tei, dan berbagai tempat yang kayaknya mahal lainnya. Buset, deh. Padahal anak-anak kos kenalanku kalau makan di warteg atau warung burjo, yang cuma ngeluarin nggak sampai 10ribu rupiah dijamin kenyang sampai makul berbobot 3 SKS selesai (?). Baiklah. Mungkin bapaknya si Laut ini konglomerat. Sudah, kita lupakan saja soal anak kos ini ._.

Apa lagi ya? Banyak sih sebetulnya yang kurang sreg. Semua tokohnya tidak terarah, tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (?). Si Laut ini kayaknya punya dua kepribadian. Yang satu ceria (di depan cowok doang) dan menye setengah mati. Hobinya kabur dan matiin hape. Orang ini nggak punya tujuan hidup. Sampai akhir novel juga tujuannya nggak jelas. Gitu, lah -_-

Oka. Cowok dengan nama yang kata Laut mirip orang Bali. Memang Oka nama khas Bali, ya? Soalnya kalau dengar nama Oka, aku nggak berpikir dia orang Bali. Kecuali kalau namanya Wayan, Putu, Made, dsb. Ketemu Laut di bus waktu dia lagi ngamen untuk mengumpulkan dana. Entah dana apaan. Untuk disumbangkan ke anak yatim kah? Untuk membeli Iron Suit kah? Untuk menebus tawanan perompak Karibia kah? Only heaven knows. Dia seorang freelancer yang entah umurnya berapa. Suka melukis. Bisa main gitar. Udah, nggak tahu lagi dia kayak gimana.

Kei. Dia ini... entah umurnya berapa. Entah kerjanya apa. Entah mukanya gimana. Dan entah juga kehadirannya di novel ini untuk apa selain menimbulkan cinta segitiga yang cuma sebentar itu.

Alin. Sahabat Laut yang pikirannya sempit(?). Lebih percaya sama kata-kata orang yang baru dikenalnya beberapa bulan daripada teman dekatnya dari SMP. Gara-gara cowok doang, dia marah sama Laut. Nggak minta maaf, lagi.

Yaaaah gitu deh. Sampai capek sendiri -_- Pada akhirnya, aku nggak menemukan penyelesaian konflik novel ini. Orang tuan Laut masih tetap belum akur. Ibu Laut masih memperlakukan Laut berbeda (yang tetap aku nggak mudeng alasannya). Oya kenapa tahu-tahu Laut bisa jadi sama si itu dan lupa sama yang si anu? -____-
Profile Image for Benedikta Sekar.
18 reviews
July 15, 2013

Judul : The Way We Were

Penulis : Sky Nakayama

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2013

Tebal : 257 halaman

Rate : 3/5

Ihiy, buku kedua Kak Omi yang aku beli dan baca. Nah, karena ini sudah buku kedua, aku benar-benar berharap sangat besar pada buku ini!

Cerita dikit, setengah dari buku ini aku baca sekitar jam 2 malam karena gak bisa tidur dan akhirnya tuntas jam 4-an WITA. Buku ini berhasil membuatku penasaran karena menunggu-nunggu klimaks seperti gunung berapi meletus di kepalaku. Dan apakah aku menemukannya? Sayangnya, sampai buku ini tutas kulahap, gunung berapi itu tak meletus-leteus juga.

Beberapa hal unik yang dapat kuambil dari buku ini adalah pertama, cover dan ilustrasi-ilustrasinya. Di cover ada dua pasang tangan yang terlihat saling menyambut dan menurutku itu sangat manis tatkala disandingkan dengan judul bukunya The Way We Were. Mulanya melihat cover yang begitu aku mengira cerita ini adalah tetang sepasang muda mudi yang memiliki masa lalu yang berhubungan, tapi ternyata enggak, hihihi, ini tetang bagaimana cara mereka menemukan apa itu cinta sesungguhnya.

Lanjut ke isi, novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Laut Senja—nama tokohnya keren ya?—yang mengalami pergolakan dengan keluarganya yang rusak karena sang ayah ketahuan selingkuh. Akhirnya, gadis ini pun memutuskan untuk kuliah di bandung dan menghindari orang rumah, terutama ibunya yang Laut anggap tak pernah menyayanginya setara dengan kakak-kakaknya.
Di saat yang bersamaan, Laut yang juga gak pernah merasakan cinta akhirnya merasakan getaran aneh itu tatkalah ia bertemu dengan Oka dan Kei. Kedua cowok itu adalah sahabat, awalnya, bagi Laut mereka berdua hanyalah kakak. Tapi lama kelamaan, setelah begitu banyak kejadian terlalui,Laut sadar kalau Kei-lah yang selalu ada di saat paling berat dalam hidupnya. Padahal, di lain pihak Oka justru lebih punya perasaan ingin melindungi Laut; Oka jatuh cinta dengan Laut sejak pertama kali mereka bertemu.

Well, apakah cinta ini berjalan mulus dalam bentuk segitiga ini? Ternyata masih ada satu habatan lagi. Sahabat Laut yang bernama Alin pun ambil bagian dalam cinta yang rumit ini. Alin juga jatuh cinta pada Kei. Woah, ternyata cinta segi empat, sodara-sodara! Sementara Laut sedang depresi menghadapi keluarganya, ia pun harus terjebak dalam perasaan konyol bernama cinta itu.
Nah, bagaimana kah ending-nya? Bagaimana Laut menghadapi keluraganya? Bagaimana akhirnya cinta menuntun Laut kepada orang yang tepat? Mari beli buku ini segera!

Jeng-jeng! *taruh senter di bawah muka* Sekarang waktunya kasih pendapat pribadi ke buku ini.
Berikut beberapa hal yang menurutuku kurang gereget.

Pertama adalah ketidakkonsistenan konflik utama dalam buku ini. Di buku ini ada dua konflik besar yang sama sekali tidak memiliki jembatan atau benang merah, yaitu keluarga Laut yang hancur karena ayahnya selingkuh dan cinta segi empat antara Laut, Oka, Alin, Kei. Kedua konflik besar ini berjalan beriringan dan kadang terasa saling rebut-rebutan perhatian. Di bab-bab tertentu konflik cinta lebih dominan, tapi tiba-tiba saja diserobot langsung sama konflik keluarga. Perasaan pembaca yang sudah berbunga-bunga langsung jatuh ketika cerita berlari dengan kecepatan cahaya ke konflik keluarga.

Sebenarnya, gak masalah sih untuk dua konflik besar kayak gini dalam novel, menurutku. Banyak juga novel-novel yang mengangkat cerita multi-konflik, tapi kadang kala aku sebagai pembaca menginginkan hanya satu konflik utama dalam cerita yang bisa dieksplor lebih dan tidak tanggung-tanggu, lalu konflik utama itu diselesaikan dengan diikuti konflik lanjutan yang juga selesai seiring dengan
konflik utama itu. Tapi sayangnya, aku kesulitan menemukannya dalam novel ini.

Kedua, tetang alur maju mundur yang sering digunakan penulis. Aku pribadi sih enggak masalah, tapi seperti yang pernah kubilang diresensi sebelumnya, kadang terlalu banyak bikin kurang greget. Beberapa contoh alur maju-mundur yang membuatku sedikit terganggu adalah pada saat momen pernyataan cinta Laut pada Kei, kemudian saat Laut menemukan foto ibunya dan Tante Kartika, dan saat Oka berbicara dengan Dennis. Alur maju-mundur bikin kita mampu menuliskan dua cerita dalam satu momen sekaligus sehingga mempersingkat alur dan memperdalam perasaan pembaca pada tokoh karena si tokoh melamunkan kejadian yang lampau. Tapi karena alur maju-mundur sering sekali ditemukan dalam buku ini, kadang kala pembaca pun jadi bingung sampai mana ceritanya telah berjalan. Karena saat kita sudah maju menikmati cerita, penulis mengajak kita mundur kambali dan kemudian maju, lalu mundur lagi.

Ketiga, kebetulan-kebetulan, dari buku sebelumnya aku sudah tahu penulis memiliki sense twist yang menonjol dalam bidang kebetulan. Tapi menurutku, ada beberapa kebetulan yang menurutku agak dipaksakan dalam cerita ini. Contohnya, saat Laut bertemu Tante Kartika di Bali, Laut bertemu Kei di Lombok, laut ketumu Oka di bus. Sebenarnya gak begitu kentara sih kebetulannya, mungkin karena aku terlalu sensitif kali ya. Hahaha.

Keempat, Mikroekonomi. Uhuk, saya gak ngerti. Hahaha. Dalam salah satu adegan di buku ini, Oka ngajarin Laut tentang mikroekonomi yang dijelaskan secara rinci dari halaman 169 sampai halaman 174. Berhubung aku gak ngerti, sebenernya kepengen aku skip, tapi entah mengapa aku selalu menganggap setiap adegan dalam cerita memiliki suatu alasan. Jadi, kubaca adegan itu dan akhirnya menemukan alasan adegan itu nantinya akan berujung pada romantisnya Oka mendapatkan ide untuk mengecat langit-langit kamar Laut. So sweet, terbalas aja sih baca mikroekonomi itu, tapi tetap aja sedikit menggangguku.

Terakhir, antiklimas yang kurang menelan. Aku sih berharapnya bakal ada adegan cetar membahana ulala di endingnya yang mampu menuntaskan dua konflik besar itu. Tapi, sayaaaaang banget, anti-klimaksnya di mulai saat Laut kabur-Laut kembali-Keluarga Laut bersama selingkuhan ayahnya musyawarah-pertengkaran besar-berakhir saat Laut menasihati kedua orangtuanya-Laut menikah. Ah, mana lagi nih halamannya? Mau lagi! Mau baca lagi! Kecewa berat saat buku ini habis karena aku masih mau lebih dari itu :(

Oh ya, sedikit spoiler sih, di awal kalian mungkin bakal ngerasa ada cinta-cintaan gitu antara Oka dan Laut. Tapi sadar gak sih, kebanyakan yang bilang deg-degan, suka, tertarik itu berada di sudut pandangnya Oka; bukan Laut. Aku sendiri baru sadar pas si Laut tahu-tahunya suka sama Kei. Hahaha. Sendirinya kaget kenapa tiba-tiba Laut suka sama Kei, padahal di awal cinta-cintaan gitu sama Oka, tapi ternyata itu semua hanya perasaan Oka. Aduh. Good job banget sih debu bintangnya dari penulis.

Baiklah, kesimpulannya bintang 3, pengennya sih kasih 4 karena buku ini bagus sekali. Tapi mengingat beberapa catatan yang kutliskan di atas, aku rasa hanya bisa memberikan bintang 3. Hehe. Buku ini sangat cocok bagi kalian yang suka membaca buku yang mampu mengombang-ambingkan perasaan kalian sebelum akhirnya menyeret ke perairan yang tenang. Seperti Laut!
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
December 3, 2024
Kapan hari ada menfess di akun basebuku yang tanya ke pembaca "anti-buku Wattpad", kenapa segitu nggak maunya baca novel yang diadaptasi dari platform oren itu. Waktu itu saya cuma menanggapi dari mana pun cerita itu diadaptasi, buku bagus ya buku bagus. Ya... benar, kan?

Lalu saya baca buku ini, dan... saya rasa saya mengerti alasan pembaca "anti-buku Wattpad" sampai bertindak seperti itu, karena jujur dibandingkan beberapa buku Wattpad/AU terutama yang ultrapopuler, buku ini kelihatan lebih decent. Padahal saya juga menemukan keluhan yang sama dengan beberapa reviu di sini—insta-love, terasa dilongkap di beberapa proses penting, ending-nya diburu dan membuat bingung, tokoh yang paling jelas tujuannya cuma Oka, fokusnya ke mana-mana, feels messy inside neatly wrapped sentences and cozy artsy aesthetic. Untuk beberapa pembaca, mungkin age gap 18 dan 27 tahunnya juga bisa jadi perhatian lanjut. Ada apa dengan buku populer yang naik cetak sekarang? Apa ini salah?

Maaf jadi bukan kayak ulasan bukunya sendiri melainkan unek-unek saya aja. Tapi jadi ber-oh panjang juga, kayak 'pantas kalau baca buku lama meski ada bagian problematiknya tetap enak diikuti' karena mungkin (MUNGKIN) sekarang standarnya bergeser dan selera cerita saya seperti novel 2000 akhir-2010 awal (?). Buat saya, menarik bagaimana bisa kontradiksi itu terjadi hehe, barangkali ada yang lebih paham kenapanya, boleh sharing di sini.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
February 26, 2016
review lengkap: http://kubikelromance.blogspot.com/20...

Laut pertama kali bertemu dengan Oka ketika dia sedang naik bus pulang ke Bandung, dia mendapati Oka yang waktu itu sedang mengamen memandangi dirinya, karena jengah dia mengabaikan. Ketika sampai di kos, Laut ternyata kecopetan dan beberapa saat kemudian si pengamen gadungan (waktu itu Oka sedang menggalang dana untuk kampusnya) dengan muka babak belur mengembalikan dompet Laut, sejak itu mereka berteman akrab.

Oka mempunyai masa lalu yang pedih akan cinta, dia ditinggal mati oleh pacarnya, sejak saat itu dia tertutup akan cewek lain. Baru ketika melihat Laut dan sangat nyaman dengan sifatnya yang lucu, dia ingin memberi kesempatan kedua untuk hatinya, membuka lembaran baru. Sahabatnya, Kei, takut kalau Oka akan patah hati lagi, dia baru mengenal Laut, jangan impulsif. Sedangkan Laut sendiri dia mempunyai masalah keluarga yang menyedot pikirannya, tidak ingin terlalu memusingkan kisah cinta, dia hanya ingin menghadapi hidup dengan damai.

Laut selalu merasa menjadi anak yang tidak dianggap, terlebih ibunya. Kakak-kakaknya sangat sempurna dan apa yang selalu dia lakukan selalu salah di mata ibunya. Dia lahir di waktu yang tidak tepat, ketika orangtuanya akan bercerai, karena dia, rumah tangga orangtuanya selamat, karena dia melihat ayahnya bersama selingkuhannya, rumah tangga orangtuanya hancur kembali.

Saya setuju dengan salah satu review di Goodreads yang mengatakan kalau buku ini tidak memiliki tujuan yang jelas. Awalnya cerita berpusat tentang Laut dan Oka, kemudian hadir Kei dan sahabatnya Laut, Alin, yang mendukung terjadinya cinta segiempat. Dan yang tak disangka, konflik keluarga Laut malah menjadi fokus utama buku ini, sangat disayangkan sekali, karena saya berharap akan kisah cinta Laut dan Oka yang menjadi sorotan. Saya bingung dengan premis utama buku ini.

Soal karakter, sebenernya cukup tergambarkan dengan jelas, hanya saja itu tadi, ceritanya ngalor ngidul. Saya suka karakter Oka dan Laut yang ceria, kocak, Kei yang kalem dan menenangkan dan Alin yang selalu ada dan siap membantu Laut. Justru karakter keluarga Laut yang minim, saya heran aja, masalah keluarga Laut cukup serius dan seharusnya kakak Laut yang saya tangkap sangat menyayangi Laut (khususnya Denis) seharusnya mendapinginya karena dia dianggap sumber masalah orangtuanya, dia yang paling kecil dan yang paling membutuhkan support, tapi malah cuek, rasanya kasian banget Laut ini, sendirian menghadapi peliknya kehidupan.

Karena masalah keluarga Laut tersebut, fokus yang awalnya saya kira menjadi utama jadi runyam. Sebelumnya ada Alin yang selalu mendampingi, kemudian ketika Laut melarikan diri malah Kei yang menjadi pemeran utama, kemudian laut jatuh cinta dengan Kei, padahal Laut tahu kalau Alin menyukai Kei dan Kei tahu Oka menyukai Laut. Alin tahu kalau diam-diam Laut suka Kei dari Oka, marahlah dia. Dan Oka yang mendapati sikap Laut berbeda ketika melihat Kei, jadi sakit hati. Jadi, saya nggak mendapat chemistry antara Laut dan Oka sedikit pun.

Untungnya, saya suka karakter Oka, saya suka apa yang dilakukannya untuk Laut, saya suka ilustrasi di buku ini, kerennnnnn banget. Mungkin kalau buku ini mempunyai premis cerita yang kuat akan lebih menarik lagi, melihat karakter tokohnya juga menarik dan cara bercerita penulis cukup nyaman buat saya.

"Karena nggak peduli seberapa kerasnya elo berusaha, kalau memang udah waktunya seseorang untuk terluka, dia akan terluka. Don't feel bad for them, because their problems are not going to continue for the rest of their lives."


"Seseorang yang benar-benar mencintai elo bakal nerima elo apa adanya, sekalipun elo lagi nyebelin senyebelinnya, Laut," bisiknya tepat di telinga Laut. "Life doesn't require ideals. It requires actions. Jangan manjain hati elo. Biarkan dia luka sesekali, supaya dia bisa belajar untuk menghargai kebahagiaan. Supaya dia bisa belajar untuk bangkit kembali setelah sesuatu membuatnya terluka. Biarkan dia dewasa."


3 sayap untuk ilustrasinya yang kece badai.
Profile Image for Lidya Yang.
9 reviews3 followers
April 22, 2014
The Way We Were.
Novel tentang seorang gadis di masa-masa susah dalam hidupnya, bertemu dengan seseorang yang spesial, hingga mendapat happy endingnya sendiri.

Suka cara penulis menyuguhkan perbandingan-perbandingan. Membandingkan rasa sulit-memilih-nya Ayah Laut dengan perjalanan kapal di malam hari. Dan begitu banyak perbandingan lainnya yang membuat saya nggak berhenti ber-wah-wah-an.

Suka penyusunan kata penulis.

Rasa suka dengan novel ini sebenarnya timbul waktu lebih dekat ke ending, baru muncul rasa enjoy membacanya.

But~~~~

For one, sorry to say, but I don't like Laut.
Memang dia sedang dilanda masalah, but personally, I don't think it's okay to just visit someone you've just known for, like, several days and then go dropping your tears in front of them, while thinking that you've tried to stay strong. Entahlah. Bagi saya, gadis yang satu ini kontradiksi banget dengan dirinya. Dia seolah-olah berusaha membuat pembaca bersimpati melalui jalan pikirannya, tapi sikapnya berkata sebaliknya. Bukankah seseorang yang berusaha untuk tegar, untuk stay strong itu, hanya akan menetes air mata kalau sendirian, mengusahakan sebisa mungkin tidak ada orang yang melihat mutiara yang berharga yang membasahi pipinya itu? Atau saya saja, kali ya, yang berpikir begitu?

Terus, chemistry Oka dan Laut.
Dari awal hingga akhir, rasanya Oka cuma bertepuk sebelah tangan masalah hubungannya dengan Laut. Dari love at first sight-nya, sampai sewa kostum Santa, sampai bela-belain cari gadis itu saat dia menghilang. Tapi, dari Laut ke Oka? Rasanya perasaan Laut itu lebih cenderung ke Kei...... Tapi kenapa Laut akhirnya sama Oka, ya?

Lalu, friendship Laut dan Alin.
Sebegitu dangkalkah persahabatan mereka? Hanya karena Oka bilang ke Alin kalau Laut dan Kei pacaran, Alin tega menabur garam ke luka sahabatnya itu padahal dia tau benar kalau Laut sedang susah. Sebenarnya, di scene itu, I expect Alin to go back to Laut, like 5 minutes after their quarrel. But no, Alin meninggalkan sahabatnya sendirian, seorang cewek sendirian, di stasiun, hanya karena mendengar berita kalau sahabatnya itu pacaran dengan cowok yang disukainya. Hmm...

But, like I wrote at the start, sampai ke dekat ending baru timbul rasa sukanya. Tepatnya mulai dari waktu Marina sadar kalau dia kurang perhatiin Laut.

Favourite scene:
Waktu Laut menemui Tante Kartika di Bali untuk mengajak bicara hingga pembicaraan mereka di kafe. Semua yang terjadi di sana, emosi yang ada, kata-kata yang keluar. Rasanya pas banget.

So overall, 3 out of 5 stars.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Watin Sofiyah.
32 reviews2 followers
November 2, 2013
Pertama membaca sinopsisnya saya tertarik membaca karena ada kata Laut di sana, saya pikir ini adalah kisah tentang sepasang remaja dan Laut. Ternyata saya tertipu, Laut di sini adalah nama orang bukan laut yang pada umumnya kita kenal *hahahaha

Saya suka sama perkenalan mereka yang awalnya bertemu di dalam bis hingga akhirnya saling kenal karena insiden dompet hilang tersebut. Mereka akhirnya saling kenal dan semakin akrab.

Dan menurut saya, kekurangan dalam novel ini adalah masalah keluarga Laut. Klimaksnya menurut saya kurang greget. Memang sih saya suka pas bagian Laut bertemu dengan wanita yang ternyata adalah wanita yang Ayah Laut cintai. Menurut saya, penulis bisa saja menggunakan konflik keluarga sebagai kekuatan dari novelnya di samping cerita Laut dengan Oka. Untuk adegan yang bisa dikatakan klimaks dari konflik keluarga laut itu juga kurang greget, sikap Ayah Laut itu lho -_- atau memang perceraian itu semudah itu kah? Tiba-tiba saja masalah selesai setelah mengundang beribu tanda tanya di kepala saya. Saya kira masalah ini akan berlanjut di bab berikutnya, ternyata saya akhir saya tak menemukan penyelesaian yang tuntas dari konflik keluarga itu. Atau mungkin penulis tak ingin melanjutkannya? Baiklah, saya kembalikan hak tersebut pada penulis krn beliau yang menciptakan cerita ini :)
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
February 28, 2016
Laut dan Oka bertemu dalam situasi yang unik, di atas bus saat Oka sedang mengamen. Pertemuan kedua mereka saat Oka berusaha menyelamatkan dompet Laut yang telah dicopet. Perjalanan mereka selanjutnya berlanjut menjadi sahabat dan seperti yang sudah bisa ditebak--salah satu dari mereka jatuh cinta. Sayangnya, salah satunya justru menyukai sahabat yang lain.

Di antara masalah keluarga yang cukup rumit, Laut memilih menepi ke Lombok. Tak disangka di Lombok ia bertemu seseorang. Siapakah dia? Siapakah yang pada akhirnya dipilih dan memilih?

Novel ini berhasil saya selesaikan kurang lebih tiga jam. Tak ada hal yang spesial selain--mungkin--ilustrasi di beberapa bagian. Cukup mengecewakan soal karakter-karakter serta konflik di dalamnya. Sayang sekali penulis yang mengidolakan Haruki Murakami ini justru gagal menghadirkan emosi emosi tokohnya. Cerita serta karakter tokohnya kena tanggung sekali. :(

Tunggu ulasan lengkap saya di www.perpustakaandhila.wordpress.com
Profile Image for Giovanny.
29 reviews
August 28, 2013
awalnya mau ngasih satu bintang. cuma nggak tega....

Laut dan Oka nggak tahu kenapa ganjil malahan aku baca hubungan mereka...
Pengkarakteran kurang kuat. Apalagi kesan jiwa mudanya Laut juga ketelen gitu aja... Dan Oka sendiri nggak tahu umurnya berapa tapi terkesan masih labil juga.

Dan konflik keluarga.
Aku ngeliatnya maksa banget ini konflik.

Endingnya pun terkesan buru-buru.

buruknya, banyak yang aku skip bacanya karena males. apalagi yang microeconomics. paling ngebosenin. Udah gitu tempat di Bali kayakna penulisnya hanya tahu Pantai Kuta. dan hanya sekedar tempelan... Settingna juga muter-muter...

Itu aja sih menurutku...
Tapi itu emang selera pembaca sih. dan saya kebetulan nggak suka karya yang ini. :)
Profile Image for Audrey.
28 reviews12 followers
May 16, 2014
2 stars out of 5 stars

Cara penulisannya tidak membuat saya menikmati ceritanya & somewhat ceritanya really really boring dan membuat saya ingin meng-skip per halaman.Pertama kali membaca sinopsis di belakangnya,saya tertarik dengan kata "Laut".Tadinya saya pikir novel ini bertemakan mengenai laut sebagai setting utamanya.Saya tertipu,Laut itu nama seseorang.

Tadinya saya ingin memberi 1 bintang saja.Saya tambahkan menjadi 1 bintang lagi karena saya menghargai usaha penulis.Bahwa menulis bukan perkara mudah.Tidak semua orang bisa membuat suatu buku yang mampu menggetarkan hati pembacanya.

Sekian review dari saya.Moga moga kedepannya Sky Nakayama bisa memperbaiki kesalahannya dan membuat karya yang jauh lebih baik dari "The Way We Were".
Profile Image for Halida Hanun.
325 reviews13 followers
January 16, 2014
selesai baca buku ini hanya dalam waktu kurang dari 3 jam. kenapa? karena banyak yang saya skimming.

alasannya:
karakter nggak ada yang kuat sama sekali.

cerita nggak fokus. nggak ngerti apa yang mau ditonjolkan. konflik keluarga yang dihadapi Laut pun rasanya hanya jadi selipan belaka biar terasa ada konfliknya.

setengah buku ke belakang, saya merasakannya bahwa timing lompat-lompat.

kemudian penuturan cerita dari banyak sudut pandang (laut, oke, kei) yang melompat-lompat juga bikin saya pusing bacanya.

menurut saya yang menbuat buju ini menarik adalah sketsa yang ada di dalamnya. lumayanlah.

so sorry. maybe this book isn't my cup of tea.
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
January 20, 2014
Sangat tidak direkomendasikan untuk baca novel yang entah ceritanya tentang apa ini. Karakternya gak jelas blas, gak konsisten. Ceritanya gak jelas. Gak realistis. Orang yang mau bolak-balik halaman sebelumnya pasti mengerti kalau ceritanya gak sesuai.

Yang bikin heran, novel ini bisa sampai jadi koleksi perpus sekolah. Siapa sih yang pesan novel gak jelas kaya gini ke Mbak-Mbak Librarian-nya? Aku aja yang pesen novel ini-itu masih dalam tahap antrean (dana yang keluar). -_- .
Profile Image for Vania Natasha.
25 reviews
August 17, 2014
1 star for the cover and 1 star for Laut and Oka.
Ceritanya terlalu berjalan dengan cepat sehingga membuat hal hal yang ada menjadi tidak masuk akal. Ada beberapa hal yang masih kurang jelas dan membingungkan. But, i enjoyed the novel and i kept reading it because i wanted to know what happened.
Profile Image for Vivie Hardika.
Author 5 books11 followers
July 28, 2015
sampe bab kedua puluh saya masih berusaha menjawab pertanyaan 'ini buku tentang apa sih? baru stelah menyelesaikan saya tahu novel ini bercerita tentang peliknya keluarga Laut juga cinta segiempat. Nggak ada yang dapet kalau menurut saya selain kebrengsekan bapaknya Laut.
Profile Image for Salsabila Ghina.
19 reviews14 followers
July 9, 2013
Yeaay ceritanya menarik,banyak quote yang bagus tapi sayang aja,masih ada salah ketik dan salah sebut nama tokoh.
That's okay
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
Read
September 17, 2013
Hadiah dari kuis GagasMedia.

Seharusnya dua bintang, tapi satu bintang saya tambahkan untuk cover yang manis dan ilustrasi yang sweet.

Banyak yang ingin saya komentari. Nanti, deh.
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.