Baca ulang setelah lebih sepuluh tahun berselang sejak saya membacanya pertama kali.
Dibaca ulang untuk siaran Klub Siaran GRI tema Perang Dunia II, Agustus 2019
.
Bulan ini saya kebagian siaran mengenai #PerangDuniaII bersama @klubsiarangri
Kita sudah belajar sejak bangku sekolah menengah bahwa matra utama perang tersebut ada di dua lokasi: Eropa dan Asia Pasifik. Sayangnya, kebanyakan buku (fiksi) dengan tema perang ini yang pernah saya baca ternyata berlatar cerita di Eropa. Sulit juga mencari buku dengan tema ini yang berlatar di Pasifik.
Setelah tanya sana sini, bongkar rak cepat-cepat, eh ternyata saya punya koleksi buku ini, #DanPerangPunUsai karya #IsmailMarahimin. Melihat catatan goodreads, dulu buku ini saya baca sekitar tahun 2008. Lalu terlupakan.
Baca ulang, dan ingatan saya disegarkan dengan bayangan "ketiadaan" perang pada kisah ini. Lokasi cerita adalah Desa Teratak Buluh, di tepi hutan di kawasan Riau, sekitar pertengahan Agustus 1945. Saat itu penguasa wilayah ini adalah penjajah Jepang, bukan Jerman tentu saja. Sudah jelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, saat yang sama ketika Sukarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, namun tentu saat itu orang di Riau belum tahu.
Ada tiga pihak yang jadi tokoh. Pertama para prajurit Jepang di bawah pimpinan Letnan Ose. Ose ini bukan tipe tentara kejam, cukup mengherankan untuk kasus pimpinan pasukan Jepang di tanah jajahan.
Pihak kedua adalah orang-orang Belanda tawanan Jepang dengan dua karakter menonjol berlawanan keinginan. Ada Wimpie yang ingin segera kabur, dan "Pastoor" Van Roscott yang yakin Jepang segera kalah dan mereka bisa bebas.
Pihak ketiga, warga Teratak Buluh plus Kliwon, seorang romusha asal Jawa, dan Satiyah, perempuan Purwokerto yang terjebak nasib menjadi pelayan Letnan Ose.
Semua tahu, dunia sedang berperang, tapi belakangan Teratak Buluh tak mencium aroma mesiu. Seakan desa itu terlena, desas-desus yang mengabari kekalahan Jepang bukan fokus utama. Mereka punya perjuangan sendiri mempertahankan nilai hidup masing-masing.
Ya, dan perang pun usai. Kutipan yang membekas buat saya adalah ini, "Perang itu agaknya sekarang sudah berakhir. Sekarang muncullah satu keadaan: banyak orang tidak tahu di mana dirinya berada, dan ke mana tujuannya."
.