Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mimi Lemon

Rate this book
Bagi banyak orang, hidup bisa demikian panjang. Saat satu kegembiraan bukanlah sebuah akhir. Akan ada rasa sedih, sakit, kehilangan dan perasaan terhampas yang menyusul. Rasa sedih itu juga bukan akhir, kebahagiaan kemudian akan tiba, setidaknya itu yang kita upayakan. Dan di anataranya, di saat-saat yang paling gelap, kita mencoba menggapai sesuatu untuk menjadi pegangan, yang kita dekap erat-erat hingga nanti, saat cahaya akhirnya tiba.

Karakter-karakter dalam delapan cerita Cyntha Hariadi juga mencoba menemukannya--pegangan itu--yang membuat hidup yang berat bisa tertanggungkan. Mereka berpegangan pada kenangan yang indah, bersandar pada rasa marah, pada harapan yang polos, atau pada kemungkinan tak terbatas dari hidup yang sama sekali baru. Bagaimana mereka bertahan? Bagaimana mereka menjalani hari-harinya? Hari-hari yang masih akan terus berjalan untuk waktu yang lama.

247 pages, Paperback

First published June 18, 2023

23 people are currently reading
394 people want to read

About the author

Cyntha Hariadi

12 books33 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
135 (33%)
4 stars
201 (50%)
3 stars
56 (14%)
2 stars
5 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 101 reviews
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
January 24, 2026
Oh Tuhan, suka sekali semuanya.

Tahun lalu, setelah menemukan Ruang Belakang dan Dari Bui Sampai Nun, saya percaya ada bentuk cerita pendek lain yang tidak melulu mengandalkan teknik twist ending yang dar-der-dor atau bikin mind-blowing, yang kadang berlari terlalu jauh ke imajinasi yang sulit dibayangkan. Saya merasa dua kumcer tersebut menuturkan cerita yang mudah ditebak, tapi tidak neko-neko dan terasa dekat.

Lalu tahun ini, saya memulai bacaan kumcer dengan buku ini yang berhasil membuat saya termangu cukup lama pada setiap akhir ceritanya. Itu bukan karena mencerna akhiran mengejutkan sebagaimana cerpen-cerpen yang biasa saya baca sebelumnya, tapi karena saya terpukau dengan hal-hal biasa mudah ditebak tapi dibawakan dengan cara yang indah dan elegan.

Cerita-cerita pada buku ini mengedepankan perasaan tokoh utama yang mungkin bukan siapa-siapa. Tokoh utamanya bisa jadi seorang ibu biasa, seorang istri, seorang sopir pribadi, atau seorang asisten rumah tangga. Masing-masing menghadapi kemelut kehidupannya sendiri dengan pilihan tindakan dan risiko yang diambilnya sendiri-sendiri juga. Kesederhanaan inilah yang saya kagumi dari kumcer ini.

Salah satu cerpen yang “biasa saja” itu yakni “Formula 44”. Dikisahkan Julia, seorang pegawai swasta lajang yang bertetangga dengan keluarga besar yang memiliki banyak anak. Ia bingung saat suatu ketika rumah keluarga tersebut sunyi senyap karena biasanya selalu riuh. ART-nya mengetahui bahwa sebelum sunyi sang ayah dari keluarga tersebut mampir ke sebuah warung untuk membeli sirop Formula 44 dalam jumlah yang banyak. Berbagai macam asumsi terjadi di benak Julia.

Namun, keesokan harinya anak-anak keluarga tersebut keluar rumah dengan ceria dan terlihat baik-baik saja. Sebagaimana Julia, saya mungkin juga akan berasumsi macam-macam kepada keluarga besar tersebut. Hal remeh seperti berprasangka terhadap tetangga itulah yang bikin saya terhubung pada cerita Julia. Siapa sih yang tidak berprasangka terhadap siapa pun?

Yang menarik, saya melihat pengarang kerap menyebut-nyebut merek tertentu pada beberapa ceritanya. Sebagaimana judul bukunya, pengarang mengadopsi merek sabun cuci piring Mama Lemon. Selain itu, ada Coco de Mer yang merupakan merek lingeri dan Formula 44 yang merupakan merek obat batuk sirop. Penyebutan merek itu menjadi komponen penting cerita yang tidak mungkin dihilangkan. Briliannya, saya tidak melihat penyebutan merek tersebut mengurangi keanggunan kepenulisan sang pengarang.

Setidaknya saya sudah membaca dua karya Cyntha Hariadi tahun lalu. Setelah membaca buku ini, saya semakin kagum dengan pengarang dan saya menobatkan pengarang sebagai salah satu pengarang favorit saya. Buku selanjutnya yang harus saya baca adalah Manifesto Flora dan saya tidak sabar.

Dan seperti yang saya utarakan di awal, saya tidak bisa memilih satu cerpen favorit dari buku ini karena saya suka sekali semuanya.
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
August 26, 2023
Kumpulan cerpen ini berkali2 melintas di linimasa, terlebih ketika Post Bookshop mengadakan diskusinya, juga ketika 2 klub buku favorit saya, @santaingobrolinbuku & @kebabreadingclub mengadakan obrol2 online bareng. Ada perasaan FOMO, tapi apa daya, prioritas & daftar baca sedang menumpuk hahaha.

Akhirnya pertengahan bulan ini saya menyediakan waktu untuk membeli & membacanya. Secara singkat, saya jadi paham mengapa Mimi Lemon cukup "hype" saat dirilis & nikmat didiskusikan.

Post Press adalah penerbit kecil yang selektif dalam rilisannya: hanya 1-2 judul dalam setahun. Saya yakin pertimbangan mereka sudah amat kuat ketika akan merilis karya Cyntha Hariadi ini. 8 cerpen yang benar2....... menghasilkan perasaan campur aduk. Sedih, tapi tegar. Kecewa, tapi penuh harap. Lemas, tapi dikuatkan. Marah, tapi mau bergerak melawan.

Kisah2nya didominasi tema perempuan besert segala konteks & problematikanya. Dengan suami, dengan anak, dengan ibu, dengan pembantu, dengan (dicurigai) selingkuhan, dengan perceraian, dengan keluarga yang berusaha dipertahankan, dengan kehilangan, dengan situasi pelik, dengan tuntutan masyarakat akan perempuan, dengan laki2 entah brengsek ataupun tidak peka, dengan upaya bangkit, dengan kemerdekaan diri sebagai perempuan, dengan perasaan takut, dengan kekerasan, dengan kecurigaan, dengan masalah mental, dengan kanker, dengan disabilitas, dengan kebangkitan dari kejatuhan.

Ragam pola bahasa di cerpen2 ini, dari kalimat2 formal, puitis, tidak baku, sampai relatif kasar, menunjukkan rengkuhan Cyntha pada berbagai cara manusia berkomunikasi dalam bahasa. Namun yang lebih kuat, ada kedalaman emosi yang saya yakini beliau rasakan ketika menulis & berupaya membagikannya kepada pembaca.

Mimi Lemon adalah ajakan menangis, lalu bangkit & tertawa. Marah, lalu berpikir & berupaya. Mengizinkan diri merasakan emosi2 gelap, lalu merengkuhnya sebagai bagian dari kehidupan. Membiarkan tubuh tak berdaya sejenak, lalu menjadi kuat.

Mimi Lemon, karena itu, adalah panggilan untuk apa yang disebut Roma 12:12 sebagai bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa.
Profile Image for Rahman.
170 reviews22 followers
March 6, 2025
Buku terbaik yang kubaca di 2025 dan kurasa akan sangat sulit menandingi predikat ini.

Buku ini awalnya kubaca akhir Desember tahun lalu. Dua cerpen pertama yang kubaca menawarkan pengalaman menyenangkan sekaligus langka: membuatku berteriak "kok udah selesai sih" pada tiap endingnya. Pengalaman itu berlangsung pada tiap cerita dan kuputuskan untuk membaca setiap cerpen pelan-pelan dengan jeda yang tak sebentar.

Hasilnya, aku ingin membaca Cyntha lebih banyak lagi!

Setiap cerita dalam buku ini layak mendapat bintang lima dan layak dibaca ulang pada waktu mendatang. Nuansa, diksi, dan kisahnya akan membekas lama dalam hatiku. Sungguh kisah-kisah yang peka dan hangat.
Profile Image for Szasza.
246 reviews22 followers
July 22, 2023
“Hidup ini sudah menyedihkan, tapi kita jangan.”

Buku ini berisikan delapan kumpulan cerita yang tema utamanya menurutku sangat berkesinambungan, tentang perempuan, perempuan di mata masyarakat, perempuan dan keluarganya, dan tentang ibu dan peran seorang ibu.

Cerita-ceritanya sangat ringan, mudah dibaca dan lugas. Tapi menurutku buku ini cocok dibaca secara pelan-pelan, diresapi setiap kalimat dan ceritanya, karena setiap cerita di buku ini memiliki kesan dan pesan tersendiri.

Buat aku sendiri cerita Mimi Lemon jadi salah satu cerita favorite ku, ceritanya sangat menyentuh, tentang keluarga, anak, peliharaan, dan kesendirian.
Profile Image for Woro.
97 reviews3 followers
September 13, 2023
Trigger warning: suicide

Buku ini memberikan kesan hangat tapi sedih. Setiap tokoh dalam buku ini mengalami kesedihan tapi berusaha bertahan dengan caranya masing-masing dan tetap memberikan kehangatan.
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
December 21, 2023
Actual rating 4.5 ⭐

Ini adalah buku kumpulan cerpen ketiga yang ku baca dari penerbit Post Press. Total ada 8 cerita pendek yang ditulis oleh Mba Cyntha dan hampir semuanya menghadirkan perempuan sebagai tokoh utamanya.

Dan dari 8 cerpen, semuanya memiliki nuansa yang beragam juga meninggalkan kesan yang berbeda-beda. Yang menjadi favoritku adalah Bella Biutiful, Holy Orange Bottles, dan Ke Planet Lain Bersama Aluna. Bella Biutiful adalah cerpen yang paling panjang, paling kompleks, sekaligus yang paling lama ku "habiskan" karena saat membaca cerpen itu, rasanya hatiku seperti diiris perlahan-lahan. Sakit tapi tidak berdarah :') Sosok Bi Ida dalam cerpen ini adalah seorang ibu yang ditampilkan dengan kompleksitas yang terasa sederhana namun berhasil meninggalkan kesan yang mendalam. Memiliki anak yang tidak "normal" seperti anak-anak lain jelas membuat kehidupan Bi Ida di kampung lebih berat daripada sebelumnya. Belum lagi Bi Ida hanyalah orang kampung yang tak berpendidikan dan harus mengandalkan tekad kuatnya untuk mencari uang dari orang-orang yang bersedia memberinya pekerjaan. Dari Bi Ida, aku bisa melihat seberapa besar kekuatan yang bisa dimiliki oleh perempuan dalam menopang derita, juga seberapa lapang hati yang bisa dimiliki seorang perempuan untuk tetap bisa hidup berdampingan dengan penderitaannya itu.

Holy Orange Bottle memuat kisah bittersweet dari seorang anak perempuan yang baru beranjak remaja, merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya sekaligus merasakan pedih karena ibu yang selama ini menjadi temannya bercerita harus dirawat akibat sakit parah. Dan Ke Planet Lain Bersama Aluna bercerita tentang seorang ibu yang mulai merasa "jauh" dengan anak perempuannya, Aluna, yang beranjak dewasa dan mulai suka mengikuti gerakan-gerakan feminis tanpa benar-benar paham dengan esensi dari gerakan yang diikutinya itu. Dari sosok Aluna aku bisa melihat anak muda yang naif dan masih mudah "disetir" yang tetap merengek pada ibunya, yang ia anggap tidak feminis karena menjadi ibu rumah tangga, ketika ia sakit.

Dari semua cerpen dalam buku ini, aku kembali disuguhkan dengan "wujud" perempuan yang berbeda-beda. Aku bisa melihat bahwa "wujud" perempuan itu bisa jadi sangat fleksibel selayaknya air tapi juga liat sehingga pribadinya bisa dibentuk sesuai dengan hidup yang dipikulnya. Perempuan, yang sampai saat ini masih sering dianggap sebagai manusia kelas dua, sebenarnya bisa mengemban peran apa saja, kuat memikul hidup yang berat, tapi juga tetap bisa lembut dan bersahaja. Dan seperti yang ditulis oleh penerbitnya di bagian belakang buku, aku menikmati buku ini dengan lambat karena berusaha mencerna setiap rasa yang hadir setiap kali aku membaca satu cerita dan menyadari bahwa kepedihan juga bisa dirayakan.

"Hidup ini sudah menyedihkan, kita jangan."

Mimi Lemon ini sudah pasti ku masukan ke dalam daftar bacaan favoritku sepanjang tahun 2023 🌻🌻
p.s. baru kali ini aku nemu buku kumpulan cerpen yang semua ceritanya benar-benar berkesan.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
July 26, 2023
Membuka musim panas yang masih hujan di Depok ini dengan membaca #MimiLemon serasa menghirup tanah basah setelah hujan. Ada bekas air mata yang belum kering dan keengganan untuk bersedih. Barangkali #CynthaHariadi tidak ingin bersedih tapi merayakan kesedihan adalah parade yang menyesakkan dada.

Hampir semua cerita dalam buku ini hadir dari sudut pandang perempuan, kebanyakan lagi sih soal menjadi ibu. Entah sadar atau tidak tapi cerita-cerita Cyntha akan membawamu mendiskusikan feminisme lebih dalam. Meskipun kita harus sadar ya, bahwa yang fasih bicara feminisme ya kita-kita yang privilege ini. Buku ini pun tidak menghindari itu, perempuan kelas menengah ke atas memang lebih banyak provokatif dan cerewet menghadapi patriarki. Sementara satu-dua perempuan kelas bawah dari cerita ini menghadapi kekangan relasi kuasa dengan kerja keras dan tabah.

Banyak diam yang bersuara. Banyak nilai yang didiamkan. Mungkin Cyntha meminta kita yang bicara.

Aku berharap buku ini dilengkapi dengan kriteria usia 13+ karena hal-hal yang terjadi diranjang seharusnya dibaca remaja dengan kawan diskusi yang mumpuni. Feminisme itu mengajarkan edukasi seks, area itu hanya bisa terjadi jika orang tua sadar betul betapa pentingnya membersamai anak yang tumbuh.


#WhatSekarReads2023 #WhatSekarReads
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
June 15, 2024
Buku ini adalah buku kumpulan cerpen kedua karya Cyntha Hariadi yang saya baca setelah Manifesto Flora. Kali ini beberapa cerpen mengambil latar belakang kondisi saat pandemi Covid dan lockdown diberlakukan. Salah satu cerita berjudul "Formula 44" adalah tentang seorang perempuan yang mengawasi tetangganya ketika lockdown. Biasanya di rumah tetangganya itu ada keributan, namun setelah si Suami tetangganya pulang ke rumah dengan membawa obat batuk yang banyak, perempuan ini menjadi cemas. Cerita yang menarik dengan open ending, menyisakan pertanyaan tentang keluarga tetangga ini.

Lalu ada juga cerita berjudul "Holy Orange Bottle". Ini kisahanya manis tapi berbumbu tragedi. Tentang Sonya, seorang anak perempuan yang memiliki seorang Ibu penderita kanker. Dia selalu menceritakan tentang dirinya dan teman-temannya kepada Ibunya. Termasuk ketika seorang anak laki-laki di kelasnya menaruh perhatian padanya.

Dua cerita di atas adalah cerita favorit saya di buku ini. Satu hal yang membuat saya sedikit terganggu adalah kalimat-kalimat dengan bahasa asing yang tidak dicetak italic. Mungkin karena tidak biasa saja sih.
Profile Image for Hanin.
55 reviews4 followers
January 19, 2025
Mimi Lemon ini kumpulan cerpen yang membahas tema feminisme dengan cara yang sederhana tapi penuh makna. Ceritanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi pas banget buat dibaca sambil merenung atau sekadar menikmati waktu santai.

Di balik alur-alurnya yang sederhana, cerpen-cerpen di buku ini punya twist kecil di sana-sini dan nggak selalu di akhir cerita, jadi rasanya tetap seru walau nggak terlalu nebak-nebak. Dari delapan judul, susah banget nentuin mana favoritku soalnya menurutku semua ceritanya bagus. Tapi ada tiga judul yang paling membekas ceritanya di hatiku: Mimi Lemon, Ikatan, dan Bella Biutiful.

Mimi Lemon — “Bayi bisa mati apabila tidak disentuh, seorang ibu juga.” Yang aku tangkap dari cerita ini adalah bahwa seorang ibu selalu perempuan tapi tidak selalu melahirkan. Melahirkan atau tidak, cinta mereka kepada anaknya sama saja.

Ikatan — Satu-satunya cerita yang tokoh utamanya seorang lelaki. Aku kagum sama kesetiaan Ihsan pada Pak Sam. Kalau bukan karena pekerjaannya, mungkin sulit bagi Ihsan untuk bersinggungan dengan orang-orang seperti Pak Sam di lingkungan sosialnya. Wajar jika ia menjadikan Pak Sam sebagai mentor dan bahkan idolanya.

Bella Biutiful — Tanpa sadar aku memeluk buku ini setelah selesai membaca cerita Bi Ida. Perjalanan hidupnya tidak mudah tapi ia sudah menjalani semampunya dan sebaik-baiknya. Format cerpen di dalam cerpen ini baru pernah aku temui. Alih-alih bikin bingung, justru menambah kesan saat membaca.

Menurutku, Mimi Lemon cocok banget buat siapa aja yang mencintai perempuan dan merasa terhubung dengan pengalaman mereka. Buku ini nggak cuma menghibur, tapi juga bikin refleksi tentang hal-hal yang sering dialami perempuan di kehidupan sehari-hari.
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
27 reviews2 followers
November 21, 2024
Aaaah, jatuh cinta sama bagaimana Cyntha Hariadi menulis. Apalagi Mimi Lemon, semua karakternya “hidup” dan saling berpegangan dengan keyakinan mereka masing-masing. What a beautiful experience I had with Mimi Lemon.

Aku suka bagaimana sebetulnya Mimi Lemon tidak jauh bertemakan tentang peran ibu. Perasaan-perasaan yang sebetulnya hanya dimengerti oleh mereka yang dipanggil “ibu”, dituliskan begitu indah. Pengalaman membaca bahasa-bahasa asing maupun daerah yang tidak diberi footnote jadi hal yang baru buatku. Senang bisa membaca Mimi Lemon.

Kalau begini ceritanya, aku mau jadi buzzer Cyntha Hariadi, tapi aku harus baca seluruh karyanya dulu hehehe
Profile Image for Launa.
247 reviews51 followers
January 5, 2024
"Kematian bukan urusan kita, tugas kita hidup. Saling membantu untuk hidup seperti kamu, Mama, dan Papa." (Cerpen Holy Orange Bottles)

Dalam kumcer Mimi Lemon, Cyntha memotret beragam cerita tentang perempuan sebagai ibu, istri, anak, orang tua tunggal, melajang, ART, majikan, dan individu. Lewat beberapa cerpennya, kita bisa melihat peran-peran mereka yang berganti dan bisa menggerus diri, serta mencoba berpegang pada hal-hal yang berarti dan dianggap penting ketika mengalami masa-masa sulit. Kumcer ini cuma berisikan delapan cerita, tapi semuanya mengena, bermakna dalam, dan emosional. Cerpen favoritku: Coco De Mer yang bikin emosi banget, Holy Orange Bottles yang manis dan hangat, dan Bella Biutiful yang amat mematahkan sekaligus menyakitkan hati dan manis dalam beberapa bagian. 🩷
Profile Image for Faizah Lentera.
271 reviews2 followers
August 24, 2024
Mimi Lemon mengangkat isu womanhood, mulai dari feminisme, kisah seorang ibu, hingga Mbak-mbak workaholic yang tiba-tiba tertarik dengan kehidupan tetangganya. Aku sendiri bingung cara menjelaskan gimana perasaanku kepada buku ini. Buku ini bagus dan punya cara menulis eksentrik, tetapi ada beberapa hal yang miss engga masuk ke otak. Beberapa akhir cerita terasa “Oh gitu doang.”. Entah ya mungkin otakku yang kurang mampu memproses segala metaforanya.

Ia menjadi ibu hamil yang dihindari oleh semua orang. Diprioritaskan adalah hinaan buatnya. Segala pujian terdengar palsu di telinganya. Dan jangan sekali-sekali menyentuh perutnya.
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
October 26, 2025
82 - 2025

Kumpulan cerpen yang hampir semua kusuka.
Cuma gemez gitu sih beberapa bisa lebih dipanjangin dikit. Namun, ya begitulah cerpen ya, harus cukup dalam batasan yang ditulis penulisnya.

Paling suka cerita berjudul : Mimi Lemon dan Bella Biutiful
Profile Image for Najwa.
139 reviews3 followers
March 9, 2024
Aku jarang baca kumpulan cerpen, tapi sejauh ini, buku ini adalah kumpulan cerpen favoritku
Profile Image for A.
24 reviews4 followers
May 13, 2025
Modern, nyentrik, bikin pilu!!! Cerita terakhir ngaco bagus bgt sampe kaget karena tiba tiba nangis kejer hshahzjahhahzhah
Profile Image for Nana.
17 reviews
January 7, 2025
To read when you need heartfelt stories on womanhood & motherhood, loss & hope. (tw: suicide)
Profile Image for Dinda Mahadewi.
69 reviews1 follower
October 5, 2023
Covernya menggemaskan ya? Tapi… apa kita bakalan tertipu dengan sampul bukunya? 🧐

Mimi Lemon merupakan sebuah kumpulan cerita yang terdiri atas 8 bagian cerita. Masing-masing cerita memiliki ‘cita rasa’ nya sendiri. Baca buku ini rasanya nano-nano, tapi juga gampang dicerna, termasuk light read lah ya. Cocok sebagai selingan bagi kalian yang merasa sedang jenuh. Cerita yang begitu membekas di hatiku sendiri adalah “Bella Biutiful”

Waktu ini ketemu dengan penulisnya langsung di @penerbitpartikular dan diskusi mengenai beberapa cerita di buku ini. Kak Cyntha ramah dan pembawaannya tenang banget, jadinya aku merasa punya ruang nyaman untuk berdiskusi.
Profile Image for Annas Jiwa Pratama.
126 reviews7 followers
Read
August 15, 2023
Saya mulai membaca Mimi Lemon ketika kucing saya yang berusia sekitar 7 tahun meninggal dunia karena infeksi COVID. Saya menemukan salah satu kalimat di buku ini yang benar-benar menggelitik saya dan sedikit memberikan katarsis: “Memandanginya tidur, cintaku kepada Aluna mengucur seperti keran mampet yang baru plong”. Saya dan ibu saya pun seperti kelabakan mengurus kucing saya yang satunya. Di satu sisi karena takut dia juga rentan menghadapi nasib yang sama, di sisi lain, saya rasa sebagai pelampiasan karena salah satu keran kami baru mampet secara permanen.

Cerita Ke Planet Lain Bersama Aluna tidak ada sangkut pautnya dengan kucing tentunya. Tetapi sedikit penggalan dari cerita tersebut, benar-benar menjadi pemicu refleksi bagi saya. Cerita-cerita Cyntha Hariadi, mayoritas bukan saya sepertinya target utamanya. Ia bercerita mengenai Perempuan-perempuan. Ibu. Baik dari elite Jakarta atau ART perantau, yang menjalani hidupnya, menggantungkan dirinya pada satu atau dua hal. Serta bagaimana mereka melanjutkan hidup, bahkan ketika hal tersebut sudah tidak ada lagi. Kalau saya yang adalah seorang laki-laki dewasa berkecukupan yang tinggal di Jabodetabek tanpa memiliki seorang anak bisa menyukai cerita-cerita ini, saya berharap mereka yang juga adalah bagian dari cerita ini bisa mendapatkan jauh lebih banyak lagi.
Profile Image for dhania.
15 reviews
August 10, 2024
Kumpulan cerpen yang menurutku semua ceritanya nge-hit, tidak ada miss-nya. Gaya tulis Cyntha Hariadi terasa lembut, tapi di saat yang bersamaan menyayat hati. Setiap karakter dan ceritanya yang sangat beragam akan membekas di hatiku, terutama cerita Bi Ida. Sekarang waktunya aku menghabiskan 10 menit untuk merenungkan kembali semua cerita mereka. Terima kasih Kanaya sudah mau meminjamkan bukunya!
Profile Image for Ursula.
305 reviews19 followers
August 13, 2023
For me, this book stands out not only for its captivating narratives but also for its intriguing book layout—an arrangement that I found to be nothing short of fascinating.

I could tell right from the start that this story collection is going to be good. The first story alone, portraying a mother-daughter duo with contrasting yet non-confrontational perspectives on feminism embarking on a journey in a dream, sets the tone for the collection. Amidst changes and occasional heated exchanges, the desire for intimacy between the two remains palpable.

Cyntha's stories revolve around women from diverse generations, ages, and backgrounds. We meet accomplished career women, dedicated stay-at-home moms, resilient single parents, and grieving widows, among others. While despair might thread through their lives, Cyntha skillfully avoids plunging into fatalistic narratives. Instead, she weaves a delicate balance, where even in the face of adversity, her characters cling to hope—sometimes even in the form of seemingly trivial aspirations. For instance, a teenage daughter, confronted with her mother's malignant cancer, seeks solace by orchestrating her own romantic relationship in the hope to alleviate both her mother's suffering and her own distress.

Cyntha's stories often go unexpectedly, defying readers' predictions and leaving them with a sense of freshness Her short, snappy sentences, despite their upbeat rhythm, counterbalance the weight of her occasionally dark plotlines. This juxtaposition creates a unique and refreshing narrative pattern, illustrating the dynamic interplay between her writing style and themes. Remarkably, the editorial choices, such as the omission of italics for non-Indonesian languages (English, Sundanese, Javanese, and French), offer a distinctive perspective.

These languages are naturally intrinsic to the characters' lives, hence, no need to make them stand out. They only feel foreign to us as readers, reflecting our voyeuristic vantage point. Although occasionally challenging to comprehend, this choice adds a layer of authenticity to the stories and encourages revisiting them after a couple of consultations with Google Translate.

Turning attention to the book's layout, an intriguing choice surfaces—the placement of the publisher's foreword at the end. This strategic placement defies the norm, allowing readers to engage with the stories free from external influence. By steering clear of preconceived notions, readers can form their interpretations and relish the book organically. This design decision empowers readers to align with the strengths that resonate with them, eliminating the urge to conform to prescribed opinions.

I’m looking forward to read more stories from Cyntha and other books from Post Press! Ah, another thing, there are still some copyediting mistakes here and there, perhaps something the publisher could improve for future printings.
Profile Image for Rei.
366 reviews43 followers
June 27, 2023
"Mimi Lemon punya kekuatan istimewa. Suaranya adalah bisikan sihir yang menaklukkan siapa saja yang menghuni gunung itu, kecuali ibunya. Tak terhitung jumlah kenakalan yang dilakukan Mimi Lemon. Semua orang dipermainkan untuk keuntungan dan hiburannya, kecuali ibunya. Ia menghormati dan mendengarkan kata-katanya karena membutuhkan dan bergantung pada kedelapan tangannya. Tapi Mimi Lemon senang menakut-nakuti. Ia bisa membisiki Gunung Batukaru untuk bangun dari tidurnya..."

Aku jatuh cinta kepada karya Cyntha Hariadi sejak membaca Kokokan Mencari Arumbawangi. Gayanya sangat ringan, bijak namun tidak menggurui, penggambaran karakternya mengesankan, dan narasinya indah namun jauh dari berbunga-bunga memuakkan. Karena itu, begitu Mimi Lemon terbit, langsung kusambar dan kubaca tanpa ditimbun dulu.

Dan harapanku bisa dibilang terlampaui sejak di cerita pertama. Ke Planet Lain Bersama Aluna menceritakan tentang seorang ibu yang merindukan anak gadisnya, seorang aktivis perempuan yang terlalu 'melek' sampai terkadang merendahkan ibunya sendiri yang 'hanya' seorang ibu rumah tangga. Cerita pendek ini sarat dengan sindiran yang walau disampaikan dengan halus, namun rasanya sangat mengena. Terutama tentang anak-anak muda masa kini yang dinilai oleh generasi tua terlalu berapi-api membela kaum tertindas namun mereka lupa dengan kebutuhan dirinya sendiri, bahkan sampai mengabaikan keluarga.

Sulit memilih cerpen favorit, karena semuanya meninggalkan kesan tersendiri. Kedelapan cerita dalam buku Mimi Lemon berpusat pada kisah keluarga. Di sana ada cerita-cerita manis: pertemuan pertama yang romantis, mimpi-mimpi dan harapan indah, relasi mesra antar manusia mulai dari ibu-anak sampai pegawai-majikan. Namun selayaknya kehidupan, di sana juga ada kepahitan, kehilangan, pengkhianatan, kebohongan, penyesalan, dan kerja keras tanpa hasil. Ada senyuman saat membaca, baik senyum haru maupun senyum getir. Ada kesedihan, banyak kesedihan yang hampa. Namun di akhir, hidup selalu berjalan dan ada harapan untuk terus menjalaninya dengan sebaik mungkin walau sepi dan sendirian.

"Mengejutkan betapa mudahnya aku terbiasa hidup sendiri. Kini semua yang aku cintai pergi, dan aku baru bisa melepaskan. Bukan dengan melupakan tapi dengan menghidupkan mereka dalam gambar-gambar. Sebelum kehilangan-kehilangan ini memutus rantai-rantai pikiranku." -Mimi Lemon, hal. 73.

Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
April 12, 2024
“Mereka mengobrol seperti anak kecil yang punya BFF pertama kali; yang sesampai di rumah akan menceritakannya pada orang tua masing-masing dengan mata berbinar dan hati tinggal sebelah.”

Kumpulan cerita pendek ini kebanyakan menampilkan karakter perempuan urban yang sering kali terjebak dalam materialisme. Membuatnya memiliki aspirasi yang sama dengan orang lain dan hidupnya tampak terbatas. Meski demikian, kebingungan mereka memberikan berbagai interpretasi dalam setiap cerita, dengan pembaca berperan sebagai "penulis" dalam mencari arti dari narasi ini.

Karya-karya Cyntha Hariadi adalah perwujudan postmodernisme yang telah diadaptasi ke dalam konteks Indonesia. Melalui variasi plot, karakter, dan ekspresi yang cerdas, ia membawa segarnya perumpamaan dan konsistensi dalam humor. Norma sosial dan gender lokal berperan penting dalam menentukan mobilisasi perempuan. Korelasinya dengan urbanisasi menjadi bagian integral dari cerpen-cerpen ini.

Cyntha Hariadi dengan cerdas menanamkan nilai-nilai tradisional dalam perspektif postmodern: setiap individu harus mampu mengatasi kesepian, ketidakpastian, sekaligus bencana. Pun ditambah dengan keinginan untuk melarikan diri yang telah ada sejak dulu dan sekarang. Hal-hal yang terasa cukup akrab kita rasakan di era pasca-modern.

Meski kumpulan cerita pendeknya tampaknya hampir tidak berhubungan karena kompleksitas lapisan metafora, makna yang dihasilkan oleh karakternya sangat beragam. Sebagai pembaca, saya senang dengan hal ini. Formulanya masih sama, bahkan lebih tajam dibandingkan dengan Manifesto Flora, dan menafsir ulang serta mencoba menyelaraskan dengan kehidupan pribadi mereka. Cyntha Hariadi dengan cerdas memainkan benang yang awalnya tampak kusut namun akhirnya bisa diurai.

Buku ini ditulis dengan gaya postmodernis, dengan sedikit detail untuk menciptakan konflik dramatis seperti dalam narasi tradisional. Namun, ini tidak berarti cerita tidak memiliki konflik. Cerita tetap mempertahankan konflik yang muncul dalam nuansa makna budaya daripada diungkapkan secara eksplisit. Hal ini menciptakan percakapan internal yang berkelanjutan dan membuat makna cerita berubah tergantung pada bagaimana pembaca menafsirkannya di waktu yang berbeda. Karya Cyntha Hariadi ini benar-benar merepresentasikan seni narasi yang cemerlang dan unik.

Bintang lima untuk gaya postmodernisnya yang rumit dan kaya. Mimi Lemon terasa fasih mengesampingkan penjelasan detail dan konflik dramatis yang biasanya ditemukan dalam narasi tradisional. Namun, bukan berarti Mimi Lemon kekurangan konflik. Sebaliknya, konflik-konflik dalam rentetan cerpennya mempertahankan nuansa yang lebih halus dan makin berfokus pada konteks budaya. Alih-alih disajikan secara eksplisit, konflik ini lebih sering muncul dalam bentuk yang lebih halus - dalam nuansa makna budaya yang tidak dikatakan, tapi dirasakan oleh pembaca.

Ada percakapan internal yang berkelanjutan dalam pikiran pembaca. Makna ceritanya berubah dan berkembang, tergantung pada bagaimana dan kapan pembaca menafsirkannya.

Karya Cyntha Hariadi ini benar-benar sebuah representasi yang cemerlang dan unik dari tulisan fiksi. Cyntha Hariadi menantang konvensi. Memaksa pembaca untuk terlibat lebih dalam pada interpretasi mereka sendiri.
Profile Image for Sandra Frans.
236 reviews3 followers
March 6, 2024
Karya pertama Cyntha Hariadi yang saya baca. Kadang membaca buku penulis yang baru kita kenal karyanya, butuh waktu beberapa puluh halaman untuk bisa terbiasa kemudian terpikat dengan gaya bertuturnya. Namun, hanya butuh dua tiga paragraf awal cerpen pertama untuk membuat saya tekun membaca sampai selesai.

Cerita-cerita keseharian dari para tokoh, yang kebanyakan adalah perempuan dewasa ini terasa dekat walau jauh. Nina yang merasa kembali dibutuhkan sebagai ibu ketika anak remajanya sakit, Anti yang harus berjuang sendiri sebagai ibu anak balita plus IRT plus pekerja, lalu ada Mimi Lemon yang dalam hidupnya menghadapi kehilangan demi kehilangan, ibu Lusia yang sebenarnya punya kesempatan meniti karir cemerlang di negeri orang namun kehilangan itu ketika menikah dan kemudian punya anak, Julia dan drama tetangga di perumahan kompleks, Ihsan seorang sopir keluarga kaya yang tidak suka bau parfum si nyonya, dan cerita paling favorit saya yaitu Bella Biutiful, dengan ibu Idayati sebagai pionir cerita ini.

Semua cerita dalam buku ini kuat, dan semuanya meninggalkan kesan yang mendalam setelah membaca. Biasanya penulis cerpen suka sok misterius, dengan menggantungkan cerita kepada imajinasi pembaca. Namun dalam buku Mimi Lemon, cerita-cerita ini mengalir polos, tanpa ada yang sengaja ditutupi. Membaca kisah-kisah ini, sama seperti ketika kita sedang naik bus dalam perjalanan yang panjang. Duduk di sebelah kita seorang ibu yang ramah, yang tidak terlalu peduli dengan siapa kita, namun dengan lancar berbagi cerita terkait kehidupannya, atau tentang anaknya, atau mantunya. Ceritanya membuat kita mangut-mangut, sambil diam-diam merenungi hidup sendiri.

Tidak sulit buat saya menetapkan buku ini sebagai salah satu bacaan terbaik di 2023.

Salah satu quote yang nancep datang dari Pak Sam, majikan Ihsan, “What’s broken is broken. You learn how to get on it. Dealing, not healing.”
Profile Image for Madeline Tioria.
35 reviews1 follower
July 3, 2023
Mimi Lemon merupakan sebuah buku yang berisikan delapan kumpulan cerita pendek.

Kesan pertama saya ketika membaca Mimi Lemon sesungguhnya bukan pengalaman yang teramat menyenangkan. Saya yang terbiasa membaca skimming, perlu menurunkan tempo membaca demi memahami dan terserap dalam setiap ceritanya. Cerpen pertama saya selesaikan dengan kernyitan di dahi--apa maksudnya? Mungkin karena cerpen yang disuguhkan tidak seperti cerita pada umumnya. Tidak ada happy ending atau pun sad ending. Persis seperti hidup, ceritanya masih dan terus berjalan.

Di tengah perjalanan tersebut, masing-masing karakternya berhasil menemukan pegangan yang menguatkan mereka di tengah hari-hari yang berat. Yang menarik adalah saya jadi menyadari bahwa tidak selamanya apa yang kita pegang menyenangkan. "Mereka berpegangan pada kenangan yang indah, bersandar pada rasa marah, harapan yang polos, atau pada kemungkinan tak terbatas dari hidup yang sama sekali baru."

Barulah setelah membaca dua-tiga cerita, saya bisa menikmati dan mengagumi cerita-cerita Cyntha Hariadi. Masing-masing ceritanya tampak begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam setelah membacanya. Bagi saya pribadi, buku ini sulit untuk diselesaikan dalam waktu yang cepat. Setelah membaca satu cerita, saya perlu memberi jeda bagi diri saya untuk memikirkan kembali cerita yang ada, apa yang penulis ingin sampaikan pada pembaca.

Jika boleh memilih, saya paling suka dengan cerita Ikatan. Mengisahkan tentang seorang sopir bernama Ihsan, dan impresinya yang berbeda pada kedua majikannya: Pak Sam dan Bu Ana. Plotnya unik dan tidak biasa. Saya juga suka bagaimana penulis menggunakan indra penciuman sebagai salah satu unsur dalam cerita. Imajinasi saya langsung terstimulir dan ternyata seru banget!

"Hidup ini sudah menyedihkan, tapi kita jangan." Mimi Lemon, hlm. 95.
Profile Image for Mia An Nur.
106 reviews4 followers
November 10, 2023
Ketika melihat sampul Mimi Lemon, aku justru langsung teringat dengan cerpen Cyntha Hariadi di Cerita-Cerita Jakarta (2021) yang berjudul "Matahari Tenggelam di Utara"—cerpen favoritku di buku itu sekaligus karya pertama Cyntha yang aku baca. Kali ini di Mimi Lemon, akhirnya aku bisa puas membaca cerpen-cerpen Cyntha yang semuanya meninggalkan kesan mendalam.

Mimi Lemon memuat delapan cerpen yang mungkin kelihatan berbeda, tapi punya benang merah "rasa" yang sama. Ada beberapa POV penceritaan—orang pertama, orang ketiga, atau gabungan keduanya—tapi sama sekali tak membuatnya berjarak. Satu hal yang membuat buku ini menarik adalah semua kisahnya menyorot kehidupan sehari-sehari, khususnya pada lingkup keluarga. Selayaknya hidup, seluruh tokoh di buku ini tak selamanya terjebak dalam kebahagiaan atau kesedihan. Ada rasa haru, getir, marah, hingga harapan polos dari para tokohnya yang turut aku rasakan. Persoalan "rasa" yang sedari tadi aku singgung memang menjadi poin utama dari buku ini. Walau ada selipan bahasa Jawa, Sunda, hingga Prancis—yang tadinya membuatku agak mencak-mencak karena kesulitan memahami artinya kecuali Jawa—ternyata aku (dan mungkin pembaca lain) tetap bisa memahami rasa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

Dari delapan cerpen dalam Mimi Lemon, aku memfavoritkan lima cerpen. Satu di antaranya yang sangat membekas buatku berjudul "Holy Orange Bottles". Aku bukan penggemar Taylor Swift, tapi ketika mengetahui bahwa judul cerita ini diambil dari lirik salah satu lagunya cukup membuatku kagum juga.
Profile Image for Hamima Nur Hanifah.
46 reviews10 followers
October 2, 2023
aku ngga sengaja baca 2-3 judul terakhir di #MimiLemon ketika sambil dengerin lagu2nya The Cranberries, e lah kok nangisssss. di luar cover dan judulnya yg manis, ternyata buku ini memporakporandakan hatiku banget, alias memberikan pengalaman membaca yg sungguh hshshshshshshsh :')

tiap kali selesai membaca satu judul cerita, hatiku dibuat mencelos, pikiranku jd mengawang. hidup ini ternyata rapuh banget ya... ada banyak kemalangan dan penderitaan, tp di waktu yg sama jg ada berkat dan peruntungan yg menanti kita. karakter2 di Mimi Lemon (yg kebanyakan perempuan dan seorang Ibu) merefleksikan banyak sekali hal soal hidup yg mowat-mawut ini—tanpa membuat kita merasa digurui.

Mbak Cyntha yg puitik (tp tetap realis) ini menulis banyak tentang tragedi, kepiluan2 hidup, duka dan kehilangan, rasa bersalah, jg penyesalan. dan di tengah kepahitan itu semua, tokoh2 di bukunya dibekali dgn ketabahan dan kelapangan hati utk menyiasati hidup, utk bertahan dan melanjutkan hidup yg yaaaa... begini sedih dan begini memuakkan.

sejauh ini hampir suka dengan semua cerita (8 judul) di buku ini. dari relasi ibu-anak, suami-istri, majikan-karyawan, sampai hewan peliharaan. buku ini jg bicara feminisme, tp dgn penuturan yg lembut dan sederhana, perbincangan mengenai bab ini nggak pakai bahasa yg ndakik2 dan nada galak marah2. bagussss!!!

"hidup ini sudah menyedihkan, kita jangan." apik bgt cok kutipannya 😭🌻
38 reviews
December 17, 2025
Tiap baca cerpennya aku lebih sering ngerasa
"Kok ceritanya udah selesai? Harusnya endingnya ga gini ga sih?" Kayak ceritanya ngambang wkwk kebayang ga si? But i keep reading anyway...
Pada akhirnya nerima aja 'emang begitu'. Karena dispoil temen buku ini tentang kehilangan tapi secara inplisit. Sampe di tengah-tengah makin berasa ini rasa kehilangannya bukan yang nangis meraung gituu tapi lebih ke sesekali emosional yang didapet tuhh ‘kehilangan' yang kayak tatapan kosong, jalanin sehari-hari, repeat rutinitas, memutuskan lanjutin hidup, merawat hidup

Tak ada tragedi yang lebih besar bagi orangtua daripada ditinggal mati anaknya. Hidup orangtua adalah untuk anak. —p.11

Betapa mudahnya kita yang tidak saling mengenal, menghormati satu sama lain untuk melakukan hal-hal yang kita sukai… Setiap orang berhak atas sebuah ruang sementara, gratis. Bila kita tidak suka apa yang dilakukakan orang lain, tanpa harus menyinggung, tinggal pindah. —p.82

Hidup ini sudah menyedihkan, tapi kita jangan. —p.95

…aku menyadari hubunganku dan Mama tidak seimbang. Mama tau segalanya tentangku, tapi apa yang kuketahui tentangnya, diluar apa yang dilakukan untukku? —p.152

Kematian bukan urusan kita, tugas kita untuk hidup. Saling membantu untuk hidup… —p.158

Aku takut diam. Sepi memaksaku merasa. Berpikir membuatku kuat, merasionalisasi, menjustifikasi, mendebat, sedangkan merasa bisa melumpuhkanku. —p. 207

…sesudah semua berlalu, pada akhirnya hidup akan baik-baik saja, dan kita akan banyak tertawa —p. 242
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 101 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.