Adakah Tuhan sedang memberi jeda untuk kita atau memang tak ada nama kita dalam takdir-Nya?
Menjalani hari bersamamu begitu menyenangkan. Tidak ada yang lebih daripada dirimu yang aku inginkan. Kita tenggelam dalam riuhnya impian, hingga baru tersadar setibanya di persimpangan. Aku dan kamu berbeda tujuan.
Namun, kita sama-sama ragu apakah perpisahan yang benar-benar kita inginkan. Kita memutar arah, berusaha kembali dari sudut yang berseberangan.
Mungkin kita bisa bertemu kembali di ujung jalan yang sama. Mungkin kita bisa merajut kembali mimpi yang tertunda.
Sefryana Khairil is a writer who published more than 10 books as a team or under her own name in several notable publishing house in Indonesia, like GagasMedia and Gramedia Pustaka Utama.
In her teenage years, she began to write fictions. Her first novel, You, when she was 15 years old. Following her debut, she continued to write as a freelance writer for number of magazines, such as Aneka Yess!, Gadis, and Kawanku.
Her sixth novel, Dongeng Semusim, was Chic Magazine's The Most Wanted Book and was Cleo Indonesia Magazine’s the Book of The Month for February 2010.
In August 2011, Dongeng Semusim, Rindu, Tanah Air Beta, and Coming Home exhibited at the Book Fair in Bern, Switzerland.
Saat aku masuk ke toko buku, aku dikagetkan oleh suara sapaan temanku yang (ternyata) bekerja di toko buku. Kami mengobrol ini-itu, untuk melepas kangen setelah 1 tahun tidak bertemu, setelah 1 tahun lulus dari SMK. Buku ini kelihatannya bagus, pikirku. Lalu, aku membelinya.
Saat aku keluar dari toko buku, aku dikagetkan lagi oleh suara sapaan temanku yang lainnya yang sedang bekerja di toko sepatu--berada di depan toko buku. Aku menghampiri, ngobrol. Dia juga temanku SMK. Lalu, aku pulang.
Pas banget rasanya, membaca buku ini sembari mendengarkan lagu (terbaru) dari Linkin Park--Final Masquerade. Coba Tunjuk Satu Bintang. Dio dan Marsya, 3 tahun yang lalu, mereka berencana akan menikah. Tapi, Dio memilih untuk mengejar mimpinya, bekerja di Hamburg, salah satu kota tersibuk di dunia. Dan, Dio membatalkan pernikahannya.
3 tahun telah berlalu. Dio kembali di tanah air untuk meminta maaf kepada Marsya. Ia ingin bisa kembali bersama Marsya. Rama dan Kimmy, dua orang sahabat mereka, berusaha menyatukan mereka lagi. Tetapi, Marsya terlalu egois--mungkin trauma, gengsi atau sakit hati--dan ia memilih untuk menghindari mereka, menghindari Dio. Padahal Marsya masih cinta sama Dio. Begitu juga Dio. Marsya ketemu Andro--sahabat lamanya--saat ia menyendiri di pantai, di pusat gravitasi. Marsya merasa tenang dan nyaman bersama Andro. Sampai Marsya menerima lamaran Andro. Kabut... Gelap... (Yeah...) Inti ceritanya, Dio dan Marsya balikan dan baikkan lagi. :)
Setelah selesai membaca buku ini, aku sedikit kaget. Ceritanya kurang ada G-R-E-G-E-Tnya. Ceritanya (sedikit) datar, kurang ada konfliknya. Terasa seperti penulis baru. Hehe Covernya bagus. Di buku ini, penulis menyelipkan hal-hal seputar astronomi. Bagus, untuk menambah pengetahuanku mengenai astronomi.
Buku ini menjadi saksi bisu akan kekagetan-kekagetan yang kualami; kekagetan-kekagetan bersama 2 temanku tadi.
Segala perlengkapan pernikahan telah disiapkan. Namun, tiba-tiba saja Dio membatalkan pernikahannya dan Marsha dengan alasan ingin menggapai mimpinya di Hamburg. Siapa yang tidak emosi coba? Hal itu membuat Marsha berang. Ia kesal akan sikap Dio yang egois, lebih memimpikan mimpinya dibanding pernikahan yang sebentar lagi dilaksanakan.
Tiga tahun setelah 'perpisahan' itu, Dio kembali. Berencana untuk menyelesaikan urusannya dengan Marsha yang belum selesai di masa lalu. Namun, apa boleh buat, Marsha terlanjur marah dengan pemuda itu, meskipun rasa cinta itu masih ada. Dio yang awalnya optimis akan mendapatkan Marsha kembali pun, lama-kelamaan menjadi resah karena ternyata sudah ada pemuda lain yang mendekati Marsha, yaitu Andro..
Sanggupkah Dio menyambung kembali ikatan yang pernah 'patah'?
Sebelumnya, aku mau bilang terima kasih dulu buat Gagas Media yang udah memberikanku kesempatan untuk ikut serta meramaikan #unforgotTEN. Terima kasih, Gagas! Terima kasih kadonya. Dan.. happy birthday! :)) Satu lagi, aku juga mau bilang maaf, kalau saja review ini terkesan kasar.
#TimeForReview
Sefryana Khairil adalah salah satu penulis yang biasanya menghasilkan karya cantik. Sebut saja Sweet Nothings, salah satu novel yang ratingnya lumayan tinggi! Makanya aku tanpa ragu langsung memilih buku ini sebagai salah satu kado. Yup! Beneran tanpa ragu! Nggak lihat Goodreads lagi. Nggak jalan-jalan ke review orang lagi. Pokoknya langsung comot tanpa pikir panjang. Soalnya penulisnya Sefryana Khairil dan covernya cantiiiiik banget. Taruh saja gambar bintang-bintang sama paduan warna manis begitu, aku pasti langsung tertarik!
Aku memang belum pernah membaca buku karangannya Sefryana. Tapi punya satu bukunya, yaitu Sweet Nothings tadi (dan kemarin-kemarin berencana untuk beli Beautiful Mistakes), yang masih tiduran cantik di timbunan. Jadi ini adalah buku Sefryana yang pertama kubaca. Dan pendapatku mengenai buku ini adalah..
Aku suka gambar-gambar bintang bertaburan di dalam buku. Aku juga suka banyaknya embel-embel Astronomi seperti Orion, Sagita, Bellatrix, dll yang bentuk dan kadar cahayanya tidak pernah kuketahui. Entah kenapa rasi bintang selalu membawa kesan romantis.
Pas baca prolog, aku tertarik membacanya. Berharap ditawarkan kisah yang tidak biasa meskipun inti yang tergambar dari prolog biasa saja. Aku terus berusaha optimis. Menunggu dan menunggu bagian yang paling tidak buat aku senyum-senyum sendiri karena gentlemannya Dio atau mungkin twist dalam cerita. Namun, sampai aku menutup halaman terakhir, aku tidak mendapatkan apa pun. Selesai baca aku cuman bisa bilang: "Udah? Gitu aja?"
Aku tidak bisa menjudge buku ini berlebihan karena aku belum pernah baca karya Mbak Sefryana yang lain. Cuma ada satu hal yang buat aku heran, Mbak Sefryana ini kan udah pernah menelurkan banyak buku, kenapa Coba Tunjuk Satu Bintang malah terkesan seperti 'karya pertama' seorang penulis, bukan karyanya yang kesekian?
Konfliknya terlalu biasa dan aku agak tidak menikmati saat membacanya. Jadi penasaran, Mbak Sefryana nggak lagi dipaksa buat buku kan makanya ceritanya jadi begini? Padahal ceritanya bisa digali lebih dalam lagi lho, Mbak. :)
Untuk karakter, jujur saja aku tidak menyukai sikap Marsha yang plin-plan. Gengsinya terlalu tinggi sampai-sampai ngelakuin keputusan nekat padahal masih sayang Dio. Dio sendiri kurang kreatif untuk mendapatkan cintanya kembali, juga terkesan sebagai pemuda yang putus asa. Dia belum tahu kenyataannya, eh, udah sakit hati aja. Dio.. kamu harus jadi cowok yang dewasa, okay? Marsha juga, lho. Mungkin Andro, orang ketiga, yang berhasil mencuri sedikit perhatianku, tapi tidak banyak..
Satu bintang untuk latar Astronomi yang kuat dan satu lagi untuk desain sampul yang cantik. Aku berharap lebih pada karyamu yang berikutnya, Mbak Sefryana. Untuk Gagas, semakin sukses dengan buku-buku terbitannya! :D
Kasih 2 bintang bukan berarti novel ini jelek ya. Dari keseluruhan cerita ini cukup manis. Hanya saja,gue gk dapet gregetnya dan terkesan 'datar' dari awal cerita sampe akhir.. Ini hanya masalah selera aja sebenernya.
Ceritanya tentang sepasang kekasih (Dio dan Marsya) dimana mereka harus berpisah karena Dio ninggalin Indonesia untuk bekerja di Hamburg. Padahal mereka mau nikah. Inti ceritanya seperti itu,yah pada akhirnya mereka balikan lagi ya.. Yang gue suka dari cerita ini tuh di endingnya yang menurut gue manis banget ^^
Covernya cukup manis memang,siapapun pasti akan tertarik untuk membopongnya ke kasir. Tapi gue nemuin banyak celah kosong di tiap halamannya. Entah kenapa ya,font tulisannya pun terlalu besar dan gk biasanya. Ditambah lagi banyak banget halaman yang kosong melompong,cukup disayangkan memang.. :( Entahlah gue pun kurang paham aja. Mungkin memang sengaja dibuat seperti itu,tapi yah yah gimana yah.. Ah sudahlah..
Hanya 200 halaman dan tipis banget. Banyak alur yang menurut gue terlalu dicepet-cepetin jadi gk berkembang dan terkesan datar. Kalo menurut gue sendiri,sebenernya banyak banget adegan2 yang bisa dikembangin hingga menjadi panjang dan lebih menarik lagi. Tapi sudahlah,gue ini kan cuma pembaca dan penulis pasti tau yang terbaik *tapi akuh cuma kasih masukan doang* ._.
Yap,untuk CTSB ini gue kurang suka ceritanya. Untuk saat ini dari karya kak Sef mungkin Sweet Nothings favorit gue ^^
Menjadikan cinta sebagai sebuah tema tulisan tidak akan ada habisnya. Selalu ada yang bisa ditulis tentang tema yang satu ini. Dan novel-novel GagasMedia selalu bisa mengambil sudut pandang yang berbeda-beda tentang tema cinta.
Buku Coba Tunjuk Satu Bintang pun mengangkat tema percintaan dengan dua tokoh central yakni Marsya dan Dio. Cerita dibuka dengan perpisahan yang terjadi diantara keduanya. Dio melepaskan Marsya demi mengejar apa yang ia pikir adalah masa depannya. Namun benarkah pilihannya??
Kehidupan Marsya sendiri setelah ditinggal Dio menjadi berbeda. Semua itu nampak dari lukisan-lukisan yang dihasilkannya. Ya, Masrya memiliki studio lukisan dan sempat berencana membuat pameran tunggalnya. Sayang rencana itu kandas setelah perpisahannya dengan Dio. Tiga tahun berlalu dan ternyata itu belum cukup untuk melupakan Dio.
Marsya memutuskan untuk menyendiri di sebuah tempat. Di tempat itu ia bertemu kembali dengan Andro, seorang teman yang sempat membantu persiapan pamerannya yang gagal terlaksana. Saat itu kehadiran Andro mampu memberi rasa nyaman yang sudah tidak pernah ditemuinya sejak berpisah dari Dio.
Di saat yang sama Dio pulang. Pulang untuk meraih kembali apa yang pernah dilepaskannya. Dia pulang untuk menemui Marsya. Ternyata tiga tahun tak berarti apa-apa bagi Dio. Apa yang ia pikir masa depannya ternyata tidak mampu mengisi kekosongan hatinya karena berpisah dengan Masrya. Namun masih adakah kesempatan itu? Bersediakah Marsya memaafkannya?
Sahabat Marsya dan Dio yakni Kimmy dan Rama mencoba menyatukan kembali mereka berdua. Mulai dengan merencanakan liburan berempat ke Bunaken hingga mencoba menguatkan Dio untuk terus memperjuangkan Marsya. Saat itu Marsya sendiri mulai kebingungan dengan keputusannya. Dio sudah melukainya sedalam itu, sudah meninggalkannya dan kini kenapa harus kembali ke hidupnya? Andro pria yang baik dan menarik, cintakah Marsya padanya?
Hingga akhir kita akan terus menebak ke mana arah hubungan Marsya dan Dio. Bersatukah? Ataukah berpisah untuk selamanya? Kuncinya ada pada Marsya. Adakah hatinya sudah mendua? Oiya, dalam setiap bab dalam novel ini selalu ada petikan-petikan tentang astronomi. Bahkan kisah Marsya dan Dio dideskripsikan melalui hubungan bintang-bintang dan rasi bintangnya (meski saya tidak begitu mengerti tentang dunia astronomi). Selain itu ada pengantar-pengantar singkat yang manis yang menjadi penengah dari setiap bab. Contohnya : Sepertinya kita tidak ke mana-mana. Hanya berdiri di tempat yang sama. Kita berhenti berusaha. Kita sama-sama tidak percaya pada apa yang kita punya.
Dan satu lagi nilai plus dari buku ini yaitu sampulnya yang menggugah. Seperti biasa GagasMedia berhasil mendesain cover yang menarik dan menggugah. Selain itu huruf-huruf dalam buku ini pun cukup ramah bagi mata. Hm..kalau harus memberi nilai pada buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8(^_^)v
Quote: -----“Menurutmu, kenapa cinta itu tidak seperti asas Black?” “Tentang kalor itu?” “Yup!” Andro mengangguk. “Karena untuk urusan cinta nggak selalu sebesar apa pun kita memberi, sebesar itu pula kita menerima,” Mata Marsya mengarah pada bintang di langit.-----
Novella ini diawali dengan kisah Dio yang memilih meninggalkan Marsya demi mengejar impiannya menjadi ahli astronomi. Rencana pernikahan mereka tentu saja batal. Marsya tidak berbuat apa-apa selain berkata, “Aku tahu, mimpimu lebih berarti daripada apa yang udah kamu miliki.“ Kisahnya pun melompat 3 tahun kemudian. Meskipun Dio sudah berusaha mengejar mimpinya sampai ke Hamburg-Jerman, Dio menyadari kalau dia tidak bisa melupakan Marsya. Kalung dengan liontin bintang pemberian Marsya masih disimpannya. Ketika masa liburan tiba, Dio pulang ke Indonesia dengan harapan bisa mendapatkan kesempatan lagi dari Marsya.
Sementara itu, Marsya tenggelam dalam kegiatan melukisnya. Berbeda dengan 3 tahun yang lalu, lukisan Marsya saat ini menjadi suram. Marsya memutuskan untuk pergi menyendiri sejenak ke suatu tempat yang disebutnya sebagai pusat gravitasi bumi. Di sana dia bertemu dengan Andro, seseorang yang pernah dikenalnya dulu. Bersamaan dengan itu Dio kembali hadir di hadapannya. Merasa sakit hatinya belum sembuh, Marsya menghindari Dio dan tidak memberikan kesempatan bagi Dio untuk menjelaskan kepergiannya dahulu. Meskipun sahabat mereka, Rama dan Kimmy, sudah turun tangan berusaha mempersatukan mereka, Marsya tetap menutup diri. Marsya justru menerima cinta yang ditawarkan oleh Andro, meski dengan hati yang bimbang.
Kisahnya masih berlanjut, masih ada tarik-ulur antara Dio dan Marsya ala sinteron kejar tayang. Tapi saya malas menuliskannya, ntar tahu-tahu malah saya menceritakan isi satu buku. Kenapa saya bilang begitu? Ya karena novella ini memang singkat. Sudah gitu hurufnya gede-gede pula seperti bacaan anak-anak. Saya saja membacanya kurang dari 2 jam.
Yang saya ga mengerti kenapa Dion harus meninggalkan Marsya hanya untuk kuliah ke Jerman? Kerjaan Marsya kan pelukis ya… bisa kan melukis di Jerman? Kalau Dio memang segitu cintanya sama Marsya ya tentu dia memikirkan cara bagaimana bisa mendapatkan impian sekaligus cintanya.
Saya nyaris ga percaya kalau novella ini karya mbak Sefryana. Beberapa karya beliau sebelumnya jauh lebih bagus daripada yang ini. Yang satu ini terasa dangkal. Kalau bukan karena quotes tentang bintang-bintang di dalamnya, saya ga ragu ngasih bintang satu saja.
Coba Tunjuk Satu Bintang. Oke, saya menyelesaikan novel ini hanya dalam waktu 3 jam. Mbak Sefryana Khairil menuliskannya dalam bahasa yang sangat ringan. Ceritanya sih klise dan udah bisa ketebak sejak pertama baca. Dan saya rasa cukup banyak novel yang memakai ending seperti ini. Di bandara, si tokoh akan pergi ke luar negri meninggalkan tokoh lain dengan perasaan menyesal lalu tokoh tersebut mencoba mengejar untuk mendapat kesempatan lagi. So cheesy. Keseluruhan menghibur tapi sayang, saya nggak mendapatkan kesan apa-apa ketika menutup novel ini. Tapi yang saya suka dari novel ini adalah Mbak Sefryana ngebawa hal-hal berbau astronomi di dalamnya. Spica. Prometheus, Sirius dll. Saya suka astronomi kebetulan. Dan jatuh cinta sama quote-quote di sini. Keren banget Mbak! Kavernya juga cantik banget lho :)
cerita yang simple, gampang dimengerti dengan alur yang cukup cepat, mgkin karna tipis dengan hanya 200an halaman dan huruf yang besar-besar. walaupun kurang berasa tapi tetap indah..
Apakah itu kita, saling merindukan, namun saling takut terluka? (Hal. 20) . ⭐ Apakah hanya saya yang berpikir bahwa ilmu astronomi yang diramu kedalam cerita bisa membangun nuansa romantis dan sendu pada sebuah novel? Saya merasakannya lewat beberapa kutipan indah yang ada di dalam kisah Dio dan Marsya,diantaranya adalah :
"Jika mencintai seperti proses respirasi, lalu mengapa kamu membiarkannya berhenti?" Hal.1
"...Sekalipun Saggita tidak mempunyai bintang yang cerah, tetapi aku mampu menjadi Prometheus yang rela mengorbankan diri demi secercah cahaya abadi, untukmu, pada satu bintang..." Hal. 25-26
"Kamu adalah Orion si pemburu dan aku adalah Sagitta si panah. Kita berdua berada di utara Ekuator..." Hal. 158
⭐ Novel mbak Sefryana ini memberikan kejutan yang cukup menyenangkan bagi pembaca yang juga menyenangi ilustrasi astronomi pada covernya dan sebagai bonus, ilustrasinya berwarna.
⭐ Konflik yang di hadirkan cukup umum, namun diksi yang indah dengan nama-nama rasi bintang yang ada di ceritanya membuat novel ini tetap menarik untuk dibaca.
⭐ Interaksi tokoh Dio dan Marsya dengan konflik yang mereka alami yang cukup canggung, namun bagi saya terasa masuk akal. Saya pun akan sulit menghindari kecanggungan ketika bertemu dengan orang yang amat berarti di masa lalu...apalagi jika interaksi bisa memicu pikiran serta perasaan yang coba diredam.
⭐Bagian akhir dari novel ini juga cukup memuaskan karena permasalahan Dio dan Marsya terselesaikan dengan baik dan barangkali sebagian yang membaca akan merasa lega setelah mengetahui akhir dari novelnya
Baca ini karena... kovernya... dan halamannya yang sedikit... tapi pada akhirnya saya malah skimming dan skip-skip. Desainer kovernya sama dengan Memento - Wulan Dewatra yaitu Amanta Nathania. Yes, another female designer 😁 and I can already see her signature in both book covers.
Ceritanya dekat dengan selera pembaca urban romance, but it's pretty much "what's next-what's next-what's next" rather than the hows and whys both characters make it happen. Jadi kayak ada yang hampa di tengah-tengah, entah dari karakterisasi tokohnya, atau alasan keputusan yang dibuat, atau latar yang kurang terbayang karena minimnya informasi. Beda sama cerita beliau yang lain. Apa mungkin karena ini reprint debutnya?
Mungkin saya akan baca ulang suatu hari nanti, ketika saya butuh bacaan cepat. Soalnya kover, judul, gaya bahasa, dan latarnya udah bagus bangettt.
Jujur ceritanya mengecewakan karena tokoh utama pria nya yang meninggalkan si cewe karena egonya dan setelah 3 tahun berusaha mengajak cewek balikan. Aku kurang suka ketika tokoh utama cowo bersikap pecundang seperti itu.
Novel paling ngebosenin yg pernah gue baca. Padahal konsep penganalogian pake nama nama bintangnya lucu, tapi ceritanya jelek. Setelah gue selesai baca, reaksi gue cuma wtf did i read.
Singkat lagi aja ya. Dio dan Marsya hampir saja menikah, karena lebih penting impiannya, Dio meninggalkan Marsya memilih terbang ke Hamburg, padahal hari pernikahan mereka tinggal beberapa minggu. Ketika Dio berhasil meraih mimpinya, dia ingin meraih kembali mimpi yang sempat ditinggalkannya dulu, sagitanya. Apakah masih ada kesempatan kedua? Apakah Marsya lebih memilih Andro daripada dirinya?
Segitu aja Lis sinopsisnya? Habis bingung mau nulis apalagi karena ceritanya emang mentok disitu. Dengan spasi yang lumayan lebar dan huruf yang cukup besar, sebenarnya buku ini bisa dikategorikan novella. Entah apakah Sefryana kekurangan ide atau dikejar deadline, saya rasa cerita dibuku ini kurang matang. Ceritanya biasa banget, nggak ada sesuatu yang baru, kecuali tentang astronominya, yak walau nggak baru sekali ini saya baca cerita yang ada dunia perbintangan dan angkasa ini, cukup memberikan warna. Jadi tahu kalau Sirius adalah bintang paling terang di langit malam, Spica bintang paling terang di rasi bintang Virgo. Nggak dijelaskan juga mimpinya Dio itu apa? Kemungkinan berhubungan dengan astronomi, sedangkan Marsya sendiri seorang pelukis. rasanya nggak masalah deh kalau mereka nikah terus Dio mengejar mimpinya sebentar, LDR kan juga sekarang mainstream, jadi nggak usah dengan mudah membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari. Agak terganggu dengan Marsya menyebut langsung nama ibunya, bukannya dengan panggilan ibu atau mama, kalau misalnya ibu tiri bisa saya terima. Agak kasihan dengan Andro yang habis manis sepah dibuang.
Saya lebih menyukai Sefryana nulis domestic romance, tentang rumah tangga, keluarga, suami istri dan sebagainya, itu bisa jadi ciri khas loh, belum banyak penulis indonesia yang selalu mengambil tema tersebut. Kayaknya sih simple, tapi cerita keluarga dan rumah tangga itu lebih kompleks, banyak banget yang bisa dikembangin di dalemnya. Sefry pernah ngambil tema: kehilangan anak, perceraian, orangtua tunggal, kenapa nggak dilanjutin lagi dengan tema yang lain?
Yang bagus menurut saya dari buku ini adalah cover dan quote-quote yang bertebaran. Berikut beberapa quote yang saya suka:
"Jika mencintai seperti proses respirasi, lalu mengapa kamu membiarkanku berhenti?"
"Aku adalah Sagitta yang terletak di utara ekuator. Di mana pun kamu berada, kau selalu dapat melihatku."
"Di antara rasi yang bercahaya, terdapat dirimu, sang pemburu hebat, Orion."
"Aku tidak ingin pendar gemintang itu memudar. Karena aku akan mengirimkan Equulues dan Crux untuk menjaga Sagitta agar terus bercahaya. Tak apa jika tak cerah, tetapi aku tahu, ia bahagia."
"Orion, dirimu adalah pemburu di langit malam, berdiri di sebelah sungai Eridanus bersama Canis Major dan Canis Minor. Terlihat Betelgeuse di bahu kananmu dan Bellatrix di bahu kirimu. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka membentuk Anterisma sebagai sabukmu. Kegagahanmu terpancar dari Saiph dan Rigel pada sepasang lututmu. Dengan Hatsya, kau melawan Taurus."
Quote terakhir di atas jadi pengen mencari cerita tentang yang berbau astronomi, maksudnya kayak Saint Saiya gitu, hehehehe.
Buat yang pengen nambah koleksi tentang buku yang bercerita tentang move on dan kesempatan kedua, bisa pilih buku ini.
Coba Tunjuk Satu Bintang Antara Cinta, Mimpi dan Kesempatan Dio dan Marsya harus membatalkan pernikahan yang hanya menghitung Minggu. Hal itu terjadi karena Dio lebih memilih untuk mengejar mimpinya di Hamburg dan membutktikan kepada keluarganya bahwa ia bisa menjadi orang dengan caranya sendiri. Namun, tanpa ia sadari keputusan itu menambah sesak hati dan perasaan yang Marsya miliki untuk Dio. Cinta yang dimiliki Dio kepada Marsya begitu besar, bahkan ia masih saja menginginkan kembali kepada Marsya meski sudah lama ia jauh meninggalkannya. Di Hamburg, mengingat dan keinginan untuk bersama Marsya lagi adalah harapan yang masih saja ia miliki. Sama halnya Dio, cinta yang dimiliki Marsya terhadap Dio cukup besar. Bahkan, sejak kepergian Dio dari hidupnya membuat lukisan-lukisan dari kanvas Marsya terlihat kurang hidup karena tak dapat dipungkiri bahwa Dio juga penyemangatnya selama ini dalam membangun mimpinya menjadi seorang pelukis. Dio yang berusaha kembali pada Marsya mencoba untuk datang dan masuk ke dalam kehidupan Marsya. Nyatanya, kepulangan Dio ke Indonesia tak disambut baik oleh Marsya yang mulai enggan untuk menerima Dio. Hati Dio semakin ngilu ketika ia tahu bahwa Marsya telah memiliki orang lain yang berusaha meraih cinta yang dimiliki Marsya. Ardo, pria yang melangsungkan pertunangan dengan Marsya tepat ketika Dio memiliki secercah harapan untuk kembali memiliki hati Marsya. Kesempatan untuk kembali telah sirna. Dio seakan putus asa dan mersasa tak ada lagi yang bisa diperbaiki lagi untuk besama Marsya. Ia telah dimiliki Andro. Dio menahan sakit di dadanya, kesal dan galau. Hatinya hancur dan pikirannya kalut. Kecelakaan yang terjadi dimalam pertunangan Marsya, membuat Dio harus dirawat di rumah sakit. Namun, kondisi ini membuat kegamangan kepada Marsya, Andro dan Dio. Marsya, yang menyadari Dio hendak melamarnya sebelum kecelakaan itu terjadi bimbang apakah melanjutkan untuk bersama Andr atau kembali pada Dio. Keadaan ini pula, membuat Andro sadar bahwa selama ini Marsya tidak benar-benar menginginkannya. Sedangkan Dio, ia sudah tidak yakin kesempatan untuk memiliki Marsya masih ada karena yang ia tahu Marsya dan Dio telah berada pada hubungan yang lebih serius. Dan kesempatan untuk memilih datang pada Marsya. Ia mencoba untuk tidak berdiri pada jalan yang tidak ia ingini, ia mencoba kembali mencari arah ke mana seharusnya ia melangkah. Marsya memilih Dio yang saat itu ia temui dengan perjuangan menjelang detik-detik keberangkatan Dio kembali ke Hamburg. Baik Dio dan Marsya, mereka kembali mencoba untuk mengisi celah yang sudah terlalu lama kosong. Mmencoba untuk menunjuk satu bintang sebagai penerang menemukan kebahagiaan mereka yang sempat hilang.
Sebenarnya ceritanya simpel dan mudah dipahami, terlebih (dan gue paling suka ini) karena tulisannya yang besar-besar membuat mata nyaman buat membacanya, selama ini kadang gue suka ngedumel sendiri kalau baca buku tulisannya segede semut; menyiksa mata yang udah minus ini menjadi semakin minus.
Cerita bermula dari Dio dan Marsha yang sudah mempersiapkan pernikahan mereka, persiapan yang sudah mencapai 100% dan hanya tinggal menghitung minggu. Namun, tiba-tiba di tengah kesibukan itu, Dio-selaku calon pengantin pria membatalkan pernikahan mereka dengan alasan dia mau pergi mengejar impiannya di Hamburg, Jerman. Gue sendiri ngga tau sih tepatnya apa yang dimaksud mengejar impian--tapi kayaknya membuat karir sukses disana. Shock. Merasa di kecewakan, membuat Marsha berubah menjadi sosok yang tertutup dan kerapkali membuat lukisan yang berwarna suram (yeah, kali ini gue baca novel yang tokoh utamanya pelukis lagi). Tiga tahun berlalu, akhirnya Dio memutuskan untuk memulai kembali hubungannya dengan Marsha. Namun apakah usaha Dio berjalan dengan mulus sementara di saat yang bersamaan ada sosok yang jauh lebih menawan yang berhasil mendekati Marsha?
Premisnya sederhana. Lagi. 1) Sahabat-> Kekasih. Marsha dan Dio, sama-sama sahabat satu sama lain (dulunya) bersama dua orang temannya yang lain. Rama dan Kimmy. 2) Sederhana-> dirubah menjadi kompleks Sebenarnya masalahnya sederhana. Sederhana banget. Cuma, tingkah tokohnya terutama Marsha yang bikin masalahnya menjadi runyem -_-
Selesai membacanya sih, aku suka. Karena fonts yang besar-besar itu mungkin pengaruh halaman yang dikit kali ya? Suka juga sama qoutes-qoutes yang berhubungan dengan Astronomi :) Duh, tapi kurang berasa gereget-nya, kurang nyess aja gitu, sehingga plotnya terkesan datar. Tapi gue cukup menikmati saat membacanya, kok :) Ngga kerasa aja bacanya cuma kurang dari dua jam, sebenarnya ini udah di atas meja sejak kemarin cuma belum kesentuh karena ya aktivitas bulan Ramadhan hihihi
Semoga, penulis bisa terus tetap berkarya dan karya berikutnya akan jauh lebih baik lagi :)
Coba Tunjuk Satu Bintang menceritakan pertemuan kembali antara Marsya dan Dio setelah tiga tahun berpisah. Mereka dulu adalah pasangan yang sangat bahagia dan sudah siap menikah. Tapi Dio memilih untuk mengejar mimpinya untuk bekerja di Hamburg dan membatalkan pernikahan. Tiga tahun berlalu, Dio kembali dengan permintaan maaf dan berharap bisa kembali bersama Marsya. Kedua teman baik mereka, Rama dan Kimmy juga berusaha menyatukan mereka lagi. Tapi Marsya masih sakit hati dan trauma. Dia menghindari Dio sebisa mungkin dan mencari ketenangan di dekat Andro.
“Terkadang cinta harus saling melepaskan agar bisa saling menemukan.” – halaman 203
Segala hal yang ditawarkan oleh Coba Tunjuk Satu Bintang sangat mengecewakan, untukku. Ceritanya gampang ditebak dan tidak ada konflik yang menjadi inti ceritanya. Hanya dua manusia yang masih saling sayang tapi terlalu gengsi untuk mengalah dan mengungkapkan perasaan itu duluan. Cerita yang datar itu juga dibentuk oleh gaya bahasa yang kaku. Percakapannya cenderung tidak penting, malah bisa saja dihilangkan tanpa menganggu jalan cerita. Padahal daripada memperbesar ukuran huruf, percakapan itu diperbaiki atau dikembangkan, jadi jumlah halamannya mungkin akan lebih banyak. Selain itu banyak cerita kecil yang juga bisa dikembangkan seperti, kedua sahabat mereka, Rama dan Kimmy, latar belakang keluarga Dio atau karir melukis Marsya. Bahkan astronomi yang katanya menjadi keunikan novel ini hanya muncul di kutipan-kutipan singkat sebelum bab baru dimulai. Kisah mau-tapi-gengsi antara Dio dan Marsya malah lebih banyak terjadi di pantai daripada di langit sana. Hmm, koq bisa gitu ya?
Kayaknya ekspektasiku terlalu tinggi untuk novel yang satu ini.
Novel Sefryana Khairil yang sebelumnya--Sweet Nothings--betul-betul bagus. Aku kira CTSB sama bagusnya. Tapi sayangnya aku nggak bisa menemukan kesan yang sama dari buku ini. Ceritanya cepat namun datar. Alurnya standar dan mudah ditebak. Sebetulnya konfliknya simpel. Tapi sifat tokoh-tokohnya itu yang bikin cerita makin belibet. Aku nggak bisa ngerti kenapa si Marsya tuh kolot banget dan susah dibilangin. Udah gitu, plin-plan lagi. Betein banget -___-
Entah kenapa di buku ini karakternya kurang mengena. Aku sama sekali nggak bisa bayangin Dio dan Marsya. Waktu baca akhir buku ini, rasanya kayak pengen bilang "HAH?". Aku sama sekali nggak nemu jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Pertama, Dio di Hamburg ngapain sih? Kerja apaan? Kedua, kalau segitu cintanya sama Dio, kenapa Marsya nggak mau nunggu Dio? Atau ikut ke Jerman, gitu? Nah, pertanyaanku jadi nambah kan. Kenapa Marsya nggak tahu Dio mau ke Jerman? Kenapa serba tiba-tiba terus tahu-tahu pergi beberapa minggu sebelum pernikahan? Ketiga, kenapa kakak sama ayahnya Dio jahat gitu sama dia? Motifnya apaan? Terus, kenapa Andro baru beberapa hari jadian sama Marsya, tahu-tahu sudah ngajak nikah aja???? -________-
Aku kira bakal nemuin jawabannya di akhir-akhir, terutama soal kakak sama ayahnya Dio itu. Gimana caranya Dio bisa buktiin kalau dia bisa jadi "orang" dengan pergi ke Hamburg? Aku nggak mengerti -__-
Ya sudah, deh. Maaf mengomel. Pokoknya begitu. Kalau bukan karya Sefryana Khairil, aku cuma kasih bintang satu ._. Omong-omong covernya bagus. Tetap berkarya Kak Sefry~ :D
Novelnya tipissss sekali !! kelar bacanya juga dalam hitungan jam. novel ini berbeda dari novel-novel Sefryana Khairil yang lain. yang inj rasanya terlalu flat dan kurang feelingnya dan yang pasti kurang juga tebalnya. novel ini bercerita tentang Marsha dan Dio. Dio tega ninggalin Marsha dan batalin pernikahan mereka yang sudah dalam hitungan minggu, alasannya klise sekali. Dio cuma mau dianggap "orang" sama keluarga, terutama Papa yang sering ngacuhin Dio. 3 tahun pasca ditinggal Dio, Marsha seperti kehilangan arah, selama itu juga dia masih berharap semoga Dio pulang ke Jakarta dan balik denganya. Doa Marsha terkabul! Dio memutuskan untuk balik ke Jakarta dan meminta maaf serta menyelesaikan masalah mereka.
Baca novel ini rasanya lumayan lelah, karena Marsha ini punya ego dan harga diri tinggi. Dio udah berusaha keras buat minta maaf dan kasih kejelasan sama Marsha, tapi dasar Marsha yang masih sakit hati dia gak mau dengar penjelasan Dio. Chemstry antara mereka juga kurang nonjol, apalagi banyak "lubang-lubang" yang gak dideskripsikan dengan jelas oleh penulis. Ending novel nya juga seperti dipaksakan, karena dari awal kita udah bisa nebak kemana arah cerita ini. aku mau kasih score 2 kok rasanya gak tega, karena SK ini salah satu penulis fav, dan juga aku seneng banget sama semua quotes yang ada di setiap bab. so aku kasih score 3 , 2 untuk isi cerita dan 1 untuk quotes nya ✌
"Tidak ada yang tahu arti cinta sesungguhnya. Beriak, tenang, manis, atau pahit. Semua seperti kapas yang terbang ringan. Cinta itu bagi Dio adalah Marsya."
Hubungan Marsya dan Dio tinggal selangkah lagi menuju pernikahan yang bahagia. Semuanya begitu sempurna, hingga saat ketika Dio memutuskan untuk pergi bekerja di Hamburg. Marsya merasa mimpi Dio jauh lebih berarti daripada hubungan mereka; sedangkan Dio merasa bahwa itu adalah suatu hal yang harus ia lakukan untuk dirinya sendiri. Secara otomatis, hubungan yang telah mereka bangun bersama, hancur begitu saja.
3 tahun kemudian, Dio memutuskan untuk kembali - mencari yang dulu telah dilepaskannya demi mimpi. Tapi tentu saja semuanya tidak sama lagi. Marsya sama sekali tidak berniat untuk bertemu dengan luka lamanya itu - meski tak dapat ia ingkari bahwa perasaannya untuk Dio masih ada tersimpan. Demi menyegarkan pikiran, Marsya pergi menyendiri. Dan tidak ia sangka, di tempat itu Marsya bertemu dengan Andro - seorang kenalan yang sudah lama tidak ia lihat. Andro jelas merasa tertarik dengan sosok Marsya; dan Marsya merasa ini adalah saat yang tepat untuk menghapus Dio dari hatinya...
hmm, kali ini temanya tentang berdamai dengan masa lalu untuk menapaki masa depan yang bahagia dengan sisipan tentang dunia astronomi dan perbintangan. banyak quote-quote yg disisipkan oleh mbak sef, tapi kenapa aku melihatnya malah mbak sef terlalu fokus ke quote-quote itu? bukan ke cerita? karena dari awal yakni epilog sampek bab akhir, itu rasanya gamang. mulai baca kita udah disuguhi dengan konflik yang mulai naik lalu naik, kemudian naik dan saat mau turun itu rasanya kurang berasa. sebenarnya bagus sih, sempet kebawa dongkol gara2 sifat Marsya yg grasak grusuk menurutku. masalah satu belum kelar, eh, dianya cari masalah lain. runyam deh... dan sumpah, sorry to say to mbak sef, aku gak nemu jiwanya mbak sef seperti di novel2 sebelumnya, aku bener2 suka sama dongeng semusim dan coming home karena ceritanya yg begitu natural dan hei,ini bagus. dan aku harap di buku selanjutnya bisa lebih bagus lagi. aku selalu berusaha untuk tidak berekspektasi macam-macam juga tidak langsung meng-underestimate.. so, setelah membaca baru menilai, itu lebih baik dan terlihat lebih jujur, bukan? bintang tiga itu, jujur lho, karena aku juga suka :D
Bukunya tipis, cuma 200 halaman. Jadi mungkin karena alesan itulah, alurnya jadi terlalu cepet. Kesannya ngebut banget.
Tentang Marsya, yang sakit hati dengan Dio. Ketika pernikahan mereka hampir terlaksana beberapa minggu lagi, tapi Dio malah pergi meninggalkan dia dan menerima tawaran kerja di negara-entah-apa-namanya-lupa-deh.
Sekian tahun kemudian, Dio pulang ke Indonesia. Ia berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Marsya. Dibantu dengan Kimmy dan Rama -sahabat Dio dan Marsya-, Dio bermaksud meminta maaf pada Marsya. Namun Marsya masih belum mau memaafkan Dio dan memutuskan untuk tunangan dengan Andro.
Kisah selanjutnya? Baca sendiri dong biar seru ;)
Ngerasa kesel sih sama Kimmy pas udah agak-agak akhir, marah-marah ke Marsya. Dari namanya aja aku kurang suka. Kimmy. Kayak iklan kartu AS yang dulu sempet heboh ya ._.v
Ya udah deh daripada ngalor ngidul enggak jelas, begitu aja reviewnya.
Eh btw, itu pembatas bukunya kenapa bolong-bolong ya, tipis pula. Jadi takut robek ._.v
Dari sekian banyaknya novel karya Mbak Sefryana yang pernah saya baca, ini yang paling gimana gituuu (kurang sregggg) Sedikit kecewa dengan karya Sefryana Khairil kali ini. :( padalah dlu penasaran tingkat dewa dewi sama novel Coba Tunjuk Satu Bintang.
Novelnya tipis, tulisannya besar,(keuntungan, bisa baca novel ini tanpa kaca mata) bacanya cuma sejam.
ceritanya simpel, biasa aja,temanya juga zaman sekarang ini udah banyak bgt yg gitu2an. kesannya kaya ngebut, pengen dapat feelnya cepet, giliran dapet yahhh lewat gitu aja, ga ada bekasnya masuk ke hati. (hehehe maaf mbak), di sctv kalo zaman liburan semester, tiap pagi juga banyak kok ditayangin yg ky ginian (red: ftv) hihihi. *mianhe mbak*
Alur ceritanya mudah ditebak, deskripsi tokohnya juga sedikit (novelnya tipis amat mbak. Yah meskipun gitu bacanya tetap dinikmati kok.
Marsya dan Dio seharusnya menikah 3 tahun yang lalu. Persiapan pesta pernikahan sudah mencapai tahap akhir saat Dio memutuskan untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan Marsya. Marsya ditinggal sendiri meratapi hatinya yang patah.
3 tahun berlalu dan Dio pun juga mulai menyesali keputusannya melepaskan Marsya. Ia memutuskan liburan ke Indonesia untuk merebut hati Marsya kembali. Tapi apa kuasa, ternyata sudah ada sosok lain yang mendampingi Marsya.
Terus.. apalagi ya? yah itu aja sih. Mungkin ringkasan cerita ini yang terpendek yang pernah saya buat. Mau bagaimana lagi, ceritanya emang pendek. Bahkan menurut saya buku ini belum bisa dilabeli sebagai novel. Sebuah novella mungkin, tetapi yang jelas bukan novel.
konflik Dio dan Marya yg berawal dari batalnya rencana pernikahan mereka karena Dio yg mau mengejar mimpinya ke Hamburg. Dio yg masih cinta dengan Marsya, dan Marsya juga masih cinta dengan Dio tapi gengsi untuk mengakui. maka dua orang teman dekat mereka turun tangan langsung untuk menyatukan mereka kembali.
dari awal, mudah sekali menebak plot ceritanya. cerita ini sudah sering dijumpai, sudah tidak asing lagi, bahkan cerita seperti ini sudah banyak diangkat ke FTV. jadinya tidak ada yg "wah", tidak ada suatu konflik yg complicated yg bikin tokohnya tu struggle banget untuk mendapatkan apa yg dia inginkan. datar-datar saja. ditambah lagi font tulisannya rada besar-besar dari yg biasanya, jadi cepat sekali menghabiskannya, serasa baca cerpen, bukan novel. :(
Sefryana Khairil adalah salah satu penulis favorit ku. that's why aku punya ekspektasi tinggi sama buku yang satu ini.
aku suka cerita didalamnya secara keseluruhan. itulah alasan ada 2 bintang di rate :) tapi kenapa cuma ?
Karena aku merasa tidak terbawa ke dalam ceritanya. tidak membekas apa apa. Flat. Demikian juga dengan karakternya. Kita seperti hanya berenang di permukaan. Gak dibawa menyelam seperti ciri khas novel novel ka Sefry yang sebelumnya.
Mungkin karena novel ini tdak terlalu tebal sehingga space untuk memperdalam cerita serta memperkuat karakternya menjadi lebih sedikit.
anw i love the cover ,suka quote2 di setiap awal bab dan aku suka hal hal yg diangkat di buku ini tentang bintang2 dll. bkin nambah pngetahuan :)
Sedikit kecewa dengan karya Sefryana Khairil kali ini.
Pertama dari bukunya yang udah tipis terus tulisannya besar-besar. Duh makin berasa nih novel tipis banget. Kedua, ceritanya yang errrr... seperti dipaksakan. Tarik ulur mulu antara dua sejoli tuh. Ketiga, tuh temennya kok sebegitu ikut campurnya yak... walau atas nama sahabat. Keempat, itu ibunya Marsya ngasih wejangannya kok berasa telat aja gt, bukannya baiknya ngasih wejangan sebelum anaknya ambil keputusan buat tunangan kan ya? Kelima, tuh Andro lupa apa pura-pura lupa kalo Dio adalah masalalu Marsya yak?
Udah itu aja...
Pokoknya dibanding karya-karya Sefryana sebelumnya buku ini errrr... mengecewakan(ku) :(
Aku belom pernah baca buku Kak Sefri yang sebelumnya.
Awalnya aku pikir aku cuma kena book hang over setelah baca buku dari penulis lain yang ngasih after taste luar biasa. makanya aku sengaja menunda melanjutkan membaca buku ini hingga tadi.
Tapi tetep aja, rasanya aku nggak menemukan sesuatu yang membuatku tergugah ketika membacanya.. em, gimana ya, it's like a tea without sugar which is I don't really like.
novel ini menarik, banyak banget quotes-quotes bagus didalamnya. Cerita? sepertinya terlalu terburu-buru dan aku rasa sang author sedang terburu-buru menyelesaikan novel ini. Lalu bagaimana dengan cerita? konflik ya lumayan lah, baru endingnya aku ngerasa greget tapi dari awal sampai hampir selesai baca biasa aja. Sepertinya aku kehilangan kak Sefry di novel ini, entah kenapa kok kayak bukan kak Sefry yang nulis :( aku harap novel selanjutnya (Tokyo kan ya?) kak Sefry balik lagi ya :) *wish*
Yeah! Dari blurb-nya aku suka!Suka banget malah dan menimbulkan banyak ekspektasi yang bagus. Daaan,kalimat terakhirnya di blurb biikin aku jleb xD*lupakan* Tapi,setelah dibaca. Aku sedikit kecewa. Kisahnya klise, aku bisa nebak endingnya sendiri. Kupikir ini tentang berjuang mendapatkan cinta yang sebenarnya milik orang lain, ternyata bukan xD Ada yang kusuka dari novel ini; diksi. Diksinya keren! Aku suka! Semangat!