“Selamat datang di T&T Boarding High School for Young Gentlemen!”
Adrian—yang semula hidup sederhana di panti asuhan—tidak menyangka hidupnya akan berubah begitu dia diterima bersekolah di T&T Boarding High School.
Di sana, dia berteman dengan siswa-siswa gila, eksentrik, tengil, badung, nekat, cerdas, kreatif, genius, berbakat, dan banyak akal. Ada siswa cerdik yang mengencani gurunya sendiri, ada ketua OSIS genius, wakil ketua OSIS yang jago kebut-kebutan, punker temperamental, hacker obesitas, drag queen, playboy kronis, penderita kepribadian ganda, emo psikopat, dan pemimpin Lunarchist yang taat.
Di sekolah tersebut, Adrian pun menemukan bakat terpendam yang tidak dia sadari sebelumnya. Dan, akibat bakatnya itu, dia diculik oleh sekelompok pria bertopeng dari klub misterius bernama Dead Smokers Club.
Apa yang diinginkan oleh kelompok tersebut dari Adrian? Bagaimana nasib Adrian di tangan mereka? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Inilah babak pertama dari trilogi petualangan sinting Adrian dan teman-temannya…
Adham T. Fusama adalah nama pena penulis dan editor kelahiran Jakarta dan sekarang tingal di Bogor.
Buku-buku yang telah diterbitkannya antara lain Dead Smokers Club part 1 (2013), Rahasia Hujan (2014), Dead Smokers Club part 2 (2015), Dead Smokers Club part 3 (2017), dan Surat dari Kematian (2018) yang telah difilmkan dengan judul yang sama oleh Max Pictures (2020).
Penulis bisa disapa di akun Instagram-nya: @AdhamTFusama
Repiu ini dibikin atas permintaan penulisnya sendiri. Normalnya bakalan saia serahkan ke penunggu Fikfanindo, tapi mengingat ini bukan fiksi fantasi, saia post di sini aja.
Kalau saia diminta menyingkat seluruh repiu di dalam satu kalimat, saia kayaknya bakal agak-agak membeo apa yang dikatakan oleh salah satu endorser di sampul buku: "Jangan biarkan remaja membaca buku ini (tanpa menyebutkan kalau mereka nggak perlu jadi seperti tokoh-tokoh di dalamnya kalau mau dibilang cool/gaul/keren)!"
Sekilas memandang, Dead Smokers Club karya Adham T. Fusama ini kayaknya seru. (Apalagi karena saia pernah membaca cerpen ybs., dan suka sama cerpen itu.) Sampul depannya item, dengan lambang "organisasi misterius" yang kayaknya akan jadi pokok cerita, dan nggak dicantumi judul atau nama pengarang; dua hal terakhir itu baru keliatan kalau kita melihat rusuk buku.
Beda dari biasa? Yep. Keren? Barangkali. Saia ngetes dengan bawa buku itu ke beberapa teman. Jawaban yang saia dapat berkisar dari jawaban penganut arus utama macam, "Kok judulnya ga di depen sih?" ke, "ini judulnya Nemo ipse bleketek blekukuk itu ya?" atau, yang paling bikin saia cengengesan, "Eh, pertama kali liat gue kirain ini buku notes fansi/merchandise anime apa gitu." Begitupun, nggak ada yang bilang "covernya nggak oke," secara langsung, jadi saia anggap semua itu pujian.
Di bab 1 saia disambut premis umum yang kayaknya jadi tambah hype sejak jaman Harpot. Ada anak yatim piatu yang dapat beasiswa di sekolah berasrama yang nggak biasa. Di mana nggak biasanya? Ternyata sekolah berasrama itu muridnya pada 'antik'. Ada murid emo yang pengen bunuh gurunya, ada murid yang pacaran--dan disiratkan--bobo-bobo ciang sama gurunya sendiri, ada murid yang punya 'saudara khayalan', ada murid yang bikin agama sendiri dengan Tuhan serupa Pegulat Mexico...
...dan saia baru nonton Despicable Me 2, jadi saia ngebayangin tuhannya itu = El Macho . Crazy awesome, yeah. Walau untuk buku ini sendiri, ntar dulu.
Kenapa ntar dulu? Kan keren, ada murid2 yang ga biasa gitu? Bukankah nggak biasa itu keren? Unik? Bukannya be different, be freaky, be weird itu lagi 'in'? Kok bisa reaksi saia "ntar dulu"? Gak ngetren ih!
Ya bisa aja. Orang saia yang punya reaksi (gak ngetren) kok, hehehe~
Penjelasan panjangnya, keunikan, perbedaan, dan ciri khas tokoh bukan sesuatu yang cukup disebut begitu saja dan langsung bisa kerasa sama saia selaku pembaca. Menyebut "tokoh A emo karena dia pengen bunuh gurunya," nggak dengan sendirinya membuat saia merasa dan menerima kalau A emang emo. Dengan kata lain, ini adalah satu kasus dimana show akan bekerja lebih baik daripada tell.
Masalahnya, nyaris sebagian besar karakter Dead Smokers Club diperkenalkan dengan cara ini, melalui dialog karakter lain. "Eh, si dia itu emo dan pengen bunuh guru loh." atau, "eh, dia itu macarin guru loh," atau, "dia itu anarkis tuna agama lho." Kalau pakai teknik tell begini, saia selaku pembaca nggak diberi kesempatan untuk menikmati polah tingkah yang berkaitan dengan sifat unik mereka.
Padahal, mengakrabi polah tingkah tokoh adalah hal penting. Itu menciptakan ikatan antara pembaca dan karakter. Alih-alih menikmati proses ala slow food untuk pelan-pelan mematangkan dan menikmati keunikan masing-masing karakter di benak saia, saia merasa seperti dicekoki fast food "pokoknya dia beda, titik. Udah ga usa dirasa-rasa, terima jadi aja!"
Sebagai perbandingan, saia pengen nyebut pertemuan Harry Potter dan Ron Weasley di atas Hogwarts Express. Rowling tidak sekedar menyebut Ron itu miskin; dia mengkontraskan Ron yang membawa bekal dan memakai barang lungsuran, dengan Harry yang memakai baju baru dan bisa membeli makanan. Dari satu bagian ini saja, saia selaku pembaca bisa menyimpulkan sendiri kalau keluarga Weasley itu nggak kaya-kaya banget, sekaligus membangun simpati saia terhadap mereka. Ini yang saia sebut menciptakan ikatan antara pembaca dan karakter.
Atau, contoh lain, Ottoline karya Chris Riddell, mumpung saia baru minjem bukunya dari temen. Penulisnya nggak pernah menyebut kalau Ottoline itu anak yang 'aneh'; dia menceritakan siapa teman-teman Ottoline (makhluk penghuni rawa Norwegia, beruang yang tinggal di basement apartemen), hobinya (kalau beli sepatu, satunya dipake sementara lainnya disimpen buat koleksi, jadi dia selalu make sepasang yang berbeda), orang tuanya (yang nggak pernah muncul di cerita, tapi tiap kali ngirim kartu pos, kartu posnya selalu berasal dari negara yang berganti-ganti), dan sebagainya.
Keluhan saia yang kedua adalah, keunikan karakter DSC ini nggak ada maksudnya. Untuk menjelaskannya ijinkan saia mengutip sebuah meme yang udah agak2 lawas tapi masih in, "Oke, tokoh DSC unik. Terus saia harus bilang 'wow', gitu?"
Tokoh (yang katanya) unik, nggak otomatis menyebabkan pembaca bilang 'wow'. Apalagi kalau eksekusinya seperti yang sudah saia sebut di atas. Terlebih lagi, keunikan suatu karakter akan lebih menggigit kalau keunikan itu dipakai untuk menekankan suatu pokok argumen.
Saia ambil contoh film How to Train your Dragon. Hiccup si tokoh utama dibuat cungkring dan pintar, 'unik' dari Viking lain yang kekar-macho dan doyan membuli dia. Perbedaan Hiccup di sini ada untuk menunjukkan bahwa terkadang, terdapat alternatif untuk menjalani hidup selain dengan mematuhi nilai-nilai umum yang diterima oleh masyarakat.
Nah, di buku ini, perbedaan mereka semua itu ada buat menekankan apa, saia nggak nangkep. Mereka nggak mencoba menyampaikan sesuatu seperti di HTTYD, karena keanehan mereka nggak mendapatkan tantangan dari lingkungan. Nggak ada tantangan berarti ga ada character development. Nggak ada character development berarti... nggak ada maksudnya, kan? Kalau si A emo, terus kenapa? Kalau si B maniak mafia, so what gitu loh? Kalau si C bikin agama sendiri, apa yang mau dia capai dengan itu? Trus kalau si D bisa indehoy sama gurunya di sekolah, apa saia harus ngerasa dia cool?
Di masa kini, "unik" dan "berbeda" itu kayaknya dah jadi buzzword. Nggak ada yang salah dengan menjadi berbeda atau merayakan keberagaman. Tapi di dalam karya fiksi, keunikan tokoh itu akan kelihatan lebih alami apabila dilakukan dengan karakterisasi yang oke, dan/atau apabila perbedaan itu ada maksudnya. Kalau nggak begitu, kesan yang saia dapat terpelintir menjadi "penulis kebelet pengen jumping the bandwagon untuk jadi 'beda', tapi nggak bisa/nggak sempat melakukan character building atau membuat perbedaan itu punya arti."
Jadinya, tokoh-tokoh di buku ini kerasa seperti... hmm... maaf kalau saia rada kasar, sekumpulan remaja yang bertingkah aneh bukan karena mereka memang terlahir/terbentuk menjadi aneh, tetapi karena mereka berusaha cari perhatian. Banget.
Permasalahan ketiga di dalam penokohan adalah, ada terlalu banyak tokoh. Untuk buku setipis ini, kayaknya lebih baik ngambil 1 atau 2 tokoh lalu jabarin karakter unik mereka secara mendalam, dibanding ngebikin segerobak karakter aneh lalu memperkenalkan mereka seadanya. Fokus pada sedikit karakter ini juga bisa membantu menghindari masalah keempat: kalau semua orang di tempat itu aneh dan mereka diperkenalkan dengan cara yang sama dan memiliki penokohan dangkal yang sama... maka keanehan itu jadi moot point. Dengan kata lain, kalau semua orang diintrodusir dengan cara yang standar dan diceritakan dengan cara yang standar, ya berarti siapa yang aneh?
Ocehan karakter kelar, sekarang saia punya masalah dengan plot. Ea. Harap maklum, saia memang tukang ngomel. :P
Sampai nyaris 3/4 buku ini konflik inti yang disebut di blurb nggak muncul. Ceritanya berputar di keseharian Adrian (si tokoh utama) di Asrama T&T Boarding School, dan bagaimana teman-temannya yang 'unik' diperkenalkan satu-persatu. Disebutkan juga kalau T&T punya saingan, yaitu sekolah BM yang katanya merupakan sekolah untuk anak-anak sok elit, walau secara tingkah polah, saia nggak menemukan perbedaan dari anak T&T sama anak-anak BM.
Tingkah ini terutama keliatan pas bagian inisiasi Adrian ke dalam Dead Smokers Club. Kita semua pernah mengalami ritual konyol untuk masuk ke dalam klub-klub ekskul di sekolah, tapi ritual di sini... saia mendapat kesan anak T&T ini kok ekstravagan, ya? Mereka bisa keluar modal buat transportasi/sewa 'performer'/make kamera tersembunyi sekolah cuma demi menginisiasi satu orang , gitu? *Ngakak*
Lebih bingungin lagi ketika diungkapkan bahwa Dead Smokers Club adalah klub yang tujuannya... super sepele.
Cuma demi itu mereka ngerjain Adrian dengan cara yang ngamburin duit banget? Setelahnya pun mereka masih bilang kalau Dead Smokers Club adalah persaudaraan sakral agung blablabla, dan dengan dramatis nyuruh Adrian bersumpah setia segala seakan-akan mereka adalah organisasi penting yang kalau ga ada, dunia bakal kiamat.
Hmmmm... saia jadi makin berasa kalau mereka ini beneran cuma caper. Maaf lagi, tapi ngelihat tujuan sepele yang didramatisir macam kredo persaudaraan rahasia gini bikin saia cekikikan, bukannya terharu pada ikatan persahabatan mereka.
Masih tentang plot: blurb buku bilang "Adrian dicari oleh DSC karena bakatnya." Saia udah baca bolak-balik, tapi saia belum bisa melihat bagaimana bakat menembak Adrian bisa berguna untuk tujuan itu.
Mumpung juga kita bicara soal menembak, ada alasan ijin kepemilikan pistol itu nggak boleh sembarangan dimiliki warga sipil. Tapi di sini, anak-anak umur sekian tahun diijinkan ikut ekskul menembak dan bisa dengan gampangnya masuk shooting range di luar sekolah untuk bertanding menembak.
Er, wait.
Bukannya untuk masuk shooting range orang itu harus punya gun license dulu? Dah gitu ada safety procedure-nya kan? Kok mereka langsung ambil senapan dan nembak seenaknya?
Lain masalahnya kalau mereka make airsoft gun. Kalau itu sih, cuma diminta pake goggles juga masi wajar. Tapi perasaan saia ga disebutin tuh kalau mereka pakai airsoft gun. Dibilangnya cuma "menembak", jadi saia bayanginnya pake peluru tajam, maklum kebanyakan nonton film eksyen. CMIIW di bagian ini, saia ga bisa ngecek karena bukunya saia pinjamkan ke seorang teman yang berminat.
Kalau buku ini emang diniatkan untuk jadi komedi, atau kalau aturan dunianya dimodifikasi, maka saia akan asik-asik aja membaca masalah ekstravagansi dan ekskul menembak. Tapi kalau nggak, semuanya jadi janggal karena alasan-alasan yang sudah saia uraikan di atas.
Ini agak disayangkan karena ada beberapa karakter yang cukup menaik simpati. Bu Anna, misalnya, dan sang pendiri T&T. Bahkan saia lebih gampang mengakrabi teman-teman Adrian di panti asuhan dibanding teman-teman barunya di T&T. Adrian sendiri, terlepas dari bakatnya yang belum kelihatan bagaimana ngaruhnya ke plot, sebetulnya nggak terlalu sulit dipahami.
Kesannya saia merayakan mediokritas, mengingat karakter-karakter ini cuma karakter 'normal' yang akhirnya jadi figuran. Namun, yang menarik saia bukan kenormalan mereka, tapi fakta bahwa saia diberi kesempatan untuk menyimpulkan sendiri sifat para tokoh itu dari tindak-tanduk mereka.
Makin disayangkan lagi setelah saia dengar komentar dari teman saia yang saia kasih tes baca sekilas. "Ini gaya nulisnya oke deh. Tapi kok isinya gini?"
Intinya, menciptakan karakter yang 'berbeda' itu nggak cukup sekedar dengan membuat mereka 'berkelakuan aneh'. Tokoh yang dibuat aneh just for the sake of being aneh beresiko kehilangan makna dengan cepat, terutama jika karakterisasinya terlalu ''cepat saji'. Tapi selalu ada kemungkinan saia kebanyakan mikir dan bahwa seluruh buku ini sebetulnya semacam komedi kelam yang saia ga dapat selaknya di mana. jadi, saia akan baca buku 2-nya untuk memastikan itu. Untuk sementara, 2.8 buat bukunya, bulatin kebawah karena saat saia bikin repiu, rating keseluruhannya 4.30.
Oke, pertama-tama, saya mau ngomong jujur dulu deh:
Saya sukar menganggap Dead Smokers Club sebagai sebuah karya yang resmi udah terbit jadi novel. Saya jauh lebih merasa, selama membaca dan memikirkan materi apa yang akan masuk review, bahwa saya tengah membaca draft tulisan seseorang.
Jadi, mohon maaf jika ada yang merasa tidak nyaman dengan gaya review kali ini yang kesannya kebanyakan "mestinya begini", "mestinya begitu", "setahu saya sih gini", dan "setahu saya sih gitu".
- Karakteristik tokoh-tokohnya
Saya merestui banyaknya yang bilang bahwa karakter2 di novel ini nyleneh semua. True. Bener banget.
Tapi saya juga harus merestui juga review lain yang mengatakan bahwa di sini karakteristik aneh tersebut hanya dijabarkan, bukan dibuktikan baik lewat tindakan maupun cara mereka bicara (sebagian sudah ada buktinya via tindakan maupun kata-kata, tapi masih terlalu sedikit, IMHO).
Sayangnya lagi, buat saya pribadi, beberapa karakteristik tokoh-tokoh cerita ini kurang bisa dipercaya jika mengingat bahwa setting cerita adalah di Jakarta, Indonesia. (tolong ralat, barangkali Jakarta-nya bukan di Indonesia, tapi di sebuah Galaksi XYY, misalnya).
Kenapa menurut saya sukar dipercaya?
Menurut saya, karakteristik seseorang dibentuk dari keluarga dan juga lingkungan sekitarnya. Dalam DSC, karakteristik yg menurut saya paling miss adalah Andy dan Jon.
Andy itu kalo ketahuan ortunya (dia punya ortu kan?) bahwa dia bikin agama sendiri, saya lumayan yakin salah satu opsi yang pertama kali muncul dalam benak ortunya adalah mengirim Andy ke pesantren di daerah luar kota buat dibenerin. :P Dia gak bakalan ada di T&T, jika dan hanya jika, ortunya seperti ortu pada umumnya.
Lalu, Jon. Kalau buat saya sih kepseknya T&T yang rada sinting ini karena gak langsung masukin Jon ke RSJ ato men-DO dia.
Bagian karakteristik yg aneka rupa ini akan saya bandingkan dengan salah satu komik yg pernah saya baca (pernah diterbitkan di Indonesia oleh M&C, fyi), yakni Train + Train 1.
Di Train+Train, ada karakter murid biarawati agama kekerasan (iye, seriusan, itu nama agamanya menurut terjemahan) yang hobinya main tonjok udah gitu dia pake brass knuckles yg udah dimodif pula pas nonjoknya. Selain biarawati ajaib itu, ada juga murid yang android (yang kadang2 ngelepas kepala sendiri). Dan, meskipun bukan murid, ada makhluk planet yang jago berantem numpang di sekolah yang lokasinya di kereta itu.
Kenapa dengan tingkat nyleneh yang lebih tinggi daripada DSC, buat saya Train+Train masih bisa diterima?
Karena settingnya.
Setting Train+Train adalah planet entah di galaksi apa, di mana orang-orang dari berbagai tempat, termasuk Bumi, berkumpul. Dengan setting seluas itu, bisa saja di suatu planet di mana manusia tinggal, berkembang agama XYZ. Di suatu planet lainnya, hukum manusia tidak berjalan dengan lancar hingga menciptakan psikopat-psikopat atau sosiopat-sosiopat. Di planet lainnya mungkin komposisi udaranya membuat anak-anak yang lahir di sana menderita dissociative identity disorder. Dll.
Sementara DSC ini settingnya di Jakarta (kasih tahu saya, beneran Jakarta di Indonesia bukan nih?), yang memang biarpun punya segudang hal aneh, tapi masih tetap dibatasi oleh kontrol sosial dan norma.
- Gaya bahasa
Saya akan bilang "oke" jika ditanya gaya bahasa. Memang tidak istimewa (dalam artian puitis, nyastra, ato high-class, ato berbunga-bunga) tapi cocok dengan ceritanya.
*Saya sendiri sebenarnya tipe gampang capek kalau sedang membaca sesuatu yang gaya bahasanya kelewat ... "high class", sebutlah begitu :P
- Ceritanya sendiri?
Kompleks kalau disuruh menjawab bagian ceritanya karena saya terbiasa dengan cerita sekolah berasrama karya Enid Blyton dan itu pun hanya 2 judul: Mallory Towers dan Si Badung.
Buat saya, ceritanya lebih ke arah penulisnya berpikir, "Ah, gw mau bikin cerita tentang anak sekolahan yang isinya anak-anak edan-edanan semua ah!" Gak usah tanya kenapa karena buat saya rasanya akan dijawab, "Just because I want." Gak salah kok, "just because I want" itu. :P
Buat anak-anak remaja, mungkin ceritanya akan terasa keren, tapi sayangnya saya dengan berat hati harus mengakui bahwa saya udah umur dua puluhan (aduh~ aku sudah tua~~~) dan tidak merasa cerita DSC keren.
Mungkin saya gagal menemukan kekerenannya simply karena saya sudah tua ... Maksud saya udah gak remaja lagi, ding. :P
Btw, yang saya sebel adalah di akhir cerita kenapa nggak disebutkan klub apa sebenarnya DSC itu? WHY? WHY??? Kenapa saya harus baca buku selanjutnya untuk tahu apa itu DSC padahal judul buku ini adalah DSC yang mana seharusnya menjadi sesuatu yang penting dan saya pahami siapa/apanya di tengah-tengah cerita atau malah di awal cerita? :v :v :v
- Some other minor things
Hal-hal yang lebih minor, terkait di dalamnya kalimat yang saya rasa aneh atau penggunaan istilah yang setahu saya keliru.
Di halaman awal ada "Itu artinya kamu, Edo!". Bagian itu seperti merupakan terjemahan dari bhs Inggris: "That means you, Edo!". Bukan sesuatu yang biasa kita dengar dlm percakapan bhs Indonesia sehari-hari.
Hmm. CMIIW, apa kalimat semacam "Itu artinya kamu, Edo!" banyak dipake dalam percakapan sehari-hari bhs Indonesia?
Waktu Andy atau Don/Vito di tengah-tengah cerita menyebutkan "Godfather" ada selipan penjelasan super singkat yang seketangkapnya saya mengartikan "godfather" sebagai "pembaptis".
Entah di Italia sana ada perbedaan gimana, tapi yang saya tahu godfather/godmother/godparents adalah bapak/ibu/orang tua baptis. Yang membaptis aka pembaptis tetaplah seorang pastor. Bapak/ibu/orang tua baptis berperan sebagai pendamping anak yang dibaptis baik untuk perkembangan mental maupun spiritualnya dengan tidak sepenuhnya menggantikan peran utama orang tua kandung.
Pertama kali lihat buku ini, waktu seorang teman memamerkan, memperlihatkan kovernya pada saya, lalu nanya, "apa pendapat kalian tentang buku ini?"
Well, tentu saja saat itu saya nggak langsung menjawab. Otak saya buffering-buffering-buffering. Bukan apa-apa, soalnya daripada saya menjawab konyol seperti, "itu kitab setan ya?" "Eh, bukan. Itu pasti merchandise nya Dead Note!" << mengingat Dead Note udah nggak jaman lagi, maka ini termasuk jawaban konyol. Kemudian, saya tau ini sebuah novel. Oh yeah. Baiklah.... Hitam itu catchy, tambahan ada gambar tengkorak warna kuning. Tapi alih-alih ditaruh di kover depan, si judul malah ditaruh di pinggir buku. Mungkin untuk membuat orang di tokbuk penasaran dan mengangkat buku dari rak, asal jangan sampe orang salah beli. Kirain ini kitab setan sesuatu. xixixixi...
Nah, sejujurnya saya nggak tertarik membaca buku ini karena beberapa hal yang saya malas ungkapkan di sini. (malas ngetik maksudnya. Huahaha). Tetapi berhubung dimintain tolong ngerepiu. Ya udah, saya sambar buku milik teman saya untuk dibedah. Dan yeaa...
Sebenarnya masalah yang saya rasakan sangat sama dengan apa yang sudah diungkapkan dalam repiu-repiu sebelumnya. Tapi biar deh, saya akan memperjelasnya di sini. (Maaf ya, Adham, bila saya jadi Ratu Tega. khuhuhu~) Oke, pertama-tama...
Cerita ini DATAR!
Well, sebelum dituduh macam-macam (#curigamodeon), saya akui bahwa cerita ini bukan cangkir teh saya (Ya eyalah, Ini teh buku, bukan cangkir teh #plak). Tetapi, ini bukan persoalan cangkir teh atau bukan. Ini masalah esensi yang saya rasakan ketika saya akhirnya menutup buku ini. Ya gitu deh. Datar. Bahkan menguap.
Kok bisa gitu?
Gini. Di bagian pertama. Menceritakan sebuah panti asuhan tempat di mana tokoh utama tinggal. Lalu tokoh utama naksir seorang cewek bernama Mela. Panti asuhan dipimpin oleh Bu Ana. Tokoh utama berteman dengan Beni dan Tedi. Kemudian, saya diam dan punya pikiran agak sinis bahwa Tedi, Beni, Bu Ana dan Mela ini palingan cuma numpang lewat doang di bab satu. Eh, ternyata benar. :D Mungkin ini maksudnya foreshadowing, tapi malah jadi dumping.
Lalu Adrian, si tokoh utama, pun dapat beasiswa masuk sekolah bernama TNT (SFX: BOOM!) T&T. Kenapa bisa masuk dan dapat beasiswa? Oh, karena prestasi. Prestasi yang gimana? Kok bisa ngasih beasiswa untuk anak dari panti asuhan yang nun jauh di sana untuk... Yah well, intinya Adrian dapat beasiswa. Titik. Penulis bilang begitu, ngapain toh saya pusing sendiri. Hehe...
Oh oke. Ternyata T&TTNT ini sekolah yang unik berisi siswa-siswa unik. Ada yang playboy, hacker, kepribadian ganda, jenius, hobi ngebut, waria. Dan semua itu diceritakan dengan gaya telling . Not showing. Nah, nyambung dengan pembahasan plot, sampai 130an halaman (FYI, jumlah halaman buku ini hanya 176), saya belum mendapat arah ceritanya. Kenapa? Karena sejujurnya, saya merasa seperti membaca brosur sekolah impian yang dibawakan dengan gaya narasi cerita fiksi. Jadi umpamanya begini...
"Eh, itu si waria loh. Kalau yang itu punya kepribadan ganda." "Para bapak ibu yang terhormat, silahkan lihat di sebelah kiri anda, adalah sebuah sekolah pesaing T&T. Namanya BM. Sekolah BM didirikan oleh musisi terkenal Bruno Mars, didedikasikan untuk...blablabla."
Hnah. Mengenai twist. Ehya, saya sangsi penulis berniat menuliskan twist untuk ending. Why? Karena judul buku ini Dead Smokers Club. Karena sinopsis cerita ini sudah spoiler bahwa Adrian diculik oleh Dead Smokers Club.
And yet...!! *facepalm* Dalam plot menjelaskan Adrian diculik oleh teman-temannya sendiri.
Nah, bisakah anda menebak siapa DSC itu? Oh well...
Dan lebih penting lagi, saya merasa anggota klub ini sangat sangat sangat super duper konyol. Ritual menjadi anggota dengan... uhuk , atau digodain waria? Seriously?!
Entah ya, may be I am too old for all this ****. Tapi saya nggak bisa mahamin maksudnya tuh gimana? Apalagi ternyata misi utama DSC udubilah simpelnya. Nyelundupin rokok ke sekolah. Again, Seriously?!
Alhasil, saya merasa tokoh-tokoh DSC ini makin NGGAK PENTING banget. Maksudnya maksudnya mungkin untuk keren-kerenan, tapi errrrr.... *gigit chitato garing*
Lalu mengenai plot hole. Satu hal, saya heran. Dijejelin kloroform berkali-kali kok Adrian gak mati ya? FYI, kloroform itu nggak main-main loh. Banyak korban perkosaan/penculikan yang mat duluan karena dikash terlalu banyak kloroform.
Kesimpulan: Kalau direnungin, sebenarnya ide cerita ini ga jelek. Tapi pengemasannya nggak bagus. Penulis punya gudang kosa kata yang cukup bagus, terlihat jelas orang yang suka membaca, mkanya saya dengan sotoy menuduh berkesimpulan, DSC ini menggunakan draft pertama penulis. Sayang sih, padahal kalau direwrite pasti bisa lebih oke dari yang ini.
what did you think---tanya goodreads.. dan yang terpikir pertama kali di benak saya adalah...
KURANG DESKRIPSIIIIII!!!!!!! #CAPSJEBOOOLL
huwaaa, bener2 deh, ini tulisan kak Adham pas baru belajar nulis kah ?? >.< #plakk bukan cuma deskripsi tempat yang kurang, deskripsi karakter, deskripsi suasanaa.. remed, remed, remed!!! #ditendang
paling parah tu pas si Adrian disekap di gudang... "Di dalam gudang, Adrian perlahan siuman. Selain efek kloroform yang memudar, dinginnya udara malam turut berperan membangunkannya." ---oke, sy maafkan biarpun penulis gak ceritain gudangnya kayak apa yg Adrian lihat, mungkin gudangnya pakek AC.. sy jga maafkan krn gak ngerasain gimana rasanya jadi Adrian yang disekap. tapiiiii.... udara malam ?????? gimana ceritanya bisa udara malam yg DINGIN di dalam gudang ?????? (ya makanya saya bilang tadi pakek AC wkwkw) mungkin masuk akal kalo misalnya ada jendela kecil atau semacamnya, tapi gudang itu adalah tempat abstrak yg cuma punya pintu, sofa, dan udara malam yg masuk entah dari mana. "Di tengah kepanikan yang terus mendera, Adrian mulai mencari cara untuk keluar dari tempat mengerikan itu. Sewaktu menemukan pintu, ia berlari ke sana, mencoba membukanya. Usaha yang sia-sia. Pintu itu terkunci rapat." ---hal 137
terussss ttg tokoh2nya... semua dijejelin di awal2.. ya mana saya bakal lupa kecuali Jon, favorit saya ~~~ <3 #plakk setelah itu semua blurrr... cuma disebut nama2 doang tanpa dijelasin lagi siapa mereka, atau apa mereka itu.. bahkan saya ragu makhluk apa Adrian ini.. (ya saya pernah bilang Adrian ini kayak wong udik krn gak ada deskripsi ttg dia wkwkwkwk) yang cuma diingetin paling Rudy sama Erick aja yg mana dandanannya paling mencolok.. tapi itu juga minim sih, yah masa deskripsi tokoh cuma dari penampilannya aja ?? :3 sama kayak Monica.. cuma dijelasin di awal, ndak ada deskripsi perbandingan mobil itu dgn Monica Belucci misalnya wkwwkwkw #duessh
eksplorasi penokohannya kurang juga.. sejak baca komentar di bawah, saya nyari2 Sam si jenius baca buku kimia asyik utk remaja wkwkwkw #plakk kejeniusannya jga kurang ah, rasanya Dennis yg lebih pinter. Sam cuma dilabelin jenius dan kyknya emg harus ada tokoh jenius di geng itu.. ada siy yg pas strategi nembak itu, tapi itu juga bukan pemikirannya sendiri. itu dia cuma NYONTEK strategi Sun Bin ituhh =3= dan Jon.. saya pernah bilang kalo dia lebih seksi pakek 'saya' dibanding 'gue' ~~~ <3 #randomfans
teruusss... settingnya, fakta2nya, ndak berusaha dibikin realistis.. kayak skolahnya, perusahaan Pak Tonny.. berasa di Jakarta dimensi lain.. Jakarta yg minim deskripsi #dikemplang
saya lupa sama sekali ttg Panti Asuhan kalo gk baca komen2 sblumnya.. tmpaknya Adrian ngelupain gitu aja asramanya, sama kayak saya yang sama sekali gak pernah berkunjung ke Rumah Bahagia, kecuali baca bab 1 buku DSC wkwkwk #plakk
naming sense nya... jujur saya kecewa, semuanya nama2 barat.. Don, Dion, Jon, Johnny, Tonny-Tommy, Anton, Andy.. mirip2 =A= saya bahkan lupa siapa Dion ini...
terus ttg BM n Holy Anna... berasa sinetron!! dimana BM ini juahaaattt banget, dan sy ngebayang Holy Anna ini cewek2 cantik antagonis yg GAHOWL di sinetron n kerjaannya pesta2... eh, apa bener begitu ?? gak masalah juga siy, tapi bikin keki gimana gitu.. #plakk
klo kata senior, novel yg minim deskripsi itu teenlit ya.. maapkan saya yg terakhir baca Tinlit pas SD, jadi maap kalo saya ngomel2 gaje n bersok tau ria tapi ternyata kak Adham nulis teenlit >,< #ditimpuk
saking minimnya deskripsi, saya ndak rela nyebut ini novel.. mungkin kalo sy baca cerita ini dlm bentuk postingan cerpen perpart di kemudian.com saya bakal kasi nilai 8 :'3
terus lagi biar adil (?) sy tulis plusnya.. yaa banyak cowok2 keren yg berpotensi utk fangirlingan terus pas dikejar banci itu ngakaakkk XDDD banyak narasi yg kaya bahasa *cielah dan istilah2 unik yg bikin seneng bacanya :'D bisa nambah wawasan juga >w<)7
udah kayaknya, maapkan sya yg sok tau.. smoga bisa lebih baik di krya berikutnya.. :'D makasi jugaa uda tanda tangan di buku saya yeyy! >w<)7
Dead Smoker Club adalah sebuah novel ringan yang sok. Sok berat tapi sesungguhnya ringan, sok sangar tapi sebenernya kocak, sok badass tapi sebenernya gak penting, bahkan saking soknya, anda bisa menemukan beberapa penggunaan kosa kata yang agak berlebihan untuk mendeskripsikan kondisi emosional, terutama pada si tokoh utama. Dan karena itulah novel ini layak dibaca.
Seriously.
Mengabaikan penulisannya yang "tell" ketimbang "show" a.k.a gak asik, cerita ini butuh sebuah cara pandang lain untuk dapat dinikmati pembacanya. Bagaimanakah caranya? Caranya yaitu .. abaikan semua yang sok tadi di atas. yap. itu.
DSC adalah sebuah kisah yang cocok dibaca di waktu bosan, cocok untuk mereka yang mencari humor segar dengan kebersamaan persahabatan. Menikmati kehidupan anak muda yang ingin merasa penting (seriously). ada beberapa hal ngawur nyeleneh yang ada di dalam novel ini seperti tokoh andy dengan agama barunya yang gak laku itu, atau diskriminasi kaum transgender MtF yang terutama menjadikan Rudy sebagai bulan-bulanan penulis (bukan bulan-bulanan tokoh di dalamnya).
andai saja cara bercerita dalam narasi di novel ini lebih smooth lagi, saya yakin DSC akan laris manis. Karena yah, ini novel yang unik.
Bagi yang mengharapkan kejutan seperti twist plot atau apa gitu yang bikin surprise ... sayang sekali, anda mungkin tidak akan bisa mendapatkannya. DSC bukan novel yang mengejutkan atau mengaduk-aduk emosi pembaca, bukan jenis novel sensitif. Kalau dilihat lagi dengan penjelasan keseluruhan plot di sinopsis dan apalagi teaser DSC2 di halaman belakang, sepertinya si penulis tidak terlalu peduli dengan twist atau surprise attack dalam buku yang ditulisnya ini. Saya mendapat kesan, DSC itu seperti adrian : apa adanya. as it is. jadi untuk menikmati novel ini, saya menyarankan, nikmati saja dunia "bermain" mereka.
saya beri bintang 3 karena narasinya gak asik. tidak jadi diberi bintang 1 karena novel ini bikin gue nyerah untuk jaim gak ketawa. bahkan setelah ditutup bukunya pun gue masih ngakak2 keinget adegan2 di dalamnya. Semoga DSC2 narasinya lebih show lagi, sayang banget kalau cerita bagus ini (nggak bagus sih .. tapi .. bukannya jelek juga ... tapi ... arghh I can't decided!) jadi gak bisa dinikmatin sisi jempolannya yang sebenernya unggul dari novel lain cuma gara2 cara bercerita doang.
Kalau diistilahkan dalam bahasa manga, "novel prolog" ini bergenre shonen. Asyik buat anak cowok, terutama remaja yang semasa sekolahnya pernah mengalami kehura-huraan serupa dengan tokoh-tokoh novel ini.
Pro: - Tokoh-tokohnya sebagian besar menarik, - Tentang teknik kuda 3-1-2 dan 1-2-3 itu menarik, - Tentang menciptakan agama sendiri karena marah sama Tuhan itu menarik, - Narasi lumayan lancar dan mampu menjamin pembaca untuk tidak berhenti membaca sampai habis.
Con: Mulai dari sini isinya penuh heavy spoiler. Silahkan baca dengan resiko sendiri.
Kalau kamu kebetulan cewek, seperti saya ... mungkin kamu tidak akan menikmati novel ini. Tapi entahlah. Selera orang beda-beda. Coba baca dulu saja. Kalau kamu suka, berarti kamu cocok dengan novel ini. Dan boleh berlangganan buku ini sampai jilid-jilid mendatang selanjutnya.
Sekumpulan orang gila yang tergabung dalam satu sekolah dan di antara orang2 gila itu ada satu geng yang isinya adalah orang2 gila terbaik tengah berusaha merekrut Adrian dengan cara-cara gila.
Kocak nan absurd. Harusnya novel ini diadaptasi jadi manga atau anime.
Semua berawal dari kesan pertama. Dari sampulnya, novel ini sudah mendapat nilai minus dari saya. Well, desain tengkoraknya jelek. Mungkin maksudnya adalah untuk menarik rasa ingin tahu calon pembaca, tetapi sungguh ini seperti pisau bermata dua. Berhati-hatilah, wahai siapapun-engkau-yang- menulis-novel-ini :v
Satu-satunya tulisan yang ada di sampul depan adalah "Nosce te ipsum nemo sine cruce beatus", yang sepertinya gabungan dari dua peribahasa Latin yang terpisah: "Nosce te ipsum" dan "Nemo sine cruce beatus". Silahkan cari sendiri apa artinya! -- Membuka halaman pertama, kita akan langsung disambut sejumlah endorsement. Langsung saja saya bilang, "Pergilah jauh jauh, kalian semua! Biarkan saya menilai sendiri apa yang saya baca!" Meskipun mungkin ada satu-dua endorsement yang akurat, tetap saja itu mengurangi kenikmatan saya dalam membaca. --- Oke, sekarang kita masuk ke cerita. Sesuai judulnya, "Dead Smokers Club" adalah tentang suatu klub yang, entah kenapa, dalam part pertama ini hampir tidak pernah disinggung kecuali pada bagian-bagian akhir saja. DSC ini berisi sejumlah siswa mengagumkan dari sekolah TNT. Mungkin inilah salah satu keunggulan buku ini--penuh dengan karakter menarik. Sebagian besar punya karakter yang mendalam. Selain Dion, mungkin, karena dia belum bisa memperlihatkan kemampuan "womanizer"nya. Wajar saja, TNT adalah sekolah khusus cowok. Satu-satunya cewek di sekolah itu--seorang guru--sudah diambil yang lain.
Kembali ke penokohan, si penulis sepertinya mencoba satu resep khusus. Dia membuat seorang tokoh korban, yang tugasnya adalah terpukau oleh keanehan-keanehan di sekitarnya. Inilah protagonis kita. Namanya cukup keren untuk ukuran anak panti asuhan, yaitu Adrian. Ya, dia tak berbapak dan tak beribu. Dia punya pujaan hati (Mela) dan teman akrab di panti (Beni dan Tedi) serta pengurus panti (Bu Anna). Tapi kita bisa segera mengucapkan selamat tinggal pada mereka semua. Sebab kita tidak akan menemui mereka lagi setelah si Adrian "dibuang" ke TNT karena panti asuhan Happy Home itu mengalami krisis budgeter. Dimulailah penderitaan Adrian di sekolah itu.
Dibandingkan semua karakter lainnya, boleh dibilang si Adrian ini yang paling normal. Sayang sekali, dia tidak punya peran apa-apa di DSC part 1 ini selain menjadi "straight man". Sepertinya DSC part 2 menjanjikan konflik yang lebih seru ... tapi bukankah kita sedang membahas DSC part 1?
Dan inilah salah satu kelemahan novel ini. Semuanya memang mengalir seperti sungai, enak dibaca. Tetapi, hampir kita butuh air terjun untuk membuat segalanya menjadi menarik. Dan DSC ini kurang dalam hal itu, menurut saya. Seluruh cerita di part pertama ini bagaikan prolog saja. Klimaksnya hanya sewaktu si Adrian dalam proses perekrutan oleh DSC, hanya karena dia jago main ketapel sejak di panti asuhan.
Siapakah anggota-anggota DSC itu? Itu tidak terlalu rahasia. Anda pasti bisa langsung menebak. Pada chapter "Kenalilah dirimu sendiri", sebenarnya ada semacam niat si penulis untuk membuat semacam kesan rahasia. Tetapi untuk apa? Toh, hanya bertahan satu chapter saja. Dan sejak awal juga tak pernah disinggung. Jadi kesannya sia-sia saja. Penjelasan tentang apa itu sebenarnya DSC juga mungkin baru bisa kita dapatkan pada novel sekuel-nya. -- Membaca novel ini, mungkin kita bisa mengetahui. Ada banyak istilah-istilah asing, misal dalam fesyen, dan semacamnya. Mungkin juga kita bisa mendapat pencerahan, tentang moral, tentang kehidupan siswa SMU berasrama. Meskipun semua itu tergantung apa definisi kita soal "pencerahan". ----- Overall, novel ini cukup menarik untuk pembaca dari kalangan manapun. Saya memberi rating 5,7 dari 10. Jika diibaratkan, novel ini seperti manga--komik Jepang--yang sebagian besar memang bervolume banyak. Ada kesan seperti itu, bagi saya. Mungkin kita tidak puas dengan part pertama, tetapi masih ada sambungannya. Yang terpikirkan hanyalah ... dengan sampul yang samakah?
Saya masih perlu tulis ulasan tidak, ya? Soalnya semua yang mau saya bilang sebenarnya sudah ada di ulasan-ulasan lain, misalkan di ulasannya Mbak Luz.
Dead Smokers Club bercerita tentang Adrian, seorang anak yatim-piatu yang menerima beasiswa untuk bersekolah di T&T Boarding High School. Di sekolah elit itu, dia bertemu dengan sekumpulan remaja unik. Ada hacker jenius, murid cerdas yang punya hubungan spesial dengan gurunya, seorang drag queen, psikopat, hingga pendiri agama baru. Saat bakat terpendam Adrian muncul ke permukaan, dia menjadi target penculikan oleh sebuah kelompok misterius yang ingin memanfaatkan keahliannya.
Sebenarnya Dead Smokers Club punya semacam fun factor di dalamnya. Tokoh-tokohnya yang unik, cerita yang terasa familier, serta komedi (di awal cerita) yang membuat saya sempat kepikiran kalau mirip dengan gaya humor di film-filmnya Wes Anderson.
Tapi, kemudian ada masalah yang mulai terlihat jelas buat saya. Keunikan para karakternya hanya sekadar tempelan. Saya mengamini ulasan lain yang bilang kalau para karakternya unik hanya untuk gaya-gayaan. Keunikan (atau keanehan?) mereka hanya terkesan numpang lewat, tidak coba ditelusuri lebih jauh. Jumlah karakternya juga terlalu banyak. Akibatnya, tidak ada satu pun karakter yang digali lebih dalam. Bahkan karakter utamanya, Adrian, juga masih hanya terasa sampai di kulit luar tokohnya saja.
Bagian akhir ceritanya juga menjadi poin minus buat saya. Komedi slapstick-nya terasa usang dan melelahkan. Dan saat rahasia penculikannya Adrian terbuka, saya hanya berpikir kalau semuanya terasa berlebihan dan tidak penting-penting amat. Penutupnya juga membuat saya sadar kalau buku pertama DSC ini adalah sebuah prolog sepanjang 100-an halaman untuk menyambut kisah inti (yang semoga) ada di buku selanjutnya.
Secara keseluruhan, Dead Smokers Club punya premis yang menjanjikan. Keunikan para karakternya masih kurang tergali di sini, tapi masih ada harapan kalau mereka akan lebih baik di buku selanjutnya.
Untung gue baca buku ini tanpa ekspektasi apa2 karena emang buku ini kurang menarik. Dan alasan gue menyelesaikan buku ini cuma mau melihat plus minus yang terdapat dalam buku ini.
Jujur ya, di buku ini terlalu banyak kontradiksi dan ada beberapa hal yang bener2 ga makes sense.
1.Misalnya, sam si jenius. Salah satu gelagatnya yang aneh adalah di dalam perpustakaan halaman 50, dia baca buku "Kimia asyik untuk remaja" seriously? itu yang disebut jenius? adek gue yang kelas 3 smp juga baca buku itu. Seorang jenius harusnya ga baca buku2 jenis itu, melainkan lebih ke buku2 yang lebih berat. Buku yang sangat berat.
2. Sekolah TNT ini sebenernya sekolah apasih? boarding school? emang gapernah dinilai sama dinas atau gimana? lagipula tempatnya kan di Jakarta. Mana ada sekolah yang dengan mudah membiarkan salah satu muridnya "duel" dengan gurunya. Apalagi sampe mau ngebunuh. Walaupun Pak Kevin sekuat apapun juga tetep aja, harusnya murid kyk gitu di D.O apalagi di Jakarta. Ga make sense.
Dari segi cerita segitu aja. Sebenernya masih ada banyak tapi males ngetiknya.
Dari cover, cover yang sok misterius malah fail banget. Cover tanpa judul bukan ide yang cukup bagus menurut gue. Sekali lagi ini pendapat gue ya. Judul malah ditulis disamping buku....
Pertama kali adek gue beli buku ini, i've no idea what kind of book it is. Pertama gue pikir ini buku dengan genre misteri atau detektif2an. Tapi begitu baca deskripsi dibelakang gue jd ngerti kalo tanggapan gue melenceng banget.
Overall buku ini bisa dibaca untuk mengisi waktu yg lg luang.
Okeeyy.. Akhirnya kelar juga baca Dead Smokers Club ini. Sorry kalau baru sempat bikin review nya sekarang, hehe. Satu kata. Sinting. Ceritanya beda banget sama cerita-cerita yang berlatar belakang high school kebanyakan. Dari awal pertama baca saya merasa ohh, ini seperti Malory Towers atau St. Clare nya Enid Blyton. Hanya saja ini versi laki-lakinya. Jujur, saya suka banget tipe cerita yang seperti ini. Dan baca buku ini seperti candu. Nggak mau berhenti sebelum ceritanya selesai. Alurnya menarik, tokoh-tokohnya abnormal semua buat saya - kecuali Adrian mungkin - tapi justru itu yang bikin cerita ini menarik. Adrian yang pemalu, Dennis dan affairnya dengan Mrs. Kelly, Andy dan sekte sesatnya, Jon yang psycho dan ohh ya, jangan lupa satu karakter ajaib ini, Rudy atau Ruby kalau sedang jadi perempuan, hahahah. Tokoh-tokoh yang abnormal, jalan cerita yang nggak biasa, mungkin itu bisa jadi daya tarik buku ini. Pokoknya suka banget deh sama ceritanya. Nggak sabar nunggu part selanjutnya (kira-kira kapan om?). Thanks juga om Adham buat cap bibirnya. Hehhe.. And last, Dennis I LOVE YOU. Hahaha
Sejak pertama kali membaca isi cerita Dead Smokers Club ini, saya tidak pernah ingin berhenti membacanya. Sepertinya akan sayang melepaskan cerita-cerita kenakalan remaja SMA ini. Petualangan Adrian, anak yatim piatu yang mendapatkan beasiswa di sekolah Asrama ternama, bertemu dengan berbagai macam sifat manusia yang aneh-bin-ajaib di T&T Boarding School, dan banyak lagi. Oh iya, saat saya membaca deskripsi tentang T&T Boarding School ini, saya membayangkan bentuknya seperti gabungan komplek sekolah Shinwa (Shinwa Group, BBF),Sekolah Pelita Harapan dan salah satu pesantren di Indramayu. Mirip!
Intinya, saya penasaran dengan kisah DSC selanjutnya. Petualangan Adrian menjadi member DSC, Dennis dengan Mrs. Kelly, Bang Andy dengan Lucha-nya (ini part yg ... hahha)...
Yang suka bacaan macam Lima Sekawan, petualangan-ringan-seru-persahabatan, saya sarankan baca buku ini. Dan selamat tertawa saat membaca juga membayangkannya. Terutama membayangkan Rudy -atau Ruby- yang Ganteng saat berpakaian lelaki tapi Cantik saat berpakaian wanita.
Dapet buku ini dari editornya langsung, hehehe.. *ups*
Karena lagi bosen ngedit akhirnya gw langsung baca tu buku. Gw baca daftar isinya, chapter 1 and I cannot stop reading. I love the story though, I have to admit, there are non-sense things in some parts. Dari segi bahasa memang bisa dibilang agak aneh, tapi ya karena gw lagi bosen gw terusin baca aja. Mungkin karena gw udah lama ga baca buku-buku fiksi kaya gini, gw ga bisa berhenti baca (tiap Senin sampe Jumat baca buku ttg sejarah aja kerjaannya). Regardsless few strange things like some people said in other reviews (udah inisiasi heboh2, ternyata kerjaannya "cuma" nyelundupin rokok ke sekolah), I still like the book and cannot wait for the DSC Part 2 untuk jeda di tengah kebosanan ngedit buku sejarah.
Btw, soal cover, temen gw yang seorang jagoan visual art pas pertama kali liat buku ini dia bilang, "Apa nih, kok keren?" I kinda agree. I like the cover meski kaya kitab2 apaa gitu, hehe.
Baru beli nih, liat cover-nya beda. Nah, pas baca kok agak aneh yaa sama percakapannya. Kurang pas ja gitu. Nah, penokohannya menurut gw disini terlalu berlebihan (ok mereka unik tp sewajarnya) dan terakhir terlalu Western, kita masih di Indonesia bukan? Bumbuilah sedikit budaya kita, saran jaa. Overall, not too bad.