Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rumi and His Friends: Stories of the Lovers of God Excerpts from the Manaqib al-'Arifin of Aflaki

Rate this book
Originally written by Ahmad Aflaki, a devoted follower of the grandson of Rumi, this translation relates anecdotes of the life of Mevlana Jalaluddin Rumi, his father, wife, sons, and daughter and his relationship with Shams of Tabriz and other close companions and disciples. These stories are all based on the oral traditions of the early days of the founding of the Mevlevi Order and double as teaching stories that illuminate the way of the dervish. Spiritual seekers can benefit from this glimpse into the community surrounding Rumi and the wisdom conveyed through interactions with him. Many selections include beautiful passages from his poetry, and each selection is titled to assist in orienting the reader and enhancing comprehension of meaning.

415 pages, Paperback

First published January 1, 754

2 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Shams ad-Din Ahmad Aflaki

13 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (100%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Nazmi Yaakub.
Author 10 books279 followers
October 19, 2016
Petikan daripada kitab Kashfu al-Asrar wa Matla'u al-Anwar atau lebih dikenali sebagai Manaqib al-'Arifin oleh Shamsuddin Ahmad atau Aflaki ini cukup membawa kita menerobos alam mistik yang cuba diungkap dan dibentuk dalam kata-kata yang menyerbak daripada kehidupan Maulana Jalaluddin Rumi dan auliya yang hidup sebelum, sezaman dan sesudahnya khususnya bapanya, Sheikh Bahauddin Walad dan bapa rohaninya, Sayyid Burhanuddin al-Muhaqqiq.

Daripada kehidupan Maulana sendiri yang barangkali boleh disimpulkan seperti mathnawinya:-
Aku ada di sini dalam penjara dunia hanya untuk manfaat!
(Kalau tidak) Apa yang telah kulakukan sehingga dipenjara? Daripada siapa, barangnya kucuri?

Kita akan dibawa menelusuri perjalanan kerohanian mistikal yang tumpah bukan saja di bumi Konya, bahkan di seluruh dunia sehingga ke hari ini yang sebahagiannya kita nikmati daripada karya agungnya, manakala sebahagian kecil daripada kita pula dapat mencicip dari cangkir yang diwariskan dari dada guru kepada sudur murid.

Sudah tentu tidak lengkap untuk kita melayari samudera Maulana (seperti yang ditilik dengan mata rohani oleh Sheikh Fariduddin Attar - betapa ajaibnya kusaksikan, samudera mengekori sebuah tasik ketika Sheikh Bahauddin Walad membawa Rumi si kecil di kota Nishapur) tanpa menyusuri perairan hikmah daripada Sheikh Shams at-Tabriz yang pada awalnya menagih doa daripada Tuhan: "Kepada siapakah yang dapat aku curahkan lautan cinta yang berombak dalam diriku?!"

Sudah tentu kisah legenda pertemuan antara Maulana Rumi dengan Shams at-Tabrizi yang bertanyakan antara Nabi Muhammad SAW dengan Abu Yazid Bistami, siapakah yang lebih utama. Suatu pertanyaan yang zahirnya bersalut dengan kejahilan luar biasa tetapi hakikatnya memiliki makna yang mendalam tentang keunggulan Rasulullah SAW yang tidak mungkin terbanding meskipun dengan Bayazid yang mengungkapkan kata-kata shataat. Daripada situlah, perhubungan Maulana Rumi dengan Shamz at-Tibriz melangkaui kefahaman rasional dan budaya rendah kita, sebaliknya ungkapan cinta yang hanya berlangsung daripada hati yang menghirup cinta Ilahi.

Begitu juga kita akan dibawa masuk ke dalam fragmen kehidupan tokoh penting seperti Salahuddin Zarkubi yang menjadi khalifah pertama kepada Maulana Rumi. Di bengkel menempa emasnya, Maulana Rumi mendengar dentingan bunyi emas ditempa yang terus membawanya kepada Kekasihnya sehingga Salahuddin mengarahkan pekerjanya terus berbuat demikian meskipun ia pasti merosakkannya tetapi karamah Maulana menyebabkan seluruh peralatan bertukar menjadi emas.

Kematian Salahuddin diganti dengan kehadiran Husamuddin Chelebi yang daripada anak murid bapanya inilah, Mathnawi didedikasikan sehingga Maulana Rumi sering menganggap: "Mathnawi ini adalah Mathnawinya Husamuddin."

Manaqib ini juga membawa kita kepada kehidupan anak Maulana Rumi, Sultan Walad yang turut dipanggil dengan nama Bahauddin dan cucunya, 'Arif Chelebi yang atas saranan abdal dan qutub inilah, Aflaki menyusun kitab ini.

Membaca karya ini seperti juga karya ahli sufi yang lain, kita perlu merungkaikan tali rasional yang selama ini diikat pada peradaban Barat dan materialisme yang tidak kita sedari seperti yang pernah diungkapkan oleh Maulana Rumi sendiri, "Ketika akal rasional baru selesai mengikat tali untanya, cinta sudah pun selesai tawaf di sekeliling Kaabah." Dan membacanya, kita perlu mengikut pesan Imam al-Ghazali: "Sekiranya kamu sukar mempercayainya, diam sajalah dan berdoalah semoga kamu mendapat kefahaman. Kerana kalau tidak kelak kamu akan meninggal dunia tanpa upaya mencium kebenarannya."
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.