"Im, seumpama di tengah jalan begini kita nemu kotoran kebo, mau nggak kalo dibagi dua?” cetus Lupus tiba-tiba.
“Enak aja. Nggak mau dong!”
“Wah, lo serakah dong kalo gitu. Mau dimakan sendiri!”
Boim bengong. Lemot dia! Anak-anak lain terbahak-bahak.
Inget Lupus, kan? Cowok SMA Merah Putih yang terkenal cute? Nah, penulis Lupus yaitu Hilman, me-rewrite-nya dalam “penampilan” baru. Di dalam Lupus 5 in 1 ini banyak tingkah gokil Lupus, Boim, Gusur, and the gank yang bikin kalian nyengir-nyengir kuda. Cekidot lah yaw!
Lupus 5 in 1: Tangkap Daku Kau Kujitak Cinta Olimpiade Makhluk Manis dalam Bis Tragedi Sinemata Topi-Topi Centil
JAGO NGOCOL SE-INDONESIA Lahir di Jakarta, tanggal 25 Agustus, bintangnya Virgo, bo! Hilman yang turunan Jasun alias Jawa-Sunda ini punya papa tentara berpangkat kolonel. Mulai ngarang sejak ABG, dengan membuat serial Lupus di majalah HAI yang berhasil mengangat namanya. Ia juga pernah juara ngarang di majalah yang sama. Pernah kuliah di UNAS jurusan Sastra Inggris.
Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya merupakan fenomena dalam dunia penerbitan Indonesia. Lupus#1: Tangkaplah Daku Kau Kujitak, terbit Desember 1986, cetakan pertamanya sebanyak 5.000 eksemplar habis dalam waktu kurang dari satu minggu. Hilman menulis puluhan judul yang meliputi seri Lupus, Lupus ABG, Lupus Kecil, Lupus Milenia, Olga, Lulu, Keluarga Hantu, Vanya, Vladd, Dua Pelangi dan beberapa judul lepas. Beberapa karyanya ditulis bersama Boim,Gusur dan satu bernama Zara Zettira. Tiras total penjualan bukunya mencapai jutaan eksemplar!Jumlah yang luar biasa untuk ukuran Indonesia,mengingat tiras \"normal\" buku lain rata-rata 3.000-5.000 eksemplar,dan itu pun tidak habis terjual dalam waktu satu tahun.
Kisah Lupus menggambarkan gaya hidup remaja. Sarat dengan humor orisinal, terutama unik dalam gaya bahasa dan pilihan kata yang seenaknya. Tapi justru dengan gaya bahasa seperti itulah yang pernah dianggap merusak bahasa Indonesia-Lupus menjadi produk yang khas,disukai dan diakrabi para remaja.
Seri Lupus sudah difilmkan, baik di layar lebar maupun dalam bentuk sinetron. Sedangkan seri Lulu, Olga, Vanya dan Vladd serta beberapa cerita lepas lainnya telah disinetronkan.
Buku ini berisi lima judul Lupus yang telah terbit sebelumnya. Ada "Tangkaplah Daku, Kau Kujitak", "Cinta Olimpiade", "Makhluk Manis Dalam Bis", "Tragedi Sinemata", dan "Topi-Topi Centil".
Kalaupun kamu sudah pernah membaca judul-judul itu dulu, kamu tidak akan rugi kalau membaca versi cetakan ulangnya ini. Soalnya penulisnya cukup berkomitmen dalam upaya untuk memperbarui serial Lupus ini. Latar ceritanya dibuat lebih modern. Bukan cuma barang-barang seperti ponsel yang ada di sini, berbagai rujukan popnya juga di-upgrade. Kini Siwon dan Syahrini (serta bulu matanya) masuk ke dalam banyolan Lupus.
Walau begitu, saya masih merasakan ada aura "lama"-nya di sini, seperti waktu Lupus ngebanyol soal telepon umum yang membuat saya berpikir, "Masih ada telepon umum yang berfungsi, ya?"
Secara keseluruhan, tetap enak untuk dibaca. Walau latarnya berubah, Lupus dan kawan-kawannya tetap sama. Tetap lucu dan 'rusak' abis.
Kayaknya saya memang lebih nyaman baca versi re-written di usia segini hahaha. Saya menghormati review yang kurang berkenan versi re-written, karena seolah “menghilangkan” orisinalitasnya.
Tapi seandainya versi orisinal dibaca anak saya yang pre-teen, saya akan banyak ngasih ceramah di muka. Bukan masalah ga sesuai zaman, tapi budaya tutur kata kita saat ini sudah banyak bergeser ke arah kesopanan. Dan Lupus versi original agak kurang nyaman dibaca untuk era sekarang. Betulkan jika saya salah. Bisa jadi faktor U yang membuat saya berpikir seperti ini
Saya pasti akan minta anak saya baca versi re-written dulu sebelum baca versi originalnya, biar dia ga shock
Buku legendaris favorit, penulisan ulang dengan penyesuaian kondisi sekarang menyebabkan buku ini menjadi kehilangan orientasi. Era media sosial dan K-Pop yang coba diadaptasi justru membuat buku ini menjadi garing. Lebih memilih untuk berhenti dan membaca versi aslinya "Lupus Klasik #1"
Did I spend 5 days reading this? Yes. Did my eyes burn when reading this? Also Yes. Did I cringe a lot at the "modern" interpretations? Absolutely.
Not only that the book made big plot-holes here and there, it just straight up doesn't make sense. I get how the book was supposed to be read separately, but then why give us this ;-;
I mean, don't get me wrong.. Lupus' character was something. He displayed many sides of him that showed how unique he is, but that's the only character development you'll ever get in this book.
Udah beli lama tapi baru tamat baca sekarang, pantes aja sih, lha wong 5 buku dijadikan satu. Per bab ceritanya beda-beda, pas kalo dibaca nyicil satu2.
atmosfernya masih kerasa banget 90an, Lupus and the gang doyan ngocol, jail dan suka ngasih tebak-tebakan! hahaha jadul banget dah. Keinget pengalaman dulu aku sampe doyan beli buku yang isinya tebak-tebakan, jadul banget gak sih.
Kayanya Lupus ini jarang punya masalah deh, hidupnya ngocol terussss.
Um ... 2,8 deh bulatkan jadi 3 bintang. Sejatinya cerita ini tetap Lupus. Jokes garingnya masih bisa bikin terkekeh, sifat ngeselin masih ada, gaya bahasa masih seru. Hanya saja, modernisasi terasa gagal di beberapa tempat sebab malah menghilangkan keistimewaan Lupus dan zamannya. Tapi di sisi lain tetap bacaan yang woth it.
Buku pertama yang dilahap di 2014! Setelah taun kemaren engga banyak baca buku dan meleset jauh dari target, tekad taun ini adalah lebih baik dari taun kemaren. Dimulai dari yang ringan-ringan dulu, sekalian nostalgia sama Lupus ceritanya.
Di awal memang disebutkan bahwa buku ini bukan sekedar diterbitkan ulang dalam bentuk 5 in 1, tapi juga ditulis ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi remaja sekarang ini. Hasilnya? Well, to be honest...I'm a bit disappointed.
Entah mungkin saya yang beranjak gede (padahal engga juga sih :p) tapi saya merasa buku ini kehilangan aura Lupus. Banyolan-banyolannya mungkin ada beberapa yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri, beberapa kali terpingkal, tapi ya itu rasanya tetap ada yang beda. Ibarat ngemil popcorn, ringan tapi ya udah itu aja.
Sementara Lupus yang dulu...ah, itu ibaratnya ngemil es kacang ijo. Sama-sama enak macem ngemil popcorn, tapi ada kenyangnya juga yang dapet. Ada yang bisa dicerna gitu lho. Banyolannya selain lucu, juga merupakan potret sindiran cerdas terhadap keadaan sekitarnya. Membuat tertawa tapi juga membuat berpikir. Jailnya pun ada orientasi, tidak seperti di buku ini yang saya tangkap jailnya ya sekedar jail lucu-lucuan saja. Apa saya gagal move on dari Lupus yang lama? Bisa jadi. :D
Eniwei, saya tetap senang membaca buku ini. Lupus punya tempat tersendiri di hati saya. Saya tumbuh dan tertawa bersama Lupus. Hmm..jadi kepengen mengoleksi dan membaca ulang buku-bukunya dari pertama lagi nih...
Not a really goodreads, read it while you have spare time...hehe.
Entah kenapa, lupus generasi unyu ini sama sekali ngga lucu menurut saya. Humornya garing, kadang kelewat lebay, mungkin biar anak muda jaman sekarang pada nyambung kali ya, tapi jadinya malah aneh. Kenapa si Hilman harus bawa2 Suju, Siwon, dan teman2nya coba, kan jadinya maksa. Udah terlalu banyak novel, atau kumpulan cerita sejenis ini yang bawa2 KPop, mungkin buat buku2 baru nyambung ya, tapi buat cerita kayak Lupus ini enggak banget deh.
Terus juga penggunaan kata unyu, happening, outstanding, apa lagi ya, hehe ya kata2 keren masa kini lah, kata saya sih ngga cocok buat Lupus. Saya tetep lebih suka Lupus 'apa adanya' kayak Lupus yang dulu. Lebih natural, lebih kocak, yang pasti sih pas saya baca jaman dulu, saya hampir selalu ketawa bacanya. Entah faktor apa yang bikin Lupus Reborn ini garing kayak gini.
Buku ini masih lumayan sukses membuat saya ber haha hihi selama membaca. Sambil mengingat masa2 SMP dulu, suka pinjem Lupus di perpus. Sepertinya jaman dulu lebih asik daripada jaman sekarang kalau buat ngocol. Jadi kalau disesuaikan sama jaman sekarang, kadang ga nyambung, hehe. But, there's nothing to worry about, namanya juga buat lucu2an.
pertama saya kira ini cetak ulang dari seri lupus yang lama, ternyata lupus yang telah di-remake ceritanya dengan kondisi sekarang. Mungkin ini merupakan pertaruhan Kang Hilman agar buku ini bisa diterima remaja zaman sekarang. Tapi sebagai generasi 90an, saya lebih suka lupus yang lama :)
Menyenangkan sekali bernostalgia dengan Lupus yang sudah menemani kehidupan SD saya. Beberapa perumpamaan disesuaikan dengan masa kini sehingga terasa lebih segar dan tentu saja masih lucu dan gokil!
Masih lebih menikmati lupus yang dulu, jadi aku merasa lupus yang diterbitkan ulang ini sedikit kehilangan kelucuannya. Bukan berarti tidak bagus, hanya saja aku lebih menyukai lupus yang lama.