@pembacasetiaaa Coba yang suka review jelek, emangnya bisa jadi penulis? Jangan cuma bisa nyinyir tapi tulisannya masih jelek. Cc: @amydhriti.
@masihmuda_belia Katanya Bookfluencer. Booktuber. Kok malah book shaming sih?
Amy Dhriti diserang netizen! Gara-gara buku antologi Mimpi dan Harapan Kita yang diulas di kanal YouTube-nya, seorang akun anonim atas nama pengguna @penulis__amatir memprovokasinya melalui Twitter. Hal itu jelas mengganggu reputasinya sebagai bookfluencer, apalagi dia tengah mengincar juara satu kompetisi Versatile Book’s Reviewer. Keterbatasan waktu menjelang babak akhir kompetisi membuat Amy tidak punya pilihan, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah secepat mungkin mencari siapa pelakunya. Amy benar-benar harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, jika dia tidak ingin gugur sebagai pemenang.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Ini novel pertama Kak Asmira Fhea yang aku baca. Aku cukup suka cara berceritanya, manis juga cukup bikin gregetan. Menurutku baik orang tua, reviewer maupun penulis wajib baca novel ini. Novel ini nggak cuman tentang mencari siapa itu Penulis Amatir tapi ada beberapa yang bisa dipetik dari novel ini diantaranya; ‘Perdebatan aku dengan kedua orang tuaku. Adegan per adegan yang masih terekam jelas di kepalaku itu ternyata memberi dampak psikologis yang cukup panjang tanpa kusadari. Meski sudah berlalu bertahun-tahun, meski aku tumbuh dengan argumen-argumen baru, alam bawah sadarku tanpa sengaja mengotak-ngotakkan jenis buku sebagaimana kata Ibu’. Tentang, ‘Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain’. Juga, “Selama kita masih semangat belajar dan mempelajari sesuatu, pasti berkawan dengan kesalahan.” Tadinya aku cukup kagum sama orangtuanya Amy. Tapi di halaman berikutnya kecewa sama ibunya 🙈 ternyata tidak sebijak itu dan malah bookshaming lagi 😟. Belom lagi yang bagian Ibunya doain Amy supaya menyesal dengan pilihan Amy 😣. Tadinya aku nggak suka sama Amy dan ambisiusnya dia, tapi setelah dia dapat pandangan baru juga cemoohan dari Marsha, aku jadi pengen pukpuk Amy. Menurutku Amy nggak salah kalau pandangannya seperti itu sebab dia mendapat didikan dan pandangan yang agak sempit karena orang tuanya. O ya aku suka bagian ini, “Kucari mata Raynar. Dari sorot matanya, aku menerjemahkan kalau dia merasa cukup atas penjelasanku. Saat kuangkat kedua alis sebagai bentuk konfirmasi tersirat, dia mengangguk dan tersenyum tipis” 🥰. Pokoknya baca deh ini 👍🏼. . ‘Buat penulis baru, memang harus siap dikritik ketika tulisan kita sudah disebar ke publik. Suatu saat itu akan jadi makanan kita sehari-hari. Buat bookfluencer, silakan pilih kata-kata yang baik untuk mengulas buku. Ndak perlu ngatain orang amatir kalau bacaannya bukan seleramu’. (Hal 29).
Udah lama penasaran sama buku ini. Habis cuplikan di BLURB-nya sangat menggugah, sih. Soal reviewer buku yang dikecam publik akibat review-nya yang kelewat jujur hingga dianggap melakukan book-shaming.
Perjuangan Amy untuk menguak sosok di balik akun anonim yang membuat thread negatif tentangnya di Twitter, nggak main-main. Dia sampai blusukan ke daerah Bantargebang dan jadi relawan dadakan untuk Komunitas Akar Cerita yang menerbitkan buku yang jadi sumber huru-hara.
Miris membaca adegan ketika anak-anak di sekolah Generasi Harapan hanya berani bercita-cita menjadi penjaga warung maupun tukang angkut sampah karena itulah yang paling realis buat mereka.
Ada banyak isu dunia perbukuan di sini. Yang sangat mengena menurutku isu banyaknya anak di bawah umur yang membaca novel-novel penuh adegan dewasa di platform online karena itulah yang terjangkau buat mereka. Ngeri banget sama Lili, anak SMP yang dengan polosnya menceritakan adegan BDSM dari novel romance dewasa yang ia baca di platform online. Apalagi ketika ia menganggap bahwa adegan si cewek yang rela disiksa hingga si cowok penyiksa akhirnya luluh itu dianggap pengorbanan yang romantis. Astaga!!! Jadi ketar-ketir, nih. Novel jenis apa yang biasa dibaca para muridku di Wattpad??? Sayang, kasus Lili dibiarkan menggantung. Amy tidak sempat untuk membuat Lili tertarik dengan buku-buku yang lebih sesuai dengan usianya maupun buku-buku sastra dunia seperti Sang Alkemis.
Aku pun agak kecewa karena baik Irhei maupun otak di balik akun anonim itu tidak mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka. Malah Amylah yang akhirnya merasa bersalah. Taruhlah kata-kata yang ia pilih untuk mereview buku karya Komunitas Akar Cerita termasuk tajam, itu nggak sebanding dengan perbuatan si pelaku yang merusak nama baik Amy.
Meski begitu aku sangat menikmati perjalanan membacaku bersama novel ini. Bab demi bab benar-benar kulalui tanpa hambatan yang berarti. Novel ini kuhabiskan nggak sampai satu hari saking page-turner-nya. Aku acungi jempol buat kepekaan penulisnya dalam menggali isu-isu kesenjangan sosial dalam dunia literasi dan pendidikan di negeri kita "tercinta" ini.
very, berry enjoyable to read!!! akhirnya aku bisa mematahkan novel slump aku huhuhu, lama bgt ga nyelesain novel karena keseringan baca komik hehe
aku sukaaa buku ini isinya mendiskusikan tentang masalah buku dan literasi, terlebih di indonesia yg kurang bgt literasinya. keliatan dari netizen di twitter huhhhhh, jujur kesel bgt liat cuitannya di awal cerita. sampe aku anotasi lho, aku jdi pengin cakar org"nya. terus juga kurangnya literasi keliatan di anak-anak sekolah, yang juga digambarkan di buku ini, di mana mereka dpt akses baca ... tapi bacaannya kurang bermutu. kesian lho, sampe keliatan pola pikirnya gimana....
terus aku juga suka gimana buku ini dapat membuahkan pemikiranku sendiri. banyak bgt aku nempelin sticky notes buat nulis komentar aku. aku jarang bgt ngelakuin anotasi ini lho!! ini pertama kalinya deh. soalnya aku suka banget bahas tentang buku dan sastra. aku juga baca ini dpt ilmu juga eheheh!! asyik bangettt
character-wise, aku suka amy sebagai tokoh utama yg punya sifat baik dan buruknya. kek, misal aku kdng bisa ngedukung dia, tapi juga ada situasi di mana aku kayak "bombastic side eye" ke dia. kayak ada balance gitu lho karakterisasi amy. dan itu humane bgt bagi aku. karakter amy sangat alami, menurutku. keliatan dri background-nya, tentu itu akar dari sifat amy yang bisa diliat di plot cerita.
Pertama kali baca karyanya Kak Fhea, aku langsung demen. Apalagi bahas tentang perbukuan. Jadi, ceritanya tentang booktuber idealis bernama Amy yang dapat komentar kebencian dari akun bernama Penulis_Amatir gara-gara unggahan buku antologi punya Komunitas Akar Cerita yang diulas sama Amy, padahal kritiknya nggak jelek lho. Jadi, Amy mulai menelusuri siapa pelakunya ke Komunitas tersebut di Bantargebang, dan di sana Amy perlahan menemukan hal-hal yang menakjubkan.
Baca buku ini tuh, bener-bener menggambarkan gimana dunia bookfluencer Indonesia yang nano-nano ini. Paling miris di aku tuh waktu Amy ngobrol sama Lilis tentang novel platform online yang meromantisasi kekerasan dalam rumah tangga gitu. Tentu saja tidak melupakan bagian serunya yaitu memecahkan tentang siapa sosok Penulis_Amatir bareng Raynar si ketua KAC. Belum lagi hubungan sama Ibunya yang astaganaga sangat trigger dan bikin ikut nangis.
Penulisnya juga pakai POV 1 Amy, di sini aku merasakan keluwesannya sehingga karakterisasi Amy sangat jelas, baik kelebihan atau kekurangannya. Apalagi scene marah-marahnya itu lho, jadi ikut kesel wkwk.
Kekurangannya itu pas ketahuan sosok Penulis_Amatir, penyelesaiannya terkesan kurang jelas. Padahal gapapa kasih tahu lewat dialog sama Raynar gitu hihi.
Benar-benar bacaan yang aku rekomendasikan banget ini jika kalian penasaran bagaimana dunia influencer perbukuan Indonesia bekerja.
Amy optimis menjadi juara pertama dalam kompetisi Versatile's Book Reviewer jika saja tidak tersandung masalah. Salah satu akun anonim bernama @penulis_amatir membuat utas di media sosial betapa reviu Amy sangat menyudutkan para penulis dengan mengatakan hal-hal yang dianggapnya kurang sopan. Kontan, nama baik Amy dipertaruhkan. Meski banyak yang membelanya, tapi tidak sedikit juga yang menghujatnya serta membenarkan klaim si Penulis Amatir.
Batas kompetisi yang mepet membuat Amy bertindak secepat mungkin. Selain menghapus kemungkinan sebagai pemenang, nama baiknya juga harus pulih. Ketika menemukan komunitas penulis yang menulis buku tersebut, Amy malah menemukan hal lain. Hal-hal yang menyadarkannya akan privilese, kepekaan, kepedulian, serta dedikasi terhadap sekitar.
Awalnya agak takut karakter Amy bakal sombong, mengingat beberapa klaim di blurb. Ternyata she's better than my thought. Meskipun kesandung masalah, alih-alih panik dan bikin klarifikasi blunder, dia nyoba ke lapangan langsung. Karakterisasinya juga kuat dan solid.
Meskipun lahir dari orang tua yang punya banyak privilese, nggak lantas dia bebas dari hal-hal yang dianggap nggak bakal kejadian di keluarganya. Amy mengalami book shaming selama bertahun-tahun. Hal ini sangat memungkinkannya melakukan hal tersebut pada orang lain sebagai pelampiasan.
Tapi, apakah yang dikatakan di video viral itu termasuk book shaming? Menurutku, ada beberapa poin yang bisa disoroti di sini. Pertama, Amy terkenal dengan imej sebagai pengulas kritis. Ketika dihadapkan pada masalah book shaming, masih banyak yang membela. Artinya, masih banyak yang percaya apa yang dikatakan Amy di video viral itu nggak salah dan nggak menyudutkan siapa pun. Kedua, klaim si Penulis Amatir bahwa seharusnya Amy mengatakan hal yang baik dan pantas pada buku yang direviunya mengingat si penulis sudah membayar padanya ini agak complicated.
Sudah sering pembahasan soal pengulas berbayar ini diangkat. Perdebatan soal haruskah bookfluencer menulis reviu yang bagus-bagus saja agar bisa meng-influence pengikutnya meskipun isi reviunya harus menambahkan banyak sugarcoat dan mengulas apa adanya meskipun banyak yang harus dikritisi, masih menjadi PR besar. Beberapa berpendapat, jika dibayar maka harus memberikan reviu terbaik dan mengolesnya dengan baik, ada yang berpendapat sebaliknya. Well, yang mana pun, selera bacaan dan keputusan bijak bookfluencer dalam mengelola reviunya (serta kesepakatan dua belah pihak: pengulas dan penulis) yang bakal berlaku. Jika perjanjian awal pengulas sanggup membuat reviu yang bagus, atau sebaliknya pengulas ingin menulis reviu secara honest (or brutal honest), maka semuanya sah saja.
Jadi, apa yang dialami Amy sebenarnya nggak bisa dihakimi bersalah atau tidak saja. Itikad baiknya datang ke tempat para penulis buku berada juga harus dipertimbangkan. Aku seneng banget waktu dia dilarang membuat konten di sana (yang memang Amy maksudkan untuk membuat klarifikasi) dan dia nggak bisa protes karena tujuan utamanya mencari sosok Penulis Amatir dan mengajak berdiskusi.
Sebenarnya, masih banyak banget yang bisa dibahas di novel ini. Aku pun nggak nyangka bakal suka banget sama pembahasannya dan gimana penulis (penulis buku BS, ya, bukan komunitas yang bukunya direviu Amy) nggak menyudutkan salah satu pihak. Ya, kecuali si Irhei itu beda, ya. Dia, mah, emang spesies berbahaya. I mean, ya bolehlah orang reviu bacaan dewasa, tapi bisalah kata-katanya difilter dan nggak terkesan meromantisasi tindakan kekerasan macam BDSM. Eh, dewasa di sini beda ya sama yang isinya esek-esek tanpa konteks doang. Bahaya kalau ada banyak yang kena dampak buruk macam Lili di luar sana.
Nah, bahasan soal Lili ini juga sering menjadi perdebatan sampai dilema. Akses bacaan yang semakin susah membuat beberapa orang, terutama remaja, akhirnya mengakses bacaan murah meskipun isinya nggak sesuai umur (terlalu dewasa buat usianya) atau malah buku bajakan. Nah, kan, banyak banget yang bisa didiskusikan dari buku ini.
Kurang satu bintang sebenarnya pribadi banget dan karena satu dialog, tapi yah ini penilaian subjektif. Isi dan pesan dalam cerita tetap tersampaikan dengan baik. Baik banget malah. Enggak harus jadi pengulas dulu buat baca buku ini.
Oiya, semoga Amy betah ye bersandar ke Raynar and vice versa. Ciyeeeee.
Secara ide cerita sebenarnya ini menarik banget tapi sayang ada beberapa kekurangan yang buat experience membaca buku ini jadi kurang menyenangkan, setidaknya buat gue pribadi.
Ada beberapa kalimat yang penulisannya ganjal dan emang tidak sesuai dengan penulisan yang baik. Belum lagi soal karakter, si karakter utamanya kurang lovable, tidak napak tanah, self-centered, dan sering merasa kalau dia orang paling tersakiti di dunia. Menuju akhir memang agak keliatan perubahan karakternya, tapi tetep ada kesan kalau semua karakter lain di buku ini emang ada buat mendukung idealisme di kepala dia dan perubahan karakternya pun juga ngga diperlihatkan secara jelas. Closure-nya agak kurang aja, sih. Apa lagi endingnya dia tetep menang kompetisi, too good to be true aja, sih.
Secara overall ini jadi tamparan kerasa buat orang-orang yang merasa suka baca buku tapi pada nyatanya ngga paham dengan kondisi dan situasi nyata di luar tuh seperti apa. Jadi selain baca buku jangan lupa untuk peduli dengan apa yang terjadi di sekitar, karena pada dasarnya reading is a part of resistance!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini kali pertama aku baca tulisannya Kak Fhea, dan aku suka sama cara penyampaiannya yang ringan dan ngalir. Topik yang dibahas di novel ini juga menarik, tentang seorang booktuber bernama Amy yang mendapat masalah karena reviunya. Di bagian awal, pembaca langsung disuguhi sama alasan Amy bisa viral di Twitter dan dapat respons beragam dari netizen. Pembaca juga langsung dikasih tahu alasan kenapa Amy begitu kritis dan idealis sama buku-buku yang dibacanya. Dan di bagian itu, belum apa-apa aku udah kesel banget sama keluarga Amy, terutama sama ibunya
Sejujurnya, meski masalah Amy ini ngena di aku, aku kurang begitu suka sama dia pas di awal-awal cerita. Tapi aku mulai suka sama dia pas gabung ke Komunitas Akar Cerita dan jadi relawan tamu di sana. Aku suka sama interaksi Amy dan para tokoh lainnya di sana. Dialog-dialognya asyik dibaca, kejudesan dan kejailan para tokohnya juga oke. Tapi di antara semua itu, aku paling suka sama adegan-adegan Amy ngajar, terutama pas di kelas Bowo dan kelas Puspa. Soalnya di bagian itu kelihatan banget kalau karakter Amy jadi berkembang. Dan yap, perkembangan karakter dia tuh bisa kita temui di sepanjang cerita ini. Jadi buat yang mau belajar bikin karakter berkembang, bisa baca ini sebagai referensi
Untuk plot dan konfliknya rapi. Nggak yang jedar-jeder, tapi tetep seru diikutin dan kurva ceritanya kerasa. Meski begitu, ada beberapa pertanyaan yang masih nyangkut di kepalaku, terutama mengenai penyelesaiannya. Terus ada juga kalimat-kalimat yang menurutku kurang cocok dan terasa janggal kalo dipake buat POV 1 gini. Tapi, ini masih terbilang aman, jadi bukan masalah yang besar banget. Soalnya ceritanya juga page turner dan tetep bisa dinikmati~
Secara keseluruhan, aku suka sama Book Shamer. Aku merekomendasikan kalian untuk baca novel ini, karena ada hal-hal yang mencerahkan banget~
Seruuu bgt walaupun di tengah sempet mau dnf, tp I managed to finish it! And it got surprises🥹❤️ LOVEEEE. So many key learnings from the same-yet-rare POV!!
Seru banget! Buku yang sebenarnya dekat dengan kita yang membaca buku juga menulis review (aku lah orang itu). Isinya menurutku sangat realistis terlebih banyak orang yang masih belum bisa membedakan mana “book shaming” dan mana mengkritisi dengan melakukan analisis. Sesungguhnya, buku ini cukup bikin ‘melek’ dan melakukan reality check. Yang sebenernya aku sudah lakukan itu apa ya? Yah, layak dibilang buku ini sebagai reminder kita sebagai pembaca dan reviewer.
Selain itu, buku ini juga membahas mengenai beberapa hal penting: 1. Pandangan orangtua terkait novel fiksi yang dibilang membuat pembacanya bodoh. Cenderung lebih mengelu-elukan buku self-improvement atau buku pelajaran lain. Pun padahal segala jenis buku dapat bermanfaat apabila kita bisa mengambil ilmunya dari sana, dan tentu membaca sesuai dengan umurnya. 2. Orangtua yang selalu mengatur kemauan anak, seolah-olah anak tidak diberikan kebebasan untuk memilih kehidupan yang dimaunya. Seolah semua yang disiapkan, diatur oleh mereka adalah pilihan yang terbaik. Padahal, belum tentu. Sadar bahwa seorang anak dapat memilih apa yang ia mau (termasuk jurusan dan bacaan) merupakan sebuah privilege. 3. Orangtua yang mendoakan anaknya hal buruk karena tidak satu pandangan dengan mereka. Ini paling menyayat hati karena masih ada orangtua yang tega berdoa buruk seperti ini? 4. Bacaan fiksi yang dibaca tidak sesuai dengan umur pembaca, tanpa trigger warning, dan hal lainnya membuat pembaca di bawah umur menarik kesimpulan lain yang jatuhnya menyesatkan. Terlebih, novel romance dewasa yang dibaca oleh anak sekolah. Sedih rasanya karena hal ini nyata dan marak terjadi. Mereka belum bisa memfilter hal baik dan buruknya. 5. Lingkungan mempengaruhi tutur kata dan etika. Sangat mengejutkan anak SMP berbicara bahasa frontal terlebih di depan guru (meskipun mereka volunteer pengajar tapi sama aja seorang guru). Ini masih marak terjadi dan menurutku… menyedihkan.
Menurutku kelima poin di atas adalah highlight utama (selain mengenai book shaming) dari buku ini. Sangat menarik, cukup mudah untuk dipahami dan dimengerti. Alurnya cenderung cepat dan karakternya cukup kuat! Romansa yang tipis-tipis tapi sukses bikin aku kicking my feet di ending. Terharu juga karena akhirnya hubungan Amy dan keluarganya bisa membaik! What a nice ending.
Aku suka buku ini. Simpel, tapi dari bab pertama kita sudah tahu betapa gentingnya masalah si tokoh utama--Amy--well, setidaknya masalah permukaannya udah dijabarkan. Amy pun langsung beraksi dengan mengadakan perjalanan untuk menyelesaikan masalah permukaannya--dan turns out masalah lebih besar bakal memaksa dia belajar hal-hal baru untuk memperbaiki diri.
Aku suka pembahasan-pembahasan dunia perbukuannya. Dari bab pertama ada aja kalimat, dialog, atau bahkan paragraf yang pengin aku stabiloin tebal-tebal karena jleb banget. Mau nggak mau kuakui aku berada di sisi idealistisnya Amy. Mungkin sebenarnya aku juga seorang bookshamer yang memandang nista orang-orang yang bacaannya kayak Lili atau buku-buku ulasannya kayak Irhei. Aku mungkin tipe yang terlalu kuper sampai nggak percaya orang kayak Bowo ada (eh tapi dulu waktu SD aku pernah punya temen yang udah gak naik kelas dua kali, and we were cool). Tapi dari orang egois seperti Marsha justru aku introspeksi diri, bahwa nggak semua orang punya privilese (dan ibu) kayak Amy. HHHHH ibu Amy ini mengingatkanku pada seseorang. Sudahlah.
Aku suka setiap tokoh di cerita ini menjadi semacam perwakilan kelompok dengan pandangan tertentu. Raynar tipe abang-abang yang aktif di organisasi kampus dan jadi tempat mengadu segala kegundahan adek-adek maba, tetap stay positive meskipun dijutekin terus sama Amy. Tapi saking positifnya sampai mencurigakan. Yang calon bidadari surga sesungguhnya adalah Puspa, si jilbab panjang yang semangatnya selalu membara. Fatma? Oh, aku kenal orang ini. Dia stereotipe ISTJ.
Aku suka perkembangan dinamika antartokohnya. Dari di awal Amy sama Eddies cuma sekadar teman sekamar, belakangan jadi semacam partner in crime yang berjuang sama-sama mencapai satu tujuan. Dari di awal Amy sama Raynar saling curiga dan berada di sisi yang berseberangan, di akhir bisa sayang-sayangan. Dari di awal Amy sama Irhei... oh, tunggu dulu, Kisanak. Ini yang agak nggak jelas buntutnya. Sekilas di awal-awal cerita emang udah dikenalin kalau Irhei ini saingan Amy sesama booktuber, kalau Irhei sukanya review buku pedas ganas berlabel 21+. Tapi waktu Irhei invasi KAC nggak ada penyelesaiannya. Cuma ngaku aja siapa yang bikin ulah. Terus sebenarnya Irhei ngapain di sana? Kalau dia penulis terus gelar jumpa fans sih wajar. Tapi kalau cuma reviewer buku? Di tempat yang nggak bookish-bookish amat lagi ("yang ada rubbish", jiwa pun-intended-ku berteriak). Masih diperhitungkan buat lomba review pula, meskipun kelakuannya kayak gitu.
Ada beberapa kesalahan teknis yang kutemukan, tapi nggak masalah sih buatku karena bukuku sendiri juga punya kesalahan teknis semacam itu. Yang meskipun udah diperiksa berapa lusin mata tetap aja ada yang luput. Sebagai sesama penulis saling paham ajalah. Editor bukan dewa. Penerbit major juga tiada sempurna.
Aku suka naik turun emosinya di buku ini. Ndak yang roller coaster banget kayak buku-bukunya Pradnya Paramitha, tapi bisa juga bikin mata berkaca-kaca di akhir cerita. Udahlah, aku lemah sama cerita yang di awal-awal karakternya bete terus sama kelakuan orang di sekitarnya, tapi di ending jadi sayang semua. Oh, aku jadi google Suho gara-gara ini wkwkwk. Nope, not my type.
Menggunakan POV orang pertama, kita bakalan diajak ke cerita Amy, mencari dalang di balik akun Penulis Amatir yang habis habisan mengkritik dia dan membawa dia ke Komunitas Akar Indonesia, yang menerbitkan buku yang ia kritik. Disana justru Amy ketemu Raynar cowok pendiri KAI,
Aku suka karna membahas soal literasi Indonesia, dan juga tentang gimana review sebuah buku bisa jadi pisau bermata dua, kalo nggak kita jalani dengan baik. Mereview dengan konsep membangun jauh lebih baik dibandingkan dengan konten yang hanya bertujuan menaikkan jumlah subscribers tapi diisi dengan hal yang kurang baik.
Ada romancenya juga dong antara Amy dan Raynar meskipun tipis-tipis. Oh ya ada juga persoalan Amy dengan Ibunya yang nggak setuju dengan bahan bacaannya dan menilai novel itu bukan bacaan yang baik. Tapi akhirnya dengan konsistensi Amy dia bisa buktiin ke ortunya, kalo apa yang ia lakukan selama ini baik dan tentunya bisa bikin bangga mereka.
Bacaan ringan, relate buat penggemar fiksi, terlebih penulis dan bookstagram. Karena setting-nya bekasi, ada beberapa aksen di dialog yang bener2 bikin, orang bekasi banget, nih. wkwkw
Saat popularitasnya sebagai bookfluencer meroket, Amy Dhriti mendapati dirinya terperangkap dalam pusaran kontroversi. Ulasannya tentang antologi Mimpi dan Harapan Kita memicu serangan pedas dari akun anonim bernama Penulis Amatir di Twitter. Sementara dia dengan gigih memperebutkan gelar juara pada kompetisi Versatile Book’s Reviewer 2019, yang kini semakin mendekat. Bisakah Amy mengungkap identitas penyerangnya dan meraih gelar juara? Masa depannya sebagai bookfluencer terkemuka bergantung pada kemampuannya mengatasi teka-teki ini.
Buku Book Shamer karya Asmira Fhea menghadirkan premis cerita yang tak hanya memikat tetapi juga relevan dengan realitas dunia literasi. Kisah Amy Dhriti, seorang bookfluencer yang mendapati dirinya terjerat kontroversi akibat tuduhan book shaming dari Penulis Amatir, memicu perjalanan penuh tantangan untuk membersihkan namanya. Dalam kompetisi bergengsi sebagai bookfluencer, Amy harus menemukan solusi kreatif di tengah gempuran netizen dan mempertahankan reputasinya.
Sebagai seseorang yang senang mengulas buku dan berbagi pengalaman membaca dengan publik, saya merasa segera terhubung dengan premis menarik buku Book Shamer karya Asmira Fhea. Keakraban ini menjadi pintu gerbang yang mengantarkan saya pada sebuah perjalanan tak terduga dalam cerita ini. Dengan narasi yang mengalir begitu lancar dan mudah dipahami, buku ini secara instan memanjakan saya, menghilangkan kebutuhan untuk menyusun usaha ekstra saat memasuki inti ceritanya.
Ketika karakter utama, Amy Dhriti, pertama kali muncul, saya tidak bisa menahan rasa kesal terhadap beberapa hal terkait kepribadiannya. Rasa heran dan ketidaksetujuan mengemuka di pikiran saya. Muncul pertanyaan, apakah penulis dengan sengaja menciptakan karakter utama yang kontroversial di awal cerita untuk menciptakan ketegangan yang lebih mendalam?
Keberhasilan penulis dalam menyajikan beragam nilai berbobot menjadi magnet utama dalam memikat pembaca. Mulai dari isu-isu seputar dunia pendidikan, literasi, pencarian jati diri, hingga konflik keluarga, setiap elemen dibahas dengan teliti dan berimbang. Apresiasi tertinggi saya diberikan pada penanganan permasalahan yang taktis, dengan fokus mengedepankan esensi cerita tanpa terjebak dalam dramatisasi romansa yang berlebihan. Kesederhanaan inilah yang memberikan kekuatan kepada pesan-pesan yang ingin disampaikan, menciptakan kedekatan dan kemudahan bagi pembaca untuk tersambung dengan inti cerita.
Pengupasan kritik sebagai alat analisis dan evaluasi yang membangun tidak hanya menjadi elemen dalam cerita, melainkan pilar utama yang memberikan dimensi baru pada narasi. Saya, sebagai pembaca, merasa terinspirasi untuk membuka diri secara lebih luas terhadap saran dan kritik, mendapati diri menemukan pemahaman yang lebih dalam akan urgensi menyampaikan kritik secara konstruktif.
Selain itu, salah satu momen puncak yang membedakan Book Shamer dari karya-karya lain adalah kepedulian mendalam terhadap isu rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Penulis, dengan cermat dan penuh kebijaksanaan, menyoroti bukan hanya sekadar kesulitan akses terhadap bacaan berkualitas, melainkan membuka diskusi yang mendalam dan meresapi seluk-beluk tantangan literasi di tanah air.
Dengan gaya penceritaan yang mendetail, buku ini mengajak pembaca masuk ke dalam kompleksitas realitas literasi di Indonesia. Melalui cerita yang melibatkan karakter-karakter yang hidup, pembaca dihadapkan pada realitas sulitnya akses bukan hanya untuk memperoleh buku, tetapi juga bacaan berkualitas. Dimensi sosial yang dihadirkan ini bukanlah sekadar ilustrasi, melainkan pintu masuk ke dalam dunia nyata masyarakat. Pembaca diajak meresapi betapa tantangan literasi menjadi hambatan nyata dalam upaya pendidikan dan pengembangan masyarakat. Ini menciptakan dampak yang melampaui batasan sebuah cerita fiksi, merangkul kepedulian dan keinginan untuk membawa perubahan di dunia nyata.
Sayangnya, di tengah kekaguman saya terhadap Book Shamer, saya menemukan satu catatan kecil di halaman 151 yang menimbulkan kebingungan seputar perbedaan semester kuliah antara Amy dan Raynar. Apakah ini murni kesalahan ketik yang mengganggu mata saya ataukah ada nuansa pemahaman yang terlewatkan? Pada bagian tersebut, tertulis bahwa Amy masih berada di semester tiga sementara Raynar sudah melangkah ke semester tujuh. Seharusnya, menurut logika, bukankah ini mengindikasikan bahwa Raynar berada dua tahun di atas Amy, dan bukan hanya selisih satu tahun seperti yang terlihat? Kejanggalan ini memunculkan pertanyaan di benak saya, membingungkan antara fakta di halaman dan realitas semesta cerita yang dibangun oleh penulis.
Meski begitu, kebingungan seputar semester Amy dan Raynar hanya seperti satu bintang redup di langit yang gemerlapan. Keseluruhan, buku ini terbukti menggoda dengan kompleksitas permasalahan yang disajikan secara sederhana. Sebagai penantian panjang yang akhirnya terbayar, saya menikmati setiap halaman buku ini dengan antusias. Dengan penekanan mendalam pada isu literasi, Book Shamer bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak.
Penulis berhasil menanamkan refleksi mendalam, memotivasi pembaca untuk merenung, bahkan menginspirasi kontribusi nyata dalam meningkatkan tingkat literasi di tanah air. Terima kasih kepada Asmira Fhea atas karya yang membuka mata ini. Saya tak sabar untuk menemukan lagi keajaiban kata-kata Asmira Fhea di karya-karya berikutnya.
Book Shamer menceritakan Amy Dhriti, seorang booktuber, yang diserang netizen di twitter. Penyebabnya karena sebuah akun anonim atas nama @penulis_amatir memprovokasi videonya yang mengulas buruk sebuah buku antologi karya Komunitas Akar Cerita (KAC). Bahkan, Amy sampai dibilang telah melakukan book shaming karena ulasan jujurnya pada buku antologi tersebut.
Amy yang sedang mengikuti Versatile Books' Reviewer jelas takut reputasinya akan menjadi buruk dan dapat membuatnya tak dapat memenangkan lomba tersebut. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mendatangi KAC yang berlokasi di sebuah sekolah Bantargebang dan berusaha menyelidiki pelaku pemicu keributan tersebut.
***
Menemukan buku ini secara random di toko buku dan langsung membelinya setelah membaca blurb-nya. Hasilnya ternyata memuaskan dan sangat seru!
Ini pertama kalinya saya membaca buku karya Kak Asmira Fhea dan saya menikmati caranya bercerita. Ringan, sangat to the point, mengalir deras, dan alurnya tersusun rapi.
Buku ini sebetulnya mengingatkan saya dengan kondisi media sosial belakangan ini yang sering meributkan ulasan jujur dari seorang influencer kepada suatu hal. Dan, eksekusi topik tersebut di buku ini ditulis dengan baik karena menggunakan pandangan dari berbagai sisi--baik dari sisi sang influencer, sisi orang yang dikritik, dan netizen. Jadi, rasanya adil dan tidak berpihak pada sisi manapun.
Selain membahas berbagai macam hal tentang dunia literasi, buku ini juga memiliki banyak topik lain yang dibicarakan. Mulai dari kritik kepada sistem pendidikan di Indonesia yang belum merata, hubungan ortu dengan anak yang punya gagasan berbeda, hingga tak lupa sedikit unsur misteri tentang pelaku di balik permasalahan yang menimpa Amy. Semua topiknya punya porsi yang pas dan punya bab masing-masing sehingga tidak ada topik yang terasa bertumpuk.
Tokoh-tokoh di buku ini juga sangat beragam dan sebetulnya sifat-sifat mereka terasa realistis karena dapat mudah kita temui di sekeliling kita. Personally, saya suka dengan Puspa yang aura positifnya benar-benar terpancar. Juga, dengan Raynar yang dapat mengayomi KAC dan mengimbangi dirinya dengan Amy. Penokohan Amy sendiri juga menarik--ia memang tampak tegas dan mengintimidasi, tapi ia juga punya sisi rapuh di waktu-waktu tertentu.
Poin plus lainnya dari buku ini ada di bab-bab terakhirnya dan penyelesaian konfliknya. Saya sangat puas dengan penyelesaiannya dan hasilnya sepadan dengan perjuangan sang protagonis. Banyak juga momen-momen manis bertebaran di sini. Tak hanya momen manis karena sedikit selipan romansanya, tapi juga dari dinamika pertemanan Amy-Eddies. Keduanya yang awalnya hanya sebatas teman sekamar, dapat menjadi teman dekat karena permasalahan Amy. Rasanya mata dibuat ikut berkaca-kaca di bab-bab terakhirnya.
Karena buku ini, saya jadi ingin mengulik buku-buku Kak Asmira Fhea yang lain, deh.
Aku yakin temen-temen bookstagram di sini pada familiar dengan istilah-istilah booktuber, bookfluencer, dnf ataupun bookshaming kann? Di buku ini aku berasa ngalir aja bacanya gitu karena aku sendiri berkecimpung di area bookish-thingy ini😉
Berawal dari seorang booktuber dengan perjalanan membacanya yang dimulai sejak belia hingga mengantarkannya menjadi reviewer buku yang populer di jagat maya. Amy Dhriti namanya. Kala itu Amy sedang mengikuti sebuah kompetisi review buku, namun di saat sedang waktu-waktu penilaian, ia diterpa masalah yang membuat personal brandingnya rusak.
Masalah ini disebabkan oleh karena satu videonya yang mengulas sebuah buku dan ia tak segan mengatai penulisnya adalah penulis amatir. Ia segera saja ingin mengusut tuntas masalah yang bisa menyebabkan rusaknya reputasinya di depan dewan juri. Amy harus rela bolak balik ke sebuah tempat di Bantargebang untuk menemui seorang—sejumlah— orang untuk menyelesaikan permasalahan di antara mereka.
Premis cerita di buku ini sangat menarik dan belum pernah aku jumpai sebelumnya. Di dalamnya terdapat juga reading journey Amy yang dikelilingi keluarga yang mendukung hobinya untuk membaca. Awalnya, wah aku kira aku pengen nih keluarga yang seperti ini, yang mendukung seratus persen hobiku untuk membaca. Namun, setelah membalik beberapa halaman, rupanya hobi Amy ini, terkhusus pilihannya untuk membaca suatu genre buku, tidak didukung oleh sang orang tua. Banyak ucapan yang merujuk ke gaslighting yang banyaknya dilontarkan sang ibu mengenai pilihan bacaan dan terlebih juga pilihan jurusan kuliah Amy.
Ada banyak hal mengenai buku, yang dapat aku tangkap dari buku ini. Antara lain mengenai genre bacaan, terlebih lagi ada satu scene yang membuatku agak prihatin mengenai pilihan bacaan Lili—seorang anak di bawah umur— yang pilihan bacaannya cenderung vulgar, yang mana aku dapat menyimpulkan bahwa, membaca banyak bacaan itu sah-sah saja, it broadens your knowledge. Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan, yakni, bacalah bacaan yang sesuai kategori usiamu 🧐
Overall aku suka dengan alur cerita yang ditulis, yang nggak melulu tentang kehidupan influencer, kehidupan kuliah ataupun percintaan. The portion is just about right, a solid 4 stars for this book 💫
Amy Dhriti, seorang mahasiswi jurusan Sastra yang juga menjadi seorang booktuber disela-sela tugas kuliahnya. Amy sengaja berkarir sebagai booktuber bukan hanya karena memang passion nya sejak kecil, tapi juga ingin membuktikan kepada orang tuanya jika apa yang dipilihnya ini juga memiliki masa depan.
Sayangnya ditengah usahanya membangun karir yang mulai berkembang, ada saja tangan-tangan usil yang membuat namanya menjadi viral. Sayangnya bukan viral dalam arti yang positif. Mau tidak mau, Amy harus mencari tau siapa dalang yang membuat namanya jadi dibicarakan oleh banyak netizen.
Suka deh sama cerita Amy ini. Ceritanya ringan tapi ada banyak hal yang disajikan oleh penulisnya. Ada part gemes-gemesnya, ada tentang persahabatan, ada juga part tentang penyelidikan ala detektif, hubungan dengan orang tua, sahabat, rekan kerja pun juga ada.
Dapet kesempatan baca ini di ipusnas dan SUKA BANGETTTT!!! Beneran dehh aku baca ini sekali duduk langsung kelar, page turner bangett dan narasinya bikin enjoy selama baca.
Aku suka sama tema yang diangkat yaitu Bookfluencer, jujur baru nemu buku yg nyeritain tentang reviewer buku ditambah ada pembahasan tentang sosial dan pendidikan juga. Aku suka bangett sama Amyy 🥹🥹🫰🏻 dia beneran definisi cewek pinter yang wawasannya luas, dan aku paling kagum sama kemampuan public speaking dan cara dia menguasai diri kalo lagi panik, karena jujur aku tipe yg suka tbtb degdegan dan gemeter kalo ngomong di depan banyak orang, bagi tipsnya moyyyy hahaha OH IYA ada romance nya tipiisss banget setipis tisu tapi maniss pwolllll 🤭
Selama baca beneran campur aduk bangett, nangisnya juga lumayan banyak apalagi pas epilog wahh pecahh sihh itu 😭😭 orang tuanya amy nih sebenernya baikk dan tipe ortu pinter juga karena dari kecil anaknya udah dikasih makan buku, tapi di sisi lain caranya juga salah apalagi kalo lagi nasihatin anaknya karena terkesan memaksa, terus suka menjatuhkan hal2 yang disukai orang lain. Kebayang kalo aku jadi anaknya kayaknya bakal diomelin terus deh soalnya aku seringnya baca buku fiksi 😂😂
Overall bukunya bagus bangettt, nggak nyesel ikut antrian dan akhirnya dapet xixi
Asli sumpah sebel sama Amy. Gak bisa nyalahin sifat dia yang idealis terkesan tertutup juga karena didikannya begitu. Untungnya dia punya tekad dan ambisi yang setidaknya tidak merugikan orang lain, justru membantu orang lain. Dia beneran pinter. Untungnya juga KAC terbuka soal diskusi dan semacamnya dan bantu Amy buat tumbuh juga. Suka sama hasil yang berawal dari kegagalan ini. Terima kasih untuk penulisnya, Kak Asmira. Topik ini benar-benar jarang aku temuin dalam suatu buku.
Di awal tahun aku sempet mau buat review buku antologi terus baca prolog buku dan dan berujung mengurungkan niatku untuk upload reviewnya 😅. Akhirnya setelah baca ini jadi tenang.
Sempet kepo sama buku ini waktu scroll Gramedia, dan akhirnya memutuskan baca di Gramedia Digital. Bukan tipe buku yang aku suka, tapi idenya memang fresh. Sepanjang baca juga cukup smooth dan lumayan nyaman dibaca sampai akhir.
Bercerita tentang Amy, booksfluencer yang kena hate dan tuduhan bookshaming gara-gara review jelek sebuah buku antologi. Sepanjang cerita, 70% isinya fokus ke cerita Amy mencari si Penulis Amatir yang buat thread membenci dia di sosial media.
Ada romance-nya tipis, walaupun nggak begitu kuat chemistry-nya dan baru jelas kelihatan romance di bab akhir. Tapi nggak masalah, karena memang cuman bumbu dan bukan genre utama.
Lumayan menyenangkan untuk buku yang bukan tipe-tipe buku yang saya baca biasanya.
banyak pembelajaran yg bisa diambil dr ceritanya. utk buku yg kurang dari 300 halaman, eksekusi ceritanya cukup baik. isu sosial yg diambil jg bagus. perkembangan karakter tokoh utama jg oke. sisi manusiawi yg ditampilkan jg masuk akal. problem anak dan ortu yg disorot jg realistis. ttg Bookfluencer serta etika dlm membuat ulasan, juga pesan utk penulis ada dlm ceritanya. sentilan ttg kondisi sosial ekonomi, serta bacaan seseorang yg tak sesuai rating usia,ditulis dg baik. yg aku sayangkan hanya satu, mengapa pelaku yg sudah terungkap tdk ditampilkan sanksi apa saja yg ia dapat. meskipun rasa malu thd para member, aku berharap si pelaku dpt hukuman setimpal agar ia jera. rasanya kurang mantap kalau gk lihat hukuman yg pantas utk seseorang yg bersikap sembrono, iri hati sehingga membuat postingan tanpa memikirkan akibat kedepannya. ah, disini jg ada romance-nya... tapi tipisssss🤏👍
Low expectation banget baca ini ternyata bagus banget!!!
Tema yang diangkat unik dan jarang banget dibahas dari judulnya juga udah unik dan aku suka banget pembahasaan tentang dunia buku di buku ini semuanya realistis.
Karakter Amy dan anger issue-nya buat capek apalagi kalo dia udah jutek ke semua orang tapi bisa dimengerti karena gak pernah punya teman dan punya masalah dalam bersosialisasi, "villain" nya agak ketebak aku pikir bakal plot twist sampe aku ikut curiga ke semua karakter haha.
And finally i found another greenflag boyfriend! Raynar...the man that you are♥️ suka banget romance tipis dibuku ini tapi berbekas banget.
SERUUUUU, konfliknya mengalir ga bikin bosen. Penulisannya enak dibaca yg bikin aku ga bisa berenti baca. Ceritanya rada kaya detektif gituu soalnya mencari org di balik yg hate Amy. Aku suka bangettt sama interaksi Raynar dan Amy!!!!! Mereka bikin saltingg dgn interaksinya yg tipis". Review byknya nanti aja deh.
Wahhh aku suka bangettt buku ini, isinya benar2 daginggggg. Ga hanya membahas mengenai buku, penulis, serta pembaca malah lebih dari itu misalnya pendidikan, mental, dan pengaruh orang tua, benar2 mengajarkan banyak hal dan mengajarkan kita mengenai pendidikan di negeri kita ini masih sangat kurang, dan sepatutnya anak2 seperti lili itu kita berikan arahan karena jujur saja media sosial benar2 bahaya untuk anak kecil karena dari situ mereka bisa mengakses sesuatu yg tidak sesuai umur mereka, WORTH TO READDDD!! BTW biasaku kyungsoo kakk heheh👍👍👍👍👍
"Barulah ketika beranjak dewasa begini, aku tahu bahwasanya membeli buku asli bukan hanya soal kualitas, melainkan juga itikad menghargai."
Sebagai orang yang suka baca buku serta memberi ulasan pada buku yang sudah dibaca, buku ini langsung menarik perhatianku lewat blurbnya. Ada kalanya juga aku berpikir kalau aku sudah memberi ulasan yang jahat atau tidak enak hati pada buku yang dibaca, takut viral juga seperti yang dialami Amy. Menurutku, cerita ini punya alur yang cukup santai dan tidak terburu-buru, tidak ada plot hole pula. Namun, di awal buku aku sempat agak bosan, mungkin karena masih meraba-raba mau dibawa ke mana ceritanya.
Amy sebagai tokoh utama bisa dibilang jauh dari sempurna, tapi perkembangan tokohnya cukup baik. Aku juga suka buku ini secara tidak langsung mengkritik hal-hal yang terjadi di dunia nyata seperti pemerataan pendidikan yang kurang, kesulitan akses literasi, dan lain sebagainya. Walaupun demikian, buku ini tidak terlalu memberikan kesan yang luar biasa buatku.