Adinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantarjemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah.
Ryan "anak kereta" sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal.
Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.
Menaggapi review Ifnur di bawah : Sebelumnya terima kasih atas kritikan kamu, saya sangat menerimanya :) Semua kritikan kamu saya anggap sebagai motivasi untuk menulis lebih baik lagi. Ohya, untuk konsepnya memang sengaja dibuat seperti itu. Saya dan Mbak Gina S Noer dan juga Mbak Ninus, sengaja membuatnya berkonsep seperti omnibus. Jadi kisahnya memang berdiri sendiri sendiri. Sebuah karya memang dipandang dari perspektif masing-masing dan saya sangat menghargai pendapat kamu. Mungkin memang kurang bisa kamu tangkap konsepnya bagaimana. Aku memang suka tulisan-tulisan jadul dan sastra lama. Seperti kamu bebas berpendapat, saya pun bebas memilih bukan gaya tulisan yang saya pakai? :) Untuk hubungan Adinda dan Sasha sendiri, kebetulan saya punya sahabat di dunia nyata, dan hubungan kami sangat dekat seperti adinda dan sasha. Jadi saya terinspirasi dari sana. Salam kenal Ifnur, sekali lagi terima kasih.
Oke, itu kalimat pamungkas dari buku ini yang berhasil membuat saya klepek-klepek sendiri. Ga tahu ya, kok berasa romantis aja gitu, haha.
Akhir-akhir ini saya jarang baca buku. Sampai hampir lupa rasanya kalau kegiatan itu bisa semenyenangkan ini, *lebay mode on*.
Melihat sampul buku ini menimbulkan rasa "gatal pengen segera baca" kepada saya.
Sampulnya cakep. Dan unik juga. Semacam dua kover dengan gambar yang berbeda, tapi bila disatukan jadi nyambung.
Ceritanya juga begitu. Seperti caption yang tertulis di sampul buku, "dua kisah satu jalur". Ada cerita Adinda, dan juga cerita Ryan.
Adinda yang baru saja ditinggal putus pacarnya. Yang artinya juga dia kehilangan "tukang antar jemput" hariannya. Membuatnya terpaksa menggunakan kereta api untuk pulang pergi ke tempat kerjanya.
Ryan yang dari dulu memang sudah sering menjadi pelanggan setia kereta api. Yang masih jomblo setelah sekian lama. Karena memang belum ada yang bisa membuatnya jatuh cinta melebihi rasa cintanya kepada kegiatan melukisnya.
Tidak menyangka, ternyata menarik juga mengikuti bagaimana akhirnya kisah dua orang ini disatukan. Mengetahui bagaimana seseorang bisa jatuh cinta dengan orang lain. Dengan suasana stasiun kereta api yang menjadi latar belakangnya.
Kisahnya bitter sweet lah. Soalnya Ada beberapa bagian yang cukup membuat saya pengen nangis juga.
Selain kutipan di atas, sebenarnya ada banyak sekali kutipan lain yang saya dari buku ini. Tapi yang cukup berkesan adalah yang satu ini:
"Ya Tuhan, apakah hidup memang seberat ini bagi sebagian orang?"
(Stasiun, hlm. 102)
Membaca kutipan di atas, dan juga sebagian besar penggalan-penggalan kisah dari buku ini, membuat saya menjadi lebih bisa mensyukuri apa-apa yang sudah saya miliki saat ini.
Buku yang bagus, kisah yang manis, banyak mengandung pelajaran tentang kehidupan, dan 4 dari 5 bintang untuk Stasiun. Ya, saya suka sekali.
Ada dua orang, cewek dan cowok, yang dengan alasan masing-masing memilih kereta api sebagai sarana transportasi utama dari dan ke kantor. Mereka menyelami apa saja yang ditemukan di stasiun. Adinda dan Ryan. Ryan si jomblo yang masih tinggal bareng ibunya. Adinda yang masih saja patah hati karena ditinggalkan tunangannya. That’s it? Yup. Dari blurbnya, sih, gue memiliki ekspektasi kalau Adinda dan Ryan ini enggak sengaja ketemu di stasiun lalu terjalin chemistry, jatuh cinta sembari memperhatikan kehidupan di stasiun, that’s it. Gue langsung ngebayangin ala-ala Before Sunrise gitu, deh. Nyatanya? Gue enggak ngerti ini buku intinya apa. Oke, pointer-pointer aja, ya, biar cepat. 1. Buku ini konsepnya apa? novelkah? Well, gue enggak yakin ini novel karena alurnya enggak jelas dan timelinenya kabur. Udah gitu enggak ada interaksi antar kedua tokoh utama. Kedua tokoh saling berdiri sendiri, mengamati keadaan sekelilingnya sendiri-sendiri, punya kisah sendiri, that’s it. Gue ngerasa ini lebih cocok jadi kumpulan cerpen gitu karena memang setiap bab berdiri sendiri. Enggak ada kontinuitas antarbab. 2. Karakteristik enggak jelas. Ryan ini bekerja di bidang desain di perusahaan telekomunikasi. Pelukis juga. Punya studio juga, yang mengakomodir kebutuhan pelukis jalanan di Bogor. Wartawan juga. Wow, banyak banget, ya, waktunya si Ryan ini. Terus, dia bisa bikin studio padahal ngeluh aja gitu kalo banyak yang minjem duitnya tiap bulan, bahkan hampir setengah gajinya. Jadi orang, kok, ya kelewat baik gitu. Udah gitu tiba-tiba di bagian menjelang akhir ternyata si Ryan ini dulunya miskin. Duh, karakternya enggak jelas banget. Adinda juga. Sifatnya enggak jelas. Sebagai banker dan jam 7 masih tidur di Bogor sementara kantornya di Sudirman, baru berangkat jam 8 dari Bogor? Gue penasaran sama bank yang bebas banget gini waktunya. 3. No chemistry. Kalau memang ini cuma membahas pengalaman Adinda dan Ryan yang berdiri sendiri, it’s okay. Tapi, karena ini novel romance, jadi mereka bertemu. Mereka bertemu di halaman 121 dari 160 halaman. Wow. Sebelumnya ke mana aja? Udah gitu, langsung yakin udah jatuh cinta. Cepet banget dan enggak ada adegan yang bisa membangun chemistry. Oh my… Terhitung, dalam satu buku, ada kali Cuma tiga scene mereka berinteraksi. Itu pun cuma sekilas. Again, oh my… 4. Bahasa. Gue serasa baca salah asuhan. Seriously, bahasanya kesannya jadul gitu. Mungkin maksudnya biar berima gitu, kali, ya, tapi gue bacanya eneg. Trus ada yang bikin gue ngerasa ini novel angkatannya Marah Rusli banget. Di suatu pagi ketika Adinda ketemu pasangan suami istri yang udah tua. Okelah bahasanya Marah Rusli banget, ya, karena pasangan itu udah tua. Tapi, bahasa narasi Adinda dan Ryan yang mendayu-dayu bikin gue serasa dilempar ke era NH Dini dulu. trus juga percakapan Adinda dan Sasha, sahabatnya. Seumur-umur enggak pernah gue ketemu sahabatan yang deket banget kayak gini tapi ngomongnya resmi banget dan kesannya jadul gitu. Oh my… Kesannya jadi enggak real. 5. Terlepas dari semua hal gaje itu, gue cukup bisa menikmati suasana stasiunnya, juga obrolan yang enggak sengaja mereka dengar. Menyoroti isu sosial, sih. Cuma, ya, kalo dipikir-pikir hal ini bikin novel ini makin enggak jelas tujuannya apa. 6. Editan oke. Enough said. Well, untuk anak commuter kayak gue lumayanlah baca novel ini biar enggak suntuk di kereta. Tapi, enggak kayak Adinda, gue mah emoh ketagihan naik ekonomi, hahaha.
Yang membuat sebuah buku bisa jadi bagus itu, bukan cuma plotnya, bukan karena buku itu bercerita tentang sesuatu yang "ih wow", atau yang gimana. Bahkan sebuah cerita yang sederhana pun bisa jadi bagus, kalau ditulis dengan cara yang bagus.
Saya suka dengan latar tempatnya.Selama ini, saya muak dengan latar ruang bagi cerita cinta yang klise seperti restoran mewah, pinggiran kolam renang, puncak, pantai (oh plis kadang saya suka berharap dua pecinta di pinggir pantai itu mati keseret ombak), ataupun di hotel (oke, ini lebih ke skandal yah daripada cinta). Saya selalu membayangkan bagaimana kalau cinta diletakkan pada tempat-tempat seperti pasar, terminal, stasiun, atau tempat umum lain yang sibuk, dan voila, Cynthia menulis buku ini.
Tentang dua manusia sederhana, dua dari sekian banyak warga negara Indonesia, penduduk Jakarta-Bogor, pengguna KRL. Dua manusia biasa, tipikal manusia yang mudah kamu temukan di semua stasiun di Jakarta, tipikal manusia yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima nasib dan keadaan, lalu membicarakannya. Kisah cinta yang sederhana. Tidak ada dialog cinta lebay, tidak ada kegalauan yang akut, seperti kisah cinta yang kita alami secara natural, di dunia yang nyata. Tidak ada juga tokoh perempuan sempurna ala teenlit-teenlit yang membuat kita iri setengah mati, ataupun sosok lelaki idaman yang jago main basket lagi budiman dan tidak sombong (omigosh,mimpi ya mimpi tapi napak bumi juga bisa kali).Sebuah kesederhanaan yang manis. Seperti apa ya, setetes penyembuh yah buat pikiran banyak pembaca yang udah diracunin sama kegalauan akut yang dipresentasikan oleh tokoh-tokoh Mary Sue dan Gary Stu :').
Bintang lima untuk debutnya Cynthia Febrina. Karya pertama yang diterbitin, tapi keliatan anaknya punya bakat, ga fabricated kayak hmm taulah ya jenis fiksi apa yang sekarang banyak beredar di tokoh buku? Galau-galau ala selebtwit? Iyuh.
Stasiun mengambil sudut pandang dari kedua tokoh utama, Adinda dan Ryan. Masing-masing menceritakan pengalaman dan kesan mereka terhadap kegiatannya di stasiun. Adinda yang ogah-ogahan naek kereta sedangkan Ryan sudah mendapat predikat pengguna kereta sejati. Pertemuan mereka terjadi di suatu pagi di stasiun tersebut. Adinda dan Ryan tidak menyangka pertemuan itu bisa menjawab semua permasalahan mereka.
“Kalau lo naik kereta ekonomi, lo akan banyak belajar mengenai hidup, Din.” – halaman 2
Cerita Stasiun ini bisa dibilang maaaaaanis banget dan bikin sirik pengen naek kereta (keukeuh). Ceritanya mengalir, lugas dengan beberapa kosakata yang tidak biasa (buka KBBI dulu) dan tidak menggurui. Kadang saat aku membaca, aku seperti ada di stasiun Bogor (walaupun belum pernah kesana), duduk di dekat Adinda atau Ryan di suatu pagi dan mencuri dengar atau pandang ke dalam kehidupan mereka. Ada beberapa bab yang menjadi bagian kesukaan aku. Aku suka bab ‘PULIH’ dari Adinda (bagian suratnya itu looooh :’(), bab ‘BERBICARA KEMATIAN’ dari Ryan (‘saya ingin mati dalam bahagia’) dan tentunya bab ‘BUNGA RAMPAI RASA’. Untuk bab ‘BUNGA RAMPAI RASA’, aku gereget minta ampun. Please, just let they meet each other!
Meski aku bukan pengguna kereta api seperti Adinda-Ryan, aku kurang lebih mengerti bagaimana rasanya menggunakan kendaraan umum.
Di antara teman-teman dari jaman aku SMP sampai menjelang lulus kuliah seperti sekarang, aku masih setia menggunakan kendaraan umum, sebut saja angkot, bus kota, TransMusi. Jadi, aku paham betul gimana betenya gara-gara nyium bau ketek orang saat berdiri rame-rame di bus kota atau TransMusi, nungguin TransMusi sampai berjam-jam, sampai terjebak kemacetan parah sampai harus berdiri terkadang lebih dari satu jam.
Namun, penderitaan selama menggunakan kendaraan umum nggak membuatku kapok. Kalau pun aku bisa nyetir sendiri, aku lebih milih naik kendaraan umum. Kenapa? Karena dengan menggunakan kendaraan umum aku bisa bertemu orang banyak. Meski aku nggak kenal mereka, melihat wajah yang sama hampir setiap hari selalu bisa membuat diriku merasa lebih baik. Ini bukan melebih-lebihkan lho. Aku memang merasa begitu. Dan kalau naik kendaraan pribadi, entah kenapa rasanya ada yang hilang. Aku juga merasa kesepian, sumpah! :')
Aku suka buku ini karena aku merasa terhubung. Tahukah kalian? Naik kendaraan umum itu selalu bikin kita punya banyak cerita, lho. Kita bisa mencuri kisah orang lain di sana.
Ceritaku? Lebih sering ketemu yang konyol daripada mengharukan seperti yang tertulis di buku ini. Contohnya saja, saat aku naik TransMusi, ada cewek yang dengerin musik dari earphone. Memang kelihatannya biasa saja, tapi kemudian cewek itu nyanyi keras-keras, seolah nggak ada orang lain di TransMusi selain dia. Tentu aja penumpang lain heran ngelihat dia, ada yang nahan ketawa juga, termasuk aku. xD
Cerita lain lagi saat kebetulan ketemu orang asing yang sama. Aku dan teman-temanku pernah ketemu cowok satu ini di kantin. Mejanya ada di belakang meja kami saat itu. Bukannya sibuk makan atau ngobrol seperti yang lain, cowok satu itu malah sibuk ngegambar sketsa sambil dengerin musik, seakan punya dunia sendiri. Aku dan teman-temanku pun seketika ngefans sama dia karena unik. Dan setelah itu, aku ketemu dia dua kali. Sekali di jalan keluar kampus. Sekalinya lagi ya di TransMusi, kebetulan duduk depan-depanan. #ciyeeee xD Sekarang belum ketemu lagi sih, entah kabarnya gimana.. :v
See? Asyik kan ya, naik kendaraan umum itu? Nggak, inti dari kisah ini bukan "Ayo naik bis biar nggak macet!", yah.. itu juga sih, tapi intinya aku cuman mau bilang jangan pandang kendaraan umum dengan sebelah mata, karena siapa tahu kamu bisa dapat sebuah kisah dari sana, atau malah belahan jiwamu? :p
Tiga bintang untuk Stasiun yang berhasil membuatku tersenyum dan berharap mungkin belahan hatiku bisa muncul kapan saja di sana.
Ketika saya rehat sejenak dari dua bab pertama novel ini kemudian mengupdate di goodreads, saya sempat nggak percaya kalau ternyata ratingnya cukup jelek, saya membaca review teman rata-rata memberikan rating satu dan dua bintang, padahal saya cukup menikmati di awal cerita. Ini apa mood saya yang lagi baik hati atau selera saya yang mulai aneh? Entah lah, pandangan orang beda-beda, tergantung cara melihatnya darimana.Yang membuat saya menyukai buku ini adalah konsep ceritanya, menurut saya cukup unik dan keren dengan premis utama stasiun melingkupi apa saja yang ada di sekitarnya.
Ada dua tokoh utama, Adinda dan Ryan, mereka adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Adinda dengan terpaksa beralih menggunakan kereta sebagai transportasi utama karena tidak ada lagi yang mengantar jemput. Adinda patah hati dengan Rangga, pacarnya yang sudah lima tahun ini menjalin hubungan bahkan akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Sekarang, setiap hari Adinda menjadi pelanggan Commuter Line. Sedangkan Ryan hampir sepanjang usianya di habiskan di stasiun, dia laki-laki yang santai, seorang seniman yang selalu menggunakan kereta ekonomi sebagai transportasi sehari-hari. Kesamaan keduanya adalah mereka sama-sama mempunyai destinasi Bogor-Jakarta.
Dengan kacamata masing-masing, mereka menemukan realita kehidupan yang terjadi baik di stasiun maupun sekitarnya. Adinda yang cenderung manja, egois, menganggap remeh kereta ekonomi lama kelamaan dia menyadari ada hal yang bisa menjadi pelajaran hidup dari orang-orang yang bergantung pada transportasi yang terkenal semrawut itu. Pun dengan Ryan, dia supel, kenal banyak orang, pedagang-pedagang di kios dekat stasiun akrab dengannya, lewat mereka, dia menginggat perjuangan yang sudah dia lakukan.
"Terkadang lebih baik menyalahkan orang lain ketimbang menerima diri kita sendiri yang menjadi penyebab setiap kesedihan."
"Buku lama itu ibarat baju bekas di pasar. Dipandang sebelah mata. Orang akan lebih senang beli buku mahal ketimbang buku usang."
Banyak yang menanyakan ini omnibook atau novel sih? Saya pun nggak bisa memastikan juga. Kalau di lihat dari cerpen, yang menjadi favorit adalah bab yang berjudul; "Herman...", kita bisa melihat seseorang yang bisa mencintai sangat dalam, sampai-sampai membuat hilang akal; Pagi Bersama Pak Ustad, dari luarnya saja bersahaja tetapi dalamnya siapa tahu? Buku-Buku Usang Pak Rudy, lebih memilih menjual buku usang yang tidak menghasilkan daripada menjual buku bajakan, yang ingin buku sastra diapresiasi. Kereta Ekonomi, seorang anak yang sangat sayang kepada ibunya dan rela membantu mencari nafkah. Berbicara Kematian, lakukanlah hal yang membuatmu bahagia, sebelum terlambat. Pesan moral di bab-bab tersebut cukup menyentuh.
Saya setuju beberapa kritik yang dilontarkan untuk novel ini, misalnya saja tidak konsisten-nya pekerjaan Ryan. Oke, dia punya banyak pekerjaan, trus kenapa? Sebagai seniman, wartawan, pekerja kantoran, waktu kecil pernah menjadi penyemir sepatu, penagih hutang, punya studio lukis, katanya penggemar kereta ekonomi kelas berat tapi kenapa punya mobil? Melihat banyaknya pekerjaan Ryan nggak mustahil juga sih dia bisa punya mobil. Hampir setiap bab profesi Ryan berganti. Bagi saya itu terlalu berlebihan, Ryan seorang seniman yang punya sifat serampangan, berambut gondrong, kayaknya kok agak janggal dengan semua kerja rodi yang dia lakukan, bisanya kan mereka asal-asalan. Sebenarnya satu pekerjaan saja sudah cukup kok, nggak perlu berlih kemana-mana untuk mendukung cerita yang sedang diangkat. Cover buku ini, bukannya jelek, bagus banget malah, ditambah pembatas-nya yang unyu, hanya saja nggak tepat untuk karakter tokoh utama. Ryan gondrong, tampilannya khas seorang seniman, bukannya berambut cepak dan berpakaian rapi. Adinda kesannya juga kayak ibu-ibu.
Terakhir adalah apa sih hubungannya Adinda dan Ryan? Memang bagian akhirnya mereka bertemu terlalu lama, di bab-bab terakhir, ketika sampai pada bagian tersebut malah terlalu cepat alurnya. Seperti yang saya bilang di awal tadi, saya menyukai konsep cerita ini, saya pun cukup menikmati gaya bahasa yang penulis pakai, agak formal di narasi tapi santai di dialog. Sayangnya, penulis membuat cerita seakan berdiri sendiri dan memaksa mempunyai benang merah di akhir cerita, yang menyebabkan pembaca bingung ini omnibook atau novel? Konsep cerita ini adalah memandang realita kehidupan yang ada di stasiun lewat kacamata dua orang yang berbeda. Andai saja setiap bab mempunyai benang merah, tidak hanya stasiun tetapi ada bagian yang menghubungkan Adinda dan Ryan, misalnya saja waktu bab pertama, Adinda melihat seorang perempuan yang setiap hari menunggu suaminya di stasiun, di sisi yang lain Ryan juga melihat perempuan tersebut. Saya yakin akan jauh lebih bagus dan singkron sehingga kesannya tidak berdiri sendiri. Pada bab Bunga Rampai Rasa penulis sudah mengunakan teknik seperti ini, loh, tapi kenapa baru di akhir cerita? Dampaknya adalah tidak ada chemistry antara Adinda dan Ryan. Itu saja sih yang menurut saya paling mengganggu.
Untuk karakter favorit, saya malah lebih suka Sasha, dia pengertian dan punya tenggang rasa yang besar, agak mirip dengan Ryan tapi versi cewek, minus tampilan yang asal-asalan. Berbeda dengan Adinda yang kalau tidak mendapatkan tempat duduk saja kesal setengah mati. Tapi saya suka dengan perkembangan karakternya, dia bisa belajar dari keseharian yang dia dapatkan dari mencoba kereta ekonomi, bertemu orang-orang yang menyadarkan dia pentingnya tolong menolong dan mengalah kepada yang lebih membutuhkan., misalnya saja memberikan tempat duduk kepada wanita tua dan yang sedang hamil :p
Saya berharap untuk buku selanjutnya lebih baik lagi, walau buku pertama banyak kekurangan saya yakin modal yang penulis punya bisa menghasilkan karya yang bisa dikenang oleh pembaca, seperti beberapa cerpen bab yang saya suka di buku ini, cukup membekas :D.
Bagi yang ingin mendapatkan cerita yang berhubungan dengan stasiun dan lika liku kehidupan di sekitarnya, baca deh buku ini.
Saya sangat menikmati buku ini terlepas apa kata orang lain. Settingnya sederhana, hampir semua dilakukan di stasiun (ya iya lihat saja judulnya).
Walaupun intinya bagaimana akhirnya Adinda bisa bertemu Ryan, tapi banyak sekali yang bisa saya nikmati dalam proses tersebut tanpa alur yang terlalu lambat atau bertele-tele. Kehidupan stasiun yang saya tidak pernah tahu (maklum, saya pejuang damri lebih tepatnya) bahwa ternyata selama ini ada begitu banyak hal yang terjadi di dalamnya. Bagaimana kereta ekonomi ternyata menentukan banyak nasib. Narasinya ringan dan mengalir, menceritakan kehidupan yang bergantung dan berputar di sekitar stasiun dan kereta. Saya dapat membacanya dalam sekali duduk tanpa bosan berhenti di tengah jalan.
Karakter di dalamnya pun berkembang dan belajar. Adinda yang awalnya sangsi dengan kereta ekonomi, menjadi lebih terbuka dan belajar dari sekitarnya. Percaya atau tidak, setelah dulu membaca buku ini, saya menjadi mulai aware memperhatikan sekitar ketika harus naik bus trans. Apa kira-kira cerita yang ada di balik tiap penumpang? Saya mulai menikmati hal-hal kecil yang terjadi selama saya harus terdesak dalam bus trans.
4 bintang untuk buku yang mengajarkan saya untuk selalu melihat tidak hanya ke depan. Tapi juga ke semua arah lainnya.
Plot cerita ini sangat sederhana; Adinda dan Ryan, "anak-anak kereta" Bogor-Jakarta, yang saling bertemu.
Dimulai dari sudut pandang Adinda, ketika dia berada di stasiun bersama sahabatnya, Sasha. Perlahan-lahan diceritakan bagaimana Adinda menjadi "anak kereta". Bagaimana putusnya hubungan dia dan pacarnya membuatnya masih terbayang hingga saat itu. Bagaimana dia yang terbiasa pulang-pergi ke kantor diantar jemput oleh (mantan) pacarnya, harus menumpang kereta agar bisa sampai ke kantor. Dan bagaimana berbedanya dia dengan Sasha, meskipun mereka bersahabat.
Sasha sangat peduli dengan orang sekitar, sementara Adinda memilih untuk tidak acuh. Sasha lebih suka naik kereta ekonomi, sementara Adinda setiap hari menaiki Commuter Line karena tidak suka berdesakan.
Lalu di bab selanjutnya ada Ryan, mengawali hari dengan celotehan Ibunya yang menyuruhnya untuk mencari istri agar ada yang mengurus, terlebih karena Ibu sudah ingin--apa lagi--menimang cucu. Ryan bersahabat dengan Pak Rudy, penjual buku bekas di stasiun, dan Pak Eko, penjual koran.
Setiap bab memiliki narator yang bergantian, antara Adinda dan Ryan. Malah, di satu bab mereka saling bergiliran untuk bercerita.
Oke... yang saya suka dulu saja, ya. Pertama-tama, saya suka ide ceritanya. Sederhana, tidak begitu ribet. Pas dengan bukunya yang tipis.
Kedua, di beberapa halaman terakhir sempat terjadi adegan yang membuat saya senyum-senyum sendiri dan gemas ke pada kedua narator kita. Ini perkembangan, setelah sebelumnya saya merasa bosan (yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah).
Yang saya gak sukanya...
Pertama, ini omnibook, ya? Kenapa tidak ada label omnibook di sampul depan? Saya tidak memiliki masalah dengan omnibook atau kumpulan cerpen, tapi saya merasa buku ini bisa lebih baik jika berbentuk novel; dengan karakteristik yang berkembang dan alur yang jelas.
Kedua, isu sosial yang banyak diangkat di buku ini... oke. Kebanyakan penulis hanya berfokus ke pada cinta dan chemistry antara dua tokoh utama. Tapi, jadinya terkesan dipaksakan dan malah menggurui pembaca. Seakan-akan isu sosial itu diambil hanya karena penulis tidak tahu mau menulis apa lagi.
Ketiga, saya sangat setuju dengan review ini, tentang tidak ada chemistry di antara Adinda dan Ryan. Baru berapa kali bertemu, kok cepat sekali Adinda move on dari mantannya? Bukannya baru beberapa hari yang lalu dia masih mikirin ya? Karakteristiknya juga tidak jelas. Adegan-adegan flashback yang seharusnya bisa menunjukkan pembaca tentang siapa tokoh-tokoh itu sebenarnya malah membuat karakter mereka semakin tidak jelas dan dipaksakan...
Mau dibilang kecewa, tidak juga. Karena saya tidak banyak berharap, ketika melihat buku ini di Togamas dengan harga cukup terjangkau, saya langsung membelinya karena siapa tahu bisa langsung selesai dalam waktu sehari, buku ini kan cukup tipis.
Tapi buku ini juga sebenarnya berpotensi untuk menjadi lebih bagus; omnibook yang sebenarnya bisa menjadi novel, karakteristik, dan alur.
Semoga saja buku penulis selanjutnya bisa lebih baik.
Diantara sekian banyak buku yang terpajang di toko buku, judul Stasiun sangat menarik buat saya. Kenapa? Karena stasiun dekat dengan rutinitas saya sehari-hari sebagai pengguna CommuterLine. Ketika membaca sinopsis di sampul belakang pun saya dibuat semakin jatuh hati karena pengalaman Adinda dan Ryan tampak manusiawi bagi kami; Anak Kereta -- AnKer.
Tetapi, jangan terlalu berharap bahwa kisah Adinda dan Ryan akan dirangkai romantis di buku ini. Walaupun dimasukkan dalam kategori novel, tetapi menurut saya belum bisa digolongkan sebagai novel bergenre romance. Sepemahaman saya novel bergenre romance biasanya akan berfokus pada tokoh pria dan wanita, kemudian menceritakan bagaimana perjalanan kisah cinta mereka secara rinci, misalnya mulai dari bertemu, berkonflik sampai akhir dari hubungan itu sendiri. Hal yang semacam itu tidak ada di novel ini.
Belakangan saya tahu bahwa penulisnya memang sengaja menulisnya dalam bentuk omnibus, dimana setiap bab dalam buku tersebut sebenarnya bisa dibaca secara terpisah. Saya bukan ahli sastra dan maaf, sudah lupa pelajaran Bahasa Indonesia, jadi saya tidak tahu persis definisi omnibus. Yang saya pahami, omnibus bisa disebut juga kumpulan cerita pendek dengan satu tema yang sama, atau satu penulis yang sama, atau satu tokoh yang sama, atau satu latar yang sama. Beberapa orang biasa menyebut omnibus dengan antologi. Kenapa tidak ada keterangan mengenai omnibus atau antologi di sampul buku, saya kurang tahu dan tidak tahu, "Apakah harus?" Setahu saya beberapa omnibook lainnya juga tidak menuliskan itu di sampul bukunya.
Balik ke Stasiun. Tokohnya ada dua orang: Adinda dan Ryan. Latarnya ada satu: Stasiun Bogor. Tema utamanya, menurut saya, adalah menangkap potret kehidupan di stasiun dan kereta yang seringkali terlewatkan dan tidak terpikirkan bahkan oleh saya yang pengguna kereta. Setiap bab berkesan buat saya karena mewakili apa yang saya lihat, dengar, alami dan kadang-kadang renungi ketika saya berkereta. Cynthia Febrina menuliskan dengan sangat baik bagaimana kita seharusnya berempati dengan sesama. Dia memberikan bacaan yang berbeda di tengah menjamurnya (maaf) buku bergenre romance yang ceritanya hanya itu-itu saja. Sebagai pengguna CommuterLine (atau dulu beberapa kali KRL Ekonomi) saya paham betul apa yang ingin disampaikan si penulis. Walaupun beberapa bagian akan terasa 'masa lalu' karena peraturan tarif CommuterLine sekarang sudah berubah dan KRL Ekonomi sudah dihapus.
Buat yang tidak tahu atau belum pernah merasakan naik kereta commuter di wilayah Jabodetabek, coba intip foto-foto yang diposting penulisnya DISINI. Itu membantu untuk membayangkan dan memahami situasi yang ingin digambarkan si penulis.
Saya sarankan kamu membaca buku ini kalau ingin mendapatkan bacaan dengan tema berbeda, terutama kamu yang ingin kembali mengasah empati yang sudah mulai tumpul. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini.
Terakhir, saya berharap Cynthia akan melanjutkan kisah Adinda dan Ryan menjadi full romance novel ^_^
Buku ini sudah membuat saya tertarik beberapa kali di toko buku dan akhirnya saya pun membeli buku ini pada bulan Agustus berbekal THR yang saya dapat dari keluarga. Saya tertarik dengan covernya yang menarik. Selain itu saya merasa bahwa cerita ini terasa lebih akrab oleh saya karena saya pribadi pun pernah mengalami perjalanan menggunakan kereta ekonomi dan Commuter Line.
Buku ini mengambil sudut pandang orang pertama namun dalam kacamata dua orang tokoh utama yakni Adinda dan Ryan. Keduanya punya latar belakang yang berbeda. Adinda adalah pendatang baru dalam “Survival di dunia perkeretaan” sedangkan Ryan adalah “anak kereta” sejati.
Adinda orang yang kesulitan menikmati perjuangan yang harus dia lakukan setiap hari untuk ke kantor menggunakan kereta. Ia lebih suka menggunakan Commuter Line daripada kereta ekonomi. Ia tidak tahan jika harus menghadapi suasana di kereta ekonomi yang penuh sesak dan dengan berbagai semerbak bau-bauan yang menyeruak di dalamnya. Apalagi kegiatan naik kereta ini baru sebulan dia jalani karena tidak ada lagi Rangga yang mengantar jemputnya setiap hari. Rangga adalah mantan pacar sekaligus mantan tunangannya. Kondisi ini jelas semakin memberatkan Adinda untuk menikmati setiap fragmen yang terjadi di depan matanya saat berada di stasiun ataupun kereta.
Berbeda dengan Adinda, Ryan sudah bertahun-tahun menggunakan kereta. Ia bahkan sudah akrab dengan stasiun kereta Bogor sejak ia kecil. Kita akan tahu bahwa cerita hidup Ryan tidak bisa dari dilepaskan dari stasiun dan kereta api. Salah satu kisah pilu hidupnya pun berlatarkan stasiun Bogor. Ryan pun sudah kenal akrab dengan sejumlah orang yang mencari penghidupan di sekitar stasiun tersebut. Hingga suatu hari salah satu orang yang ia kenal dan sudah akrab bak sahabat berpulang. Dan sebelum meninggal orang tersebut memintanya mengejar kebahagiaannya. Ini mungkin ada hubungannya dengan status jomblo yang sudah lama ia sandang. Padahal di usianya sudah banyak teman-teman yang sudah menikah dan punya momongan, sedangkan ia punya pacara saja tidak.
Kehidupan kedua orang ini bertemu di stasiun Bogor. Bertemu dengan tidak sengaja atau bahkan pertemuan keduanya sudah di atur oleh Tuhan di waktu yang tepat. Lantas akankah Ryan akan menjadi pengobat kekecewaan Adinda atas cintanya yang kandas?
Jujur buku ini menurut saya sangat menarik. Ada banyak fragmen kehidupan yang disajikan dengan sangat real dan bahkan mungkin saja pernah kita alami. Latar tempat dan suasananya yang sangat “membumi” pun membuat novel ini semakin enak dibaca. Jempol buat penulisnya.
Kalau harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya akan memberinya nilai 8. Karena ceritanya yang saya sukai, cover dan pembatas bukunya pun unik (^_^)v
Sebenarnya, novel ini sudah lama saya beli. Kurang-lebih... sejak awal tahun lalu. Halamannya pun tidak banyak - hanya 188 lembar, terhitung tipis, bukan? Tapi entah mengapa, sulit sekali untuk menyelesaikannya sampai chapter terakhir. Pernah sekali saya membaca sepertiga, lalu novel ini terlupakan, tergeser novel lainnya. Beberapa bulan kemudian, saya coba lagi, kali ini mulai lagi dari awal karena saya sudah lupa dengan ceritanya, baru setengah dibaca lalu terlupakan lagi. Ketika akhirnya saya berhasil menyelesaikannya hari ini, itu karena saya bertekad untuk mereview-nya. Saya juga tak mengerti kenapa novel ini bisa begitu terbengkalai. Bukan novel ini jelek. Ada banyak novel jelek lainnya yang lebih mengiris hati daripada ini. Jelas ada sesuatu yang membuat saya begitu tertarik untuk membacanya (itulah mengapa saya beli), tapi entah mengapa ada juga yang membuat saya begitu sulit untuk menikmati novel ini secara keseluruhan. Setelah saya berpikir lagi, akhirnya saya menyimpulkan bahwa kekurangan terbesar novel ini ada pada gaya bercerita yang terasa kurang fokus. Beberapa kali penonton disuguhkan ide A, tapi saat ide A itu belum cukup tertanam, maksud dan tujuannya belum benar-benar diresapi, pembaca sudah buru2 diarahkan ke ide B. Saya juga menemukan bagian dimana penulis sudah menyatakan fakta C, namun ternyata di akhir chapter penulis menganulir fakta C tersebut. Saya rasa mungkin ini kesalahan dalam proses editing saja, sehingga ada logika yang hilang karenanya. Novel ini menggunakan sudut pandang pertama dengan main character yang berganti-ganti tiap chapter, yaitu antara Adinda (Aku) dan Ryan (Saya). Sebenarnya tidak ada masalah, tapi di akhir chapter ada bagian dimana fokus bertukar2 antara Ryan dan Adinda dengan cukup ekstrim (di bab 'Pertemuan'). Situasi antara Ryan dan Adinda yang harusnya terasa syahdu jadi sedikit terganggu. Meskipun begitu, penulisnya memiliki diksi yang baik dan enak dibaca. Saya juga merasakan niat baik dan pesan moral yang sangat kental dari novel ini. Ceritanya banyak menyorot kehidupan nyata yang banyak diceritakan dengan gaya kontradiktif dan ironi yang menarik. Contohnya (spoiler sedikit) tentang guru SMP Adinda yang dulunya pernah menyarankan Adinda untuk tidak muluk2 bermimpi, hati2 nanti bisa jadi gila - tapi ternyata bertahun2 kemudian Adinda menemukan gurunya tersebut menjadi gila dan luntang-lantung di stasiun. Saya juga suka sekali karena penulis menggambarkan situasi stasiun dengan sangat detail. Sangat menyenangkan saat tahu judul 'stasiun' dan illustrasi yang digunakan bukan hanya hiasan, tapi benar2 mewakili tema :)
Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review
Ini karya pertama tapi buku kedua yang gue baca dari cynthia. Sebenernya mau gue kasih satu bintang tapi keuntungan dari ini buku adalah covernya yang plotpoint bgt alias menarik, ditambah diawal baca gw ngerasa nyaman dan semangat baca tapi di tengah cerita entah kenapa lost feeling buat ngelanjutin baca jdnya gue paksain sampai selesai dan ngelap keringet. Diceritain kalo didalam buku ini ada 2 tokoh yaitu Ryan yang ank kereta sehari yang kerjaannya sebenrnya apa trus dideskripsikan gondrong tp di cover rambutnya pendek trus dia punya mobil pas jemput temennya tapi di akhir cerita mau ke statsiun pake angkot trus yang Katanya udah lama tinggal di bogor tapi gak bisa ngomong sunda trus diceritain latar belakang kehidupannya dari miskin ampe skrng punya studio nah dia itu bisa bangkit dari kubur eh keterpurukan ekonomi gimana caranya?padahal awalnya tajir dan melarat ampe jd tukang semir itu gimana ceritanya? Kumaha atuh kumaha? *drama Trus .... Skrng adinda, karakter cewek uang menurut gue membingungkan semembingungkan pekerjaan siryan dan tetekbengeknya, adinda ini kerjanya sudirman apa kuningan? Gak singkron diawal ama di belakang cerita. Putus sama rangga cuman karena cinta pertamanya padahal dah pacaran Lima tahun. Hello dinda kemana aja?. Secara keseluruhan yang membuat buku ini kayak dibaca adalah bahwa disetiap akhir bab cerita ada kesan dan pesan tersendiri semacam penghayatan dari tiap bab cerita yang menurut gue bagus bgt di tempatkan diakhir. Akan lebih baik jika cerita disusun berdasarkan bagian siarakter jangan dicampur karena pembaca akan sangat kebingungan membagi imaginasi mereka ditambah karakternya kurang hidup. Gue malah seneng sama karakter sasha yang punya sense of humanity diawal cerita. Mungkin Cara sipengarang buat menuliskan inti cerita kurang dipahami oleh pembaca soalnya cerita memfokuskan masalah-masalah Ryan ma adinda sebelum ketemu diakhir cerita dan itu terkesan DIPAKSAKAN, dan ceritapun berakhir. Kali bagaimana hub Ryan dan adinda ??? Sudahlah gue kepanjangan reviewnya.. Haha .. bye
Stasiun memiliki cerita yang menarik karena mencoba menyorot tema yang berbeda dari novel fiksi kebanyakan namun sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gaya penceritaan dan penggambaran terhadap setting yang real, lugas, dan menarik, membuat saya ingin terus membaca pengalaman yang kedua tokoh alami, Adinda dan Ryan, di stasiun. Saya secara pribadi tidak memiliki masalah dengan konsep omnibook (kumpulan cerita) yang digunakan oleh penulis.
Poin yang menurut saya mengecewakan adalah hubungan Adinda dan Ryan yang kurang tergali dengan baik. Momen pertemuan mereka menurut saya sudah pas (walaupun agak disayangkan baru terjadi pada saat novel akan berakhir), namun perkembangan hubungan mereka hingga akhir novel terasa sangat diburu-buru, seakan-akan dibuat seperti itu karena penulis terlalu fokus dengan pengalaman individual masing-masing tokoh di stasiun sehingga hubungan keduanya menjadi terabaikan, dan penulis baru 'ingat' saat novel akan berakhir. Padahal saya sangat menantikan perkembangan hubungan Adinda dan Ryan sedetil pengalaman individual mereka di stasiun.
Hal lain yang agak saya sayangkan adalah adegan-adegan flashback yang menurut saya justru agak mengaburkan kejelasan saya dalam membaca Stasiun. Padahal, seharusnya flashback ada untuk semakin memperkuat kejelasan pembaca mengenai tokoh dalam novel yang bersangkutan.
Walaupun begitu, saya tetap menyukai Stasiun, karena Stasiun mampu memberikan pembaca hal yang berbeda, unik, dan fresh, dibandingkan dengan novel-novel fiksi lainnya.
Kisah mengenai 2 anak manusia (cie) yang sebagian waktu hidupnya habis di stasiun dan kereta api. Adinda, semenjak putus dengan Rangga harus menjadi anak kereta seperti Sasha, sahabatnya. Padahal Adinda malas sekali dengan kereta api di Indonesia ini, apalagi kereta ekonomi yang tidak ada AC-nya, (mungkin) banyak tukang copet, berbau tidak sedap, kotor, dan sebagainya. Jadi demi menghindari kereta api kelas ekonomi, Adinda lebih memilih naik kereta Commuter Line yang harganya lebih mahal. Di sisi lain, Ryan adalah anak kereta sejati. Ryan punya banyak kenalan di stasiun Bogor, mulai dari tukang koran, tukang jualan buku bekas, sampai pak ustadz yang ia temui beberapa kali di dalam kereta ekonomi. Ibunya sudah beberapa kali mendesak Ryan mencari pasangan hidup, namun Ryan hanya menjawab santai pada Ibunya. Masa lalu Ryan membuatnya tekun dan rajin bekerja demi menghidupi dirinya dan Ibunya.
Suatu kejadian mempertemukan Adinda dan Ryan di stasiun Bogor yang penuh sesak, mulai hanya dari saling menatap sampai akhirnya saling berebut tiket kereta api :p
Novel ini sebagian besar mengangkat kehidupan sehari-hari di Stasiun Bogor. Saya sendiri baru sekali-dua kali ke stasiun dan naik kereta api. Ya sebenarnya romansa antara Ryan dan Adinda tidak begitu diangkat di kisah ini, namun dari kisah ini kita bisa melihat kejadian nyata yang terkadang menarik, menyebalkan, menyedihkan, menguras hati, dan sebagainya di stasiun kereta api dan seperti yang Adinda alami sendiri, di dalam kereta api kelas ekonomi.
Ini kisah tentang dua orang yang hidupnya saling bersisian di stasiun kereta dan dipertemukan pada suatu waktu. Penggambaran penulis tentang stasiun terasa nyata. Seolah aku juga berada disana menyaksikan kisah Adinda dan Ryan sembari makan roti cane yang dijajakan berkeliling. Aku selalu menyukai cara bercerita dari sudut pandang si cewek dan si cowok. Novel ini pun mengambil konsep seperti itu, tapi sayangnya aku gak menemukan adanya perbedaan apakah ini si cowok atau si cewek yang bercerita. Aku merasa kalau yang bercerita satu orang, hanya saja, si satu orang ini kadang menggunakan 'aku' kadang menggunakan 'saya'. Alurnya yang semakin mendekati akhir semakin cepat, membuatku sesak napas. Aku seperti dipaksa ikutan berlari mengiringi kisah mereka.
"Buku lama itu ibarat baju bekas di pasar. Dipandang sebelah mata. Orang akan lebih senang beli buku mahal ketimbang buku usang" (hal. 60)
Kalimat ini sedikit membuatku mengernyit.. ini si penulisnya belum kenal sama geng pemburu buku buluk kali yah? yang kalo ketemu buku buluk senengnya bukan kepalang. Justru saat ini, buku lama itu harganya lebih mahal daripada buku baru.
Secara keseluruhan, aku suka ceritanya. Aku kasih 3 dari 5 bintang. Beruntungnya Adinda bisa bertemu jodohnya.. #ehcurcol *ngiri*
aaaah suka sekali! :) kagum juga sama penulisnya ternyata masih muda, semoga bisa menyusul seperti kakak yang nulis novel ini :D
suka banget sama penuturan katanya, nggak bikin jemu, nggak terlalu menye-menye, dan ada beberapa kosakata yang sempat lupa dalam ingatan, kemudian diingatkan lagi oleh buku ini, bahwa artinya demikian dalam.
dari segi plot, saya suka. mengapa? karena tidak hanya unsur roman saja yang tampak, tapi latarnya sendiri memberikan sihir tersendiri bagi saya, bahwa sang penulis juga menulis sisi sosial yang kadang orang awam acuh-acuh saja.
saya cukup sering untuk berpergian kesana-kemari menggunakan kereta. jadi saya mengerti sekali rasanya seperti apa, ah jadi ingin berdiam diri lagi di stasiun.
unik banget deh bisa nuturin sedemikian bagusnya walau hanya satu plot! keren! aku suka sekali! hidup stasiun!
Awalnya tergoda buat ngebeli buku ini karena cover depannya yang lucu banget dan juga agak tergoda sama judulnya, ya memang baru baru ini nyoba naik kereta. Sebenernya rada bikin emosi buat nunggu kapan ryan dan adinda bertemu. sedikit kurang puas dengan ending yang sedikit menggantung tapi memang buku ini bukan memfokuskan tentang adinda dan ryan. Penulis dengan cemerlangnya seolah - olah ingin mendeskripsikan kehidupan kecil di sebuah stasiun kereta api yang mungkin gak pernah kita pikirkan. Banyak bagian dari novel ini yang saya beri stabilo, ahhh saya jatuh cinta dengan kata kata yang disuguhkan. Saya tidak dapat menahan tawa ataupun tangis. Ya novel ini sangat lengkap menyuguhkan cerita romantis, sedih, senang dan juga kesederhanaan. Ia menyuguhkan apa arti cinta sejati bagi saya dari letak sesosok pasangan tua yang begitu romantis. Saya rasa pantas untuk memberikan bintang empat
Sebagai mantan roker (rombongan kereta) Sudimara-Sudirman, aku merasa wajib untuk membaca buku ini, tp karena banyak hal ini itu, akhirnya baru kesampaian sekarang. Yup, ini novel berlatar kereta komuter dan para penumpangnya...
Lumayan banyak fragment-fragment perkeretaan yang tertangkap di sini, meskipun aku merasa masih sedikit tanggung, persaudaraan erat nan aneh yang biasa terjalin di antara para penumpang kurang terasa. Juga mungkin karena setting waktunya diambil tepat saat krl dalam masa transisi menuju Commuter Line, kecanggungan sistem ini sedikit disinggung tanpa ada tujuannya.
Cerita ditulis dalam multiple pov, tapi aku sedikit kesusahan membedakan antara suara karakter yang satu dengan yang satunya. Demikian juga antara Dinda dan Sasha, Pak Eko dan Pak Rudy, dst, dst.
Kali ini, ekspektasi saya yang begitu besar terhadap sebuah buku tidak mengecewakan saya.
Stasiun karya Cynthia Febrina ini adalah novel yang terbaca seperti buku kumpulan cerita pendek dan setiap ceritanya memilki kesinambungan yang menggelikan dan akhirnya membuat saya jatuh cinta. Saya pikir karakter-karakter yang disuguhkan dalam novel ini tidak akan mendapatkan tempat yang akan melekat di benak saya. Namun, saya salah besar. Sekali lagi saya menemukan pria idaman saya di sini, Ryan namanya.
Novel ini akan membuat si pembaca belajar tentang kehidupan dan pencarian kebahagiaan dengan cara paling sederhana.
Ceritanya lumayan unik bagi saya karena mengeksplorasi keadaan di dalam stasiun dan kereta --tempat imajinasi berputar. Saya juga merasakan feel yang sama ketika berada di stasiun dan dalam kereta sama seperti pengalaman batin tokoh Sasha, Adinda, dan Ryan. Kisah-kisah yang terangkai dan cara pertemuan yang diselipkan diakhir cerita membuat saya tersenyum sendiri ketika membacanya. Alurnya manis, menyenangkan dan kadang membuat terharu serta berpikir. Pertemuan dua tokoh tak harus dipertemukan sejak awal bab, pertemuan mereka di bab terakhir pun bisa jadi alternatif kisah yang lebih menyentuh dan tentunya berbeda atau jauh dari kata klise. ^_^
Aku kasih 3.5 bintang. Ya ampun, aku suka banget deh sama idenya. Ide-ide Cynthia dalam mengemas semua scene dalam novel ini beneran keren menurutku. Aku suka banget caranya nyambungin kejadian A sama kejadian B, apalagi waktu Adinda dan Ryan ketemu. Logika ceritanya tuh dapet banget. Nggak asal "diada-adain". Dan aku suka! :D
Untuk penulis pemula dan debut novel, novel ini bagus banget lho. Yang nggak aku suka cuma beberapa diksi yang menurutku kurang pas. Selebihnya aku suka banget. Aku suka idenya, aku suka pengeksekusian idenya, aku suka pesan moral dan sosial yang mau disampaiin, aku lumayan cocok sama gaya penulisan Cynthia, aku hampir suka semua :D
Awalnya saya tertarik baca buku ini karena sampulnya yang lucu. Saya kira ini akan menceritakan kisah-kasih Ryan dan Adinda di stasiun secara bersama-sama, tapi pas saya baca bab 1 & 2, perkiraan saya runtuh seketika. Lalu saya menebak, oh mungkin ini omnibook. Dan ternyata lagi-lagi saya salah. Jadi, ini adalah novel dengan 2 karakter utama yang diceritakan sendiri-sendiri dan akhirnya bertemu di bab-bab akhir. Mmm... Ya gitu deh :D (Apa sih ini gak jelas banget reviewnya xD) Saya suka sampul dan ilustrasi-ilustrasi lucu di dalamnya. Udah, itu aja. :D
Stasiun itu ceritanya simple dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi nggak perlu capek berpikir terlalu keras. Saking dekatnya dengan kehidupan sehari-hari, saya jadi mudah berimajinasi mengenai Adinda dan Ryan, serta setting tempatnya. Pemilihan katanya juga mudah dimengerti, tapi tetap indah. Bagian favorit saya adalah ketika Ryan flashback tentang ayahnya. Dapet banget sedihnya. Jadi menurut saya Stasiun adalah bacaan ringan yang cocok berada di rak buku saya ;)
Saya suka gaya menulisnya mbak cynthia. Mudah dimengerti dan gak bertele tele. Gak tau kenapa enak aja dibacanya. Ngalir gitu. Sepertinya, mbak Cynthia mengerti sekali tentang perkeretaan Bogor-Jakarta-Bogor ya. Ternyata mendapatkan pelajaran-pelajaran hidup itu bisa di mana saja ya. Even, di dalam kereta ekonomi. Suka novelnya dan banyak kutipan-kutipan dari novelnya yang aku suka. Kurang dapet feel romansanya, tapi banyak dapet pelajaran hidupnya. Makasih sudah menulis novel yang bagus ini.
saya memang suka novel bentuk omnibus keknya.. ceritanya bagus! suka!
sayang.... banyak yg aneh. pertama soal kerjaan si ryan yg gaje... trus lagi katanya diawal dia males pake kendaraan pribadi gara2 sudah capek kerja.. ternyata malah punya mobil... itu gimana coba? err... batal deh kasih 5 bintang... tp 4 cukup kali ya.. :)
bukunya keren, menceritakan dua cerita berbeda. entah gargara terbayang si ryan yang pake kacamata dan jago gambar jadi seneng banget sama tokoh ini. ceritanya nyampur banget khas stasiun, ga ada rasis dan "pesan tersembunyi" tersampaikan dengan baik. aku suka cover depannya lucu warnanya. ga bisa berhenti baca dan bikin penasaran gimana mereka berdua bertemu dan akhirnya kenalan
Bisakah cinta datang di stasiun? Seorang gadis yang patah hati setelah ditinggal oleh tunangannya, menemukan cinta yang baru, di stasiun. Temannya benar, ada miniatur kehidupan di gerbong kereta ekonomi, bapak bapak yang tertidur, wanita hamil, para pekerja yang bolak balik jakarta-bogor, demi menghidup keluarganya.
Saya ingin menyukai lebih dari ini, tp ga bisa. Meski kurang nendang sbg novel, ini cerita yg cocok di-ftv-in, IMO sih. Klo yg main Marsha&Vino sy pasti nonton deh *serius*
Suka desain covernya. Tapi knp bookmarknya loko? Klo didesain kaya tiket kereta mungkin lebih lucu.