Sempat mau memberikan bintang dua, seperempat mungkin ya, tapi ke belakang ceritanya berangsur membaik. Well, kisahnya sederhana. Menceritakan dua kehidupan dari dua warga kota yang berbeda. Yang satu di London, satu lagi di New York, lantas dihubungkan oleh seutas benang merah, yaitu kabel telepon. Ceritanya bisa dibilang unik, kalau disimak dari ide chicklit-chicklit yang selama ini pernah diangkat. Dan kalau mau direndengkan, "Perfect Strangers" mungkin mirip dengan "Thanks For The Memories" karya Cecelia Ahern. Tapi bedanya adalah di plot twist yang tidak melibatkan dua plot yang berbeda menjadi berkesinambungan di awal.
"Perfect Strangers" lebih mementingkan eksposisi kehidupan masing-masing individunya di awal. Mulai dari penokohan yang dibuat sangat rinci. Menjelaskan akan pekerjaan kedua tokohnya. Menemui komunitas-komunitas dan kultur baru. Lalu, konflik yang sama-sama terpisah, tetapi dihubungkan oleh keadaan saling bertanya melalui pesawat telepon.
Dari segi narasi, "Perfect Strangers" dinarasikan begitu apik dan juga sistematis. Dan dari segi latar belakang pun, kentara penulisnya amat piawai dalam mencelupkan berbagai istilah editorial dan desain dari belakang panggung.
Akan tetapi, kekurangan "Perfect Strangers" sendiri datang dari segi yang sama. Permainan plot yang terlalu sistematis, runut, dan tertata rapi, membuat "Perfect Strangers" terasa sangat lamban di bab-bab awal. Di pertengahan, mungkin konfliknya sudah agak terasa, akan tetapi, kesinambungan kedua tokohnya terasa sebatas rasa formalitas. Padahal genre utama yang coba diusung oleh penulisnya adalah roman. Sedangkan di akhir, semuanya malah terjadi terlalu instan. Terlepas dari pertemuan dua orang lewat sambungan telepon, rasanya keduanya tak bisa langusng percaya apalagi memiliki ketertarikan yang kelewat batas seperti kedua pasangan yang secara tak sengaja selalu dipertemukan setiap harinya, pun dengan hubungan Lloyd dan Suze di "Perfect Strangers". Di akhir keduanya diceritakan bertemu di sebuah kafe, akan tetapi, aneh bagi yang menyimak jika keduanya langsung enggan dipisahkan, padahal selama ini keduanya selalu terpisah oleh jarak dan lintang waktu.
Dari lima, dua tiga per empat mungkin pas untuk "Perfect Strangers". Chicklit yang lumayan berbobot dari segi penyampaian, tetapi tetap ringan dari pengusungan sebuah ide. Still love it!