Jati diri Sabda Palon dan Naya Genggong terkuak perlahan-lahan di hadapan Bhre Kêrtabumi. Meskipun demikian, dua sosok misterius itu masih diselimuti kabut tebal, samar dan tersembunyi. Itu terjadi setelah Bhre Kêrtabhumi mendatangi beberapa petilasan suci: Gunung Kawi, Dharmma Badhyut, Gunung Pawitra, dan Gunung Lawu. Di tempat-tempat itu dia menggelar tapa brata sesuai perintah sosok niskala yang dipercayainya sebagai Resi Agastya, pamomong Nusantara.
Sementara itu, perkembangan Majapahit semakin tidak menentu setelah Raden Kêrtawijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit menggantikan Rani Suhita yang telah mangkat. Takhta Tumapêl yang semula dia duduki dilimpahkan kepada adiknya, Raden Kêrtarajasa. Perseteruan diam-diam terjadi antara kakak-beradik itu. Kekacauan pun sengaja disebar di mana-mana.
Pada saat yang sama, Haji Gan Eng Cu dan Adipati Tuban Arya Adikara wafat hampir bersamaan. Tetapi kematian dua tokoh penting tersebut segera mendapat pengganti, seolah sudah ada yang mengatur. Sayyid Ali Rahmad dan Sayyid Ali Murtadlo sama-sama mendapatkan putra yang kelak akan menjadi ulama kenamaan. Sementara Tumenggung Wilwatikta mempunyai putra yang kelak bakal menentukan wajah Islam di Nusantara.
Damar Shashangka lahir di Malang pada tanggal 8 April 1980. Kelahirannya di keluarga Kêjawen membuatnya sangat tertarik kepada mistisisme dan spiritualitas semenjak kecil. Saat masih berumur belasan tahun, ia memperoleh sebuah visi bahwa suatu saat dirinya bakal menulis banyak buku tentang sejarah dan ajaran-ajaran kuno Nusantara. Ia penulis novel sejarah yang sangat produktif. Ia mulai dikenal di belantika sastra sejarah Indonesia setelah menulis novel berseri debutnya, Sabda Palon, tentang masa akhir Kerajaan Majapahit dan berkuasanya Islam di Nusantara, yang menangguk banyak pujian dan menjadi referensi berharga tentang sejarah Nusantara berikut ajaran-ajaran kunonya.
Selain menulis novel, Damar Shashangka juga aktif menerjemah dan mengulas naskah-naskah klasik Jawa seperti Induk Ilmu Kejawen (Wirid Hidayat Jati), Darmagandhul, dan Gatholoco. Anak muda yang fasih berbicara dan menulis tentang spiritualitas Islam, Kêjawen, dan Śiwa Buddha ini bisa dihubungi secara personal melalui email: damarshashangka@gmail.com, facebook: Damar Shashangka, twitter: @DamarShashangka, blog: damar-shashangka.blogspot.com.
453/453 yes! I'm done! but this is not the final of the series, I have to read two more books until I'm done and I know all the stories. In this third book, I have many things that amaze me! And another amazing feeling I had while reading this book! The book is very good, and if you want or want to know more about the history of Java, I highly recommend this series to you! The majapahit story in this book fascinated me. I loved this book and this series so much!!
saya baca buku pancalogy dari Sabda Palon ini secara tidak kronologis ( dari Seri 1 satu lompat ke seri 4- tidak disengaja juga) yang powerfull dari Mas Damar ini adalah plot jalan ceritanya yang menarik tidak membosankan, selipan kontesk sejarah juga ada dan cukup memberikan detail yang membuat orang awam soal Majapahit tidak kewalahan dalam mengikutinya
Saya memberikan review secara total dari 4 buku ini walaupun sebenarnya belum selesai karena berlanjut ke buku ke 5 dengan sub title Tonggak Bumi Jawa.
Ada dua tiga chapter yg bikin saya tertawa.. Karna emang lucu bgt... tapi ada juga yg bikin saya ngeri.. maaann.. but bottom line is, so much thing i gotta learn from leluhur and Damar Shashangka... bless u brother..
masih membuat penasaran untuk membaca buku selanjutnya. yang ingin tau detail kehidupan di zaman Majapahit menjelang keruntuhannya, wajib baca serial novel ini :D