"Tahun ini aku ingin merayakan Hari Kartini bukan hanya dengan mengenakan pakaian daerah seperti yang umum dilaksanakan oleh sekolah maupun institusi, tapi dengan lomba menulis cerita pendek, yang aku beri tajuk "Perempuan Dalam Cerita". Cerita pendek fiksi ini dapat ber-genre apa saja, asalkan mengambil tokoh dan kehidupan perempuan sebagai anchor ceritanya. Dapat tentang profesinya, kehidupannya, perjuangannya, maupun pergolakan batinnya.
Setiap perempuan punya cerita. Dalam buku ini tiga belas penulis berbakat menghadirkan lima belas cerita terpilih, cerita pendek terbaik dalam lomba Perempuan Dalam Cerita. Each story has wowed me, moved me, thrilled me. Dan mungkin dalam setiap cerita itu, kita bahkan bisa menemukan cerita kita sendiri." - Ika Natassa
IKA NATASSA is an Indonesian author who is also a banker at the largest bank in Indonesia and the founder of LitBox, the first literary startup of its kind in the country, which combines the concept of mystery box and onine promotions for writers.
She loves writing since since was a little kid and finished writing her first novel in English at the age of 19. She is best known for writing a series of popular novels focusing on the lives of young bankers in Indonesia. Her debut novel A Very Yuppy Wedding is published in 2007, and she has released six books since: Divortiare (2008), Underground (2010), Antologi Rasa (2011), Twivortiare (2012), dan Twivortiare 2 (2014), and Critical Eleven (2015). A Very Yuppy Wedding is the Editor's Choice of Cosmopolitan Indonesia magazine in 2008, and she was also nominated in the Talented Young Writer category in the prestigious Khatulistiwa Literary Award in the same year. She loves to experiment with writing methods, Twivortiare and Twivortiare 2 are the two novels she wrote entirely on Twitter. Antologi Rasa and Twivortiare are currently being adapted into feature films by two of the most prominent production houses in Indonesia.
Natassa is also one of the finalists of Fun Fearless Female of Cosmopolitan Indonesia magazine. In 2008, she was awarded with The Best Change Agent at her company for her active role in corporate culture implementation in the bank, and in 2010 she was awarded for 2010 Best Employee Award. Her success in maintaining a career at the bank whilst pursuing writing as her other passion led to her being awarded awarded as the Women Icon by The Marketeers in 2010.
Out of the love of books, in 2013 she founded LitBox, a brand new concept she's in introducing to readers in Indonesia. It's the first literary startup company of its kind, aiming to provide readers with recommended books, to help writers get their writings read by people, and to help publishers introduce new talents to the market. On July 2014, she commenced a social movement campaign to promote the joy of reading called Reading is Sexy, so far supported by Indonesian and regional public figures such as Acha Septriasa, Jason Godfrey, Hamish Daud Wyllie, Karina Salim, Ernest Prakasa, Mouly Surya, and many more.
Twitter and Instagram: @ikanatassa LinkedIn: Ika Natassa Personal website: www.ikanatassa.com
Cerita tentang perempuan: hidup, perasaan, kegalauan, kekuatan. Lengkap. Walau kelima belas cerita ini ditulis oleh 15 penulis pemenang sayembara #PerempuanDalamCerita oleh ika natassa, tidak bisa dibilang sebagai tulisan yang main-main juga. Semuanya penulis di dalamnya masih muda, sangat berbakat, lelaki dan wanita yang memandang 'perempuan' dengan 15 cara yang berbeda. Saya jadi bangga karena ikut bagian dalam sayembara ini, walau hanya lolos di 30 besar saja (intermezo tidak penting :p).
Dua cerita favorite saya ditulis oleh penulis yang sama, Annisa Ninggorkasih, berjudul 'Darah Merah' dan 'Meniti di Tepi Jalan'.
Darah merah menceritakan tentang pelacur wanita yang menyayangi semua anaknya. Sayang, anak itu tidak rela dia lahirkan. Cukup dia simpan sebagai janin yang digugurkan dan disimpan pada botol kaca, dinamainya merah, hitam, putih dan kuning. Disayanginya sepenuh hati.
"Aku menyayangi mereka maka aku abadikan mereka di sana. Mereka tidak akan meninggalkanku. Tidak akan tumbuh sia-sia tanpa perawatan. Tidak akan tumbuh menjadi manusia bejat perusak seperti kamu. Seperti kita! Apa kau kira mereka mengharap untuk dilahirkan? Apa yang bisa aku lakukan jika kelak melihat mereka tumbuh menjadi anak tanpa ayah? Anak beribukan pelacur? ..." -Darah Merah, Perempuan Dalam Cerita-
Melalui akun twitter-nya, Ika Natassa mengumumkan sayembara cerita pendek untuk memperingati Hari Kartini sekaligus ultah sang ibu. Berangkat dari tema itu, tentu cerita pendek yang disayembarakan bertema perempuan dan segala liku kehidupannya. Saya iseng saja mencoba mengikutinya. Akhirnya "Gula yang Meluruh di Cangkir Tehmu" saya berhasil selesaikan. Secara pribadi, bagi saya, kisah itu spesial, karena mampu membuat saya 'sesak' selama beberapa hari setelah menuliskannya.
Membahas tentang perempuan memang tak ada habisnya. Buku ini mencoba menjadi salah satu media penyampai pesan tentang kehidupan perempuan. Setelah membacanya, saya terkejut. Kisah-kisah di dalamnya memang menarik, selain memang saya suka dengan tema-tema feminis. Berikut beberapa cerita pendek yang menjadi favorit saya :
- "3 Perempuan" - Chi Eru Kisah pemenang ini dengan pintar mampu menyembunyikan rahasianya. Begitu kental dengan kejujuran dan keterbukaan. Saya pun merasa dekat dan nyaman dengan gaya bahasa Chi Eru.
- "Darah Merah" - Annisa Ninggorkasih Kisah ini mempunyai originalitas, juga cerdik menyembunyikan "siapa ia". Saat membacanya, saya merasa seperti menikmati sebuah flashfiction.
- "Gadis Berkepang Dua" - Andiana Last line kisah ini memiliki pengaruh besar pada keseluruhan penampilannya.
- "Meniti di Tepi Jalan" - Annisa Ninggorkasih Sederhana, namun plotnya cukup menarik.
Pada kesimpulan yang mampu saya ambil, dari sekian banyak cerita, kisah-kisah Perempuan dalam Cerita memiliki satu kesamaan : ciri khas dan pemiilihan ide yang kuat. Lepas dari 100% royaltinya disumbangkan untuk lembaga wanita korban kekerasan, buku ini menyimpan banyak pesan tentang perempuan.