Buku setebal 80 halaman ini berisi kumpulan 35 judul puisi. Judul kumpulan puisi ini mengambil salah satu judul puisi di buku ini, “Gandari”. Puisi panjang yang mamakan 12 halaman itu berisikan tentang sosok Gandari, istri Dretarastra, ibu para Kurawa dalam kisah Mahabarata.
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.
Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).
Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.
Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.
Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).
Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.
"Dan ketika orang tua itu rubuh dibawah bukit-bukit Kurusetra, perang berhenti sebentar, dan senjata diletakkan. "Bhisma gugur", mereka berbisik, dengan 100 liang luka."
Sejauh pengalamanku membaca cerita wayang, hampir tidak ada kisah yang mengambil sudut pandang dari sisi Gandari, ibu para Kurawa. Kisah seorang wanita cantik yang terpaksa menikah dengan seorang pangeran buta namun tetap berupaya dengan segala cara untuk memenuhi ambisinya agar suami dan keturunannya berkuasa.
Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang yang sangat Pandawa-centric, kita melihat Gandari sebagai salah satu tokoh yang masuk dalam list antagonis. Tapi kalau ditelaah dari sisi karakter, boleh dibilang tokoh semacam Gandari bisa jadi malah menjadi tokoh sentral di novel-novel yang menonjolkan karakter wanita yang kuat, penuh ambisi, berani mempertaruhkan segalanya demi ambisinya, meski akhirnya mungkin nasib tidak berpihak kepadanya. Beberapa tokoh utama di novel Sidney Sheldon dan Jackie Collins mungkin bisa jadi contohnya.
Dan alih-alih mengglorifikasi kemenangan lima orang Pandawa (dengan mengorbankan generasi penerusnya), pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang ibu yang kehilangan seratus orang anaknya? Meskipun tahu bahwa sang anak hanya menuai badai yang ditaburnya sendiri, tegakah membayangkan betapa tragis akhir hidupnya?
Sebenarnya ia bergidik: ia membayangkan perempuan hitam yang datang ke sudut selatan pertempuran mendekati tubuh Dursasana.
Kepala itu telah terpenggal. 'Dan dengan wajah yang dingin, tuanku,' kata sang utusan, 'Drupadi mencuci rambutnya dalam darah.'
'Dursasana.' Seperti jauh ia dari nama itu. 'Darah anakku.'
Buku ini gateway aku ke dunia GM. Dulu baca di toko buku dan suka banget. Tapi entah setan mana yang menempeleng, aku ga beli. Sungguh sebuah kekeliruan karena sejak saat itu, mungkin ada 2 atau 3 tahun aku memburu buku ini tiap main ke toko buku dan ga dapet-dapet. GM adalah gol aku dalam tulis menulis. Awalnya Gandari hanya aku buka-buka dan baca sekilas, tapi dalam beberapa kalimat saja hal itu menjadi jelas. Kepekaan, ide cemerlang, keindahan dan kelincahan beliau berakrobatik diksi adalah semua yang aku inginkan keluar dari otak dan tulisanku sendiri. GM yang berkarir gemilang sebagai jurnalis dan eseis tak kalah bersinar dengan puisi-puisinya. Ada yang menawan dalam keringkasan GM menyingkap makna. Aku ga familiar dengan tema wayang, tapi semudah itu aku hanyut dalam kisah-kisah Gandari. Ah mau pulang dan baca ulang.
Sepertinya Goenawan Mohamad suka mendefinisikan cinta. Tidak disangka-sangka.
Dibuka dengan sajak tentang kesetiaan dan kepiluan Gandari, sang ratu yang memutuskan untuk menutup matanya, mendampingi suaminya yang buta. Dan ditutup dengan sajak 'Hikayat Sri Rama', kumpulan sajak dari tokoh-tokoh di sekitar Raja penguasa Ayodhya.
Konsep menulis sajak dari prosa dan cerita panjang lainnya masih begitu memukau. Sebuah karya turunan. Bentuk apresiasi yang luar biasa.
Sajak favorit saya di buku ini, Di Ujung Bahasa dan Ritme. Sederhana dan begitu 'saat ini'.
Buku ke-enam di 2016 Reading Challenge. Gandari karya Goenawan Mohamad. A book that's under 150 pages.