Jump to ratings and reviews
Rate this book

Student Hidjo

Rate this book
Student Hijo karya Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang.

Novel ini mencoba berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda. Hingga menjadi masuk akal jika novel ini kemudian dipinggirkan oleh dominasi dan hegemoni Balai Pustaka, bahkan sampai saat ini.

Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum bumiputra. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia.

Paperback

First published January 1, 1918

45 people are currently reading
322 people want to read

About the author

Marco Kartodikromo

14 books12 followers
Marco Kartodikromo was a journalist and also Indonesia independent activist, who makes him several times detained in the colonial era. All his works were created in prison, such as Student Hijo.

He also founder of Inlandsche Journalisten Bond, a journalist group on 1914. He became a student of Tirto Adhi Soerjo, another avant-garda journalist in that era.

He died in exile at Boven Digoel on 1935.

Bibliography:
* Mata Gelap (1914)
* Student Hidjo (1918)
* Matahariah (1919)
* Rasa Mardika (1918) and reprinted 1931
* Sair Rempah-rempah (1918)
* Sair Sama Rasa Sama Rata (1917)
* Babad Tanah Djawi (1924-1925)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
53 (11%)
4 stars
120 (25%)
3 stars
193 (41%)
2 stars
85 (18%)
1 star
17 (3%)
Displaying 1 - 30 of 103 reviews
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
February 2, 2016
Lha. Drama abis. Yang termaktub di kepala hanya Hidjo dan kisah romansanya. Ada sedikit cerita tentang kontrasnya Bumiputera (sebutan untuk orang Hindia/pribumi jaman dulu) dengan Belanda (orang Belanda) pada masanya, tapi kadarnya hanya sebagai penyedap rasa.

Mengutip dari blurb pada sampul belakang: Novel ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di "Harian Sinar Hindia", kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Aku bertanya-tanya orang-orang pada jaman itu juga menyukai kisah romansa--sama seperti orang-orang yang hidup pada masa sekarang--mengingat pada tahun-tahun itu negeri ini masih dijajah.

Diulas bersama hal-memalukan-sekaligus-membanggakan di sini: http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...
Profile Image for Melissa.
14 reviews
July 19, 2016
Ceritanya sederhana, bahasanya ringan, ada saat penulis berinteraksi dengan pembaca. Deskriptif dalam hal menggambarkan suasana/background di jaman itu, sehingga seperti dibawa ke Solo di tahun 1800an. Hanya saja judulnya sedikit membuat pembaca punya "harapan" sendiri akan isi ceritanya. Yang pada akhirnya ternyata berbeda. Karena tidak ada cerita tentang kehidupan "Student", buku ini murni menceritakan tentang percintaan anak muda jaman itu dengan segala permasalahannya.
Menarik. Ada saatnya kita membutuhkan buku yang ceritanya mengalir begitu saja tanpa perlu banyak perdebatan antara pemikiran penulis dan pembaca.
Profile Image for bojfischer.
97 reviews5 followers
January 13, 2018
Saya teringat Max Lane pada suatu kesempatan berujar bahwa sebaiknya bangsa Indonesia banyak membaca buku-buku sastra pra-kemerdekaan Indonesia. Apa yang dikatakan Max Lane, sebenarnya ingin mengkritik cara pandang orang Indonesia kebanyakan terhadap kebudayaan Indonesia. Max Lane mengatakan bahwa kita kesulitan untuk mendefinisikan bagaimana kebudayaan Indonesia itu. Saya sepakat dengan Max, budaya Indonesia itu bukan tari-tarian dari Aceh sampai Papua, bukan gamelan, bukan batik, bukan angklung, wayang, dan sebagainya.

Hal-hal tersebut di atas merupakan warisan dari budaya bangsa-bangsa yang lebih dahulu menghuni Indonesia; Jawa, Aceh, Papua, Minang, dan lainnya. Justru, kebudayaan Indonesia terbentuk setelah muncul kesadaran sebagai bangsa yang satu dan tentu saja penggunaan bahasa Indonesia. Tulisan-tulisan R.A. Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Soekarno, Sjahrir, Hatta, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, bahkan Mas Marco merupakan bentuk dari kebudayaan Indonesia. Merekalah sang pemula, seorang pelopor gagasan bangsa yang satu.

Maka tak berlebihan jika salah satu karya Mas Marco yang ini juga memiliki andil untuk itu. Bagi saya ya, bagi saya, sekalipun cerita di sini penuh romansa, Mas Marco sebetulnya ingin menampilkan pergulatan identitas Hidjo sebagai pribumi Hindia-Belanda yang bersekolah di Belanda.

Ada sentilan manis Mas Marco untuk orang-orang Belanda. Salah satunya lewat percakapan antara Controleur dengan Sergeant "Rupanya Tuan amat benci kepada orang Jawa. Apakah kalau Tuan menyuruh apa-apa kepada jongos orang Belanda, juga memakai perkataan yang begitu keji seperti itu?" Terbilang manis sebab percakapan itu dilakukan oleh dua orang yang sama-sama orang Belanda.

Kita tentu tidak lupa dengan politik etis yang diterapkan Belanda. Di satu sisi, politik etis bermakna hutang budi. Lain sisi kebijakan itu bertujuan untuk melahirkan priyayi/golongan terpelajar pribumi yang nantinya dapat dipekerjakan oleh Belanda. Belanda tidak akan repot untuk mempertahankan politik adu dombanya. Politik etis itu, salah satunya pendidikan, menghasilkan beberapa golongan terpelajar yang tidak berdaya di hadapan Belanda. Beberapa yang lain, mampu membangkitkan kesadaran kolektif sebagai bangsa tertindas, salah satunya Mas Marco.

Salah satu buku penting bagi Indonesia, sayang ratingnya sedikit.
Profile Image for Aldythtryingtoread.
29 reviews
May 27, 2024
Aku menyayangkan tidak disuntingnya (atau tidak disediakannya versi suntingan dan versi asli sebagai pembanding) buku ini agar bukunya dapat lebih mudah dibaca. Ditulis pada 1918, buku ini boleh dibilang merupakan salah satu awal lahirnya sastra perlawanan.

Meski begitu, aroma perlawanan pada penjajahan tidak begitu bisa ditangkap dalam novel ini, kecuali jika kita mengetahui riwayat hidup Mas Marco Kartodikromo. Aku sendiri mengetahui Mas Marco karena namanya disebut dalam "Jejak Langkah" dan "Rumah Kaca" karya Pramoedya Ananta Toer. Mas Marco adalah pejuang kemerdekaan yang berada satu angkatan di bawah Tirto Adhi Soerjo. Mas Marco adalah murid TAS ketika mengelola Medan Prijaji. Ia satu angkatan lebih tua jika dibandingkan Soekarno. Mas Marco meninggal di Boven Digoel, tempat banyak komunis diasingkan oleh Pemerintahan Belanda. Kisah-kisah malangnya tapol Digul bisa dibaca di "Cerita dari Digul" yang disunting juga oleh Pramoedya.

Semua tokoh adalah tokoh dengan sifat yang baik (kecuali satu sersan yang akan sekolah militer di Belanda, itu pun hanya disebut secara singkat). Tokoh berdarah Belanda diceritakan tidak kasar dan menghargai Bumiputera. Sementara tokoh priyayi Bumiputera juga mawas diri jika ia adalah kepanjangan tangan Belanda dalam melakukan penjajahan.

Buku ini juga terasa seperti mimpi basah priyayi laki-laki pada saat itu. Digandrungi perempuan-perempuan priyayi di Indonesia, juga perempuan Belanda ketika berada di Belanda. Premis awal cerita ini juga gagal dieksplorasi (menurutku). Hidjo yang dikirim ke Belanda untuk menjadi insinyur akhirnya harus balik lebih awal karena ingin dinikahkan.

Perjodohan yang dilakukan juga berjalan sangat lancar tanpa halangan apapun. Perasaan dari orang-orang yang dijodohkan tidak digambarkan secara kompleks. Mereka hanya bahagia dijodohkan dengan sesama priyayi lainnya.

(ulasan akan dilanjut nanti, mungkin)
Profile Image for A.J. Susmana.
Author 3 books13 followers
February 14, 2011
Tak Hanya Soal Perkawinan atau Perjodohan, Tapi Melawan Penjajahan

Membaca novel yang ditulis hampir satu abad yang lalu, seperti Student Hidjo karya Marco Kartodikromo ini tentu membutuhkan banyak referensi terutama sejarah agar pembacaannya menjadi kaya dan menemukan keindahan dari ungkapan kata-kata maupun setting yang digunakan. Student Hidjo pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Surat Kabar Harian Sinar Hindia tahun 1918. Diterbitkan pertama kali oleh N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman & Stroink Semarang, 1919. Kini diterbitkan kembali oleh Penerbit Bentang Yogyakarta justru tanpa tahun. Entahlah kenapa. Walau begitu kemunculan kembali novel ini diketahui pada tahun 2000. Selain diterbitkan oleh Bentang, juga diterbitkan Aksara Indonesia, juga berdomisili di Yogyakarta.

Pada pendahuluan yang dibuat pada tanggal 26 Maret 1919, Marco Kartodikromo, tanpa gelar Mas di depannya, menjelaskan bahwa Student Hidjo merupakan buah pena waktu menjalani hukuman perkara persdelict, di Civiel en Militair Gevangenhuis di Weltevreden selama satu tahun. Selain Student Hidjo, selama setahun di penjara itu, Marco juga menulis buku Sair Rempah-Rempah, Matahariah dan masih ada yang lain yang tak disebutkan. Sudah jelas tampak bahwa Marco adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan lain yang sangat terkenal judulnya bahkan hingga saat ini dan sering dianggap sebagai idiom cita-cita komunisme adalah Sair Sama Rata Sama Rasa yang kemudian juga menjadi slogan dan semboyan dalam perjuangan.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, semboyan Sama Rata Sama Rasa ini, di kalangan rakyat jelata mempunyai kekuatan yang menghidupi, dan kekuatan ini, yang tidak menarik para sarjana, telah memberikan sumbangan yang tidak sedikit artinya bagi perjuangan untuk memenangkan kemerdekaan nasional dan keadilan sosial. Karena bagi rakyat, kemerdekaan nasional yang ditingkatkan dengan revolusi nasional diharapkan sekaligus mengandung di dalamnya keadilan sosial sebagaimana disebutkan tanpa sembunyi-sembunyi dalam salah satu sila dari Pancasila. (Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, Lentera Dipantara, Jakarta, cetakan II 2003;96)

Selain sebagai pengarang sastra, Marco juga dikenal aktif dalam kegiatan jurnalisme dan politik. Ia dikenal sebagai pendiri pertama kali organisasi wartawan di Hindia Belanda, Inlandsche Journalisten Bond, IJB, di Surakarta tahun 1914, aktif di organisasi Serikat Islam sejak tahun 1911 dan meninggal dalam pangkuan organisasi Partai Komunis Indonesia, PKI, dalam pembuangan di Digul, Papua pada tanggal 18 Maret 1932. Marco Kartodikromo dilahirkan di Cepu, Blora, sekitar tahun 1890 dari keluarga priyayi rendahan dan sempat memperoleh pendidikan Ongko Loro di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputera Belanda di Purworejo.

Melalui novel ini, Marco dengan lembut, ringan, sederhana tapi tajam menyampaikan cita-cita dan pandangannya terhadap kolonialisme Belanda, termasuk dunia kapitalisme. Selain menceritakan hubungan perjodohan, percintaan dan pacaran model Eropa dan Timur, latar cerita novel ini adalah kongres Serikat Islam, di Solo yang begitu meriah dan penuh dukungan dari rakyat. Hidjo tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai student atau mahasiswa yang briliyan, cerdas dan cinta pada negeri dan keluarganya walau juga paham betul soal-soal sopan-santun adat Eropa. Ia pun dicintai banyak orang termasuk orang-orang Eropa.

Ketika Hidjo sampai di Amsterdam untuk melanjutkan studi ke Delf, tumbuhlah kesadaran yang luar biasa bagi dirinya yaitu bahwa mulai saat itu Hidjo bisa memerintah orang-orang Belanda. Orang yang mana kalau di Tanah Hindia kebanyakan sama bersifat besar kepala. Di sebuah Hotel, Hidjo dihormati betul oleh para pelayan hotel. Sebab mereka berpikir, kalau orang yang baru datang dari Tanah Hindia pasti banyak uangnya. (h. 46)

”Kalau di Negeri Belanda, dan ternyata orang-orangnya cuma begini saja keadaannya, apa seharusnya, orang Hindia musti diperintah oleh orang Belanda.” (h. 46)

Di bagian lain, konsepsi dunia kapitalisme disampaikan dengan ringan ketika Raden Nganten dan Raden Potronojo, orang tua Hidjo merasa tidak pantas bila sebagai keluarga saudagar hendak melamar putri seorang regent.

“Apakah Raden Ayu dan Raden Mas Tumenggung tidak malu mempunyai anak kawin dengan anaknya orang yang hina seperti kita?” tanya Raden Nganten bergurau

“Tidak Raden Nganten, zaman sekarang ini tidak ada lagi orang hina dan mulia. Kalau dipikir, sebetulnya semua manusia itu sama saja. Saya seorang Regent, itu kalau dipikir mendalam, badan saya ini tidak ada bedanya dengan jongos atau tukang kebun Belanda. Jadi saya ini sebagaimana perkataan umum ’buruh’ . Maka dari itu umpama anak saya kawin dengan anak Tuan apa jeleknya? Asal yang menjalaninya suka!” begitu kata Regent dengan panjang lebar kepada Raden Nganten (h.136-137).

Lihatlah, betapa berbeda 180 derajat dengan tema perkawinan dan perjodohan pada novel Azab dan Sengsara, Merari Siregar yang ditulis dua tahun kemudian dan diterbitkan Balai Pustaka dan tentu saja juga dengan novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli dalam tema yang sama perkawinan dan perjodohan yang juga diterbitkan Balai Pustaka. Pada Azab dan Sengsara, perjodohan masih mempertimbangkan orang hina dan mulia. Ayah Aminuddin tak menginginkan Aminuddin menikah dengan Mariamin yang miskin dan papa tapi menginginkan perkawinan yang sederajat, bangsawan dan kaya. Pada Siti Nurbaya, perjodohan dipaksakan oleh orang tua sementara pada Student Hidjo, Asal yang menjalaninya suka!

Membaca isi novel ini yang begitu kritis terhadap kolonialisme Belanda, sudah sewajarnya bila Penjajah Belanda melalui Balai Pustaka (1917) yang dilandasi nota Dr Rinkes itu tidak mengakui kesastraan Novel ini dan memasukkannya dalam kelompok bacaan liar. Yang mengherankan, justru sebagian dari kita saat ini, masih melupakan atau bahkan mengabaikan kemunculan novel ini dalam perkembangan Sastra Indonesia dan menganggap tidak penting kepengarangan dan perjuangan Marco Kartodikromo dalam melawan penjajahan Belanda dan melulu hanya berpatokan pada Balai Pustaka dengan kemunculan Novel Merari Siregar, Azab dan Sengsara itu.

Student Hidjo, sebuah Novel, layak dibaca kembali terutama oleh para pelajar dan mahasiswa saat ini agar semakin memahami dunia student di bawah penjajahan Belanda dan ketika jaman benar-benar dibangkitkan untuk bergerak oleh para pemuda terpelajar Hindia Belanda dengan berbagai cita-cita dan kehendak untuk merdeka dari penjajahan, terlebih dunia kita saat ini yang seakan kembali mengalami penjajahan baru, dengan semakin dikuasainya kekayaan alam bangsa kita oleh asing, privatisasi gila-gilaan BUMN-BUMN dan hancurnya industri nasional kita seperti industri gula, kopi, kayu….dan yang lain-lain akan menyusul..?

Jakarta, 9 November 2010

http://berdikarionline.com/suluh/2010...
Profile Image for Dita Anggita.
58 reviews
April 6, 2024
Awalnya aku mau kasih rating 3 karena, “Hah? Ini buku apaan sih? Isinya kok penuh dengan cinta-cintaan!” Apalagi bagian ending; nggak banget untuk kisah romansa zaman sekarang. TAPI, setelah diingat-ingat novel ini adalah cerita bersambung yang ditulis Mas Marco di zaman awal pergerakan; zaman di mana pers juga masih terbatas terutama yang menggunakan bahasa Melayu. Di samping itu, merasa ‘tahu’ bagaimana perjuangan Mas Marco bisa sampai menjadi penulis (dari Tetralogi Pulau Buru, Pramoedya) rasanya tak elok menghargai tulisan perjuangan beliau dengan rating standar.

Kenapa aku menyebut perjuangan? Jika ditilik lebih dalam cerita ini merupakan bentuk pembelajaran dan propaganda bagi rakyat Indonesia di zaman itu; zaman kolonial, bahwa:

1) Pribumi Hindia yang seringkali minder berhadapan dengan bangsa Belanda nggak serendah itu. Melalui buku ini, Mas Marco ingin memberi tahu bahwa banyak kok laki-laki Pribumi yang digilai perempuan Belanda. Pun sebaliknya, banyak juga laki-laki Belanda yang naksir perempuan Pribumi. “Apa itu perbedaan warna kulit?” Begitu kalau dibahasakan di zaman sekarang.

2) Promosi berorganisasi dan propaganda boikot. Mas Marco ini salah satu anggota Sarekat Islam. Maka, dalam cerita ini ada bagian di mana tokoh-tokoh di novel ini hadir dalam kongres yang di adakan SI di Sriwedari, meskipun mereka bukan anggota. Juga tentang boikot yang bertujuan melemahkan kekuasaan Belanda.

3) Jangan takut dengan Belanda; mereka yang sok berkuasa di negeri ini nggak lebih dari para pengangguran, kuli, orang-orang miskin dan bermasalah di negerinya. Bahkan orang-orang Belanda (yang tidak berada di Hindia) sendiri pun mengakuinya. Jadi, jangan karena mereka berkulit putih, kalian hey Hindia jangan segan dan merendahkan diri. Mas Marco menggambarkan ini dalam artikel “Bangsa Belanda di Hindia” melalui perdebatan sesama Belanda. Aku paling suka bagian ini sih.

4) Bentuk perlawanan kepada Belanda dengan menerbitkan cerita berbahasa Melayu.

5) Hapuskanlah perkastaan sesama orang Hindia karena status. Entah itu status pendidikan atau kedudukan, Mas Marco ingin mengajarkan bahwa manusia itu sama derajatnya melalui hubungan family Hidjo dan Rigent Djarak.

Kalau baca sekilas, memang novel ini seolah hanya berkutat dalam hal percintaan saja. Malah kalau baca judul akan kecewa dengan isinya. Aku sendiri salah mengira, kupikir Student Hidjo itu pelajar dari Hindia yang idealis seperti Minke. Wkwkwk. Porsi Hidjo sebagai pelajar malah sama sekali nggak muncul, kecuali bagian dia si kutu buku.

Aku suka sekali bahasanya; memperlihatkan Indonesia tempo doeloe. Aku jadi tahu, kalau zaman itu bahasa Belanda cukup memengaruhi sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Juga penggunaan ejaan lama mempertahankan kekhasan pada zamannya.

Profile Image for Ridandi Bintang  Pamungkas.
20 reviews
November 29, 2017
FYI, sebenernya kesan awal gue terhadap buku ini adalah karena buku ini diterbitkan hampir 100 tahun yang lalu! Cukup menarik juga bahwa gue lagi membaca buku yang sama dengan yang orang baca pada tahun 1918. Somehow gave me a pretty bizarre feeling.

Anyway, Langsung ke topik. Pada awalnya, gue kira buku ini akan fokus menceritakan kehidupan Hidjo sebagai STUDENT (sesuai dengan judulnya) di Belanda pada jaman kolonialisme. Namun yang gue temukan hanya cerita bergenre romance yang agak... ya membingungkan sih, entah karena gaya penulisan jadul emang kaya gini ya. Tapi gue melihat alur ceritanya terlalu njelimet dan dipaksakan, terlebih soal endingnya, (maaf) maksain banget!

Btw ini spoiler ya, Jadi, awalnya, gue ditunjukkan adegan-adegan penuh kemesraan antara Hidjo dengan tunangannya, Biroe. (Disini ada poin plus, karena sang penulis mampu menggambarkan suasana kemeriahan di Sriwedari pada tahun segitu dengan cukup detail).
Oke, karena udah tunangan sama Hidjo, jadi yaa gue pikir cerita romance hanya bertumpu pada kegalauan Hidjo dan Biroe yang mesti LDRan karena si Hidjo mesti lanjut kuliah di Belanda.
BUT NOOOO! tiba-tiba muncul karakter baru bernama Woengoe (cewek) dan Wardojo (cowok) yang notabene adalah anak pejabat, dan orangtua mereka adalah teman baik dari orangtua Hidjo.

Untuk menggambarkan seberapa bingungnya gue dengan alurnya, singkatnya begini: Hidjo cinta Biroe, Biroe juga cinta Hidjo, ternyata Woengoe juga cinta Hidjo, dan Wardojo cinta Biroe. Secara tidak langsung, Wardojo sayang juga dengan Woengoe. Di Belanda, Hidjo suka sama Betje, dan Betje cinta Hidjo, tapi Hidjo masih memikirkan perasaan Biroe. Di Jawa, ada seorang Controleur bernama Walter yang punya kekasih bernama Roos. Roos cinta Walter, tapi Walter benci Roos. Karena Walter menaruh hati pada Biroe. Lha, cerita studentnya mana? KAGAK ADA!

Pokoknya endingnya ga akan sesuai dengan perkiraan lo. Mesra-mesraannya sama siapa.. eh ga taunya kawin sama siapa. Sampe gue mikir, ini ngawinin karakter seenaknya banget kayak ngawinin ayam.

Tapi yaa.. gue apresiasi lah, tahun segitu termasuk hebat lho udah bisa bikin karya seperti ini. Makanya gue persembahkan respect gue dalam bentuk 3 bintang aja deh.
Profile Image for Nadia Fadhillah.
Author 2 books43 followers
December 1, 2012
Buku ini HARUS dibaca tiap anak Indonesia. Sekali lagi: HARUS.

Ceritanya sederhana, tidak banyak konflik, dan happy ending. Maka dari itu, cerita ini bisa dibaca siapapun, bahkan tiap anak Sekolah Dasar di Indonesia.

Kenapa kubilang harus? Barangkali sama seperti alasan kenapa buku ini dilarang Pemerintah Kolonial. Karena ya, orang Hindia memang tidak perlu lah membudak pada orang Belanda. Dan paradigma bukan budak memang harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak Indonesia, agar tidak menjadi generasi dengan pikiran terjajah. Apalagi sudah terlanjur banyak yang membaca buku semacam Laskar Pelangi itu. *ah masih dendam*

Ungkapan lucu di buku ini, bahwa ada tertawa penuh, ada setengah tertawa, dan ada seperempat tertawa. Ada ya.

Student Hijo diterbitkan bersambung tahun 1918. Anak muda seratus tahun lalu menggunakan bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa sekaligus. Bahasa campuran digunakan dalam bahasa gaulnya. Yang aku penasaran, seperti apa bahasa Indonesia sehari-hari sekarang, yang akan dibaca orang-orang 100 tahun mendatang? Apa ciyuus? Miapah?
Profile Image for Gusti Malik.
32 reviews5 followers
June 27, 2017
Too many unexplained side story, this book is not adequate for my taste.
Profile Image for Muhsin Ibnu Zuhri.
23 reviews
October 16, 2025
Novel Student Hidjo diterbitkan secara berkala di koran Sinar Hindia tahun 1918 kemudian dibukukan 1919. Pengarang buku ini ialah Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis yang dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda pada waktu. Selain sebagai jurnalis, Mas Marco juga berlaku sebagai pengarang. Sebelum buku ini, ia menulis novel Mata Gelap (1914) lalu Sair Rempah-rempah yang dikarang dari dalam penjara (1918). Lalu bagaimana bisa disebutkan bahwa buku ini termasuk buku yang dianggap menghasut dan menciptkan kegaduhan publik kala itu? Berikut singkat alurnya.

Syahdan, ada seorang sepasang saudagar dari Solo bernama Raden Potronojo dan Raden Nganten. Sang suami ingin mengirimkan anaknya yang bernama Hidjo untuk meneruskan pelajaran ke Belanda setelah kelulusannya dari HBS. Alasan sang ayah menyekolahkan anaknya ke Belanda tidak lain untuk membuktikan bahwa bangsa asli saat itu sering dianggap rendah oleh bangsa Eropa.

Hidjo mengiakan untuk menuruti kemauan orang tuanya. Ia pun pergi dengan meninggalkan orang tuanya dan tunangannya Raden Ajeng Biroe. Biroe tidak lain anak perempuan dari ibu Hidjo, jadi statusnya adalah sepupu Hidjo. Dengan keadaan itu, maka keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh.

Setelah kepergian Hidjo ke Belanda, Radeng Nganten, Ibu Biroe, dan Biroe pergi ke Barataadem. Inilah tempat pelesir untuk menyembuhkan diri dari kegalauan. Ibu Hidjo pergi ke sana untuk mengurangi rasa sedih atas kepergian anak sematawayangnya. Di sanalah keluarga Hidjo bertemu dengan keluarga Raden Ajeng Woengoe. Woengoe adalah anak perempuan dari seorang pejabat Regent daerah Djarak. Ternyata Hidjo, saat masih di HBS, sangat akrab dengan kakak Woengoe yang bernama Raden Mas Wardojo. Beberapa kali Hidjo sering berkunjung ke Djarak.

Pertemuan itu membuat keluarga Hidjo dan Regent Djarak semakin dekat, terutama Biroe, Woengoe, dan Wardojo. Di tempat lain, Hidjo sudah sampai di Belanda dan dititipkan oleh seorang kenalan gurunya. Tuan rumah tersebut memiliki dua orang anak bernama Betje dan Marie. Di sinilah Betje ternyata menyukai Hidjo, dan Hidjo pun lambat laun tertambat pada Betje.

Hubungan asmara Hidjo dan Betje semakin intim. Alih-alih diteruskan, Hidjo merasa bersalah dengan hubungan itu karena ia memiliki keluarga di Djawa. Ia tidak mau tersangkut hidup berbudaya Eropa di Belanda, maka dia memutuskan memutus Betje dan pulang ke Hindia.

Di sini terlihat ada hubungan asmara yang agak rumit. Biroe yang mulanya tunangan Hidjo jatuh hati pada Wardojo. Kontroler Djarak Walter menyukai Woengoe tapi bertepuk sebelah tangan, sebab Woengoe menyukai Hidjo. Meski begitu, Walter sebenarnya sudah memiliki kekasih lain bernama Jet Roos.

Di akhir cerita, Mas Marco menyisipkan sedikit terkait dengan organisasi Sarekat Islam. Di sini diperlihatkan bagaimana anak muda zaman itu sangat menyambut positif untuk mulai berorganisasi. Representasi ditunjukkan oleh keluarga Hidjo dan Regent Djarak mengikuti acara perkumpulan S.I.

Akhir certita, Hidjo menikah dengan Wongoe. Biroe menikah dengan Wardojo. Walter menikah dengan Betje. Dan Jet Roos menikah dengan teman Walter yang bernama Adminitratur Boeren.

Jikalau dilihat dari alurnya, kita akan bertanya-tanya. Apa berbahayanya kisah ini?

Kesetaraan

Kesetaraan dalam novel ini sangat kuat sebagai premis. Semua bermula dari kesadaran Raden Potronojo yang merasa direndahkan karena dirinya bukan dari bagian pemerintahan. Masyarakat asli dianggap rendah atas nama bangsa dan ras. Premis ini, dilihat pada masa itu, tentu bisa diraba sangat provokatif terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Pengarang Mas Marco mencoba untuk memberikan sebuah proposal pengajuan konsep. Bahwa satu-satunya yang bisa menaikkan derajat masyarakat lokal pada waktu itu adalah Pendidikan. Pendidikan, bagi Marco, adalah jalan paling cepat menuju kesetaraan kemanusiaan. Sebab itu tidak heran jika Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan politik etis jauh setelah mereka ikut mencari untung di tanah Hindia. Membiarkan masyarakat bodoh adalah politik paling kejam, bagi Marco.

Dalam salah satu alur, Mas Marco lewat tokoh Hidjo menunjukkan bahwa bangsa Belanda dan Djawa tidak ada bedanya. Saat Hidjo sampai di Belanda, ia melihat banyak orang Belanda yang kerja sebagai babu dan memiliki mental inlander. Mereka menganggap setiap orang Hindia yang belajar ke Belanda pastilah orang berduit. Di situlah Mas Marco piawai dalam menunjukkan relativitas pandangan. Kita akan terus terkesima dengan tampilan luar seseorang sampai kita tahu keadaan rumahnya sendiri.

Bahkan dari kacamata Kontroler Walter saat di atas kapal yang bertemu dengan Jendral. Dia mencemooh sikap Jendral yang memaki-maki jongos Hindia. Dia bilang bahwa kebanyakan orang Belanda miskin dikirim ke Hindia untuk mencari untung. Saat mereka kaya, mereka menjadi sombong. Maka tidak heran jika banyak orang Belanda yang ingin tinggal di Hindia daripada harus pulang ke Belanda dan menjadi buruh lagi.

Tidak hanya itu, kesetaraan itu juga ternyata yang menciptakan konflik turunan dalam cerita ini. Ini juga yang diambil Marco sebagai bentuk ideal sebuah tataran kemanusiaan. Walter yang berkebangsaan Eropa sangat terkesima dengan adat Djawa, bahkan dia mengatakan bahwa banyak adat Djawa yang lebih baik dari adat Eropa. Dia juga bisa menyukai Woengoe, orang asli Djawa, dengan sungguh. Begitu juga Betje terhadap Hidjo. Kelas rasial ini dihilangkan sama sekali. Bahkan terlihat Marco ingin mengolok-olok bangsa Eropa dengan cara menempatkan Betje yang sering memanggil Tuan pada Hidjo. Bahkan Marco menghilangkan sekat partikelir dan pemerintahan. Hubungan Biroe dan Wardojo menjadi representasinya. Semua tokoh yang ada di sini diciptakan untuk hidup masing-masing tanpa sekat kelas kebangsaan dan pangkat.

Sepertinya, bayangan ideal Marco hari ini memiliki beberapa relevansi secara sosial.

Pertama, perihal orang tua yang menentukan perkawinan anaknya. Hari ini anak memiliki kebebasan lebih untuk menentukan pilihannya. Dalam novel ini, tidak ada sikap resisten terhadap keputusan orang tua. Sebagai dampaknya, banyak anak yang membujang sampai tua karena tidak lantas menentukan pilihannya. Jika mereka diintervensi orang tua, paradigma keterlibatan orang tua ini dikritiknya.

Kedua, banyak masyarakat Indonesia yang menjadi orang penting berskala internasional. Mereka bisa menunjukkan bahwa mereka kompeten. Bahwa Pendidikan telah mengantarkan mereka kepada kesetaraan.

Ketiga, paradigma mental budak masih belum sepenuhnya terkikis. Kita masih bisa melihat bagaimana pandangan kita terhadap bangsa kulit putih. Kita suka terkesima dengan mereka karena standar kecantikan kulit putih yang masih tertanam di benak kita. Saat kita melihat turis, kita langsung mengajak swafoto. Semua ini masih terus melekat bagi masyarakat yang jarang bersinggungan dengan komunikasi antar-bangsa.

Keempat, kebudayaan kita akan terus selalu berkembang. Semua karakter Djawa di sini menunjukkan bahwa mereka sudah terpengaruh akan gaya Eropa. Mulai dari pakaian, bahasa, dan juga kesenangan. Jadi, untuk menciptakan tatanan sosial ideal adalah membumikan kebudayaan asimilasi ini dalam tingkat kewajaran lumrah.

Kelima, kecintaan terhadap kebangsaan. Hidjo memiliki potensi untuk menetap menjadi warga Belanda, namun dia tetap kekeuh untuk pulang ke Hindia dan hidup di sana. Perasaan primordial dalam batinnya, dikuatkan dengan pengetahuan modernya membuat Hidjo menjadi lelaki yang tahu akan sikap keberpihakannya.

Keenam, keterlibatan organisasi. Banyak organisasi masyarakat yang muncul, akan tetapi sedikit yang menunjukkan visi misi yang jelas. Hal ini mengakibatkan sikap skeptis anak muda terhadap organisasi yang dianggap hanya mencari swadaya saja tanpa mengajak masyarakatnya ke arah yang lebih konkrit.

Dengan ini tidak heran jika novel yang sederhana ini cukup mengkhawatirkan pemerintah Belanda. Bagaimanapun, novel ini penting untuk dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Metta.
84 reviews1 follower
September 21, 2024
Ini kayak novel wattpad tapi ditulis di era sebelum perang.
Ga tau kenapa buku ini dideskripsikan sebagai sastra perlawanan karena sebagian besar isi buku cuma menggambarkan percintaan anak-anak remaja dan kehidupan hedonisme bangsawan bumiputera (sebutan untuk penduduk asli Indonesia) kala itu. Porsi narasi yang dianggap "perlawanan" terhadap kependudukan Belanda sedikit banget. Mungkin saja di tahun 1918 porsi sedikit tersebut sudah bisa menghidupkan gelora melawan Belanda dan dianggap sebagai pelopor sastra perlawanan tapi saya sebagai pembaca di era modern ngerasa buku ini overclaim. Apalagi karakter si tokoh utama, Hidjo, ga ada bagus-bagusnya. Ga sesuai dgn judulnya yang menyandang kata student. Kecewa :(
670 reviews13 followers
June 25, 2011
I don't get it. Is it a love story with some political aspect or is it a politically-charged writing with some love intrigues (if it can be called an intrigue)? The love story is very lame. The political part springs up from nowhere going nowhere.

The editing is extremely poor and the translation the most horrible of them all. I never have any formal education of Javanese languange, but I know much better than to translate "idep dekeng" as "alis yang melengkung". I'm contemplating....should I go ahead and accuse that they just plug in the text to Google Translator?

A total waste of time.
Profile Image for Gigrey Gigrey.
Author 6 books166 followers
September 30, 2023
Aku kira ini bercerita tentang konflik intelektual politik ternyata novel romansa segi empat dan sedikit konflik moral yang dirasakan karakter-karakternya.

Yg bikin sedikit kaget dan kurang nyaman cuma bagian dimana karakter perempuannya di jauh di bawah umur. Tapi mau bagaimana lagi, toh dulu pada kenyataannya banyak perempuan usia tiga belas sudah dinikahkan (termasuk nenek saya).

Sama penyelesaian konfliknya terlalu tergesa-gesa. But overall its a nice-quick read and banyak insight baru tentang latar tahun abad 20 awal.
Profile Image for Avif Aulia.
60 reviews5 followers
July 23, 2025
Saya diberi tugas mengkaji sastra klasik oleh dosen, dan buku inilah yang saya pilih, dengan harapan besar bahwa buku ini akan menelanjangi habis-habisan soal diskriminasi pada masa kolonial. Tapi yang lebih dominan nyatanya kisah cinta. Novel percintaan klasik dengan sedikit bumbu kritik. Kemudian saya mafhum, kapan dan di situasi seperti apa buku ini ditulis oleh Marco. Tipikal roman klasik memang begini.
Profile Image for Rio Johan.
Author 7 books122 followers
January 31, 2014
Andaikata yang jadi pasangan pada akhir novel: Hidjo-Betje, Walter-Woengoe, dan barangkali bolehlah Biroe-Wardojo.
Profile Image for Hëb.
170 reviews7 followers
October 23, 2021
Ada ekspektasi yang cukup tinggi sebelum membaca buku ini. Selain karena ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo, buku ini ditulis pada zaman yang cukup dekat dengan latar waktu dan peristiwa yang dipaparkan dalam cerita. Sayangnya, ekspektasi tersebut tidak terlalu terpenuhi, terutama di bagian kehidupan Hidjo sebagai student di Delf, Belanda. Judul buku ini bisa saja "Student Hidjo", namun terlalu banyak menceritakan romansa antara Hidjo, Raden Adjeng Biroe, bahkan Betje, seorang gadis Belanda. Sedikit sekali menemukan kehidupan Hidjo sebagai pelajar rantau yang dikisahkan di buku ini. Kehidupan Hidjo di Belanda justru lebih diceritakan sebagai pemuda yang bebas dan hidup nyaman di negeri orang.

Meskipun demikian, ada beberapa hal yang menarik dan patut digarisbawahi di sini. Pertama, Mas Marco menggambarkan bagaimana kehidupan priyayi Jawa pada tahun 1900-an dengan sangat apik. Mulai dari deskripsi tentang keluarga, maupun dari pembawaan tokoh-tokoh yang bergelar "raden" tersebut. Kedua, Mas Marco juga menunjukkan mengenai persepsi segelintir orang Belanda terhadap bumiputera, pun juga menunjukkan persepsi bumiputera terhadap Belanda. Bagian paling menarik tentang hal tersebut ada di interaksi antara Hidjo dan gadis-gadis Belanda, Controleur Walter dengan Sergeant Djepris, dan artikel "Bangsa Belanda di Hindia". Ketiga, buku ini juga menyoroti mengenai SI alias Sarekat Islam tahun 1913 yang mengadakan Kongres Kedua di Sriwedari, Solo.

Untuk segi bahasa dan penulisan, aku cukup nyaman membaca tulisan yang ditulis tahun 1918 ini, meskipun terdapat banyak bahasa Belanda yang dicampur dengan bahasa Melayu. Hal tersebut sangat terbantu dengan adanya catatan kaki yang menjelaskan arti, meskipun kudapati tidak semua kata dalam bahasa Belanda diartikan dalam bahasa Indonesia. Selain itu, terdapat juga tulisan yang menggunakan bahasa Jawa dan ejaan lama, namun kurasa itu semakin menunjukkan karya ini sebagai karya yang "lahir pada zamannya". Cara Mas Marco dalam membangun narasi juga tidak menjemukkan atau membingungkan pembaca.

Jadi, bagi siapapun yang menyukai cerita dengan latar kolonial, aku merekomendasikan ini!
5 reviews
April 14, 2021
I choose this book because many sources claim this piece is the start of the resistance literature of Indonesia. I wasn’t hoping that this piece would be as critical as Pram’s quartet books or other works from Chairil since they are from different periods.

Marco wrote Student Hidjo before Balai Pustaka formed. Harian Sinar Hindia published it for the first time in 1918. Balai Pustaka refused to publish the book because of the style and provocative storyline. It was distributed to readers as illegal work. After a year, they published Student Hidjo as a book.

This is not a reciprocate plotted novel. Marco used the romance genre to squeeze the symbols of resistance in the love events of the story. You may be focus to Biroe and Woelan feelings to Hidjo, or Hidjo to Betje in Delft. It is indeed a complicated love story and matchmaking. Javanese matchmaking culture was very strict. But pay attention also to Walter that couldn’t marry Woelan because of her father's Ideology of intermarriage. Pay attention to Walter’s writings about his opinion about the proud Netherlands that lived in Indonesia. If the book perplexed you about where is the moral of the story, please look at Hidjo feeling after being seduced by Betje.

Please read it carefully. Understand that he set the story before Indonesia liberates. Only a few Indonesian students can study abroad at Delft. A lot of Indonesian people were proud to be like the dutch. People of the Netherland thought of Hindian as thieves. And Marco wants to tell the readers not only from Indonesian perspectives but also from Walter’s perspectives as a people of the Netherland.

You may not satisfied after reading this piece of Marco. It’s not as spicy as other Indonesian resistance literature. But if you want to know how Indonesian writers developed through time and being resistant to the colonial system that rooted in Indonesia for 315 years, you can start with this piece.
Profile Image for Faris Rahmadian.
18 reviews5 followers
January 1, 2026
Cerita ringkas dan cukup antiklimaks. Tentu terdapat beberapa 'values' yang disuguhkan buku ini, khususnya tentang bagaimana kolonialisme dan feodalisme di Indonesia berjalan sistemik dan merasuk hingga budaya sehari-hari; dari Hidjo yang menginternalisasi rasisme dengan mengatakan "kulit coklat itu kotor" hingga analisis antropologis-permukaan tentang mengapa orang Belanda sering mejelekkan kaum bumiputera dan vice versa. Sangat menarik mengingat bagaimana Mas Marco menuliskan ini di Tahun 1918.

Namun, yang terlalu dominan dari cerita ini adalah kisah cinta elit-feodal si Hidjo yang terlalu tergesa-gesa dan kerap dibalut dengan deretan teks prasangka seksis. Ambil contoh di halaman-halaman awal, orang tua Hidjo mengatakan "tentu kau sudah paham betul bahwa maisjes di Negeri Belanda itu sering menggoda kepada anak-anak muda yang datang dari Jawa dan...", hingga di pertengahan narrator yang mengatakan "Gadis-gadis yang saban hari bergaul dengan Hidjo, semakin bertambah berani menggodanya. Begitu juga Hidjo, bertambah hilang kesopanannya, lantaran gadis-gadis Belanda yang tidak begitu memedulikan adat kesopanan itu".

Perempuan digambarkan (lagi dan lagi) sebagai biang ketidaksopanan serta gangguan moral. Agensi aktor lain selain Hidjo (terutama yang perempuan) hampir nihil, seolah semuanya terpusat pada Hidjo, dan dia adalah alam semesta. Cukup gila, jika mengingat ia semacam kutu buku obnoxious dan bahkan tidak bisa masak nasi goreng. Aspek lain dari kehidupannya atau bagaimana ia memanifestasikan pengetahuannya untuk mengkritik atau melawan suatu norma kolonialisme atau apapun juga tidak muncul. Namun, jika intensi utuh dari Mas Marco adalah menunjukkan bagaimana feodalisme menghasilkan manusia yang mudah dibenci seperti Hidjo, maka dia jelas berhasil. Sedikit terkait dan sebagai pengingat, jangan lupa untuk membaca "Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia" oleh Aidit.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
February 26, 2019
Don't judge the book by it's title. Setidaknya, asumsi itu yang kembali saya ingat ketika melewatkan beberapa bab di buku ini. Bayangan tentang Student Hidjo dengan sampul vintage tentunya terkait bagaimana Hidjo mendapatkan pendidikan selama masa Belanda berkuasa. Tapi bukan tentang itu.

Buku ini bercerita tentang intrik hubungan romansa antara Hidjo, tunangannya, adik kawannya, dan anak tuan tempat mukimnya di Belanda. Like what? Lalu, ada pula dua laki-laki lain yang turut "berebut" wanita itu. Berputar di situ-situ saja sebenarnya, hingga ending yang cukup Hmmm...

Terlepas dari kisah cinta yang pelik itu, saya me-highlight beberapa poin.

"Karena sesungguhnya manusia itu tak ada biedanya, baik bangsa bumiputera maupun bangsa Belanda dan lain-lain." Pesan ini menyuratkan betapa kesetaraan ras diusung begitu kuat dalam Student Hidjo. Ada beberapa bagian yang mengulang nilai ini, meskipun rasionya begitu jomplang dengan pembahasan perasaan tiap tokoh.

"Apakah Raden Ayu dan Raden Mas Tumenggung tidak malu mempunyau anak kawin dengan anaknya orang yang hina seperti kita?" Di sini, tokoh masih juga menunjukkan betapa setiap orang memiliki kedudukan yang sama. Terlepas dari jabatan atau kelas sosial yang berbeda, tetapi "semua manusia itu sama saja". Di sini juga terlihat, betapa balas budi orang tua dengan mengawinkan masing-masing anak merupakan hal lazim, meski tentunya tetap mempertimbangkan consent dari kedua mempelai.

"Biar orang laki-laki yang masak sendiri dan mengatur rumah tangga sendiri!" Isu kesetaraan gender juga disampaikan lewat sedikit penggalan dialog karakternya. Terlihat jika urusan domestik masih dipandang sebagai pekerjaan kaum perempuan. Namun adanya perlawanan meski dilandasi dengan gurauan merupakan kemajuan yang cukup baik untuk disambut.
Profile Image for Aynee.
14 reviews
September 2, 2025
saya selalu antusias ketika menemukan karya-karya lama, seperti novel atau cerita yang diterbitkan jauh sebelum indonesia merdeka. hal itu membuat saya mulai ingin mencoba membaca dan memahami karya-karya klasik yang ditulis oleh penulis-penulis zaman dahulu.

saya ketika menemukan buku ini, saya sangat antusias. karna jujur, saya rasa dengan saya membaca karya-karya lama, itu bisa membantu membangkitkan jiwa nasionalisme saya. ketika saya baca judul buku ini, saya kira buku ini sebagian besarnya menceritakan tentang semangat juang bagaimana pahlawan zaman dahulu berjuang melawan belanda. seperti judulnya "student hidjo".
saya berpikir buku ini akan seseru kisah para pahlawan nasional indonesia ketika mereka belajar di nederland.

tapi buku ini justru menceritakan tentang kisah cinta si tokoh utama yang bernama hidjo. sebagian besar cerita ini berisi tentang kisah cinta. walaupun memang latarnya benar-benar ditahun 1918, disana juga digambarkan bagaimana keadaan sosial antara orang belanda dengan orang bumiputra(pribumi). sehingga ini juga menguntungkan untuk saya. saya jadi bisa tahu sedikit gambaran bagaimana keadaan sosial pada zaman itu.

jadi menurut saya, buku ini adalah kisah cinta dengan background penjajahan belanda. benar-benar hanya menceritakan kisah romansa saja, tidak ada bumbu-bumbu pemberontakkan. dan ini membuat saya berpikir, ternyata zaman dahulu pun banyak juga ya orang-orang yang menggemari kisah romantis. persis seperti di masa sekarang.

tapi dengan buku ini, saya bisa tau seperti apa budaya dan kebiasaan orang-orang zaman dahulu.

yapp cukup recomended siih buat kita generasi z yang penasaran seperti apa sih kehidupan indonesia sebelum kemerdekaan.
Profile Image for Jenny N.
8 reviews2 followers
March 16, 2021
Buku ini merupakan salah satu novel perintis sastra perlawanan, begitu yang tertulis pada belakang buku terbitan Narasi tahun 2018. Bercerita tentang anak seorang saudagar bernama Hidjo yang meneruskan studi ke Belanda dan kehidupan kerabat-kerabat Hidjo di Hindia Belanda selama ditinggal Hidjo ke Belanda.

Barangkali yang menjadikan novel ini sebagai salah satu novel perlawanan ada di bagian bab XVII. Di bab ini diselipkan brosur berjudul "Bangsa Belanda di Hindia" yang isinya kurang lebih berisi kritik kepada orang Belanda yang menganggap pribumi (yang sepertinya ditujukan kepada Orang Jawa. Anda akan paham kenapa saya bilang orang Jawa jika membaca konteks pada novel ini) adalah manusia rendahan dan tak tau adab.

Sebenarnya, menurut saya poin utama dari cerita ini adalah kisah cinta antara Hidjo, Biroe, Woengoe, dan Wardojo yang rumit. Bayangkan saja, Hidjo adalah tunangan dari Biroe, namun dia menaruh hati pada Woengoe, Woengoe juga menaruh hati pada Hidjo tetapi tahu diri karena Hidjo adalah tunangan orang lain, sedangkan Biroe ternyata tertarik pada saudara laki-laki Woengoe, yaitu Wardojo. Mungkin Anda pusing membaca penjelasan saya, karena saya juga. Namun, jika Anda berharap kisah cinta ini berjalan secara dramatis sampai tiap tokoh membunuh sama lain, lebih baik Anda cari novel lain saja, karena hal itu tidak akan terjadi di cerita ini.

Terlepas dari isi cerita novel yang menjadikan penjajahan dan ketidakadilan yang terjadi hanya sekadar tempelan (bagi saya), membaca novel ini membuat saya ingin belajar di Belanda.
Profile Image for Tri Wahyudi.
49 reviews
January 9, 2026
Selesai baca buku Student Hidjo karya Marco Kartodikromo. Bukunya nyeritain Hidjo, pemuda pribumi asal Solo yang pergi ke Belanda buat belajar. Bukunya ternyata fokus ke romansa Hidjo dengan Betje, gadis Belanda, terus Raden Ajeng Biru, tunangannya dan Raden Ajeng Wungu, adik teman sekolahnya. Laris manis si Hidjo ini banyak penggemarnya.

Awalnya bingung judul buku dan isinya, tapi sadar kalau ini tuh dulunya cerita bersambung surat kabar harian, mungkin ya supaya banyak yang baca bumbu romance-nya porsinya lebih banyak dan selipan buat mengkritik Belanda tipis biar gak ketawan. Asumsi ku ya.

Contohnya ada pembahasan jangan takut sama orang Belanda yang sok berkuasa di Hindia Belanda (Indonesia), di negara asalnya mereka cuma pengangguran, miskin dan bermasalah, makanya mereka nyari duit di Hindia Belanda. Terus diselipin momen pertemuan Sarekat Islam di Solo, organisasi pergerakan nasional yang pada masa itu gigih melawan penjajah Belanda. Bayangin loh era kolonial Belanda berani nulis kaya gini, makanya penulisnya ditangkap Belanda kan.

Alurnya maju mundur maju, terus bahasanya juga zaman dulu cuma masih aman sih mudah dimengerti. Menariknya ada banyak bahasa Belanda gitu dalam percakapan. Lumayan belajar dikit-dikit, kaya leerar itu guru, kom itu ayo, horloge itu jam tangan, vergadering itu pertemuan.

Bukunya tipis cuma 200 halaman, kalau pengen tahu suasana Solo, Baturaden, kabupaten Jarak di era kolonial Belanda bisa baca buku ini. Ada juga suasana kota Den Haag dan Amsterdam pas Hidjo ke sana.
Profile Image for Stoberi Frambos.
22 reviews
July 10, 2025
After reading a couple pages, tbh i dont think its my type of book. Just appreciate the way of writing is like hearing someone telling a story and yeah thats reason for keep reading till finish

I dont like a whole story and Hidjo. He's bastard. WYM, HE LEFT NETHERLANDS COZ KNOWING HE WILL MARRY WITH ANOTHER GIRL AFTER FUCK WITH BETJE. UH I HATE THIS BOY. AND BETJE ENDED UP WITH ANOTHER BASTARD MEN.

Pesannya apa yang mau disampeiiin? Perempuan Belanda ya pantesnya sama laki-laki Belanda yang biadab gitu? Perempuan Belanda nggak pantes dapet pribumi karena perlakuan para kompeni?

Yah lagi-lagi karena cerita ini beredar tahun 1918-an, jadi hal tersebut lazim. Tapi sayang sekali, padahal penulisnya termasuk orang progresif.

Cerita yang menarik hanya bagian Controleur menjelaskan bahwa semua manusia itu sama saja. Buku ini sepenuhnya imajinasi liar terhadap perempuan. Bukan tentang semangat Hidjo menempuh pendidikan di Netherlands, pun bukan sepenuhnya tentang Hidjo.

Ini masuk kategori romance si, harusnya. Tapi genre hisfic bisa berkaitan dengan latar di masa lalu juga, jadi nggak salah juga buku ini kategori hisfic.

Beruntung cara penulisannya bagus dan masih bisa dinikmati.
Profile Image for Sabrina.
49 reviews2 followers
August 18, 2025
Tertarik baca buku ini dikarenakan melihat judul, cover dan sinopsisnya namun sayang isinya berbeda. Ekspektasiku saat membaca buku Student Hidjo ini adalah mendapatkan gambaran mengenai sistem pendidikan di Belanda untuk bangsa Indonesia berlatarkan saat Belanda menguasai Hindia Belanda. Pada sinopsisnya menceritakan tentang Hidjo yang pergi ke Belanda untuk menimba ilmu. Namun, aku mendapatkan perspektif baru dalam buku ini. Buku Student Hidjo memperlihatkan perbedaan budaya dan norma antara bangsa Indonesia maupun bangsa Belanda, terutama dalam hal asrama dan tata krama.

Selain itu, karena Student Hidjo ini merupakan karya sastra lama sehingga gaya bahasanya cenderung mengikuti pada zaman tersebut sehingga saat membacanya berasa bertele-tele. Dalam buku ini pun banyak terselip bahasa Belanda yang hanya sekali muncul terjemahannya. Ketika menemukan kata tersebut sebanyak lebih dari sekali, aku merasa kebingungan karena tidak ada terjemahan dibawah bukunya (terjemahan hanya diletakkan satu kali). Akan tetapi, aku tertarik dengan gaya bahasa surat menyurat di dalam cerita ini karena menggunakan ejaan lama.
Profile Image for Yodha Ardell.
21 reviews
November 3, 2025
Review Student Hidjo —

Beli buku ini di Jogja karena diskon, gatau apa isinya dan tentang apa, karena kayaknya menarik, yaudah kubeli. Baca blurp di belakang, ternyata ini buku 100 tahun yang lalu (1918). Wow, aku baca cerita yg mungkin sama kayak yg dibaca buyutku wkwk.

Okayyy, kupikir, di awal, isinya tuh bakal kayak cerita Minke yg belajar as a "student" in somewhere school, but... dikit bngt kesan tentang itu. Lebih ke cerita romansa nemplok sana sini kayak cerita picisan tapi dngn latar jadul. Si Hidjo yang awalnya sama Biroe di Sriwedari (karena ak di deket Sriwedari, jadi bayangin suasana ramai dan pesta saat itu), trs mereka LDR an karena Hidjo ke Belanda. Di Belanda, dia naksir sama Betje. Eh di Hindia, ada tokoh namanya Woengoe (cewe) dan Wardojo (cowo).

Si Woengoe naksir Hidjo. Si Wardojo naksir Biroe, tapi naksir jg sama Woengoe. Si Hidjo yg di Belanda naksir Betje, tapi mikirin perasaan Biroe di Hindia. Like... Woy apaan inihhhh

Picisan dah, cerita dulu ternyata sama aja kayak sekarang, naksir nemplok sana sini kek laler. But, this book gave me some happiness, karena bisa tahu kalau ternyata orang dulu juga suka sm cerita picisan gini wkwkw
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews2 followers
July 26, 2017
Saran saya, jangan terlalu dalam berekspektasi sebelum membaca novel Student Hidjo ini. Banyak yang termakan ekspektasi terhadap nama Mas Marco dengan background orang buangan di masa Belanda dan keterlibatannya dalam PKI. Juga bila dibandingkan dengan tulisan Mas Marco lainnya, Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel, novel ini terkesan amat apolitis. Memang untuk orang awam, termasuk saya, novel ini hanya terbaca sebatas roman saja. Tapi bila dipahami lebih dalam, ada poin-poin yang berusaha Mas Marco munculkan. Poin paling berat yang berhasil saya dapat adalah perbandingan keberadaban kaum Pribumi (digambarkan Raden Hidjo dan famili sebagai orang Jawa) dan kebejatan kaum Barat. Sedikit mengherankan juga apabila terpikir seorang tahanan di pengasingan untuk bisa membuahkan tulisan manis semacam ini, namun itu pula yang ajaib. Memang dari sisi radikalisme aktivis novel ini tergolong standar atau bahkan kurang, tapi dari sisi imajinasi, novel ini jauh melampaui masanya, apalagi kalau dibanding novel macam Tere Liye.
Sekali lagi, jangan terlalu berekspektasi.
Profile Image for aulie.
7 reviews
December 14, 2024
Pertama kali baca buku ini untuk keperluan UAS di kelas, and i could say i don’t like it at all. Forgive me, lord, i’m only a girl who is barking feminism and sanity. Perkembangan karakter yang menurutku ditulis buruk dan kasar. Pembaca bisa tahu setelah membaca dengan perlahan dan penuh penghayatan untuk menentukan apakah ada perkembangan di dalam sifat tokoh utama terCINTA kita yaitu Hidjo.

Alur ditulis mostly maju (lupa apakah ada flashback). Karakter yang mudah saling melepas, mencinta, dan membenci. Mungkin bentuk keindahannya di situ? Ya, bisa dipikirkan seperti demikian. Inconsistency. What a human. Cukup humanis juga sebenarnya penggambarannya. Dan perlu ditekankan juga cerita ini mengambil sudut pandang orang Hindia Belanda kaya, bukan orang-orang yang jerih payah mencari uang dengan cara menjijikan. Penggambaran isu rasisme tidak terlalu eksplisit, tetapi muncul beberapa kali. Walaupun perlu ditekankan juga jika cerita ini memang lebih berfokus pada unsur romansa sahaja.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Stefani Lestari.
5 reviews
December 9, 2018
Alih-alih novel, sebenarnya ini cerbung (cerita bersambung). Namun memang panjang sekali sehingga ketika dibukukan menjadi berbentuk novel. Novel ini dimuat dalam surat kabar pada masa pergerakan, sehingga banyak unsur partai dan pemerintahan dalam negeri yang terkandung dalam novel ini. Apabila dikaji menggunakan sosiologi sastra, novel ini menjadi sangat-sangat menarik.

Novel ini mengangkat tema pergerakan, gender, dan etnisitas. Yang menarik dari novel ini adalah naa karakternya yang adalah Hidjo, yang bertunangan dengan Woengoe yang memiliki saudara bernama Biroe, sehingga nama-nama mereka mudah untuk diingat. Perlu diingat bahwa Hidjo berangkat ke Belanda untuk belajar. Namun alih-alih belajar, ia malah "dilirik" oleh orang-orang disana.

Saya menyukai akhir novel ini yang memberikan good ending kepada semua karakter, padahal konflik antar etnis serta antar kelompok sangat kental di dalam novelnya.
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
January 28, 2020
Awal saya ingin membeli buku ini hanya karena buku ini terbitan seabad yang lalu, yang mana mungkin akan menarik ceritanya. Setelah selesai membaca saya rasa buku ini menarik, tetapi tentu ada kekurangan dan kelebihannya. Kekurangannya yaitu konflik yang diangkat disini seperti tidak ada dan hanya berkaitan dengan cerita roman saja. Kemudian tidak menceritakan lebih detail mengenai perjalanan studi si Hidjo di Belanda, hanya sekedar plesir dan melancong saja. Untuk kelebihan dari buku ini tentu kita para pembaca dapat menambah kosakata bahasa Belanda ya walau hanya beberapa kata, kemudian bisa melihat beberapa tulisan surat dengan ejaan lama di mana itu yang menambah kesan yang unik dan antik, dan yang terakhir yaitu buku ini kembali menegaskan bahwa semua manusia itu memiliki derajat yang sama, dan tentu tidak semua orang Belanda itu jahat, pasti ada juga yang baik. Begitu pula orang pribumi tidak semuanya jahat, tentu ada juga yang baik. Jadi tak dapat disamaratakan.
11 reviews
May 2, 2025
Hidjo adalah seorang Jawa priyayi yang pergi ke Belanda untuk sekolah. Dia harus meninggalkan tunangannya, Biroe. Di Belanda, Hidjo bertemu dengan Betje yang mencintainya dengan sungguh-sungguh tetapi Hidjo tidak serta merta menerimanya dan di saat yang sama juga tidak sampai hati untuk menolaknya. Lalu bagaimana dengan nasib Biroe?
Buku ini berkisah tentang kehidupan priyayi Jawa dan relasinya dengan pemerintah Belanda. Buku setipis 100-an halaman ini dituturkan dengan bahasa yang masih cukup relevan dibaca di zaman sekarang. Kekurangan buku ini adalah banyak penuturan yang bobotnya cukup banyak untuk informasi yang tidak terlalu penting tetapi pada informasi yang penting-penting hanya dituturkan sangat singkat sehingga terkesan selintas saja. Bahkan, bab epilog cerita ini dituturkan hanya kurang dari setengah halaman. Padahal, di bab terakhir ini ada banyak peristiwa penting yang terjadi.
Displaying 1 - 30 of 103 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.