Jump to ratings and reviews
Rate this book

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Kumpulan Cerita Absurd

Rate this book
Jemu dengan kumpulan cerpen yang melulu soal cinta? Kisah heroik “si baik dan si jahat” penuh pesan moral ala abad ke-18 tidak lagi menarik? Jika ya, jangan ragu untuk membaca kumpulan cerpen ketiga Maggie Tiojakin yang berjudul Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa ini. Setelah menelurkan dua kumpulan cerpen berjudul Homecoming dan Balada Ching-Ching serta sebuah novel Winter Dreams, dia kembali merangkum kumpulan cerpen Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa.

Sebelumnya, koleksi cerpen Maggie lebih menyoroti situasi biasa yang kerap kali terjadi. Kali ini dia menyodorkan sekelumit pengalaman asing, mulai dari peliknya situasi di tengah peperangan hingga perjuangan sekelompok astronaut yang terdampar di Merkurius. Walau demikian, empat belas cerpen bertema absurd yang berangkat dari konsep sederhana ini terasa hidup karena dibangun lewat riset intens.

Konten:

1. Tak Ada Badai di Taman Eden
2. Kristallnacht
3. Lompat Indah
4. Fatima
5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
6. Kota Abu-Abu
7. dies irae, dies illa
8. Saksi Mata
9. Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar
10. Ro-Kok
11. Dia, Pemberani
12. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
13. Jam Kerja
14. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

241 pages, Paperback

First published July 15, 2013

49 people are currently reading
949 people want to read

About the author

Maggie Tiojakin

15 books43 followers
Maggie Tiojakin adalah seorang jurnalis, copywriter, dan penulis fiksi pendek. Karyanya telah dimuat di The Jakarta Post Weekender, Asian News Network (ANN), The Boston Globe, Brunei Times, Writers’ Journal, Voices, La Petite Zine, Femina, Kompas, Eastown Fiction, Somerville News, etc. Buku kumpulan cerpen pertamanya, berjudul Homecoming (and other stories) diterbitkan di tahun 2006 oleh Mathe Publications. Dia juga telah menerjemahkan dan mengadaptasi: buku karya Jason F. Wright yang berjudul Wednesday’s Letters (Surat Cinta Hari Rabu); Sugar Queen karya Sarah Addison Allen; serta mengadaptasi dari film-ke-buku Claudia/Jasmine berdasarkan skrip karya Awi Suryadi. Keduanya diterbitkan Gagas Media (2008/2009).

Saat ini, Maggie tengah menerjemahkan buku karya Sarah Addison Allen yang berjudul Garden Spells. Buku kumpulan cerpen ke-duanya, berjudul Balada Ching-Ching, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, kini telah hadir di toko buku.

Di waktu luangnya, Maggie mengelola sebuah situs gratis yang menghadirkan cerpen klasik karya pengarang dunia baik yang sudah ternama maupun belum dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk asupan masyarakat luas. Situs ini dinamakan Fiksi Lotus.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
154 (28%)
4 stars
201 (36%)
3 stars
143 (26%)
2 stars
38 (6%)
1 star
10 (1%)
Displaying 1 - 30 of 132 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews301 followers
June 1, 2015
Absurd adalah tidak masuk akal, bodoh,
konyol, tidak layak. Saya suka cerita absurd,
bukan karena di kehidupan nyata saya kerap
menemui kejadian yang konyol juga, tetapi di
balik cerita absurd biasanya terdapat tema
cerita yang umum, tema cerita yang kerap kita
dapatkan di buku lain. Hanya saja penulis
menyajikannya secara berbeda, cerita yang
tidak biasa, cerita yang tidak pernah kita
pikirkan akan ada. Tugas pembaca adalah
menemukan tema biasa tersebut di dalam
cerita yang tidak biasa.

"Harus ada pahlawan, ada penjahatnya gitu.
Yang baik harus menang. Biar bisa
menginspirasi." Tapi tugas saya bukan
mengispirasi, malainkan bertanya. - Maggie
Tiojakin Tentang SKTLA

Saya biasa membaca pengantar dari penulis
sebelum langsung ke menu utama, menyelami
kenapa bisa ada cerita tersebut. Maggie
menjelaskan (atau curhat) tentang datangnya
ide mengumpulkan cerita absurd, dia sering
mendengar komentar dari teman-temannya
perihal cerita yang sering dia buat: sengaja
menulis cerita aneh dengan karakter aneh,
alur aneh dan ending yang tak jelas. Cerita
yang dia buat jauh dari heroisme dan dia
sengaja memilih nama yang tidak lazim agar
karakter dalam ceritanya kosong. Dia tidak
menyuguhkan cerita motivasi, keindahan atau
happy ending, tetapi menyuguhkan sekelumit
pengalaman dan membuat kita bertanya apa
yang kita alami selama membaca. Menarik
bukan?

Hampir seminggu lebih saya menyelesaikan
kumcer ini, ada cerita yang bisa langsung saya
pahami dan menjadi favorit, ada juga cerita
yang membuat saya pusing, sebenernya ini
cerita tentang apa? Sebelum membuar
reviewnya, saya melakukan sedikit riset
tentang proses kreatif pembuatan SKTLA,
membaca tumblr -nya dan bagian tentang
mengupas absurditas di fiksilotus.com . Saya
juga membaca cerpen Hujan Berkepanjangan
karya Ray Bradbury untuk membandingkan
dengan cerpen Selama Kita Tersesat Di Luar
Angkasa (SKTLA). Lalu apa yang saya dapat
ketika melakukan riset kecil-kecilan tersebut?
Saya membaca ulang SKTLA dan selesai dalam
waktu tidak lebih dari tiga jam. Tugas saya
adalah menemukan apa pertanyaan Maggie di
setiap cerita yang dia buat, tidak semuanya
karena beberapa pertanyaan sudah dia
bocorkan pada tulisan mengupas absurditas ,
tapi saya bisa membuat pertanyaan sendiri,
bukan?

Tak Ada Badai di Taman Eden
Kalau kita membaca sekilas ceritanya
sederhana, seorang istri yang menunggu
kedatangan suaminya pulang dari kerja sambil
mengintip cuaca di balik jendela, suami
pulang dan merasa lapar kemudian memesan
pizza karena tidak ada makanan di rumah.
Biasa sekali. Tapi dibalik aktivitas tersebut
saya merasakan kekosongan di dalam
hubungan mereka, tidak ada cinta. Satu
kesalahan di masa lalu bisa berakibat fatal
untuk masa depan. Pertanyaan Maggie adalah
bagaimana mereka akan bertahan? Dan
pertanyaan saya adalah apakah benar-benar
tidak ada sedikitpun cinta yang tersisa di
antara mereka?

"Sejak saat itu, hidup mereka tak sama lagi.
Ditengah ratusan, ribuan jejak memori -
kejadian tersebut tersemat bagai duri. Kini
mereka sibuk mencari mimpi dengan cara
sendiri-sendiri: Anouk meyakini bahwa
setahun sekali langit pecah berkeping-keping
dan meninggalkan alam yang tak pasti,
sementara Barney menghabiskan tiga ratus
enam puluh empat hari dalam setahun
memungut kepingan tersebut dan
menyusunnya kembali, menciptakan sebuah
ilusi. Satu demi satu. Bulan demi bintang
demi gumpalan awan. Seperti pasang-
pasangan."

Kristallnacht
"Dalam sejarah Perang Dunia II, Kristallnacht
dikenal sebagai 'malam penuh kristal' atau
crystal night di mana pengikut partai politik
Nazi di bawah pimpinan Adolf Hitler
melancarkan program besar-besaran:
menyerang kediaman, tempat usaha, dan
tempat ibadah warga Yahudi di Jerman dan
Austria pada tahun 1938 dalam periode dua
hari. Kata kristal digunakan untuk
mengilustrasikan kaca-kaca bangunan yang
dihancurkan dan terurai di jalan-jalan kota
selama dua hari itu."

Bercerita tentang sebuah wawancara yang
dilakukan oleh (kemungkinan wartawan)
kepada seorang wanita bernama Shir. Si
wartawan bertanya tentang masa lalu Shir,
tentang kejadian yang membuat dia berpisah
dari kedua orangtuanya dan meninggalkan
satu kesempatan emas pada usianya yang baru
delapan tahun. Membuat Shir menginggat
kembali masa-masa mencekap di dalam
hidupnya, masa di mana dia melihat kedua
orangtuanya ketakutan dan tidak bisa berbuat
apa-apa.

Pertanyaan Maggie di dalam cerita ini adalah
tentang bagaimana kita bisa berdamai dengan
masa lalu? Saya tidak akan ikut bertanya, tapi
saya akan mencoba membantu menjawab Shir
dengan mengambil bagian yang paling
berkesan di buku ini.

Saya bilang, "Jangan sedih. Nanti saya
bawakan oleh-oleh dengan uang yang
saya pegang." Ayah tampak pucat. Lebih
pucat dari sebelum-sebelumnya. Dia
yang mengantar saya sampai pintu
kereta. kami berpelukan lagi. Dia
mencium pipi saya lagi. Saya masih ingat
bau aftersave di pipinya. Kemudian pluit
ditiup, menandakan bahwa kereta akan
segera berangkat. Dari dalam kereta,
saya merasakan mesin lokomotif yang
bergetar. Besi dingin di bawah sentuhan
tangan. Saya duduk di samping jendela
kereta. Ibu berdiri di dekat pilar stasiun,
melambai sekuat tenaga. Ayah berdiri di
bawah jendela kereta, tangan terulur,
kamu terus berpegangan. Lalu, kereta
mulai bergerak...

Tidak mudah, terlebih berhubungan dengan
orang yang sangat kita sayangi. Saya selalu
tersentuh dengan cerita yang bertema
Holocaust, cerita yang menyayat hati. Dari
cerita tersebut kita juga akan merasakan
kesedihan yang mendalam yang dialami anak-
anak yang hidup pada masa itu. Masa yang
memberikan kenangan paling menyakitkan di
ingatan kita.

Lompat Indah
Di cerita ini Maggie ingin menulis tentang
kejadian paling absurd yang bisa terjadi di
kala banjir. Biasanya, orang-orang akan
mengungsi dan mencoba mengatasinya tapi
berbeda dengan Maggie, dia membuat sebuah
permainan. Ahi, seorang remaja yang tidak
punya siapa-siapa malah mengobrol dengan
Sedna, perempuan gila tetangganya dengan
santai di atap genteng, padahal air semakin
lama semakin naik, tapi mereka mengabaikan
peringatan orang-orang, malah saling
berimajinasi. Dan itu jawaban saya untuk
Maggie, berimajinasi.

Fatima
Dibuka dengan cerita yang menengangkan,
seorang prajurit yang bernama Pinot sedang
bertarung melawan musuh-musuhnya dengan
dipandu oleh Fatima, sekertaris eksekutif yang
bertugas memberikan data intel dari markas
besar. Endingnya benar-benar tak terduga.
Mungkin pertanyaan Maggie di cerita ini
adalah bagaimana rasanya masuk ke dalam
dunia game? Dulu waktu kecil, waktu masih
suka maen game saya juga sering bertanya
seperti itu, apakah seseru saat kita
memainkannya?

Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
Tentang quality time seorang ayah dan anak.
Saya setuju dengan pendapat Maggie tentang
sebuah perceraian, bahwa pecahnya sebuah
keluarga adalah kesalahan dari kedua belah
pihak, mereka sama-sama bersalah dan
terluka, dan mereka sama-sama memberikan
dampak buruk dalam perkembangan psikis si
anak. Dalam hal ini Maggie menghadirkan
sebuah cerita dari sisi si ayah. Laven mengajak
putri semata wayangnya, Bitya, hiking di
tempat yang penuh kenangan bagi Laven dan
Nimbe, mantan istrinya. Ketika dia melihat
putrinya girang sekali dan bersenang-senang,
dia menyiapkan makan dan baju ganti untuk
putrinya. Pada saat itulah Laven merasa
sangat ketinggalan mengetahui perkembangan
anaknya, dia tidak melihat anaknya tumbuh
besar hari demi hari. Dia hanya punya waktu
yang tidak lama untuk menyelami kehidupan
putrinya, berbagi waktu bersama.

Pertanyaan yang dibuat Maggie untuk cerpen
ini adalah bagaimana kita melindungi orang-
orang yang kita cintai dari hal-hal yang
berada di luar kuasa kita? Kali ini saya tidak
ingin menjawab atau membuat pertanyaan
baru, saya benci ending di cerita ini, saya
marah sama Maggie.

Kota Abu-Abu
"Apa yang salah dengan comfort zone ?" Tema
yang ingin Maggie tonjolkan di cerpen ini.
Bercerita tentang Remos dan istrinya, Greta
yang bertemu kembali dengan teman lama,
Temuji. Temuji adalah orang yang gemar
bertualang dari kota ke kota, dan saat mereka
bertemu dia bercerita tentang Kota Hitam,
kota yang gelap dan panas, tempat skral yang
hanya boleh dikunjungi oleh orang-orang
tertentu. Dari cerita Temuji, Greta ingin
melihat dunia luar, ingin melihat selain warna
abu-abu, dia ingin melihat sesuatu yang
berbeda, ingin melihat keindahan dunia.
Kebalikan dengan Remos, dia sudah nyaman
dengan tempat tinggalnya sekarang dan
seumur hidup, dia tidak ingin
meninggalkannya.

"Aku yakin kalian tidak pernah kemana-mana,"
ujar Temuji seraya meneguk habis isi gelasnya.
"Kalian tidak tahu ada apa di luar sana.
Keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan
kata-kata."

Waktu membaca cerpen ini saya serasa
ditampar, Saya mirip dengan Remos, jarang
keluar dari comfort zone, saya tidak suka
berpergian jauh dari rumah, bahkan sekolah
sampai kerja pun tidak jauh dari rumah.
Banyak faktor, salah satunya adalah
ketakutan-ketakutan yang saya ciptakan
sendiri. Mungkin itu juga yang dialami Remos,
kehidupan diluar tidak akan senyaman
kehidupannya sehari-hari, tapi kalau tidak
dicoba siapa tahu? Pertanyaan yang juga saya
lemparkan untuk diri sendiri adalah apa
salahnya dengan sesuatu yang baru?

dies irae, dies illa
Perang adalah perbuatan manusia yang tidak
ada gunanya sama sekali, hanya menimbulkan
kesedihan yang mendalam. Salah satu contoh
adalah apa yang dipikul Azmov, anak kecil
berusia sepuluh tahun harus mencari makan
untuk adik dan ibunya gara-gara ayahnya
terbujuk rayuan untuk ikut berperang.
Keadaan menjadikan dia dewasa sebelum
umurnya, dia menjadi tidak takut mati.
Bersama robot berwarna merah, Azmov
bermimpi akan masa depannya. Pertanyaan
saya adalah kapan manusia akan lelah
berperang?

Saksi Mata
Cerita ini terinspirasi dari kejadian nyata pada
tahun 1964 di sebuah kota besar di Amerika
Serikat, seorang wanita terbunuh di depan
gedung apartemennya dan kejadian itu dilihat
oleh penghuni gedung lainnya namun mereka
tidak melakukan apa-apa. Pertanyaan Maggie
adalah kenapa reaksi warga yang acuh tak
acuh terhadap sesamanya (bahkan berakibat
fatal bagi sesamanya) terasa begitu normal...?
Diceritakan dari berbagai sudup pandang
tokoh-tokoh yang tinggal di sebuah rumah
susun, disertai dengan waktu untuk
memperjelas aktivitas yang dilakukan para
tokohnya. Masing-masing mendengar ada
sesuatu yang jangal tapi mereka mengangap
tidak penting, bukan urusan mereka. Di cerita
ini Maggie menyentil kurangnya rasa
kemanusian dan kepedulian di antara warga
sekitar, terlebih masyarakat urban. Mereka
cenderung individualis, tidak peduli dengan
masalah orang lain, tidak peduli apakah
mereka kesusahan dan butuh dibantu?
Pertanyaan saya adalah apakah rasa
kemanusiaan makin lama akan punah?

Dia, Pemberani
Tentang Masaai yang mempunyai hoby
menantang maut, base jumping, cave diving,
heli-skiing sampai ikut memeriahkan Festival
San Fermin di Spanyol hanya untuk menantang
banteng. Siapa yang paling khawatir tentang
hoby-nya yang ekstream? Tentu saja Zaleb,
istrinya. Pernah dia ingin bercerai, tapi cinta
adalah pengertian, cinta adalah pengorbanan
dan dia mengalah.

Di cerita ini kita disuguhkan gambaran nyata
tentang seseorang yang memiliki passion yang
amat besar tentang olahraga ekstream, lewat
Masaai. Pertanyaan saya adalah seberapa
besar ketakutan yang mereka miliki?

"Jadi, pada intinya, aku tidak mencoba untuk
mati. Aku justru merayakan hidup."

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Dalam Hujan Berkepanjangan, Ray Bradbury
bercerita tentang seorang Letna dan tiga
prajuritnya bertahan hidup di planet Venus
yang selalu diguyur hujan. Sedangkan dalam
cerpen SKTLA bercerita tentang seorang
kapten bersama tiga prajurit astronotnya
terdampar di planet Merkurius yang gersang.
Ya, Maggie membuat cerita yang bertolak
belakang dengan Hujan Berkepanjangan walau
mengambil sebagian besar unsur di dalamnya,
baik itu tokoh ataupun alur ceritanya. Saking
sukanya sama cerita buatan Ray Bradbury,
Maggie ingin membuat cerita pendamping ( tie-
in), jadilah kisah astronot yang terdampar di
Merkurius.

Dalam cerita ini saya memahami dua hal,
pertama bahwa manusia tidak pernah puas.
Kadang kita mengharapkan hujan tetapi ketika
hujan datang kita mengerutu, hujan datang
tidak diwaktu yang tepat. Dan sebaliknya,
kalau kekeringan, kita merindukan hujan.
Kedua adalah sejauh mana manusia bisa
bertahan menghadapi cobaan? Apakah akan
terus berharap akan adanya mukjizat atau
menyerah saja?

"Aku rela mengorbankan apa saja untuk
melihat hujan sekarang, " katanya.
"Aku juga," sahut Sang Kapten. "Kurasa
lebih baik terdampar di Venus daripada
di neraka jahanam ini. Setidaknya, di
sana masih ada harapan."
"Banyak yang bilang harapan bisa
membunuh, " kata Koveer.
"Tapi alternatifnya sama saja."
Sang Kapten mengangguk. KEmudian ia
memikirkan istrinya, nun jauh di sana,
jutaan kilometer darinya -dan waktu yang
telah mereka jalankan bersama. Tanpa
sadar, ia menagis. Namun tangis itu
hanya berupa perasaan saja. Wajahnya
berkontraksi dengan mulut melebar dan
mata meyipit dan hidung besar- persis
seperti orang menagis. Tapi tak ada
airmata yang keluar. Tubuhnya tidak
punya cukup kandungan air untuk itu.
Masih ada cerpen Labirin yang Melingkar-
lingkar dalam Sangkar , yang bercerita
tentang eksplorasi urban (kegiatan
menjelajahi/mendokumentasi struktur
bangunan kota yang dibuat manusia),
seseorang yang menikmati bangkai urbanisasi,
bangunan terlantar.
"Dengar," kata Danno. "Segala hal yang
terlupakan, yang hilang ditelan serta dibuat
rancu oleh detail keseharian -kalau kau
perhatikan dengan seksama- merupakan
tonggak eksistensi kehidupan..."

Kemudian ada juga cerpen yang berhubungan
dengan kecanduan, yaitu Ro-Kok dan Suatu
Saat Kita Ingat Hari Ini. Di cerpen Ro-Kok ,
Feri harus memilih cinta atau tembakau,
sedangkan di Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
bercerita tentang dua orang yang kecanduan
game FPS (First Person Shooter ). Ketika saya
melakukan riset, saya paham kenapa Maggie
bisa membuat cerita tentang dunia game yang
terasa nyata dan mendetail, karena dia juga
salah satu seorang gamer. Dan terakhir adalah
cerpen yang berjudul Jam Kerja yang
bercerita tentang seseorang yang berhalusinasi
ketika sedang berada di ruang rapat. Di
cerpen ini Maggie ingin bertanya berapa
banyak orang yang pikirannya melanglang
buana saat terperangkap dalam rutinitas
pekerjaan.

Selain keempat belas cerpen di atas masih ada
bonus lima cerpen dalam bahasa inggris yang
ada di buku ini. Setelah Saya menyelami
cerpen demi cerpen terbukti kalau apa yang
ingin disuguhkan Maggie sebenarnya tidak
jauh berbeda dengan tema cerita pada
umumnya. Kehidupan rumah tangga, kesukaan
atau kegilaan kita terhadap hoby yang kita
geluti, kebiasaan yang ada dikehidupan sehari-
hari, hubungan orangtua dengan anak,
bencana alam, bahkan perang. Satu yang
masih asing bagi saya yaitu eksplorasi urban,
biasanya saya temui dalam bentuk visual. Yang
membuat menarik adalah Maggie
menyajikannya dengan berbeda, membuat
cerita yang tidak masuk diakal dan itu adalah
kelebihannya.

Ada beberapa ending cerita yang tidak saya
sukai, saya tidak kaget, toh dari awal penulis
sudah berkata kalau dia tidak menyuguhkan
keindahan tetapi lebih ingin mengetahui apa
yang kita alami ketika membacanya. Tersesat.
Ya, itulah rasanya. Kita akan tersesat dengan
realitas yang coba disamarkan oleh penulis.

4 sayap untuk tersesat bersama cerita absurd.
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
May 23, 2016
Kumpulan cerita yang tidak mainstream. Akhir cerita yang selalu diluar perkiraan. seperti film Amerika yang endingnya 'menggantung' penyelesaian terserah imajinasi masing-masing.
Bahasa pembuka tiap cerita, buat aku terasa puitis.
Menarik..

Review nanti dilanjutkan kalau sempat :(
Profile Image for CHO.
6 reviews57 followers
July 21, 2016
Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa - Maggie Tiojakin

Saya jatuh cinta dengan judul dan sampul depannya, tentu saja.
Bagi saya yang gemar menghabiskan waktu di dalam kepala sendiri, embel-embel cerita absurd pada buku ini sepertinya berhak mendapat ruangnya sendiri di rak buku saya. Tentu saja amunisi-amunisi absurditas sangat diperlukan sebagai senjata ketika di dalam kepala saya mulai menjadi semakin kompleks dengan pikiran-pikiran yang membabibuta yang lalu menarik saya semakin jauh dan tidak lagi mengizinkan saya untuk keluar. Hih!

Menurut saya di dalam buku ini banyak tersaji hal-hal yang tidak pernah selesai, hal-hal yang tidak ada ujungnya, hal-hal yang tidak terlihat dimana akhirnya dan hal-hal yang tidak masuk akal.
Terlebih begitu banyak hal-hal yang saling bertabrakan. Baik itu antara tokoh dengan tokoh lainnya maupun tokoh dengan dirinya sendiri. Absurd nemang.


Buku ini membiarkan saya memilih dan menerka sendiri mana akhir dan mana yang bukan. Beberapa kali saya mendapati diri bahwa saya tidak benar-benar tahu sedang berada dibagian mana. Ya ! Tersesat! Buku ini membuat saya tersesat, bukan di dalam kepala sendiri melainkan disebuah dunia yang disajikan penulis. Dimana semua diserahkan sepenuhnya kepada pembaca.

*spoiler alert*
"Dia Pemberani" adalah satu dari 14 cerita pendek di dalam buku ini yang mampu menyeret saya. Entah kenapa saya menjadi ikut gelisah bersama Zaleb yang memiliki seorang Suami bernama Masaai. Seseorang yang gemar menantang alam untuk memuaskan adrenalin dan tak jarang sering mengadu nyawanya dengan bahaya. Menjatuhkan diri dari gedung tinggi, terjun bebas dari tebing, menyelam di kedalaman laut, menahan napas saat didekati hiu di dasar samudera dan berlarian dikejar rombongan banteng, begitulah cara Mansaai merayakan hidupnnya . Zaleb seringkali melarang setiap kepergiannya namun kembali melepaskan ke manapun suaminya pergi.

"Rayakan hidupmu lalu kembalilah padaku." - hal 148


Saya dibuat menyelami akhir cerita yang tersimpan jauh di dasar. Dan, tentu saja bukan tentang jawaban ketakutan Zaleb, yang akhirnya rela menemani suaminya sampai ke perairan Pasifik , namun tetap memunggungi ketika suaminya naik ke tepi kapal.

Lebih dari itu. Temukan saja.

"Cinta adalah sebuah pengertian" - hal 143

Sementara Barney yang memunguti pecahan langit (Tak Ada Badai di Taman Eden) dan Ramous yang enggan beranjak dari Kota Abu-Abunya (Kota Abu-Abu) juga berhasil menarik perhatian saya di buku ini.

ini saja yang bisa ditulis, sisanya mari sambil minum teh
Profile Image for Rina Suryakusuma.
Author 17 books111 followers
February 8, 2016
Keren!
Absurd!

Kumcer yang beda dengan cerpen yang biasa kita jumpai di buku2 lain
Gaya penulisannya lugas. Diksinya kaya
Mengena dan sulit untuk dilupakan

Ada beberapa cerita bonus yang diberikan oleh si penulis
Bisa dicek sendiri apa bonusnya :p

Kemudian ada catatan penulis di akhir novel
Catatan yang membuat saya semakin mengagumi keseriusan Maggie dalam menyandang profesi sebagai penulis
Catatan yang membuat saya juga jadi ikut berpikir

Favorit saya : Kristallnacht dan Dies Irae

Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
January 8, 2021
** Books 05 - 2021 **

3 dari 5 bintang!

Sebenarnya penasaran sama buku ini sejak pernah dibawakan oleh teman klub Siaran Goodreads Indonesia yaitu mas Jimmy pada hari Sabtu, 15 Maret 2020 dengan tema kelana angkasa raya. Waktu itu aku membawakan buku Sleeping giants #1 by Sylvain Neuvel. jadinya aku tertarik deh membaca buku rekomendasinya mas Jimmy

Buku ini berisikan 19 cerita pendek yang terdiri dari 14 cerita pendek berbahasa indonesia dan 5 cerita pendek berbahasa inggris yang menceritakan kisah-kisah absurd didalamnya

Jujur ada beberapa yang ceritanya tidak aku pahami namun bisa dikatakan cerita kesukaanku di buku ini adalah Kristallnacht, Dia, Pemberani dan kota abu-abu

Terimakasih Gramedia Digital Premium atas peminjaman bukunya!
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
June 13, 2015
“Katanya di tempat itu hujan tak pernah sedetik pun berhenti mengguyur. Pagi, siang, sore, malam. Hujan lebat tak ada akhir. Mereka bahkan tiak bisa tidur. Air di mana-mana.” –Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, hlm. 195


Lantaran salah mengambil kordinat, seorang kapten dan tiga awak kapalnya terdampar di tengah lautan abu monokromatik. Roket mereka rusak total. Tak ada jalan kembali selain berjalan ke depan. Pagi, siang, sore, malam, planet asing tempat mereka berbaring kian mengalami penyusutan.

Koveer, sang prajurit kepercayaan, mencoba mengeluarkan kompas andalan. Namun, hasilnya sama saja, kompas tak lagi berfungsi. Sementara Yureko dan Abatul, kedua awak kapal yang lain, tak berhenti adu mulut. Kapten berusaha mencari jalan pulang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Menelusuri planet asing yang mereka pijak, menemukan lebih banyak kawah di bawah tumpukan abu.

Berhari-hari mereka berjalan kaki. Matahari tak pernah pergi. Sembari mengisi waktu berjaga, Kapten bercerita tentang prajurit dari kapal lain yang baru saja kembali dari Venus—planet yang tak pernah tak hujan. Tempat yang mana dinaungi Air di mana-mana.

Hujan yang terus mengguyur. Hujan deras yang mengantarkan kabut dan embun.

1. Tak Ada Badai di Taman Eden
2. Kristallnacht
3. Lompat Indah
4. Fatima
5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
6. Kota Abu-Abu
7. dies iae, dies illa
8. Saksi Mata
9. Ro-Kok
10. Dia, Pemberani
11. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
12. Jam Kerja
13. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
14. An Evolutionary History
15. Violet
16. A Business Trip
17. The Long March
18. Sunday Mass


Delapan belas cerita absurd milik Maggie Tiojakin; kisah yang sederhana, namun membuat pembacanya tak henti bertanya. Sesungguhnya untuk apa cerita-cerita ini ditulis? Kalau sebelumnya di tahun yang sama saya pernah membaca kumpulan cerita pendek milik Bernard Batubara “Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri”, yang selalu mengejar poin plot twist kuat di bagian akhir. Menebar banyak pertanyaan dan menutupnya dengan sebuah jawaban mencengangkan. Sebaliknya, dalam “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” kumpulan cerita-cerita tersebut malah dibiarkan menganga. Tanpa jawaban, biar para pembacanya saja yang merenung dan mati penasaran.



Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
Profile Image for ade_reads.
317 reviews19 followers
February 7, 2017
Entah kenapa... saya merasa tertipu membaca buku ini. Hehe...
Secara keseluruhan, buku ini unik, layak untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mencoba "mencicipi" cerpen-cerpen "rasa" baru dengan nama-nama tokoh, alur dan karakter yang tidak lazim, ending yang menggantung, dan setting di antah berantah. :D
Profile Image for Nura.
1,058 reviews30 followers
April 7, 2020
Cerita paling absurd dalam buku ini menurut gw adalah yang menjadi judul: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Mungkin karena gw masih terlalu mikirin dunia nyata. Misal, waktu si kapten menutup mulut dan hidung dengan sebelah tangan. Emang mereka mendarat di planet itu ga pake baju astronot ya? Kan udah dibilang tuh planet ga ada atmosfernya, jadi gimana mereka bisa napas. Yah, kecuali kalo teknologinya udah semaju manusia di film After Earth, bisa ngisap satu wadah untuk bernapas selama 24 jam. Keanehan kedua, waktu mereka mutusin buat jalan meninggalkan pesawat ruang angkasa mereka, tetiba si kapten dengar suara yang ternyata adalah komet dan serpihannya yang melintasi planet. Sekali lagi ini absurd banget buat gw, karena seinget gw di luar angkasa itu hampa udara, jadi suara ga punya medium buat mengantarkannya. Jadi gimana ceritanya si kapten bisa dengar? Di luar keganjilan itu, menurut gw ceritanya lumayan melankolis.

Gw suka nama tokoh-tokohnya yang ga biasa. Walopun di cerita pertama gw ga bisa lepas dari sosok Barney si dino. Maafkan. Belajar sejarah dari Kristalnacht. Suka cerita sepasang manusia yang jadi paus. Tertipu dalam cerpen Fatima. Dan kesal sama cewek yang ngarepin fish guy di cerita bonus.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,095 reviews17 followers
December 15, 2023
Pertama tahu tentang cerita-cerita pendek karya Maggie Tiojakin dan cerita-cerita karya penulis luar negeri yang diterjemahkan olehnya, yaitu dari situsnya, fiksilotus.com, pada awal 2014. Namun, baru pada tahun ini saya membaca buku kumpulan cerita pendeknya via iPusnas. Di sini, setiap ceritanya dijelaskan secara detail tetapi memiliki akhir cerita yang menggantung. Yang menjadi favorit saya berjudul 'Kota Abu-Abu', 'Dia, Pemberani', dan 'Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa'.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
August 14, 2013
Ketika terpintas kata absurd, what's on your mind? Sering dikategorikan sebagai aneh, menjadi absurd itu menyenangkan. Kenapa? Ya, kita kan nggak perlu mikir apa-apa, just let it flow. Setiap pembicaraan yang bertopik awal apa, bisa lari ke mana dan menyisakan sesuatu yang nggak perlu dikenang. Tapi entah ada saja yang teringat.

Pikirkan latar. Baca paragraf-paragraf awalnya. Kau akan terlingkupi sehingga terfokus pada ceritanya. Itu yang membuat ceritanya kuat, tidak seperti cerpen-cerpen soliter yang bisa terjadi di mana saja. Lalu menjadikannya khas, sehingga cerita yang tertuliskan sesudahnya menjadi istimewa, hanya cocok untuk latar itu.

Ambil acak. Mulai dari cerita yang disuka. Lalu melompat-lompatlah. Kamu tak akan benar-benar tersesat. Seperti Maggie menulis di catatannya. Yang tersisa adalah pertanyaan. Hidup bisa terus berjalan walau penuh tanya kan?

Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah, dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa. Merah, kuning, biru, hijau, jingga, ungu, semua tampak sama saja jika dibalut sendu. Hanya ada satu warna yang konstan di sini; yaitu abu-abu. Bahkan air laut yang mengelilingi tepian kota tampak keabuan. Begitu pula dengan langit yang memayungi serta tanah yang menjadi pijakan kami.


Seketika duniamu berpindah dari langit biru ke kota kelabu ini. Tersesat di dalamnya sampai tuntas, dan bertanya, kenapa ia tetap berdiam di situ?

Lalu beralihlah ke halaman 154, di sebuah ruang keluarga yang tenang. Hal unik tidak selalu di kehidupan yang unik. Hal ini bisa saja berawal dari kehidupan sehari-hari, yang selalu berulang setiap hari, di waktu yang sama.

Salina buru-buru menghabiskan sajian makan malam yang tersedia di atas meja sambil terus melirik ke arah jam dinding. Pipinya menggembung, penuh makanan. Ia mengunyah sekuat tenaga. Ibu memperhatikan gerak-gerik putri bungsunya dengan mata mendelik. "Makan yang benar," ujar wanita paruh baya tersebut. "Nanti tersedak. Nggak bisa napas."


Ambil buku ini beserta setumpuk kartu remi. Raih satu kartu acak secara tertutup. Cocokkan dengan urutan cerpen ini. Mulailah membaca.

Atau senandungkan lagu bintang kecil sambil jarimu menari di atas daftar isi. Ketika lagu berakhir, perhatikan di mana telunjukmu mendarat. Mulailah membaca.

Atau kau punya cara lain untuk mulai? Probabilitas itu matematis. Jangan selalu menyalahkan ketersesatan. Bahkan Alice pun memilih menyusuri Wonderland, alih-alih menyesali ketersesatannya. Di langit, banyak yang bisa dilihat. Bulan sabit semalam, atau hujan meteor di langit jernih hitam.

Cobalah, karena tak perlu cara normal untuk membaca cerita absurd.
Profile Image for Aldo.
5 reviews
September 3, 2013
Cerita yang bikin saya ketagihan baca buku ini adalah yang berkisah tentang Danno, Hattashi dan Riye. Damn, man. This woman got style. Dari judulnya "Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar" saya sudah menebak cerita ini bakal gokil. Tapi yang nggak saya sangka adalah cerita ini ternyata juga deep banget. Three men on a quest to discover an eternal fire. My first response was wtf -- and by the time they got to the restaurant and met that skinny girl in ragged clothing I was totally hooked. Dialognya mulus banget. Karakternya solid. Settingnya juga terasa. Saya nggak kira ada penulis perempuan yang pikirannya seliar ini. Okay, let me start over guys.

Sebagai pelanggan toko buku, saya termasuk yang usil. Saya nggak akan beli buku kalau belum 'mencicipi' beberapa halamannya. Beli buku nggak seharusnya terasa kayak beli kucing dalam karung, kan? Tapi nggak sembarangan juga, karena saya minta ijin petugas toko buku dulu dan minta dibukakan bungkus bukunya. Lalu saya pilih cerita Labirin itu untuk dicicip sebentar. Belum selesai baca ceritanya, saya langsung memutuskan untuk beli buku ini. Harganya lumayan mahal untuk kumpulan cerita pendek. 60.000 saja! Tapi nggak apalah. Still pretty cheap, considering the content.

Buku ini nggak saya lahap cepat-cepat. It's impossible. Saya butuh waktu sekitar sebulan buat ngelarin buku ini dari awal sampai habis. Saya juga nggak lompat-lompat, karena nggak perlu. The sequencing of the stories is pretty damn cool. Pengalaman yang saya dapet nggak monoton. Pas aja rasanya.

Membaca buku ini saya mendapatkan sensasi yang sama seperti waktu saya nonton filmnya Sofia Coppola dulu, yang judulnya "Lost in Translation". Saya dilempar ke awang-awang buat memandang langit dari dekat. Seperti tidur-tiduran di atas rumput dan ngeliatin gumpalan awan mondar-mandir. Buat orang yang kurang peka, pengalaman begini pasti ngebosenin. Buat saya justru bikin hati bergejolak. Antara bahagia dan depresi. Sampai akhirnya saya tiba pada sebuah penerimaan: bahwa dunia itu tidak pernah hitam-putih, selalu penuh warna, ada indahnya, ada buruknya, senangnya, sakitnya. Dan semua itu yang bikin hidup lebih hidup.

Saya percaya kalo buku-buku terbaik di dunia bisa membuat pembacanya lebih menghargai hidup. Buku ini salah satunya. Saya nggak bisa nilai karya sastra secara akademis, tapi kalo saya harus kasih nilai...saya akan kasih nilai 100 buat Maggie Tiojakin.

Kamu sinting! And I bet that's why you're so good at writing these stories.

Profile Image for Andika Pratama.
2 reviews1 follower
August 20, 2013
Pertama ngelihat cover buku ini di Gramedia, langsung jatuh hati karena terlihat eye catching dan "Absurd". apalagi tage line di cover yang berbunyi : "kumpulan - kumpulan cerita Absurd." ngebuat gue merasa tertantang untuk melumat sampai habis isi dari kumcer ini.

dari cerita pertama gue langsung mengerutkan dahi "ada yah penulis Indo kayak gini."
lanjut kecerita kedua mulai terbiasa dan tak disangka sudah hampir nyelesian semua apalagi ada bonus cerita yang bikin gue harus begadang malam itu.

kekuatan dari buku SKTLA ini menurut gue adalah kekuatan gaya bahasa yang digunakan penulis. sehingga membuat cerita - cerita yang terkesan "simple" ini menjadi sangat Powerfull. Apalagi Ending yang terkesan Ambigu dan terbuka dan membuat pembaca ikut menjadi bagian dari cerita tersebut.

ini adalah kesan gue tangkep dari tiap cerpennya :

Tak Ada Badai di Taman Eden : Sebuah cerita tentang hubungan suami istri yang sesungguhnya. bahwa kadang cinta itu tak harus disampaikan melalui kata - kata, tapi cukup dengan sebuah pengertian dan memaafkan. Endingnya Ajib.

Kristallnacht: sangat believable dan menunjukan perihnya kehidupan masa perang.

Lompat Indah: cerita yang terkesan cukup absurd bagi gue. tapi maknanya dapet banget.

Fatima: cinta itu takkan perlu pengorbanan.( walau hanya kehidupan virtual)

Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar: ini kisah yang bikin gue hampir mau banting nih buku karena endingnya.

Kota Abu-Abu: hidup itu pilihan. kita harus siap menanggung setiap keputusan yang kita pilih. walaupun mungkin bakal menyesal kemudian.

Dies Irae, Dies Illa: disaat perang yang menjadi korban itu anak - anak.

Saksi Mata: konsep kehidupan modern yang individualistic.

Labirin Yang Melingkar-lingkar Dalam Sangkar : nyesek. salah satu yang paling bagus di sini.

Ro-Kok: pilih cinta atau ro-kok ??? mending bercinta baru merokok hehehehe

Dia, Pemberani : kadang seseorang mempunyai cara sendiri merayakan hidup. walaupun kadang itu membuatnya cepat meninggalkan kehidupan. plus cinta itu tentang menunggu dan bersabar.

Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini: welcome to My Virtual world.

Jam Kerja:enggak bisa dikatakan cuman bisa dirasa. (tengok cewek lain)

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa: ehmmm wow. "kayaknya diplanet ini hujan turun setiap hari".

jadi kesimpulannya ini buku yang layak banget untuk dibeli dan dikoleksi.
jadi selamat tersesat diluar angkasa.


Profile Image for Luca Hermansyah.
4 reviews
August 13, 2013
Sebenarnya, di awal, nggak mengharap suka sama buku ini. Boleh dapet buku ini juga hasil minjem sama adiknya temen yang heboh suruh gue baca buku ini dan sempet nantang pula. Katanya kalo gue ngerti isinya, gue bakal ditraktir. Kalo nggak ngerti, gue harus traktir dia. Jiah! Edun! BUT ternyata gue suka sama buku ini. Terus terang gue bukan orang yg suka baca buku Indonesia. Bukan karena gue sombong lho. Tapi karena gue kapok. Dapet cerita yg itu-itu mulu. Cinta-cintaan. Jutek-jutekan. Konyol-konyolan. Menurut gue, buku ini sukses nawarin sesuatu yg beda, meskipun tagline "kumpulan cerita absurd" di sampul buku kayaknya lebih tepat kalo diganti sama "kumpulan cerita pendek" aja. Nggak perlu lah dilabelin pake absurd segala. Emangnya lukisan? ANYWAY kesan gue abis baca buku ini adalah: Shit man! Ni cewe asli gila! -- Dan gue demen sama penulis yg berani keluar dari tuntutan pasar. Secara tema, ide dan eksekusi -- SKTLA (buat gue) menempatkan diri jauh di luar produk-produk bacaan yg tersedia di Indonesia saat ini. Saat baca buku ini gue kepikiran sama tulisannya Joe Hill (anaknya Stephen King noh!), Ray Bradbury, Isaac Asimov dan Margaret Atwood. Mereka sama-sama berani keluar dari kotak produksi fiksi yg itu-itu lagi. Dan buat gue kalo ada penulis Indo yg berani ngelakuin hal sama, te-o-pe-be-ge-te dah!

Sekarang kita ngomong konten. Seperti yang gue bilang, gue sempet ditantang sama adik temen gue. Menurut gue, setelah baca buku ini, tantangan itu sendiri sifatnya absurd. Karena pengertian kita thd buku ini beda. Dia suka cerita-cerita yang agak 'feminin'. Gue prefer yg 'maskulin'. Dia ngeliat buku ini sebagai rangkaian pengalaman hidup. Gue ngeliat buku ini sebagai rangkaian mimpi. Beda kan? Cerita favorit dia, Kristallnacht. Cerita favorit gue, Fatima. Kenapa?

Karena dulu waktu SMP gue juga suka maen game. Dan kalo udah maen game, gue suka lupa waktu. Lupa makan. Lupa blajar. Lupa segalanya. Terus begitu kelar maen game biasanya udah malem. Capek. Mata pegel. Tangan keram. Tapi gue puas, dan gue ngerasa kayak gue punya temen dalam game itu. Nah, garis besar Fatima juga kira-kira gitu. Apa efek psikologis dari video game? Dan kehebatan Maggie buat ngebentuk pake kata-kata pengalaman yg sakral bagi gamers....anjrit!

Lo harus baca buku ini.
Profile Image for Intan Ibrahim.
1 review2 followers
August 14, 2013
-May contain spoiler-

"I thought of what it would be like to live in a glass bowl, constantly staring out at some other life I could never be a part of."

Salah satu penggalan favorit saya di kumpulan cerita ini. Cerita tsb berjudul 'A Evolutionary History'. Tidak akan saya jabarkan ceritanya karena nanti jadi benar-benar spoiler.

I judge a book by its cover. Jadi memang cover buku inilah yang pertama kali menarik mata. Setelah membaca sedikit penggalan pada cover bagian belakang, saya langsung berpikir bahwa saya akan menyukai buku ini. Dan buktinya saya memang sangat suka isinya.

Ternyata, sebelumnya saya sudah pernah membaca kumcer karya Maggie Tiojakin berjudul 'Balada Ching-ching', tapi saya tidak sadar ternyata dia adalah orang yang sama yang menulis kumcer SKTLA ini. And tbh, saya lupa dengan isi kumcer di 'Balada Ching-ching'.

Dari awal sudah diperingatkan kalau ini adalah Kumpulan Cerita Absurd. Jangan heran dengan nama-nama tokoh yang aneh, juga dengan latar tempat yang terkadang tidak bisa ditebak. Karena memang Maggie sengaja melakukan hal tsb.

Saya suka pada beberapa ending cerita di kumcer SKTLA ini yang dibiarkan mengawang. Saya pribadi memang menyukai ending seperti itu. Beberapa ending kesukaan saya ada pada cerita 'Lompat Indah', 'Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar', 'Dia, Pemberani', dan 'Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa'.

Cerita lain yang saya favoritkan adalah 'dies irae, dies illa'. Cerita berlatar belakang perang yang berujung mempertanyakan keberadaan Tuhan di masa perang.

Saya suka cara menulis Maggie, kata-katanya simple, mudah dicerna, tapi tetap dengan alur cerita yang unik. Bonus storiesnya juga bagus sekali. Tbh, saya lebih memilih Maggie menulis dengan bahasa inggris.

So anyway, bila Anda penyuka cerita fiksi yang aneh dan absurd. Saya rekomendasikan kumcer ini.
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
October 26, 2013
Saya suka cerpen Tak ada badai di Taman Eden, dan dua cerpen bertema perang. Ada beberapa cerpen lagi yg potensial, sayang sekali, eksekusinya terasa kurang. Namun patut diapreasiasi karena cerpen-cerpen dalam buku ini sedikit berbeda dari kumcer penulis lokal yang pernah saya baca.

Hal yang paling disayangkan adalah beberapa catatan penulis tentang cerpen-cerpennya. Ayolah...saya pikir, pembaca tidak sebegitu bodoh sehingga perlu dijelaskan banyak hal karena khawatir mereka tersesat dalam keabsurdannya. Dan saya pikir lagi, cerita-cerita dalam kumcer ini tidak absurd-absurd amat, atau tidak absurd sama sekali. #sedang ngoceh apa sih, haha....

Tapi ya begitulah.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
May 23, 2016
LUAR BIASAAAAA

saya suka beberapa cerita berikut ini

Tak ada badai di taman eden
lompat indah
kota abu-abu
ro-kok
suatu saat kita ingat hari ini
jam kerja

ceritanya bikin mikir dan bikin tersesat

***

selama ini saya kurang begitu memperhatikan pentingnya sampul buku. beli buku biasanya karena rekomendasi teman atau seliatnya aja. tapi waktu pertama kali melihat sampul balada ching-ching dan selama kita tersesat di luar angkasa, saya langsung tertarik dan mencari kedua buku ini.

menarik.
menurut saya ceritnya lebih dari absurd.
saya pikir bukunya banyak berbau fantasi, ternyata lebih lekat ke kehidupan sehari-hari
Profile Image for Asti.
231 reviews10 followers
April 2, 2018
Absurd dan Luar Angkasa agak terlalu jauh untuk menggambarkan buku ini.
Bagi saya cerita-ceritanya cukup membumi. Beberapa memang dengan perspektif khusus, atau dengan variasi yang out of the box.

Secara keseluruhan, Definitely enjoyable, meski mungkin tidak pada setiap waktu.
Profile Image for Reisa.
62 reviews
December 20, 2017
sebagian disembunyikan bukan karena spoiler tapi karena ini review arogan pembaca bias


PROS

1.) Saya sudah lamaaaaaaa sekali ingin membaca buku ini. Ada kali 2 tahun. Mencari di mana2 enggak ketemu, bahkan dari web resmi penulisnya pun alot. Mendapatkan buku ini seperti cita-cita yang menjadi nyata.

2.) Maggie Tiojakin banyak bereksperimen di sini dan jelas sekali dia menikmati sesi eksperimennya. Setiap cerita memiliki warna yang berbeda. Ada cerita dengan format wawancara, cerita tentang pesawat luar angkasa, tentang penantang maut dan kekasihnya, dan—tentu saja—tentang mahasiswa di era Soeharto (karena belum penulis Indonesia kalau belum mengangkat tema itu, haha).

3.) beberapa ide ceritanya sangat menarik, jenis-jenis yang bisa menggelitik inspirasi untuk menulis hal surealis.

4.) melenceng jauh dari konten, tapi saya suka bagian “Tentang Penulis” di buku ini. Maggie Tiojakin berbicara tentang dirinya dengan jujur, lugas, seperti bercerita kepada seorang teman. Kebanyakan penulis Indonesia yang sudah saya baca (dan, harus diakui, jumlahnya masih sangat sedikit) menulis bagian “Tentang Penulis” mereka dengan gaya yang terlalu … sophisticated karena kalau saya bilang pretentious kesannya kurang ajar. Ada yang membikin biodatanya berupa sajak-sajak ambigu, deskripsi yang sengaja absurd, atau kisah tentang komunitas sastra mereka yang seolah menunjukkan perbedaan kasta antara “penulis” dan “sekedar pembaca”. Buat saya pribadi, bagian “Tentang Penulis” adalah spasi bagi pembaca untuk mengenal sang penulis, jadi penulis-penulis yang membuat bagian itu dengan gaya “eksklusif” dan “jauh” terkesan arogan bagi saya. Tapi “Tentang Penulis” Maggie membuat saya merasa sedang membaca cerita seorang teman, dan ironisnya, karena dia terasa seperti teman ….

Profile Image for Fadhilatul.
Author 1 book23 followers
September 11, 2013
Hubungan saya dengan cerita-cerita absurd adalah love-hate relationship, meski sebenarnya tidak seekstrim itu juga hehe. Terkadang saya menyukai cerita yang sarat ke-absurd-an seolah saya paham apa maksud si penulis dan apa yang akan terjadi dengan para tokoh ceritanya. Terkadang juga saya benci dan tidak paham dan merasa aneh dengan cerita-cerita yang tidak jelas juntrungannya. Tidak jelas alurnya dan tidak jelas keterangannya. Namun setelah itu saya maklum kembali. Karena saya berpikir, toh hidup ini pun sebenarnya absurd.

Sebelum saya lanjutkan dengan ulasan cerita karya Maggie dibawah ini, saya ingin pamer dulu bahwa saya pernah juga membaca beberapa cerpen yang menurut saya tak kalah bagus ke-absurd-an-nya. Salah satu kumcer yang dimaksud adalah Parmin, karya Jujur Prananto. Cerpen-cerpen Jujur adalah absurd? Menurut saya iya. Disana kita diajak berpikir tentang gilanya para manusia. Orang-orang gila yang mengaku waras adalah hal teraneh yang pernah saya lihat. Bahkan mungkin saya dan kalian termasuk orang-orang yang dekat dengan ke-absurd-an (?).

Well, baiklah, mari lebih lanjut kita intip satu per satu cerpen Maggie dalam SKTLA:

1. Tak Ada Badai di Taman Eden

Seorang perempuan bernama Annouk menjadi pribadi yang berbeda setelah mengalami kecelakaan mobil bersama suaminya. Ia melihat badai dengan cara yang berbeda; langit meledak-ledak dan jatuh berkeping-keping, mengisap apa saja yang ada di sekitarnya. Barney, sang suami yang awalnya tak percaya pun ikut menyaksikan sendiri pada akhirnya.

Ketika membaca nama Annouk, saya jadi teringat pada tokoh Annouk pada novel Chocolat. Dalam novel tsb, dikisahkan Annouk sebagai gadis kecil yang punya teman khayalan. Dan saya membayangkan jika kemudian Annouk tumbuh besar dan menjadi istri dari seorang Barney. Hingga ia bisa melihat badai itu, langit itu.

Anggapan saya, ini adalah gambaran tentang akhir dunia yang dalam cerita ini disaksikan oleh sepasang suami istri, Barney dan Annouk. Dan pada akhirnya mereka dihidupkan kembali di Taman Eden tanpa badai apapun lagi. Langit dirasa indah, bersih dan menawan.

2. Kristallnacht

Saya tidak tahu bahasa apa yang digunakan untuk judul diatas. Mungkin Jerman? Tapi saya tidak tahu. Ini tentang kejadian yang dialami oleh warga keturunan di suatu negeri yang dipaksa pergi hanya karena berbeda agama dan kebudayaan. Ketika membaca kata-kata warga keturunan, pikiran saya langsung tertuju pada orang-orang Cina. Mungkin karena saya tinggal di Indonesia dan yang familiar disebut sebagai warga keturunan adalah orang-orang Cina. Padahal belum tentu. Bisa jadi mereka adalah kaum minoritas India atau Arab atau Negro atau Aborigin atau ... YAHUDI.

Dan dugaan saya adalah tokoh yang bernama Leiter disini berasal dari kata Hitler dengan huruf 'H' yang dihilangkan.

Pesannya adalah tidak baik menjadi mengucilkan sesuatu hanya karena mereka tidak sama. Heterogen malah membuat hidup lebih berwarna dan menakjubkan.

3. Lompat Indah

Banjir kerap kali merambah ibu kota. Ketika membaca Lompat Indah, saya teringat pada daerah Kampung Melayu yang sering dirambahi genangan tinggi. Saya melihat cerita ini rasanya biasa saja. Yah mungkin karena banjir sudah biasa ada di sekeliling saya. Mengenai lompat indah itu sendiri, mungkin saja si tokoh yang melakukan lompat indah sudah putus asa dengan problematika yang digambarkan seperti banjir bandang. Akhirnya sebelum ia yang dilalap banjir, lebih baik ia yang menghampiri masuk genangan dan berenang bersama ikan Paus dari lautan.

4. Fatima

Fatima hanyalah suara komputer yang ada di dalam permainan komputer. Namun entah mengapa si tokoh utama merasa Fatima begitu nyata hingga ia merasa jatuh cinta padanya, pada suaranya. Hmm, orang-orang seperti ini bukan cuma ada satu, tapi banyak. Tanpa sadar para gamers sudah menyerahkan separuh kehidupan mereka kepada dunia khayal. Padahal apa pula indahnya berpikir dan bekerja dalam dunia khayal?

5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar

Dua pendaki berbeda usia sedang asyik menikmati hutan asri di sekitarnya hingga tiba-tiba makhluk buas mengejar mereka. Cerpen ini mengingatkan saya kepada kehidupan manusia yang terkadang bisa berbalik arah. Bisa saja detik ini sangat tenang dan menyenangkan juga membahagiakan, namun detik berikutnya bisa jadi sangat sengsara dan menyengsarakan. Tuhan Maha pembolak-balik keadaan maka begitulah kehidupan, tidak bisa dianggap remeh.

6. Kota Abu-Abu

Kota Abu-Abu mengingatkan saya pada negara Eropa di ujung utara sana, entah Swedia atau Norwegia, atau yang lain yang saya tidak tahu. Kota yang dimana hanya ada satu warna dan satu hawa; abu-abu dan musim dingin. Penduduknya terkadang bosan hanya hidup dengan satu warna, dan mereka menginginkan warna yang lain. Dikisahkan ada seorang istri yang harus pergi ke belahan bumi lain hanya karena ingin melihat warna selain abu-abu. Namun tidak semua penduduk seperti si istri tadi. Sang suami dari istri yang pergi lebih merasa nyaman tinggal dalam warna Abu-Abu.



Inti dari cerita ini adalah, seindah apapun negara orang lain, rumah gubuk di kampung halaman sendiri lebih menentramkan. Namun jangan karena itu kita menjadi picik dan tidak mau pergi kemanapun. Bepergian itu bagus apalagi untuk mencari bekal ilmu. Tetapi sekali lagi jangan pernah lupa untuk kembali.

7. dies irae, dies illa

Bercerita tentang negara-negara yang dirundung perang panjang. Masing-masing kubu meneriakkan kebenaran. Mereka bukan musuh, justru saudara. Saudara yang bertengkar dan melakukan perang saudara. Namun terlepas dari itu semua, alasan utama dari perang ini adalah ego dan kekuasaan. Hanya demi dua hal itu, si para pemimpin kubu rela mengorbankan nyawa saudara dan teman-temannya untuk sebuah tahta dan kekuasaan. Lantas sesudah itu apa? Well, ketika mati kekuasaan tidak akan berpengaruh kepada bertambahnya pahala kita lho.

8. Saksi Mata

Pembunuhan tanpa saksi mata adalah pembunuhan yang harus dikira-kira kronologisnya. Ah andai saja benda-benda bisu bisa berbicara dan menjadi saksi ketika dibutuhkan.

9. Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar

Keinginan kita terkadang menbawa kita kepada bencana. Itu yang saya pikirkan setelah membaca cerpen ini. Pelajarannya, terkadang kita tak perlu banyak bertanya tentang alasan mengapa ini harus begitu dan mengapa itu harus begini. Karena tidak semua jawaban mampu memuaskan kita. Justru sebagian jawaban membawa kita kepada ketidakjelasan.

10. Ro-Kok

Cerpen ini membicarakan soal kecintaan kita kepada benda yang bahkan melebihi kecintaan kita kepada kekasih atau istri di dunia nyata.

11. Dia, Pemberani

Manusia memiliki obsesi yang terkadang tidak jelas alasannya dan tidak masuk akal. Dan cerpen ini berkisah tentang orang sejenis itu. Melakukan sesuatu yang terkadang tak jelas alasannya dan ketika ditanya ia hanya tertawa dan bilang dengan santainya hanya untuk bersenang-senang. Dasar orang gila.

12. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini

Lagi-lagi cerpen ini berkenaan dengan games komputer. Saya tidak terlalu menangkap apa yang berkaitan dengan judulnya. Mungkin saja yang dimaksud adalah rasa senang-senang pada usia muda dengan bermain game yang tidak akan bisa dilakukan lagi ketika tua menjelang. Lain itu saya menangkap bahwa jiwa-jiwa manusia lebih senang menyalurkan aspirasinya pada dunia maya daripada dunia nyata. Lantas apa bedanya kita dengan makhluk tak bernyawa yang ada di dunia nyata? Ah namun kadang dunia maya memang bisa lebih memberi ketenangan.

13. Jam Kerja

Bercerita tentang sosok karyawan laki-laki yang sedang mengkhayalkan rekan perempuan yang berdiri di hadapannya. Hmm, mungkin saja dia kurang olahraga sebagai penyaluran hasrat.

14. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Resiko hidup astronot mungkin sama seperti pilot, hanya saja astronot lebih rentan. Saran saya untuk para astronot, lebih baik kalian membangung vila dulu di luar angkasa sana, kalau perlu di setiap planet. Sehingga kalau kita sedang ada masalah terdampar, maka kita bisa istirahat dengan nyaman dalam vila itu sambil menonton televisi.

Well, akhir review ini, saya cukup suka dengan gaya bahasa Maggie. Untuk ide cerita sebenarnya biasa saja, namun mungkin jadi lebih absurd karena banyak cerita yang dibiarkan menggantung atau lebih menekankan kepada sisi absurdnya.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
September 19, 2013
Judul buku kumpulan cerpen ini diambil dari cerpen Selama Kita tersesat di Luar angkasa yang merupakan cerpen terakhir dari 14 cerpen plus 5 bonus cerpen berbahasa Inggris yang terdapat dalam buku ini. Cerpen ini yang mengisahkan empat orang astronout yang terdampar di planet Merkurius yang sedang mengkerut. Keempat astornout itu harus bertahan hidup di tengah gelombang udara panas dimana tidak ada setetes airpun di sana yang tersisa.

Ketigabelas cerita lainnya dalam buku ini menyajikan kisah-kisah yang tidak biasa, unik, bahkan beberapa cerpen endingnya dibuat menggantung sehingga memberikan keleluasaan bagi kita untuk mengakhiri kisahnya sesuai dengan imajinasi kita. Atau ada pula kisah-kisah biasa yang menjadi luar biasa karena penyajiannya yang unik.

Seperti yang dikatakan penulisnya secara umum tema-tema yang diangkat dalam buku ini terkesan masukilin, tidak kompeks namun keras seperti tentang perang, kriminalitas, game komputer, kematian, keberanian, petualangan menjelajah rumah-rumah tua, hingga khayalan sensual pria saat jam kerja.

Khusus untuk tema perang, buku ini menyajikan dua cerpen bertema perang, yang saya rasa sangat baik dari segi penyajiannya maupun kedalaman makna yang bisa kita dapat. Yang pertama cerpen berjudul Kristallnacht (Malam Kristal) yang idenya diambil dari suatu peristiwa yang pernah terjadi dimana pada 1938 pengikut Nazi melancarkan serangan besar-besaran terhadap kediaman, toko, rumah ibadah Yahudi di Jerman dan Austria selama dua hari. Pecahnya kaca-kaca rumah dan toko yang berserakan dan terkena cahaya bagaikan kristal itulah yang membuat malam itu dinamakam Kristallcacht/Malam Kristal

Cerpen Kristallnacht ditulis dalam bentuk wawancara dari seorang yang di masa kecilnya pernah mengalami mengenai masa-masa teror yang dilakukan sebuah rezim terhadap ras tertentu. Walau cerpen ini tidak menyebutkan setting dan nama rezim yang berkuasa namun dengan mudah pembaca akan bisa menebak bahwa ini adalah teror rezim Nazi terhadap warga Yahudi.

Dalam cerpen ini penulis berhasil membuat pembacanya merasa 'tertekan' seolah ikut merasakan apa yang dialami tokoh yang diwawancarai dan bagaimana pada akhirnya walaupun telah mengalami kesengsaraan namun akhirnya si tokoh bedamai bisa dengan masa lalunya yang pahit.

Di kisah ini juga terungkap bagaimana anak-anak Yahudi harus diungsikan ke suatu tempat tanpa mereka ketahui bahwa mungkin saja itu perpisahan untuk selama-lamanya dengan kedua orang tuanya



“Saya takkan pernah lupa adegan di stasiun kereta tersebut. Para ibu tersenyum lebar seraya melepas anak-anaknya, berjanji untuk berjumpa lagi dalam waktu dekat. Ini hanya tipuan belaka, ternyata. Mereka tidak mau anak-anaknya tahu bahwa di stasiun itu mereka akan berpisah untuk selamanya. Mereka juga berpesan keras-keras: "Jangan nakal, jangan takut, jaga diri kalian baik-baik, kami mencintaimu" Selalu diulang dan diiringi kecupan bertubi-tubi" (hlm 24)


Sedangkan pada cerpen dies irae, dies illah kita disuguhkan situasi perang saudara di sebuah negeri dari sudut pandang seorang anak kecil yang tidak mengerti apa sesungguhnya arti perang itu. Ketika si anak ditanya tentang ayahnya yang ikut berperang, terjadi dialog yang menarik,

"Kata ibuku, ayahmu ikut gerombolan El Sadik"
Amzo mengangguk, "Bersama Tello."
"Aku kenal dia - bajingan kampung."
"Katanya dia pahlawan."
"Siapa bilang?"
Amzov menggeleng. "Aku cuman menguping pembicaraan orang."
Jangan mau diperdaya," tutur Dula. "Perang ini adalah perang ego, antara gubernur yang bekas preman dan preman yang mau jadi gubernur"
(hlm 84)

Melalui cerpen ini kita juga akan disadarkan bahwa yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang mungkin terlupakan dan hanya akan muncul sebagai angka statistik semata

"Dalam waktu singkat, dunia akan berkabung dan menyayangkan kepemimpinan seorang gubernur yang tak tanggung-tanggung menghajar warganya senidri demi mempertahankan kekuasaan. Dalam waktu singkat, orang-orang yang tak pernah angkat senjata akan berakhir di layar kaca sebagai statistik. Angka yang terus membengkak"
(hlm 90)

Masih banyak cerpen-cerpen menarik dengan keragaman tema dalam buku ini, pada cerpen Saksi Mata kita akan melihat sikap ketidakpedulian masyarakat urban terhadap lingkungannya. Pada cerpen ini dikisahkan beberapa penghuni apartemen yang melihat sebuah kejadian pembunuhan namun pada akhirnya tidak ambil peduli ketika polisi hendak meminta keterangan mereka. Walau di cerpen ini tidak dikisahkan secara jelas bagaimana para saksi mata enggan untuk dimintai keterangan namun dengan cerdas penulis menuliskan sebuah adegan yang menyiratkan keengganan mereka.

Lalu ada pula cerpen sederhana berjudul Jam Kerja tentang pikiran sang tokoh yang megembara kemana-mana saat seorang wanita menyampaikam sebuah presentasi di kantornya. Kisah yang menyadarkan kita semua bahwa ketika kita hidup dalam rutinitas pekerjaan yang itu -itu saja maka pikiranlah yang akan membawa kita keluar dari perangkap rutinitas yang membosankan itu.

Masih ada beberapa cerpen-cerpen yang menarik yang sengaja tidak saya bahas dalam review ini, biarlah sisanya saya serahkan pada calon pembaca buku untuk menikmati keunikan atau keabsurdan cerpen-cerpen lainnya. Selain 14 cerpen yang tersaji dalam buku ini, penulis juga memberikan bonus berupa 5 cerpen dalam bahasa Inggris dan halaman extra berupa penjelasan dari penulisnya tentang proses kreatif dan latar dari beberapa kisah yang ada di buku ini. Sebuah booknote unik juga diberikan secara gratis kepada mereka yang membeli buku ini.



Seberapa absurd-kah kisah-kisah dalam buku ini? Setelah membaca ke-14 cerpennya, saya koq merasa tidak semua cerpen dalam buku ini bisa dikatakan kisah absurd seperti definisi absurd yang terdapat di lembar pertama buku ini.


absurd = tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak

Jika berdasarkan definisi tersebut saya berpendapat beberapa kisah dalam buku ini bukanlah kisah absurd antara lain pada kisah Kristallnacht, dies irae, diel illa, Saksi Mata, Ro-Kok, Jam Kerja, Suatu Saat Kita Ingat Hari ini. Bagi saya kisah-kisah tersebut kurang tepat dikatakan kisah absurd dalam artian tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Namun tepat bila absurd di sini ada dalam artian alur, karakter, ending yang menggantung, nama-nama tokoh yang tidak lazim, dan lokasi setting cerita yang tidak teraba.

Terlepas dari definisi absurd dan apakah ini merupakan kumpulan kisah absurd atau bukan, saya bisa menikmati cerpen-cerpen dalam buku ini dan saya juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada penulis karena telah memberikan warna baru bagi dunia cerpen tanah air karena Maggie menulis dengan caranya sendiri yang unik, orisinal, dan melompat jauh dari pakem cerita pendek di ranah fiksi Indonesia namun masih tetap bisa dinikmati walau beberapa cerpennya kadang membuat kening berkerut.

@htanzil
Profile Image for Freyja.
264 reviews10 followers
December 27, 2020
Terkadang memang tidak penting dari mana atau ke mana kita melangkah dalam sebuah cerita, pertanyaannya adalah: apa yang kita alami saat membaca?

Buku ini udah lama banget berdiam di daftar TBR saya. Mungkin kesalahan ekspektasi yang ketinggian, selesai baca rasanya sedikit kurang puas. Tapi saya tetap suka dan kagum sama cerita-cerita yang dituturkan Maggie Tiojakin, mau dibilang absurd juga--sebenernya emang paling akurat tuh apa yang dibilang di bagian kata pengantar, kisah di dalam buku ini merupakan sekelumit pengalaman. Kadang hidup itu nggak bisa dijelaskan semudah perjalanan tokoh utama yang punya tujuan dan tokoh jahat yang menghalangi dia mencapai titik akhir itu. Kayak setiap hari saya selalu buka jendela kamar lebar-lebar dan nggak ada apa pun yang terjadi, sampai suatu hari ada kadal masuk kamar lewat jendela itu terus saya kelimpungan, dan sejak saat itu saya jadi nggak berani buka jendela kamar lagi. Kayak gitu, susah dijelaskan pokoknya. Sekelumit pengalaman di buku ini memang seringkali bikin kita mengerutkan dahi (apalagi endingnya anjay), tapi mereka ditulis dengan begitu cermat sekaligus cantik (di mata saya) jadi pada akhirnya ya nggak masalah kalau harus mikir dikit-dikit demi mengira-ngira maksud mereka apa. Hmmm favorit saya mungkin "Tak Ada Badai di Taman Eden", "Saksi Mata", dan "Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar".
Profile Image for Fitrah.
46 reviews7 followers
January 17, 2021
TMI : Ini buku cuma 240-an halaman, tapi aku lama banget nyelesaiinnya.

Mengapa? Karena saya sedang jatuh cinta... (No one freaking care about that Fit).

Ini buku tidak sengaja aku temui di IJakarta, karena covernya yang cakep banget (lebih ke absurd sih). Dengan bentukan kumpulan cerita pendek dan menawarkan keabsurd-an untuk setiap ceritanya. Maka aku sungguh tertarik untuk membacanya.

Ketika membaca sinopsis bukunya, aku berekspektasi tinggi akan cerita-cerita didalamnya. Dan tentu karena segala keunikan yang aku temui di cover nya tersebut.

Ya, aku setuju dengan premis bahwa ini adalah cerita-cerita yang absurd. Lebih-lebih lagi aku tak bisa langsung menyimpulkan makna ceritanya.

Tapi bentuk ceritanya just not my cup of tea. Aku sangat tak bersahabat dengan cerita yang menggantung seperti ini huhuhu. Ending menggantung tuh sangat tak mengenakan hati (digantung tuh nggak enak guys).

Tapi kalo kalian suka berasumsi terhadap ending sebuah cerita. Maka buku kumcer ini adalah pilihan yang baik.

Cerita Favoritku ada 2. Yang pertama yaitu cerpen berbahasa Indonesia yang berjudul "Dies Irae, Dies Illa". Dan yang kedua cerpen berbahasa Inggris yang berjudul "Violet".

(spoiler without context) :

"Violet" itu kucing guys....
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
December 15, 2017
I had a kind of hate-love relationship with this book. Actually I started reading this book months ago, but despite of its "absurd stories collection" label, I found nearly nothing as absurd as I hope stories could be. Maybe because I have been accustomed to the absurdity of Kafka's stories, Reza Nufa's stories in "Pacarku Memintaku jadi Matahari", and others, I found that these Maggie's stories are not absurd enough for me. And somehow there was something with her writing style that along with this "not-absurd-enough" made me lost appetite of digesting them. So, I have finished reading some stories and then stopped.

And then, now, I decided to continue reading it since I felt like a irresponsible reader for leaving a book read unfinished. Maybe my mood was different with the last time, I could digest these stories up to the last page, and somehow I found some beauty in some of them. But still, for me, these stories are not absurd enough to be called absurd.
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
March 17, 2020
Saya sangat menikmati keabsurdan kumpulan cerita pendek ini. Ending-nya banyak yang menggantung, tapi ada juga yang sungguh tidak terduga. Misalnya ketika saya selesai membaca "Fatima" yang ceritanya cukup menegangkan, saya tersenyum sambil bergumam dalam hati, "Ah! Aku tertipu." Ada juga beberapa cerita absurd yang buat saya justru terasa romantis.

Meski cukup banyak kata tidak baku yang seharusnya mengusik saya, atau ketika istilah "memicingkan mata" digunakan untuk menggambarkan tokoh yang menyipitkan mata, saya memilih mengabaikan semua itu. Saya terlalu menikmati ceritanya. Buat saya, penulisnya sungguh lihai bercerita.

Cerpen yang paling saya suka hingga saya baca lebih dari satu kali: Lompat Indah, Fatima, Kota Abu-abu, dies irae dies illa, dan tentu saja Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa.

Selamat membaca dan biarkanlah dirimu tersesat dalam keabsurdan cerita-cerita dalam buku ini.
Profile Image for Shabrina Haq.
22 reviews
December 13, 2023
It was an unpleasantly great book. Dimana cerita-ceritanya tidak mengikuti aturan atau format penulisan yang sering kita pelajari di sekolah. Unpleasant karena ada jalan cerita yang 'tidak jelas'. Melawan normalitas penulisan lah istilahnya. Banyak yang ceritanya diakhiri sedemikian rupa sehingga pembaca ditinggal bertanya-tanya.

What I like the most is the way the writer sort of let the reader wander about the actual meaning of the book. Kita seperti dikasih kesempatan untuk meninterpretasikan apa yang kita baca.

Dan personally, ini membuat aku terinspirasi dan terdorong untuk melanjutkan menulis karya-karya yang sempat tertunda (haha) Lewat buku ini, Maggie Tiojakin seakan memberi permisi dan membuka gerbang bagi saya untuk membuat tulisan yang tidak mengikuti gaya yang 'normal' dan 'tradisional'.
Profile Image for milobeku.
18 reviews
June 2, 2024
sama seperti judulnya, buku ini berisi cerpen-cerpen "absurd" yang lebih banyak meninggalkan tanda tanya dibandingkan makna. aku pribadi suka banget sama penulisan dan pemilihan diksinya, bikin ceritanya tetap engaging meskipun aku tau akhirnya bakal lain dari ekspektasi. nilai plus lain dari buku ini adalah range latar belakang cerita yang luas dengan nama-nama yang unik. personally di antara cerpen yang ada di sini, yang paling berkesan buatku yaitu 'kota abu-abu' dan 'dia, pemberani'. walaupun ditutup tanpa closure yang saklek, kedua cerita itu ninggalin suatu perasaan tertentu setelah membacanya, berbeda dengan beberapa cerita lainnya di koleksi ini yang terkesan tanpa "tujuan." tbvh aku mungkin bakal baca-baca buku lainnya karna lagi dan lagi, aku suka gaya penulisannya. but for this book i would give it a 3,6 ⭐
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Gege.
15 reviews
June 5, 2022
Berisi 14 cerita pendek berbahasa Indonesia dan 5 cerita pendek lagi berbahasa Inggris. Seperti judulnya, isinya adalah kumpulan cerita absurd atau aneh. Tapi tidak seaneh itu.

Cerita-cerita yang disajikan ditulis dengan bahasa yang lugas dan alur yang sulit ditebak. Setiap akhir cerita dikembalikan kepada pembaca untuk menebak-nebak. Namun setiap cerita memberikan kesan masing-masing. Yang paling menjadi favorit cerita dengan judul "Kota Abu-abu", cerita ini lucu sekaligus menghangatkan hati saya dalam satu waktu.
Profile Image for Ditadelia.
184 reviews2 followers
August 9, 2022
Cerpennya bagus2.. Bonus English story-nya juga bagus. Cuma yaa agak loading ya buat si aku yg emang kurang pinter English. hehe..
Menurutku ceritanya ngga se-absurd yg dibayangkan kok, tetap bisa dinikmati pembaca. Cuma memang hampir semua ceritanya seperti berhenti di tengah2 (ngegantung/tdk tamat). Selain itu nama² karakter tokohnya unik² banget, nama yg bahkan ga akan kepikiran ada di cerita mana pun. Kalau dua hal itu bisa dikategorikan "absurd", rasanya tidak ada hal lain yg "salah" dgn ceritanya ;-)
Profile Image for Lania Akhmetzyanova .
242 reviews1 follower
September 13, 2018
Anjirt! Adalah kata pertama yang keluar dari mulut setelah membaca salah satu cerpen. Kumcer ini dibeli adek dengan sangat random karena tidak tau mau beli buku apa. Penulisan, diksi, font sangat bagus dan rapi. Awal baca saya tidak berekspektasi apapun. Akhir cerita yang selalu menggantung, membuat diriku membayangkan cerita selanjutnya (ala persepsi sendiri). Berharap akan lebih banyak penulis seperti dia. Tidak diragukan lagi kemampuan dalam ramuan metafora.
Displaying 1 - 30 of 132 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.