What do you think?
Rate this book


241 pages, Paperback
First published July 15, 2013
“Katanya di tempat itu hujan tak pernah sedetik pun berhenti mengguyur. Pagi, siang, sore, malam. Hujan lebat tak ada akhir. Mereka bahkan tiak bisa tidur. Air di mana-mana.” –Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, hlm. 195
Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah, dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa. Merah, kuning, biru, hijau, jingga, ungu, semua tampak sama saja jika dibalut sendu. Hanya ada satu warna yang konstan di sini; yaitu abu-abu. Bahkan air laut yang mengelilingi tepian kota tampak keabuan. Begitu pula dengan langit yang memayungi serta tanah yang menjadi pijakan kami.
Salina buru-buru menghabiskan sajian makan malam yang tersedia di atas meja sambil terus melirik ke arah jam dinding. Pipinya menggembung, penuh makanan. Ia mengunyah sekuat tenaga. Ibu memperhatikan gerak-gerik putri bungsunya dengan mata mendelik. "Makan yang benar," ujar wanita paruh baya tersebut. "Nanti tersedak. Nggak bisa napas."