"Bahwa Sukanto Tanoto tidak lagi bisa lepas, bahwa Vincent bebas, dan bahwa Metta berhasil menerbitkan buku ini — itu tanda bahwa harapan tidak selamanya palsu."
- GOENAWAN MOHAMAD, Budayawati, Esais, Pendiri majalah Tempo
"Sebuah karya naratif non-fiksi yang penting, yang tampaknya akan bertahan lama setelah skandal pajak terbesar di Indonesia ini tercatat dalam buku-buku sejarah."
- JANET STEELE, Associate Professor, School of Media and Public Affairs George Washington University
"Ini merupakan prestasi pers dan jurnalisme yg sempurna: mulai dari peliputan penyi-dikan sampai ke pembebasan subjek berita. Bagi pers, membantu penegakan hukum sama pentingnya dengan melindungi narasumber."
- ATMAKUSUMAH ASTRAATMADJA, Mantan Ketua Dewan Pers, penerima Ramon Magsaysay A ward
"Saksi Kunci membawa kita keluar dari dunia hitam-putih buku teks jurnalisme ke dunia nyata peliputan investigatif dan dilema etika. Inilah kisah mencekam wartawan Tempo Melta Dharmasaputra menyingkap kasus penggelapan pajak dan korupsi masif oleli salah seorang pengusaha terbesar di Indonesia. Terlebih dari itu, buku ini bercerita tentang bagaimana seorang wartawan berpegang teguli pada komitmen profesionalnya terhadap kebenaran dalam menghadapi tantangan etika yang tak terduga.yang muncul akibat hubungannya dengan whistleblower."
Waktu saya kuliah dulu, salah seorang dosen saya di FE-UGM, Revrisond Baswir pernah bilang di salah satu kuliahnya: "Korupsi di Indonesia itu sudah jadi budaya (hampir semua orang Indonesia melakukannya), TIDAK bisa dianggap cuma sebagai fenomena (shg sang pelaku bisa dinyatakan sebagai "oknum"). Kemudian saya pernah mendengar pendapat seseorang, aduh saya lupa siapa, yang menyatakan: "Tipe orang Indonesia ada 2. Satu, Koruptor, Dua, Calon Koruptor". Karena yang tidak korupsi adalah orang-orang yang belum punya kesempatan untuk melakukan korupsi, yang akan melakukannya saat mereka punya kesempatan.
Oke, berikutnya saat masih SMA, saya ingat salah seorang guru agama saya di SMAN 78 Jakarta, Ibu Siti Chosiyah, pernah menasehati di kelas, agar kami murid-muridnya, tidak usah repot-repot memprotes korupsi dan tindakan manipulasi yg dilakukan para pejabat. kami cukup istiqamah, dan nanti pada saatnya kami menggantikan para pejabat itu, barulah saat itu kami melakukan hal yang benar dengan tidak melakukan hal yg buruk tersebut. Terus terang saya tidak tahu bagaimana pendapat Bu Chosiyah saat mendengar kasus korupsi/kolusi Gayus Tambunan yang 8-9 tahun lebih muda dari kami (dan saat Reformasi 1998 masih berusia 19 tahun) tapi ternyata malah "belajar" dari para seniornya, dan melakukan korupsi juga. Sigh!
Setelah membaca buku ini, saya seperti disadarkan kembali bahwa pendapat Pak Revrisond memang benar. Korupsi sudah jadi budaya. Bahkan para aparat pun secara kompak membantu pelaku tindak pidana manipulasi pajak sebesar Rp 1,3 triliun. dan malah "menyerang" sang whistleblower yang menginformasikan ke aparat pajak, serta sang wartawan yang membantu mengungkap kasus tersebut.
Walau mungkin kita masih bernafas lega bahwa masih ada sang whistleblower (Vincent) yg walaupun niat awalnya membocorkan data ini adalah karena membalas dendam ke Big Boss (Sukanto Tanoto) yang menolak mengampuni tindakannya yg mencuri uang Perusahaan. masih ada sang wartawan (Metta dan para atasannya) yang tidak hanya berjuang mengungkap kasus ini, tapi juga membantu melindungi Vincent, bahkan dengan cara yg agak abu-abu yaitu meminta bantuan konglomerat lain untuk melindungi Vincent di tahanan. masih ada aparat pajak (another penyandang bad name lainnya) yang di buku ini jadi protagonis karena gigih mengusut kasus ini, dan masih ada para pendukung lainnya di KPK, LSM, Pemerintahan, yang dengan gigih mempertanyakan keseriusan aparat membereskan kasus ini dan kadang membantu para tokoh kita itu mendapatkan keadilan. Namun kita juga masih miris, karena tetap saja tidak ada protagonis buku ini yang berasal dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Hakim. Mereka sepertinya malah berada di sisi sang pelaku manipulasi pajak. sangat mengherankan.
Mengenai bukunya... saya harus mengakui kehebatan sang penulis yang bisa membuat saya betah membaca dan menyelesaikan buku setebal 400 halaman ini, padahal topik yang dibahas adalah topik yang sangat tidak bersahabat: manipulasi pajak, reportase kasus hukum, rentang waktu peristiwa yang cukup panjang, dsb. Buku berbentuk reportase ini berhasil membuat kita memahami dan berempati terhadap Vincent, dan menyadari bahwa ... well negeri ini memang masih termasuk negeri korup, atau kalau meminjam istilahnya Tere Liye adalah "Negeri Para Bedebah". Untuk itu saya ikhlas memberi bintang 5 untuk buku ini. Saya benar2 kagum dan tersentuh, sekaligus geram, dengan penuturan di buku ini.
Dan jika ada yang menanyakan kepada saya, "apakah yang akan saya lakukan di negeri yang korup ini? apakah saya berniat menjadi another Vincent atau another Metta? Dengan sangat menyesal saya akan bilang, buku ini mengajarkan bahwa saya tidak akan mengikuti jejak Metta dan Vincent. Begitu banyak yang harus mereka korbankan. tapi bahkan mereka terus "diserang" dengan upaya kriminalisasi terhadap mereka. dan menyakitkannya serangan ini didukung oleh para aparat negara. saya harus katakan: saya belum siap menghadapi itu. Mungkin saya akan mengikuti anjuran Wagub DKI, Basuki Purnama (Ahok) saat Hari Pahlawan kemarin. Bahwa untuk menjadi pahlawan masa kini cukup dengan TIDAK KORUPSI saja. Karena dengan tidak korupsi akan tidak menyusahkan masyarakat banyak. Saya sepakat dengan Beliau, dan saya bertekad TIDAK AKAN MELAKUKAN KORUPSI. Itulah sumbangan saya buat negeri ini. :-)
Update terakhir mengenai kasus Vincent ini, hingga saat ini Asian Agri belum membayar hukuman denda sebesar Rp 2,5 triliun. Pada bulan Desember 2012, saat MA mengumumkan keputusan denda ini, Kejaksaan Agung memutuskan memberi waktu 1 tahun bagi Asian Agri sebelum melakukan eksekusi (yang akan jatuh tempodi bulan Desember 2013 ini). Ada kekhawatiran bahwa Asian Agri akan melemparkan denda ini ke Suwir Laut (Manajer Pajaknya) yang dinyatakan bersalah, dengan menyatakan bahwa ini bukan salah mereka tapi ide karyawannya sendiri. Sehingga Negara tidak akan mendapat denda tersebut, karena tidak mungkin Suwir Laut membayar angka tersebut. Saya sih berharap Ditjen Pajak tetap akan menagih paling tidak Rp 1,3 triliun itu dan denda 48% karena walaupun Asian Agri memang tidak berniat melakukan kesalahan itu tapi tetap saja kan Negara harusnya mendapat uang tersebut, karena memang harusnya uang tersebut masuk ke kas negara sebagai pendapatan pajak. Semoga benar begitu. Aamiin. :-)
Gituuuu....
Review sebelum membaca:
Saya belum membaca buku ini, tapi saya harus kagum karena begitu banyak yang memberi bintang satu kepada buku ini. Ada 16 orang. Tapi begitu anda membuka profile mereka maka terlihat ada 2 jenis pemberi bintang satu tersebut, yaitu:
Tapi hebatnya ada juga yang baru punya satu buku dan juga masuk Goodreads di bulan September 2013, memberi bintang lima: 1. Lince: https://www.goodreads.com/user/show/2...
Jadi bikin penasaran deh. Oke sepertinya saya harus mulai membaca buku ini secara serius. Biar tidak penasaran. :-) "Perang" sepertinya sedang berlangsung. hehehe.....
I'm an Indonesian student whom study overseas. While I was studying about tax cases in Indonesia, I found out about this book. Actually in my opinion there's some things that can't be taken rationally. For example why Vincent have to take money from other businessman for backing him up? While if I'm not mistaken, the businessman was only give him around 70 mills? The question is, was it rite that Vincent didn't have that money? Seems like he was a financial controller in a big company before. Did he really didn't have that amount of money to backed himself? In this book, when you read it carefully seems like so many things sounds fishy. I still trying to find articles or review from other people's opinion that have the same opinion like me tho.
buku nonfiksi tentang keuangan? hmm...tidak favorit! tapi Metta Dharmasaputra membuat saksi kunci sangat menarik untuk dilewatkan. Tegang, geram, sedih, bahagia, takut, dan optimism dengan metode naratif yang sangat memukau. Saya pikir, ini adalah buku wajib bagi mereka yang mengaku dan ingin menjadi wartawan investigasi handal dan penuh integritas.
Barangkali ini buku non-fiksi pertama di abad 21 Indonesia yang menulis secara rinci dan berusaha membedah persoalan rumit sarat jargon teknis.
Gaya tulisan naratif yang bertutur tak pelak harus diambil. Jika tidak, buku ini kandidat utama penghuni rak berdebu karena membosankan. Usaha keras penulis untuk mempermudah pembaca paham duduk persoalan patut diacungi jempol. Tak mudah memahami logika masalah keuangan yang menjadi biang kerok persoalan yang diungkap buku ini.
Bagi saya, tata letak buku menjadi masalah yang cukup mengganjal karena menimbulkan kesan terburu-buru disusun. Tata letak dan alur cerita sebenarnya bisa membantu pembaca lebih mudah dan lebih cepat paham. Meski penulis sudah berusaha menerapkan gaya naratif, bagi saya ketika membaca lebih banyak, terasa kurang mulus.
Tak adil membandingkan buku ini dengan karya non-fiktif lain yang mengadopsi gaya tulisan serupa, seperti "Unto the Sons" dan "Honor Thy Father" dari Gay Talese, atau "Black Hawk Down" dari Mark Bowman. Namun di masa depan, boleh rasanya kita berkiblat ke sana. Supaya Bahasa Indonesia tak lagi dibaca macam buku paket sekolah. Kaku, tidak hidup.
Buku ini berusaha menggambarkan ketegangan terkait interaksi insider suatu perusahaan dalam hal ini Asian Agri, dan bagaimana Tempo sebagai salah satu media yang setahu saya sering menguak konspirasi-konspirasi hukum, menjadi pihak yang amat fokus dan konsentrasi tinggi menguak kecurangan pajak Asian Agri. problem-problem apakah Tempo memang selama ini punya "kontak khusus" dengan KPK juga tidak sengaja diungkap dalam membantu Vincent keluar dari Singapura. negatifnya, tentu saja bahwa mengapa Vincent harus membobol perusahaannya sendiri yang sudah memberi berbagai fasilitas. mengapa pula Metta sebagai penulis buku ini dan pihak yang paling bertanggungjawab dalam upaya Tempo menguak kasus pajak, malah harus minta bantuan ke pengusaha bermasalah. padahal setahu saya, pengusaha tersebut juga bertahun-tahun lampau menjadi sasaran tembak diekspos kegagalan perusahaannya oleh Tempo. kenapa tiba-tiba berbalik Tempo atau setidaknya Metta malah akrab dengan pengusaha tersebut dan malah pula meminta bantuan dana untuk proses hukum Vincent.
Buku ini mengisahkan bagaimana seorang whistleblower membongkar kasus penggelapan pajak oleh Asian Agri Group, sebuah konglomerasi perusahaan yang dipimpin oleh Sukanto Tanoto. Vincent, menjadi whistleblower karena ia tidak diberi ampunan oleh Sukanto Tanoto ketika ia "membobol" Asian Agri Group. Vincent melakukan tindakan kriminal, yang ia akui dan dia bersedia mempertanggungjawabkannya. Kemudian dalam prosesnya ia membantu membongkar penggelapan pajak Asian Agri yang nilainya mencapai Rp. 1,3 Trilliun. Mahkamah Agung sudah memutuskan Asian Agri bersalah dan harus membayar denda. Inilah kasus penggelapan pajak yang terbesar di Indonesia.
Liku-liku membongkar kasus penggelapan pajak inilah yang dikisahkan oleh Metta dalam sebuah buku. Mendebarkan, karena Vincent harus menghadapi "kekuatan" yang besar yang mampu mempengaruhi sejumlah instansi supaya Vincent "dibungkam".
Buku Saksi Kunci bisa saya katakan, dilematis. Berusaha mengungkap suatu kasus, ada interaksi antara si wartawan dengan seorang eks karyawannya, tapi kenapa harus meminta bantuan dana dari pengusaha bermasalah? Yang juga tidak cukup jelas, mungkin juga karena kebingungan dari si pengungkap kasus perusahaan, mengapa berubah mendadak dari awalnya membobol keuangan perusahaan dan lalu jadi mengancam perusahaan tempat dia kerja? Karena gambaran bahwa si sumber sedang kalut dan bingung, Metta selaku penulis juga sulit memaparkan kenapa Vincent harus membobol perusahaannya padahal secara finansial sudah amat mencukupi. Tapi problematika yang fatal menurut saya tetaplah mengapa harus minta bantuan dana pada orang lain? padahal setahu saya, Tempo (jika pun tidak semakmur media berinisial"K"), Tempo itu sangat laris dan harusnya tidak kesulitan membiayai proses-proses investigatif.
Ketika saya membaca buku ini, saya merasa seperti detektif yang sedang ikut melakukan investigasi. Tetapi ketika saya mengikuti alur cerita buku ini, banyak pertanyaan yang muncul. Mengapa seorang Vincent yang bekerja di AA malah ingin mengambil uang perusahaan? Apakah niatan dari awal sudah ingin membocorkan rahasia perusahaan? Lalu kenapa harus menggunakan Tempo sebagai media investigasi? Dan masih banyak pertanyaan yang muncul di dalam benak saya. Sehingga saya menjadi ragu apakah kejadian yang diungkap merupakan fakta ataukah hanya kepentingan politik semata.
Membaca buku ini seperti membaca novel detektif. Penulis yang merupakan mantan wartawan Tempo, menuliskan dengan gaya bertutur. Sayangnya penceritaan tidak mengikuti alur kronologis. Sering seperti membaca kilas balik. Namun sebagai sebuah catatan mengenai mega skandal, buku ini layak dibaca
Jadi ingat, sewaktu saya masih kuliah di FISIPOL UGM salah satu dosen pernah bercerita dirinya pernah bertengkar dengan kolega sesama dosen perihal skandal ini. Pertengkaran tersebut pun berakhir dengan adu pukul. Ahh, ada-ada saja emang.
Tapi, saat itu saya tak terlalu ambil pusing dengan "kenapa" mereka bertengkar tapi lebih tertarik dengan "bagaimana" hasilnya dari adu pukul tersebut.
Sekarang, setelah membaca buku ini saya jadi mengerti skala massive-nya skandal ini pada waktu tersebut. Benar-benar skandal yang menarik untuk disimak.
Buku ini membeberkan fakta tentang keberadaan mafia yang sebenarnya di Indonesia, yang selama ini mungkin tidak diketahui banyak orang awam. Dalam buku ini, Metta Dharmasaputra menyampaikan fakta dan data dengan cara yang mengalir sehingga jauh dari kesan kaku atau serius seperti jurnal ilmiah, namun tentu konten buku ini sebenarnya adalah fakta, data dan analisa yang kuat atas sebuah kasus korupsi besar yang terjadi di Indonesia.
Wawww pertama kalinya baca karya Jurnalistik investigasi, cara penulisan yang mengambil sudut pandang dari penulis membuat membaca buku ini seperti ikut dalam proses investigasi. Banyak pengetahuan baru tentang TPPU dan proses penyusunan berita pada Tempo.
Saat memulai membaca ini, banyak hal-hal menarik bahwa ternyata penulis punya memori yang kuat dalam kegiatan jurnalistiknya. Selanjutnya, ada hal manusiawi dalam menolong orang lain yang mengalami berbagai dilema. Kekurangannya, mungkin lebih ke fisik buku. Sampulnya bagus, tapi terlalu tebal. Untung saya betah membaca buku yang tebal. Kalaupun ada hal yang kurang berkenan atau mungkin agak kurang terjawab, karena ada kondisi harus mencari bantuan dana kepada pihak yang sebetulnya juga punya track record bermasalah secara hukum (sepengetahuan saya) dan ternyata (dijelaskan pula oleh penulisnya sendiri) bahwa orang yang dimintai bantuan pernah bersengketa dengan poemilik Asian Agri. Memang jarak waktunya sudah amat jauh antara tindakan investigasi kewartawanan dari penulis dengan keterpaksaan meminta bantuan. Tapi menurut saya, poin tersebut menimbulkan minus yang besar karena (menurut saya, sejujurnya), sangat rumit jika ternyata ada dilema konflik kepentingan pada pribadi tertentu yang punya kaitan agak negatif dengan pihak lain. Positif yang membantu buku ini tetap menarik sekalipun banyak kekurangannya, adalah kebersamaan keluarga dari pihak keluarga besar Vincent.
Enak dibacanya, serasa membaca bacaan saya waktu SD (Trio Detektif, Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu )...
Saya tdk peduli siapa Metta, si penulis buku ini ataupun siapa saja yang ada di belakang, samping kiri-kanan maupun di depannya, karena yang saya lihat adalah semangat yang luar biasa untuk membongkar kasus pengemplangan pajak itu ..
Di buku ini pula kita bisa melihat sosok2 yg sok penegak hukum tapi malah "tidak tahu" hukum, bahkan lebih tepat "sok tahu" hukum walaupun itu hanyalah gambaran atau ceritera dari seorang Meta, tetapi hal ini bisa menjadi gambaran tentang "situasi" hukum di negeri ini.
Di buku ini pula terbayang kekuatan "uang" yang memang tidak kasat mata terlihat, dan itu juga merupakan gambaran nyata di negeri ini.
Buat saya, buku ini bagus, mendidik, mencerahkan dan menginpirasi tinggal kita tunggu saja apakah ada kelanjutan ataupun sambungannya lagi setelah pengajuan PK (Peninjauan Kembali) pihak Asian Asri atas keputusan Mahkamah Agung diputus? Bagaimana dengan nasib Vincent dan Meta selanjutnya? Kita tunggu episode selanjutnya ...
Bukunya menurutku suspense banget. ada semacam aksi saling waspada satu sama lain. dikejar, mengejar, dikejar balik. Tapi banyak yang janggal. kenapa tidak diceritakan tokoh lain diluar Vincent yang menghubungi Metta Dharmasaputra selaku penulis, yaitu tokoh yang memberitahu letak berkas-berkas ratusan kardus milik Asian Agri? padahal pembongkaran letak berkas yang sampai ratusan kardus, yang kemudian harus diulang reka perkaranya, dikembalikan, diangkut lagi, mengambil porsi yang sangat banyak. bagaimana nasib si tokoh ini? mengapa justru tidak dilindungi seperti upaya Metta melindungi Vincent? mengapa juga hanya meminta bantuan yang seolah-olah pengusaha kakap tersebut yang bisa membantu pendanaan bantuan hukum bagi Vincent? memangnya tidak bisa meminta bantuan pihak lain yang lebih bersih secara hukum? atau masa' Tempo tidak bisa membiayai sendiri proses investigasi tema pemberitaan tertentu?
Secara fisik, enak digenggam sekalipun tebal. karena dibagi dalam sub bab pendek, tidak terasa bisa-bisa habis dibaca dengan cepat. Menarik, menceritakan perjuangan tentang apakah seorang "insider" berhak dan etis menyerang perusahaannya. Tapi problemnya, secara jujur nih dari pendapat saya, seolah acuan mempercayai penyelewengan perusahaan hanya dari 1 orang. atau dihitung dua, jika menghitung si pengirim surat. masalahnya, entah mungkin saya yang terlalu awam, apakah logis seorang yang melakukan kejahatan pembobolan, bisa dipercaya pula sebagai semacam "insider", sebagai whistleblower. Saya yang mungkin awam, melihatnya koq jadi "dosa kecil berusaah ditutupi dengan menawarkan mengungkapkan dosa besar". positif dan negatif suatu buku, pendapat masing-masing juga. Bukunya bagus tapi agak aneh dan banyak anehanya dalam beberapa aspek.
Ceritanya memang seru, pindah-pindah dari singapura hingga jakarta, dari hotel yang satu ke hotel yang lain. Tapi kenapa harus membobol perusahaan yang sudah jelas-jelas memberi banyak sekali fasilitas. agak membingungkan saat Vincent tidak bisa menjelaskan kenapa harus membobol dan kemudian berbalik menusuk perusahaannya sendiri. apakah karena dorongan moral bahwa perusahaan tidak bisa terus menerus memanipulasi pajak? atau semata bargaining si Vincent agar tidak dihukum perusahaannya setelah membobol? bukankah memang Vincent yang ditugaskan memanipulasi pajak? kenapa harus meminta uang sampai 100 jutaan pada orang lain? bukankah dengan meminta bantuan danan akhirnya mencederai jurnalisme yang dilakukan si Metta. tapi memang seru berbagai intrik-intriknya
Ekspetasi awal, buku ini saya pikir akan sangat bagus dan benar-benar lain daripada yang lain. apalagi penekanan kasus yang diungkap, dan sepemahaman saya belum pernah kasus semacam itu diungkap ulang dalam satu buku. Tapi setelah membaca hingga selesai, ada banyak hal yang "terputus benang merahnya". tentang orang lain tapi bukan Vincent, bagaimana nasibnya padahal melakukan penyampaian letak barang bukti yang jauh lebih berbobot. tentang konflik antar dua pihak yang biasa masuk daftar orang terkaya. tentang mengapa harus ada "seserahan bantuan" yang saya yakini harusnya bisa terkumpul jauh lebih banyak tanpa harus melibatkan pihak lain yang kontroversial. pengungkapan isu utamanya bagus, tapi hal-hal kecil yang agak janggal mengurangi bobot antusias terhadap buku.
Ada paparan yang tidak biasa dibanding buku-buku tema konspirasi atau tema bisnis. Mungkin malah buku ini menggabungkan keduanya. Jarang ada yang menulis semacam ini, atau malah mungkin baru ini yang pernah dibukukan. Positifnya, banyak data dan paparan kualitatif. Pembaca yang tidak biasa dengan paparan kata, bisa diperjelas dengan data. Mungkin karena memang terkait bisinis dan perpajakannya. kekurangan atau yang bisa saja mengecewakan, mungkin lebih ke masalah kenapa harus "meminta uang bantuan" dalam hal biaya advokasi bagi Vincent. sebegitu besarkah 70an juta atau sekitar angka itu untuk disisihkan media sebesar Tempo. Masih ada banyak yang bagus-bagus dalam buku ini, tapi juga banyak kekurangannya.
Setelah akhirnya saya selesai menamatkan buku ini, tentu menarik melihat pendapat pembaca lain di goodreads ttg buku ini. Beberapa akun memberi bintang 1, jadi saya ingin tahu apa kritik mereka yg menyebabkan pemberian predikat "tidak suka" pada buku ini. Tapi sebelum membaca salah satu review ini dgn seksama, dua kesamaan di antara para pembaca ini menarik saya lebih dulu: mereka memasukkan buku ini sebagai bacaan di Goodreads pada bulan September-Oktober 201_, dan hampir semua tidak lagi mengaktifkan akun Goodreads mereka setelahnya.
Sayang. Padahal siapa tahu kami bisa diskusi tanpa harus dinilai oleh dosen.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bukunya memang agak lain dibanding yang lain. Mungkin karena tema yang diangkat berbeda. ada kurang lebihnya, itu wajar. intrik-intriknya, baik di pihak Media dan whistleblower, menarik dan menegangkan. kekurangannya, mungkin sebagai teknis antara pekerja dan korporasi, agak janggal dengan segala fasilitas yang ada kemudian membobol dan lalu menghancurkan perusahaan. Hal itu yang kurang dieksplor, dan penulis sendiri yang menyatakan bahwa konteks tersebut pun tidak bisa dipahami sepenuhnya penulis.
Kredibilitas dari buku inilah yang saya pertanyakan. Jika dinilai dari sudut pandang bangsa Indonesia, sepertinya kasus-kasus seperti ini memang berpihak kepada kepentingan saja. Seharusnya banyak hal-hal yang seharusnya cukup disayangkan terjadi dari pihak dirjen pajak maupun pemerintah.