Jump to ratings and reviews
Rate this book

Fira dan Hafez

Rate this book

248 pages, Paperback

First published June 24, 2013

16 people are currently reading
161 people want to read

About the author

Fira Basuki

35 books152 followers
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.

Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.

Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Fira_Basuki)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (24%)
4 stars
27 (30%)
3 stars
27 (30%)
2 stars
10 (11%)
1 star
4 (4%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
August 28, 2013
Merupakan buku yang aku tunggu-tunggu. Sebelumnya sudah tau sedikit tentang cerita pilu yang menimpa suami Fira Basuki lewat twitter. Lewat twit nya Fira memohon doa untuk kesembuhan suaminya yang sedang koma di rumah sakit di Jogjakarta. Wah..saya lumayan kaget karena setau saya Fira sudah bercerai dan belum pernah baca berita di infotainment jika beliau sudah menikah lagi....yee ketauan sering nyarap infotainment..Ya kan sekarang kan apa-apa diberitakan gitu loh...jangankan nikah, bersin aja kalo perlu publik figur itu selalu diberitakan sama "rekan-rekan" infotainment...

Kembali ke Fira, beberapa buku nya sudah saya baca dan sejauh ini favorit ku Rojak dan Jendela Jendela. Setelah mengetahui suami Fira sedang koma, jadi mantengin terus berita selanjutnya dengan mendoakan mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan. Saat Hafez akhirnya berpulang aku turut merasa sedih, ikut meneteskan airmata. Setelah suami Fira berpulang, Fira kerap mentwitt kisah-kisah mereka, kadang-kadang penuh emosi yang terbaca dari apa yang ditulisnya hingga berangsur-angsur terkesan pasrah dan lebih menerima.

Membaca twitt-twitt Fira saja aku meneteskan air mata, apalagi membaca buku ini. Berhubung membaca buku ini dikantor, aku berusaha keras menahan air mata, sampai ke bab saat Hafez dipanggil airmata masih tertahan hingga sampai ke bab selanjutnya yang ada foto Fira bersujud di depan masjid, dengan baju "biasa" tanpa kerudung, tapi kelihatan begitu manusiawi, apa adanya,mengadu dan pasrah kepada Ilahi Rabbi..aku sudah tak bisa menahan airmata yang langsung berjatuhan. Foto ini sangat mengharukan, buatku ini foto terbaik di buku ini.

Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
February 12, 2014
"Memiliki seharusnya mengajarkan kita tentang kehilangan dan kehilangan seharusnya mengajarkan kita tentang memiliki.”

Kata-kata itu update-an seorang teman-yang tidak terlalu akrab- di twitter tadi malam. Kedengerannya klise khas kata-kata motivator ya? Tapi buat siapa pun yang pernah memiliki kehilangan, pasti tahu rasanya seperti ini. Tidak seperti orang-orang yang hidupnya begitu normal, yang lempeng aja sok memberi nasihat.

Aku nggak bisa bohong, bahwa air mataku menggenang sambil membaca buku ini, membaca cerita sederhana yang dituturkan Fira tentang Hafez, suami keduanya yang meninggal sebelum umur 30 tahun mendadak karena aneurisma. Aku masih ingat dua tahun lalu, ketika aku membaca kabar kematian Hafez, dan kutuliskan status di google+ ku : "Bagaimana rasanya mencintai seperti itu?"

Cerita kehidupan singkat yang manis, masa-masa yang dilewati berdua, cara berkomunikasi, hal-hal sederhana yang dijalani, sekadar naik motor berdua yang lucu, Hafez, kamu pantas dicintai seperti itu. Bahwa seseorang yang kehilanganmu akan mengenangmu dengan cara yang indah.

Aku mengenal buku-buku Fira sejak masa awal umur 20-anku, dan entah kenapa merasa cocok. Buku-bukunya seperti menjadi teman, karena tidak disesaki dengan banyak petuah dan hidup itu seharusnya bagaimana, tetapi mengalir begitu saja, sesuatu sebab yang mungkin terjadi dan akibat dari hal-hal yang diungkapkan.

Fira menjelaskan bukan bagaimana perempuan menjadi tegar, tapi tentang kesakitan itu sendiri. Tentang hal-hal yang mesti ditanggungkan. Tentang jatuh cinta yang salah, tentang hati yang berbalik arah, tentang raga yang meninggalkan jiwa, tentang mabuk, ketidakbahagiaan, dan kegagalan dalam tangisan. Karena hal-hal itu ada, namun tidak pernah mampir di kehidupan orang normal, yang kehidupan cintanya semulus cerpen masa SMA. Dan ini yang banyak tidak dimengerti orang. Akibatnya orang sibuk men-judge, asik menasehati, tanpa tahu bagaimana rasanya kalah. Orang enak saja bilang, 'sudahlah' ketika sesak di dada ingin teriak, bukannya memberikan belanga untuk menangis.

Haters always everywhere. Ketika banyak orang mengatakan lebay, berlebihan, karena sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa soal kehilangan. Atau mereka terlalu sombong ketika berhasil mengatasinya.

Apakah saya berhenti menangis gara-gara sudah menulis ini? Tidak. Saya masih menangis setiap hari, bangun tidur, sebelum tidur, bahkan ketika saya berjalan sendirian di mal. Pasrah, ikhlas, bukan berarti saya tidak menangis. Ijinkan saya menangis. Bahkan setiap air adalah cerminan hati saya. Bukan karena sedih, tapi karena saya manusia dan saya mencintai Hafez. (h.110)

I feel you, mbak Fira. Ketika gamang dan rapuh memang seseorang rentan menangis. Aku pun masih seperti itu. Terkadang mentertawakan kehidupan, terkadang mengingat sambil menangis. Setelah tiga tahun yang lalu, terlalu banyak perubahan dalam diriku. Karena aku sadar yang berdiri adalah sesuatu yang rapuh, bisa hancur dalam sekali sentuh. Seperti tanah liat yang berdiri karena air, dan lebur ketika airnya menguap. Atau tanah yang berdiri tegak, namun hancur hanyut dibawa arus air..

Ketika Fira bercerita tentang Syaza Galang, anak dari pernikahan pertamanya, pastinya aku juga teringat Bintang. Gadis luar biasa sabar yang setiap hari menantiku pulang, yang seperti Syaza, aku juga tak tahu ketika ia tahu-tahu bisa naik sepeda roda duanya. Yang amat pandai dan tak lupa mengatakan I Love You sebelum tidur. Yang kukecup pipinya setiap pagi. Bintanglah guruku, tempat belajar sabar, yang membuatku lupa akan nada-nada tinggi, mencoba bagaimana memahami orang lain. Mungkin juga saking sabarnya kami sampai selalu 'ya, sudahlah' ketika ada yang jahat dan menyakiti. Bintang sering diganggu teman2nya di sekolah. Tapi ia tidak pernah membalas. Ia menjauhi dan main dengan teman2 yang baik dengannya. Ia sabar kalau meminta sesuatu dan kubilang tunda dulu. Yang jelas apa pun yang kujanjikan padanya akan kutepati. Yang tidak mampu kukatakan tidak. Karena demikianlah aku mengajarkan janji.

Hujan. Air mataku ditarik awan. Dilipatgandakan. Lalu dijatuhkan. Agar kau tahu sedih tak terperikan.
Mereka menyebut aku perempuan hujan. Karena aku perempuan.
Dan aku berteman hujan. Simpel, tapi kamu tak mengerti juga, kan?
Tangan aku kecil. Hati aku besar. Apalagi ruang memaafkan. Semua kutumpahkan. Pada hujan. (h.119)


Terima kasih kak Lisa Febrianti untuk pembicaraan kita dua tahun silam, yang mengajarkan bagaimana menghadapi kehilangan. Semoga kehidupanmu sekarang membahagiakan, dan bayi dalam kandunganmu kini lahir dengan selamat.

Terima kasih untuk seorang ibu dari dua anaknya yang sudah dewasa, yang memberikanku kesempatan berkata jujur tentang hidup, mengajari menghargai kesendirian, dan berpesan,”Nggak ada jodoh yang sempurna, mbak In.”

Seperti banyak orang yang tetap sayang Fira, semoga aku pun punya kesempatan yang sama.





Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews202 followers
February 26, 2015
"Kehilangan orang yang dekat dengan kita, apalagi yang kita sayangi atau cintai adalah salah satu ujian kesabaran, sekaligus belajar sabar." – halaman 129


Fira Basuki menuliskan perjalanan cintanya dengan Hafez Agung Baskoro. Status Fira sebagai janda beranak satu dan perbedaan usia 11 tahun tidak menghalangi mereka untuk menikah. Namun, di usia pernikahan baru menginjak 3-4 bulan dan Fira tengah hamil, Hafez tiba-tiba koma dan akhirnya meninggal dunia. Fira menuliskan semua pengalaman dan perasaan itu dalam 27 bab (Akhirnya, Saya Menulis Ini, The One, Saya Merenung, Masa Kecil Saya, Saya dan Menulis, Masa Kecil Hafez, Hafez dan Musik, Foto, dan Film, Awal Pertemuan Kami, Sigaraning Nyawa, I Do, Hamil, Tanda-Tanda, Hafez Kembali ke Allah, Dan Saya Menangis, Ada Apa dengan Jumat?, Ada Apa dengan Hujan?, Syaza, Guru Saya, Belajar Sabar, Kiad, Si Kuat, Tuhan Mahabaik, Ohana, Berbagi, Pondok Al-Hafez, Seribu Tahun dan Janji Abadi, Kata Mereka, Lampiran Cerita Pendek dan Tentang CD: Love You So Much By Tantry). Buku ini dilengkapi CD yang berisikan lagu berjudul ‘Love You So Much’ karya Tantry, yang merupakan adik kandung Hafez.

---

Fira dan Hafez menyajikan kisah cinta yang begitu mengharukan, begitu intim dan penuh pembelajaran. Lewat cerita-ceritanya, aku jadi lebih mengenal kehidupan pribadi dan profesional penulis. Aku juga mengerti kenapa penulis Jendela-Jendela, Atap dan Pintu (novel sastra Indonesia pertama yang aku baca saat SMA) bisa berkarir menjadi pemred sebuah majalah. Sebelum tahu ceritanya, aku sempet bingung soalnya, hehe. Untuk bagian-bagian yang membahas alm. Hafez, aku kagum dengan rasa cinta penulis yang begitu besar. Dia begitu mengenal alm. suaminya dengan baik. Hal-hal yang dia pelajari dari hidup alm. suami begitu berharga, menarik dan menginspirasi. Aku sempet susah lanjut ke bab-bab selanjutnya karena aku yakin ceritanya super sedih. Tapi gaya penulisannya yang enak dibaca. Penulis juga berusaha mendekatkan diri dengan pembaca dengan menulis hal-hal yang terjadi dalam proses penulisan buku ini atau sekedar bertanya bagaimana pembaca merespon ceritanya. Itu membuat aku, dan mungkin pembaca lain, seperti ‘ngobrol’ atau ‘dicurhatin’ secara langsung!

Baca review selengkapnya di sini -- http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/...
Profile Image for Jaka.
43 reviews3 followers
August 13, 2013
Saya belum pernah membaca buku-buku mbak Fira selain yang judulnya Fira dan Hafez ini. Buku ini bercerita tentang kisah nyata percintaan mbak Fira dan almarhum suaminya. Karena berasal dari sudut pandang sang penulis sendiri, jadi saya kira ini lebih seperti kumpulan diary mbak Fira (memang diary sih, hehe).

Buku ini sangat emosional, perasaan saya serasa diaduk-aduk, apalagi ketika membaca bagian ketika almarhum hafez meninggal. Itulah mungkin kehebatan cara penulisan mbak Fira, sehingga saya bisa merasakan kepedihan yang beliau rasakan.

Untuk disebut sebagai buku yang bagus mungkin relatif, penilaian saya tidak bisa juga dijadikan acuan bagus atau tidaknya buku ini. Saya hanya bisa menyarankan untuk membaca buku ini, karena pengalaman mbak FIra ini sangat bagus dan bisa dijadikan teladan buat pasangan yang sudah menikah dan mau menikah.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
February 25, 2014
Ini buku pertama Mba Fira pertama yang kubaca, buku yang sungguh emosional, menceritakan kisah kehidupannya bersama "sigaraning nyawa"nya, alm.suaminya, Hafez.

Melalui buku ini, Fira hanya ingin mengabadikan memoar kisah cintanya dengan alm. Hafez, suaminya. Walau Hafez bukanlah pria pertama yang hadir dalam kehidupannya, tapi Hafez adalah "the one" buat Fira. Membaca buku ini, kita diajak menyelami dan berkenalan dengan sosok Fira maupun Hafez, saat-saat pertama mereka bertemu, akhirnya memutuskan menikah, hingga saat-saat Hafez harus kembali kepada Sang Pencipta yang begitu cepat disaat Fira sedang mengandung calon bayi mereka.

Perbedaan usia antara Fira dan Hafez yang cukup jauh, tidak menghalangi cinta mereka untuk menyatu. Hafez yang memang jauh lebih muda, memberikan kenyamanan dan keseimbangan didalam kehidupan Fira. Walau memang, kebersamaan mereka terlalu cepat (menurut hitungan manusia), tapi Tuhan Maha Baik, setidaknya mereka pernah bersama dan menikmati cinta kasih mereka bersama.

"Lebih baik pernah mencintai dan dicintai walau hanya sekejap, daripada tidak pernah sama sekali."

Buku ini mengajarkan "keikhlasan" menerima takdir, walau memang tidak mudah. Apalagi dengan situasi dan kondisi Fira saat itu, yang baru mengecap kebahagiaan, tiba-tiba saja takdir berkata lain, suami yang dicintainya harus pergi untuk selama-lamanya. Rasanya sungguh menyesakkan. Bagaimana pun tidak ada kehilangan yang menyenangkan, Fira membuktikan dia mampu untuk bertahan demi orang-orang yang dia sayangi, terutama untuk kedua putrinya...

Membaca novel ini, aku seakan mengenal sosok Fira dan Hafez, dan ikut larut dalam kisah cinta mereka. Ternyata cinta sejati itu ada. Dan diujung cerita, kita bisa mendapatkan beberapa cerpen dan CD sebagai bonus ^^

Terima kasih Mba Fira, telah berbagi kisahmu, semoga kamu kuat menghadapi hari-harimu bersama dua buah hatimu...
Profile Image for Pakde Abhe.
3 reviews
Read
November 24, 2013
Saya bukanlah orang yang bisa berlama-lama dalam keadaan terjaga di dalam kamar. Mau ngantuk atau tidak, biasanya kalau sudah di kamar saya hanya perlu waktu paling lama setengah jam untuk berangkat ke alam tidur. Namun ada kalanya saya bisa bertahan terjaga di kamar, biasanya karena sudah kelamaan tidur sebelumnya. Kalau sedang belum ngantuk begitu, menyetel radio agar berasa ditemani, atau mendengar lagu-lagu, juga saya akan membawa buku ke kamar. Membaca beberapa halaman, lalu lantas lama-lama tertidur, dan kali ini giliran membuka goodreads,baca novel fira dan hafez yang akan mengiringi tidur.inspiratif....mengharukan.....Sebuah buku yang berkisah tentang kekuatan cintanya pada almarhum suaminya Hafez, yang berpulang ketika Fira tengah mengandung 4 bulan.Bukan hal yang mudah, kehilangan garwo(sigaraning nyawa) di usia perkawinan yang belum 2 tahun. Fira juga mengalami masa jatuh bangun layaknya manusia pada umumnya.Yang berbeda mungkin caranya mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Dia menjadi lebih pasrah, menjadi lebih menghargai kehidupan dan tetap menjaga cintanya dengan cara- cara yang baik, seperti niatnya untuk mendirikan panti asuhan........recommended bangettt.....two thumbs up for fira......
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
November 22, 2013
Sudah lama tidak membaca tulisan Fira, sampai kemudian melihat buku ini di toko buku. Sebuah buku yang berkisah tentang kekuatan cintanya pada almarhum suaminya Hafez, yang berpulang ketika Fira tengah mengandung 4 bulan.Bukan hal yang mudah, kehilangan garwo(sigaraning nyawa) di usia perkawinan yang belum 2 tahun. Fira juga mengalami masa jatuh bangun layaknya manusia pada umumnya.Yang berbeda mungkin caranya mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Dia menjadi lebih pasrah, menjadi lebih menghargai kehidupan dan tetap menjaga cintanya dengan cara- cara yang baik, seperti niatnya untuk mendirikan panti asuhan.
Lewat buku ini, mengingatkan betapa pentingnya menjaga rasa cinta antar pasangan, dan menghargai setiap kesempatan yang diberikan olehNya. Agar tak ada penyesalan di kemudian hari.Fira juga mengingatkan kita, kematian bisa datang kapan pun, pada siapa pun...Sebuah buku yang layak dibeli, apalagi ada bonus cd, juga beberapa cerpen tulisan Fira..
Profile Image for Vini Hujan.
5 reviews
December 8, 2014
Sempat ragu-ragu membaca buku ini, bukan ragu sih lebih tepatnya takut, parno. Soalnya saya membeli buku ini ketika sedang hamil. Sudah ketebak sih isi buku ini bagaimana soalnya saya selalu mengikuti cuit Fira Basuki di Twiter. Buku ini menceritakan tentang kisah cinta Fira Basuki dan Hafez suaminya yang meninggal di saat pernikahan mereka kalo tidak salah belum genap setahun dan saat itu Fira sedang mengandung. Kenapa saya jadi takut?

Membayangkannya saja sudah bikin hati tersayat. Bagaimana kalau saya mengalami hal seperti yang Fira alami? Ditinggalkan suami untuk selamanya ketika sedang mengandung buah hati. Pasti rasanya hancur sekali. Tapi lewat buku ini Fira Basuki membuktikan kepada banyak orang bahwa dirinya adalah orang yang tegar dan positif. Ya, buku ini positif sekali.
Profile Image for Michael.
41 reviews2 followers
May 8, 2015
well saya membaca buku ini setelah saya menonton filmnya terlebih dahulu itu saya lakukan sengaja biar ketika menonton filmnya saya tidak memiliki ekspektasi apa apa karena cukup kesal dengan beberapa film yang di angkat dari buku cuman berbeda ( abaikan spoiler ini hahahah )

membaca buku ini seperti membaca buku diary kita di ajak menyelami kehidupan dari masing masing tokoh yaitu mbak fira dan alm. mas hafez dari bagaimana mereka kecil hingga akhirnya mereka menikah. mungkin itu kelebihan mbak fira yang bisa membawa pembaca seperti merasakan apa yang di alami oleh dirinya.

suka sekali dengan karya yang ini two thumbs buat mbak fira
Profile Image for Rahmi Kasri.
29 reviews
December 25, 2013
Ikhlas...itu yang disampaikan Fira dalam buku ini. Sebuah autobiografi Fira tentang pahit manis kehidupannya yang membawa dia ke arah kepasrahan dan menjadi lebih kuat. Tidak perlu berlama-lama, karena cinta tidak hanya tentang waktu saat ini, tetapi kualitasnya... tak lekang karena panas dan hujan. Semoga Fira kuat menjalankan hidup untuk dia, dua anak, dan demi almarhum suami juga... (I keep on crying while reading the book).
1 review1 follower
June 22, 2014
awal saya kira buku ini akan sehebat dan membuat saya sekagum dgn karya kak Fira basuki lain seperti Astral Astria atau yang lainnya, tetapi ini ternyata semacam diary kak Fira mengenai kisah hidupnya pasca ditinggal meninggal sang suami. namun cukup menghibur karna saya sungguh ikut merasa sendu dan terbawa curhatan kak Fira. mengajarkan ikhlas yang sebenarnya
Profile Image for Yuliana Savitri.
7 reviews3 followers
March 13, 2014
moment yg paling menyedihkan ketika fira bersujud di masjidil haram, terlihat apa adanya, dia ingin secepatnya secara langsung berbicara denganNya, menyampaikan keluh kesahnya
Profile Image for Kamela.
9 reviews1 follower
April 1, 2015
Kesedihan ternyata bisa jadi komoditi. Baca buku ini macam udah nggak ada editornya aja, lari ke segala arah. Apa kalau penulis terkenal, editor udah lepas tangan ya?
Profile Image for Didiekbp.
2 reviews
May 14, 2015
Buku pertama Fira yg saya baca. Mengingatkan saya betapa beruntungnya bisa mencintai dan dicintai
Profile Image for Hikachi.
441 reviews6 followers
July 5, 2017
When you lose something, you'll see the world differently.

I have always been a fan of her works. First book I read was Rojak, followed by Biru, Jendela Jendela and Pintu. I haven't come across of her other works until I found this. It's a bittersweet remembrance of a loved one. You know, it's like reading an old entry on diary or blog or when you found some old pictures. Things that meant more than just "memories".

Love is not about two people finding each other. At least, that's what I learned from this story. In such a very short time, there was so much love. Not impossible, but not something easily found either. Especially in this Tinder-operated world of romance.
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.