Merah. Bukan perempuan atau laki-laki. Merah, bukan darah, tidak juga berarti luka. Merah. Cinta yang merah. Merah adalah kebahagiaan.
Bayangan tentang masa depan memerahkan pipinya. Mendengar jawaban yang dinantinya selama ini membuat Raisa begitu merah. Malam.
Ponsel berdering, pembicaraan tak terkendali, lalu Rama mengakhirinya.
Rama akan datang, untuk merasakannya.
Sebentar lagi dia pasti datang. Raisa terus menunggu. Menghabiskan malam itu.
Kini, merah adalah duka bagi Raisa. Kehilangan yang begitu merah. Lebih merah dari merah.
Kepergian Rama menyisipkan tanya. Sebab tidak hanya Raisa yang terpuruk kehilangan.
Ada Aria. Masa kecil yang indah bersama Rama terus membayangi Aria. Kehilangan Rama adalah segalanya. Merah, sangat merah baginya. Bahkan mungkin melebihi Raisa.
Menulis adalah kodrat, tapi menulis juga hanya salah satu pilihan perbuatan dan manifestasi kodrat seutuhnya. FX Rudy Gunawan, hanya menulis buku kehidupan dari perjalanannya menyelami realitas demi realitas. Karena menulis adalah kodrat maka menulis bukanlah pekerjaan, menulis adalah pemenuhan tanggungjawab eksistensial belaka.
Saya agak kesulitan menerjemahkan visualisasi dari filmnya ke tulisan novel ini. Saya membaca hingga berulang kali untuk menyamakan persepsi dengan scene film. Perlu waktu untuk menemukan keselarasan antara novel dengan film 'Merah Itu Cinta'. Saya anggap itu usaha saya untuk dapat lebih memahami karakter yang diperankan oleh Marsha Timothy.
Akhir cerita dibiarkan menggantung, gak ada emosi yang bikin pembaca gemes karena nanggung, atau happy kah… atau sedih kah… Karena ya.. itu… ada sesuatu yang udah ketebak di tengah. Mungkin kalo nonton filmnya, bisa dapet penyelesaian yang cukup masuk akal.