Ken Arok memandang kamera di tangan istrinya. "Berikan kamera itu," kata Ken Arok sambil mengulurkan tangannya.
Namun Ken Dedes mampu berkelit. "Mereka menghadiahkan benda ini kepada hamba, bukan kepada Tuanku. Namun jika tuanku menginginkan, hamba ingin menukar benda ini dengan keris Tuanku."
Ken Arok menimbang permintaan itu. Ken Arok amat berminat memiliki kamera itu yang dianggapnya jauh lebih berharga dari keris dipinggangnya.
"Boleh!" kata Ken Arok.
Ken Dedes menerima penyerahan keris penyimpan kutukan, dengan harapan agar jangan sampai keris itu nantinya menjadi sumber kecelakaan bagi Anusapati. Satu hal yang paling dicemaskan Ken Dedes adalah apabila Ken Umang menguasai keris itu.
Apa jadinya kalau kita yang hidup di abad 21 ini tiba-tiba tersedot masuk 'mesin waktu', dan muncul dijaman Singosari di masa Pemerintahan Ken Arok? Apa yang bisa dilakukan sebagai manusia masa depan yang justru dianggap "makhluk aneh"?
Seru, mencengangkan, menggelikan, luar biasa dan tak terduga.
Langit Kresna Hariadi (lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Februari 1959; umur 54 tahun) adalah seorang penulis roman Indonesia. Mantan penyiar radio ini dikenal masyarakat luas dengan cerita roman Gadjah Mada yang menceritakan kisah dari Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.
Kisah mengenai 4 orang remaja abad 21 ( 2007 ) Nouval, Marshanda, Emilia dan Lenggang yang menjelajah waktu ke masa Kerajaan Singosari melalui pintu waktu yang berupa sebuah kaca benggala yang ditemukan saat renovasi rumah dan sebuah kamera digital yang menghubungkan jarak waktu yang terentang.
Dimasa Kerajaan Singasari ini mereka diberi amanat oleh seorang kakek yang ternyata adalah Empu Purwa, ayahanda Ken Dedes, untuk menyelamatkan Anusapati ( anak Ken Dedes dengan Akuwu Tunggul Ametung )...dan bagaimana kisah petualangan 4 remaja ini apakah akhirnya mereka berhasil mengubah sejarah...Baca bukunya saja yah...!
Serasa Belajar sejarah Singosari kembali...secara paling suka cerita sejarah.
Bukunya ringan, jadi ngerasa balik lagi ke masa aku SMA doeloe. Karena buku2 kayak gini yang aku suka baca. Mengingatkanku akan buku2 Wiro sableng-ku yang ngga keitung banyaknya dan emang udah pada ngilang karena ga diurus, sayang. Jadi ga percaya kalo penulisnya Langit Kresna Hariadi. Abis,... gimana ya, aku belon baca Gadjah Madanya sih.
ceritanya ringan, menarik, menceritakan sejarah masa lalu dengan gaya bertutur masa kini. ada kamera ajaib dan cermin yang luar biasa. hehe... inilah ciri khas pak langit dalam bernovel remaja, seperti novel remaja lain milik pak langit (decastaz, mencari jarum dalam jerami). mengusik rasa ingin membaca kita dari bab ke bab.