“Siapa bilang rasa tak dapat bertualang? Aku melakukannya. Melakukan petualangan di labirin rasa. Ya, untuk ‘merasakan’ hati dari Pangeran Fajar-ku. Aku berharap Pangeran Fajar-ku akan datang seperti fajar. Menyinari hidupku dengan banyak hal tak terduga. Menumbuhkan jiwaku dan melepaskan dahagaku yang haus akan rasa. Rasa cinta. Di atas bukit, aku yakin rasa ini memilih dia sebagai Pangeran Fajar-ku. Rasa luar biasa cinta yang terhujam hingga ke hatiku yang terdalam. Tapi apa, ternyata dia yang menghujam rasa luar biasa sakit juga di hatiku. Aku jadi ragu, apakah benar ia Pangeran Fajar-ku?
Terbesit pesan Eyang Kakung di pikiranku. “Kayla, cinta itu membahagiakan. Namun, jika ia sudah mulai jadi beban, lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu. Beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan. Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa diatur.” Baiklah. Ini saatnya aku harus melepas rasa. Namun, apa aku dapat menemukan Pangeran Fajar-ku sesungguhnya? Hanya labirin rasa ini yang mampu menuntunku kepadanya.
#LabirinRasa-nya Eka, sudah dibaca sampai habis! Yap, hanya dalam waktu sehari aja selesai. Dan vonisnya? Novel ini...... KEREN PAKE BANGET! Ha!
Saya memuji bukan karena kenal sama penulisnya, biasanya justru susah jadinya mau muji karena dikira karena kenal/teman, tapi yang ini seratus persen karena nggak nyangka Eka ternyata penulis novel jempolan. Kalo kalian suka baca novel-novel lawas tahun 70-80an, dimana dunia novel Inodnesia sedang asyik-asyiknya, nah, gitu itu deh cara bercerita si Eka ini. Pokoknya keren karena mengalir begitu lancar, dan dialog-dialognya juga natural, sekaligus lucu dan cerdas banget tik-tok-nya.
Mungkin juga karena saya suka Kayla yang benar-benar terasa sebagai perempuan bebas. Dia nggak dikungkung sama kegalauannya melulu. Sebab dia punya cara jitu mengusir kegalauan, yaitu jalan-jalan, wahahaha.... Jadi, kita yang baca nggak bakalan disuguhi kerumitan pikiran Kayla, tapi justru disuguhi tempat-tempat seru yang dikunjungi oleh Kayla dan bagaimana aksi-aksi Kayla di tempat-tempat tersebut.
Walaupun obsesi Kayla terhadap sang pacar, Ruben, nggak bisa dianggap enteng, tetapi Eka berhasil menjauhkan Kayla dari kencenderungan mengasihani diri-sendiri yang seringkali dipakai dalam banyak cerita galau untuk menarik simpati pembaca. Kayla nggak memerlukan hal itu, memang, sebab kepribadian Kayla sendiri sudah sangat menarik hati, bagi saya setidaknya. Dia terbuka, dia suka tertawa, dia mudah memandang dunia dari sisi apapun dengan penuh humor, dia tidak takut pada tantangan, dia percaya diri dan dia mengejar apa yang diinginkan, dia juga bukan perempuan super, sebab, dia cukup bodoh untuk jatuh cinta mati-matian dengan seorang seperti Ruben, tetapi cukup pintar untuk menyadari cinta sejati itu yang semacam apa.
Dalam novel ini, selain membawa pembaca ke beberapa kota di Indonesia (Jogja, Malang, Bali, Lombok, Makasar dan Medan), Eka juga membawa kita bertemu dengan berbagai tipe manusia yang ditemui oleh Kayla. Cinta dan sekedar bermain cinta, bisa jadi beda-beda tipis. Sebab kalau cinta diukur dengan sekedar ciuman dan bobo bareng, hmm... dengan mudahnya hal itu tentu bisa didapatkan di mana saja dan dengan banyak sekali pihak yang ternyata bersedia untuk mengakomodirnya.
Eka juga secara cerdik menyelipkan sebuah puzzle dalam seluruh rangkaian cerita ini, yaitu surat wasiat yangkung tentang Pangeran Fajar, si calon suami Kayla yang misterius itu. Kayla harus menyusun sendiri keping demi keping puzzle itu agar akhirnya sesuai dengan gambaran yang digambarkan di dalam surat wasiat tersebut.
Hadeuuuh, sebenernya ya, novel ini sangat 'kaya' ide, tapi dengan begitu mudah dapat dicerna saat dibaca. Saya sendiri, begitu masuk ke halaman 30-an, sudah memutuskan untuk mempercayai Eka untuk menuntun saya menjalani novel ini. Saya sudah diyakinkan untuk mengenakan helm 'suspension of disbelief' saya dan menikmati ceritanya, sebab saya percaya dalam dunia Kayla segala hal yang terjadi memang terjadi.
Yang menyegarkan dari Labirin Rasa adalah cara Eka menuntun pembaca mengenali akar-akar Kayla. Dibawanya dahulu kita ke jogja yang mistis, lalu kemudian diterjunkannya kita ke Medan yang tangguh itu. Bagaimana penulisnya menggiring kita menuju ke jodoh akhir Kayla dan the magic word 'pariban' itu, walaupun sebenarnya sudah dapat diduga (karena ini cerita roman) tetapi sama sekali tidak mengurangi kejutan menyenangkan di akhir cerita.
Pokoknya, kalo saya bener-bener suka sebuah novel, bisa panjang deh nyerocos tentang novel itu, wkwkwk. Angkat jempol banget2 buat Eka, dan buat yang mau minjem novel ini, sori, ini salah satu novel yang bakalan saya baca ulang, jadi, silakan beli sendiri yak :)))
***
Kalau ada yang bertanya, kira-kira apa kekurangannya? Saya nggak bisa bilang apa-apa, sebab bagi saya ini soal apakah saya menikmati membaca novel ini atau tidak? Jawabannya adalah saya menikmatinya dan nggak merasa ada yang kurang menyenangkan dari seluruh perjalanan membaca novel ini. Kalaupun saat membaca ulang nanti saya baru bisa menangkap kurang-lebihnya dengan lebih obyektif, well...mari kita serahkan saja itu untuk waktu yang akan datang.
Untuk saat ini, saya puas banget baca Labirin Rasa, itu aja. Thanks Eka, sudah menulis sebuah cerita yang kaya rasa dan penuh humor serta informasi-informasi yang bikin ngiler pingin jalan-jalan ke Taupo, New Zealand dan bulan madu jugaaa, aaaack!
Kayla adalah gadis yang cuek, blak-blakan, bebas, dan mandiri. Demi berlibur dari segala kegiatan akademis yang memojokkannya sampai IPK-nya menjadi nasakom, ia pergi berlibur ke rumah eyang putrinya di Yogyakarta. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan laki-laki yang memikat hatinya, Ruben. Kayla pun menerima buku usang peninggalan eyang kakungnya tentang suatu ramalan mengenai dirinya saat ia tiba di rumah eyangnya di Yogya.
Perkenalan itu berlanjut, Ruben menjadi pemandunya di Yogya. Kayla sampai percaya, bahwa Ruben adalah pangerannya seperti yang eyang kakungnya katakan di ramalan. Tapi sayangnya, saat Kayla mengatakan perasaannya pada Ruben, laki-laki itu malah memilih pacarnya, Veni, yang kelasnya jauh di atas Kayla.
"Cinta itu ibarat labirin rasa, semakin kamu ingin keluar, semakin jauh kamu tersesat." - hal. 185
Demi melupakan Ruben, Kayla rela berpetualang ke sana-sini. Mulai dari Bali, Lombok, lalu ke Makassar. Lalu karena suatu kejadian yang tidak mengenakkan, Kayla akhirnya sadar. Ia pulang kembali ke Jakarta demi meluruskan kembali hidupnya. Di mulai dari kuliahnya, lalu cintanya yang ternyata ada di dekatnya.
"Masa lalu bukan untuk dipersalahkan tapi jadi pijakan untuk menata masa depan." - hal. 101
Mulai dari sampul bukunya. Sampulnya bagus, namun waktu sebelum membaca bukunya agak sedikit bingung dengan pemilihan judul buku ini. Tapi setelah selesai membaca, justru pemilihan judul ini sangat mewakili isi bukunya. Isi hati Kayla. Kayla ini seperti penjelmaan itik buruk rupa menjadi angsa dalam dongeng-dongeng. Karakter yang tidak biasa tapi justru menjadi titik pusat yang menyedot perhatian.
Labirin Rasa ini beralur maju dengan sudut pandang orang ketiga, tapi tokoh yang disorot kebanyakan Kayla. Apa tidak seharusnya pakai sudut pandang orang pertama saja? *abaikan* :p
Saya mendapati banyaknya inkonsistensi penulisan antara gue dan aku. Lalu banyaknya typo mulai dari awal buku sampai halaman ditutup. Tentang pemakaian tanda kutip dalam kalimat dialog langsung atau tidak langsung (dialog dalam hati) yang agak membuat saya bingung. Lalu, beberapa kali juga salah penyebutan nama dalam dialog. Ada yang seharusnya Tia, ditulisnya Kayla. Ada yang seharusnya Ruben, malah jadi Patar. Dan masih ada yang lainnya...
Saya merasa beberapa bagian dalam buku ini terasa kosong. Seperti saat Kayla tiba-tiba tersadar akan hidupnya, lalu penulis dengan cepatnya menyelesaikan kuliahnya. Kemudian ada bagian di mana Kayla pulang dari Medan dan saat membuka bab selanjutnya scene sudah berganti maju ke beberapa tahun berikutnya :|
"Jangan sombong, Jakarta juga punya Puncak." - hal. 45
Emmm... Puncak itu masuk dalam wilayah Bogor, bukan Jakarta *just saying*
Saat saya selesai membaca buku ini, saya iseng membuka blog penulisnya. Wow... ternyata Eka adalah seorang travel blogger. Deskripsi yang kaya dalam buku ini sepertinya benar-benar dialami oleh Eka sendiri. Poin plus yang membuat saya terpukau. Detailnya membuat saya bisa ikut merasakan tempat-tempat yang dikunjungi oleh Kayla. Dan envy-nya itu saat Kayla bisa bulan madu ke Selandia Baru.
Bagian yang paling saya suka adalah saat Kayla pergi ke Medan, saat ia mencari asal-usulnya. Saya jadi tahu tentang bagaimana budaya Batak itu sendiri. Jadi tahu mengenai istilah-istilah yang sebelumnya hanya berupa kalimat pertanyaan dalam kepala saya.
Untuk keseluruhan, saya merekomendasikan buku ini untuk yang gemar membaca romance dan travel literature (tanpa merasa seperti membaca sebuah travel guide). Bahasanya mengalir dan cepat, sehingga tiba-tiba saya sudah berada di akhir buku.
Suka sama novel ini! Layak dapat bintang 5 deh! Banyak tempat-tempat keren yang dideskripsikan dengan sangat detil. Paling suka cerita pas di Danau Toba dan Parapat. Gue yang belum pernah ke sana seperti berada di sana. Seolah menyentuh bebatuan atau menghirup udara pegunungan yang diceritakan. Dari novel ini juga gue dapat banyak pengetahuan budaya. Keren!
Soal ceritanya sendiri, gue suka banget deh sama Kayla yang ceplas-ceplos. Kayaknya seru banget kalau punya teman kayak dia. Demen deh part pertanyaan akan keberuntungan Kayla, agak-agak mirip sih sama gue. Kadang gue mempertanyakan keberuntungan gue karena nama gue kan artinya beruntung. Hi hi hi.
Seharian gue nyelesain novel ini, ampe lupa makan abisnya penasaran banget sama Kayla yang kabur-kabur mulu dari satu tempat ke tempat lain. Sebel, seneng, ketawa, gemes deh sama Kayla. Ih kok ya ada cewek begini. Ha ha ha.
Percakapan-percakapan di Labirin Rasa ini banyak lucunya, centil, kenes. Rada saru juga. Bikin deg2an. Khas Mbak Eka banget. Gue kan penggemar cerpen-cerpen hot-nya Mbak Eka dari jaman di blog dulu. He he he.
Suka juga sama jalinan ceritanya yang meloncat-loncat, bikin mikir dan ngetes ingatan. Soalnya jawaban dari loncatan-loncatan jalinan cerita itu tersisip di beberapa bagian lain novel ini.
Pokoknya suka! Ditunggu nopel berikutnya ya, Mbak. Request dong, bikin yang lebih hot. He he he
OMG OMG I CAN'T BELIEVE HOW AM I SUPPOSED TO COVER THE BOOK BY ITS COVER!! A great mistake. I did judge its cover so that's the reason why I'm being super lazy to read the book at first. BUT WHAT?? I loved the book. It tells a story that everyone who ever dating can understand. Being trapped in a maze, believing someone is your true significant other. Also, you were brought to some places in Indonesia such as Medan, Makassar, Bali, and some other cities, and then she can bring you to New Zealand. The simplest way to travel the world; read a novel. Great to know Mrs. Eka and her journey<3
baca kalimat seperti ini cinta itu membahagiakan. Namun, jika ia sudah mulai jadi beban, lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu. Beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan. Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa diatur.”
rasanya seperti aku yang mengalami, ketika apa yang aku coba pertahankan ternyata aku juga harus melepaskannya, karena ada yang tak bisa dipaksakan
Bener banget kalau, "Cinta itu membahagiakan. Namun, jika ia sudah mulai jadi beban, lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu. Beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan. Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa diatur."
Jadi bener kan kalau kita bisa menikah dengan siapa saja tapi kita tidak bisa menentukan jatuh cinta kepada siapa..
kalian penasaran tidak sama alur cerita ini novel. Apalagi dari kata-kata eyang kakung si Kayla. Mau direview ah di https://www.nisazet.com apalagi sama kata kata eyang, maknanya jos dan dalem banget “Kayla, cinta itu membahagiakan. Namun, jika ia sudah mulai jadi beban, lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu. Beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan. Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa diatur.”
Saya setuju sekali dengan kutipan yang mengatakan kalo cinta itu memang membahagiakan. tapi juka sudah mulai jadi beban maka lepaskanlah jika memang harus melepaskan. beri waktu dan beri ruang untuk dapat tumbuh alami sehingga bisa mengambil keputusan. InsyaAllah saya juga pengen tulis review buku ini di blog https://www.sarrahgita.com
labirin itu kan sesuatu yang unik, ya. Seseorang masuk ke dalamnya. Bisa menemukan yang diinginkan atau bisa juga makin jauh tersesat ke dalamnya. Pengen bisa mengikuti jejak seorang Kayla dalam menemukan cintanya. Buat review ketjeh di https://www.karuniasambas.com/ kalau dah baca kisah lengkapnya kayaknya oke juga. Biar sobat pembaca bisa ikutan baper.
baca blurbnya udah kebayang gimana lika liku labirin rasa. seolah aku yang ada di labirin itu dan bergejolak hatiku mengikuti perasaan yang sedang diburu. aduuuh aku baper.
Berhubung begitu banyak pembaca menulis terntang Kayla yang keriting dan jerawatan (sesaat ngaca, enggak ah, gak jerawatan) jadi aku mau melihatnya dari satu sosok yang nyebelin sepanjang bacanya. Iyah, Ruben. Cowok ganteng yang nyebelin ini menghiasi lebih dari separuh cerita buku ini. Eh, bukan sekadar hiasan, ding. Ia pangeran malah.. (lah, kalau pangeran sih pajangan ateuh..)
Pertama kali Kayla ketemu Ruben di kereta Jakarta - Jogja. Cowok yang digambarkan gantengnya mirip Adipati Dolken ini (menurut saya ya, kalau menurut kamu enggak ya sah-sah aja) berhasil memikat hati Kayla sejak pertama kali bertemu. Si Ruben ini sok kegantengan banget, mentang-mentang disuruh nganter-nganterin cewek ikal jerawatan, terus merasa dirinya lebih oke gitu dan asik menebar pesona. Padahal, dia kan bisa aja nggak mau temenan dngan alasan nganter-nganter pacarnya yang cantik bak pramugari itu.
Kan, dengan Ruben yang sok baik ke Kayla, bikin si cewek ini ngerasa yang enggak-enggak. Apalagi di umur segitu masa kuliah, kayaknya emang harus sah punya gandengan buat dibawa ke mana-mana. Potensi Kayla buat ge-er nih gede banget, apalagi kota wisata macam Jogja gitu kan, ditemani senyum Ruben pula yang sangat meruntuhkan iman.
Kedua ketemu Ruben lagi sesudah ia lulus kuliah, tentu saja Kayla sudah agak cakepan sesudah lulus kuliah. Mereka jalan bareng lagi waktu ke Medan, bahkan ke Danau Toba berdua. Ya ampuunnn... ini Ruben nyebelin lagi deh. Masa waktu jalan sama Kayla, dia masih sempet flirting kiri kanan, sih? Danau Toba itu indah loh, seharusnya menjadi lokasi yang tepat untuk menyatakan cinta, tapi apa yang Ruben lakukan?
Lagi-lagi dia tebar pesona dan sok yakin bahwa Kayla sudah begitu terikat dengan dirinya sehingga nggak mungkin lepas lagi. Ih, bodoh kamu mas! Cewek pejalan itu selalu hati-hati, nggak segitu gampangnya ngelepasin hati. Makanya kalau punya relationship, mau itu TTM atau HTS ya dijaga aja (eiyah, gak jelas juga) harus dimaintenance. Jangan mentang-mentang ngerasa cewek itu udah deket banget dan tergila-gila padamu, terus bisa dikasih sikap apa aja.
Dan di Jakarta akhirnya mereka jadian dong.. Walaahh butuh berapa tahun tuh buat menyadari bahwa Kayla yang dulu keriting dan jerawatan, udah menjadi wanita kantoran yang cakep. Sebel dong, kenapa ia baru ngeh Kayla pas udah cakep, yang selama ini jadi korban permainan hatinya. Nah sialnya, perubahan status dari HTS ke pacaran ini selalu bikin p-o-s-e-s-i-f. Kalau sudah kerja kan pilihan kesibukan orang cuma dua, sibuk dan sibuk banget. Kayla nggak sempet jalan-jalan lagi, gak sempet pacaran lagi, dan apa yang terjadi.. Ruben marah besar.
Emang sih kalau sudah pacaran, ada ekspektasi lebih daripada sekadar HTS-an. Pengen sering ketemu, pengen diperhatiin, pengen telfon tiap hari, pengen dikangenin, pengen diajak cerita bareng, ada ciuman ada temennya (masa sendiri, sih?) pengen.. yah, macam-macam deh.. betewe juga, hak dan kewajiban orang pacaran apaan sih ya sebenarnya? :D (lah, malah curcol).. dan terjadilah hal yang membuat Ruben menjadi cowok termenyebalkan sepanjang buku *ulek-ulek Ruben pake cobek*.
Saran buat cewek-cewek sih, kalau ada cowok yang semodel Ruben begini, hati-hati aja deh.. Memang nggak semua cowok ganteng itu nggak baik seperti nggak semua cowok jelek itu nyebelin, setidaknya yang ganteng nyebelin ini bisa dipelajari dari si Ruben ini. Cari trik dan siasat kalau pengen mendapatkan yang seperti ini. Kegantengan bukan selalu syarat sih, tapi bisa jadi bahan pertimbangan, haha. Dan cowok menyebalkannya nggak cuma satu di Labirin rasa. Ada banyaak.. kamu bisa lihat dan pelajari tipe masing-masing.
Ada David penggemar cewek seksi, ada Andy yang jutek, ada Patar yang protektif, bisa dipelajari lah tipe-tipe cowok dan upaya memenangkan hati. Eih, hati untuk dimenangkan? Emangnya kejuaraan?? Emangnya sayembara??? iya doongg, kan harus keluar dari labirin.. Untuk memenangkan Goblet of Fire. :))
"You came along. And I feel belonged. Giggling with plently happiness. Seizing the day business, I see the blue sky when you drop by. I don't know why but all of sudden, the flowers bloom and the images loom. I talk to an angel. I talk to you."
Seorang cewek nyentrik bernama Kayla Ayu Siringo-ringo membaca sebuah pesan wasiat dari kakeknya; “Eyang akan mengirimkan seorang pelindung bagimu. Ia akan datang seperti fajar, menyinari hidupmu dengan banyak hal tak terduga, menumbuhkan jiwamu, melepaskan dahagamu. Engkau akan bertemu dengan pangeran fajar itu dalam perjalanan mencari arti hidup sesunguhnya, di atas bukit hijau dengan taburan kemilau matahari yang hangat. Ia adalah cinta pertamamu. Fajar kehidupanmu.”
Sejak itulah petualangan cinta Kayla dimulai. *** Begitu selesai membaca novel ini, barulah saya paham kenapa judulnya ‘Labirin Rasa’. Jika melihat pengertian Labirin menurut KBBI, maka apa yang dialami oleh tokoh sentral dalam novel ini lebih merujuk pada sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit; yaitu si tokoh yang bingung karena dihadapkan pada beberapa pria yang menginginkan dirinya. Ditambah dengan kenyataan bahwa sinyal pesan yang diwasiatkan kakeknya ternyata memiliki kesamaan antara pria-pria.
Sepanjang membaca novel ini, saya begitu menikmati kejutan demi kejutan setelah tokoh utama memutuskan break untuk berharap banyak dari seorang pria yang ternyata tak pernah benar-benar menganggapnya istimewa. Setelah duga-duga tentang kebenaran pada pria pertama yang dianggapnya mungkin benar dan mungkin salah sebagai cinta pertamanya, tokoh utama justru bertemu dengan pria lain, membuat Kayla kembali menduga-duga. Saya ikut larut dalam pencarian Kayla untuk cinta pertamanya ini dan juga ikut menduga-duga; tipe pria bagaimanakah yang akan merayu Kayla selanjutnya? Setelah Ruben yang playboy nggak ada matinya, lalu bertemu Dani yang sangat jantan di Bromo, lalu bertemu David si bule ganteng di Bali, lalu bertemu Andy yang menyebalkan di Gili Trawangan Lombok, dan bertemu Patar yang begitu melindungi di Medan. Dalam perjalanan ke beberapa tempat, jangan dikira hanya laki-laki saja yang sempat tergoda dan merayu Kayla. Perempuan juga pernah dan ini luput dari duga-duga saya, hehe. Salut untuk penulisnya yang menyelipkan kisah pertemuan Kayla dengan seorang perempuan bernama Cynthia.
Perjalanan cinta Kayla memang penuh liku; kadang jalannya mulus-mulus saja, kadang berlubang di sana sini. Melalui novel ini, kita diajak untuk berpetualang di beberapa daerah di nusantara. Di beberapa tempat yang dijadikan sebagai setting cerita, penulis mampu mengeksplor daerah tersebut secara apik dan cantik, membuat saya yang belum pernah menginjakkan kaki ke Bromo, jadi ingin berdesak-desakan saat menonton matahari terbit di Bromo, membuat saya ingin menikmati syahdunya pagi di pantai Sanur. Ya, Labirin Rasa adalah sebuah catatan perjalanan mencari cinta yang ditulis oleh seorang penulis catatan perjalanan. Jangan membayangkan kau akan menemukan detil sebuah tempat layaknya catatan-catatan penulis di blog pribadinya. Ini adalah novel roman, maka bicara cinta adalah hal yang paling dominan di sini.
Selain menikmati kejutan-kejutan akan perjumpaan tokoh pertama dengan pria-pria, saya juga sangat terkesan dengan dialog-dialog yang terjadi antara tokok-tokoh dalam novel ini. Terasa begitu hidup, apa adanya, lugas, dan terkadang mengejutkan. Membaca narasi-narasi dialognya, saya seperti tidak percaya dengan kenyataan bahwa novel ini adalah novel pertama. Sebagai new comer novelist, kiranya Eka Situmorang memiliki banyak pengalaman dalam ‘membaca’; membaca karya fiksi lain dan membaca kehidupan. Untuk ending, saya sempat salah menduga bahwa akhirnya Kayla akan berlabuh pada pria yang dianggapnya sebagai cinta pertamanya. Itu karena saya menjadi seperti Kayla; terlalu terobsesi dengan pesan sang kakek. Padahal, tidak semua yang tampak secara tersurat memiliki makna secara harfiah. Kadang hidup dan kehidupan mengajarkan kita untuk mencari makna yang tersirat atau tersembunyi di baliknya.
Hanya satu yang membuat saya agak kurang sreg. Kayla yang slebor, cuek dengan penampilan dan ceplas ceplos, dia dijatuhcintai oleh nyaris semua laki-laki yang dijumpainya di setiap perjalanan. Jatuh cinta hanya dalam waktu yang begitu singkat. Ini terlalu sempurna untuk perempuan seperti Kayla.
Overall, it’s a recommended book for reading! Selamat untuk Eka Situmorang. ***
“Tuhan ciptakan otak dan mata. Itu adalah kamera dengan memory card yang paling canggih.”
Buku ini bercerita tentang gadis bernama Kayla. Suatu hari Kayla pergi liburan ke rumah neneknya di Yogyakarta untuk refreshing lantaran IPK-nya yang jeblok. Di perjalanan, Kayla bertemu pemuda tampan bernama Ruben.
Ingin menarik hati Ruben, Kayla memaksanya untuk menjadi pemandu gratis selama Kayla berada di Yogya.
Hubungan mereka mulai dekat sampai kemudian Kayla tahu kalau Ruben sebenarnya sudah punya pacar yang di mata Kayla sempurna. Tentu saja Kayla merasa patah hati mengetahui hal itu padahal dia telah banyak berkorban untuk bisa selalu dekat dengan Ruben. Dengan nekad Kayla kemudian memutuskan untuk traveling ke berbagai daerah di Indonesia.
Di perjalanannya, Kayla bertemu dengan orang-orang yang sedikit-banyak telah mengubah pandangannya tentang kehidupan.
“Cinta itu membahagiakan, namun jika ia sudah mulai jadi beban lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu, beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan. Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa diatur.”
Sebelumnya, dalam me-review buku ini saya membagi dua poin penting yaitu hal-hal yang (menurut saya) merupakan kekurangan buku ini dan kelebihan buku ini. Hal-hal yang kurang dalam buku ini:
Yang pertama, saya tidak merasakan chemistry antar tokohnya.
Cerita buku ini terkesan dipanjang-panjangkan dan berputar-putar. Kenapa Kayla harus dipertemukan lagi dengan si ini kalau akhirnya Kayla tetap dengan si itu. Jadinya bikin geregetan :D
Typo yang bertebaran, kekurangan tanda petik(“), penulisan kata “frustasi” yang seharusnya “frustrasi”, termasuk tidak konsisten dalam penulisan "yangti" dan "yangkung", huruf “y”-nya mau huruf besar atau kecil sebenarnya?
Pada halaman 377, sebagai penggemar The Lord of The Rings, saya merasa sedikit terganggu dengan kalimat “Ke negeri para Frodo.”, mungkin maksudnya Hobbit kali ya? Karena setau saya, Frodo itu nama karakter utamanya, kalau Hobbit itu jenis spesiesnya : ))
Yang paling ganjil adalah pada halaman 153, tentang tokoh Ipul dan Iqko yang tiba-tiba saja muncul tanpa diperkenalkan sebelumnya. Awalnya saya merasa heran sekali dengan hal ini, saya pikir saya yang melewatkan perkenalan mereka, tapi setelah saya membolak-balik lagi halaman-halaman sebelumnya, saya tidak menemukan nama mereka disebut-sebut. Atau mata saya yang kurang jeli?
Sayang sekali buku peninggalan Yangkung tidak dieksplor lagi lebih jauh, yang disebutkan hanya halaman-halaman yang ditulis khusus untuk Kayla saja.
Setelah nyinyir dengan kekurangannya, inilah poin-poin yang membuat saya betah membaca buku ini:
Yang pertama, tentu saja settingnya yang menunjukkan keeksotisan Indonesia di berbagai kota dan pulau.
Narasinya menyenangkan. Contoh: “Sementara, matanya, matanya hijau bening. Bukan karena titisan serigala, bukan juga karena ngeliat uang dolar.”
Campuran genre-nya yang sedikit mengarah ke misteri. Lumayan menarik sebagai selingan.
Judulnya, saya suka judul yang dipilih, “Labirin Rasa”. Ada kesan misterius dari judulnya, semisterius bentuk labirin.
Saya suka buku yang memberikan pengetahuan kepada pembacanya, dan dalam buku ini terdapat penjelasan tentang budaya dan adat Batak, karena sebelum membaca buku ini saya sama sekali buta soal itu.
Akhirnya, walaupun buku ini tak sempurna, karena sebenarnya pun tak ada yang sempurna di dunia ini *sok bijak* :D, untuk ukuran sebuah karya debut, Labirin Rasa cukup menarik dan menghibur untuk dibaca.
“Banyak kok orang nikah tapi mengeluh hidupnya kayak di neraka. Nggak kalah banyaknya juga mereka yang tidak berpasangan tapi justru selalu tertawa. Soal bahagia itu kan bukan soal punya suami dan anak, tapi soal bagaimana merasa puas dengan diri sendiri.”
Labirin Rasa. Judul ini direpresentasikan dengan baik oleh pengarangnya, Eka Situmorang-Sir ke dalam sebuah cerita cinta yang unik, mengalir, dan penuh tawa. Sebenarnya banyaknya jumlah tokoh membuat saya kesulitan untuk berkonsentrasi menentukan siapa tokoh utamanya. Tapi mungkin ini satu bentuk perwujudan dari judulnya, "labirin", dimana yang menelusurinya akan tersasar beberapa kali. Baru setelah jalan keluarnya ketemu, kita baru "ngeh" mana jalan yang benar dan salah. Mana tokoh yang menuntun Kayla keluar dari labirin rasanya dan mana yang membawa Kayla ke jalan buntu.
Ide ceritanya fresh, menganalogikan cinta ibarat labirin rasa. Plus dialog antar tokoh yang enak diikuti dan mengundang tawa, terutama dialog antara Kayla dan Bang Patar. Cowok Batak yang masih kental Bataknya emang lucuuu >.<. Pengarang juga sukses melukiskan latar alam saat Kayla liburan dengan baik. Saking sukses, bikin pembaca yang ingin travelling atau backpakcing macam saya, ngiler berat.
Namun demikian, ada beberapa hal ganjil yang tertangkap oleh mata saya. Misalnya: 1. Pengenalan seorang Ruben di halaman 19 kurang smooth. Saya kaget kok tiba-tiba ada "cowok yang sejak dari Jakarta". Darimana ia muncul? Dimana ia duduk hingga Kayla bisa menyadari kehadirannya? 2. Deskripsi di halaman 19 tentang gigi Ruben juga agak mengganggu saya. Jadi apakah saat Ruben membuka capuchon-nya ia juga mangap? atau nguap lebar-lebar? Dari informasi yang saya dapat, dia juga cuma menggumam saat disapa Kayla. Boro-boro senyum memamerkan gigi rapi. Saya sendiri kesulitan melihat gigi seseorang saat ia menggumam ataupun ndumel. Menurut hemat saya ada baiknya deskripsi tentang gigi tidak perlu ditambahkan. Ruben sudah awesome dengan deskripsi lainnya kok.. 3. Keunggulan Kayla kurang ditekankan di awal cerita. Menurut deskripsi dari pengarangnya, Kayla jerawatnya banyak banget, lemak menggelambir sana-sini, sedang inner beautynya kurang terpancar juga (menurut saya lho,hehehe). Hanya karena Kayla supel dan mereka menghabiskan waktu bersama? Saya masih heran sih soal ini sampai sekarang. Padahal 'lawan mainnya' punya ciri-ciri fisik yang wah lho.. David, partner in crime Kayla di Bali sempet ngomentarin kalau Kayla punya mata yang indah. Tapi, kalo cuma David doang yang ngomong, saya ngga tahu apa yang dikatakannya pada Kayla benar adanya atau cuma basa-basi aja. Harus kata pengarangnya langsung pokoknya! >.< Hingga akhirnya saya sebagai pembaca agak keheranan saat ia berkali-kali jatuh di perangkap para 'macan'. Kok ya mau ama Kayla, padahal kalau masa kenalnya singkat biasanya yang diperhatikan fisiknya doang kan...
4. Adegan menggantung yang paling ganjil menurut saya ada di halaman 336. Saat Kayla baru tahu bahwa mamanya masuk rumah sakit dengan kondisi yang cukup parah. Tapi habis itu dia terlibat scene dengan Patar. Bukannya mengkhawatirkan mamanya, Kayla malah galau soal ciumannya sama Patar. Sampai akhir tidak disebutkan apa mama Kayla membaik kondisinya atau bagaimana?
Selain itu, patut disayangkan dalam novel ini masih ada typo di sana-sini yang bikin konsentrasi pembacanya terganggu. Semoga pada edisi cetak-ulang selanjutnya, typo-typo seperti ini sudah hilang: Hal 5: inkonsistensi penggunaan Gue dan Aku Hal 148: Tapi ayah Tia khawatir melihat pergaulan Kayla..... Hal 259: "Kay..." Patar berbisik lirih. Padahal lagi adegan Ruben sama Kayla. Hal 293: pemulisan seharusnya penulisan hal 338: dedauan harusnya dedaunan Hal 380 "mengaja" seharusny mengajak. hal 388: "Cuma mimpi memangnya?" teriak Ruben dengan sengit. harusnya Patar.
Overall, saya suka sekali dengan ide dan interaksi tokoh-tokoh utamanya. Namun beberapa gangguan teknis mengganggu konsentrasi baca. Keep up the good work, mbak Eka :)
Kayla, gadis keturunan Batak-Jawa ini sedang stres karena nilai kuliahnya jeblok lagi semester ini. Orang tuanya tentu saja kecewa dengan hasil kuliah anak tunggal mereka. Untuk mengobati kekecewaannya, Kayla berlibur ke rumah neneknya di Yogyakarta. Dalam perjalanan dengan kereta api, Kayla bertemu dengan seorang pria bermata hijau, Ruben, seorang mahasiswa di Yogyakarta. Kayla yang gendut, cuek tapi ramai ini menarik perhatian Ruben. Hasilnya, selama di Yogyakarta Ruben didaulat menjadi pemandu wisata pribadi untuk Kayla.
Kebersamaan Kayla dan Ruben membuahkan perasaan cinta di hati Kayla. Apalagi ketika Kayla mendapatkan buku milik kakeknya yang sudah meninggal dan menemukan pesan untuknya di dalam buku itu. Kayla akan bertemu dengan Pangeran Fajar-nya yang akan memberikan cinta dalam hatinya. Dengan keyakinan bahwa Ruben adalah Pangeran Fajar itu, Kayla berusaha mendapatkan cinta Ruben. Sayangnya bagi Ruben, Kayla tidak lebih dari pengisi kekosongan hati karena ditinggal pacarnya. Ketika Veni, pacar Ruben kembali, tentu saja Ruben memilih Veni dengan penampilan fisik yang jauh lebih memukau daripada Kayla.
Patah hati Kayla membuatnya harus pergi dari Yogyakarta. Petualangannya pun dimulai. Malang, Bali, Lombok, Makassar hingga ke Medan, tempat leluhurnya. Semuanya demi pencarian Pangeran Fajar. Berkali-kali Kayla mengalami hubungan yang membuatnya semakin dewasa dan mengerti bahwa cinta harus mendapatkan ruang untuk bertumbuh secara alami.
Cinta itu ibarat labirin rasa. Semakin kamu ingin keluar, semakin jauh kamu tersesat
.
Saya mengenal Eka sebagai seorang blogger dengan tulisan-tulisannya yang menarik. Kemampuannya dalam meramu kisah cinta sudah tidak saya ragukan lagi. Soal travelling, perempuan satu ini juga tidak diragukan. Saya kadang dibuat iri sama kisah-kisah perjalanannya yang hampir selalu ter-update setiap minggu. Ketika novel perdana Eka lahir sebagai perpaduan antara kisah romance dan travelling, saya langsung tertarik ingin membacanya. Beruntung, saya mendapatkan buntelan novel ini langsung dari penulisnya.
Hanya saja ada beberapa hal yang cukup mengganggu saat saya membaca novel ini. Typo yang masih banyak bertebaran mulai dari awal hingga akhir, juga alur cerita yang terasa melompat-lompat. Misalnya pada bagian perjalanan Kayla dan Ruben di Yogyakarta. Awalnya dikisahkan mereka berdua pergi ke Kaliurang. Tiba-tiba langsung ada di Bantul setelah perjalanan dari bonbin. Di bagian lain penggunaan istilah yangti untuk Eyang Putri dan yangkung untuk Eyang Kakung juga tidak konsisten.
Saya merasakan aura Eka yang cukup kuat pada tokoh Kayla. Bukan hanya karena informasi budaya dan objek wisata dari setiap kota tempat perjalanan Kayla (yang saya yakin semuanya itu dialami sendiri oleh Eka), tetapi juga karena penggambaran Kayla sebagai gadis pejabat (peranakan Jawa Batak). Bagian dimana Kayla pergi ke Medan untuk mencari akar leluhurnya adalah favorit saya di novel ini. Saya merasakan kebingungan yang dialami Kayla berkaitan dengan tata cara panggilan kepada kerabat yang penuh aturan. Apalagi ketika sosok bang Patar muncul. Cowok batak memang punya pesona sendiri, ya Ka… :D
Overall, saya merekomendasikan novel ini untuk kamu yang menyukai kisah cinta yang ringan plus ingin mendapatkan informasi cara menikmati wisata anti-mainstream. Kalau kamu pencinta kalimat-kalimat quoteable, novel ini wajib masuk dalam koleksi kamu.
Kayla, sebuah nama yang berarti mahkota, nama yang cantik untuk seorang gadis yang ‘jauh’ dari penggambaran kata cantik. Kayla, dengan muka jerawatan, baju yang tak rapi, dan rambut bau prengus. Belum lagi hobinya yang suka membawa tas kresek kemana-mana dan hobi berpetualangnya yang gila. Dan semua itu bertambah sempurna dengan nilai-nilanya yang jelek dan cara bertutur yang ceplas-ceplos. Aaah…kok gak ada bagus-bagusnya sih si Kayla ini. Memiliki dua sahabat yang benar-benar mengerti dan bisa menerimanya adalah sebuah anugerah untuk seorang Kayla.
Hingga suatu ketika dia bertemu Ruben di atas kereta menuju Jogja dan beranggapan bahwa Ruben adalah si Pangeran Fajarnya, yang akan melindungi dan mendampinginya. Dan petualangan dalam sebuah Labirin Rasa pun dimulai.
Jatuh bangun Kayla dalam mengejar Ruben patut diacungi jempol. Walau pun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa dia si itik buruk rupa yang menginginkan Pangeran Tampan, akan tetapi tetap dong ya dia gak kenal namanya menyerah. Baru kenal saja, Kayla sudah berinisiatif untuk pindah kuliah ke Jogja, demi si Ruben ini. Dan setelah Ruben telah mengecewakannya pun, Kayla masih tetap cinta setengah hidup dengan si Ruben. Bahkan dia mengejarnya hingga ke Medan.
Membaca dan menyelami sepak terjang Kayla, yang terbersit dalam benak saya adalah whooa…the real Batak nih hehe. Karena kebetulan saya punya beberapa teman dari Batak dan sifat mereka walau pun tidak seekstrim Kayla, tapi sebelas dua belas lah sama Kayla. Pantang menyerah, ceplas-ceplos, dan easy going. Kalau toh si Kayla ini ada yang menganggap absurd, hanya ada di novel, well tapi di kehidupan nyata cinta dapat mengubah segalanya kan? Kegilaannya pada Ruben menurut saya itulah bentuk cintanya. Toh, dalam kehidupan nyata banyak orang yang melakukan hal-hal yang lebih gila dari Kayla.
Jika kemudian setelah memakan waktu cukup lama baru Kayla menyadari bahwa si Pangeran Fajarnya bkanlah Ruben, belum terlambat untuk emnggapai kebahagiaan hakiki dalam biduk sebuah rumah tangga dengan Patar, paribannya.
Dalam novel Labirin Rasa memang tidak ada konflik yang terbangun dengan angkuh, novel ini hanya menceritakan Kayla yang tomboy dan dengan segala kekurangannya berhasil memikat hati Ruben (walau sebentar), Dani, Patar, dan si Bule David. Bayangkan,jelekaja dia bias memikat begitu banyak pria, apalagi ketika dia menjelma menjadi angsa cantik.
Konflik hanya ada pada diri Kayla, pada perasaannya ke Ruben. Walau pun demikian kita justru seakan-akan dihadapkan pada cerita kehidupan yang sesungguhnya. Bukankah konflik terbesar dalam hidup memang hanya seputar pada hati kita sendiri?
Yang menjadi nilai plus dari novel ini adalah penjabaran tempat-tempat wisata yang sumpah membuat ngiler pengen menjejakkan kaki di sana. Satu hal yang dengan sukses disampaikan Kak Eka, bahwa Indonesia itu indah. Mari berpetualang mengelilinginya!
Sayang sekali, kenikmatan membaca novel ini terganggu dengan banyaknya salah ketik (typo). Untuk pembaca yang cerdas seperti saya, mungkin bisa langsung paham bahwa si typo ini maksudnya begini..eh..tapi ini cukup bikin gak enak baca lho. Apa karena tidak ada proofreader ya?
Tapi, secara keseluruhan membaca Labirin Rasa seperti masuk pada labirin hati seorang gadis muda yang penuh dengan berbagai rasa yang ada pada hatinya. Hmm…untung saja labirin ini berujung pada kebahagiaan. Jadi, pembaca tidak kecewa haha.
Tanpa basa basi dia langsung meminta Ruben untuk menjadi pemandu wisata selama ia liburan di Yogya. Awalnya Ruben sangat terganggu dengan sifat Kayla yang ceplas ceplos, tapi dia berbeda dengan perempuan lain, dia mandiri dan tidak manja, selain itu Kayla selalu bisa membuatnya tersenyum. Sayangnya, Ruben jugalah yang mematahkan hati Kayla, ternyata selama ini dia hanya memanfaatkan Kayla ketika sedang break dengan pacarnya. Ruben adalah lelaki playboy, hatinya tidak hanya pada satu orang.
"Cinta itu membahagiakan, namun jika ia sudah mulai jadi beban. Lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu, beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan. Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa diatur."
Untuk menyembuhkan sakit hatinya, Kayla bertualang ke beberapa kota. Di Malang ia bertemu dengan Dani yang selalu ingin melindunginya. Di Bali ia bertemu dengan David, bule ganteng yang memiliki pesona luar biasa. Di Lombok ia bertemu dengan Cynthia dan Andy yang selalu bertengkar. Bersama Cynthia, Kayla terbang gratis ke Makassar, di sana dia mengenal cinta yang berbeda. Di Medan dia bertemu dengan Patar yang selalu menjaga, sosok abang yang selalu diimpikannya dan pelindung sejati. Lalu siapakah sebenarnya Sang Pangeran Fajar? Ikuti kisah cinta Kayla yang penuh lika liku ini, dan masih ada satu tempat terakhir yang Kayla kunjungi, di mana rugi kalau nggak dibaca sendiri :D
"Cinta itu ibarat labirin rasa, semakin kamu ingin ke luar, semakin jauh kamu bisa tersesat. Lebih baik dinikmati saja proses cinta itu. Tapi, jangan membabi buta sampai melanggar norma yang ada."
Dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang santai, alur maju, karakter Kayla yang menyenangkan serta dialog yang kocak, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan buku ini. Kelebihan buku ini adalah penulis tidak sekadar menyuguhkan cerita cinta yang penuh lika liku tetapi ada unsur travellingnya, kita bisa ikut merasakan tempat-tempat indah yang Kayla pijak, mengenalkan kita pada keindahan alam, budaya dan bahasa yang dimiliki Indonesia. Selain itu, karakter Kayla yang kuat, tegar, terlalu mandiri sampai Ruben merasa tidak dibutuhkan menjadi keunikan tersendiri. Sikap pantang menyerahnya itulah yang membuat saya bertahan membaca buku yang lumayan tebal dan kisah cinta seperti tak ada ujung, ada saja orang baru yang hadir di kehidupan Kayla. Dari segi judul, cover dan isi sangat pas, kalimatnya pun juga quotable.
Kekuranganya adalah masih banyak typo, seperti salah menyebut nama pada halaman 296 di mana seharusnya Ruben ditulis Andy. Dan saya iri sama Kayla, kenapa lelaki yang ditemuinya selalu tampan dan nikah-able?
Pantang menyerah untuk mendapatkan cinta sejati dan belajar melepaskan untuk mendapatkan yang terbaik, itulah tema utama buku ini. Saya rekomendasikan bagi kamu yang ingin mencari kisah cinta yang diramu dengan kisah perjalanan yang menarik.
"Kadang ya Bang, nggak peduli seberapa sakit seseorang melukai kita, kita tetap bertahan. Karena rasanya akan lebih pahit jika kita kehilangan dia."