Jump to ratings and reviews
Rate this book

re:ON Comic

re:ON Vol. 1

Rate this book

144 pages, Paperback

First published July 1, 2013

5 people are currently reading
79 people want to read

About the author

Chris Lie

41 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
19 (26%)
4 stars
23 (31%)
3 stars
22 (30%)
2 stars
5 (6%)
1 star
3 (4%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Dan T.D..
12 reviews
October 8, 2013
(Catatan : Ini merupakan ulasan dari Re:ON volume 1 dan 2 sekaligus)

Saya harus membuka ulasan ini dengan kata-kata "pamungkas" : Re:ON adalah kristalisasi komik Indonesia kontemporer. Tidak, ini bukan pujian, bukan pula kritikan apalagi cacian. Pernyataan tadi merupakan pernyataan netral. Tapi bukan berarti itu artinya komik Indonesia secara keseluruhan bisa disamaratakan nilainya menjadi hanya 2 bintang.

Maksud saya dengan pernyataan tadi adalah, bahwa majalah komik ini, entah secara kebetulan atau tidak, merepresentasikan situasi komik Indonesia saat ini. Ya, bahkan meskipun Re:ON secara fisik hanya mewakili sisi timur komik Indonesia, karena dalam tingkatan yang lebih tak kasat mata baik sisi timur maupun barat punya masalah sama. Dan saya di sini bukan mau mengoceh panjang lebar soal masalah-masalah yang sudah klise, atau sekedar berandai-andai, atau mustahil diselesaikan secara instan seperti prospek komersil-finansial (sebelum ada yang tanya, tenang saja, mau buruk atau bagus saya tetap langganan Re:ON kok sampai habis) dan isu 'keindonesiaan komik Indonesia'. Sudah lelah saya dijejali itu, dari yang berargumen kredibel sampai yang bullshit.

Masalah murni terletak pada aspek penting dalam unsur dasar sedasar-dasarnya komik yang sering terlupakan. Cerita. Termasuk di dalamnya karakter, humor, latar, dan sebagainya. Dari dulu, saya punya semacam kegalauan terpendam tentang ini. Saya biasa berteriak pada diri sendiri, "Seribu orang! Seribu orang bisa menggambar! Tapi hanya satu dari seribu di antara mereka yang bisa menulis cerita baik!". Tanpa bermaksud berlebihan atau sok retoris, begitulah kenyataannya.

Dari puluhan, bahkan ratusan komik lokal yang muncul 'mengintip' (sedih sekali rasanya menggunakan kata itu) di rak-rak toko buku besar negeri ini, yang dalam segi gambar bagus banyak. Banyak sekali. Tapi cerita? Hanya segelintir. Dan saya bukan hanya menggeneralisir komik berformat 'biasa' dengan cerita 'serius'. Bahkan komik-komik komedi, satir, dan humor pun terasa begitu jayus, begitu garing, bahkan dalam satu kasus terasa seperti ceramah dibanding humor!

Dan begitulah pula Re:ON. Mari kita mulai berurutan, dari The Grand Legend : Ramayana karya Is Yuniarto. Ini salah satu titik terang (kalau tidak bisa disebut satu-satunya) dari majalah komik muda ini. Ilustrasi, tidak usah ditanya lagi karena Is memang salah satu komikus terbaik Indonesia dalam segi ini. Latar yang disajikan pun (semestinya) menarik. Ceritanya sendiri belum terlalu menunjukkan inti, dan saya menebak roman-romannya tidak akan menjadi fokus komik, mirip di Garudayana yang punya fokus berat pada adegan laga.

Tapi saya malah tergelitik untuk mengajukan satu pertanyaan. Kenapa wayang? Kenapa wayang lagi? Kenapa bukan leak Bali, misal? Atau jangan jauh-jauh deh, Reog Ponorogo? mitos Dayak? Sunda? Jujur, meski saya tetap memuji karya Is dan yang lainnya, saya (dan beberapa gelintir teman-teman yang sama-sama mengikuti perkembangan komik lokal kontemporer) sudah bosan. Setiap tema lokal, hampir pasti wayang! Ah, ini mungkin bukan kritikan, melainkan lebih ke tantangan. Bisakah bikin lagi komik berbau lokal yang bukan mengangkat pewayangan?

Berpindah ke komik kedua, Lay Lay Cat karya Andik Prayogo dan Sheila Rooswitha. Komik ini punya potensial cukup besar, asli, dan bikin saya gemas karena potensi itu belum benar-benar terpenuhi. Latarnya punya banyak potensi. Konsepnya punya banyak potensi. Karakternya punya banyak potensi. Tapi, seperti yang tadi saya jabarkan, komik ini jatuh ke dalam kategori komik humor lokal yang masih kurang lucu. Mungkin ini agak sok tahu, tapi sejauh pengamatan saya banyak komik humor lokal kontemporer yang kurang mengerti apa itu comic timing. Padahal, bukan hanya di TV, di komik pun timing merupakan salah satu kunci komedi yang baik. Untung suasana slice-of-life di komik ini sejauh ini bagus sekali.

Komik ketiga, Platina Parlour karya Angie dan Kate Yan, jelas bukan komik yang dimaksudkan untuk orang dalam rentang usia dan gender seperti saya. Tapi tenang saja, begini-begini saya dulu baca cukup banyak komik shoujo. Masalah utama komik ini sendiri banyak. Cukup banyak. Soal karakter yang arketipal saya bisa memaklumi karena konsep komik ini berdasarkan butler cafe yang memang sengaja dibikin arketipal. Soal cerita pun begitu. Sayang, lagi-lagi unsur humornya jayus. Untung kali ini masalah bukan pada timing, dan saya lumayan tertawa juga membaca salah satu lawakan di volume 2 (meski sambil mengernyitkan dahi), melainkan pada esensi lawakannya sendiri yang sebagian besar klise. Sudah sering dilakukan dan mudah sekali ditebak, padahal dalam komedi faktor kejutan bisa menjadi andalan.

Maju ke komik keempat, Lemon Leaf karya Rii Wels. Sulit untuk mengkritik komik ini. Lidah saya getir, tangan saya kaku, serius. Karena memang sampai volume 2 komik ini masih terlalu kurang di hampir semua aspek. Ilustrasi masih okelah, meski setiap adegan aksi cepat kurang enak. Ceritanya? Karakternya? Sangat, sangat, sangat klise. Oke, mungkin ini pertanyaan yang benar-benar sudah sering terucap (dan saya sendiri sebenarnya tidak mau menanyakan ini), tidakkah terpikir bikin komik tentang remaja Indonesia?

Sedangkan Hyper Fusion Cyborg Idol Rinka karya Hendri, Kaari, & Vino ini komik paling aneh. Paling banyak orang yang mengerjakannya, tapi sekaligus jadi komik yang terasa paling sedikit dikerjakan. Dari penggambaran latar yang terasa paling 'kosong', adegan laga yang masih kurang enak dilihat, sampai cerita dan karakter yang paling -meminjam istilah teman saya- "template" alias jiplakan. Ini sudah bukan klise lagi, tapi amat sangat generik dari berbagai sisi. Terlalu generik bahkan untuk genrenya.

Malahan, salah beberapa titik terang Re:ON datang dari komik Galauman yang sampai saat ini baru ada beberapa halaman, oneshot Invasi 17 Agustus yang setidak-tidaknya komedinya mengena, atau bahkan 'omake' dari C. Suryo Laksono di volume pertama.

Kesimpulan, masalah laten tentang cerita dalam komik ini harus segera dibenahi. Saya yakin ada penulis yang tertarik berkolaborasi, toh kalau harus muluk-muluk ada Seno Gumira Ajidarma yang kalau tidak salah menggilai Panji Tengkorak. Unsur lokalitas pun tidak mesti dan tidak perlu dari budaya tradisional, apalagi yang itu-itu saja, bisa menggunakan tema kontemporer seperti 1SR6 atau Cermin Putih. Terakhir, kalau sudah jelas komik lokal (di luar upaya bersama seperti Re:ON) belum bisa menghasilkan banyak uang, kenapa tidak menulis cerita terbaik yang diinginkan saja? Toh hasil komersialnya akan 'sama saja', nothing to lose, amirite?

========================

FAQ :

>inb4 "emang lu bisa nulis cerita yang lebih bagus tong?"

Gini-gini juga gue penulis. Tapi, ga ada hubungan antara harus bisa nulis cerita yang bagus biar bisa ngekritik, sama keak ga perlu jadi pemain sepakbola yang ahli buat bisa jadi pelatih sepakbola.

>inb4 "kalau lu care sama komik lokal ya dukung dong tong bukannya hina-hina gini"

Apa orangtua yang ga pernah nasihatin anaknya kalau salah bisa disebut orangtua yang baik? gini-gini gue tetep beli dan bakal terus beli Re:ON loh, udah disebut tadi kan di atas. Daripada gue diem diem doang terus tahu-tahu ga beli lagi dan ikut berkontribusi sama penurunan penjualan, ya toh?
Profile Image for Eko.
2 reviews11 followers
September 15, 2013
Menurut pendapat saya, komik-komik di re-on bagus-bagus art worknya dan menarik ceritanya. Dengan harga 20.000, saya mendapatkan majalah dengan kualitas dan ketebalan melebihi ekspetasi. Kaget saya, ketika membeli, setebal dan secolorful ini 20k?

Ternyata memang empunya re-on memiliki idelisme untuk memberikan kualitas prima dengan harga yang terjangkau. Efeknya tentu saja terdapat halaman-halaman iklan di re-on. Tapi menurut saya hal tersebut tidak jadi soal, selama iklannya dibuat dengan artistik dan tidak mengganggu.

Dari segi konten, re-on mengingatkan saya kepada majalah-majalah komik jepang yang telah diterbitkan di indonesia seperti shounen mags dan shounen star. Namun, layout dan ukuran artworknya benar-benar enak dibaca. Tidak seperti majalan sejenis yang ukurannya nanggung, kertas kurang prima, sangat tebal, dan tintanya sering meluber ke tangan.

Komik-komik yang di publikasikan di re-on pun amat beragam. Mulai dari komik petualangan epic seperti Ramayana, komik shoujo lemon leaf & platina parlour, shounen sedikit echii Cyborg Idon Rinka, hingga humor slice of life Lucky Cat. Semua cerita digambarnya dengan artwork yang menurut saya rapi dan bagus.

Cerita favorit saya di re-on adalah The Grand Legend Ramayana. Dalam cerita tersebut, Is Yuniarto mendaurulang cerita kuno ramayana menjadi berbau modern dan humoris. Menurut saya hal tersebut adalah suatu nilai positif yang dapat membawa generasi-generasi muda untuk mengenali dan menggali epic ramayana lebih lanjut. Saran saya, jangan sampai nilai-nilai amanat ramayana hilang yah :P (dan rasionalisasi juga nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jaman sekarang)

Hampir tidak ada kekurangan yang saya temui dalam edisi perdana ini. Mudah-mudahan Re-on dapat terus berlanjut. Tidak seperti majalah komik indonesia lain yang menghilang tidak tahu kabar beritanya di tahun-tahun sebelumnya. Bravo Re-On, pertahankan kualitas primanya (dan kalo bisa halamannya ditambah :p)
Profile Image for Shanya Putri.
353 reviews164 followers
June 8, 2021
Dapat ini gratis di Google Play Books!
Urutan dari yang paling favorit: The Grand Legend Ramayana > Lay-Lay Cat > The Journal of Platina Parlour > Lemon Leaf > Hyper Fusion Cyber Idol Rinka
47 reviews46 followers
May 19, 2019
Mungkin di postingan sebelumnya aku agak nge-rant
Sekarang
Mungkin ini udah aku perbarui editannya.....
Tapi gini....

Ini udah bukan hanya kompilasi komik, tapi juga Majalah. Di dalam majalah ini, kamu bakalan menemukan berbagai macam komik-komik, ada Grand Legend: Ramayana (yang menjadi cover buku) yang bergenre action, dan adventure dengan settingnya yang menurut Is Yuniarto didasari oleh kehidupan mafia namun bertajuk wayang

Ada juga Lemon Leaf - Rii Wels yang bersetting di dalam kehidupan sekolah, rapat osis dan event yang akan diadakan di sekolah. Sejujurnya aku berharap lebih di kegiatan eventnya, tapi di cerita ini lebih menyoroti hubungan antara si karakter cewek utama dan ketua osis yang sentimentil pas melihat tokoh utama karena mirip dengan orang yang disukainya dulu..... Mungkin akunya aja yang ngga dapat feelnya, tapi pas lihat gaya penggambarannya kayak inget Yui Ayumi sih, cuma ya itu.... kayak ada satu hal di dalam diriku pas baca terasa mengganjal....


Ada lagi Lay-Lay Cat, komik ini lumayan mengena di anak-anak SD (terbukti adek aku yang bocah selalu baca komik ini). Aku suka cara guratan garis Mbak Sheila dan kesederhanaan plot twistnya. dan gregetnya si Lay-Lay Cat pas gagal dapat pembeli

Platina Parlour: aku udah sering mantengin akunnya si komikus, apakah namanya itu Kuro Taisa.... Desain karakter Platina Parlour matang banget, tapi berharap lagi akan cerita terbarunya para butler ini, apakah bisa dijadiin butler privat (?) Aku tungguin komik tankobonnya belum ada sih tapi T^T

Nah kalau ini, aku berharap banget cara penaruhan panellingnya dibuat lebih dinamis..... jadi cerita dalam konfliknya berasa intensnya.... Dan si Rinka ini punya lho albumnya sendiri.... Bisa dibelilah ^^

Yah mungkin itu aja yang bisa disampaikan
Profile Image for Manikmaya.
99 reviews40 followers
October 7, 2013
Artworknya bagus-bagus. Jempol buat itu.

Story? Saya cuma terkesan sama Ramayana sama Lay-Lay Cat. Lainnya terkesan ... biasa.

Oh ya komik strip berpanel karya C.Suryo Laksono dan tips 'gendengnya' malah lebih berkesan daripada 3 entry lainnya.
Profile Image for Sylvia Sylvie.
424 reviews8 followers
April 1, 2022
Baru tahu kalau seri re:ON ini sampai volume 6 gratis di Google Play Books. Suka sih dengan main ideanya yaitu "menghidupkan kembali semangat komik Indonesia". Di volume pertama ini ada kumpulan 5 komik dan beberapa artikel tambahan, layaknya sebuah majalah komik. Ini tuh mengingatkan aku sama majalah komik Nakayoshi dari Jepang yang dulu sempat booming. Bedanya, re:ON ini isinya semua komik-komik karya anak bangsa. Berikut rating ku untuk masing-masing cerita tsb:

- The Grand Legend Ramayana ⭐⭐⭐⭐
- Lay-Lay Cat ⭐⭐⭐½
- Lemon Leaf ⭐⭐⭐
- The Journal of Platina Parlour ⭐⭐⭐
- Cyborg Idol Rinka ⭐⭐

Dari 5 komik di volume pertama ini, jujur yang langsung terasa mengesankan (dari segi ide cerita dan design) hanya beberapa. But it's okay. Yang namanya kemajuan itu butuh proses kan? Bisa menghasilkan suatu karya hasil jerih payah sendiri saja sebenarnya sudah patut diacungi jempol. 👍
Profile Image for Raja Q.
37 reviews
March 31, 2020
Semua judulnya masih orientasi,jadi susah dimengerti. Semoga aja nanti makin berkembang.
Profile Image for Mizuno Hikaru.
3 reviews1 follower
September 16, 2013
Re:On is a comic magazine. They said it will be released per 5 weeks (monthly?)

The price is 20.000 IDR and it's really, really cheap since they got 5 story titles, with several great names and good story-telling, beautiful artworks and many colour pages.

My favourite is The Journal of Platina Parlour, focused on a butler cafe with (currently) 6 handsome butlers with different personalities. From the cover of the second volume, there's another 4 butler that will be introduced on the future chapters. The genre is romantic-comedy, with attractive bishies and appealing artwork, along with slice of life comical plot.

Profile Image for Haris Firmansyah.
Author 12 books35 followers
September 9, 2015
1. The Grand Legend Ramayana: 3
Is Yuniarto, saya suka gaya gambarnya sejak baca Wind Rider. Di chapter ini masih kurang nendang sih.

2. Lemon Leaf: 1
Sorry.

3. Lay-Lay Cat: 4
Lucuuuu.

4. Platina Parlour: 2
Hmmm.

5. Rinka: 4
Menarik! Saya suka!

Btw, komik 10 jurusnya oke banget. Tips ngomiknya boleh juga. Overall, saya merasakan letupan semangat idealis di edisi perdana. Ayo, re:on -kan komik Indonesia!
Profile Image for Agi.
5 reviews
June 10, 2015
PLagiat jepang manga itu dari jepang indonesia bisanya plagiat aja
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.