Novel ini bercerita tentang seorang anak manusia yang mendapat pencerahan dalam hidupnya, sehingga menjadi manusia yang lebih baik. Sebutlah namanya Agus, anak yang cenderung urakan dan hobi kebut-kebutan. Kuliahnya nyaris berantakan, dan ia kerap bersitegang dengan ayahnya, Pak Usman. Walau pun begitu, ia amat sayang dan bersikap lembut pada ibunya.
Suatu hari karena mengejar pencopet, Agus bertemu dengan teman SMU-nya, Airin. Sosok Airin yang ada dihadapan Agus berbeda sekali dengan gadis kecil yang dikenalnya dulu. Gadis itu sekarang sudah mengenakan jilbab rapi, manis sekali. Rasa-rasanya Agus telah jatuh cinta pada Airin. Banyak hal baru, yang Agus dapati dari Airin. Semisal, ia tak mau bersalaman dengan Agus. Atau berduaan dengan Agus. Hal ini membuat Agus bertanya-tanya, sekaligus penasaran. Hingga sampai suatu hari, Agus memberanikan diri datang ke rumah Airin. Di sana, ia mesti berhadapan dengan Pak Zaenal dan Ibu Zaenal, bapak dan ibu Airin.
Namun sungguh di luar dugaan, Airin menolak cinta Agus. Kenapa? Apakah karena sudah ada lelaki bernama Dewa? Dibandingkan lelaki bermobil itu, Agus memang kalah dalam segalanya. Tetapi, benarkah Dewa menghalangi hati Airin bertaut dengan hati Agus? Atau kepribadian Agus yang terlalu urakan penyebabnya?
Pak Zaenal mondar-mandir dan sesekali bertanya pada Agus. Hingga konsentrasi Agus yang mau “menembak” Airin buyar. Hingga pada saat Pak Zaenal lengah, Agus menyatakan; Aku mencintai kamu, Airin…Airin terpana. Belum sempat Airin menjawab, Dewa datang! Dan tak lama Pak Zaenal menyuruh mereka sholat berjamaah dan meminta Agus menjadi imam! Agus yang jarang sholat jelas kebingungan. Beruntung karena sholat dhuhur tidak perlu dilafalkan, maka Agus sok pede menjadi imam.
Saat mau pulang, Agus menanyakan pada Airin apa jawabannya. Tak disangka, Airin menolaknya! Airin bilang, ia mencari imam, dan pendamping hidup. Bukan pacar. Agus menuduh, itu hanya alasan Airin. Karena sebenarnya, Airin mau menerima Dewa kan! Airin bilang, itu bukan alasan. Memang ia mencari seorang imam. Agus yang kecewa dengan gusar meninggalkan rumah Airin.
Selain harus menaklukkan hati Airin, ternyata Agus harus berjuang untuk melunakkan hati ayah Airin. Hingga, pada suatu saat terjadilah percakapan antara ayah dan putri kesayangannya yang hendak dilamar oleh Agus.
“Kalau Ayah meminta Airin untuk melupakan orang ini, bagaimana?” tanya Ayah tiba-tiba memancing.
Hati Airin berteriak. “Tentu tidak!”
“Kalau Ayah minta Airin untuk menjauhi dan berpura-pura orang ini tidak pernah ada, bisa tidak?”
Kepala Airin terasa berat. Tidak! Tentu saja tidak!
“Kalau Ayah minta Airin untuk melepaskan orang ini, Airin mau tidak?”
Kali ini Airin merasa mantap untuk menggeleng. “Tidak. Airin tidak mau, Ayah.”
“Kalau begitu jangan dilepas.” Ayah mengembangkan senyum tuanya..
menurut saya novel ini sangat bagus karena banyak pelajaran atau imbrah bagi kita semua dan mengandung nilai - nilai islami yang sangat banyak"