Jump to ratings and reviews
Rate this book

Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu

Rate this book
“Irfan menulis dengan riang. Namun berhasil mengajak kita melihat, merekam, dan memaknai sesuatu dengan lebih men­dalam. Keluasan ilmu, kerendahan hati, dan kecintaan, itulah yang membuat karya Irfan AmaLee ini menjadi penting untuk Anda miliki.”



—Ust. Budi Prayitno, trainer dan life-storyteller



“Kita semua harus bersyukur bahwa Irfan AmaLee akhirnya memutuskan untuk membagi pengalaman hidupnya lewat buku ini. Buku ini bukan hanya untuk para pencari beasiswa, tapi jauh lebih luas dari itu, bagi mereka yang ingin membuat hidupnya kaya penuh makna. Tidak ada satu bab pun dalam buku ini yang tidak memberikan inspirasi. Irfan AmaLee bukan saja menunjukkan kalau Islam itu indah tapi dia membuktikan bahwa hidup itu akan indah jika kita membuatnya menjadi indah!”

—Maulana M. Syuhada, penulis 40 Days in Europe, kandidat doktor Lancaster University, UK



“Membacanya, mataku langsung berkaca-kaca. Ada haru dan semangat yang berkobar. Buku ini bagai cermin kecil ke­sa­yangan raksasa yang haus pengalaman. Cermin yang mam­pu membuat raksasa terharu, tersenyum, bahkan tertawa hing­ga tersulut semangatnya. Goodluck, Bro!”

—Ali Muakhir, seorang book creator peraih Adikarya IKAPI dan ayah 3 “malaikat” hebat



“Lewat gaya bahasa yang asik dan kisah-kisah menggelikan, buku ini bikin kagum dan ‘ngiler’ ingin studi ke luar. Dari kecil saya sudah berkeinginan pergi ke Jepang tapi harus lewat bea­siswa. Kadang ragu dan khawatir, tapi di buku ini saya di­ingatkan bahwa pertolongan-Nya pasti datang, mengubah yang sulit menjadi mudah. Satu hal penting, doa restu orangtua yang tak mungkin dipisahkan dari langkah kita ke mana pun perginya. ‘7 Tips Praktis’-nya wajib dicoba, semoga tahun depan saya mengalami hal-hal luar biasa pula di Hokkaido, tempat saya melanjutkan studi.”

—Aulia Fajar Rahmani, mahasiswi Teknik Lingkungan ITB



“Seperti untuk restu ibu, tidak ada kata terlambat untuk men­dapatkan beasiswa. Hati-hati membaca buku ini: Akan ada super-kebelet yang memaksamu segera berburu beasiswa! Irfan AmaLee emang jagonya bikin envy!”

—Fahd Djibran, penulis, peraih beasiswa Australia Awards 2013

Paperback

First published July 1, 2013

6 people are currently reading
93 people want to read

About the author

Irfan AmaLee

12 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (55%)
4 stars
25 (32%)
3 stars
8 (10%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
November 11, 2014
UPDATE

Catatan: Ulasan ini akan berisi lebih banyak dari sisi BdBTKI ketimbang buku di baliknya yang berjudul 'blabla Paman Sam' (maaf lupa, maklum minjem). Selain karena memang sampul BdBTKI yang dipasang di GR, bagian buku inilah yang paling menyedot perhatian dan kesan saya.

Pertama-tama, saya suka gaya bahasa Irfan Amalee. Dengan jam terbangnya di penerbitan dan kemampuannya dalam mengolah grafis, saya bisa nyaman membaca buku ini tanpa jeda, tanpa hambatan. Saya terkesan dengan bagaimana hal kecil yang beliau alami memiliki 'tujuan' mulia, dan dituturkan seolah beliau sendiri yang sedang curhat di hadapan kita-kita, pembacanya.

Misalnya saja, baru di bab awal kita sudah disuguhkan tentang Ibu dan orangtua. Ini ngena banget ke saya pribadi. Lalu, selipan pesan moral dan tips hidup di Amerika yang tidak menggurui dan fun untuk diikuti. Berbeda dengan buku satunya yang lebih straight to the point.

Saya juga suka gimana Irfan Amalee menulis pengalamannya tentang desain-mendesain. Secara tidak langsung, ceritanya membuat saya menjadi percaya diri lagi. Apalagi buku ini memang didukung layout yang rapi dan cantik. Kerapian pemilihan cerita juga jadi salah satu yang bikin saya menikmati sampai selesai. Lagi-lagi, sekuens yang baik adalah yang saya cari di tiap buku nonfiksi, disamping narasi yang apik dan pesan yang disampaikan.

Dan, kesemuanya itu ada di buku ini.

Nggak percaya? Coba lihat dulu kutipan dan intisari yang saya suka (plus amat relatable) dari BdBTKI:

1. Restu orangtua
2. Cuma Allah yang tidak pernah lengah (selalu berdoa dalam hal apa pun!)
3. Hati-hati Yahudi: Hati-hati mengikuti kebiasaan dan pikirannya, bukan orangnya
4. Bahasa visual memang bahasa universal
5. Dunia itu tidak akan ada selesainya, kita tidak pernah punya waktu jika kita tak memaksa diri kita untuk menyisihkannya (untuk beribadah)
6. Kesadaran untuk pulang

Meskipun begitu, masih ada beberapa typo seperti #SdBTKI alih-alih #BdBTKI, grafic (harusnya graphic), Thank It's Friday (tanpa God), lalu nama Yusuf dan Wayan yang tertukar. Padahal, tulisannya sudah cukup bebas dari ketidak-KBBI-an.

Terakhir, saya mau berterima kasih pada Ginan yang sudah meminta Kang Irfan ini untuk menulis buku. Karena dari buku yang saya baca di waktu yang tepat ini, saya jadi lebih yakin dengan keputusan saya sendiri. Hebat ya, bagaimana sebuah tulisan bisa mengubah hidup seseorang? ;)
Profile Image for Lalu Fatah.
Author 12 books35 followers
August 18, 2013
Awalnya hendak membeli 'And the Mountains Echoed', tapi buku saya tergerak ke arah buku bersampul menarik ini. Apalagi dikonsep bolak-bolak, 2 in 1 book. Ya, tak heran karena penulisnya memang seorang pekerja kreatif yang sudah lama berkecimpung di penerbit Mizan.

Tapi, yang paling bikin saya tidak ragu-ragu untuk membawanya ke kasir adalah karena ini buku tentang beasiswa. Tidak sekadar how to - yang kiranya bisa dicari di internet - tapi lebih mengungkapkan kisah sang penulis selama studi master di AS.

Dan, saya pun mesti mengintip isinya dulu (dengan sedikit membedah plastiknya) untuk memastikan dan meyakinkan saya bahwa ini buku tepat saya baca dan bawa pulang.

Selain itu, buku ini juga mengingatkan pada impian saya untuk bisa menginjakkan kaki di AS lewat jalur beasiswa. Saya sudah pernah mencoba dua kali selama S-1, yakni beasiswa untuk summer course. Keduanya di AS. Tapi, saya belum berhasil.

Makanya, saya kira buku ini bisa kian mendekatkan saya pada impian saya tersebut.

Bagaimana isinya? Baca sendiri ya! Saya rekomendasikan deh! :)
Profile Image for Yoshimi Yamada.
5 reviews
April 30, 2020
Tanpa babibu lagi saya langsung kasih lima bintang.

Buku ini termasuk buku yang spesial di hati saya. Mengapa?

Enam tahun yang lalu, sekitar kelas 1 SMA, saya diberi buku ini oleh guru bahasa Indonesia saya (yaampun terima kasih Pak, saya tidak akan lupa kebaikan Bapak yang satu ini). *Ini menulis sambil terharu*

Kenapa bisa diberi?

Seperti biasa, biasanya memang saya suka berkunjung ke ruang guru karena memang sering ada keperluan dengan wali kelas. Lalu papasan lah dengan meja beliau. Kata beliau "Kamu mau gak kuliah di luar negeri?"
"Wah tentu saja saya mau, Pak."
Saya kira ada penawaran beasiswa dll. *Wkwk ngarep*
Eh ternyata beliau menjanjikan untuk memberi buku pada saya. Saya sih bingung ya buku apa maksudnya. Katanya istri si penulisnya masih saudara dengan beliau *Maaf kalau saya salah*.

Alhamdulillah, bukunya sangat bermanfaat buat saya. Kenapa?
Buku ini memperluas wawasan saya sebelum kuliah. Pesan-pesan dalam buku ini juga masih teringat di kepala saya sampai sekarang. Saya juga pernah menulis essay untuk mata kuliah saya menggunakan topik yang diangkat dari buku ini.

Satu kata untuk buku ini:
AWESOME.
Profile Image for Adriana Anjani.
22 reviews
February 25, 2024
Seru banget baca bukunya Kang Irfan, ada tangis, tawa, haru, semua campur jadi satu. Tapi di setiap emosi itu ada pembelajaran. Nggak nyangka juga banyak kisah hidup Kang Irfan yang bersinggungan sama kisah hidup saya juga. Terima kasih sudah membagikan cerita-ceritanya, Kang.
Profile Image for Dimas Ahimsa.
10 reviews11 followers
July 27, 2016
Satu lagi cerita tentang salah seorang putra Indonesia yang berhasil kuliah sampai ke negeri orang.

Kalau pernah baca buku semacam Notes from Qatar atau 9 Summers 10 Autumns, buku ini ga jauh beda dengan buku-buku tersebut. Hanya, menurut saya, di buku ini mas Irfan juga memberikan semangat kerukunan di setiap ceritanya, jadi ini memberikan satu tema spesial, ga melulu soal motivasi.

Salah satu hal unik yang langsung terlihat di buku ini adalah covernya yang two in one. Inlah hal yang membuat saya penasaran sama buku ini. Aneh amat ni buku covernya terbalik begini. Dan rasa penasaran itu akhirnya membuat saya membawa buku ini ke kasir. Setelah membuka sampul plastiknya, ternyata bukan covernya saja yang two ini one, bukunya juga! Ya, jadi satu buku ini terdapat dua cerita. Kalau berdasarkan covernya satu buku berjudul Beasiswa di bawah Telapak Kaki Ibu yang bercerita tentang kehidupan mas Irfan selama berkuliah di Amerika lalu buku lainnya berjudul Pungutlah Hikmah Walau dari Mulut Paman Sam yang berisi motivasi untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri serta tips-tips dari mas Irfan serta beberapa temannya yang sudah berhasil kuliah diluar negeri juga.

Di buku Beasiswa di bawah Telapak Kaki Ibu, mas Irfan bercerita tentang kehidupan yang ia lalui selama pendidikan S2-nya di Brandis University, Massachussets, Amerika Serikat. Ceritanya sendiri bermacam-macam, mulai dari yang mengocok perut, sampai yang menyentuh perasaan. Yang kocak yaitu cerita mengenai ketika mas Irfan harus pergi dari Massachussets sampai ke Cambridge demi mendapatkan… sebotol kecap. Lalu ada lagi cerita bagaimana mas Irfan bekerja sebagai chef sushi, kuli bangunan, dan menjadi kelompok dakwah di Amerika, yang semuanya sangat berkesan dan saying untuk dilewatkan begitu saja.

Lewat buku ini pikiran saya sedikit terbuka mengenai masyarakat Amerika serta umat Yahudi. Seperti salah satu pesan ayah Irfan “hati-hati Yahudi.” Selama ini saya sering terdoktrin bahwa Amerika adalah “sarang setan”. Masyarakatnya sering bermaksiat, presidennya gila perang, islamophobia disana sangat keras pasca black September, dan berujung pada masyarakatnya yang sering mengintimidasi kaum muslim. Tapi setelah saya baca buku ini, hal yang saya prasangkakan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Memang islamophobia disana masih terjadi, tetapi masyarakat yang menghargai perbedaan juga banyak, selain itu yang akhirnya mempelajari dan memeluk islam jauh lebih banyak, memang presiden amerika gila perang, tapi masyarakatnya selalu menginginkan perdamaian dan tidak ingin satu sen dari uang pajak yang dibayarkannya dibelikan peluru oleh pemerintah.

Pengakuan polos nan jujur anak mas Irfan bersekolah disana menyadarkan saya bahwa sistem yang mengatur masyarakat di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Amerika. Kondisi jalan yang baik, teman-teman sekolahnya yang sangat bertoleransi, guru-guru yang sigap dan mengajar dengan dedikasi tinggi membuat anak mas Irfan betah di Amerika dan akhirnya ogah-ogahan ketika harus kembali ke Bandung lagi.

Yang membuat saya terkesan dengan buku ini adalah cerita pengalaman hidup Irfan selama menjadi mahasiswa di Amerika. Dia banyak berinteraksi dengan komunitas muslim Amerika serta warga asli Amerika yang kebanyakan non-muslim. Saya suka dengan semangat mas Irfan Irfan untuk menunjukkan semangat kerukunan dalam setiap interaksinya dengan warga Amerika. Mempresentasikan the smiling muslim.

Nah, kalau di buku Pungutlah Hikmah Walaupun dari Mulut Paman Sam berisi catatan-catatan motivasi yang bikin kita makin kebakar buat pengen ngelanjutin kuliah ke luar negeri. Juga berisi tulisan-tulisan dari teman-teman mas Irfan yang sudah berhasil kuliah di luar negeri.

Akhir kata, narasi yang dibawakan Irfan dalam buku ini, cerita-cerita Irfan selama di Amerika yang memotivasi, serta berbagai cerita tentang kehidupan masyarakat Amerika dilihat dari kacamata seorang pelajar Indonesia membuat buku ini terasa menyegarkan untuk dibaca. Sebagai pentup, saya ingin mengutip sebuah kutipan dari buku ini.

“Jika Allah sudah di hati, dunia itu akan ada di belakang kita, mengejar kita.”

(Hal. 125)
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
June 27, 2016
Buku yg mengemas cerita mengenai perjalanan di negeri orang, baik itu dalam perjalanan menuntut ilmu, perjalanan rohani, maupun perjalanan penuh hikmah lainnya, selalu membuat penasaran dan menarik untuk ditelisik.
Jadi, buku ini menceritakan pengalaman nyata pribadi Irfan Amalee dalam perjuangannya mendapat gelar master di Amerika. Dimulai dari mimpinya, usahanya yang berkali-kali gagal, doa dan restu orang tua, hingga akhirnya dia bisa mendapatkan beasisfa full di Amerika serta menjalani hari-harinya di sana. Hari-hari yang tentu berbeda dengan yang pernah dijalaninya di Indonesia karena perbedaan bahasa dan budaya, sehingga menjadikannya cerita yang menarik untuk dibagi. Banyak hikmah yang ditampilkannya dalam buku ini, dan salutnya, dia masih mengingat banyak detail mengenai kata-kata guru, teman, maupun orangtuanya yang berlangsung 20 tahunan lalu lamanya. Banyak hal yang mungkin sering kita anggap remeh dalam kehidupan yang dibahas Irfan di dalam buku ini.
Saya tertarik dengan ulasan Irfan mengenai sebuah kalimat dalam Al-Qur'an yang mungkin sering luput dari perhatian kita dan sering ada dalam prasangka kita. Yaitu mengenai ayat yang menjelaskan bahwa orang2 Yahudi yang berkata bahwa tidak akan masuk neraka mereka kecuali hanya sebentar saja. Nah, di sini Irfan membahas bahwa seringkali kita orang Islam mengabaikan dosa-dosa yang pernah kita lakukan karena jaminan surga yang Allah janjikan untuk orang2 muslim.
Ada lagi mengenai doa, perkataan, dan restu orangtua yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya meraih beasiswa.
Tentang status kita di dunia yang hanya sementara, mirip seperti keadaan ketika kita sedang merantau mencari ilmu. Mengingatkan saya bahwasanya betapa singkat ternyata hidup ini, dan rasanya tidak perlu hidup bermewah membeli banyak benda karena pada akhirnya tidak bisa dibawa kembali ke rumah ketika perantauan selesai. Hal ini mirip sekali untuk pesan kehidupan di dunia.
Tentang kegigihan, ketekunan, serta rasa tidak mudah putus asa yang kuat juga suatu hari akan menghasilkan hal yang menggembirakan sebagai hadiah yang akan diterima dikemudian. Juga, tentang tips-tips untuk meraih beasiswa yang aplikatif dan mungkin suatu saat berguna bagi pembacanya.
Selamat membaca dan memetik pelajaran yang baik di dalamnya :D
Profile Image for Abdur Rasyid.
9 reviews3 followers
August 24, 2013
Benar2 inspiratif, tak hanya pengetahuan segar mengenai berburu beasiswa, tapi bagaimana pengetahuan tentang hidup ini. Ilmu kehidupan yang lebih mahal dari sekedar ilmu bangku kuliahan. Buku ini dikemas unik 2 part. Ada part biru dan kuning. Part Kuning = Beasiswa di Bawah Telapak Kaki IBU. Part Kuning bercerita kisah bang irfan di amerika, kisah perjalanan hidup yang benar2 inspiratif yang membuat setiap dari kita juga ingin bermimpi bersekolah di sana.

Part Biru ialah putaran balik dari part kuning, jadi anda musti membalik buku ini. Part Biru = Pungutlah hikmah walaupun dari mulut paman sam. Part Biru bercerita tentang hikmah2 yang ia dapat di amerika. Kisah2 menggugah dan berbagai tips mengenai beasiswa dari teman2nya.

Kutipan keren di buku ini "Tak jarang mahasiswa lulus dari kampus, tapi tak lulus dalam kehidupan nyata"

Banyak pesan yang diselipkan dalam buku ini. Menurut buku ini "Tak sekedar kisah pejuang beasiswa".
Profile Image for Siti Maulida Amalia.
68 reviews31 followers
January 23, 2014
buku ini tadinya ane abaikan karena isinya bercerita tentang cerita pribadi seorang laki laki yang mendapat beasiswa ke Amerika. karena ya ane sendiri kurang tertarik tentang beasiswa sekolah ke luar negri. tapi wajib di syukuri, ketika buku hadiah kuis belum datang, ane meraih buku ini dari rak dan langsung melahapnya dalam waktu dua hari. hahaha.

berbagai macam emosi terpahat di muka ane ketika membacanya, dari ketawa karena ada bagian bagian yang lucu bahkan konyol, menangis karena ingat alm.ayah, terharu sampai mata berkaca kaca karena buku yang tadinya di kira full bercerita tentang beasiswa ternyata juga banyak menyinggung tentang tawakalnya seorang ka Irfan kepada Allah. dan yang bikin ane tambah suka karena dari awal sampe akhir, selalu ada tulisan/cerita tentang Baginda Rosul mengiri sebagian cerita perjalanan hidup ka Irfan.
Profile Image for Nur Astri.
35 reviews21 followers
December 31, 2013
buku ini buku inspiratif, bukan sekedar buku tentang cerita 'bagaimana mendapatkan beasiswa" tapi tentang hikmah yang bertebaran pada saat mempersiapkannya, mendapatkannya dan setelahnya. Saya menyukai cara penulis menyatukan 'puzzle' yang tidak mengertinya di masa lalu dan baru dipahaminya belasan hingga puluhan tahun kemudian. Membaca buku ini menjelang awal tahun sangat menyenangkan dan memberikan semangat untuk memperbaiki kualitas diri di masa depan.
1 review
September 16, 2013
bagus pake banget.
mau dibaca beurutan atau random tetap oke.
penyampaiannya halus, penuh kerendahan hati, tidak menggurui tapi mampu menyentuh hati terdalam.. membangunkan kesadaran!

terimakasih telah merubah mindset saya tentang kontribusi grantee pd tanah air tercinta. semakin meluruskan niat saya untuk berjuang meraih beasiswa.

Profile Image for Rizky Karunia.
5 reviews
March 23, 2015
Perjuangan! Perjuangan sebelum mendapatkan beasiswa dan selama di amerika untuk kuliah bersama istri dan 2 anak. Abang irfan membuat perjalanannya begitu terasa oleh pembaca. Doa ibu : Doa yang paling manjur untuk para pencari beasiswa dan terselip di awal cerita yang mengharukan. Buku ini menuntun kalian untuk berjalan ke benua amerika dengan cerita sulit dan bahagia.
Profile Image for Annisa D. Lestari.
74 reviews4 followers
January 11, 2015
Pemilihan buku yg tepat untuk dibaca di awal tahun. Sangat menggetarkan dan penuh inspirasi. Saya kutip salah satu quote yg menarik "Jika Allah mengabulkan keinginanmu, itu bukan karena amal ibadahmu, melainkan karena rasa kasih sayangnya padamu".
What a book. Brava!!!
Profile Image for Bening Tirta Muhammad.
100 reviews26 followers
October 16, 2013
Tuturan yang sangat indah, berimbang, humble, dan berbobot dari seorang penapak kehidupan.

I ighly recommend this book for those who are aiming to study abroad.
Profile Image for Winda Dwi melisa.
41 reviews2 followers
December 8, 2013
Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Wajib dibaca oleh para pemburu beasiswa.
Profile Image for Brian.
16 reviews3 followers
January 28, 2014
bagus tapi ada beberapa yang tdk tersumber secara ilmiah (sanadnya)
tapi klo sebagai bumbu bicara ya gpp.. hehe..
Profile Image for Merulalia.
21 reviews
October 9, 2015
Thanks to Jeng IDP yang udah minjemin buku yang super super inspiratif ini..

How are you today?
What day is Today?
What day is yesterday? What day is Tomorrow??
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.