(#BukuUntuk2021)
Selesai baca buku ke-7
Karena masih belajar membiasakan gerak normal si tangan kiri, maka aku masih ditemani buku untuk menemani kegabutanku. Setelah beberapa waktu lalu aku tiba di Chang’an maka sekarang aku sudah sampai di India, berikutnya sampai di Arab. Hahaha. Buku ini jelas sekali secara umum sudah mengetahui jika berlatar di India.
Aku seperti melihat serial drama di sebuah televisi swasta. Dalam khazanah Jawa, kisah ini dikenal sebagai Bharatayudha, perang para dewa/bharata. Kisahnya tidak begitu berbeda, tapi juga tidak sama. Yaa, begitulah kehebatan mereka yang melakukan improvisasi terhadap Mahabharata di zaman para Wali Songo, atau mungkin sebelum itu juga ada.
Mahabharata cenderung menggunakan sudut pandang aslinya yaitu budaya dan sejarah India. Pandawa dan Kurawa, begitulah inti ceritanya, tidak begitu berbeda bukan? Namun, kisah di dalamnya memiliki hal-hal yang berbeda. Terutama soal tujuan dari kisah ini ada, yaitu ajaran dharma. Tentang perilaku kesatria, baik dan buruk, dan kebijaksanaan. Pada sesi peperangannya, terdapat filsafat perang atau ilmu peperangan. Sayang buku ini tidak melakukan hal yang irasional seperti ajian dan kesaktian dari para tokohnya. Itulah salah satu bedanya, pendekatannya cenderung rasionalisasi.
Di buku ini disampaikan juga tentang kebenaran yang relatif. Tidak semuanya dilabeli dengan salah dan benar semata, tetapi berbagai pertimbangan yang menuntut kepada kebijaksanaan dalam melakukan dharma manusia. Akan selalu ada pertentangan bagi yang menolak dan membenarkan, tentu saja disertai dengan alasan yang dapat diterima semuanya. Maka hal yang penting adalah melihat dan menggantungkan sudut pandang pada posisi yang tepat.
Setidaknya buku ini sangat akan raya nilai-nilai keluhuran, kalau dalam buku-buku bernuansa Islam, maka cenderung bergenre tasawuf atau kesufian. Bagi yang suka drama di televisi swasta itu dan penggemar wayang, perlu setidaknya membaca buku ini. Kisah secara garis besar pertikaian antara Pandawa dan Kurawa.