Jump to ratings and reviews
Rate this book

O Amuk Kapak

Rate this book

133 pages, Paperback

First published January 1, 1981

12 people are currently reading
234 people want to read

About the author

Sutardji Calzoum Bachri

15 books48 followers
Sutardji Calzoum Bachri is a famous Indonesian poet. Even some people would say he is 'The President of Indonesian Poets'.

The peak of Tardji's literary career is considered to have been during the 1970s. Back then, he successfully launched a credo of 'freeing words of their meanings'. His style of reading is often explosive in the manner of old Indonesian Dukun, incantations stemming from Indonesian pre-Islamic shaministic practice, still used today. The style of Tardji's poetry has been described as that of a mantra. He has been quoted to say that the mantra is the true use of words.

His poems appeared in literary magazines such as Horison and Budaya Jaya, as well as in the literary pages of national daily newspapers such as Sinar Harapan and Berita Buana. Later he joined the editorial board of Horison; and was appointed senior editor in 1996. Between 2000-2002 he was the poetry editor of Bentara, a monthly cultural supplement of the newspaper Kompas.

Placed among the leading figures of modern Indonesian literature, he attended the Poetry International Festival in Rotterdam summer of 1974. In the same year, he spent 6 months as a participant in the International Writing Program in Iowa City , USA . With fellow Indonesian poets KH Mustofa Bisri and Taufiq Ismail, Sutardji took part in the International Poets Meeting in Baghdad , Iraq . In 1997, he was invited to read his poetry at the International Poetry Festival in Medellin , Colombia . His short story collection, entitled Sutardji received an SEA Writer Award from the King of Thailand in 1979 and an Arts Award from the Indonesian government in 1993. He is also the recipient of the 1998 Chairil Anwar Literary Prize, and in 2001 he was awarded the title Sastrawan Perdana (Prime Man of Letters) by the regional government of Riau.


Select Bibliography:
O, 1973
Arjuna in Meditation, 1976
Amuk (Amok), 1977
Sutardji, 1979
Kapak (Axe), 1979
O Amuk Kapak, 1981 Hujan Menulis Ayam (Rain Writing Chicken), 2001

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
108 (40%)
4 stars
90 (33%)
3 stars
49 (18%)
2 stars
11 (4%)
1 star
9 (3%)
Displaying 1 - 30 of 35 reviews
Profile Image for Rory.
26 reviews
September 3, 2016
Puisi-puisi pertama yang membuatku merasa ekstase saat mengucapkannya
Profile Image for Moch Zamroni.
3 reviews2 followers
July 27, 2020
Dokumentasi karya Sutardji yang paling fenomenal, penuh eksplorasi, menghubungkan kata, makna, puisi dan mantra. Paling suka di bagian Amuk, puisi panjang menceritakan tentang proses pencarian Tuhan
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
May 4, 2017
Saya mengenal dan mulai membaca puisi SCB saat ikut Bengkel Sastra Musikalisasi Puisi di SMA. Bentuk puisinya yang eksploratif dan jauh keluar dari tatanan baku puisi yang sesuai pakem membuat saya suka dan dapat menikmatinya dengan perasaan yang belum pernah saya dapat dari puisi penyair-penyair Indonesia lainnya. SCB menolak menjadikan kata-kata sebagai perkakas untuk menyampaikan makna. Baginya, makna adalah kata-kata itu sendiri.
Salah satu puisi yang suka dari kumpulan puisi ini:

TAPI

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
   wah!

1976
1 review
September 19, 2022
Sangat susah awalnya saya buat paham apa isinya. Tapi kali kedua saya baca ini sungguh sangat menyenangkan. Ada sensasi di kepala pening, kagum, dan heran. Semua kata dan tipografi yang digunakan sangat tidak biasa juga puisi-puisinya sangat kontemporer. Bagi saya pencarian Tuhan pada puisi ini sangat kritis dan dalam. Banyak bagian yang menurut saya malah menyentuh.
Profile Image for Qwerty Chaniago.
35 reviews2 followers
September 1, 2020
men suck in writing poetry lmaoo wtf is this shit sutardji ping pang ping pong my assssss 🖕🖕🖕
Profile Image for Ahmad Ihsan.
8 reviews1 follower
December 21, 2020
Kumpulan puisi bercita-rasa tinggi tanpa terikat dari Presiden Penyair Indonesia...
Profile Image for salma.
8 reviews1 follower
January 23, 2025
i don't understand most of them, perfection.
Profile Image for LanCalwess.
2 reviews
September 20, 2025
O, Amuk, Kapak itu bukan sekadar buku buat dibaca, tapi semacam mantra yang mesti dijalani. Kata-katanya nggak lagi nurut sama makna biasa (jelas) mereka liar, berisik, kadang kayak doa, kadang kayak teriakan. Sutardji meledakkan bahasa sampai cuma bunyi, ritme, dan amukan yang tersisa. Baca buku ini rasanya kayak ditarik masuk badai. Bikin gelisah, tapi juga bikin takjub.
Profile Image for Olive Hateem.
Author 1 book258 followers
February 28, 2017
Saya sudah sering mendengar nama Sutadji Calzoum Bachri tapi baru kali ini berkesempatan untuk baca bukunya. Langsung suka dengan gaya kontemporer dan pemilihan kata yang ia biarkan bebas menari ke sana ke mari di kumpulan sajak O Amuk Kapak ini. Akan baca tulisan beliau yang lain dalam waktu dekat.
Profile Image for Dire.
14 reviews2 followers
May 26, 2022
Sempat bener-bener enggak suka sama Sutardji, tapi niat membaca ulang karena seseorang musikalisasiin puisinya beliau, Perjalanan Kubur. Sebuah puisi yang dapat dimaknai sebagai siklus kehidupan yang tergambar dari nama Alina, dari a menuju a.

Membaca ulang sajak-sajaknya, saya dibikin pening akibat dobrakan konvensi bahasanya. Baik, bagus atau berbobotnya dari karya ini memang kerap diperdebatkan. Namun pembebasan kata dan pengalaman membelit-belitkan lidah yang memuakkan saat membaca karyanya jarang dijumpai di puisi lain.

Lidahku lelah!

Ngiau! Ungkapan mantera ini kerap kali terdengar dalam fragmen puisi-puisinya. Saya diluruh perasaan sayang terhadap si kucing tapi bukan kucing, tapi kucing di siklus Amuk. Ngiau kucing yang terngiang-ngiang mengiau-ngiau mengais-ngais lapar. dia mengerang jangan beri daging dia tak mau daging jesus jangan beri roti dia tak mau roti ngiau
..

hei Kau dengar menteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu,
mapakazaba itasatali
tutulita
papaliko arukabakazu kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco
zukuzangga zegzegezege zukuzangga zege
zegezege zukuzangga zegezege zukuzangga
zegezegezege zukuzangga zegezegezege
zukuzangga zegezegezege aahh…!
nama nama kalian bebas
carilah tuhan semaumu
Profile Image for Sulin.
332 reviews56 followers
April 2, 2015
Buku ininih yang bikin saya and the gengs saban hari nyatronin pojokan perpus sambil ketiwi-ketiwi cabul.
Lucu banget, rimanya, isinya yang tabu dan unik.. sungguh adiktif.
A must read bagi penyuka puisi kontemporer. Muantaps.
Saya masih ingat di bagian belakang ada satu puisi.. Lupa judulnya sepertinya Gajah dan Semut, ada kata begini

"Tujuh gajah
cemas
meniti jembut
serambut
tujuh semut
turun gunung
terkekeh
kekeh
perjalanan
kalbu "

Masih saya inget sampai sekarang xixixixi. Otak saya gak sekuat itu buat menerjemahkan.
Profile Image for gieb.
222 reviews77 followers
November 3, 2008
baca ulang.

Kasta-kata atau bunyi tersebut muncrat begitu saja, apabila kemudian membentuk sebuah pola gagasan, konsep, ide, atau segala sesuatu yang bermakna akan dihancurkan oleh bunyi atau kata lain yang muncul secara tak terduga menghancurkan sistem makna yang hampir terbentuk.

Puisi Sutardji=Muncrat=Crut=Orgasme!!
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
March 2, 2008
Lebih seru menikmatinya sambil menyaksikan Sutardji sendiri yang mendeklamasikannya.

Kalau Hartojo Andangdjaja pernah menulis buku tentang ulasan puisi, "Dari Sunyi ke Bunyi" maka dalam buku ini Tardji "hanya" ingini bercerita, "sesungguhnya kata itu adalah semata bunyi."

Buku ini intinya "sangat Sutardji" kali pun yeah!
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
January 26, 2008
kubeli buat koleksi.
puisi bang tardji bukan puisi untuk dibaca sendiri dalam sunyi. ini puisi-puisi yang harus dipentaskan atau dibacakan sendir oleh penulisnya.
baru, dalam event itu, puisi dia itu 'jadi'.
Profile Image for Poetcatz.
43 reviews
March 12, 2014
Ini dia kumpulan puisi paling gw demen.. Alirannya kontemporer banget..gak bosen2 searching puisinya en baca lagi en baca lagi... Sapa dulu donk, gurunya Djenar Maesa Ayu..haahaa... Puisi kucingku kucingku itu loh unik banget..
Profile Image for Sakinah Mariz.
115 reviews1 follower
December 28, 2014
Buku kumpulan puisi kontemporer ini sangat bagus menjadi bahan kajian puisi kontemporer. Napak tilas kepenyairan Sutardji nampak dari kemahirannya meramu ide, kata, dan larut jadi puisi. Kredo puisinya keren dan nyentrik!
Profile Image for ~Lyn~.
125 reviews6 followers
October 22, 2007
ini buku kumpulan puisi yg bagus2 dari sutardji calzoum bachri.. paling demen ama puisi yg judulnya Shang Hai.. permainan rhyme sm kata2nya bagus banget.. two thumbs up buat penyair indonesia ini ^^
Profile Image for Nanang Suryadi.
Author 8 books15 followers
April 7, 2011
aku beli buku ini sudah lama di kios bukunya bang jose rizal di TIM. buku ini istimewa, ada tandatangan dan koreksian langsung dari bang tardji :D
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
May 27, 2012
dan saya pingin lihat dan dengar yang nulis mbaca sendiri yang ditulis...
Profile Image for Nurnajmi.
207 reviews17 followers
December 20, 2016
Tidak semua sajak bisa saya mengerti.
Tapi yang pasti, mereka indah.
Displaying 1 - 30 of 35 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.