Novel healing ke dua dari Geulbaewoo yg di terjemahkan oleh @penerbitharu
❤️ Novel ini berisikan essay2 pengembangan diri dan cerita2 hidup yg banyak dialami manusia. Setiap judul dan pembahasan dalam novel ini menyajikan wawasan mengenai kehidupan kita mulai dari pentingnya menjalin komunikasi antar hubungan manusia, menghargai diri sendiri, serta ada 20an harga judul bab dalam novel ini yg sangat relate dgn kehidupan kita.
❤️Gaya narasi dalam novel ini membawa kita dekat seperti berasa curhat dgn sahabat ketika kita dilanda masalah. Topik yg dibawakam sangat relate dgn kehidupan nyata dan kisah2nya diangkat dari kisah pribadi seseorg sehingga menjadi daya tarik tersendiri yg mengangkat topic yg dibahas menjadi lebih hidup. Menjadi nilai tersendiri dalam novel ini.
❤️ Dari buku ini, bahwa ketika kita sedang tdk baik2 saja, penting sekali kita mencari teman berbicara atau teman curhat. Agar kita sendiri jadi lebih nyaman ketika semua unek-unek dikepala itu dikeluarkan. Sebaliknya, ketika kita pendam semua beban tsb di diri kita sendiri, tentu dampaknya sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan kesehatan mental kita juga ikut terganggu.
❤️ Adakalanya kita berpikir bahwa mengakui diri kita sedang tidak baik-baik saja ke orang lain, takut dianggap lemah, sakit, rapuh, menyedihkan, dan lain-lain. Mengakui kita sedang ‘sakit’ ke orang terdekat kita itu jauh lebih penting daripada memendamnya sendirian. Memang ironinya kebanyakan, ketika cerita bahwa kita sedang ‘sakit’, respon orang-orang – pada umumnya - mengatakan, ‘masa cuman gitu doang depresi’, ‘kebanyakan ngeluh lo’, ‘baru gitu aja ngeluh’, dan masih banyak lagi respon-respon yang tidak men-support ketika ada seseorang yang sedang ‘sakit’.
❤️ Makanya, tidak heran ketika ada seseorang rela memendam beban masalah hidupnya sendirian, tidak diceritakan keresahannya atau setidaknya cerita ke temannya, karena tekanan sosial yang membuat orang takut bakal memberi luka baru ketika mereka cerita hal tersebut.
“Mengakui rasa sakit adalah cara terbaik untuk mengatasi rasa sakit.” (Hlm. 160)
⭐5/5