Jump to ratings and reviews
Rate this book

Planetes: Memburu Tongkat Silex Luminar

Rate this book
Sudah lama sekali ramalan ini ada. Satu orang membawa takdir. Satu orang kehilangan kekasih. Satu orang dalam pencarian. Satu orang menjadi pembimbing. Dan, satu orang menjadi tertuduh.
***
Zaman dahulu, dunia dibagi menjadi tiga area: tempat tinggal makhluk nirwana yang disebut Caelum, tempat tinggal makhluk kegelapan yang disebut Atyra, dan tempat tinggal makhluk fana yang disebut Terra.

Namun, Terra harus dilipat, karena rentan terhadap serangan makhluk Atyra dari bawah dan kecerobohan makhluk Terra hingga terpeleset ke Atyra. Maka, diutuslah seorang dewi bernama Asmaer untuk melipat Terra. Sayangnya, Asmaer kehilangan tongkatnya, Silex Luminar, ketika terjatuh di Terra. Tongkat itu pun menjadi rebutan para kurcaci, goblin, islavir, dan tentu saja Agnar sang penguasa Atyra.

Dibantu beberapa penduduk Terra—Agni, Alviss, Eoraed, dan Rosabel—Asmaer mencari tongkatnya. Berhasilkah mereka menemukan Silex Luminar?

Simak petualangan dan perjuangan mereka dalam novel memikat ini! Pertarungan melawan naga, siren, goblin, islavir, dan kurcaci mewarnai perjalanan mereka mencari Silex Luminar. Benar-benar seru dan menegangkan!
Selamat membaca!

200 pages, Paperback

First published July 7, 2013

3 people are currently reading
72 people want to read

About the author

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

40 books1,466 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (23%)
4 stars
10 (26%)
3 stars
11 (28%)
2 stars
7 (18%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Dea.
16 reviews3 followers
July 21, 2024
Actual rating: 4.5/5 stars.

Lagi-lagi saya dibuat kagum oleh kecerdasan Ziggy. Tampaknya dia selalu berada one step ahead of the trends. Sebenarnya seberapa luas pengetahuannya sih? Waktu orang-orang baru tahu lagu musik klasik La campanella-nya Paganini dari Blackpink - Shut Down, Ziggy udah nyinggung lagu itu di novel San Francisco yang terbit tahun 2016. Sekarang, di novel yang terbit tahun 2013, Ziggy secara ga langsung nyinggung masalah flat earth atau bumi datar yang baru marak diomongin pada tahun 2016!

Planetes berasal dari bahasa latin yang berarti "wanderers" atau pengembara. Di novel ini, ada lima tokoh utama: Agni, Asmaer alias Lapendrengr, Alviss, Eoraed, dan Rosabel. Mereka bersama-sama bertualang dari satu ujung Salvsigr ke ujung yang lain demi mencari sebuah tongkat sakti berjulukan Silex Luminar. Wuih, keren banget ya namanya. Kalo diartiin sebenarnya hanya jadi tongkat bersinar yang terbuat dari batu kuarsa xD Ceritanya latar waktu di novel ini adalah zaman sebelum ada dinosaurus alias pre-historic dan pre-archaic. Jelas aja, soalnya novel ini ngebahas tentang dunia peri dan dewa yang disebut caelum atau surga ; dunia manusia, kurcaci, penyihir, dan naga yang disebut terra alias bumi; dan dunia untuk para dewa kegelapan dan setan yang dinamakan atyra , berasal dari kata atra yang artinya kemarahan atau dendam, alias neraka. Diramalkan dunia manusia sudah tidak aman dari tingkah usil para makhluk astral atyra yang diam-diam sudah mulai meramaikan terra. Ketidakamanan ini juga dipicu oleh kekuatan para dewa dan suatu pohon kehidupan yang mulai melemah, sehingga diutuslah dewi Asmaer untuk "melipat" terra demi menyelamatkan warganya. Alas, Asmaer kepeleset dan terjun bebas tanpa arah saat sedang dalam perjalanan menuju tempat tujuan tongkat Silex Luminar seharusnya ditancapkan. Ia jatuh di hutan dan untungnya ditangkap oleh Agni, anak kecil yatim piatu yang sedang belajar berburu.

Nah, Agni ini sebenarnya key player dalam novel. Alur novel dimulai dan diakhiri oleh Agni, tapi entah kenapa kehadirannya seakan sengaja diabur oleh penulis. Sebab, di tengah-tengah bab, Agni tidak terlalu banyak berdialog, malah seakan menghilang dan tidak penting lagi. Fokusnya justru pindah ke tokoh lain yaitu Eoraed dan Rosabel. Meski begitu, menurutku sih pengaburan fokus tokoh Agni ini justru keputusan baik yang bisa dianggap sebagai kamuflase realistis dalam alur juga. Tokoh-tokoh lain yang terlalu percaya pada si kecil Agni mengganggap keberadaannya tidak terlalu penting atau membahayakan, padahal seluruh alurnya didasarkan pada kehidupan Agni.

Judul dari bab-bab di sini diberi nama sesuai dengan tempat yang tengah mereka kunjungi. Perjalanan mereka jauh sekali sampai harus ke negeri penyihir, siren, naga, lalu kurcaci. Fokus cerita juga berubah di tiap bab. Misalnya, ketika lagi di negeri siren, maka yang dibahas selalu siren. Yah, ini sih wajar, tapi kalo dipikir-pikir jadinya terlalu banyak informasi dan subtopik yang harus dicerna padahal intinya cuma satu: tongkat Silex Luminar. Kekuatan tongkat itu pun jarang banget disebut kecuali pas bab awal. Ini yang aku notis dari gaya kepenulisan Ziggy: cenderung bertele-tele di awal hingga tengah bab, lalu BAM! ending-nya grasak grusuk; sangat terburu-buru dan dipaksa untuk make sense seperti tulisan mahasiswa prokrastinator yang dikejar deadline tugas.

Planetes adalah extended fantasy writing pertama Ziggy. Sebenarnya sih dia udah nerbitin novel fantasi lain berjudul Fantasteen Wonderworks (DAR! Mizan, 2012), tapi ceritanya terlalu copy-paste Harry Potter. Novel ini adalah karya fantasi original pertama Ziggy yang menurutku cukup bagus dari segi alur yang smooth tanpa plot hole meskipun aku ingat ada komen tentang bagaimana anak-anak ini mengembara tanpa dicariin orang dewasa barang sekali pun dan tidak ada rencana pasti. Well, tbh jawabannya simpel: karena para orang dewasa di novel ini gak relevan dengan alur dan di dunia fantasi kita ga perlu-perlu amat rencana selama ada sihir dan ramalan. Ya kan? Karakterisasi tokoh di novel ini juga cukup diverse meskipun tanpa perkembangan. Maklum sih, buku ini kan bukan tentang distopia atau perang depresif berkepanjangan seperti The Hunger Games.

BTW Kegiatan lipat melipat ini sebenarnya hanyalah mengubah bentuk bumi dari datar menjadi bulat (flat earth > round earth). Kinda relieving to know that Ziggy is actually a round-earther, lol.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews854 followers
August 31, 2013
Sayang sekali rasa sakit hati saya sama masih belum bisa terobati :'(((

Planetes ini memiliki premis yang grandiose--yang kalau diolah dengan benar-benar, sebenarnya bisa bagus--tapi sayangnya saya cuma ngerasain seicip-icip dari premis(-premis) yang grandiose itu.

Mari kita simak.

Pada zaman dahulu kala, dunia ini dibagi menjadi tiga lapisan: tempat tinggal makhluk nirwana yang disebut Caelum; tempat tinggal makhluk kegelapan yang disebut Atyra; dan tempat tinggal makhluk fana seerti kite-kite ini yang disebut Terra.

Namun, Terra harus dilipat karena rentan terhadap serangan makhluk Atyra dari bawah dan kecerobohan makhluk Terra hingga terpeleset ke Atyra. Maka, diutuslah seorang dewi bernama Asmaer untuk melipat Terra. Sayangnya, Asmaer kehilangan tongkatnya, Silex Luminar, ketika terjatuh di Terra. Tongkat itu pun menjadi rebutan para kurcaci, goblin, islavir, dan tentu saja Agnar sang penguasa Atyra.

Dibantu beberapa penduduk Terra—Agni, Alviss, Eoraed, dan Rosabel—Asmaer mencari tongkatnya.

Jadi, yeah, blurb-nya sudah menjelaskan premis cerita ini dengan sangat baik. Saya enggak tahu mesti senang atau sedih.

Waktu kalian membaca sebuah kisah fantasi, apa sih yang biasa kalian harapkan?
1. Ada naganya?
2. Ada ramalannya?
3. Ada perinya?
4. Ada kurcacinya?
5. Ada goblinnya?
6. Ada raksasanya?
7. Ada conlang yang ternyata bukan conlang-nya?
8. Ada quest mencari benda keramatnya?
9. Ada perangnya?

DUERRR. Semuanya tumpah ruah di sini jadi satu. Saya enggak masalah, sih, toh Eragon yang semua klise dalam fiksi fantasinya tumplek jadi satu juga oke-oke saja meski saya belum kelar baca :p. Yang jadi masalah buat saya adalah itu tadi: semuanya cuma icip-icip belaka dan enggak ngaruh ke jalan cerita.

Waktu tahu-tahu muncul ramalan dalam bahasa conlang yang ternyata bukan conlang dengan huruf Islandik, saya langsung korek-korek kuping. Hah? Ini buat apa? Awalnya saya mikir itu conlang, tapi setelah saya iseng-iseng masukin ke Google Terjemahan, ternyata itu bahasa Islandia -__-. I see what you did there, Ziggy. Begini bunyinya:
Mađur sem færir örlög
Mađurinn sem missti elskhuga sinum
Mađur sem leitar
Mađur sem leiđbeinir
Mađur sem er ranglega sakađur
Dökk aldri mun koma;
I hendur peirra, er örlög vist

Yang kira-kira terjemahannya sudah ada di blurb buku ini terima kasih banyak Diva Press: Satu orang membawa takdir. Satu orang kehilangan kekasih. Satu orang dalam pencarian. Satu orang menjadi pembimbing. Dan, satu orang menjadi tertuduh.

Kenapa saya mencak-mencak? Pertama, karena itu pakai bahasa Islandia yang wooooy, kenapa bisa ada di situ padahal ini latarnya adalah dunia sebelum bentuknya bundar seperti sekarang, jauh sebelum Islandia ada. . Kedua, kalaupun itu conlang, saya masih bakalan ngamuk karena di buku yang sama juga ada puisi tradisional masyarakat Terra yang pakai bahasa Indonesia! Talking about translation convention.

Berikutnya yang saya keluhkan barangkali saya enggak tahu pangsa pasar buku ini buat pembaca dewasa atau pembaca anak-anak. Enggak yakin ini buat pembaca anak-anak karena ada beberapa konten yang hanya cocok buat anak dewasa. Premisnya juga sedikit rumit. Tapi, sama seperti yang saya keluhkan juga di status update saya, narasinya terlalu bertele-tele seperti buat anak-anak. Detail, tapi detailnya detail yang kurang terlalu penting. Contohnya masih sama:

Agni kecil menghela napas kecewa. Ia berjalan mengambil panahnya dan memasukkannya lagi ke selosong di punggungnya. Diarahkan pandangannya ke atas. Langit tampak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Warnanya keabu-abuan atau kebiru-biruan seperti matanya sendiri. Agni Sagbaer tidak pernah yakin apakah warna matanya biru keabu-abuan atau abu-abu kebiruan. Matanya tampak seperti Danau Vindr di kala musim dingin. Beku dan bersinar. Ia juga tidak yakin akan warna rambutnya. Apakah itu hitam kecokelatan atau cokelat kehitaman?


Peduli apa saya sama bedanya cokelat kehitaman sama hitam kecokelatan hah? -___-

Satu hal yang agak konyol adalah waktu perjalanan mereka mau dimulai, mereka langsung menyetujui gitu aja. Enggak ada rencana. Enggak tahu tujuan mereka ke mana. Enggak tahu petunjuk soal keberadaan Silex Luminari. Totally clueless. Mungkin karena umur mereka masih belasan tahun kali ye, jadinya darah muda mereka yang mengambil alih pemikiran logis mereka.

Nama tokoh utama yang spotlight-nya dicolong di pertengahan cerita juga enggak satu rasa. Agni Sagbaer, yang seperti kita tahu Agni dari Sanskerta, dan Sagbaer berbau Jermani (?). Hah, terserah situ deh. Namingway-nya sedikit kacau buat saya karena enggak jelas aturan penamaan antara manusia dan naga dan perinya dan makhluk magis lainnya. Nama-nama manusianya: Holly, Alder, Alviss, Eoraed, Adamounde (lol. Saya ketawa sama nama ni orang karena kayak gabungan: Ada + description), Derkesthai, Bihinde, Maer, dan Lapendrengr. Nama naganya Magne, Rognvald, Dag, Eivin, Thorstein, Marius, dan Eric. Mau lebih heboh lagi? Nama seorang siren adalah Shari. Nama tempat-tempatnya: Salvsigr, Salvar, Anleifr, Outhe, Helemud, Pykare. Beberapa nama emang satu rasa, tapi beberapa nama kayak came out of nowhere.

Bagian facepalm terakhir ada di bagian pertarungan terakhir. Kebenaran yang disuguhkan terasa ngaco dan mengada-ada. Apalagi ngalahin musuh utamanya cuma segitu ajah. Saya tinggal kedip bentar, "Hah? Jadi, udahan ini tarungnya?"

Kalau tadi saya udah bahas yang jeleknya aja, saya bahas yang bagusnya. Idenya oke: menceritakan soal asal mula tata surya dengan cara fantasi. Kalau misalnya ini bener-bener dipikirin dengan detail, riset yang memadai, ini bisa jadi sangat bagus. Saya enggak masalah sama tebel dikit asal enggak serbananggung kayak gini. Sayang banget.

Jadi, yah, saran saya mungkin tinggal ke narasinya. Mengingat Ziggy sering menulis cerita untuk anak-anak di Fantasteen, mungkin Ziggy ingin menjadikan ini jadi cerita buat anak. Tapi, konsepnya terlalu rumit. Nah, mending narasinya dibikin lebih simpel lagi biar sesuai dengan selera dewasa.

1 review
February 28, 2022
Suka banget, plot twist juga. Gak nyangka org terdekat bisa jd penjahat
This entire review has been hidden because of spoilers.
Author 3 books29 followers
August 2, 2017
Ketika saya membaca sinopsis buku ini, saya langsung mengira akan menemukan kisah-kisah standar fantasi. Dimana terdapat dunia penuh makhluk-makhluk mitos, sebuah ramalan, dan seorang bocah 13 tahun yang terlibat takdir penentuan nasib dunia hingga harus meninggalkan rumah untuk menyelamatkan dunia. DAN memang ceritanya ternyata nggak jauh-jauh dari itu.

Saya selalu menganggap bab pendahuluan adalah halaman/pekarangan sebuah rumah (jika cover buku adalah pintu gerbangnya). Sebagaimana pekarangan yang baik, tentunya akan mengawali perjalanan saya memasuki rumah dengan kesan yang baik pula. Dan ZZZ (singkat aja deh namanya) memulainya dengan memberi gambaran singkat tentang dunia yang akan saya masuki. Dimana daratan tempat tinggal makhluk fana disebut sebagai Terra, mengambang di tengah-tengah berupa daratan datar (bukan bulat ya, datar), tempat tinggal makhluk yang mirip dewa disebut sebagai Chaelum berada di atas Terra, dan tempat tinggal makhluk kegelapan disebut sebagai Atyra, mengambang di bawah Terra. Di Terra, bermukim makhluk-makhluk (manusia, syren, kurcaci, goblin, raksasa, peri, penyihir, dan naga) yang terbagi atas wilayah berdasarkan arah mata angin. So far it's good. Pekarangannya cukup rapi.

Lalu kisah pun dimulai dengan Agni, bocah laki-laki berumur 13 tahun menangkap dewi cilik bernama Asmaer yang jatuh dari langit dan kehilangan tongkat Silex Luminar (namanya keren bo'), terbuat dari kayu pohon langka dengan kaitan lampion di ujungnya. Disini kedua alis saya mulai naik. Lampion? Kenapa bukan 'lentera'? Lampion kan yang seperti ini...

andaikan yang dipake kata 'lentera'

kan lebih masuk akal... (lampion:dilapisi kertas yang mudah terbakar, sementara lentera:dilapisi gelas kaca yang lebih awet). Tapi, yah, okelah, saya ikuti aja.



Kisah kemudian berlanjut dengan tuntutan Asmaer yang menginginkan tongkatnya kembali. Agni yang merupakan anak yang baik tentu ingin membantu, sehingga ia mengenalkan Asmaer kepada Eoraed dan berbuntut pada penjelasan identitas Asmaer dan misinya. Alviss, sang kakak sepupu mendengar hal ini dan karena ia tahu tidak bisa melarang antusiasme Agni, ia pun menawarkan diri untuk menemani. Rencana-rencana pun dibuat dan lebih difokuskan pada bagaimana caranya mereka pergi tanpa sepengetahuan orangtua/wali daripada satu hal yang krusial : "kemana mereka akan mencari tongkat itu". Pokoknya kabur dulu, mikir belakangan, intinya begitu. Aneh juga...

Perjalanan penuh petualangan pun mereka jumpai, bertemu dengan orang-orang yang menambah kelompok kecil mereka. Melewati berbagai wilayah penghuni makhluk Terra dengan cuaca dan bentuk bulan yang berbeda-beda (jadi inget Abarat). Mengadakan pembelian paksa dari penyihir licik (jadi inget komik XXX-Holic). Disini, entah kenapa karakter Agni tidak terlalu berperan lagi, pengarangnya memindahkan fokus cerita pada Rosabel. Lalu mereka bertemu peramal di negeri peri (jadi inget XXX-Holic lagi). Mereka juga bertemu raja peri, harus menghadapi raksasa, dan para naga yang akhirnya mengungkap identitas penuh misteri Eoraed. Pada bagian ini juga sedikit disentil misteri Agni. Sementara yang saya pikirkan adalah "gado-gado", rame banget tokoh-tokohnya, perlu seperti itu ya?

Plot semakin "gado-gado" di bagian akhir ketika tirai misteri tersibak dan kenyataan pahit yang harus dihadapi para tokoh. Apakah kisahnya berakhir happy ending? Lalu apa yang dimaksud Asmaer dengan "melipat" Terra? Kau akan tahu kalau kisah ini sebenarnya adalah sebuah dongeng.


P.S.: Planetes adalah dunia yang pantas digali lebih dalam dan lebih teliti sehingga tidak terkesan terburu-buru dan gado-gado. Dan saya kira buku ini lebih pantas untuk genre anak-anak. Yang sungguh disayangkan adalah sudut pandang yang berubah drastis. Sejak awal saya disuguhi oleh karakter Agni yang periang, optimis dan berbudi baik, tapi sudut pandang ini berubah ke Rosabel. Memang itu karena ada maksud tertentu tapi seharusnya karakter Agni tidak diceritakan begitu detail sehingga misterinya bisa muncul sejak awal.

Saya tidak keberatan untuk membaca versi panjang dan versi serius dari Planetes. Jadi cocok untuk pembaca yang lebih dewasa :)
Profile Image for R. Maryana.
52 reviews1 follower
September 30, 2013
Sudah lama tidak menyelesaikan membaca dalam waktu satu hari :)) Meski diawali kemarin malem dan baru beres baca setelah sekitar 30 jam XD

Dan ada dua alasan kenapa aku bisa baca buku ini sama cepatnya dengan buku milik Darren Shan.
1. Karena challenge
2. Karena bukunya tipis

Untuk ukuran fantasi ini beneran tipis banget. Darren Shan Saga juga tipis. tapi bukunya ada 12! Fantasi kan perlu penggambaran yang jelas biar pembaca gak salah membayangkan. Seperti apel bakar misalnya. Demi na gak kebayang apel bakar kayak gimana. Kalau ikan bakar sih ngerti. Tapi apel? Sayangnya makanan yang satu ini gak dijelasin betuknya kayak gimana. Padahal penasaran banget dah.

Beberapa hal dijelaskan rinci memang. Seperti tempat tinggal Rosabel. Rumah kecil dengan pagar miring seperti habis diterpa angin topan dengan jendela yang sudah pecah dan pintu yang sudah berjamur. Dan pertanyaan yang kepala aku ajukan adala... tak bisakan penyihir membuat tempat tinggal yang lebih nyaman?

Tapi bagian awalnya....

Aku udah biasa baca cerita yang langsung ngasih pertanyaan buat pembaca. Tidak diawali dengan penjelasan panjang mengenai sesuatu yang bisa dijelaskan seiring waktu berlalu . Ini sedikit mengurangi minat membaca. Aku lebih suka kalau cerita diawali dengan Agni yang lagi berburu terus ada yang jatuh dari langit.

Aku juga kesulitan mengingat nama-nama. Ngejanya juga bingung takut salah. Tapi aku sudah hafal nama pengarang buku ini kok. Memang tergantung kebiasaan. Aku tidak biasa--bahkan tidak pernah menggunakan nama-nama unik seperti yang digunakan Ziggy. Hanya nama-nama umum seperti Alex misalnya.

Yang penting sih, aku bisa mengikuti cerita :))

Tapi agak gak sreg juga sama beberapa padanan kata >.<

secara keseluruhan.....

Aku berani kasih empat karena idenya keren juga. Tapi ya itu. Pendek beud ceritanya. Menurutku bisa lebih fantastis lagi. Lagipula, mereka kan sedang dalam pencarian. Dan untuk mencari benda yang entah ada di mana, pencarian mereka terasa begitu cepat seakan mereka tahu dimana Silex Luminar berada. Sebagai perbandingan, lihat saja pencarian Horcrux oleh Harry Potter dan pencarian penguasa Vampaneze oleh Darren. Gak cukup seminggu dua minggu.

Oh ya, aku suka banget sama ramalannya...

Satu orang membawa takdir. Agni.
Satu orangg kehilangan kekasih. Alviss.
Satu orang dalam pencarian. Eoraed
Satu orang menjadi pembimbing.
Satu orang menjadi tertuduh. Lapendrengr.

Si pembimbing ini masih belum jelas buatku. Meski kalau dihitung yang tersisa hanya Rosabel.

Aku udah curiga sama Agni sejak ramalan ini disinggung di cerita. Anak yang di awal cerita biasa saja kok bisa menjadi pembawa takdir padahal yang membawa Silex Luminar itu Asmaer.

Betapa cepatnya Alviss kehilangan kekasih mengingat mereka belum lama mengenal?

Kalau Eoraed sih emang dalam pencarian meski awalnya aku pikir dia murni ining membantu Maer karena mereka terlihat 'berbeda'.

Tertuduh. Setelah kisahnya diungkap sih jelas. Tapi gak ketebak kalau cuma baca sinopsis.

Dan pembimbing....

Sisanya emang Rosabel kan?

Andai saja cerita ini dikembangkan lagi. Kurasa aku bisa memberi nilai nyaris lima. Nyaris saja ya. Karena ada satu hal yang tampaknya tidak bisa diubah dan aku tidak bisa menjelaskannya di sini :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for raafi.
935 reviews455 followers
August 29, 2013
Nah! Ini novel fantasi lokal pertama yang kubaca. Aku direkomendasikan oleh teman di grup yang menyatakan bahwa novel fantasi lokal tidak kalah seru dengan novel fantasi luar negeri.

Aku termasuk orang yang menginginkan cerita berbeda dari setiap novel yang kubaca. Dan novel ini berbeda dalam misi dan tujuannya. Tapi selain itu, masih sama: naga, penyihir, peri, kurcaci, siren, dan dewa. Kayaknya hampir semua tokoh fantasi diikutsertakan dalam novel ini.

Aku tidak begitu suka adalah tentang tokoh utamanya: seorang anak berumur 13 tahun yang berpetualang ke seluruh negeri. Bukan tentang umurnya yang terlalu muda. Tetapi mengenai perilaku yang diberikan kepadanya yang terlalu mengada-ada. Apa umur segitu masih memerlukan ciuman bibi dan pamannya pada keningnya setiap malam sebelum tidur?

Aku merasa diombang-ambing tentang gaya penulisannya. Kenapa terlalu jelas, terlalu detail, dan terlalu tidak peting? Apa mungkin karena novel ini didedikasikan untuk para anak SD dan SMP yang rata-rata berumur 13 tahun? Yang harus jelas dalam penyampaiannya? Yang harus detail dalam segala hal? Yang tidak harus serius dalam ceritanya? Aku hanya bisa tertawa ketika membaca: warna matanya biru keabu-abuan atau abu-abu kebiruan; warna rambutnya coklat kehitaman atau hitam kecoklatan.

Tapi ide cerita tentang awal pembentukan planet-planet (planetes) yang mengelilingi matahari dari negeri yang kotak berujung dan tidak bulat itu patut diapresiasi. Keren! Kita tidak pernah berpikir ketika kita sedang jalan-jalan, tau-tau tidak ada lagi tanah yang akan kita pijak dan kita terjatuh ke dunia bawah; menghilang dikarenakan dunia yang ada ujungnya. Keren bukan?

Novel ini mengisahkan tentang persahabatan yang dirusak oleh pengkhianatan. Juga ada sedikit roman yang membumbui cerita yang kebanyakan berisi tentang kegigihan, semangat dan ambisi.

Dengan tebal halaman hanya 200, novel ini memang cocok untuk anak SD dan SMP karena tidak terlalu tebal dan kisah yang menarik. Semoga saja mereka tidak benar-benar percaya bahwa beginilah cara sistem tata surya terbentuk. Beginilah? Ya. Seperti yang ada dalam novel ini. So funny!

Oh iya, boleh tidak berkomentar tentang nama penulis novel ini? Baffle! Orang tuanya sangat kreatif, bahkan untuk memberi nama buah hati mereka.
Profile Image for Janoy M.A.
1 review
September 20, 2013
Pertama-tama mari kita lihat dari cover.
Covernya bagus, gambarnya sudah memikat saya untuk membacanya. Dibagian kiri atas tulisan Planetes ada sebuah tongkat, mungkin itu Silex Luminar (tongkat yang dicari di novel ini).

Setelah membaca seluruh halaman ini, saya rasa ini sudah memenuhi kualitas novel fantasi standar. kenapa bilang standar, ya dari asiknya petualangan Agni cs ini cukup ngalir aja tulisan si Ziggy ini, gak berbelit-belit.

Sayangnya halaman novelnya dikit amat bro. Padahal nie novel cukup bagus dari segi cerita. Tapi novel ini juga terdapat banyak kelemahan.

Kelemahan pertama, banyak sekali karakter umum di novel fantasi yang bakalan masuk dibuku ini. Jujur saya tidak terlalu suka kalau karakternya yang udah umum di novel fantasi lain dicampur di novel ini.

Naming karakter juga ada kelemahan.
Asmaer, sang dewi yang diutus untuk melipat Terra, saya rasa nama Asmaer itu lebih cocok untuk laki-laki.
Alvis, kakak sepupunya Agni, kenapa namanya udah modern amat ya.
Nama naga Eric?, something not right there. Sumpah saya bingung, kenapa itu naga namanya bisa Eric?.

Setelah nama, saya lihat diskripsi karakter yang terlalu detail.
Kalau ngasih penjelasan terlalu detail menurut saya kurang greget aja. coba aja diskripsinya tidak terlalu detail, jadi pembaca bisa membayangkan sendiri tokoh yang dibuat sama si Ziggy.

Anyway disini kesan adventurenya terasa to easy, gak ada rintangan berat yang terjadi. Bahkan sa'at perang pun sangat singkat *mengingat faktor halaman, bisa saya maklumi lah*.

Setelah membahas kelemahan sekarang ngebahas keunggulannya.

Novel ini dibuat langsung end, jadi pembaca dibuat supaya tidak penasaran. Masih mending perang singkat tapi langsung end and happy ending, daripada novel berseri yang gak jelas kapa seri selanjutnya bakal rilis.

plothole?. Saya perhatikan tidak ad plothole sa'at membaca planetes.

Mungkin itu saja dari Reviewer muda ini.


Sekian terima kasih.
Profile Image for naga.
450 reviews97 followers
November 3, 2024
actual rating: 2.5 stars

sebetulnya, cerita ini menarik banget. tentang pembuatan dunia. terus ada naga, peri, penyihir. sayangnya sayangnya, buku ini terlalu tipis—entah karena memang diberi batasan atau memang direncanakan seperti itu. karena jumlah halamannya yang sedikit ini, ceritanya seperti apa ya, terlalu diburu-buru. alurnya terlalu cepat sementara banyak yang harus diingat (nama tempat, nama karakter, rupa karakter) dan aku juga harus memacu imajinasiku lebih cepat untuk membayangkan tempat dan menyesuaikan diri dengan jalan cerita karena karakter-karakter di sini banyak berpindah tempat.

ada beberapa bagian yang membuatku ??? lho emang ini udah dijelasin??? dan harus membaca ulang lagi (dan ternyata gak ada penjelasannya).

dan... aku gak terlalu nyaman dengan salah satu karakter yang naksir kakaknya sendiri. walaupun ya iya sih mereka bukan saudara kandung tapi tetep aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Truly.
2,770 reviews13 followers
October 22, 2013
http://trulyrudiono.blogspot.com/2013...

Beberapa bagian dalam kisah ini logikanya kurang bisa saya terima. Banyak "bolong-bolong" yang seharusnya tidak terjadi. Konon hal ini dikarenakan keterbatasan halaman sehingga kisah harus diedit. Tapi walau diedit kan bisa diseleraskan lagi sehingga tidak berkesan aneh.

Pembaca tidak bisa diberikan alasan!
Pembaca harus dimanjakan dengan karya yang menawan TITIK. Jika ada keterbatasan halaman, maka penulis yang harus melakukan penyesuaian dengan kisah, bukan pembaca yang harus berkompromi dengan kisah yang kurang pas. Tugas editor membantu penulis, jika pembaca masih menemukan banyak hal yang membuat kenikmatan membaca terganggu, maka perlu dipertanyakan bagaimana mereka mengarahkan penulis
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.