Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tahrir Square, Jantung Revolusi Mesir

Rate this book
Jatuh bangunnya sebuah rezim adalah soal biasa. Namun, terjerembabnya demokrasi di Mesir merupakan ”set back” yang tak terperikan. Negeri penginspirasi Arab Spring ini sekarang justru memasuki ”musim panas” yang berkepanjangan.

Penulis epilog buku ini, Zuhairi Misrawi, dengan gamblang berhasil mengidentifikasi tiga tantangan besar dalam membangun demokrasi di negeri para firaun, yakni sistem dan pemimpin yang otoriter, invertensi militer dalam politik praktis dan kuatnya kalangan Islamis. Namun, sayangnya, Zuhairi ternyata tidak mampu memprediksi masa depan demokrasi Mesir. Ia seolah angkat tangan walaupun dengan jelas ia menamai subbab tulisannya: Masa Depan Demokrasi.

Memang, Mesir sedang sakit dan tidak kunjung sembuh. Pemilik peradaban tinggi pada masa lalu ini tengah memasuki satu lorong kegelapan ke lorong sempit lainnya. Mesir terus limbung, tidak memiliki arah tujuan yang jelas atau terus dalam posisi tarik-menarik beberapa kelompok kuat. Karena itu, tak banyak yang bisa berkomentar ke arah mana negeri ini akan berjalan. Mesir seolah lagi asyik membuang-buang waktu secara percuma dan membiarkan dirinya dalam kondisi ketertinggalan. Sayang sekali.

Jatuhnya presiden legendaris, Hosni Mubarak, dua tahun silam, benar-benar tidak dimaknai dengan baik oleh penguasa setelahnya. Tampuk kekuasaan yang sempat bertakhta selama 30 tahun dengan kekuatan ”besi” baru bisa tersungkur oleh buldoser revolusi yang digerakkan dari satu titik, Maidan Tahrir (Tahrir Square), di tengah kota Kairo. Diperlukan jutaan rakyat yang bergerak gegap gempita dalam teriakan yang sama dengan bendera yang terus dikibarkan untuk merangsek pemimpin yang dianggap lalim. Revolusi Januari 2011 adalah gerakan anak muda dan mahasiswa yang melek teknologi informasi dan media yang mulai mewabah tahun 2000-an. Bahkan, untuk mencapai titik keberhasilan, diperlukan ratusan orang mati syahid dan ribuan lainnya terluka menjadi tumbal kebebasan.

Sayangnya, ketika musim semi (spring) telah datang, tidak tampak kehidupan manusia yang lebih baik. Keindahan yang harus direngkuh dengan susah telah mubazir. Alih-alih belajar dari para pendahulunya, presiden hasil revolusi besar justru kembali mengulangi kesalahan yang sama. Bukannya membangun kebersamaan, malah menjadikan primordialisme sebagai panglimanya. Yang paling demokrasi adalah keluarnya Dekret Presiden (22/11/12) yang menyatakan bahwa semua keputusan dan ketentuan hukum yang ia keluarkan tak dapat dibatalkan. Itulah mengapa, akhirnya, kekuasaannya hanya seumur jagung. Muhammad Mursi tersungkur oleh gerakan Maidan Tahrir. Lalu Mesir kembali ke titik nol lagi.

Hegemoni militer

Uniknya, pada saat-saat Mesir akan kembali ke titik nadir, pihak militer selalu berhasil masuk dan membonceng di belakang kendaraan yang didorong-dorong oleh rakyat, khususnya kaum muda. Ketika Hosni Mubarak hendak diturunkan akibat kelalimannya, militer ikut numpang. Seolah berbaur dengan kekuatan rakyat, militer sebenarnya hanya ingin mempertahankan hegemoni dan tak ingin bisnis besarnya dihabisi oleh putra Hosni Mubarak yang digadang-gadang menggantikannya.

Sama juga, ketika rakyat jengah terhadap Mursi yang terlalu mewarnai pemerintahan dengan Ikhwanul Muslimin dan tidak menepati janji-janji pemilu, militer kembali ambil peran. Di kala tendangan bebas sedang dilepas di Maidan Tahrir, militer langsung mengambil inisiatif untuk mengambil paksa sang penjaga gawang, Muhamamd Mursi, lalu memenjarakannya. Militer kembali menjadi penguasa.

Anehnya, dan mungkin ini hanya terjadi di Mesir, gerakan tamarrod anti-Mursi tidak memiliki konsep yang jelas, kecuali menurunkan sang presiden, sehingga dengan mudah disusupi militer. Lagi-lagi, kekuasaan dan bisnis menjadi target utama kekuatan bersenjata di Mesir. Inilah yang kemudian menyebabkan negeri para firaun tersebut kembali menjadi tidak jelas juntrungannya. Sebagian rakyat kini kembali turun ke Maidan Tahrir untuk membela presiden yang telah terpilih secara demokratis. Tiap hari, yel-yel antimiliter kembali memenuhi langit kota. Pariwisata yang menjadi andalan Mesir mulai lumpuh, kekurangan pangan menjadi pengalaman keseharian, instabilitas politik bukan lagi wacana, dan masa depan negeri menjadi absurd. Exercise demokrasi telah mengalami kegagalan dan Mesir memasuki era baru dengan warna lama, di bawah kekuasaan militer.

Dalam analisis Trias Kuncahyono, penulis buku ini, nikmatnya kekuasaan kadang kala telah membuat penguasa di Mesir lupa hakikat kekuasaan. Kekuasaan itu tidak abadi. Kekuasaan politik adalah sesuatu yang terbatas. Jika kekuasaan itu dipahami sebagai sesuatu yang tidak terbatas, ia akan menghasilkan tirani. Kecenderungan nyandu kekuasaan itu bisa terjadi pada siapa saja dan terjadi dalam setiap masa, setiap jenjang kehidupan serta dalam berbagai aspek kehidupan. Nyandu kekuasaan itu sangat berbahaya, itulah yang membuat kekuasaan menjadi absolut.

Sejujurnya, Mesir tidaklah ”jauh” dari Indonesia. Dua negara yang sama-sama berjuang m...

390 pages, Paperback

First published January 1, 2013

1 person is currently reading
19 people want to read

About the author

Trias Kuncahyono

10 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (28%)
4 stars
6 (42%)
3 stars
2 (14%)
2 stars
1 (7%)
1 star
1 (7%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Febyan Kafka .
478 reviews15 followers
September 30, 2020
Sebuah karya jurnalistik yg dibungkus dalam narasi bergaya prosa yg menarik. Penulis menggambarkan konflik lahir dan batin dalam pergolakan di Mesir dengan sangat baik. Sebagai jurnalis, penulis berusaha sebisa mungkin menangkap pandangan dari setiap pihak yg terlibat dalam pergolakan di Mesir. Kita tidak hanya disuguhi kisah Mesir saat pergolakan,tapi juga latar sejarah yg membawa Mesir menjadi seperti yg kita kenal sekarang.
Kisah pergolakan di Mesir dalam buku ini , diakhiri dengan penangkapan Mursi oleh militer. Sehingga buku ini tidak melingkupi akhir anti klimaks dari revolusi Mesir. Yaitu kembalinya militer ke ranah politik Mesir. Serta vonis tidak masuk akal terhadap Ikhwanul Muslimin, yaitu hukuman mati bagi setiap anggotanya.
Buku ini adalah sebuah lukisan batin dari revolusi Mesir,yg mungkin jarang diliput media. Sebuah revolusi yg gegap gempita di awal namun anti klimaks di akhir.
Profile Image for Rheza Ardi.
32 reviews1 follower
June 9, 2019
Tamat juga baca buku ini. Judul ini penulisannya pakai gaya serupa jurnal perjalanan. Banyak dialog, banyak gambaran suasana, laporan pandangan mata. Tentu saja plus analisa2 dan fakta sejarah. Epilog zuhairi misrawi mencerahkan. Macam epilog chatib basri di buku biografi sjahrir. Tar saya mau bikinin ulasan versi podcast-nya. Review ini akan diupdate (kalo memungkinan).
Profile Image for Imam.
4 reviews
January 15, 2014
Sebuah rekaman jejak sejarah perjalanan sebuah bangsa bernama "Mesir", pergulatan politik yang penuh intrik, terekam indah dengan bahasa sederhana berbentuk tulisan feature. Sangat menarik bagi yang ingin tahu detail sejarah perjalanan Mesir, mulai dari era Raja Farouk hingga penggulingan presiden yang terpilih secara demokrasi, Morsi. Dan sebuah tanah lapang bernama "Tahrir Square", telah menjadi saksi bisu sebuah perjuangan, sebuah intrik politik, dan lika-liku perjalanan yang telah dilalui Mesir. Selamat Membaca!
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.