Dalam dunia tulis-menulis, tanda titik itu amat penting. Bayangkan seandainya tidak ada titik, kalimat dan kata-kata akan mengalir tanpa jeda dan akhir, membombardir mata, hati, dan pikiran kita tanpa kita dapat mencernanya. Jadi, “titik” adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang mesti ada, dalam proses pemahaman wacana. Dalam penghayatan kehidupan dan proses menjalaninya pun demikian: dibutuhkan titik pijak sebagai paradigma. Itulah kiranya yang pertama-tama dapat aku tangkap dari paradigma “titik ba” temuan Ahmad Thoha Faz sebelum aku betul-betul tamat membaca bukunya (yang berjudul sama, Titik Ba, terbitan Mizan). Atau tepatnya, itulah lintasan-lintasan pemikiranku sendiri yang terpicu oleh paparan buku Mas Thoha. Banyak pakar yang memberi apresiasi atas buku karya alumnus ITB ini. Dari sang rektor Djoko Santoso sampai Ahmad Syafi’i Maarif, seorang guru besar dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ada juga KH Miftah Farid dan KH Masdar F. Mas’udi. Semuanya memberikan penilaian positif atas buku ini. Bahkan memberi acungan jempol: hebat. Namun, menurutku yang orang awam (alias dari sisi awamologi), jangan mulai dari sisi “kehebatan” itu kita menyerap maknanya. Lha, lalu dari mana? Ya, dari “titik ba” itu sendiri. Dari diri si penemunya, dari proses penemuannya dan perjuangan merumuskannya hingga menjadi buku ini. Jangan juga dilihat dari ITB-nya, tetapi dari titik “kefakirannya” semasa kecil hingga mencapai kekukuhan berpijak pada “titik ba”. Kefakiran di sini tentu saja bersifat relatif. Jadi, yang aku maksud adalah bahwa setiap manusia itu memiliki keterbatasan dan sejumlah rintangan dalam perjalanan hidupnya. Thoha misalnya adalah eks penderita toksoplasmosis yang berakibat pada rusaknya retina mata kanannya, tetapi ia justru menjadi seorang kutu buku. Anak kedua dari tujuh bersaudara yang lahir di Tegal, 31 Juli 1978 ini harus tumbuh dalam suka-duka sebagai penggembala sapi lantaran orang tuanya petani dan beternak sapi perah. Sehabis subuh pun dia mesti berkeliling berjualan susu, lalu sepulang sekolah mencari pakan ternak atau membersihkan kandang, lalu sorenya kembali berkeliling. Dan seterusnya. Lalu gimana dia sampai menemukan “titik ba” dan bagaimana pula perihal paradigma “titik ba” itu? Ya, aku sendiri baru mulai membaca. Tapi, ada baiknya aku kutipkan percakapan antara Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga yang diambil dari film Sunan Kalijaga (1984) yang dikutip pada sampul depan buku ini. “Misalkan, air laut dijadikan tinta, dan daun-daun di seluruh jagat ini dijadikan kertasnya, masih belum cukup untuk menuliskan ilmu Allah, Ki Sanak,” ujar Sunan Bonang. “Tidak sebanyak itu yang saya mau tuntut. Saya cuma perlu satu titik. Di Titik Ba itu, Kanjeng,” balas Raden Mas Syahid yang kelak bergelar Sunan Kalijaga. Gimana, dapat impuls apa dari situ? Ya, aku sendiri baru dalam taraf menuliskan impuls-impuls yang aku tangkap dari membuka-buka lembar-lembar buku ini. Jadi, sebaiknya Anda sendiri turut membacanya dan menuliskan kesan-kesannya pula serta membaginya di sini (lihat juga di: awamologi.wordpress.com). Mari kita saling berbagi.
Sebuah perjalanan spriritual yang amat menarik dari penulis, yang belum tentu setiap insan akan melaluinya. Namun karena buku ini sarat dengan istilah dan aspek science, Titik Ba tampaknya akan tidak mudah dicerna oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang IPA atau teknologi.