Jump to ratings and reviews
Rate this book

Karnoe: Sejarah Tak Tertulis di Balik Nama Besar

Rate this book

286 pages, Paperback

First published September 1, 2013

9 people are currently reading
108 people want to read

About the author

J.S. Khairen

19 books694 followers
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala.

Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.

Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.

Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan.

“Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (26%)
4 stars
23 (44%)
3 stars
10 (19%)
2 stars
5 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Nathaniel.
63 reviews21 followers
October 26, 2013
Novel ini membuat kita dapat lebih baik lagi mengenang sosok Mas Karnoe, seorang legenda di BO Economica. Saya termasuk orang yang cukup beruntung pernah mengenal Mas Karnoe, dan juga tidak terlalu beruntung karena saya hanya mengenal beliau beberapa bulan saja sebelum akhirnya beliau dipanggil Tuhan.

Dalam buku ini Jombang mampu menceritakan kisah-kisah Mas Karnoe dengan sangat nyaman, dan dapat membuat pembaca lebih dekat dengan sosok Mas Karnoe. Hanya saja, tidak terlalu tampak klimaks cerita di novel ini, lebih ke cerita datar namun sangat enak dibaca tentang keseharian di BO Economica dan sosok seorang Mas Karnoe.

Selamat jalan, Mas.
Profile Image for Sagara.
74 reviews
December 22, 2023
Ini bukan fiksi, buku ini menceritakan seorang pria yang bekerja di UI tepatnya di ruangan organisasi BOE atau Badan Otonom Economica sebuah organisasi pers di UI, di sana dia sudah bekerja selama 28 tahun lebih sejak UI masih di Salemba dan kini kegiatan kampus dipindahkan ke Depok seperti yang kita kenal sekarang. Pria itu bernama Karnoe, dalam buku diceritakan bahwa dia seorang petugas OB di gedung itu namun perannya di organisasi itu lebih dari itu, bisa dibilang dia bapak dari organisasi BOE ini Karna dia sudah mengenal mahasiswa UI yang berada di organisasi BOE ini dari tahun 70an sampai era 2010 setidaknya sampai di tahun itu saja mas Karnoe hidup.

Di ceritakan pula oleh penulis bahwa dia harus menempuh beberapa kali kendaraan umum seperti kereta dan angkot untuk bisa sampai ke tempat kerjanya maupun sebaliknya saat UI pindah ke depok sedangkan waktu di Salemba dia hanya perlu naik 1x kereta. Harus berdesak-desakan dengan manusia lainnya yang mana pada tahun itu pengelolaan kereta tidak sebagus sekarang seperti yang kita lihat di tv, dia lakukan itu semua ikhlas & tulus.

Banyak Pelajaran yang saya dapatkan maupun anda yang membaca buku ini ambil dari pribadi mas Karnoe yang filantropi, humble dan yang pastinya SETIA, yang bisa saya tangkap dari mas Karnoe adalah SETIA dengan pekerjaannya, SETIA dengan pasangannya ibu Sapto walaupun mereka tak dikaruniai anak dan juga SETIA dengan anggota BOE dan selalu mendampingi mereka, memberikan nasihat dan petuah. Mungkin itulah sebabnya penulis memberikan judul SETIA pada novel ini. Meskipun saya bukan mahasiswa dan juga bukan alumni UI apalagi mengenal mas Karnoe langsung tapi dengan penggambaran dalam buku kita seperti dibawa lebih dalam untuk mengenalnya.

Selain cerita mas Karnoe, penulis juga menyisipkan beberapa cerita tentang dirinya sebagai mahasiswa UI, anggota organisasi BOE lainnya yang sering berinteraksi dengan mas Karnoe, cerita dia di Padang dan juga tentang perekonomian dalam negeri maupun internasional yang berbobot ala mahasiswa jurusan ekonomi, penggambaran UI itu seperti apa diceritakan dengan baik dalam buku dan juga bidadari senja.

Buku ini unedited version dibagikan penulisnya secara free pada 11 September lalu dan akan terbit ulang pada April/mei 2024 nanti dengan judul SETIA Karna judul sebelumnya adalah "Karnoe: sejarah tak tertulis di balik nama besar" bersamaan dengan novel tangguh, begitu kata penulisnya di pengantar buku dan juga buku ini adalah buku pertama dari @js_khairen gaya kepenulisannya yang mana menurut saya berbeda dengan bukunya yang best seller macam serial kami bukan atau melangkah tapi saya yakin dengan terbit ulang nanti buku ini bisa menjadi lebih baik soal gaya kepenulisan @js sekarang, Karna gaya kepenulisannya di buku SETIA ini tidak sebagus sekarang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ami ☆ ⁺‧₊˚ ୭.
156 reviews18 followers
May 4, 2022
6buku ini udah kasih penggambaran yang menurutku cukup unik. orang yang kerjanya sebagai tukang bersih-bersih, tapi justru dijadiin judul buku ini. seberapa penting sih, peran orang yang suka bersih-bersih bagi tokoh-tokoh di dalamnya? nah, ternyata kenapa nama "karnoe" bisa dijadiin judul karena pengabdiannya.

menurutku sendiri, mulai dari pertama kali baca di paragraf pertama, bikin pembaca kebayang sama suasananya. meski aku belum pernah ngalamin ya, tapi kebayang aja. gimana diteriakin senior, disuruh ini itu, disalah-salahin, ya pengalaman seru tapi enggak enak, lah. kalau pembaca udah lulus kuliah mungkin akan mendadak keinget masa-masa dulu baru masuk kuliah. ya bikin males, tapi seru.

awalnya aku ngga tau kalau tokoh di sini itu berdasarkan orang beneran. iya, ada orang benerannya. setelah selesai baca baru nyari tau, ternyata emang beneran ada, loh. mungkin itu juga yang bikin buku ini kerasa nyata banget. kekeluargaannya, kebersamaannya, profesionalitas anggota-anggota organisasi di luar dan di dalam organisasi. kerasa banget, deh.

adegan yang menurutku penting waktu mereka ke kawah ijen (kalau ga salah ya, lupa nama tempatnya) terus ada adegan di mana mas karnoe kedinginan. mereka cari mobil, sampe akhirnya mutusin cari kayu bakar aja. kenapa penting, karena ngegambarin gimana mereka peduli dan sayang sama mas karnoe meski mereka ngga ada hubungan darah sama sekali. gimana mereka bisa sedekat itu sama sosok bapak yang cuma mereka kenal melalui organisasi yang mereka ikutin. kekeluargaan di organisasi ini semakin kerasa setelah adegan itu.

sosok mas karnoe yang sederhana, enggak pernah ngeluh, juga hubungannya yang begitu romantis sama istrinya, bener-bener sosok yang buat aku kagum. misalnya di tengah penghasilan yang ngga seberapa, mas karnoe masih bisa kasih hadiah jam tangan buat temennya. masih bisa nabung buat biaya pernikahan adiknya. padahal, kehidupannya juga ngga mewah. sederhana, atau mungkin jauh di bawah sederhana.

entahlah. di bagian terakhir pun buku ini bikin ngerasa kita kehilangan seseorang yang deket sama kita tanpa punya hubungan darah. gimana kita bisa punya lingkungan yang sayang sama kita cuma lewat organisasi di kampus. banyak banget pelajaran yang bisa diambil cuma aku ya ngga akan mungkin bisa tulis semuanya. kebanyakan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fety Niza.
109 reviews4 followers
February 25, 2018
Ini novel paket lengkap. Kayak baca buku ekonomi, buku agama, buku adat minang, ahh pokoknya paket lengkap deh!
Jadi tau secarik gambaran kehidupan FE UI lengkap beserta isinya.
Dari sosok Mas Karnoe ini kita bisa belajar banyak hal. Persahabatan, persatuan, cinta, pengabdian, ketulusan, kedermawanan, ah Mas Karnoe juga cerdas. Dari diskusi para merpati Economica, sebagai anak ekonomi gue jadi belajar juga. Ah pokoknya keren. Ini mah namanya Mahakarya. Terimakasih Mas Karnoe :") #RecommendedBook
Profile Image for yovita..
3 reviews
April 20, 2021
Jika Anda membutuhkan bacaan sederhana namun bisa menghangatkan hati dengan sempurna, buku ini jelas adalah jawabannya.

Karnoe di sini bukan Bung Karno. Ia mungkin bukan sosok besar yang dikenal Indonesia. Ia "hanya" seorang pegawai bersih-bersih di sebuah organisasi kemahasiswaan FE UI: b.o. economica. Namun sungguh, secara pribadi, saya lebih ingin mengenal pribadi Mas Karnoe jauh ketimbang saya ingin mengenal pribadi Bung Besar itu.

Ini yang saya pelajari. Mas Karnoe itu menjalani perannya sebagai manusia dengan sangat bijaksana. Ia santun, selalu tenang mendengarkan ketika yang lain sedang berbicara. Ia tahu benar cara membuat lawan bicaranya dihargai. Ia juga tidak pernah merasa dirinya paling benar. Dalam pelbagai kondisi, ia selalu menyempatkan waktu utk mengevaluasi diri.

Mas Karnoe juga memiliki kasih yang langka: setiap hari ia melayani istrinya yang sudah sakit dan lemah, tanpa mengeluh. Padahal, kami tahu pasti ia juga lelah karena baru pulang kerja. Perjalanan yang ia tempuh untuk bisa sampai ke rumah itu jauh, tapi untuk istri yang dicintainya, selalu masih ada energi tersisa.

Ia pun beberapa kali memberi kesempatan bagi para tetangga untuk merasakan bahagia, entah sekedar membelikannya cendera mata, atau sesuatu yang mereka bisa pakai kerja. Padahal jika dilihat secara materi, Mas Karnoe tentu bukan orang kaya.

Itu sebabnya, saat di bab akhir cerita, ketika Mas Karnoe harus meninggalkan dunia secara tiba-tiba, saya pun merasa begitu pedih. Ditinggalkan sosok yang sangat baik, ramah, dan tahu betul cara menghibur di saat jatuh, bukanlah satu perkara mudah. Saya masih ingat betapa sembab mata saya saat menutup lembar terakhir buku ini.

Saya menghela napas. Beberapa detik saya merasa sangat kosong. "Wah, mengapa ia pergi begitu cepat? Saya yakin jika ia lebih lama lagi hidup di dunia, akan lebih banyak orang yang terberkati dengan hidupnya." Namun saya sadar, terlalu cepat atau terlalu lambat, semuanya adalah fana. BagiNya, Mas Karnoe mungkin sudah selesai; tetapi apa yang ditinggalkannya terus abadi.

Mas Karnoe berhasil mengambil hati saya dan menjadikannya teladan untuk hidup saya ke depannya. Walaupun tidak secara langsung, Mas Karnoe mengajarkan saya bagaimana cara hidup dengan manusia lainnya.

Mas, sampai bertemu di surga, ya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.