Jump to ratings and reviews
Rate this book

Subang Zamrud Nurhayati

Rate this book

227 pages, Paperback

First published January 1, 1992

4 people are currently reading
16 people want to read

About the author

Pandir Kelana

11 books4 followers
Pandir Kelana adalah nama pena dari R.M. Slamet Danusudirdjo

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (18%)
4 stars
3 (27%)
3 stars
4 (36%)
2 stars
1 (9%)
1 star
1 (9%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
May 14, 2013
Subang Zamrud Nurhayati bermula dari seorang Cokrodirjo yang diutus oleh Kanjeng Sinuwun Mataram Hadiningrat (Rangsang Bagus) ke Aceh Darussalam untuk bertemu dengan Sri Baginda (Perkasa Alam), penguasa Aceh Darussalam. Sri Baginda memiliki penasihat pribadi bernama Nurhayati dan Zubaidah. Cokrodirjo menyampaikan apa yang diputuskan oleh Sinuwun Mataram. Karena keluwesan Cokrodirjo bercerita dan karena gelagatnya yang menyukai Nurhayati dari awal ia mengangkatnya menjadi Laksamana Kehormatan Laskar Diraja Aceh Raya Darussalam.
Pada suatu hari Subang Zamrud milik Nurhayati jatuh ketika ia hendak menaiki kuda, subang yang jatuh tersebut diambil oleh Cokrodirjo dan hendak dikembalikannya kepada Nurhayati. Nurhayati kemudian diturunkan pangkatnya dari Laksamana Yunitasari, sedangakan Zubaidah diangkat menggantikan Nurhayati.
Sri Baginda Aceh Darussalam menyuruh Nurhayati untuk berguru silat kepada Cokrodirdjo karena kemampuan tarungnya belum sebanding dengan Cokrodirjo. Lambat laun mereka berdua dekat dan akhirnya menjalin cinta. Nurhayati yang tadinya adalah perempuan mairil atau wanita lesbian karena mereka terikat sumpah bahwa suami mereka adalah bumi Aceh.
Meski mereka menjalin cinta bersama, mereka berdua tetaplah menjalankan tugasnya sebagai penasihat pribadi kerajaan. Berbagai perundingan mereka lakukan, berbagai keputusan mereka ambil demi masa depan Kerajaan Mataram dan Kerajaan Aceh Darussalam.
Pertikaian yang terjadi di Nusantara kala itu adalah pertikaian antara Aceh-Johor, pertikaian Mataram-Banten, dan pertikaian Ternate-Tidore. Cokrodirjo dan Nurhayati kemudian menyimpulkan bahwa pertikaian yang terjadi disebabkan oleh adu domba yang dilakukan oleh pihak luar seperti Belanda, Perancis, Portugis, dan Spanyol.
Perundingan yang terjadi di antara mereka lebih banyak mengenai perundingan mengenai dominasi kekuasaan yang dipimpin oleh Aceh dan Mataram, seperti yang terdapat dalam kutipan di bawah ini, Cokrodirjo mengawali tawarannya kepada Nurhayati

Pandir Kelana menulis Subang Zamrud dengan penuh teka-teki. Wajib dibaca bagi penyuka sejarah. Seperti halnya karya sastra pada umumnya, Subang Zamrud Nurhayati memenuhi esensi sastra pada umumnya Licentia art Poetica: Bermanfaat dan Menghibur.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.