Buku ini bak permata yang saya temukan di dalam lautan buku iJak Library. Buku ini langsung menjadi fokus perhatian saya karena didalam darah saya mengalir darah Madura dari pihak Ayah. Seketika saya langsung meminjam buku ini karena Carok sendiri identik dengan perkelahian orang Madura didalam benak saya.
"lokana daghing bisa ejhai, lokana ate tada' tambhana kajhabhana ngero dara" (jika daging yang terluka masih bisa diobati atau dijahit, tapi jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah)
Itulah salah satu prinsip yang dianut oleh pria Madura yang lebih memilih melakukan carok ketimbang menanggung malu dan rusak harga dirinya. Carok biasanya dilakukan sebagai tindakan pembalasan terhadap orang yang melakukan pelecehan diri terutama terhadap istri seorang lelaki . Senjata ini identik dengan monopoli kekuasaan suami (laki-laki) terhadap istri (perempuan). Selain itu tidak hanya sebagai tindakan pembalasan carok juga dianggap sebagai alat untuk meraih posisi atau status sosial yang lebih tinggi didalam lingkungannya. Setelah melakukan Carok, biasanya pelaku menyerahkan diri kepada kantor polisi terdekat dan rata-rata dikenakan hukuman penjara 5-8 tahun. Namun mereka mengaku puas dan lega setelah melakukan carok karena harga dirinya sudah terbersihkan. Budaya Carok ini hanya dilakukan oleh perkelahian antara sesama Pria Madura dan tidak ada Carok yang dilakukan sesama Wanita atau Pria dan wanita.
Bulu kuduk saya merinding ketika membaca buku ini. Buku ini juga berhasil memuat lampiran data statistik mengenai tingkat kriminalitas dan kekerasan di masing-masing kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) pada tahun 1985 sampai dengan tahun 1994. Berdasarkan data statistik tersebut, tingkat kriminalitas tertinggi terjadi di kabupaten Sumenep dengan total 734 kasus selama rentang waktu itu. Jujur saya sangat terkejut sekali dibuatnya karena sepengetahuan saya Kabupaten Sumenep ini berada di paling ujung pulau Madura dan yang terdapat keraton sumenep pada masanya. Penduduk Kabupaten Sumenep malah dikenal sangat lemah lembut dan halus tutur katanya (Bisa dikatakan kalau dalam tingkatan bahasa Madura dia menggunakan bahasa madura yang paling halus semacam Kromo inggilnya Yogyakarta begitu). Saya sempat mengira Kabupaten Bangkalan yang tertinggi untuk angka kriminalitasnya karena mereka paling dekat dengan pesisir dan Kota Surabaya sehingga watak penduduknya lebih keras ketimbang kabupaten Madura lainnya. Malah didata statistik ini Kabupaten Bangkalan menduduki peringkat ketiga dengan jumlah 347 kasus.
Sedangkan untuk kampung halaman ayah saya sendiri yang berada di Kabupaten Pamekasan pada tahun 1985-1994 terdapat 386 kasus kriminalitas. Tahun 1994 terdapat 55 kasus kriminalitas yang 46 kasusnya berupa penganiayaan berat. Tahun 1992 terdapat 32 kasus kriminalitas yang 11 kasusnya berupa pembunuhan. Saya sendiri bergidik ngeri dengan fakta tersebut padahal baru dua minggu lalu saya kesana. >__<
Overall, saya sangat menyukai banyaknya ilmu antropologi, etnografi tentang kebudayaan Madura yang spesifiknya ke tradisi Carok didalam buku ini. Buku ini sarat akan ilmu dan tidak dipungkiri lagi dengan jumlah 60++ daftar pustakanya yang membanjiri halaman terakhir buku ini. Penulis benar-benar melakukan riset sehingga isinya sangat berbobot dan membuat kepala saya penuh akan pengetahuan baru
sebuah study mendalam tentang budaya kekerasan di kalangan orag Madura ...sangat bagus untuk orang-orang yang pengen mengetahui sosio budaya penyebab budaya kekerasan yang sampe sekarang sulit dihilangkan itu....relasi antara Kyai dan Ble'ter (jagoan/jawara) sangat baik untuk dipahami....
Menurut kata pengantar yang diberikan oleh Hubb de jong (ahli Madura), ini adalah buku yang paling komprehensif yang membahas mengenai carok di Madura. Buku ini dikembangkan dari desertasinya di UGM