Banyu Biru, ngakunya sebaya dengan Nila, gaib siang-malam, raib saat dibutuhkan. Pemuda itu terus tersangkut dalam benang kusut kehidupannya. Demi mencari jawaban, Nila sampai menyeberang ke alam lain, menjelajah ke dimensi yang lebih tinggi, mengarungi lintasan waktu, tersesat ke versi lain dunia, dan bertemu dirinya sendiri—yah ... versi lain dirinya.
Banyu Biru masih buram identitasnya, bukan manusia, disebut hantu juga tak bisa, datang tak dijemput, pulang semaunya—jadi, dia itu apa? Tugas apa yang diembannya saat mendatangi Nila malam itu? Siapa itu Turangga? Kenapa Nila mendadak diincar entitas-entitas aneh? Dan kenapa makhluk halusnya tambah banyak?
Banyu Biru ingin hidup, tetapi kenapa dia meminta Nila membunuhnya? Saat jawabannya sudah di depan mata, Nila malah dihantui satu lagi pertanyaan: apakah dia justru lebih baik tak mengetahui apa-apa sejak awal?
“Kejamnya semesta, menautkan keberadaanku pada eksistensimu. Namun, kau hidup di semua versi dunia yang tak mengizinkanku ada.”
Pokoknya apa2 yang menjadi misteri di buku pertama. Semuanya terjawab di buku ini. Semuanya dikupas tuntas. Mulai dari Siapa sebenarnya Banyu Biru, terus alasan keberadaannya.
Di buku kedua ini, pembahasan mengenai entitas lain, dimensi lain, dunia multiverse dan kawan-kawannya dibahas cukup detail. Mungkin tuk pembaca yang memiliki kemampuan indigo. Maksudku, indigo yang gk melulu lihat setan dkk. Indigo yang bsa menembus batasan dan di dimensi lain. Buku ini sangat cocok dinikmati...
Tapi, tuk ending. Jujur aja... masih kurang puas. Overall emosi di hempas ke sana kemari sepanjang alur. Lalu terbanting di akhir