INDONESIA AND THE WORLD In 1965–66 one of the worst human tragedies in modern history occurred in Indonesia. On suspicion of having supported a communist coup, approximately 500,000 to 1,000,000 people were killed. So far the international dimension of those events is hardly explored. Although they were domestic by execution, they were also firmly embedded into the global Cold War. Foreign countries were anything but passive onlookers: They sided with Indonesian conflict parties and staked out their own claims—and they all blamed others for the tragedy.
INDONESIA DAN DUNIA Pada tahun 1965–66, salah satu tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern berlangsung di Indonesia. Sekitar 500.000 sampai 1.000.000 orang tewas dibunuh karena dicurigai mendukung kudeta komunis. Sampai sekarang dimensi internasional rangkaian kejadian itu belum didalami. Meskipun dari segi pelaksanaan tergolong urusan dalam negeri, keseluruhan peristiwa tersebut berlangsung dalam konteks Perang Dingin global. Negara-negara asing bukanlah pengamat yang netral: Dalam rangka mengamankan kepentingan masing-masing, negara-negara itu memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok Indonesia yang tengah bertikai—dan semuanya menyalahkan pihak lain atas tragedi yang terjadi
Bernd Schaefer is a Senior Research Scholar with the Woodrow Wilson International Center's Cold War International History Project (CWIHP) in Washington, D.C. Previously, he was a Research Fellow at the German Historical Institute in Washington, D.C., as well as a Fellow at the Nobel Institute in Oslo, Norway, and the Hannah Arendt Institute at the Technische Universitat in Dresden, Germany. His previous publications (as co-editor) include Ostpolitik, 1969-1974: Global and European Responses (2009); Historical Justice in International Perspective (2009); and American Detente and German Ostpolitik (2004). Between 1993 and 1997, he served as secretary for the East German Catholic Church's Stasi lustration commission in Berlin.
Baca buku ini rasanya membuka mata banget mengenai pembunuhan massal mengerikan yang terjadi di Indonesia tahun 1965 dulu, yang ternyata banyak dipengaruhi oleh negara-negara lain di dunia dengan tujuan politik mereka masing-masing.
Bahasanya mudah banget dipahami buat aku yang baru pertama kali baca buku non-fiksi sejarah.
Buku Sejarah Indonesia lainnya. Dari pertama kali membaca sekitar 5 bulan yang lalu, dalam kepala langsung "Gila sejarah Indonesia rumit". Mengingat tragedi 1965 sampai detik ini menjadi bagian sejarah yang masih terlalu sensitif untuk dibicarakan, tapi sudah seharusnya dan sudah waktunya untuk dibicarakan secara terbuka walaupun seakan membuka luka lama. Buku ini semakin dibaca semakin menciptakan kerumitan di kepala. Tiap artikel mesti saya baca berulang karena takut salah persepsi. Tapi yang jelas buku ini membuat saya belajar lagi.
"Tajuk rencana itu mengungkap struktur dasar dari asumsi Australia, yang paternalistik sekaligus rasis. Tajuk itu menonjolkan karakter yang konon merupakan sifat rakyat Indonesia, yakni bermuka dua dan kekanak-kanakan. Hal serupa juga tercermin dalam kekhawatiran yang diungkapkan Duta Besar Australia mengenai adanya kemungkinan bahwa "pemerintahan yang manapun yang akan muncul di Indonesia semuanya (akan ditandai oleh) sifat malas, berbelit-belit, dan penuh khayalan"" - Richard Tanter, Pembunuhan Massal di Indonesia dalam Tinjauan Media Massa Australia
"Penyangkalan selalu melibatkan proses merepresi pengetahuan secara aktif" - Richard Tanter, Pembunuhan Massal di Indonesia dalam Tinjauan Media Massa Australia
"Suharto dan pembantai-pembantai lain tidak akan mampu lolos dengan apa yang harus mereka pertanggungjawabkan kecuali karena mereka merasa didukung oleh sebagian besar masyarakat. Sudah amat mendesak bahwa para korban diakui sebagai korban. Bangsa Indonesia jangan pernah mengijinkan solidaritasnya dipatahkan dan sebagian dari warga-warganya menjadi objek kebencian, kekerasan, dan penyingkiran karena keyakinan relijius atau politik mereka. Tekanan dari luar kiranya tidak membantu. Indonesia harus mencapai pengalamannya sendiri dan sendiri menemukan jalannya ke luar" - Franz Magnis-Suseno, SJ, Indonesia 1965-1966 dalam Pengalaman Saya.
A WHOLE MADNESS! I never thought that I accidentally find this book on iPusnas application and rarely people read or know about this "hidden gem" book since I never find any booktwt or booktuber read this book. This book literally an eye-opener for me as the one who only learn the (fake) truth about 1965 bloody tragedy during my school days in the history class (which actually the real story about this more than that). I never thought that 1965 tragedy in this country, aside from the political war between Orde Lama and Orde Baru was also the "war-game" between Russia, China and of course the allied buddies US and UK (including another "Western" allies) to take control over South East Asia, especially Indonesia and Vietnam since both of the countries strategically placed and have amount of natural resources that could be looted by these countries. Aside from that this book also explained how actually Soeharto and the army were the agent for US and UK, meanwhile Soekarno and the third largest communist party in the world, PKI is being the agent for Russia, but in the end they were showed their loyalty to China. Another a blurb from the story that will make your mind blowing off is the fact that actually several of our constitutional rules was changed to favor and benefiting US, UK and their Western allies economically. This book also explained that how was the point of views "Western countries" and "Socialist & Communist countries" saw the 1965 tragedies and how was the media in these countries reported the news about 1965. I believe you will not regret to read this book since this book really spilling off the truths and you will realize how was the political and war-game played really dirty yet killings off and shed bloods of innocent citizens in Indonesia. So I suggest you to read this book as this book is worth-reading! And please dont be scared off with 490 pages of the book since actually this book was divided and translated into 2 languages, the first part is English while the 2nd part is Indonesian translations (but the content of the book remains the same). Each language will have around 200 pages so you could choose which version that you would like to read. I will give 4.5 rate for this book!
Buku ini bercerita tentang aksi-aksi dan pendapat negara lain mengenai kudeta 1965 dan setelahnya. Disusun dengan rapi dan mudah dimengerti, cocok untuk dibaca orang awam.
Perolehan suara fenomenal PKI dalam dua pemilu membuat banyak pihak resah — terutama Angkatan Darat, kaum nasionalis, dan partai-partai berbasis agama. Sentimen anti-komunis merebak, dengan militer berada di garis depan.
Soekarno menyadari bahwa kekuatan politik Angkatan Darat bisa menjadi ancaman bagi kekuasaannya. Ia pun mendekat ke PKI, partai dengan dukungan akar rumput terluas. Sebaliknya, PKI yang takut dihancurkan militer berupaya memperkuat posisi dengan mendukung penuh program-program Soekarno.
Sementara itu, dunia tengah terbakar oleh Perang Dingin — perebutan pengaruh antara blok komunis di bawah Uni Soviet dan blok kapitalis di bawah Amerika Serikat. Di mata Washington, Indonesia terlalu penting untuk dibiarkan “jatuh” ke kiri. Negeri dengan sumber daya besar dan simpanan emas Papua Barat menjadi rebutan pengaruh global.
Dan kita tahu bagaimana kisahnya berakhir: propaganda militer, dukungan kaum agamawan, serta pembantaian ratusan ribu jiwa atas nama “penyelamatan bangsa”. Harga yang dibayar amat mahal — nyawa manusia dan kedaulatan bangsa. Semua demi kepentingan asing dan kekuasaan.
Buku ini membuka tabir itu dengan bertumpu pada dokumen resmi dari berbagai negara — bukan rumor, melainkan bukti.
Dari Amerika, RRC, Gerakan Non-Blok, Moskow, hingga Eropa Barat, setiap bab memetakan keterlibatan kekuatan besar dalam tragedi 1965.
Ada ulasan dari Yosef Djakababa dan Natalia Soebagjo (tentang AS dan RRC), esai Baskara T. Wardaya tentang konteks kemanusiaan, John Roosa tentang tuduhan terhadap komunis, serta refleksi Franz Magnis-Suseno.
Di tengah gelar pahlawan yang diterima Soeharto dan revisi sejarah yang terus digulirkan pemerintah, buku ini terasa semakin penting. Membacanya membuat kita sadar: sejarah bangsa ini pernah dijual — bersama emas, darah, dan nurani.
Buku ini amat sangat berharga di tengah-tengah rencana revisi sejarah yang dilakukan oleh Pemerintahan Prabowo. Memperkaya literasi sejarah tentang G30S 1965.
Saya selalu menyukai Sejarah, dan di kepala saya Sejarah bukan sebatas kebenaran mana yang harus dipercayai tapi apa yang seharusnya dimasukkan ke dalam ingatan dan dijadikan pelajaran di masa mendatang.
Sebuah buku yang membahas hal yang menjadi isu sensitif bangsa ini.
Seperti yang dikatakan oleh Ragna Boden, "Mengingat fakta bahwa peristiwa 65-66 utamanya menyangkut Sejarah Indonesia sebagai bangsa yang merdeka seharusnya Indonesia tertarik dengan historiografi yang juga ditulis berdasarkan dokumen-dokumen naaionalnya sendiri daripada hanya bersandar pada bahan-bahan asing yang sebagian besar tentu saja mencerminkan pandangan-pandangan dari luar.
Other history books about the G30S, which describes several perspectives from several countries in the world after the uprisings and Indonesian influence on the world geopolitical order during the peak of the cold war after the extermination of the communists in Indonesia.