Secara garis besar, buku ini berupa pemaparan kronologis dan faktual tentang sejarah gerakan Islam subversif, khususnya di Indonesia. Ditulis oleh Pak Solahudin, jurnalis dan peneliti kawakan, pertanyaan-pertanyaan umum terkait golongan fundamentalis radikal dikupas secara runut. Seperti, dari mana asal muasal mereka? Apa yang menyebabkan mereka begitu bernafsu menumpahkan darah atas nama agama? Bagaimana cara mereka mengorganisir diri di tengah gejolak politik nasional maupun internasional?
Setelah bab pembuka yang dengan efektif menerangkan tentang faham salafy (ideologi yang berakar pada kepercayaan untuk menjalankan Islam secara 'murni', termasuk dalam penafsiran jihad) dan sejarah internasionalnya, penulis pun menyempitkan fokus ke Indonesia. Mulai dari Darul Islam pimpinan Kartosoewiryo pasca-kemerdekaan, melalui berbagai pergantian identitas sepanjang Orde Baru yang penuh gejolak, hingga berkulminasi pada Jamaah Islamiyah yang bertanggung jawab atas pengeboman di Bali tahun 2002. Dalam perjalanannya, diuraikan proses evolusi ideologis dan struktural mereka, termasuk pola konsolidasi membangun kekuatan, pengaruh politik nasional maupun internasional, dan pemikiran di balik sejumlah justifikasi untuk merampok, membunuh, dan menyebar teror.
Penuturannya seimbang dari segi analisis dan narasi deskriptif, serta mampu menghindar dari nuansa terlalu menghakimi; sebagaimana dikatakan Greg Fealy, profesor ilmu politik Indonesia, dalam ulasannya tentang buku ini. Memang masih ada kesenjangan penjelasan/analisis psikologis (misal tentang bagaimana tokoh-tokoh moderat berpendidikan bisa beralih jadi ekstremis), tetapi sudah banyak pencerahan yang diberikan berdasarkan hasil riset mendalam dan wawancara dengan tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam organisasi. Walau cakupannya hanya sampai tahun 2002 (yang berarti rentetan aksi teror sesudahnya seperti Bom Bali II dan ancaman ISIS tidak terbahas di sini), sudah ada fondasi kuat dalam memahami filosofi dasar dan konteks sejarah tentang topik ini.
Bagi saya pribadi, cukup meresahkan membaca rincian tentang hal-hal yang sebelumnya hanya saya ketahui permukaannya saja, dan membayangkan bagaimana gerakan ekstremis bawah tanah akan terus berevolusi dan berlanjut (entah sampai kapan juga golongan minoritas di negeri ini akan selalu memendam rasa takut saat beribadah atau sekedar bertutur kata). Namun, ada pencerahan juga bahwa orang-orang yang terkesan bak momok menakutkan ini juga hanyalah manusia biasa yang rentan drama politik internal, melakukan kesalahan yang mencelakakan diri sendiri, dan tercerai berai saat berhadapan dengan solidaritas dan toleransi bersama.