Sekarang aku pulang. Ke Indonesia. Tapi apakah hidupku hanya untuk ini? Bertahan dan bertahan selama mungkin, dan kemudian aku akan habis tak bersisa lagi?
Selamat dari serangan kanker tioid, Soe Tjen Marching kembali menemukan benjolan di antara tulang punggung—gumpalan yang menimbulkan kesakitan luarbiasa dan menjadikan dia sepert bukan manusia. Namun, menolak takluk pada keadaan dan penyakit yang menyerbunya, Soe Tjen memperlihatkan, hidup bukan hanya sebatas untuk bernafas, untuk bertahan lalu habis tak bersisa.
Buku ini bercerita tentang pasang surut kehidupan Soe Tjen, pengajar di universitas terkemuka di Australia dan Inggris, dalam bertarung dengan penyelinap ganas di tubuhnya. Dituturkan di dalamnya bagaimana di tengah deraan rasa sakit Soe Tjen tetap menggerakkan kelompok diskusi pluralisme Bhinneka. Dengan rasa humor dan pengamatan yang tajam, Soe Tjen juga menulis pengalaman menerima layanan kesehatan yang berbeda di tia negara tempat ia tingal—Indonesia, Australia, dan Inggris—mulai dari sikap para dokternya, perawat, hingga menu di rumah sakit. Interaksi antar-pasien, antar-warga, dan antar-manusia baik di dunia kesehatan maupun dunia akademik semua diceritakan dengan lugas dan jernih. Buku ini bukan hanya mengusik rasa haru, tetapi juga memelihara kesadaran bahwa derita dan ceria senantiasahadir bersama.Soe Tjen MarchingKisah nyata seorang cewek badung asal Surabaya, yang berhasil menjadi dosen universitas terkemuka di Australia dan Inggris, menghadapi serangan 2 macam kanker.
Soe Tjen Marching (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1971; umur 39 tahun) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Ia memperoleh gelar Ph.D.nya dari Universitas Monash, Australia dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa.
Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne - Australia. Salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan oleh Antipodes, sebuah jurnal sastra terkemuka di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga seorang komponis penting di Indonesia, yang karya-karyanya telah dipagelarkan di Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Sebagai seorang komponis, ia pernah memenangi kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998. Sebuah komposisinya, "Kenang" (2001) diterbitkan sebagai bagian dari sebuah CD, "Asia Piano Avantgarde: Indonesia" yang dimainkan oleh pianis tersohor dari Jerman, Steffen Schleiermacher. CD ini telah beredar di Amerika dan Eropa. Pada Juni 2010, karya musiknya memenangkan kompetisi Internasional avant-garde yang diadakan di Singapura.
Novel Soe Tjen, berjudul Mati Bertahun yang Lalu, diterbitkan oleh Gramedia pada akhir tahun 2010. Novel ini diilhami oleh pengalaman pribadi Soe Tjen terjangkit kanker 3 kali.
Soe Tjen Marching juga sering bekerja sama dengan suaminya, Angus Nicholls, seorang peneliti sastra Jerman di Queen Mary University of London.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menghabiskan buku ini, kurang lebih setelah 5× pengembalian buku di iPusnas baru berhasil menamatkan. Aku suka bagaimana buku ini dikemas, judul yang menarik ini (dan kalau kalian nggak baca blurb) ternyata membahas tentang hal yang jauh di luar perkiraan kita: kanker. Aku juga suka karena di dalamnya menyenggol beberapa peristiwa sejarah di Indonesia: 1998. Jadi, walau ngabisin waktu yang cukup lama karena lumayan disibukkan dengan kuliah dan kerja, aku tetap berkomitmen untuk menamatkan buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
It's a good book because the language is simple, explicit, and understandable. But I feel so bad with the category that iPusnas put to this one: "Self-help"??? I read this with the intention to know more about cancer because I'm also from family with cancer history. In few first parts of this book, I read it so deeply because I can relate to the trauma that happened within my family too. Especially that it validates my own fear about this illness. However, I'm a little bit pissed off when I read many spread arguments about everything. Yeah, it's my fault because I'm easily immersed inside every book I read if the language suits my taste; Thank God, I already installed high shield to understand every criticisms that the author wrote in this book though it's a whiplash with my own point of view since there is big bubble that separate the knowledge of privileged people and underground working-class people. I'm a little bit irritated but I keep reading because getting new knowledges about other views is like listening to a friend venting while we can't preach her anyway. So, during those criticism, I just accept it though I don't agree to many things written. I just observe and learn as if I don't know everything, like "I know nothing".
After those pages, the chapter "X" makes me deep reading into this book again, following the author's painful journey with surgery and anything. It really adds new knowledge for me, this part is what makes me like this book. I can imagine the pain and the complicated situations, it's all written so well. I love the last quote about "depression is heavier because no one care" is relatable and deep too. It's like a memoir more than self-help book. It's crazy because reading this is truly like knowing every little detail secret inside a very close friend's mind that is strong-opinionated based on her own thinking, from being hurt to feel the pain and also accepting all she whinges about this world. It might no be a right book to inspire people with the same illness, but it still gives new knowledge about the hospital culture for privileged people who suffers with cancer.
Buku ini memberikan saya waktu untuk mempelajari rasa sakit. Tanpa perlu kehilangan akal untuk menyadari dan memeriksa keadaan sekitar. Ia menjadi lapisan demi lapisan yang membongkar ragam peristiwa lebih dalam.