Waktu SD dulu, sekolah saya mewajibkan semua muridnya shalat dzuhur berjamaah. Muadzinnya murid-murid sendiri, bergantian setiap hari, sehingga ajang ini kadang menjadi ajang 'pamer' atau malah ajang mempermalukan diri. Waktu itu saya sempat mengeluh (kepada ibu saya sendiri sih) kenapa yang dapat tugas adzan hanya anak-anak lelaki. Padahal, saya yakin saya bisa melantunkan adzan dengan lebih baik dibanding sebagian anak lelaki yang adzannya asal-asalan atau malah bikin telinga sakit. Alhasil saya sering adzan keras-keras sendiri di rumah, melampiaskan hasrat yang tak tersalurkan di sekolah.
Begitu pula saat mulai tarawih di masjid kompleks. Dulu masjidnya kecil, tidak cukup menampung banyak orang, sehingga jamaah perempuan harus shalat di luar. Saya juga bertanya ke ibu saya, kok bukannya laki-laki yang mengalah, tapi ibu-ibu yang harus di luar. Saya sih senang-senang saja, soalnya di luar banyak angin dan gampang kalau mau jajan atau...kabur pulang sebelum tarawih selesai.
Semua itu akhirnya membuat saya mengerti bahwa ada 'perbedaan' antara perempuan dan laki-laki dalam Islam. Perbedaan yang tidak selalu saya sepakati, walaupun saya menyikapinya hanya sebatas memberondong orangtua saya dengan pertanyaan, begitu pula guru ngaji saya. Walaupun jawaban mereka tidak semua memuaskan, saya memilih untuk tidak rewel dan memutuskan untuk memegang sendiri sejumlah keyakinan saya, yang mungkin tidak semuanya sesuai dengan pelajaran dari guru agama atau guru mengaji saya.
Nah, membaca buku ini, saya kembali teringat pertanyaan-pertanyaan saya itu. Bedanya, Julia memutuskan untuk ber'jihad', dalam arti, menyuarakan 'kegemasan'nya akan sejumlah ajaran dan praktik yang menurutnya tidak sesuai dengan azas keadilan gender. Baik melalui tulisan, maupun aksi nyata yang dia lakukan di berbagai daerah, komunitas perempuan, sampai bicara di forum-forum internasional.
Saya menyukai tulisan-tulisan Julia karena dia jujur, dan tidak ragu-ragu menyinggung berbagai hal yang menurutnya perlu disinggung. Bukan hanya masalah gender dalam Islam, tapi juga wilayah politik, ekonomi, lingkungan, kesehatan, sampai keprihatinannya pada revolusi mahasiswa yang selalu ditunggangi.
Mengenai hujatan terhadap sastra perempuan misalnya, dia berkata: Lebih mudah mengkritik penulis sastra wangi daripada mengembangkan aliran sastra alternatif yang dapat bersaing untuk mendapatkan pembaca di pasar bebas.
Begitu pula mengenai kebebasan perempuan untuk memilih suami, yang sebenarnya sudah dimulai oleh Khadijah saat melamar Nabi Muhammad SAW, dan kemudian menjadi sahabat dan penasihat Nabi paling terpercaya. Termasuk ketika Khadijah dengan yakin memercayai Nabi yang mengaku menerima wahyu: Ini baru yang disebut percaya dan yakin pada suami! Bayangkan kalau ia mengatakan, "Ah, masa sih?" Meski secara halus sekalipun, sejarah dan perkembangan Islam tentunya akan sangat berbeda.
Atau tentang kebiasaan orang Indonesia yang begitu bebas dan lancar berbicara tentang seks dan fungsi tubuh lainnya, bahkan di pertemua resmi sekalipun. Namun dia berharap kebiasaan itu tidak hilang, karena betapa membosankannya jika sebuah pertemuan hanya diisi dengan pembicaraan tentang cuaca dan binatang peliharaan seperti yang dia alami selama tinggal di London.
Masih banyak pemikirannya yang menarik untuk disimak, seperti kritik kerasnya terhadap RA Kartini yang menurutnya sama sekali bukan feminis, atau tentang Gus Dur yang dia anggap tidak pantas diberi gelar pahlawan. Terlepas dari klaim 'feminis pertama' yang mungkin akan mengundang banyak pertanyaan, namun membaca buku ini seperti tengah mengeluarkan unek-unek saya sendiri, tentang berbagai persoalan di negeri ini. Mungkin tidak berbeda dari unek-unek jutaan masyarakat Indonesia lainnya, namun tidak semua orang bisa menuliskannya seperti Julia.
Dalam hal keyakinan beragama, Julia juga tidak ragu mengakui bahwa menurutnya yang paling penting adalah kepasrahan kepada Tuhan, bukan bungkus seperti busana muslim atau ritual rutin. Dalam hal ini, mungkin banyak yang akan mengkritik pandangannya. Itu sebabnya Komaruddin Hidayat, dalam kata pengantarnya mengatakan: Siapa pun bebas mengambil sikap berseberangan dengan hal-hal yang ditulis Julia dalam buku ini. Ia sendiri tidak alergi dan menantikan 'serangan-serangan' terhadap pandangannya karena perbedaan adalah sebuah anugerah.
Permasalahan bagi sebagian besar kita (umat Islam) tampaknya adalah kita masih gagap dalam menyatukan antara Islam dan modernisme. Ada yang melihat Islam melalui modernisme dan ada pula yang melihat modernisme melalui Islam. Permasalahan yang mendasar dari keduanya adalah bisa jadi kita hanya paham salah satunya atau bisa jadi juga tidak paham keduanya. Tanpa pemahaman yang betul dan menyeluruh atas keduanya, maka pemahaman dan penyatuan adalah hal yang sulit untuk dicapai.
Julia, saya pikir adalah yang pertama. Ia mencoba melihat Islam melalui kacamata modernitas yang mengambil bentuk feminisme. Dalam tulisan-tulisannya, saya melihat ada kekurangannya dalam memahami sejarah Indonesia, terutama dalam memahami suasana zaman tersebut. Kadang saya juga merasa dia hanya ingin terlihat berbeda dan dicap sebagai pemberontak tanpa mencoba melihat apa yang ada di baliknya. Saya melihat ada hal-hal yang tidak konsisten juga dalam dirinya, misalnya ketika ia mengkritik Kartini sebagai pahlawan emansipasi (dan kurangnya negara dalam memberi penghargaan kepada pahlawan wanita lainnya) tapi melabeli dirinya sebagai salah satu feminis pertama di Indonesia. Atau hal lain misalnya soal demokrasi dan keotoriteran.
Saya sesungguhnya mengernyit ketika ia mengambil beberapa konsep lalu mengaitkannya dengan konsep yang lain yang dianggap sama. Misalnya saja ketika ia berbicara soal keadilan, tampaknya ia menganggap konsep itu sama di seluruh dunia. Padahal apakah konsep adil di dalam Islam sama dengan konsep "justice" yang dirumuskan Barat? Belum lagi konsep adil di dalam Bahasa Indonesia sendiri. Seperti apakah konsepnya? Begitupun dengan konsep Islam dan Tuhan. Tampaknya ia yakin konsep Tuhan dan Islam yang dia yakini (yang tampaknya lekat sekali dengan konsep Islam dan Tuhan yang diyakini oleh Barat) sama dengan konsep Tuhan dan Islam di dalam tradisi keilmuan Islam. Konsep-konsep lainnya seperti feminisme, hak, atau demokrasi yang dia anut juga tidak tampak terang buat saya.
Jika dalam tulisannya dia (seingat saya) menyinggung bagaimana kita hanya melihat kulit luarnya, maka dalam beberapa hal saya juga melihat ia pun hanya melihat kulit luarnya saja, tidak sampai ke sebab apa yang ada di baliknya. Saya melihat dia memang cukup atraktif menggunakan kata-kata dan istilah, meski saya ragu apakah istilah yang digunakannya memiliki kesamaan definisi dengan pembacanya atau dengan yang lainnya. Dia juga gemar melakukan pernyataan-pernyataan yang secara historis masih perlu dipertanyakan, selain soal feminis pertama itu, saya juga agak terhenyak ketika dia mengklaim bahwa orang Indonesia secara naluriah menganggap kecinaan dan keislaman tidak nyambung.
Jadi, bagaimana ceritanya saya bisa sampai tersasar ke buku ini? Itu karena awalnya saya sedang melihat-lihat buku di iPusnas dan iseng-iseng saya masuk ke bagian filsafat. Lalu, saya menemukan buku ini di antara buku-buku filsafat lainnya, meski setelah membacanya saya ragu apakah buku ini pantas masuk ke dalam genre filsafat.
Beberapa tahun yang lalu saya memang sempat melihat buku ini di kantor saya dulu. Saya hanya melihat-lihat tanpa membacanya, karena biasanya baca karya feminis itu bikin saya gerah. Dulu, radar saya akan menyala terus-terusan ketika melihat ada yang aneh dalam tulisan-tulisan mereka, tapi saya tidak dapat menemukan apa yang sesungguhnya mengganjal saya. Seiring berjalannya waktu (dengan tambahan ilmu dan diskusi dengan orang banyak), saya mulai bisa membaca karya-karya seperti itu dan mulai bisa menunjuk hal-hal yang membuat saya tidak nyaman. Namun, itu tidak berarti tidak ada hal baik dan kebenaran yang bisa diambil dari karya-karya seperti itu, termasum karya Julia ini. Kan, seperti kata dia di awal, kebenaran itu bisa diambil dari siapa saja, termasuk dari musuh kita sendiri. Tapi tentu saja saya nggak nganggap dia musuh, wong kenal saja nggak!
'Mengenal' dan kemudian (sangat) menyukai Julia Suryakusuma lewat buku Agama, Seks, dan Kekuasaan dan Ibuisme Negara, lalu agak kaget ketika membaca buku ini. Tak seperti pandangan dan pemikirannya yang 'lincah' dan cerdik di dua buku yang saya sebutkan di atas, opini-opininya di buku ini seperti seorang yang mengamati realita dari atas menara gading dengan segala kejut-kulturnya. Dan berhubung saya pribadi cukup sebal dengan orang-orang yang memproklamirkan cap pada dirinya sendiri, personally pernyataan ke-aku-an Julia di buku ini juga cukup mengganggu. Misalnya saja: "Sebagai salah satu feminis pertama di Indonesia, aku...", yang menurutku pfffffftttttt sekali. Saya sebenarnya curiga kalau sepertinya saya lebih menikmati opini-opini Julia ketika tersaji dalam bahasa Inggris, sebagaimana saya menikmati tulisan-tulisannya di Jakarta Post. Agak menyesal karena saya malah lebih memilih untuk membeli buku yang ini ketimbang Jihad's Julia dari penerbit sebelah. Hehehe.
Isinya berupa esai dari pemikiran islam kontemporer yang cenderung liberal. Yang pasti banyak hal yang tidak sepaham, tetapi tetap buku ini merupakan bacaan yang menarik plus menggunakan bahasa yang enak. Sedikit banyak bisa membuat saya memandang pemahaman Islam dari sudut pandang yang lain.
Buku ini terbit di tahun 2010 dan baru saya baca sekarang. Itu berarti sangat telat bagi saya baru membacanya sekarang. Apalagi buku ini merupakan kumpulan tulisan Julia yang terserak di The Jakarta Post dan Tempo English di medio 2005--2009 kalau tidak salah. Jadi, beberapa argumennya atau isu yang ia angkat sudah usang jika dibaca sekarang. Namun, hal itu bukan masalah. Saya tetap berminat untuk membaca tulisan dari seseorang yang mendaku dirinya sebagai salah seorang feminis pertama di Indonesia.
Tetapi, tunggu dulu... Membaca pernyataan self-proclaimed itu saja sudah membuat saya mengernyitkan dahi. Apa perempuan-perempuan sebelum Julia yang peduli dengan isu perempuan dan berjuang untuk kesetaraan gender tidak bisa dianggap feminis? Apa karena perempuan-perempuan itu belum melabeli diri mereka sebagai feminis maka mereka tidak dianggap sebagai feminis? Entahlah, tetapi sungguh saya jadi penasaran apa yang menjadi landasan Julia menyebut dirinya sebagai feminis pertama di Indonesia. Mohon maaf sebelumnya, tetapi dengan klaimnya itu saya justru melihatnya Julia seperti orang yang sombong, merasa paling senior, dan ia seperti grandeur.
Tulisan-tulisan Julia mencakup beragam topik. Tidak hanya feminisme, melainkan juga tentang Islam, politik, kesehatan, alam, dan lain-lain. Ada beberapa dari tulisannya yang saya sepakat, seperti tentang pentingnya kita untuk kritis terhadap hadis-hadis yang misoginis, tentang hukum waris yang dianggap memang tidak adil untuk perempuan, dan kritikan-kritikannya terhadap pemerintah. Kemudian, saya membaca kritikannya terhadap Kartini, lalu puja-pujinya pada Margaret Tatcher dan Sri Mulyani. Saya merasa Julia bias dan tidak paham konteks.
Sejujurnya, saya cukup kaget membaca esai-esai Julia di buku ini. Kok bisa lolos masuk The Jakarta Post dan Tempo English ya? Saya tidak begitu melihat argumennya, yang katanya, kritis dan jenaka itu. Tulisannya seperti untuk blog personal atau untuk media daring yang belum begitu besar. Sampai-sampai saya berkelakar ke Meutia, "Kalau gaya menulisnya seperti ini sih, aku juga bisa." Tetapi, barangkali ini bisa juga karena pengaruh dari terjemahan. Entah juga ya. Karena saya belum pernah membaca esai Julia yang ditulis di dalam bahasa Inggris untuk i>The Jakarta Post dan Tempo English, jadi saya tidak bisa membandingkan.
Oh, dan melabeli buku ini sebagai buku Filsafat Islam kok rasanya tidak sesuai ya. Kurang pas. Dan embel-embel Filsafat Islam itu rasanya berat sekali untuk dipikul oleh buku kumpulan esai yang isinya tidak banyak membahas tentang Filsafat Islam itu sendiri.
This collection of essays written by Julia Suryakusuma, a columnist for The Jakarta Post, made me think: all of you moderate and educated Indonesian Muslim women like Julia, maybe we will never read news about harassment of women. Or how unfair the various regulations are towards women (e.g. virginity tests to enter school? Stupid misogynistic idea) in Indonesia.
"Julia's Jihad" contains a collection of essays by Julia in The Jakarta Post and the English editions of Tempo. She writes on religion, politics, and society. With a crisp and easy-to-read writing style, for example, recounting her first personal experience, then relating it to various political stupidities of policymakers and how the people end up being the victims. Some people will say the essay needs to be longer and provide more in-depth solutions. Of course not, because this is for a column, not a scientific paper.
At least Julia Suryakusuma is my ideal figure for how (Muslim) mothers in Indonesia should be: not giving in to circumstances and not surrendering to discriminatory dogmas. Muslim women must be critical. Let's write Muslim women!
I bought this book in Bandung Book Fest 2018. Actually i didn't know what book this is. But when i looked to the cover, it is written "The Jakarta Post" & "Komunitas Bambu", so i didn't take a long time to purcase the book.
Julia's Jihad was taken from columns of The Jakarta Post newspaper from 2006 until 2013 that written by Julia Suryakusuma, a columnist & feminist of Indonesia. The book discussed wide aspects like social, political issues, gender equality, religious phenomenon in Indonesia, cultural comparisons, humanity, health, the history of the nation, even sex & "cebok"!
The interesting of this book is how Julia explained the issue in detail, full of new informations & begun the discussion of issues in every chapter/column by telling us her past story that correlated to the issue.
Although i don't agree with her perspectives in several issues, i think this book is a great book to read, especially for Indonesian, because so many knowledges & facts that we can gain & make us realize/think that problems are surrounding us & most of them hasn't solved yet. :))
"Why are people so uptight about nudity and sex, censoring it at every turn, yet so promiscuous about violence, which is truly vulgar and obscene?... We live in a world that glorifies violence, but if we glorified sex coupled with spirituality instead, we'd be all much better off."
"Morality comes from within. We live in a world fraught with temptation -- not just sexual ones -- so better start pumping your morality muscle!... Those who need guns to convert people to their belief probably don't even believe in God, because if they did they'd trust in Her alone to do the job. Would that not be the logical conclusion?"
The brilliant Julia Suryakusuma provides great insights about Indonesian realities particularly the sexuality which always is intersected with norms and religion. In this book, Julia deals with the issues and contradictions in her own witty, humorist and often cynical ways. It is definitely a great book worth reading.
Kumpulan tulisan yang bagus perihal gender, politik, lingkungan, ekonomi, dan kaitannya dengan laku beragama. Banyak wawasan yang kuperoleh, membuatku ingin tahu lebih lanjut tentang topik-topik yang ditulis. Beberapa judul esai yang menarik: (1) Seni Percakapan ala Indonesia, (2) Di Antara Keluarga "Benar" dan "Sesat", (3) Indonesia Negara Kanibal, (4) Sejarahku, Sejarahmu, Sejarah Siapa?, (5) Linglung Soal Lingkungan, (6) Menghujat, Atas Nama Tuhan. Hanya sedikit terganggu dengan "feminis pertama di Indonesia" hehe.
Having spent a majority of my adult life abroad, i was ignorant to the politics and historical events over the past decade. After reading Julia's Jihad, I became more aware of the outcasts and socially silenced past of my own country, Indonesia. The book provides a unique perspective on social deviancy and life stories from the general public. It also sheds light on the tendency to overlook the implication of new policies on the outliers of society
A voice very needed in Indonesia! A feministic rule model; so sharp and clever. Thank you, Julia! Three takeaways: (1) “I believe a lot in God but not much in religion” (2) “So many people are totally confused about what is religion and what is tradition” (3) “Rape is a crime of violence, not passion”.
A critical of spirituality encoutered in Julia’s surrounding and her experience as a muslim and feminist is sureal, yet wrapped in a witty sarcastic, very blantant article light to digest, tho the topic is heavy and ironic that after 10 years Indonesia political situation didn’t seem had a progress and still very much relatable with our current situation now, a must read!!
Merupakan himpunan artikel penulis di beberapa laman web dan majalah. Saya tidak menghabiskan semua bacaan dalam buku ini, kerana lebih tertarik untuk membaca sesebuah bab sahaja. Tapi, ada pendapat penulis yang saya tidak setuju seperti dalam bab Ayam Halal... mungkin kita berbeza pendirian. Walaubagaimanapun, saya juga terfikir, yang kita seharusnya menghormati pemberian orang.
Saya lebih tertarik dengan bab yang ada perkataan 'perempuan'. Haha. Mungkin kerana saya teruja untuk membaca pandangan penulis sebagai seorang yang digelar feminist. Menarik juga kerana saya mengulangkaji kembali tentang pembahagian harta dalam Islam selepas membaca tulisan dalam buku ini. Dan ternyata, pandangan penulis tentang situasi sahabatnya itu tepat. Masih lagi saya teringat akan nasihatnya, biarlah Tuhan yang menunjukkan keadilannya.
Satu lagi bab yang saya suka apabila penulis menceritakan tentang kakeknya yang diancam bunuh oleh saudaranya, Hermaen: Tapi kakekku adalah tipe cowok yang berperangai sejuk dan damai. Dengan tenang ia berkata kepada Hermaen, “Apa pun kepercayaanmu, apakah kamu tidak takut dosa membunuh kakakmu sendiri?”
Selain itu, isu pekerja imigran dan realiti keluarga di Indonesia dalam artikel Perempuan Siang & Perempuan Malam juga wajar kita renungkan bersama. Ternyata, gagasan Soekarno untuk melihat negeri Indonesia merdeka tidak lagi akan menjadi “negara kuli, dan kuli di antara negara-negara” masih belum tercapai.
Akhir sekali, saya juga tak sangka penulis menyelitkan sesebuah isu kritis dalam artikel yang bertajuk ringan seperti 'Bagaimana Caranya Tidak Menghamili Isterimu'. Awalnya agak kelakar tapi akhirya penulis mengkritik akar permasalahan dalam masyarakatnya seperti isu pencegahan rasuah.
Saya akan terus membaca artikel lain dalam buku ini di kesempatan lain. Tapi, first impression saya agak memuaskan.
kayanya sih biasa aja ya, ngga sepatriotis ulasannya di pojok kanan atas laman tentang buku ini. Tulisannya mengenai curhat, ide dan gagasan seorang wanita muslimah (mba Julia-nya sendiri) yang tidak mau keimanannya dinilai dari penampilan semata atau hal-hal yang bersifat kulit (menurutnya).
tapi kebanyakan dari pendapatnya sih saya akur-akur aja. Kecuali penggunaan kata "jihad" di judulnya, kayanya agak sedikit terlalu bombastis. just my two cents :D
Julia mungkin merupakan akademisi feminis yang paling berpengaruh di Indonesia. Tulisan-tulisannya dikutip oleh hampir semua artikel, jurnal, dan buku yang menyinggung topik perempuan di Indonesia.
Tapi di sini ia tidak menulis sebagai seorang akademisi, melainkan hanya sebagai perempuan dalam berkehidupan sehari-hari.
Julia's writing is always dazzling, her columns in Indonesian New media always bring us to the real story of our day to day life. Her savvy composing the words is her strength, it feels good to have this book once we miss her previous colomns!
Aku menikmati kritik dan opininya tentang diskriminasi gender,politik dan semuanya deh kecuali beberapa hal tentang islam yang sifatnya ushuli, terlalu serampangan.