Maya memasuki dunia yang berbeda dengan dunia yang dikenalnya selama ini. Di Kaguya’s Corner, ia belajar bekerja. Bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Dari mulai pemilik kafe, juru masak, karyawan lainnya hingga pengunjung kafe.
Setiap hari adalah pengalaman baru. Setiap menu yang tersaji menyimpan episode ceritanya sendiri.Terutama menu Takoyaki Soulmate yang menjadi andalan Kaguya’s Corner. Ada cerita sukacita, duka, persahabatan, dan juga cinta. Membuat meringis, tersenyum, bahkan tertawa lebar. Terutama bila berhasil menjadi “Tweet of the Week”. Siap menjadi tempat persinggahan untuk melepas lelah atau menjalin cerita. Terutama untuk menikmati seporsi Takoyaki Soulmate!
Seriously, it's just okay. Selesai baca, saya bingung. Ini saja? Konfliknya mana? Klimaksnya mana? Cerita di buku ini benar-benar sekedar penuturan tentang hari-hari si pemeran utama tanpa masalah berarti. Semacam slice-of-life, saya rasa. Sayangnya novel ini terasa antiklimaks, padahal biasanya saya tidak pernah merasakan kesan yang sama terhadap genre ini. Memang ada satu bagian yang berpotensi menjadi konflik cerita, tapi sayangnya tidak dibahas dengan lebih dalam dan tahu-tahu sudah selesai. Begitu saja. Narator, dan otomatis pembaca juga, tidak sadar bahwa masalahnya sudah dan sedang terjadi--entah kapan mulainya--dan tidak tahu bahwa ternyata sudah selesai pula.
Walau begitu, saya pikir ini bacaan ringan yang tidak jelek juga. Suasana yang dibangun terasa nyaman, tokoh-tokohnya cukup menyenangkan, dan tidak adanya tarikan emosi membuat proses membaca terasa santai. Menu-menu yang ada di buku juga menarik hati, ada fotonya pula!
Bacaan ringan yang cukup menyegarkan. Minim konflik, hanya slice of life; tipe-tipe buku pelepas penat yang lagi saya cari. Meskipun kekurangan buku ini adalah kurangnya deskripsi, but penokohan (ada ciri khas yang membuat mereka memorable) dan jalan ceritanya cukup oke. Saya jadi pingin makan takoyaki-
Manis, ringan, dan lucu, pas dengan yang sedang kubutuhkan sekarang.
Takoyaki Soulmate bercerita tentang si tokoh utama, Maya, yang sedang menghabiskan waktu liburannya dengan bekerja paruh waktu di kafe bernama Kaguya's Corner. Takoyaki Soulmate sendiri adalah nama salah satu menu di kafe tersebut.
Aku cukup suka dengan ide cerita ini. Selain menambah wawasan baru tentang makanan-makanan Jepang, di bagian akhir setiap bab buku ini disisipkan foto makanan yang menjadi fokus bab tersebut sehingga dapat membuat pembaca lapar. Aku bakal bohong kalau bilang perutku nggak berbunyi tiap baca buku ini karena yah... fokus buku ini saja makanan. Selain itu, ide tentang Kaguya's Corner ini cukup unik. Aku rasa penulis cukup kreatif dengan menciptakan kafe yang bukan hanya menjual berbagai makanan Jepang saja, tetapi juga ide tentang kertas pesan dan segalanya yang menurutku sangat keren.
Selain itu, tokoh-tokoh di cerita ini juga lucu-lucu. Nggak jarang aku tertawa gara-gara omongan dan candaan mereka. Dialognya juga cukup natural walau menggunakan bahasa nonbaku. Beberapa dialog memang terasa kurang sreg, tapi aku akan tetap kasih poin untuk penulisannya.
Hal lain yang aku sukai dari buku ini adalah latarnya. Buku ini memang terbit tahun 2013-an, masa-masa di mana media sosial seperti Instagram belum seeksis sekarang. Buku ini membawaku kembali ke tahun-tahun itu karena para tokoh masih menggunakan aplikasi BBM yang saat itu jauh lebih populer daripada WhatsApp. Mereka juga menggunakan Twitter, dan karena aku pribadi juga masih menggunakannya, rasanya memang tidak se-"wah" itu walau tetap membuatku seperti sedang dibawa ke tahun 2013-an.
Di sisi lain, aku rasa buku ini cukup menyia-nyiakan kesempatan. Buku ini nggak memiliki konflik dan klimaks yang dapat membuat pembaca menjadi tegang atau bersemangat. Bisa dibilang konflik yang ada cukup minim sehingga aku kurang tahu bisa dibilang sebagai konflik atau nggak. Si tokoh utama, Maya, masih beradaptasi (?) dengan perceraian orang tuanya dan sempat bermonolog tentang hal tersebut, dan aku rasa ini bisa dibilang sebagai inner conflict walau nggak jadi fokusnya banget. Selain itu, ada masalah lain di pertengahan buku yang bisa dibilang konflik, sih, walau nggak terlalu "wah".
Selain masalah konflik, ada beberapa penulisan tanda baca di buku ini yang kurang mengenakan buat aku. Entah karena terasa aneh atau yang lain, pokoknya kurang mengenakan.
Maka dari itu, aku akan beri buku ini 3 bintang. Buku ini tepat untuk kalian yang mau baca sesuatu yang ringan, tipis, dan bisa membuat perut keroncongan.
Iseng pinjem ke perpus sekolahan, ternyata seseru itu bukunya 😁 Menceritakan tentang tokoh Maya yang bekerja sambilan selama libur kuliah di Kaguya's Corner. Selama bekerja di sana, Maya mendapatkan banyak pengalaman. Dia bisa mengenal pegawai Kaguya dan pelanggan yang berbeda-beda karakternya.
Kaguya's Corner juga mempunyai menu makanan Jepang yang bermacam-macam, seperti Okonomiyaki, Dorayaki, Sushi dan yang paling menarik dari semua menu yaitu Takoyaki Soulmate. Pelanggan yang memesan menu Takoyaki Soulmate ini bisa menulis pesan bijak di kertas kecil ,yang nantinya itu akan dipajang di papan restoran tersebut, serta diikutsertakan dalam "Tweet of The Week".
Ini pertama kali saya membaca tulisan Erlita Pratiwi. Saya bahkan belum pernah mendengar nama beliau sebelumnya. No offense. But that’s the truth. :)
novelnya pun sudah lama di tangan saya, mungkin sudah sekitar 3-4 bulan, tapi keinginan saya membaca Takoyaki Soulmate selalu dikalahkan dengan rasa malas. Saat ingin memulai membaca, seketika itu juga perhatian saya dicuri oleh keberadaan novel lain. Begitu terus sampe suatu hari saya mendapati heboh-heboh di linimasa. Sesaat saya kemudian terpekur, nih novel bagus kali ya, sampe ada kontes review-nya gitu. Maka tergeraklah saya mengalahkan rasa malas & memulai membuka plastiknya kemudian membaca halaman demi halaman.
Saya adalah jenis orang yang kalo sudah jatuh cinta sama tulisan seorang penulis, saya gak akan ragu untuk membeli karya-karya berikutnya. Nah, karena ini pengalaman pertama saya membaca tulisan mbak Erlita Pratiwi, tentunya saya tidak punya ekspektasi apa-apa , saya bahkan belum tahu novel ini genre apa. Jadi pas membaca pun rasanya ngalir aja gitu karena belum ada perbandingan dengan tulisan terdahulu. Saya tertarik membaca novelnya hanya karena nama tokohnya sama dengan namaku. Iya, sedangkal itu. Hehehe. Eh, tapi saya juga tertarik karena ‘berbau’ Jepang. Saya selalu tertarik dengan tokoh Indonesia yang jatuh cinta dengan orang Jepang. Ataupun sebaliknya.
Well, Takoyaki Soulmate tergolong genre teenlit. Dengan tokoh utama, Maya, saya perkirakan berumur sekitar 19 atau 20 tahun (tidak disebutkan spesifik), yang orang tuanya baru saja memutuskan untuk berpisah. Merasa sedih dengan keputusan orang tuanya, liburan semester ia isi dengan bekerja paruh waktu di sebuah kafe berbau Jepang bernama Kaguya’s Corner. Nah, di kafe itulah petualangan baru dalam hidup Maya dimulai. Disana ia belajar berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarga dan sahabat-sahabatnya yang selama ini setia di sampingnya. Istilah kerennya, Maya berusaha lepas dari ‘zona nyaman’ kemudian berinteraksi dengan rekan kerja yang tingkahnya bermacam-macam. Mulai dari yang baik hati, rese, jahil sampai atasan yang galak dan tegas. Tapi ia menikmati itu setiap harinya.
Sebenarnya alasan utama Maya bekerja paruh waktu adalah ingin menghindari ketiga sahabatnya. setelah perpisahan kedua orang tuanya, ia seolah menghindari dunia karena merasa malu dengan keadaannya yang broken home. Merasa malu menatap dunia karena keadaannya yang sekarang ‘berbeda’ dengan ketiga sahabatnya. ^^
Tentang novel ini, jujur aja, awalnya aku nggak berekspektasi banyak. Karena akhir-akhir ini lagi banyak novel bertema Jepang atau Korea, bawaannya jadi males aja gitu kalo liat novel-novel bertema itu. Tapi, aku mulai tertarik buat baca ini gara-gara baca review Mbak Luckty di blognya. (sebetulnya mau dapetin giveaway, tapi karena nggak dapet, jadi beli sendiri deh)
Penilaianku buat novel ini sendiri, sebetulnya temanya nggak spesial. Nggak ada masalah yang 'wow', klimaksnya juga biasa aja. Nah, terus kok aku kasih 4 bintang?
Tema dan masalahnya emang biasa banget, bukan jenis novel yang bisa bikin penasaran. Tapi, aku suka quote-quote nya, suka karakter-karakternya, suka makanan-makanan di dalamnya, dan terutama Budi! Hahaha.... Suka banget sama satu karakter itu. Unik!
Kurang suka sih penggambaran betapa di sekitar Maya banyak berseliweran cowok cakep (hahaha). Tapi karena nggak fokus ke romance, jadi rasanya nggak masalah. Favoritku sih, tiap karakternya punya ciri khas tersendiri. Jadi bawaannya pengin ngakak aja tiap baca interaksi mereka.
Intinya sih, novel ini asyik banget dibaca saat butuh bacaan ringan yang bisa bikin ketawa dan bacanya nggak perlu mikir. :D
Hadiah dari Majalah Story, yang langsung habis dibaca sehari :D
Bercerita tentang Maya dan cafe tempatnya bekerja paruh waktu, Kaguya's Corner. Teman-teman pegawai lain yang lucu-lucu, pelanggan=pelanggan setia yang seru, serta makanan-makanan dengan nama yang unik bikin kerja di Kaguya's Corner jadi asik banget. Aku juga mau dong, makanannya maksudnya, bukan kerjanya Masing-masing bab menceritakan satu jenis makanan Jepang yang jadi menu di cafe ini. Di akhir babnya, dihiasi foto makanan tersebut. Menu paling spesial? Ada Takoyaki Soulmate, setiap pembeliannya bisa dapet kertas yang bisa ditulisin pesan dan ditempel di papan kata.promosi nih ceritanyee
I like quotes on those message papers btw :)
Novel ini cocok buat kamu-kamu yang lagi nyari bacaan ringan. 3 stars given! :))
ceritanya keren! Novel teenlit ga melulu tentang cinta-cintaan. Banyak quotes2 menarik, dan ngebuat kita melihat suatu masalah gak dari sisi negatifnya aja
Ceritanya cukup seru. Makanan-makanannya juga menarik, apalagi pengunjung bisa menuliskan pesan dan berkesempatan memenangkan hadiah yang dikirim langsung dari Jepang.
Maya memutuskan bekerja sampingan di waktu liburannya di Kaguya's Corner sebagai waitress karena orangtuanya bercerai, menjauh dari ketiga sahabatnya. Disana dia bertemu cowok-cowok yang oh-so-hot, dari mulai Jagat Raya, Bintang Langit, sampe Budi sang playboy, yang entah mengapa semakin sering mendekatinya.
Budi, seolah selalu mengerti apa yang dipikirkan Alana. Saat Budi memberikan kokeshi yang didapatnya dari memenangkan pesan paling soulmate kepada Alana, so sweet banget.