Ketika doanya di Raudhah Asy-Syarifah tak terkabulkan, hati Seyla hancur berkeping-keping. Zen yang diharapkan menjadi suaminya kelak, lebih memilih Lila dengan alasan yang sulit dimengerti Seyla. Demi menata kembali hatinya, Seyla memutuskan hijrah ke Kota Groningen.
Di Kota yang jauh lebih modern inilah, Seyla menemukan bermacam cinta dalam berbagai rupa. Hingga Seyla terseret arus pesona seorang pangeran bermata teduh bernama Karl van Veldhuisen. Namun kenyataan pahit kembali menghadang cinta Seyla. Karl telah bertunangan dengan Constance Martina du Barry.
Beranikah Seyla merebut hati Karl seperti halnya Lila yang merampas Zen darinya? Akankah Seyla menghujat Sang Khalik yang memupuskan harapan cintany setelah dia sengaja berdoa di tempat suci itu? Benarkah ujian cinta terberat adalah keimanan kita?
Kisah cinta Seyla digulir secara menarik oleh Sinta Yudisia. Pembaca tidak hanya diajak mencicipi keagungan cinta, tapi juga merasakan kesucian Kota Makkah serta keindahan Kota Groningen.
Penulis asal daerah poci Tegal ini, punya nama lengkap Sinta Yudisia Wisudanti. Penulis pernah kuliah di STAN Jakarta sampai tingkat II, mengaku aktivitas tulis menulisnya sebagai bentuk penyaluran dari hobinya berkorespondensi dan membaca. Tak heran kalau tulisan-tulisan fiksinya sangat beragam mulai melodrama, komedi, science fiction, historical fiction, sampai cerita-cerita perjuangan dengan latar dalam dan luar negeri yang kerap menghiasi berbagai media cetak, terutama majalah Annida.
Mencintai dan menikah adalah dua hal yang berbeda. Kamu boleh mencintai siapa saja, tapi tak boleh menikah dengan sembarang orang. Cinta hanya melibatkan orang2 yang bersangkutan. Pernikahan lebih rumit lagi karena melibatkan dua keluarga besar, dua karakter, dua latar belakang, dua daerah, bahkan dua negara. Hal. 199
Liefde is mooi maar ook mysterieus. Cinta itu indah sekaligus misterius. Hal 210
Senyum perih di wajah orang-orang yang mencoba bangkit dengan apa yang tersisa pada mereka, mengingatkan sebagian besar manusia bahwa menghancurkan sesuatu cukup memerlukan waktu sehari, tapi membangunnya kembali memerlukan waktu berpuluh tahun. Mungkin, sepanjang hayat. Tidak ada yang lebih mengagumkan daripada menyaksikan orang-orang berjiwa besar yang mencoba tidak mendendam pada siapapun. Hal. 269
Kamu boleh percaya sama orang lain, tapi jangan menggantungkan hidup kepadanya. Kalau bukan sekarang, suatu saat kita pasti berpisah juga. Hal 299
Kamu pikir, orang yang tidak berani menghadapi hidup akan berani menghadapi kematian?
Bahwa cinta dan maaf bisa dipelajari, bila memang demikian takdir yang harus dijalani. Hal 332
Isi novelnya ngga terlalu gimana2 sih. Yaa ada beberapa part yg terlalu mudah didramakan. Jadi, seolah hidup se begitu simpel buat ketemu pangeran dan cinderella. Ada juga part akhir yg aku kira ada bagian yg aku keskip bacanya. Sampe2 aku baca ulang 1-2 halaman sebelumnya. Dan ternyata emang ngga sesurprise itu.
Yg aku suka dari novel ini bagian pesan2 tersirat maupun kata2 tersuratnya. Juga pelajaran bahwa seindah-indahnya kehidupan seorang raja dan ratu, ternyata tidak mampu menjamin sebuah kebahagiaan. Pun sebaliknya. Kehidupan seorang Kurnia yg biasa2 aja ini, dikasih waktu buat baca buku dan main games aja udah bisa bahagia banget tanpa perlu jalan2 ke mana gitu. Kalo menurut aku, jalan2 itu yg penting bukan cuma ke mananya. Tp lebih kepada dengan siapanya. Kok jadi bahas aku yg ngga seberapa ini? 😂
Back to novel. Aku juga suka part yg mention ttg peperangan. Ini lebih kepada pesan untuk para pembaca agar lebih peduli dan banyak bersyukur sih. Juga pesan2 tentang agamanya. Daaan, ada beberapa part yg lagi2, ah sudahlah. I think you know what I mean if you know me so well, again 😂.
Buku yg udah lama banget kubaca, kalo ngga salah sekitar tahun 2007-an. Bukunya juga udah diadopsi sama perpus sekolahku. Entah kenapa jadi keinget lagi pas Trailer Filmnya mba Asma Nadia rilis. Eh, dulu emang lagi ngeHIts banget novel2 nuansa islami, dan buku ini unik menurutku karena storyline yg tidak biasa. Keren sih bisa ingat ceritanya sampai sejauh umurku ini, walaupun ngga semua scene. Good Book. 😊
it was ok. karena ceritanya sebenernya biasa aja. cewek yang patah hati terus pergi ke luar negeri. cuma beda latar dan tokoh tambahan. di belanda, ada pangeran dan putri belanda juga. nggak terlalu suka dengan tokoh utamanya.
Patah hati membawa Seyla meninggalkan Indonesia menuju Groningen, sebuah kota di negeri Belanda. Ketika tantenya, Tante Linda, yang bekerja di kedubes mengatakan ada beasiswa universitas, Seyla langsung mengambil kesempatan itu meski harus meninggalkan jurusan S1 Animasinya. Di Groningen, Seyla mengambil jurusan Seni lalu mengisi waktu dengan mengajarkan kerajinan membatik. Ia bersahabat dengan Judith dan Barbara. Hari-hari sibuk sayangnya tak langsung mengobati sakit hatinya saat Zen, sang kekasih, memutuskan menikah dengan perempuan lain bernama Lila atas perintah ibunya.
Saat itulah tak disangka Seyla terjebak dalam romansa ala negeri dongeng ketika Pangeran Karl dan Putri Constantine menjadi mahasiswa tamu di akademi. Wajah Seyla yang katanya mirip dengan kekasih rakyat jelata sang pangeran membuat pemuda itu tertarik mendekatinya. Namun, pernikahannya dengan sang puteri Belgia sudah ditetapkan oleh Parlemen. Seyla harus patah hati sekali lagi. Terlebih pihak pengawal kerajaan ternyata bisa menyadap komunikasi via dunia mayanya dengan Pangeran Karl.
Di tengah perasaan yang tidak menentu, Seyla berkenalan dengan perempuan Chechnya bernama Saule dari komunitas islam De Groomiest dan belajar kembali soal Islam. Saule digambarkan sebagai wanita yang dewasa dan ramah. Namun, ternyata ia pernah mengalami hal menyakitkan yang membuatnya jadi tidak bisa punya anak. Rahimnya diangkat setelah terjadi peristiwa yang menyebabkannya nyaris mati. Dalam sebuah pertempuran di Chechnya, ada peluru yang menembus pinggangnya, merobek luas hingga mengenai satu ginjal dan rahim. Seyla pun makin mengagumi Saule dan suaminya yang mau menikahi wanita tanpa rahim.
Waktu ketemu teman sabtu kemarin dikasih pinjam dua novel. Kata ‘Mekkah’ di salah satu cover novel itu sukses membuat saya menyingkirkan buku-buku yang lain yang berebut minta disentuh. Terlebih saat membaca cover belakang yang berisi sinopsis cerita yang ada kata-kata seperti ini : ‘Akankah Seyla menghujat sang Khalik yang memupuskan harapan cintanya setelah dia sengaja berdoa di tempat suci itu?’ kata-kata ini sukses membuat rasa penasaran sy berlipat ganda dan tak sabar untuk mengunyah novel ini sampai tak bersisa.
"tak seterusnya dunia berputar seperti yang kita kehendaki.. manusia sering salah memilih, maka mintalah padaNya yang terbaik"
Bercerita tentang Seyla, seorang gadis yang menjalin hubungan dengan Zen. Sewaktu berkesempatan untuk pergi umrah Seyla berdoa agar hubungannya dengan Zen kekal dalam sebuah ikatan. Namun, kenyataan tak seindah harapan. Zen akhirnya menikah dengan wanita pilihan ibunya.
"Para cowok tentu mau dijodohkan dengan gadis yang punya segala-galanya."
"Ada kalanya lebih baik kita menghadapi permasalahan kita sendiri tanpa orang lain. Terkadang orang yang yang kita harapkan bantuannya justru semakin menambah beban."
Seyla yang hancur berkeping-keping mengungsikan dirinya ke Groningen, Belanda. Di sinilah dia bertemu dengan seorang pangeran dari kerajaan Belanda, Karl van Veldhuisen. Karl ini sudah punya tunangan, tapi dia malah memberi perhatian istemewa terhadap Seyla.. yah.. namanya juga wanita. Di kasih perhatian sama cowok apalagi yang charming jadi kebat kebit ga karuan. Begitupun dengan Seyla. Walau dia tau betul kalau Karl sudah bertunangan dengan Contance Martina du Barry. So? Berhasilkan Seyla menjadi Cinderella? Hehe… Baca sendiri ajaaaa…
"Sepahit apapun kesendirianku sekarang, ini lebih baik daripada aku larut dalam khayalan tak pasti."
"Hal terbodoh yang dilakukan seorang wanita adalah mengharapkan seorang laki-laki yang jauh dari jangkauan."
Catatan saya tentang novel ini..
Tertarik dengan kata ‘Mekkah’, ternyata cerita tentang Tanah Suci Cuma ada di permulaan dan di akhir dan sedikit di tengah. Cerita tentang Groningen lebih mendominasi, tapi cara penulis menggambarkan suasana Tanah Suci dan juga luapan perasaan seseorang yang berkunjung ke sana sungguh menyentuh. Ada sedikit yang menurut saya janggal dalam cerita. Kalau dari cerita sih sepertinya Seyla bukan dari keluarga pas-pasan tapi kok milih biro perjalanan umrah yang ga menyediakan konsumsi buat para jamaahnya. Wakaka.. hal kecil gini kok dipermasalahkan yaa… :p
"Kita sering memusingkan seseorang yang tak peduli sama sekali pada diri kita, sementara masih ada orang-orang di sekililing yang mencintai kita."
Trus lagi, ada cerita dan sebuah pandangan tentang hubungan sesama jenis yang ditemui Seyla dialami oleh orang terdekatnya di Groningen. Cara mbak Sinta menggambarkan betapa bodohnya mereka ini sungguh cerdas. Begitupun dengan terselipnya cerita tentang peperangan, betapa kita sering terlupa mendoakan saudara2 qta yang jauh di mata yang berada dalam suasana perang. Whuaa… jadi ingat Palestina. Jadi ingat awal Juni di mana lagi heboh2nya berita tentang penyerangan kapal Mavi Marmara, sekarang udah redup ya? Yang dulu kompakan PP pakai bendera Palestina aja sekarang perlahan2 mulai terganti. Termasuk saya yang sibuk ngejar buku gratisan. Hiks. Semoga doa2 untuk mereka tak pernah terlupa ya. Yuk, saling mengingatkan.
Trus lagi (terus.. terus.. kayak tukang parker aja.. :p).. yang terakhir deh kali ini. Sekali lagi kata-kata yang pas buat menggambarkan beberapa bagian di novel ini adalah sebuah kalimat sakti ‘kebahagiaan itu letaknya di hati yang bersyukur’. Betapa kita sering melihat betapa bahagianya mereka yang terlahir dari keluarga kerajaan, berlimpah harta, kehormatan dan sanjungan. Tapi justru mereka yang berada di lingkaran itu iri luar biasa dengan rakyat jelata yang hidup bebas tanpa segala tetek bengek aturan protokoler istana.
"Tidak mungkin manusia memusuhi duka karena dia seperti sisi mata uang yang mengiringi sukacita. Kapankah kita merasakan nikmatnya kaya jika belum merasakan getirnya papa dan terhina? Kapan kita menghargai nikmat sehat bila belum pernah tergolek sakit tak berdaya? Kapan kita merasakan indahnya memiliki jika belum pernah merasakan sakitnya kehilangan?"
kata2 yang dalam tanda petik dimbil dari novel tersebut.. ^^
Cerita ini seputar patah hati, move on, persahabatan beda agama, dan arti sahabat sejati. Penulis berhasil menuliskannya secara komplek dalam buku ini. Tidak berlebihan, semua pada porsi yang pas. Paling penting, semua hal-hal kecil itu, sangat berkaitan dengan tumbuh kembangnya mental Seyla yang masih “buta” akan islam.
Misalnya aja bagaimana Seyla menerima kisah homo Marko-Ben tapi menolak mendukung pengesahan hubungan itu. Lalu Judith yang atheis dan memiliki lidah setajam pisau. Ada Barbara yang emosinya meledak-ledak karena besar di keluarga broken home. Saule, wanita luar biasa yang bangkit dari korban perang dan bagaimana usahanya di Netherland untuk menggalang dana bagi saudara muslim yang menjadi korban perang, dan tentu saja kehidupan miris dan menyedihkan dibalik kemewahan status pangeran dan putri. Semuanya dirangkum dengan porsi yang pas, dan membuat kita tidak bertanya-tanya bagaimana akhirnya.
latar belakang tempat yang diambil sangat menarik... walaupun ceritanya sih biasa aja... jujur, judulnya bikin il-fil.. abis, pake ada embel2 "cinta" segala dibelakangnya.... padahal judul yang pake embel2 itu udah banyak... mungkin memang kebetulan, tapi tetap aja, jadi ga eksklusif..
Udah agak lama penasaran sama novel ini, terutama karena gayanya yang agak AAC. Untuk buktiin gitu, hehe. Tapi nggak juga ternyata, maksudnya nggak epigon ama AAC gituh. Menarik dan saya bacanya ngalir. Cuma agak keganggu sama tokoh Pangeran. Kayaknya kok kurang logis ya?