“Apa maksudmu dengan kami? Apa kalian?” “Hanya aku saja yang memiliki roh campuran. Oren tidak. Dia sama seperti kamu. Manusia biasa.” “Roh campuran itu apa?” “Kami lahir dari percampuran antara manusia dan Apuila. Ayahku seorang Apuila yang menjatuhkan diri dari langit hanya karena jatuh cinta dengan ibuku. Lalu, aku lahir.” “Menjatuhkan diri dari langit? Apuila itu… malaikat?” “Kalian sering menyebutnya begitu.”
Dokter Raya tercengang mendengar penjelasan Kemuning. Berbagai pertanyaan berkelebat di kepalanya. Gadis yang suka memberontak dan selalu ketus terhadap siapa saja ini mengaku roh campuran? Belum hilang rasa terkejutnya, Dokter Raya segera terlibat upaya penyelamatan Rubi. Ia pun mengantar Kemuning si gadis roh campuran, Oren si bocah bisu, Malsi si kucing, dan Murpel si jangkrik menuju Merapi melalui alam roh.
Dokter Raya tak habis pikir. Kalau bukan karena cinta, belum tentu dia mau melakukannya… dan terlibat dengan segala keanehan ini
Adalah sebuah tantangan yang tidak mudah untuk bisa membuat sebuah novelet fantasi dengan jumlah halaman kurang dari 130. Dalam hal ini, penulis dituntut untuk bisa meringkas sekaligus menyempurnakan sebuah cerita, tanpa banyak plot holes yang bertebaran di sana-sini, sekaligus tetap bisa memberikan hiburan bagi pembaca. Ajang #fikfanDIVA yang resmi berakhir April 2013 kemarin telah menyisakan tujuh naskah yang layak terbit, dan The Apuila’s Child adalah naskah yang meraih juara pertama dalam event penulisan novelette fantasi tersebut.
The Apuila’s Child benar-benar membawa sesuatu yang baru dari segi cerita. Penulis mampu mengkaitkan antara Letusan Krakatau tahun 1883 dan Letusan Merapi tahun 2010 dengan kisah tentang anak malaikat yang terbuang. Kisah-kisah fantasi tentang para keturunan nephilim atau malaikat yang terbuang ke Bumi mungkin sudah sering kita jumpai di jagat fiksi fantasi luar, tapi untuk di Indonesia sejauh ini saya baru menjumpainya di novelette ini. Dan, kepiawaian Ruwi Meta benar-benar terbukti ketika naskah fantasi yang barat-sentris ini ternyata minim sekali suasana Baratnya. Nama-nama yang digunakan juga asli nama lokal, bahkan setting lokasinya pun di Jogja. Inilah beberapa yang membuat naskah ini begitu istimewa.
Tentang konsep cerita, The Apuila’s Child berkisah tentang keturunan para Apuila atau malaikat yang jatuh ke Bumi. Karena berbagai sebab, salah satunya cinta, sejumlah malaikat rela memotong sayapnya agar ia bisa tinggal di Bumi. Mereka kemudian menikah dengan manusia biasa, dan menurunkan ras campuran yang disebut donahue. Kaum Donahue ini bisa berumur panjang melebihi rata-rata manusia biasa, tapi pada usia 1.000 tahun ia akan disebut alok. Donahue Rubi adalah salah satu anak Apuila yang mengabdikan diri untuk merawat anak-anak yang kurang beruntung. Usianya hampir 200 tahun tetapi ia masih sesegar gadis remaja. Dalam persinggahannya di dunia manusia, ia bertemu dengan Oren, sosok anak kecil yang karena masa lalunya yang pahit membuatnya “bisu”. Ia juga menemukan Kemuning, seorang anak Apuila dengan emosi yang meledak-ledak.
Seorang anak Apuila memiliki 12 jari, 4 jari tambahan ini disebut silandil dan merupakan “tombol” kekuatan mereka. Mereka mampu mengeluarkan kabut gaib yang dapat dimanipulasi menjadi hampir apapun di alam roh, bahkan bisa untuk mengambil sesuatu dari masa lalu menggunakan serbuk waktu. Sayangnya, seorang anak Apuila akan selalu terancam oleh keberadaan kelompok Apulia hitam yang berupaya menguasai dunia. Untungnya, ada pasukan balin pimpinan Ganendra yang menghalangi mereka. Ganedra juga membuat ramalah tentang terjadinya petaka di ulang tahun ke -1000 seorang anak apuila, yang jatuh tepat pada saat Merapi meletus tahun 2010. Donanhue Rubi pun bahu membahu bersama Oren dan Kemuning, serta berbagai makhluk ajaib untuk menangkal ramalan buruk tersebut. Namun, muncul musuh baru dari sisi yang tidak diduga-duga. Berhasilkah mereka menyelamatkan dunia dari letusan selanjutnya? Bacalah di buku yang tipis namun seru ini.
Satu hal yang kurang dari buku ini adalah kurang tebal. Ada banyak sekali hal yang hilang (atau memang terpaksa dihilangkan) demi mengenapi syarat halaman yang hanya 130 halaman. Sekiranya boleh dipertebal, pasti kisah tentang anak-anak Apuila ini akan benyak menghadirkan sisi-sisi lain yang menarik dari sosok Donahue Rubi, Kemuning, dan juga Oren. Walau tipis, penulis juga mampu membangun karakter-karakter utamanya dengan cukup kuat. The Apuila’s Child benar-benar membuktikan bahwa penulisnya telah berpengalaman dalam dunia tulis-menulis. Semoga, penulis berkenan menulis versi yang lebih tebal dan lebih lengkap dari kisah fantasi ini.
Kisah fantasi yg terlalu singkat untuk dinikmati. Tanggung. Karakter2nya tidak tergali, world-buildingnya kagok, dan ceritanya terlalu dipermudah. Padahal premis dan twistnya ada, cukup bagus.
Yah, membandingkan karya awal ini dgn karya ruwi meita yg sekarang, terasa jauh sekali perkembangannya. *tiba2 kangen kiri lamari. kampret rebus!!*
Temanya klasik tapi disajikan dengan unik. Berbeda dengan kebanyakan kisah fantasi yang cenderung kebarat-baratan, novel ini mengangkat unsur lokalitas yang kental. Dengan apik mengaitkan peristiwa meletusnya gunung Krakatau tahun 1883 dan letusan gunung Merapi dengan cerita tentang seorang manusia berdarah campuran Apuila (malaikat). Menggunakan alur maju-mundur, cerita mengalir dalam rangkaian diksi sederhana yang asyik dinikmati. Tiap karakter yang dihadirkan memiliki peranan masing-masing. Bukan sekadar numpang lewat semata. Nilai moral pun tak lupa dihadirkan dalam kisah ini. Memaafkan dan merelakan apa yang telah hilang dari diri kita akan menghadirkan kekuatan dan menciptakan kedamaian.
This book accompanied me in my train's first hour to return home. Ruwi Meita managed to win my heart through her book "Misteri Patung Garam" Because of this book, I finally decided to read her other works. My second book from Ruwi Meita tells about Kemuning, a mixed spirit girl from humans and Apuila. Humans usually call Apuila an angel. Deep down, she kept her wounds because of his father's treatment of her and her sister. As a Mixed Spirit, Kemuning has extraordinary power within her, especially the saga mist it comes from anger and sadness that can kill.
This book is quite complex and detailed in explaining each character. For a book that is 130+ thick, this book is enough to answer every problem in this book. However, this story should not stop here. There needs to be a continuation to uncover what happened to Kemuning so that Donahue Rubi can finally find out Her. Oren's past story must be detailed on how he can forgive people in his past. Or as simple as the continuation of Kemuning's story and Donahue Ruby. Besides that, some things are too forced through simplification, making the feeling of reading, "is that how is it?" Especially during the Saga scene between Kemuning and Nyai Sumbing.
One advantage is that this book, a fantasy genre, has a very "Indonesian" plot related to the eruption of Krakatau and Merapi many years ago. In addition, the depiction of the characters is not much and can be remembered easily. My favorite point is that although several descriptions of the storyline can't be digested and imagined enough, the feelings are real, especially fear, anxiety, and discomfort.
After reading this story, some lessons leave an impression on me: strength, trust, determination, a sense of willingness to sacrifice, and the courage to move forward in the face of uncertainty. My favorite character is Oren. He can describe himself as weak at school but has strengths that not everyone has, strengthening Kemuning. He was perfect as an adult in his tiny body.
My second lesson is that this life requires balance, goodness, purity, and sincerity. It's a difficult feeling for people to have. Even though if everything is balanced, they have a grateful and happy life, how sometimes humans and other creatures act greedily and destroy themselves.
Overall, during the one hour I spent reading this book, I enjoyed it and agreed with its moral messages.
Bisa dibilang buku ini menjadi buku fantasi pertamaku. Hingga sekarang kisahnya masih terbayang dan tak bisa aku lupakan.
Bagaimana penulis membuatku dapat membayangkan kekuatan magis yang dimiliki tiap karakternya, dan bagaimana penulis menorehkan kisah ini dengan berbagai latar belakang pemicu meletusnya gunung merapi dan krakatau. Saat aku membacanya, mungkin aku takjub, saat itu aku masih smp, kini setelah kuliah aku selalu ingin membacanya berulang kali. Kisahnya terasa tak lapuk oleh usia dan selalu menjadi kisah yang unik untuk dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
This story deserves a trilogy. My rating will probably be higher than this if I get more stories about Rubi's and Kemuning's past, more explanation about the sorcery (if I can say that). Unfortunately, this is too short. I really enjoyed the story like I finished it in one sitting then screamed WHAT!? IS THIS THE LAST PAGE!? I NEED MORE!!! Ruwi Meita always makes me want to read her other books
Judul: The Apuila's Child Penulis: Ruwi Meita Penerbit: deTeens Halaman: 168 halaman Terbitan: September 2013
The Apuila's Child bercerita tentang Kemuning, seorang gadis yang memiliki siladil, atau jari keenam. Dengan siladil-nya itu, Kemuning bisa menghasilkan kabut yang memiliki beragam kekuatan. Salah satunya adalah kekuatan yang dia gunakan untuk membunuh ayahnya.
Kemuning tinggal bersama Donahue Rubi, seorang wanita yang umurnya hampir 200 tahun dan juga merupakan anak Apuila, anak seorang malaikat jatuh. Di bawah bimbingan Donahue Rubi, Kemuning belajar cara mengendalikan kekuatannya.
Suatu hari Donahue Rubi pergi bersama Oren, salah satu anak yang mampu berkomunikasi lewat pikiran dengannya dan Kemuning, pergi mengunjungi Anuj Abimel, seorang tetua sakti yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-1000.
Di sana Oren menyaksikan Donahue Rubi mencelakai Anuj Abimel. Apakah ini adalah awal dari sebuah ramalan mengerikan? Kenapa Donahue Rubi yang selama ini dikenal begitu baik, malah mencelakakan Anuj Abimel? Kemuning dan Oren terpaksa harus pergi ke alam roh untuk menemukan jawabannya sambil berjuang melawan waktu.
Review
Yey, akhirnya. Saya baca juga juara 1-3 hasil lomba #fikfanDiva. Selamat untuk para pemenang dan terima kasih pada Diva Press yang telah menyelenggarakan lomba novelet fantasi ini.
Buku ini menjadi juara pertama lomba tersebut, dan saya bisa mengerti kenapa. Konsepnya menarik, cara penceritaannya enak, bahasanya bagus (tidak berbunga-bunga, tapi indah), serta mengangkat peristiwa meletusnya Krakatau di tahun 1800-an dan 2010 silam.
Saya suka ide tentang memperbaiki jiwa seseorang lewat pakaian yang ada di sini. Jadi, ceritanya Donahue Rubi ini punya usaha menjahit dan di sana dia bukan hanya membuat pakaian untuk seseorang, tapi juga menggunakan kekuatannya untuk membantu pemulihan jiwa orang itu lewat pakaiannya. Konsep yang menarik, yang sayangnya tidak digali lebih lanjut.
Saya juga suka dengan konsep malaikat jatuhnya yang tidak melibatkan romans antara si malaikat dengan salah satu tokoh cewek dalam cerita :v. Yah, walau ada juga sih malaikat yang membuang sayapnya, menikah dengan manusia, lalu anaknya jadi tokoh di novelet ini. Btw, tebakan saya Tuan Janzcoon di cerita ini adalah penggambaran dari Lucifer.
Sebenarnya sampai pertengahan cerita, saya masih cukup suka. Hanya saja, semakin ke belakang saya semaking bingung bacanya. Rasanya ada terlalu banyak hal yang disederhanakan. Mungkin karena faktor halaman. Yang pasti, buat saya, kesimpulan akhirnya terasa buru-buru dan tidak maksimal.
Btw, entah kenapa, pas baca adegan pertarungan terakhirnya, saya malah kepikiran adegan berkelahi dengan keluar cahaya-cahaya yang biasa ada di TV (yah, walau mereka berantemnya pakai kabut sih). Yang paling parah, pas ada adegan naga keluar, saya malah kepikiran naganya Indo**** :v.
Kesimpulan akhir? Novelet dengan ide dan penulisan yang baik. Hanya saja tidak diselesaikan secara maksimal.
Aku suka ide ceritanya yang unik dan tokoh-tokohnya yang punya ciri khas unik juga. Kalau dilihat satu-persatu (ide maupun tokoh-tokohnya) bisa jadi jatuhnya klise, tapi begitu digabungkan, malah menciptakan sesuatu yang lain dari yang lain.
Gaya penulisannya masih bisa ditingkatkan lagi. Agak kurang luwes buatku. Apalagi penggambaran adegan aksinya. Aduh, nggak banget. Kaku, jadi aku nggak bisa ngebayangin adegan yang seharusnya jadi klimaks cerita ini.
Penggambaran settingnya juga perlu diperbaiki, terutama alam rohnya. Penggambaran setting dunia nyatanya udah bagus, tapi begitu masuk ke alam roh, penjelasannya jadi kelewat singkat. Padahal ini bisa jadi poin lebih cerita ini, karena aku sebagai pembaca penasaran banget sama alam roh ini, dan menunggu-nunggu saat para tokohnya masuk ke sana.
Di awal-awal cerita aku menikmati banget baca buku ini dan pengen ngasih tiga bintang. Tapi setelah baca adegan aksinya, kenikmatan bacaku jadi turun drastis. Jadi, dua bintang aja deh.
Membaca buku ini seperti menyuguhkan drama kolosal yang dikemas dengan setting saat ini. Persis seperti film-film kolosal yang saat ini banyak ditayangkan di salah satu stasiun tv swasta.
Tapi, setelah membaca halaman demi halaman. Saya merasa tertarik dengan setiap adegan yang disuguhkan.
Pembaca seolah diajak menembus lorong waktu dan berfantasi di bumi Indonesia berabad-abad lalu. Apalgi setting Krakatau dan Merapi yang mencekam, membuat cerita dalam buku ini terasa horror. Padahal sebenarnya tidak :-)
Di beberapa halaman terkahir, saya sempat kecewa dengan tahap klimaks yang cepat selesai. Saya harap buku ini ada lanjutannya. Petualangan sang balin suci, mungkin.
Awal baca buku ini, saya berpikir: bagus nih! Ke tengah-tengahnya, seperti grafik menurun, saya mulai haus dengan adegan-adegan seru. Tapi kemudian, saya disuguhkan lagi dengan lembar-lembar cerita yang bikin saya nggak bisa nyimpen buku ini sebelum beres baca sampe tamat! Asli, buku ini seru! Tiap halamannya ngasih clue yang bikin penasaran dan baru dapetin jawabannya di halaman-halaman selanjutnya.
Satu aja kurangnya: kurang tebel. Hehehe. Soalnya saya suka baca cerita ini dan mengharapkan ceritanya bisa lebih detail dijabarkan.
Keren banget... bacanya nggak bisa putus. Dari halaman pertama, ketegangannya udah terasa. Fantasi dan dunia nyata dilebur dan dipadatkan jadi satu, tapi jadinya malah menarik. Berharap, semoga ada lanjutannya... :))