Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bara Aksadewa: Sang Terhukum di negeri Kinnara

Rate this book
"Membaca novel ini, kita seolah diajak menjelajahi salah satu negeri dalam kisah Ramayana yang eksotis dan sarat petualangan epik."
Dion Yulianto, Pelahap Kisah Fantasi, Blogger Buku Indonesia


“Candi ini adalah gerbang lintas batas yang menghubungkan duniamu dengan Negeri Kinnara.”
Akhirnya, kulangkahkan kaki memasuki bangunan candi itu. Begitu seluruh tubuhku melewati ambang pintu, tiba-tiba kegelapan menyergap dari berbagai arah. Kepalaku terasa begitu pusing, seakan ada yang tengah mengaduk-aduk isi kepalaku. Hanya kegelapan yang kurasakan keberadaannya sebelum akhirnya kesadaran meninggalkanku.

Bara Aksadewa harus memasuki Negeri Kinnara sebagai tebusan bagi ibunya yang menjadi tawanan bangsa Asura. Buah kalpataru adalah harga yang sangat mahal. Bukan hanya nyawa yang ia pertaruhkan, tapi juga kebebasannya sendiri….

188 pages, Paperback

First published September 20, 2013

10 people want to read

About the author

Mahfudz D.

1 book21 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (17%)
4 stars
1 (5%)
3 stars
9 (52%)
2 stars
3 (17%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
October 25, 2013
Judul: Bara Aksadewa
Penulis: Mahfudz Asa
Penerbit: de Teens
Halaman: 188 halaman
Terbitan: September 2013

“Candi ini adalah gerbang lintas batas yang menghubungkan duniamu dengan Negeri Kinnara.”
Akhirnya, kulangkahkan kaki memasuki bangunan candi itu. Begitu seluruh tubuhku melewati ambang pintu, tiba-tiba kegelapan menyergap dari berbagai arah. Kepalaku terasa begitu pusing, seakan ada yang tengah mengaduk-aduk isi kepalaku. Hanya kegelapan yang kurasakan keberadaannya sebelum akhirnya kesadaran meninggalkanku.

Bara Aksadewa harus memasuki Negeri Kinnara sebagai tebusan bagi ibunya yang menjadi tawanan bangsa Asura. Buah kalpataru adalah harga yang sangat mahal. Bukan hanya nyawa yang ia pertaruhkan, tapi juga kebebasannya sendiri…

Review

Buku kedua dari hasil lomba #fikfanDiva yang saya baca. Sebelumnya saya sudah baca yang juara duanya. Sekarang mencicipi rasa juara tiga lomba tersebut.

Buku ini saya peroleh dari hasil giveaway di blog penulisnya. Beruntung banget. Soalnya saya emang pengin baca hasil 3 besar #fikfanDiva.

Beberapa poin yang saya catat selama membaca (CMIIW kalau ternyata pertanyaan saya sudah ada jawabannya di buku ini. Bisa jadi saya kelewatan.):

1. Secara kover, di antara 3 besar #fikfanDiva, jujur kover buku ini yang saya paling gak suka. Itu orang di dalam matahari/lingkaran ganggu banget deh. Dan kalau saya lihat, entah kenapa dia terlihat seperti manusia pra sejarah =_=

2. Kenapa Laksita, ibunya Bara, tidak mengenakan kalung penangkal juga? Kalau Sagra memang bisa dihalau dengan kalung itu, dia kan tinggal pakai aja dan dengan begitu dia tidak perlu sampai diculik.

Ya, saya tahu, kalau dia tidak diculik, ceritanya gak bisa jalan. Cuma kayaknya perlu ada penjelasan kenapa Laksita tidak mengenakan kalung itu.

3. Waktu Bara disuruh mengambil buah Kalpataru, dia sudah bertanya pada dirinya sendiri apakah dia tega mengorbankan suatu bangsa untuk memperoleh buah itu?

Pertanyaan lain yang kurasa sebaiknya dia ajukan adalah: apakah dengan dia mengambil buah itu, dunia manusia tidak akan kena pengaruhnya?

4. Typo 'dilayar' pada hal. 15

5. Typo 'teNagaku' di hal. 166

6. Saya suka dengan penggunaan candi yang agak tidak terkenal di sini. Jujur saya bahkan baru tahu nama Candi Pawon karena buku ini. Satu nilai plus besar untuk faktor ini.

7. Saya juga suka dengan keragaman tokoh yang ada di sini. Ada Kinnara, Asura, Naga, Garuda, Winara, dan Manusia.

8. Soal kesepakatan antara Udara dengan pimpinan Naga. Kenapa para Naga cepat amat setujunya sih? Gak pakai acara nanya bagaimana Udara akan memberikan/membantu mereka memperoleh Mahkota Garuda.

Ya, secara keseluruhan, saya cukup suka dengan Bara Aksadewa ini. Nuansa fantasi lokalnya terasa sekali dan penulis mampu meramunya dengan baik.

Tiga bintang untuk novelet ini.
Profile Image for Azhar.
58 reviews1 follower
November 29, 2020
SENIN,6 APRIL 2020

20 : 40 WIT

Bara Aksadewa - Mahfudz Asa
H : 188. P : Diva Press


Novel yang menurutku menarik untuk di baca,
Sebenarnya gue masih belum pada mangerti atau tahu tentang candi² dan kukira Novel berkisah dimasa lalu yaaa tau-nya di masa sekarang .....

Ini kayaknya ada cerita yang kurang atau sengaja seperti itu
Pada hal 82- 83 ketika mereka berbuat kesepakatan yaaa tahu²nya Naganya langsung "setuju" di akhir tpi ngerasa ada yg kurang gitu.....

Itu saja sih
Makasih atas Novelnya yang enak dibaca...
Profile Image for Manikmaya.
99 reviews40 followers
April 4, 2015
Ehem ...

Buku ini ...

Bagaimana ya????

Antara suka dan tidak suka saya bacanya.

Suka karena setidaknya ada improvisasi yang berani dari kisah Ramayana dan melibatkan candi yang bukan candi populer macam Borobudur atau Prambanan.

Tidak suka karena terkesan buru-buru. Baru beberapa halaman saja sudah adegan konflik lalu konflik kemudian konflik lagi. Kemudian ditutup dengan pamungkas yang bikin saya pengen getok putri negeri Kinnaranya.

Tapi penasaran juga ya ...

Para Bataranya ke mana sih? Kok nggak intervensi konflik Asura+Naga vs. Kinnara itu? :V
Profile Image for Marchel.
538 reviews13 followers
July 14, 2016
Novel lokal, setting awal cerita kukira masa lalu ternyata masa modern. Lalu ada bangsa Asura, Kinnara, Apsara, Ghandarwa, Naga, Wanara, dan Garuda terlibat di dalam cerita.

Buku lokal, dengan bumbu cerita ala Ramayana. Diramu dengan sempurna, sehingga cita rasa yang dinikmati terasa sempurna.

Oh, walau ini cerita tentang anak yang berusaha untuk menyelamatkan ibunya, tapi ini bukan bacaan untuk anak-anak. Banyak adegan kekerasan di dalamnya, mirip perang di dalam cerita Ramayana.
Profile Image for Dewi Kirana.
Author 2 books20 followers
May 2, 2016
Sebenernya aku cukup suka ceritanya. Plotnya jelas tanpa terkesan terburu-buru. Penulisannya juga rapi, Bara si protagonis cukup terkesan seenaknya tapi nggak bikin aku sebel, jadi pas lah porsi egoisnya hahaha.

Sayang ada beberapa aspek cerita yang masih kurang buatku. Pertama, Bara terkesan kelewat santai atas fakta kalau ibunya menghilang. Malah lebih musingin mimpi yang berulang-ulang. Kedua, Ketiga,
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.