"Membaca novel ini, kita seolah diajak menjelajahi salah satu negeri dalam kisah Ramayana yang eksotis dan sarat petualangan epik." Dion Yulianto, Pelahap Kisah Fantasi, Blogger Buku Indonesia
“Candi ini adalah gerbang lintas batas yang menghubungkan duniamu dengan Negeri Kinnara.” Akhirnya, kulangkahkan kaki memasuki bangunan candi itu. Begitu seluruh tubuhku melewati ambang pintu, tiba-tiba kegelapan menyergap dari berbagai arah. Kepalaku terasa begitu pusing, seakan ada yang tengah mengaduk-aduk isi kepalaku. Hanya kegelapan yang kurasakan keberadaannya sebelum akhirnya kesadaran meninggalkanku.
Bara Aksadewa harus memasuki Negeri Kinnara sebagai tebusan bagi ibunya yang menjadi tawanan bangsa Asura. Buah kalpataru adalah harga yang sangat mahal. Bukan hanya nyawa yang ia pertaruhkan, tapi juga kebebasannya sendiri….
Judul: Bara Aksadewa Penulis: Mahfudz Asa Penerbit: de Teens Halaman: 188 halaman Terbitan: September 2013
“Candi ini adalah gerbang lintas batas yang menghubungkan duniamu dengan Negeri Kinnara.” Akhirnya, kulangkahkan kaki memasuki bangunan candi itu. Begitu seluruh tubuhku melewati ambang pintu, tiba-tiba kegelapan menyergap dari berbagai arah. Kepalaku terasa begitu pusing, seakan ada yang tengah mengaduk-aduk isi kepalaku. Hanya kegelapan yang kurasakan keberadaannya sebelum akhirnya kesadaran meninggalkanku.
Bara Aksadewa harus memasuki Negeri Kinnara sebagai tebusan bagi ibunya yang menjadi tawanan bangsa Asura. Buah kalpataru adalah harga yang sangat mahal. Bukan hanya nyawa yang ia pertaruhkan, tapi juga kebebasannya sendiri…
Review
Buku kedua dari hasil lomba #fikfanDiva yang saya baca. Sebelumnya saya sudah baca yang juara duanya. Sekarang mencicipi rasa juara tiga lomba tersebut.
Buku ini saya peroleh dari hasil giveaway di blog penulisnya. Beruntung banget. Soalnya saya emang pengin baca hasil 3 besar #fikfanDiva.
Beberapa poin yang saya catat selama membaca (CMIIW kalau ternyata pertanyaan saya sudah ada jawabannya di buku ini. Bisa jadi saya kelewatan.):
1. Secara kover, di antara 3 besar #fikfanDiva, jujur kover buku ini yang saya paling gak suka. Itu orang di dalam matahari/lingkaran ganggu banget deh. Dan kalau saya lihat, entah kenapa dia terlihat seperti manusia pra sejarah =_=
2. Kenapa Laksita, ibunya Bara, tidak mengenakan kalung penangkal juga? Kalau Sagra memang bisa dihalau dengan kalung itu, dia kan tinggal pakai aja dan dengan begitu dia tidak perlu sampai diculik.
Ya, saya tahu, kalau dia tidak diculik, ceritanya gak bisa jalan. Cuma kayaknya perlu ada penjelasan kenapa Laksita tidak mengenakan kalung itu.
3. Waktu Bara disuruh mengambil buah Kalpataru, dia sudah bertanya pada dirinya sendiri apakah dia tega mengorbankan suatu bangsa untuk memperoleh buah itu?
Pertanyaan lain yang kurasa sebaiknya dia ajukan adalah: apakah dengan dia mengambil buah itu, dunia manusia tidak akan kena pengaruhnya?
4. Typo 'dilayar' pada hal. 15
5. Typo 'teNagaku' di hal. 166
6. Saya suka dengan penggunaan candi yang agak tidak terkenal di sini. Jujur saya bahkan baru tahu nama Candi Pawon karena buku ini. Satu nilai plus besar untuk faktor ini.
7. Saya juga suka dengan keragaman tokoh yang ada di sini. Ada Kinnara, Asura, Naga, Garuda, Winara, dan Manusia.
8. Soal kesepakatan antara Udara dengan pimpinan Naga. Kenapa para Naga cepat amat setujunya sih? Gak pakai acara nanya bagaimana Udara akan memberikan/membantu mereka memperoleh Mahkota Garuda.
Ya, secara keseluruhan, saya cukup suka dengan Bara Aksadewa ini. Nuansa fantasi lokalnya terasa sekali dan penulis mampu meramunya dengan baik.
Bara Aksadewa - Mahfudz Asa H : 188. P : Diva Press
Novel yang menurutku menarik untuk di baca, Sebenarnya gue masih belum pada mangerti atau tahu tentang candi² dan kukira Novel berkisah dimasa lalu yaaa tau-nya di masa sekarang .....
Ini kayaknya ada cerita yang kurang atau sengaja seperti itu Pada hal 82- 83 ketika mereka berbuat kesepakatan yaaa tahu²nya Naganya langsung "setuju" di akhir tpi ngerasa ada yg kurang gitu.....
Itu saja sih Makasih atas Novelnya yang enak dibaca...
Suka karena setidaknya ada improvisasi yang berani dari kisah Ramayana dan melibatkan candi yang bukan candi populer macam Borobudur atau Prambanan.
Tidak suka karena terkesan buru-buru. Baru beberapa halaman saja sudah adegan konflik lalu konflik kemudian konflik lagi. Kemudian ditutup dengan pamungkas yang bikin saya pengen getok putri negeri Kinnaranya.
Tapi penasaran juga ya ...
Para Bataranya ke mana sih? Kok nggak intervensi konflik Asura+Naga vs. Kinnara itu? :V
Novel lokal, setting awal cerita kukira masa lalu ternyata masa modern. Lalu ada bangsa Asura, Kinnara, Apsara, Ghandarwa, Naga, Wanara, dan Garuda terlibat di dalam cerita.
Buku lokal, dengan bumbu cerita ala Ramayana. Diramu dengan sempurna, sehingga cita rasa yang dinikmati terasa sempurna.
Oh, walau ini cerita tentang anak yang berusaha untuk menyelamatkan ibunya, tapi ini bukan bacaan untuk anak-anak. Banyak adegan kekerasan di dalamnya, mirip perang di dalam cerita Ramayana.
Sebenernya aku cukup suka ceritanya. Plotnya jelas tanpa terkesan terburu-buru. Penulisannya juga rapi, Bara si protagonis cukup terkesan seenaknya tapi nggak bikin aku sebel, jadi pas lah porsi egoisnya hahaha.
Sayang ada beberapa aspek cerita yang masih kurang buatku. Pertama, Bara terkesan kelewat santai atas fakta kalau ibunya menghilang. Malah lebih musingin mimpi yang berulang-ulang. Kedua, Ketiga,